Jumat, 20 Oktober 2017

PWNU Jabar: Abaikan Isu Negatif Muktamar, Fokus Bangun Organisasi

Bandung, Haedar Nashir. Jelang Muktamar ke-33 NU 1-5 Agustus 2015 mendatang, wacana muktamar semakin penuh dinamika. Setelah Musyawarah Nasional di Jakarta 14 Juni 2015 lalu menghasilkan model pemilihan Rais Aam Syuriyah dan Ketua Umum Tanfidziah, juga beberapa rekomendasi organisasi lainnya.

PWNU Jabar: Abaikan Isu Negatif Muktamar, Fokus Bangun Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jabar: Abaikan Isu Negatif Muktamar, Fokus Bangun Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jabar: Abaikan Isu Negatif Muktamar, Fokus Bangun Organisasi

Menanggapi hal tersebut, Ketua PWNU Jawa Barat, Dr KH Eman Suryaman menilai, bahwa isu-isu negatif tidak perlu terjadi di NU. Menurutnya, konsentrasi para pengurus NU baik dari cabang maupun pusat seyogyanya lebih difokuskan untuk berpikir tentang pembangunan organisasi.

"Saya kira penyebaran isu-isu negatif jelang muktamar tidak perlu muncul. Ini adalah Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi yang kulturnya dibangung dari adab, akhlak, dan tujuannya untuk membangun peradaban,” ujarnya di Kantor PWNU Jawa Barat, Rabu (24/6).

Haedar Nashir

Selain tidak etis, tambahnya, juga tidak produktif bagi sebuah pengembangan organisasi.  Warga dan pengurus NU jangan larut urusan isu-isu tersebut karena itu tidak produktif.

Dalam pandangan Eman, energi pengurus dan warga NU dalam muktamar tahun ini harus dicurahkan untuk kepentingan umat, bangsa, dan dari organisasi NU.

Haedar Nashir

"Isu ekonomi kerakyatan, pengembangan koperasi pesantren, memajukan himpunan pengusaha NU, kaderisasi di masing-masing badan otomon, dan juga kreativitas pemikiran dalam diskursus keislaman dan keindonesian adalah hal yang lebih utama ketimbang sekadar urusan siapa yang jadi pemimpin," terangnya.

Menurut Eman, sebuah organisasi jangan terjebak sekadar berpikir siapa yang akan jadi ketua dan siapa sekretarisnya. Ini pasti akan dapat, dan pasti akan terealisasi karena memang agenda muktamar. 

“Tetapi muktamar bukan sekedar urusan memilih ketua umum, melainkan juga mengurus banyak rekomendasi yang sifatnya amanah dan maslahat umat,” tandasnya. (Yus Makmun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Pendidikan Haedar Nashir

Kesbangpol Sebut Ada Kelompok Aliran Sesat di Kota Kupang

Kupang, Haedar Nashir. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Kupang, Erwin Fanggidae, menyebut ada kelompok aliran sesat yang berada di Kota Kupang. Pasalnya, keberadaan kelompok yang diduga sesat tersebut menjalankan aktivitas organisasinya secara tertutup.



Kesbangpol Sebut Ada Kelompok Aliran Sesat di Kota Kupang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesbangpol Sebut Ada Kelompok Aliran Sesat di Kota Kupang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesbangpol Sebut Ada Kelompok Aliran Sesat di Kota Kupang



"Memang ada kelompok aliran sesat yang dicurigakan, sebab mereka sudah lama berada di kota Kupang," kata Erwin kepada Haedar Nashir di Kupang Selasa (15/3).

Haedar Nashir

Ditanya soal kelompok aliran sesat tersebut, pihaknya belum bisa menyampaikan secara detail, termasuk keberadaan tempat tinggal atau sekretariat kelompok itu. "Kan aneh kalau organisasi sosial masyarakat melaksanakan aktivitasnya harus sembunyi dari masyarakat, "terangnya.

Haedar Nashir

Erwin hanya menjelaskan kelompok ini sudah beroperasi selama tiga tahun. Mereka mempunyai sebuah rumah dengan tembok tinggi sekeliling rumah. Aktifitas yang dilakukan di dalam rumah juga diduga secara sembunyi dan tidak pernah diketahui oleh tetangga yang ada disekitarnya.

"Memang ini masih dirahasiakan keberadaan alamat rumahnya, kita masih mempelajari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh kelompok tersebut sebagai bahan buktinya," katanya.

Kesbangpol Kota Kupang sedang membentuk jaringan sebagai pemberi informasi, jika ditemukan ada masalah yang dicurigai maka pihaknya akan lakukan tindakan bersama pihak keamanan.

 

Untuk diketahui, organisas yang dianggap resmi secara nasional dan lokal diantara 72 ormas kepemudaan dan agama, 132 yayasan dan 69  LSM lokal maupun nasional.

Secara terpisah Ketua IPNU NTT, Ichsan Arman Pua Upa, meminta Kesbangpol Kota Kupang secepatnya mengambil tindakan kepada kelompok yang diduga organisasi terlarang tersebut. Sebab, menurutnya apapun bentuknya yang diduga aliran sesat segera diatasi.

"IPNU minta Kesbangpol segera ambil tindakan kelompok yang menganggu suasana kenyamanan keberagaman di NTT," tegas Ichsan.

Dikatakan Ichsan, pemuda maupun pelajar muslim siap membantu pemerintah jika ada kelompok aliran sesat yang menganggu suasana di kota ini. (Ajhar Ambubari/Zunus)





Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Pahlawan Haedar Nashir

Fakultas Ushuluddin Retas Jalan Integrasi Pesantren dan IAIN

Semarang, Haedar Nashir. KH Abdul Ghaffar Rozin yang lazim disapa Gus Rozin mengingatkan Institut Agama Islam Negeri Walisongo untuk melanjutkan semangat intelektual pesantren. Karena, IAIN  Walisongo secara historis maupun keilmuan, sulit dilepaskan dari pesantren di Jawa Tengah.

Fakultas Ushuluddin Retas Jalan Integrasi Pesantren dan IAIN (Sumber Gambar : Nu Online)
Fakultas Ushuluddin Retas Jalan Integrasi Pesantren dan IAIN (Sumber Gambar : Nu Online)

Fakultas Ushuluddin Retas Jalan Integrasi Pesantren dan IAIN

“IAIN Walisongo awalnya dibentuk memang untuk melanjutkan keilmuan santri pascapesantren,” kata Gus Rozin di hadapan ratusan peserta yang menghadiri halaqah harlah ke-44 Fakultas Ushuluddin, Senin (29/9).

Selain itu, roh pesantren yang berkenaan dengan moralitas juga masuk ke dalam fakultas Ushuluddin Fakultas ini memang diadakan untuk membangun paradigma keilmuan yang dinamis, berpikir kritis, dan dialektis.

Haedar Nashir

"Untuk kembali merekatkan hubungan pesantren dengan fakultas Ushuluddin, perlu diadakan dialog terus-menerus," tambah Gus Rozin.

Haedar Nashir

Sementara narasumber kedua Dr Musahadi menegaskan pentingnya integrasi antara pesantren dan perguruan tinggi dalam konteks pembangunan karakter bangsa. “Pasalnya, pesantren ibarat harta itu luar biasa bagi pembangunan mental," papar Musa.

Tampak hadir dalam halaqah ini Rais Syuriyah NU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh, Ketua NU Jateng Abu Hafsin Umar, mahasiswa IAIN Walisongo, delegasi pesantren sekaresidenan Semarang, dan pengurus cabang RMI seprovinsi Jawa Tengah. (M Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir

Kamis, 19 Oktober 2017

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam

Surabaya, Haedar Nashir . Aswaja NU Center Jatim mengadakan dauroh Ahlussunnah Wal Jama’ah yang bertempat di Aula PWNU Jawa Timur. Kegiatan ini ditujukan untuk kader muda Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), khususnya yang sedang menempuh pendidikan di jenjang perkuliahan.

Kegiatan yang digelar akhir pekan kemarin (6/9) ini menarik minat kaum muda NU. Hampir 80 orang mendaftar sebagai peserta dauroh ini. KH Abdurrahman Navis selaku Direktur Aswaja NU Center Jatim menjelaskan, Dauroh Aswaja digelar untuk mematangkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi banyaknya kelompok agama, khususnya lingkungan kampus

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam

Dalam kegiatan dauroh ini, terdapat empat materi yang diterima oleh para peserta. Sebelum memasuki materi pertama, pihak panitia memberikan pre-test kepada para peserta dauroh. “Pre-tes tini untuk mengukur tingkat keberhasilan dauroh ini sebab nanti di akhir dauroh juga akan diadakan post-test juga,” ujar Ustadz Fauzi, ketua panitia dauroh ini.

Setelah peserta selesai mengerjakan post-test, acara dilanjutkan kembali dengan pemaparan materi oleh beberapa pemateri yang telah disiapkan oleh panitia. Salah satu pemateri, Ustadz Faris Khoirul Anam menyampaikan, ada tujuh penyebab munculnya perbedaan di tengah umat Islam. Pertama adalah primordialisme kesukuan yang merupakan warisan jahiliyah.

Penyebab kedua adalah faktor perebutan kekuasaan. “Sepeninggal Rasulullah terjadi perebutan kekuasaan antara kaum muhajirin dan anshar, namun bisa tereduksi dengan masih banyaknya pembesar di kalangan sahabat,” jelasnya.

Ketiga adalah persinggungan dengan pengikut agama lain. Keempat, penerjemahan materi-materi filsafat. Kelima, kajian terhadap permasalahan-permasalahan yang sulit dipahami oleh akal. Dan selanjutnya adalah metode pemahaman terhadap ayat-ayat mutasyabihat.

Haedar Nashir

“Ayat-ayat mutasyabihat itu tidak bisa dipahami secara langsung, ada dua pendekatan. Pertama pendekatan atsariyah (literalis), kedua pendekatan nadhariyah (rasionalis),” jelasnya kepada peserta.

Maksud dari pendekatan atsariyah (literalis) adalah mengartikan teks al-Qur’an maupun hadits dengan apa adanya. Sedangkan maksud dari pendekatan nadhariyah (rasionalis) ialah menggunakan pentakwilan dan logika saat mencari arti dari teks yang sedang dilakukan.

Penyebab terakhir adalah Istinbanth al-Ahkam (penetapan hukum). Dari ketujuh penyebab itu, faktor pertama hingga keenam bisa menyebabkan ikhtilaf madzmum (perbedaan tercela/jelek). Sedangkan hanya yang ketujuh saja yang menyebabkan munculnya ikhtilaf mahmud (perbedaan yang baik/terpuji) yang mana sesuai dengan kaidah khilaful aimmah rahmatul ummah (perbedaan para imam adalah rahmat bagi umat).

Haedar Nashir

“Hanya yang ketujuh saja yang memberikan kemanfaatan bagi masyarakat,” tutur alumni Al-Ahgaff University itu.

Pemateri lain yang turut mengisi dauroh ini adalah Ustadz Ma’ruf Khozin (dewan pakar Aswaja NU Center Jatim), Ustadz Ainul Yaqin dari MUI, dan Ustadz M Idrus Ramli (dewan pakar Aswaja NU Center Jatim).

Acara dauroh ini ternyata tidak hanya dihadiri oleh kader aswaja dari sekitar Surabaya, tapi juga dari Kediri, Pasuruan bahkan Pulau Madura. “Tertarik untuk mengikuti karena ingin menambah keilmuan tentang Aswaja,” ujar salah seorang peserta. (Ahmad Hanan/Mahbib)

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah, Lomba Haedar Nashir

Selasa, 17 Oktober 2017

Melawan Radikalisme dengan Cerita

Tangerang Selatan, Haedar Nashir. Penulis Fahd Pahdepie memaparkan pentingnya sebuah cerita hingga bisa mengubah sesuatu. Cerita juga bisa digunakan untuk sebanyak mungkin kebaikan, termasuk dijadikan counter narative terorrism, dan kita bisa mengatakan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang damai. Salah satunya cerita Hijrah Bang Tato yang disampaikan pada Seminar Islam Kontemporer di Indonesia dan Australia di FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Rabu, (20/9).

Melawan Radikalisme dengan Cerita (Sumber Gambar : Nu Online)
Melawan Radikalisme dengan Cerita (Sumber Gambar : Nu Online)

Melawan Radikalisme dengan Cerita

“Cerita selalu luar biasa. Cerita selalu bekerja dengan baik,” ungkap direkrur Inspirasi.co itu. 

Peraih Ahmad Wahib Award dari Yayasan Paramadina itu memulai ceritanya dari seorang pria yang bernama Lalan Maulana. Seorang preman yang luar biasa ditakuti di daerah Rumpin, Bogor. Ia menceritakan Lalan yang selanjutnya akrab disapa Bang Tato, dalam kesehariannya mengendalikan jaringan preman yang luar biasa besar. 

“Memalak toko dan material yang mayoritas dikendalikan dari etnis China adalah kebiasaan yang dilakukannya setiap hari. Dari masa lalunya yang kelam itu, ia ingin berhijrah ke jalan yang benar,” tambahnya.

Haedar Nashir

Namun Fahd dalam ceritanya menyayangkan bahwa momen hijrah tersebut dipakai oleh Bang Tato untuk kemudian merasa mempunyai ruang untuk melakukan sesuatu yang disebut sebagai jihad atau perlawanan. Menurutnya hal itu dilakukan untuk menebus dosa di masa lalu, tetapi jalur yang dipilih adalah kekerasan. 

Selanjutnya lulusan Monash University Australia itu menilai hijrah adalah sesuatu yang menarik. Hal itu dikarenakan karena betapa mudahnya mantan preman atau mereka yang berurusan dengan kekerasan, ketika mengkonversi dirinya untuk hijrah, bisa masuk ke dalam kelompok radikal dan tiba-tiba merasa mempunyai rasa legitimasi untuk melawan siapa pun yang berseberangan dengannya.

Haedar Nashir

“Jika artis dan selebriti hijrah, mereka bisa aktif di majelis dzikir dan sebagainya. Tetapi ketika preman atau mereka yang berurusan dengan kekerasan ingin berhijrah, tempat yang paling kompatibel dengan posisi mereka adalah kelompok radikal,” terangnya. 

Selanjutnya peraih Outstanding Young Alumni Award dari Australia Global Alumni itu memberikan contoh kecil tindakan radikal tersebut dengan menampilkan status facebook dari Bang Tato. Status yang isinya kurang lebih menceritakan bahwa Bang Tato akan membakar toko-toko jika kasus Basuki Tjahja Purnama berujung dengan mengulang sejarah seperti halnya pemberontokan 1998.

Pria kelahiran Cianjur itu mempunyai keyakinan bahwa kita tidak bisa mengadili seseorang dengan masa lalunya, dan kita tidak bisa menentukan masa depan seseorang karena fisiknya. Ia memulai dengan melibatkan Bang Tato untuk mendalami kesibukan baru di tempat usahanya yaitu barber shop dan coffe shop yang ia miliki di BSD Tangerang Selatan. Lalu diberikannya sejumlah keahlian yang akhirnya memunculkan rasa bangga baru. 

Bang Tato dalam kesehariannya diceritakan bertemu dengan pelanggan dari etnis dan agama yang berbeda. “Sampai pada akhirnya ia mempunyai rasa bangga baru karena merasa mempunyai empati yang diletakkan di kondisi psikolgisnya,” tuturnya.

Perubahan tersebut digambarkan melalui status facebook pada bulan Juni 2017 yang kurang lebih berisi sebagai berikut

    Tenang para pemilik toko dan material yang di Rumpin sana, sekarang saya tidak akan meminta uang lagi kepada     kalian. Sekarang saya sudah mempunyai pekerjaan.

“Dari status tersebut, ia menunjukkan bahwa cara berpikir radikal sudah berubah. Dan itu merupakan sesuatu yang luar biasa dari hijrahnya seorang Bang Tato,” tambahnya.

Bulan depan, Hijrah Bang Tato itu akan diterbitkan oleh  Bentang Pustaka menjadi sebuah novel. Ia menegaskan bahwa ke depan yang akan berbicara tentang cerita tersebut bukan lagi dirinya, melainkan Bang Tato sendiri. 

“Lalan Maulana yang akan menceritakannya sendiri,” ungkapnya. (M Ilhamul Qolbi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Olahraga Haedar Nashir

PCNU Surabaya Tolak Keras Raperda Miras Bebas Dijual di Minimarket

Surabaya, Haedar Nashir

Munculnya pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kota Surabaya tentang minuman keras (Miras) oleh DPRD Kota Surabaya (5/2) yang membebaskan penjualan miras di minimarket sontak menjadi perhatian publik. Begitu juga dengan warga Nahdliyin di Surabaya.?

"Kami menolak keras pembahasan Raperda Mihol (Minuman Beralkohol). Meskipun itu masih rancangan. Jelas kami menolak keras," kata H A Muhibbin Zuhri, Ketua PCNU Surabaya, Sabtu (6/2).

PCNU Surabaya Tolak Keras Raperda Miras Bebas Dijual di Minimarket (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Surabaya Tolak Keras Raperda Miras Bebas Dijual di Minimarket (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Surabaya Tolak Keras Raperda Miras Bebas Dijual di Minimarket

Kepada Haedar Nashir ia mengatakan, pada prinsipnya NU menginginkan Surabaya bebas dari minuman keras, apapun jenis minuman itu. Kalau sudah memabukkan, jelas kami tolak, imbuhnya.

Kalau sampai Raperda itu disahkan maka peredaran miras di Surabaya akan terjadi semakin luas dan bebas karena bisa dibeli oleh siapa saja. "Dengan alasan apapun peredaran minuman keras merupakan ancaman serius bagi integritas moral dan masa depan bangsa ini," tegas mantan Ketua PW GP Ansor Jatim itu.

Apalagi miras itu nantinya diberi ruang penjualannya di gerai minimarket yang terbuka untuk masyarakat umum. "Ini secara implisit melegalisasikan minuman keras. Menghalalkan sesuatu yang haram," tandasnya.

Haedar Nashir

"Pada saat ini, yang menjadi keperluan masyarakat adalah raperda yang berisi penegasan menggenai pelarangan produksi, impor, peredaran serta konsumsi minuman keras dan disertai hukuman yang jelas bagi pelakunya," pungkas Muhibbin. (Rof Maulana/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Daerah Haedar Nashir

PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menggelar Workshop Finalisasi Penyusunan Buku Modul dan Panduan Pemimpin Agama Pelopor Perubahan Gerakan Revolusi Mental di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (12/10).

Dalam sambutannya, penanggung jawab acara Wakil Sekretaris Jenderal Sultonul Huda mengatakan, kegiatan workshop ini merupakan bagian kerja sama PBNU dengan Kemenko PMK.

PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama

Ia mengatakan, buku modul yang ada merupakan berbeda dengan buku modul pada umumnya karena banyak menggunakan perspektif keislaman.

“Kita semua paham, ketika kita bicara revolusi mental berarti kita bicara karakter bangsa, otomatis. Karena kita orang timur, keberadaan agama itu sangat substansial untuk memberikan pengaruh kepada pendidikan karakter yang ada di kita ini,” katanya.

Sementara itu, Asisten Deputi Pemberdayaan dan Kerukunan Umat Beragama Kemenko PMK Aris Darmansyah mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan gerakan revolusi mental yang harus disosialiskan ke semua kalangan.

Haedar Nashir

 “Salah satu bentuk kegiatannya ini adalah mensosialisasikan gerakan revolusi mental khususnya untuk di lingkungan keagamaan,” kata Aris.

Ia mengatakan, Kemenko PMK akan melakukan sosialisasi ke semua kalangan khususnya dengan PBNU. Terkait kerja sama dengan PBNU, ia mengaku senang bisa bekerja sama, karena kegiatan revolusi mental ini bisa diharapkan lebih menasional lagi mengingat jumlah warga NU yang banyak.

“Jadi ke seluruh kalangan, khususnya di PBNU dengan warganya, jamaahnya di PBNU,” katanya.

Haedar Nashir

Tampak hadir pada acara tersebut, Ketua PBNU Aizzudin Abdurrahman dan Wakil Sekjen H Masduki Baedlowi. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Quote Haedar Nashir