Minggu, 10 September 2017

Petani Dominasi Calhaj Brebes

Brebes, Haedar Nashir 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, semangat kalangan petani untuk melaksanakan rukun Islam kelima paling tinggi di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tercatat yang bekerja sebagai petani ada 190 orang (22,11%).

Hal itu diterangkan Sekretaris Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Tahun 1434 H/2013 M H Moh Aqso, usai pemberangkatan kloter 14 Calhaj Brebes di halaman Islamic Center, Jalan Yos Sudarso Brebes Jumat (13/9).

Petani Dominasi Calhaj Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Petani Dominasi Calhaj Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Petani Dominasi Calhaj Brebes

Kalangan pegawai negeri menempati urutan kedua yaitu 188 orang (21,88%) dan pegawai swasta 172 orang (20,02%). “Pegawai Negeri mulai ada peningkatan yang mayoritas dari kalangan PNS guru, barangkali ini dari meningkatnya tunjangan sertifikasi guru,” terang Aqso. 

Haedar Nashir

Pada tahun ini, sekitar 859 jamaah calon haji (Calhaj) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah berangkat ke Saudi Arabia dari halaman Islamic Center Brebes. Mereka dibagi dalam tiga tahap, yakni kelompok terbang (kloter) 12,13, dan 14 menuju embarkasi Adi Soemarmo Solo. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pendidikan, Internasional, Makam Haedar Nashir

Jumat, 08 September 2017

Mbah Moen Sebut Kitab Kuning Paling Banyak Dibaca di Indonesia

Rembang, Haedar Nashir

Dalam sebuah taushiyah, Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair mengajak untuk meningkatkan belajar kitab kuning. Hal ini disampaikannya saat mengisi acara taushiyah dan Doa Bersama Masyarakat di Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Kamis (14/4) lalu.

Mbah Moen mengungkapkan, Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbesar juga masih banyak orang yang peduli mengaji kitab. Ia juga mengatakan bahwa di pondok pesantren Sarang Rembang mulai ramai tahun 1800-an hingga saat ini. Dan tetap menjunjung tinggi budaya ngaji kitab kuningnya.

Mbah Moen Sebut Kitab Kuning Paling Banyak Dibaca di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Moen Sebut Kitab Kuning Paling Banyak Dibaca di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Moen Sebut Kitab Kuning Paling Banyak Dibaca di Indonesia

"Saya melihat di pondok yang maju dan ramai, tapi masih sulit ngaji kitabnya. Tapi alhamdulillah di Indonesia masih banyak orang yang belajar kitab. Inilah keindahan Indonesia," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang tersebut.

Ia juga mengatakan, bahwa kemarin salah satu putranya mewakili Asia untuk bertemu dengan tokoh-tokoh agama, yakni agama Islam dan Kristiani di Maroko dan Prancis. Ini menunjukkan bahwa tidak ada organisasi besar di dunia seperti Nahdlatul Ulama. "Yang masih banyak ngaji kitab kuning itu hanya ada di Indonesia. Itu saja masih membuat saya kaget dan merasa aneh. Kalau dulu anak kiai masih suka ngaji, tapi sekarang sudah tidak lagi," terang Mbah Moen.

Haedar Nashir

Di pondok Al-Anwar, lanjut Mbah Moen, ada yang khusus belajar latin. Ada juga yang ngaji arab. Yang ngaji arab ini semakin habis peminatnya. Padahal tulisan yang dipakai di surga itu tulisan Arab. "Di surga gak ada abjad a, b, c, d. Walaupun agama Islam semakin ramai, tapi sulit untuk mengembalikan manusia ke asal keislamannya. Yakni kitab Quran sebagai panutan," terangnya.

Mbah Moen mengajak, walaupun sekolahnya formal tetap diajarkan kitab-kitab yang menggunakan makna kembali kepada madzhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. "Itu harus dibudayakan, belajar kitab-kitab yang ditulis dengan bahasa Arab. Sebab besok di surga itu gak ada jalannya kecuali menggunakan bahasa Arab," tutupnya. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Kyai, Doa Haedar Nashir

PWNU NTT Berbagi Daging Kurban kepada Nonmuslim

Kupang, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Timur membagikan 200 kantong Daging Kurban Idul Adha 1437 H pada Selasa, (13/9) di Sekretariat PWNU.

Ketua PWNU NTT Jama Ahmad mengatakan, bentuk perhatian NU dalam berkurban tidak memandang latar belakang perbedaan agama. Daging kurban PWNU NTT diberikan juga kepada umat nonmuslim.

PWNU NTT Berbagi Daging Kurban kepada Nonmuslim (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU NTT Berbagi Daging Kurban kepada Nonmuslim (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU NTT Berbagi Daging Kurban kepada Nonmuslim

Sementara itu Sekretaris PWNU NTT Abdullah P. Ulumando mengatakan, PWNU dalam momen Idul Adha menyembelih dua ekor sapi dan dua ekor Kambing.

Haedar Nashir

"Kita korban dua ekor sapi dan dua ekor kambing. Ini bagian dari bentuk perhatian NU kepada masyarakat pinggiran Kota Kupang maupun umat nonmuslim," katanya.

Hadir saat pembagian hewan kurban, Rais Syuriyah PWNU NTT KH Abdul Kadir Makarim, Waki Rais Syuriyah H. Mandar Langi Pua Upa, H. Ali Rosidi dan Banom NU NTT, GP Ansor dan Banser, serta beberapa banom lainnya. (Ajhar Jowe/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Kajian, Kajian Islam Haedar Nashir

Dari Yaman sampai NTT, Nahdliyin Gelar Tahlil Kiai Sahal

Jakarta, Haedar Nashir. Suasana duka masih dirasakan oleh warga dan pengurus NU setelah meninggalnya Rais Aam KH Sahal Mahfudh. Bacaan Yasin dan tahlil terus dikumandangkan oleh warga NU dari seluruh pelosok tanah air dan di belahan dunia lainnya.

Jajaran PWNU Nusa Tenggara Timur bersama imam masjid se-kota Kupang menggelar tahlil dan Yasin bersama peringati malam ketujuh meninggalnya KH Sahal Mahfudh di Masjid At-taqwa Naikoten Koten Kota Kupang, Kamis (30/1).?

Hadir dalam tahlil dan yasisnan bersama, pengurus Wilayah NU NTT, Imam Masjid se-kota Kupang dan seluruh banom NU NTT. Yakni, GP Ansor, Banser, IPNU, PMII Kupang dan sejumlah Alumni PMII.?

Dari Yaman sampai NTT, Nahdliyin Gelar Tahlil  Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Yaman sampai NTT, Nahdliyin Gelar Tahlil Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Yaman sampai NTT, Nahdliyin Gelar Tahlil Kiai Sahal

Ketua PW NU NTT Jamaludin Ahmad dalam sambutan mengatakan tokoh ulama dan tokoh negara seperti almarhum KH Sahal Mahfudh harus sudah menjadi dia sebagai panutan umat dan panutan bangsa karena ia adalah ulama dan tokoh negarawan.

Di Pekalongan, PCNU Kota juga menggelar tahlil pada Rabu (29/1). Acara yang berlangsung di Gedung Aswaja Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan dihadiri oleh jajaran pengurus cabang, lembaga, badan otonom, pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) dan Ranting NU se Kota Pekalongan diisi dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

"Kegiatan peringatan tujuh hari wafatnya mbah Sahal merupakan inisiatif kami warga Nahdliyin sebagai bentuk rasa cinta dan hormat kepada beliau sebagai pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama," ujar Sekretaris PCNU Kota Pekalongan H Muhtarom.

Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Kota Pekalongan KH Zainuri Zainal Mustofa melihat sosok Mbah Sahal adalah figur yang sangat moderat dan tidak kaku dalam menerapkan hukum Islam.

Menurutnya, KH Sahal disamping disiplin dalam penerapan hukum Islam juga toleran terhadap masalah lain seperti dalam pendirian Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang pertama ia mendirikan BPR syariah karena menganggap praktek bank konvensional dianggap riba dan BPR syariah sebagai solusi agar masyarakat terhindar dari transaksi ribawi yang memang dilarang dalam Islam.?

Akan tetapi di lain waktu, ujar Kiai Zainuri, Mbah Sahal juga mendirikan BPR konvensional, karena untuk melayani masyarakat yang masih belum percaya penuh terhadap lembaga keuangan berlabel syariah, apalagi memang hukum bank di dalam Nahdlatul Ulama sendiri masih terdapat perbedaan pendapat, ada yang menghukumi haram ada pula yang menghukumi mubah.?

Tahlil juga digelar di Gedung PCNU Pringsewu, Lampung Jum’at (31/01) oleh pengurus cabang beserta perangkat organisasi NU lainnya.

Hadir pada kegiatan tersebut Bupati Pringsewu KH Sujadi yang merupakan Mustasyar PCNU Pringsewu, Ketua MUI Kabupaten KH. Hambali Para Pengasuh Pondok Pesantren dan segenap Pengurus dari MWC dan Ranting NU di Kabupaten Pringsewu?

Tak ketinggalan, Kamis (30/1) malam, Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Plosorejo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan menggelar tahlilan di rumah Fatoni, salah satu warga NU setempat yang dipimpin oleh Kiai Zuhdi, Wakil Ketua Ranting NU Plosorejo.?

Dalam tausiahnya ia mengatakan, “Bisa kita lihat sosok Mbah Sahal yang bisa kita ambil ibaroh, ia telah meninggalkan kenangan indah bagi bangsa ini. Disana-sini silih berganti, tak henti-hentinya bangsa ini mendoakannya.”

Di Probolinggo, kegiatan silaturahim yang bertajuk turba (turun ke bawah) yang digelar oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo di Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPPNU Kecamatan Sumberasih, Ahad (26/1) juga sekaligus diisi dengan digelar tahlil untuk mendiang KH Sahal Mahfudh.? “Kami disini berdoa bersama-sama agar almarhum Mbah Sahal diterima segala amal sholehnya dan diampuni sebala kekhilafannya serta ditempatkan di surganya Allah SWT. Hal ini sepada dengan perjuangan beliau terutama dalam membesarkan NU untuk kemaslatan seluruh umat Islam,” kata Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Shofia.

Di Yaman Pengurus Cabang Istimewa (PCI-NU) Yaman menggelar khataman Al-Qur’an dan tahlil pada hari ketiga wafatnya KH Sahal Mahfudh, Senin (27/1) di kampus Universitas Darul Ulum As-Syar’iyyah Hudaidah-Yaman.?

Acara tersebut dihadiri oleh ratusan pelajar Indonesia, Malaysia, Kamboja dan Thailand dimulai dengan pembukaan, yang dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur’an 30 juz secara seksama, kemudian dilanjutkan dengan tahlil yang diteruskan dengan doa.?

Muhammad Fathullah selaku Ketua PCI-NU,berpesan kepada warga Nahdiyin untuk melanjutkan cita-cita dan pemikiran yang sudah diajarkan oleh KH MA Sahal Mahfudh.?

Usai acara prakata dan sambutan, acara di isi dengan pemutaran video prosesi pemakaman KH Sahal Mahfud. Walaupun tidak bisa hadir mengantar jenazah, namun pemutaran video menjadi pelepas kerinduan akan sosoknya.(mukafi niam/ajhar/muiz/samsul/muslih/faizin/najih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

KH Maimoen Zubair: Masa Kekhalifahan Sudah Habis

Rembang, Haedar Nashir?



Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair mengatakan, kemerdekaan Indonesia diraih tidak mudah. Harus melalui perjuangan yang panjang. Menurutnya, umat Islam punya peran penting dalam perjuangan kemerdekaan melalui resolusi jihad yang dikeluarkan oleh para kiai sepuh.

"Bulan Ramadhan punya arti penting bagi bangsa Indonesia. Kebangkitan Nasional pada 1908 terjadi saat Ramadan. Demikian pula momen Sumpah Pemuda tahun 1928. Proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, juga bertepatan dengan hari kedelapan bulan Ramadan," katanya pada taushiyah Safari Ramadan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang berlangsung di rumah KH Mustofa Bisri di lingkungan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Kelurahan Leteh, Rembang, Selasa (6/6) sore.

KH Maimoen Zubair: Masa Kekhalifahan Sudah Habis (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maimoen Zubair: Masa Kekhalifahan Sudah Habis (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maimoen Zubair: Masa Kekhalifahan Sudah Habis

Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang tersebut menegaskan Indonesia harus mempertahankan konsep negara kesatuan yang berasaskan Pancasila seperti sekarang ini.

Menurutnya, masa kekhalifahan sudah habis dengan berakhirnya era Khulafaur Rasyidin, dimulai Abu Bakar hingga Ali bin Abi Thalib.

Haedar Nashir

"Masa kekhalifahan sudah habis. Untuk Indonesia, konsep kenegaraan yang cocok adalah seperti sekarang ini. Kemerdekaan Indonesia menjadi inspirasi bagi negara-negara di belahan dunia lain. Terbukti dengan digelarnya Konferensi Asia Afrika I di Bandung," beber kiai akrab disapa Mbah Moen sebagaimana ditulis Tribun Jateng.

Saking cintanya kepada Indonesia dan Pancasila, Mbah Moen mengaku di kediamannya memajang lambang nasional burung garuda di tempat yang tinggi. Oleh sebagian kalangan, ia dinilai sebagai kiai yang aneh.

Haedar Nashir

"Biarlah saya dianggap kiai yang aneh," tutur Mbah Moen.

Kiai sepuh ini bercerita, semasa ibu kota Indonesia pindah ke Yogyakarta, Presiden Soekarno pernah bertandang ke Rembang. Dalam kesempatan itu, sang proklamator menyitir sebuah ayat Al-Qur’an dalam Surat Ar Rum.

"Saya masih ingat, beliau meyakini proses kemerdekaan Indonesia layaknya perjuangan Nabi Muhammad yang tengah berada di tengah peperangan besar," paparnya.

Mbah Moen menandaskan Islam tak boleh dimonopoli oleh suatu bangsa.

"Pada zaman Nabi, yang membesarkan Islam bukan hanya bangsa Arab. Panglima perang yang tangguh kala itu, Salman Alfarisi, berasal dari bangsa Persia," tuturnya.

Dalam mengatasi perpecahan di Indonesia, Mbah Moen berpesan agar para elite nasional lebih dulu bersatu. Jika yang berada di level atas sudah bersatu, yang ada di tataran bawah atau akarrumput juga mudah disatukan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Kyai Haedar Nashir

Nobar “Kalam-Kalam Langit”, GP Ansor Makassar Siap “Kepung” Bioskop

Makassar, Haedar Nashir. Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Makassar mengagendakan menonton bareng film "Kalam-Kalam Langit" yang akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 14 April 2016.

Ketua GP Ansor Makassar, Agus Salim Said, mengatakan telah mengkomunikasikan hal tersebut dengan seluruh pengurus dan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) GP Ansor Makassar. "Ratusan anggota Ansor dan Banser siap ‘mengepung’ bioskop di Makassar," kata Agus, Selasa, 22 Maret 2016.

Nobar “Kalam-Kalam Langit”, GP Ansor Makassar Siap “Kepung” Bioskop (Sumber Gambar : Nu Online)
Nobar “Kalam-Kalam Langit”, GP Ansor Makassar Siap “Kepung” Bioskop (Sumber Gambar : Nu Online)

Nobar “Kalam-Kalam Langit”, GP Ansor Makassar Siap “Kepung” Bioskop

Agus yang baru-baru ini sukses menyelenggarakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser Makassar, menuturkan nonton bareng itu juga merupakan instruksi dari Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU).

Haedar Nashir

Tujuannya untuk mendukung program Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LESBUMI PBNU) dan Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (JQH PBNU), yang telah ikut bersama memproduksi film tersebut.

Menurut Agus, film tersebut diharapkan akan menguatkan semangat keislaman anggota GP Ansor Makassar, khususnya dalam menjalankan aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah. Agus berharap tidak hanya Ansor tapi juga seluruh keluarga besar NU, seperti IPNU-IPPNU, Fatayat, Muslimat NU, dan warga Nadhliyin khususnya kaum muda ikut berpartisipasi menonton film "Kalam-Kalam Langit"

Haedar Nashir

Sekadar diketahui, film "Kalam-Kalam Langit" merupakan sebuah film yang mengetengahkan drama dengan setting lokasi pesantren dan keindahan alam kota “seribu masjid”, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Film produksi Putar Film Production ini bercerita tentang mahabbah (cinta) seorang anak bernama Jafar yang sejak kecil telah dididik membaca tilawah Al-Quran oleh ibunya yang mantan qariah. Namun, di luar dugaan, sang ayah justru menentang keras Jafar mengikuti ajang lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dengan alasan bahwa ajang tersebut hanya menjualbelikan ayat-ayat Allah saja.

Jafar diperankan Dimas Seto. Dimas berharap film ini menjadi tontonan yang menarik dengan kehidupan para santri yang ikut di ajang Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasioal.

"Dalam film ini saya akan melantunkan ayat fabiayyi alaa iraabikumaa tukadzdzibaann (maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan) dalam surah Ar-Rahman yang disebut berulang-ulang, menjadi ikhtibar manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan, kedua adalah manusia senantia kufur nikmat, dan terakhir adalah melalui surah ini Allah Subhanahu wa Taala hendak memancing manusia agar berpikir tentang segala nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia," papar Dimas. (Ahsan Almaswajah/Abdullah Alawi)

Nobar “Kalam-Kalam Langit”, GP Ansor Makassar Siap “Kepung” Bioskop

Makassar, Haedar Nashir

Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Makassar mengagendakan menonton bareng film "Kalam-Kalam Langit" yang akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 14 April 2016.

Ketua GP Ansor Makassar, Agus Salim Said, mengatakan telah mengkomunikasikan hal tersebut dengan seluruh pengurus dan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) GP Ansor Makassar. "Ratusan anggota Ansor dan Banser siap ‘mengepung’ bioskop di Makassar," kata Agus, Selasa, 22 Maret 2016.

Agus yang baru-baru ini sukses menyelenggarakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser Makassar, menuturkan nonton bareng itu juga merupakan instruksi dari Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU).

Tujuannya untuk mendukung program Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LESBUMI PBNU) dan Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (JQH PBNU), yang telah ikut bersama memproduksi film tersebut.

Menurut Agus, film tersebut diharapkan akan menguatkan semangat keislaman anggota GP Ansor Makassar, khususnya dalam menjalankan aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah. Agus berharap tidak hanya Ansor tapi juga seluruh keluarga besar NU, seperti IPNU-IPPNU, Fatayat, Muslimat NU, dan warga Nadhliyin khususnya kaum muda ikut berpartisipasi menonton film "Kalam-Kalam Langit"

Sekadar diketahui, film "Kalam-Kalam Langit" merupakan sebuah film yang mengetengahkan drama dengan setting lokasi pesantren dan keindahan alam kota “seribu masjid”, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Film produksi Putar Film Production ini bercerita tentang mahabbah (cinta) seorang anak bernama Jafar yang sejak kecil telah dididik membaca tilawah Al-Quran oleh ibunya yang mantan qariah. Namun, di luar dugaan, sang ayah justru menentang keras Jafar mengikuti ajang lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dengan alasan bahwa ajang tersebut hanya menjualbelikan ayat-ayat Allah saja.

Jafar diperankan Dimas Seto. Dimas berharap film ini menjadi tontonan yang menarik dengan kehidupan para santri yang ikut di ajang Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasioal.

"Dalam film ini saya akan melantunkan ayat fabiayyi alaa iraabikumaa tukadzdzibaann (maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan) dalam surah Ar-Rahman yang disebut berulang-ulang, menjadi ikhtibar manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan, kedua adalah manusia senantia kufur nikmat, dan terakhir adalah melalui surah ini Allah Subhanahu wa Taala hendak memancing manusia agar berpikir tentang segala nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia," papar Dimas. (Ahsan Almaswajah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam Haedar Nashir

Kamis, 07 September 2017

Sang Juara Bertahan Tumbang di Tangan Al-Mubarok FC

Jember, Haedar Nashir

Mempertahankan prestasi lebih berat daripada meraihnya. Kalimat bijak ini setidaknya dialami oleh Nuris United FC saat bentrok dengan Al-Mubarok FC dalam laga semifinal Liga Santri Nasional (LSN) Region V Jawa Timur di lapangan Pondok Pesantren Darussalam, Blok Agung, Banyuwangi, Ahad (4/9).

Baca: Juara Liga Santri Nusantara 2015 Berjaya di Malaysia

Sang Juara Bertahan Tumbang di Tangan Al-Mubarok FC (Sumber Gambar : Nu Online)
Sang Juara Bertahan Tumbang di Tangan Al-Mubarok FC (Sumber Gambar : Nu Online)

Sang Juara Bertahan Tumbang di Tangan Al-Mubarok FC



Dalam pertandingan yang disaksikan lebih dari 1000 santri itu, Nuris United FC akhirnya harus mengubur impiannya untuk mengangkat tropi yang kedua kalinya setelah dibekap Al-Mubarok FC melalui drama adu tendangan penalti dengan skor 4-3.

Haedar Nashir

Pertandingan di babak pertama berlangsung sengit. Al-Mubarok FC yang sebelumnya tampil biasa-biasa saja, tenyata di luar dugaan mampu mengimbangi permainan cepat Nuris United FC. Bahkan pemain belakang Nuris United FC nyaris membikin gol bunuh diri. Permainan pun menjurus kasar. Dua kartu kuning dikeluarkan wasit untuk pemain Al-Mubarok FC, dan satu kartu kuning diberikan kepada pemain Nuris United FC. Babak pertama berkesudahan dengan skor kacamata (0-0).

Memasuki babak kedua, tensi permainan menjurus kasar terus meningkat. Wasit terpaksa mencabut kartu merah untuk pemain Al-Mubarok FC karena dia sudah dua kali kena kartu kuning. Sejak saat itu, Nuris United kian leluasa mengobrak-abrik pertahanan lawan. Kendati Nuris United FC unggul dalam ball position, namun gol tak juga tercipta. Serangan demi serangan yang dibangun Nuris United FC selalu bisa dimentahkan oleh lini belakang Al-Mubarok FC. Alih-alih cetak gol, dua kartu kuning malah dilayangkan untuk pemain Nuris United FC. Babak kedua berakhir dengan kedudukan tetap 0-0.

Haedar Nashir

Pertandingan dilanjutkan dengan adu tendangan penalti setelah perpanjangan waktu 7 x 2 menit, skor tetap sama kuat, 0-0.

Dalam adu tendangan penalti ini, Nuris United FC akhirnya terjungkal. Dua penendang Nuris United FC gagal menyarangkan bola. Tendangan Ibnu berhasil diblok oleh Sofyan, penjaga gawang Al-Mubarok FC. Sedangkan tendangan Rizky melenceng ke samping kanan gawang. Richard Rahmad termasuk yang sukses mengeksekusi penalti. Dengan demikian, play maker Nuris United FC yang menjadi muallaf sejak dua tahun lalu itu, sampai saat ini sudah mengoleksi 5 gol.

Sementara di kubu Al-Mubarok FC, hanya Hadi Wijaya yang gagal mencetak gol karena tendagannya berhasil diblok oleh penjaga gawang Nuris United FC.

Di laga sebelumnya, tuan rumah Darunnajah FC memastikan diri maju ke babak final setelah menggulung Al-Qodiriyah dengan angka 6-1. Di babak pertama, Darunnajah FC sudah unggul 2-0. Empat gol tambahan dicetak di babak kedua. Sedangkan Al-Qodiriyah berhasil memperkecil kekalahan dengan mencetak 1 gol

“Kualitas permainan semakin merata. Buktinya, di luar dugaan Al-Mubarok bisa mengalahkan juara bertahan, Nuris United FC,” tukas Wakil RMI Cabang Jember, Khoirus Sholihin kepada Haedar Nashir melalui sambungan telepon seluler. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Nahdlatul, AlaNu Haedar Nashir