Selasa, 05 September 2017

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Oleh Nur Rohman Suwardi

Filantropi atau kedermawanan sudah menjadi roh dari kebangkitan ulama yang lahir sejak 1926, dengan nama Nahdlatul Ulama. Perjalanan ormas Islam terbesar di dunia ini dibiayai oleh kedermawanan dari para anggota atau simpatisan Nahdliyin. Kedermawanan yang dalam istilah Islam disebut dengan zakat, infak, atau sedekah, menjadi kekuatan penunjang prinsip pokok dalam perjuangan Nahdlatul Ulama.

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Zakat sebagai rukun Islam dan tiang dalam agama Islam mempunyai peran yang sangat vital. Islam dan perjuangan para pengggerak Islam akan kuat jika kedermawanan masih dijalankan oleh para pemeluknya. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an tentang sinergi antara rukun shalat dan zakat dalam mengatasi persoalan hidup. Zakat dan shalat menjadi tawaran solusi dahsyat? yang Allah berikan kepada hambanya. Zakat sebagai penjaga hubungan dengan manusia dan shalat sebagai penjaga hubungan dengan Allah secara vertikal.

Haedar Nashir

Perjalanan filantropi Islam di Nahdlatul Ulama secara konsisten didakwahkan dan disosialisasikan dan ini menjadi komitmen semua warga Nahdliyin dalam memeluk ajaran Islam sampai sekarang. Kebangkitan zakat dan gairah perzakatan di Indonesia pun tumbuh. Atas dasar Undang-Undang Zakat nomor 38 tahun 1999, lembaga amil zakat, infak dan sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dibentuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Donoyudan Solo tahun 2005. Dari situ perkembangan filantropi Islam di tubuh Nahdlatul Ulama juga mengalami perkembangan yang menggembirakan.

Perjalanan lembaga filantropi di Nahdlatul Ulama yang dinamakan LembagaAmil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) mengalami perkembangan dari waktu ke waktu semenjak didirikan secara resmi di Muktamar Donoyudan Solo, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Fathurrahman Rouf. Sebagai lembaga baru di tubuh Nahdlatul Ulama, LAZISNU sudah mengumpulkan rata-rata Rp800 juta per tahun, dari tahun 2004 sampai dengan 2010.

Haedar Nashir

Perkembangan mulai dirasakan ketika fase kedua setelah Muktamar di Makassar, LAZISNU dipimpin oleh KH. Masyhuri Malik, pada perkembangan di era ini LAZISNU berkembang dengan performa manajemen yang lebih modern. Potret yang bisa kita lihat dari perolehan LAZISNU setiap tahunnya di rata-rata Rp6 miliar dimulai dari 2010 sampai dengan 2015.

Kemudian selepas Muktamar ke-33 NU di Jombang, LAZISNU dipimpin oleh Syamsul Huda SH Harus berjuang keras untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat karena beban yang harus ditanggung sebagai Lembaga Zakat Nasional. Lembaga Zakat Nasional seperti LAZISNU harus mampu mengumpulkan perolehan fundraising minimal Rp50 miliar. Tapi alhamdulillah pada awal 2016, beban yang diwajibkan kepada LAZISNU dalam perolehan minimal satu tahun Rp50 miliar sudah terpenuhi. Sekarang, saatnya LAZISNU yang melakukan rebranding NU CARE-LAZISNU harus mengerakkan spirit NU dalam kesadaran “berbagi bagi sesama.”

Sosialisasi tentang pentingnya filantropi selalu digalakkan sampai sekarang. Filantropi berbeda dari charity. Filantropi lebih terlihat sebagai gagasan yang terstruktur dan teratur ketimbang hanya memberi kepada yang lain dan terlebih kepengen mendapatkan dampak secara langsung bagi para donatur (direct impact).

Secara umum, konsep zakat itu harus diatur supaya teratur. Nidham (manajemen) menjadi hal yang sangat penting di warga Nahdliyin. “Kalau sudah ngasih ya sudah yang lillahita’ala,” sering ada ucapan begitu. Ini seolah-olah melegitimasi tentang tidak penting melaporkan akan kinerja yang dilakukan oleh para amilin. Padahal, pelaporan tersebut sama sekali bukan hendak menghilangkan aspek keikhlasan, melainkan sebagai konsekuensi logis nidham itu.

Kini LAZISNU diuji dan ditantang dengan harus menunjukkan keberanian untuk menjadi Lembaga Zakat Nasional, berdasar Undang-Undang 23 tahun 2011. Sesungguhnya, Undang-Undang 23 tahun 2011 ada plus dan minus dalam era kebangkitan gerakan filantropi NU. Tuntutan untuk eksis menjadi lembaga yang trusted, kredibel, dan tranparan menjadi tuntutan tidak hanyaUndang-Undang, tapi juga para donatur dan masyarakat. Pimpinan organisasi para ulama ini, Rais ‘Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin menggelorakan “Gerakan NU Berzakat Menuju Kemandirian Umat”. Ini bukan tidak ada sebab, tapi gerakan ini justru yang menjadi embrio dan spirit bagi gerakan zakat di warga Nahdliyin.



Tiga Titik Tolak


Ada tiga hal yang harus menjadi titik tolak bangkitnya filatropi NU, pertama adalah memberikan pengertian kepada masyarakat Nahdliyin tentang pentingnya berjamaah, tidak hanya berjamaah shalat, tahlilan, zikiran saja tapi harus diperluas dan diperlebar jamaah terlebih berjamaah untuk aksi berbagi kepada sesama. Masyarakat modern ini lebih suka kalau ada kegiatan aksi, bukan hanya kegiatan seremoni. Membangkitkan jamaah dengan aksi kepada sesama ini harus menjadi spirit yang digelorakan di? warga Nahdliyin. Berjamaah atau sinergi ini akan mejadi lebih sempurna jika ulama, umara (pemerintah), aghniya (kalangan berpunya) dan umat menjadi satu kesatuan dalam menyelesaikan masalah bersama terlebih isu yang menjadi pesan utama Muktamar Jombang, yaitu ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Kedua, adalah pentingnya manajemen yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pentingnya manajemen ini yang kemudian Lazisnu Pusat berinisiatif untuk menstandarkan manajemen dengan menggunakan ISO 9001-2015 dengan nomor sertifikat izin 49224. Ini membuktikan komitmen yang tinggi terhadap kebangkitan filantropi di NU untuk menjadi yang lebih baik dalam rangka mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Betapa pentingnya motto “kerjakan apa yang ditulis, dan tulis apa yang akan dikerjakan,” itulah manajemen. Semua harus berbasis data, bukan hanya katanya atau ucapan mulut.

Ketiga, pergerakannya harus dibangkitkan lagi, harakah an-nahdliyyah lizzakah, itulah gerakan yang dimotori Rais ‘Aam PBNU, supaya komitmen membangun NU lewat jalur filantropi menjadi lebih hidup dan berkembang sesuai dengan cita-cita mulia para pendiri NU. Pelopor sekaligus model percontohan yang di gerakkan almarhum Abuya KH. Abdul Basit Sukabumi menjadi contoh yang patut di tiru dan diteladani. Abuya mampu membuat konsep Allah yang termaktub didalam Al Qur’an dan Hadist Baginda Nabi Muhammad SAW menjadi membumi dan gampang di kerjakan dan diaplikasina umat dalam kehidupan sehari-hari. Kekuatan sedekah mampu memberikan manfaat kepada umat dengan pola yang sangat sederhana dan bisa di aplikasikan di mana saja kita berapa. Konsep membumikan sedekah merupakan konsep lama yang dalam Bahasa sederhana kita sehari-hari kita sebut denga? konsep gotong royong. Sedekah atau gotong royong menjadi mahluk mulia yang mampu memberikan manfaat bagi umat jika dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong (sedekah berjamaah).

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keberkahan NU Care-LAZISNU dalam memegang amanat yang mulia untuk memberikan manfaat kepada umat. Amiin.

Penulis adalah Direktur Fundraising NU Care



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Sejarah, Makam Haedar Nashir

Senin, 04 September 2017

Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial

Yogyakarta, Haedar Nashir

Ilmu Fiqih sudah sangat populer dikalangan pesantren. Namun ilmu yang berkaitan dengan hukum Islam tersebut, pada perkembangan zaman mulai mengalami distorsi pemahaman. Seringkali Fiqih dikaitkan dengan permasalah ibadah kepada Allah belaka atau ibadallah. Padahal harus seimbang.

Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial

Demikian yang disampaikan oleh Umdah el Baroroh dalam acara Bedah Buku ‘Fiqh Sosial: Masa Depan Fiqh Indonesia’ yang berangkat dari pemikiran Fiqih Sosial KH MA Sahal Mahfudz, Kamis (24/3) di Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Umdah menjelaskan, manusia sebagai khalifatullah mempunyai dua makna. Manusia selain bertanggung jawab kepada Allah, ? juga bertanggung jawab terhadap kehidupan. Baik itu kemaslahatan alam maupun sosial dengan sesama manusia. "Jadi Fiqih itu tidak hanya ibadatullah, tetapi juga imarotul ard (menjaga kehidupan)," tutur Umdah penulis buku tersebut.

Muhammad shodiq, panelis bedah buku menyatakan apresiasi positif atas terbitnya buku Fiqih Sosial itu. Ia memaparkan ada empat macam hubungan antaraagama dan ilmu pengetahuan, yakni konflik, independen, dialog, dan integrasi. "Mbah Sahal sudah mencoba melengkapi apa yang tidak dipikirkan oleh ulama terdahulu. Beliau mencoba membangun dialog antaraagama dan ilmu pengetahuan," ujarnya

Ia berharap kepada Sahalian (Santri Mbah Sahal) secara khusus dan umat Islam pada umumnya untuk melanjutkan perjuangan Mbah Sahal. Mbah Sahal sudah meletakkan pondasi awal dialog agama dan ilmu pengetahuan. "Sekarang tugas kalian untuk mengintegrasikan antaraagama dan ilmu pengetahuan," ujar Dosen Fakultas Syariah sekaligus

Haedar Nashir

Acara yang didukung oleh Pusat Studi Pesantren dan Fiqih Sosial (Pusat Fisi), ? Keluarga Matholiul Falah (KMF) Yogyakarta serta Jurusan Muamalat Fakultas Syariah dan Hukum berlangsung meriah karena dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai Fakultas di UIN Sunan Kalijaga.

Haedar Nashir

Ahmad Rodhi, Penasehat KMF menilai buku ini merupakan sebuah lompatan dalam dunia pesantren. Apalagi orang yang menuliskannya adalah perempuan. "Ini merupakan trobosan yang besar untuk mengembangkan pemikiran Fiqih Sosial Mbah Sahal," tutur pria yang juga menjabat Kaprodi Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga. (Ahmad Solkan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News Haedar Nashir

Pemuda Masjid Limbangan Ngaji Islam Nusantara pada 1 Muharram

Jakarta, Haedar Nashir - Para pemuda masjid di Desa Limbangan Kecamatan Losari Kabupaten Brebes yang tergabung dalam Jam’iyah Isymalul Hijri (Ittihad Syubban Masjid Jami’ At-Taqwa Limbangan) menyelenggarakan berbagai kegiatan sejak 30 September-2 Oktober 2016 dalam rangka menyambut tahun baru 1438 H. Mereka melakukan kajian Islam Nusantara yang satu tahun belakangan ramai diperbincangkan.

Hadir sebagai narasumber kajian ini Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon Ustadz Masyahari dengan moderator aktivis NU Nashruddin. Tema Islam Nusantara sengaja diangkat dalam upaya mengenalkan masyarakat tentang term yang lagi hangat.

Pemuda Masjid Limbangan Ngaji Islam Nusantara pada 1 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Masjid Limbangan Ngaji Islam Nusantara pada 1 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Masjid Limbangan Ngaji Islam Nusantara pada 1 Muharram

Masyhari mengatakan, “Islam Nusantara adalah Islam khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Dengan kata lain, Islam Nusantara berarti menyinergikan ajaran Islam dan adat istiadat lokal yang tersebar di wilayah Indonesia.”

Menurutnya, yang menjadi nilai pokok dari Islam adalah pesan rahmatan lil ‘alamin, pembawa keteduhan dan kedamaian, dengan tetap berlandaskan akidah tauhid sebagaimana ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. “Inilah Islam yang dikampanyekan dalam Islam Nusantara,” kata Masyhari.

Haedar Nashir

Pelbagai kegiatan dalam menyambut tahun baru Hijriyah ini merupakan hajat tahunan dan sudah berlangsung selama 13 tahun setelah berdirinya jamiyah pada 6 September 1999 M. Acara ini yang dipusatkan di masjid tersebut dibuka pada Jumat (30/9) dengan seminar keagamaan dalam tema “Islam Nusantara”, lomba hafalan Al-Qur’an (MHQ) tingkat usia sekolah dasar yang digelar pada Sabtu (1/10) dan malam harinya disambung dengan istighotsah dan do’a bersama.

Haedar Nashir

Sementara pawai ta’aruf, sunatan massal dan semaan kubro yang bekerja sama dengan Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Losari pada Ahad (2/10). Rangkaian acara ini ditutup dengan santunan anak yatim dan pengajian umum bersama KH Kholil Rohmat, kiai kondang dari Tegal. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Khutbah Haedar Nashir

PBNU Minta Warga Korban Lumpur Direlokasi Permanen

Sidoarjo, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi meminta agar warga yang menjadi korban banjir lumpur di Sidoarjo yang sampai saat ini belum bisa dihentikan direlokasi secara permanen. Upaya ini penting guna menghindari bencana susulan yang bisa datang kapan saja.

Menurut Mantan Ketua PWNU Jatim tersebut, masalah lingkungan memang penting, tapi yang paling penting adalah menyelamatkan manusianya. "Sungai, laut, dan udang memang penting diselamatkan. Tapi, yang paling penting adalah manusia dan lingkungan sekitarnya," kata Hasyim saat berdialog dengan pengungsi di Pasar Porong Baru, Sidoarjo, Senin.

Hal ini harus dilakukan dengan segera untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk saat musim hujan datang. "Saya dengar, penyumbatan pusat semburan lumpur baru bisa dilakukan akhir Desember. Nah, kalau Oktober sudah masuk musim penghujan, bagaimana?" tanyanya.

PBNU Minta Warga Korban Lumpur Direlokasi Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Warga Korban Lumpur Direlokasi Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Warga Korban Lumpur Direlokasi Permanen

Hasyim juga menyatakan kesediaan PBNU untuk menjadi mediator bagi warga dan pemerintah serta pemerintah dengan lapindo dalam upaya relokasi tersebut. Syaratnya, warga sudah punya kesepakatan bulat tentang hal-hal yang akan dikomplainkan tersebut.

"Masalahnya, kita sekarang berkejaran dengan waktu, dengan datangnya musim penghujan, dan dengan kekuatan tanggul (yang berkali-kali jebol)," jelasnya. Kunjungan ini merupakan kali ke dua setelah kunjungannya untuk melihat kondisi luapan Lumpur di dekat sumur migas Banjar Panji I.

Haedar Nashir

Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz sebelumnya disela-sela Munas NU pada 28-30 Juli di Asrama Haji Sukolilo Surabaya juga telah mengunjungi korban lumpur dan berdialog dengan warga NU setempat. (mkf)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Kiai, Santri, AlaSantri Haedar Nashir

Minggu, 03 September 2017

Mahasiswa Dakwah Unisnu Jepara Bahas Perfilman

Jepara, Haedar Nashir. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dakwah dan PMII Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara mengadakan seminar perfilman dalam perspektif dakwah. Mereka membincang perihal membuat film berkualitas dalam mewarnai dunia perfilman nasional.

Mahasiswa Dakwah Unisnu Jepara Bahas Perfilman (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Dakwah Unisnu Jepara Bahas Perfilman (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Dakwah Unisnu Jepara Bahas Perfilman

Seminar dan Workshop Perfilman bertajuk “Membudidayakan Media Perfilman dengan Melek Media dan Melek Media Sosial” di aula lantai 3 Unisnu Jepara, Sabtu (21/2). Hadir sebagai narasumber pada forum ini peminat film indie Nur Huda Tauchid dan pegiat penulisan kreatif dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Bagus Lutfi Sujiwo.

Ketua penyelenggara Ahmad Najib menyatakan, acara ini bertujuan memotivasi dan memberikan edukasi bagi mahasiswa dalam membuat film pendek maupun film indie.

Haedar Nashir

“Harapannya mahasiswa Dakwah yang tergabung dalam Garda Cinema dapat memproduksi film berkualitas,” ujar Najib.

Sementara Presiden BEM FDK Unisnu Eko Baharudin mengatakan, kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk mengenalkan dunia perfilman di ranah kampus.

Haedar Nashir

Lebih lanjut Eko menekankan, unsur yang harus diperhatikan pada produksi film adalah bagaimana sebuah film itu mengandung nilai pendidikan, sosial keagamaan, budaya, dan ekonomi. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Sabtu, 02 September 2017

Logo Muktamar ini Masih Akan Disempurnakan Lagi

Jakarta, Haedar Nashir. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU bersama panitia Muktamar Ke-33 NU di Jakarta, Senin (9/3) sore, antara lain membahas logo pemenang sayembara yang ditetapkan dewan juri. Hasilnya, logo akan disempurnakan lagi sesuai masukan para kiai.

Dalam rapat tersebut sikap para kiai terbelah menjadi tiga. Sebagian menolak. Sebagian menerima. Sebagian lagi menerima dengan catatan.

Logo Muktamar ini Masih Akan Disempurnakan Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Logo Muktamar ini Masih Akan Disempurnakan Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Logo Muktamar ini Masih Akan Disempurnakan Lagi

Rais Syuriyah PBNU KH Mas Subadar menyatakan tidak setuju atas logo pemenang. Menurutnya, warna merah pada logo itu tidak perlu hadir. Karena, NU memunyai warna tersendiri.

Sementara Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri menyetujui warna merah pada logo tersebut. “Saya pikir, warna merah itu perlu dilengkapi dengan warna putih agar semakin tampak aksentuasi ke-Indonesiaannya,” ujar Gus Mus.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Ketua PBNU H Saifullah Yusuf menolak keras logo pemenang sayembara. Menurutnya, logo ini belum mencirikan tema Muktamar. Di samping itu, kesan dari logo pemenang cenderung kurang etis.

“Kalau dilihat, logo ini terkesan erotis,” kata Gus Ipul. Ia lalu mengajukan sejumlah logo yang diperlihatkan kepada peserta rapat gabungan. Namun, logo yang diusulkan ditolak peserta rapat gabungan.

Menanggapi kesan erotis itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menampik. “Kalau terkesan agak erotis, itu tergantung bagaimana isi kepala orang yang menafsirkan begitu,” kata Kang Said disambut tawa para hadirin.

“Menurut saya ini mengandung lafazh ‘Allah’. Ini sudah cukup bagus,” kata Kang Said.

Sementara Ketua Panitia Muktamar H Imam Aziz menyatakan akan menampung sejumlah masukan dari para kiai. “Kita akan sempurnakan logo ini dengan melibatkan pengurus PBNU dan pemenangnya,” kata Imam Aziz. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Jumat, 01 September 2017

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri

Surabaya, Haedar Nashir

Sebelum memulai kajian rutin yang dilangsungkan di Mushala PWNU Jatim, Ustadz Maruf Khozin mengingatkan bahwa kini umat Islam tengah berada di penghujung Ramadhan. Ada banyak hal yang harus dilakukan agar kaum Muslimin tidak merugi karena akan berpisah dari bulan penuh kebajikan tersebut.

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri

"Di penghujung Ramadhan kita harusnya mengingat diri," katanya, Kamis (15/6). Termasuk dalam hal ini adalah bagaimana kemampuan untuk menahan nafsu. Menurut anggota dewan pakar PW Aswaja NU Center Jatim tersebut, justru di akhir Ramadhan kemampuan melawan hawa nafsu ini dipertaruhkan, lanjutnya.

Sebagai perumpamaan yang terus berulang, pada setiap akhir Ramadhan ada kecenderungan dalam berbelanja dan godaan jelang hari raya malah kian tinggi. "Kita hanya memindah nafsu ke malam hari," kata alumnus Pesantren Ploso Kediri tersebut. Menurutnya, saat siang memang tidak banyak yang dilakukan kaum Muslimin. Akan tetapi kala memasuki malam, justru diperbudak dengan nafsu. "Dari mulai nafsu makan hingga berbelanja," sergahnya.

Haedar Nashir

Ustadz Maruf kemudian membeberkan kegemaran makan dengan porsi yang lebih kala berbuka. "Karena alasan puasa, kala berbuka kita justru makan dan minum yang lebih enak," ungkapnya. Hal tersebut tentu akan berpengaruh kepada kegemaran berbelanja yang justru berlebihan.

"Demikian kala persiapan menuju hari raya," katanya. Yang ramai justru mall dan tempat belanja. Kalau pada sepuluh awal Ramadhan jamaah masjid dan mushala demikian semarak hingga menutup jalan dan gang, tidak saat ini, lanjutnya.

Haedar Nashir

Dalam pandangan Ustadz Maruf, sapaan akrabnya, ini menjadi bukti bahwa kaum Muslimin masih belum mampu menghayati esensi puasa. "Berbeda dengan para ulama dan kiai yang menjalankan puasa tidak hanya saat Ramadhan, juga di bulan yang lain," tandasnya.

Di ujung penjelasannya, Ustadz Maruf mengajak kaum Muslimin untuk benar-benar menghayati hakikat puasa. "Apalagi kini telah memasuki 10 hari terakhir dari Ramadhan, mari tingkatkan ibadah, kendalikan nafsu kita," pungkasnya. (Ibnu Nawawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Sholawat Haedar Nashir