Senin, 13 November 2017

SMA Maarif 1 Pamekasan Bekali Siswa Madura Ilmu Jurnalistik

Pamekasan, Haedar Nashir. Sejumlah siswa dari dua kabupaten di Madura, yakni Pamekasan dan Sampang, mendapat pendidikan jurnalistik dari SMA Maarif 1 Pamekasan. Diklat jurnalistik dasar yang mendatangkan wartawan senior Yudis Wahyudi itu berlangsung hingga dua hari, 24-25 November 2015, di aula sekolah setempat di Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

“Pesertanya terdiri dari siswa tingkat SLTP dan SLTA. Melalui pembekalan ilmu jurnalistik dasar, diharapkan mereka bisa paham secara utuh dunia jurnalistik. Jika mereka jadi wartawan kelak, punya pendirian kuat dan wawasan yang bisa diandalkan,” terang Abusiri dari Bagian Kesiswaan SMA Maarif 1 Pamekasan.

SMA Maarif 1 Pamekasan Bekali Siswa Madura Ilmu Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA Maarif 1 Pamekasan Bekali Siswa Madura Ilmu Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

SMA Maarif 1 Pamekasan Bekali Siswa Madura Ilmu Jurnalistik

Dalam kesempatan itu, sebagai langkah awal, peserta dikenalkan dengan aspek hukum dan etika jurnalistik di Indonesia. Kepribadian dan integritas seorang wartawan, cara pemberitaan dan menyatakan pendapat, sumber berita, kekuatan kode etik jurnalistik, dan seterusnya dikupas secara mendalam.

Haedar Nashir

“Diklat ini merupakan pengenalan dulu kepada siswa. Implementasinya, sekolah ke depannya nanti menyiapkan sarana,” imbuhnya.

Abusiri juga mengatakan, kegiatan tersebut dimaksudkan agar siswa punya wawasan jurnalistik secara baik dan benar. Dengan begitu, generasi wartawan yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah di Pulau Madura bisa berkesinambungan.

Haedar Nashir

Di samping itu, SMA Maarif 1 Pamekasan sejauh ini juga dikenal sebagai lembaga yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang mendapat pujian banyak kalangan. Utamanya, kegiatan ekstrakurikuler bertani tanaman holtikultura. Tujuannya, para siswa bisa menambah pengetahuan tentang dunia pertanian. Hasil dari pertanian siswa SMA Maarif 1 Pamekasan untuk jenis sayur Gambas, beratnya bisa mencapai 2 kilogram per buah. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Hadits Haedar Nashir

Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham

Sukoharjo, Haedar Nashir - Maraknya berita bohong yang bersebaran di berbagai media sosial, membuat Nahdliyin perlu waspada. Kabar tidak benar tersebut, apabila tidak disikapi dengan sikap hati-hati dapat menimbulkan perpecahan dan fitnah.

“Hati-hati denagn medsos, berita hoax yang mengarah ke fitnah seliweran. NU difitnah dan dibentur-benturkan. Untuk itu, mari kita rekatkan barisan, sesama NU jangan mudah salah paham,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Inshof Plesungan KH Abdullah Saad, pada acara pelantikan Pengurus Ranting Jetis, Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah Senin (20/2) malam.

Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham

Untuk itu, pengurus JATMAN Idarah Aliyah itu mengimbau, Nahdliyin di daerah agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan. “Jagalah persatun dan kesatuan, agar negara aman tentram, serta tetap mengikuti komando dari PBNU,” kata dia.

Haedar Nashir

Ditambahkan Gus Dullah, para pengurus NU juga perlu untuk member pemahaman kepada masyarakat serta anggota, tentang paham Aswaja, sebagaimana yang telah diperjuangkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama NU lainnya.

Dalam acara itu, prosesi pelantikan Pengurus Ranting NU Jetis berjalan dengan penuh khdimat. Amanah Rais Syuriyah diemban Kiai Sulaiman, sedangkan Ketua Tanfidziyah dipegang Giman.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Ahlussunnah, Sholawat Haedar Nashir

Haedar Nashir

Lulusan Pesantren Bisa Studi ke Eropa, Australia, Amerika dan Jepang

Mau melanjutkan studi, tapi tidak ada biaya. Informasi tentang beasiswa juga sangat terbatas. Jangan bingung! Pasalnya, sekarang telah terbit sebuah tabloid bulanan “Info Beasiswa”.

Tabloid setebal 24 halaman ini memuat banyak informasi beasiswa, baik dalam maupun luar negeri, untuk semua jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar hingga Strata 3, training guru dan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil).

Info Beasiswa merupakan tabloid pertama yang khusus mengupas informasi beasiswa dan pendidikan dalam versi cetak. Tabloid ini diterbitkan oleh sejumlah mantan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Nihon (sebutan untuk PCINU Jepang) bekerjasama dengan BES Foundation.

Lulusan Pesantren Bisa Studi ke Eropa, Australia, Amerika dan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lulusan Pesantren Bisa Studi ke Eropa, Australia, Amerika dan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lulusan Pesantren Bisa Studi ke Eropa, Australia, Amerika dan Jepang

Pemimpin Redaksi Info Beasiwa, Khariri Ma’mun mengatakan, rencana untuk menerbitkan tabloid tersebut sebenarnya sudah menjadi program prioritas PCINU Nihon dua tahun lalu. Namun karena berbagai kendala, katanya, program tersebut baru direalisasikan oleh sebagian pengurus PCINU Nihon yang telah kembali ke Tanah Air.

Untuk edisi perdana (15 Oktober 2006), kata Khariri, pihaknya akan membagikan secara gratis tabloid tersebut ke seluruh jaringan pesantren di Indonesia, jaringan pendidikan di lingkungan NU dan sentra-sentra pendidikan lainnya. “Kami ingin para kader NU mengetahui akses informasi tentang sekolah gratis demi pengembangan sumber daya manusia di lingkungan NU," ungkapnya kepada Haedar Nashirbeberapa waktu lalu.

“Apa yang kami lakukan sekarang ini hanyalah sebuah ikhtiar kecil untuk memajukan generasi NU yang selama ini cenderung terpinggirkan di tengah derasnya arus globalisasi,” imbuh Khariri yang juga mantan Rais Am Syuriah PCINU Nihon.

Di samping menerbitkan Info Beasiswa, menurut Khariri, BES Foundation juga akan memberikan beasiswa penuh kepada para santri dan pelajar (Tsanawaiyah/Aliyah) yang berprestasi dan tidak mampu membiayai pendidikannya. Namun program tersebut, katanya, hanya khusus untuk sekolah dalam negeri.

Haedar Nashir

Program lain yang nantinya akan dikembangkan oleh BES Foundation, lanjut Khariri adalah program kursus gratis Bahasa Inggris (TOEFL) dan Nihonggo (Bahas Jepang). Program kursus tersebut hanya untuk kalangan pesantren dan madrasah (jenjang Aliyah atau setingkat SMU).

Menurut Khariri, kursus Bahasa Inggris gratis tersebut diberikan karena selama ini banyak kita temukan kader-kader NU yang mampu dan berprestasi, tapi lemah dalam penguasaan bahasa asing. Yang terjadi kemudian mereka tidak mampu bersaing untuk mendapatkan beasiswa luar negeri.

Haedar Nashir

Melalui kursus gratis tersebut, lanjutnya, diharapkan akan banyak lulusan pesantren dan madarasah yang berkesempatan belajar dan mendapatkan beasiswa di luar negeri. Jika sementara ini banyak lulusan pesantren dan madrasah hanya berkesempatan mendapatkan beasiswa ke Timur Tengah, maka katanya, di masa depan akan banyak lulusan pesantren dan madrasah yang mendapatkan beasiswa ke Eropa, Australia, Amerika Serikat dan Jepang.

Saat ini, menurut Khariri, kader-kader NU yang ada di Jepang telah berhasil melanjutkan studi dan mendapakan beasiswa di negeri Sakura tersebut. Pengalaman dan tips-tips memperoleh beasiswa ini tentu bisa dibagi kepada mereka yang berminat melanjutkan studinya di Jepang. “Hadirnya tabloid ini, di antaranya juga sebagai media berbagi pengalaman untuk menuturkan pahit-manisnya sekolah di luar negeri,” ujarnya.

Info Beasiswa mengupas informasi seputar beasiswa ke Timur Tengah, beasiswa atlit, beasiswa Madrasah Aliyah, kuliah gratis di Belanda, sekolah sambil kerja di Jepang, beasiswa untuk lulusan SMU. Selain itu, ada juga beasiswa dompet dhuafa, beasiswa AYF, beasiswa Erasmus Mundus, beasiswa PNS dan beasiswa Konsultan Pendidikan Tinggi.

Ada juga dalam tabloid tersebut informasi beasiswa dari Habibie Center, beasiswa ke Swiss untuk S-2,? beasiswa Leiden-Belanda, beasiswa Ford Foundation, beasiswa Master Program Perancis, beasiswa Tasawuf dan Filsafat Islam, beasiswa anak yatim piatu dan daerah terpencil, kursus singkat di Belanda, tips kuliah di Belanda dan Malaysia, serta beasiswa BES Foundation.

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut mengenai tabloid Info Beasiswa dan BES Foundation, silakan kontak ke email: beasiswainfo@yahoo.com atau hubungi BES Foundation Jl. Gardu No. 20 Condet Balekambang, Jakarta 13530. Telp. (021) 80Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Amalan Haedar Nashir

Minggu, 12 November 2017

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits

Dalam kitab Tarikh al-Tasyri al-Islami karya Syekh Muhammad Khudhari Bek diceritakan dialog antara Imam Abu Hanifah dan Imam al-Auzai:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ?: ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?! ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits

Sufyan bin Uyainah menceritakan bahwa pada suatu kesempatan Imam Al-Auza’i dan imam Abu Hanifah bertemu di Mekkah. Terjadilah dialog di antara ulama besar fiqih negeri Syam dan ulama besar fiqih negeri Kufah tersebut.

Haedar Nashir

Auzai bertanya: "Kenapa kalian tidak mengangkat tangan kalian ketika melakukan ruku’ dan bangun dari ruku’?”

Haedar Nashir

Abu Hanifah menjawab, “Ya, karena tidak ada Hadits yang shahih dari Rasulullah SAW atas masalah itu.”

“Bagaimana tidak shahih, sedangkan (Ibnu Syihab) Az-Zuhri telah menceritakan kepadaku, dari Salim (bin Abdullah bin Umar) dari bapaknya (Abdullah bin Umar) dari Rasulullah SAW bahwa beliau mengangkat kedua tangannya saat memulai shalat, saat ruku’, dan saat bangun dari ruku’?” bantah Auza’i.

Abu Hanifah pun merespon, "Telah menceritakan kepada kami Hammad (bin Abi Sulaiman) dari Ibrahim (bin Yazid) dari Alqamah (bin Qais) dan Al-Aswad (bin Yazid) dari (Abdullah) Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangannya kecuali saat memulai shalat dan tidak melakukannya lagi setelah itu.”

Auza’i mencoba membantah argumentasi Abu Hanifah. “Aku menceritakan kepada anda Hadits dari Az-Zuhri dari Salim dari bapaknya. Sementara Anda menceritakan Hadits dari Hammad dari Ibrahim?”

[Kalau sebelumnya kedua imam besar ini sama-sama membacakan sanad Hadits, sampai di sini Auzai mulai mengajukan penilaian terhadap kualitas rawi]

Abu Hanifah menjawab: "Hammad lebih faqih daripada Az-Zuhri, Ibrahim lebih faqih dari Salim, dan Alqamah tidak lebih rendah dari Ibnu Umar. Kalaupun Ibnu Umar seorang sahabat atau unggul karena menjadi sahabat Nabi, toh Al-Aswad memiliki keutamaan yang besar. Sedangkan Abdullah (bin Mas’ud) sudah jelas, siapa Abdullah itu,” jawab Abu Hanifah.

Mendengar argumentasi Abu Hanifah tersebut, Al-Auza’i pun diam.

Ini artinya masing-masing imam telah menjelaskan argumentasinya, dan mereka kemudian diam dan saling menghormati perbedaan pendapat di antara mereka yang disebabkan perbedaan dalam menerima dan menilai kekuatan sanad suatu Hadits.

Imam Syafii juga senang berdialog. Bahkan beliau tuliskan dialog itu baik dalam kitab al-Umm dan lebih-lebih lagi dalam kitab al-Risalah.

Pada masa beliau terdapat pertentangan mengenai boleh tidaknya menerima Hadits Ahad, yaitu riwayat yang diterima dan disampaikan dari satu orang perawi. Imam Malik di Madinah lebih menerima amal ahli Madinah ketimbang Hadits Ahad dengan alasan penduduk Madinah lebih paham Hadits dan jumlahnya lebih banyak ketimbang riwayat satu orang. Imam Abu Hanifah dalam beberapa kasus malah mengeyampingkan Hadits Ahad jikalau bertentangan dengan qiyas yang beliau gunakan. Maka tampillah Imam Syafii membela status dan kedudukan Hadits Ahad. Upaya beliau inilah yang membuat para ulama menggelari Imam Syafii sebagai Nashirus Sunnah (Pembela Sunnah Nabi).

Imam Syafii dalam juz dua kitab al-Risalah menuliskan bab khusus tentang Khabar Ahad. Bab ini dimulai dengan dialog sebagai berikut:

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ? ] ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ?:

?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ?] ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Seseorang berkata kepadaku, "definisikan untukku teks yg paling sedikit hujjahnya tapi ia memiliki kekuatan mengikat bagi para ulama?"

Imam Syafii menjawab: "Itu adalah Khabar (Hadits) Ahad dari satu orang perawi ke satu perawi lainnya baik yang jalurnya sampai kembali ke Nabi atau terhenti pada selain beliau."

"Kehujjahan Khabar Ahad tidak terjadi melainkan memenuhi persyaratan seperti perawinya tsiqah dalam agamanya, terkenal jujur dalam ucapannya, paham dengan apa yang dia riwayatkan, mengerti dengan perbedaan redaksi atau lafaz. Dia jg bisa mengulangi teks Hadits huruf demi huruf seperti yang dia dengar, karena kalau disampaikan secara makna maka boleh jadi nanti dia tidak akan paham mana yang halal dan haram."

"Dia harus punya hafalan yang bagus baik menyampaikannya dari memori atau catatannya. Dan jika diambil dari catatanya maka itu harus cocok dengan hafalan Hadits yang disampaikan pihak lain. Dia tidak boleh mudallis yang meriwayatkan? dari orang yang dia temui tapi sebetulnya dia tidak mendengar Hadits darinya atau meriwayatkan dari Nabi yang kontradiksi dengan apa yang disampaikan orang yang tsiqah. Juga, semua perawi di atasnya bersambung? sampai ke Rasul atau berhenti pada orang lain. Soalnya masing-masing perawi akan saling menetapkan satu sama lain. Tidak ada yang melewati persyaratan yang aku sampaikan ini [barulah Hadits Ahad itu diterima sebagai hujjah]."

Dari dua kutipan dialog di atas, para Imam Mazhab sangat memahami Hadits Nabi. Jangan mengira mereka mengeluarkan pendapat tanpa dalil Al-Quran dan Hadits sehingga anak zaman sekarang berani-beraninya mengecam para Imam Mazhab dan lantas mengajak kembali kepada Al-Quran dan Hadits seolah-olah para Imam Mazhab itu telah meninggalkan Al-Quran dan Hadits. ?

Ibaratnya para Imam Mazhab itu adalah para petani yang sudah bersusah payah menanam padi, dan para ulama sesudahnya telah mengolahnya menjadi beras, dan kemudian para kiai kita sudah menanak nasi. Kemudian para ustadz mengolah nasi tersebut dan kita tinggal menikmati nasi yang terhidang sesuai pilihan kita baik nasi goreng, nasi uduk, sampai nasi kabuli. Eh, pas baru mau makan, ada yang teriak: "jangan tinggalkan beras, ayo kembalilah kepada beras!"



Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Nasional Haedar Nashir

Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang

Subang, Haedar Nashir - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Subang menggelar Kopi Darat (Kopdar) untuk membahas kaderisasi.

Kegiatan tersebut digelar di Jalan Eyang Tirtapraja Nomor 47, Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (4/3/2017) dan dihadiri oleh sejumlah pengurus PC IPNU yang baru terbentuk pasca Konfercab Desember 2016 yang lalu.

Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang

"Rencananya Kopdar ini akan kita laksanakan setiap malam Minggu untuk membahas hal-hal strategis berkaitan dengan program kerja IPNU Kabupaten Subang," ujar Ketua PC IPNU Subang, Agung Al-Muttafaqih.

Dikatakan, isu-isu kaderisasi memang menjadi prioritas selama ini. Pria yang akrab disapa Faqih itu menyebut, kaderisasi di IPNU masih akan diutamakan di wilayah Subang bagian utara (Pantura).

Haedar Nashir

"Untuk itulah Kopdar ini juga membahas persiapan teknis pelaksanaan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) sebagai pintu gerbang kaderisasi IPNU," kata Faqih.

Haedar Nashir

Selain membahas kaderisasi, Kopdar tersebut juga membahas beberapa agenda jangka pendek yang dalam waktu dekat akan segera dilaksanakan.

"Khususnya kita akan melaksanakan roadshow dan silaturahmi ke para kiai sepuh yang ada di Kabupaten Subang," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, AlaSantri, AlaNu Haedar Nashir

Sabtu, 11 November 2017

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU

“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! Kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku!”

Wasiat di atas merupakan wasiat yang cukup populer di kalangan warga NU, wasiat tersebut merupakan pesan yang ditujukan kepada para penerus perjuangan NU agar selalu serius dan yakin dalam menjalankan roda kekhidmatan tanpa merasa takut akan ancaman kelaparan. Wasiat tersebut disampaikan oleh KH Ridlwan Abdullah, salah satu tokoh pendiri NU yang juga merupakan tokoh pelukis lambang NU.

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU

KH Ridlwan Abdullah merupakan anak sulung dari pasangan Abdullah dan Marfuah yang terlahir dari kalangan keluarga yang kuat beragama. Beliau dilahirkan pada tanggal 7 Januari 1885 M, di kampung Carikan 1, kelurahan Alun-Alun Contong, yang sekarang masuk bagian wilayah kecamatan Bubutan di kota Surabaya. (Hlm. 16)

Kecakapan melukis Kiai Ridlwan sudah tampak ketika beliau duduk pada Pendidikan Dasar di Sekolah Belanda (Hollandsch Inlandsche School), hal ini terbukti ketika pada waktu pelajaran menggambar di sekolah, sang guru dari Belanda yang sedang mengajar, menyuruh Ridlwan untuk menggambar gurunya tersebut, tetapi Ridlwan justru menggambar tubuhnya saja, sedangkan wajahnya tergambar ratu Belanda yang bernama Wilhelmina. Sang guru langsung merasa tertarik atas kelebihan yang dimiliki Ridlwan tersebut sehingga pada masa kerjanya sebagai guru habis, ia datang menemui orang tua Ridlwan bermaksud untuk mengadopsinya sekaligus dibawa ke Belanda, tetapi ayahnya tidak mengijinkannya sebab ada kekhawatiran dari pribadinya dan menginginkan agar anaknya melanjutkan pendidikan di pesantren (Hlm. 18)

Haedar Nashir

Dalam riwayat pendidikan keagamaan, pertama Kiai Ridlwan menimba ilmu di pesantren Buntet Cirebon, lalu melanjutkan ke pesantren Kademangan Bangkalan Madura yang diasuh oleh Syaikhona Kholil Bangkalan dan pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo, lalu Kiai Ridlwan melanjutkan belajar ke Makkah lalu kembali ke Surabaya sehingga tercatat bahwa beliau menggali ilmu agama selama  11 tahun (Hlm. 19).

Dalam bidang pengabdian dan pengalaman organisasi, Kiai Ridlwan ikut andil menjadi bagian “Barisan golongan Muda Bumi Poetera” yang mengupayakan kesadaran berbangsa melalui jalur pendidikan. Kiai Ridlwan ingin mendidik para pemuda, agar semangat mereka bangkit dan sadar untuk menggelorakan kecintaan terhadap bangsa (nasionalisme). Akhirnya, buah kesadaran nasionalisme tersebut menjelma menjadi perguruan “Nahdlatul Wathan”  (Kebangkitan Tanah Air) yang berdiri tahun 1941. Selain itu, beliau juga aktif di “Taswirul Afkar” pada tahun 1918, sebuah lembaga perumusan konsepsi atau pemikiran berbagai persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Selain itu, Kiai Ridlwan bersama Kiai Wahab dan juga Kiai Kahar, memprakarsai berdirinya perhimpunan “Tamirul Masajid”, sebuah perhimpunan yang bertujuan memelihara tempat peribadatan, Masjid, barang wakaf dan sebagainya. Salah satu wujud kerja perhimpunan ini adalah berdirinya Masjid Jami’ Kemayoran yang hingga sekarang berada di jalan Indrapura 2 Surabaya. Bahkan karya monumental arsitektur bangunan kubah Masjid Kemayoran merupakan fakta sejarah dari hasil ciptaan Kiai Ridlwan. (Hlm. 22-24)

Haedar Nashir

Dalam pengabdiannya terhadap NU, jasanya sangatlah besar. Sebelum NU lahir, beliau sudah aktif di beberapa organisasi yang merupakan embrio bagi berdirinya NU. Bahkan rumah beliau di Bubutan VI no 26 Surabaya ditempati untuk penandatanganan berdirinya organisasi NU, sedangkan rumah milik mertuanya yang juga di jalan Bubutan Surabaya diserahkan sebagai sekretariat dan ruang pertemuan para pengurus NU, dulu menjadi kantor PBNU dan sekarang menjadi kantor PCNU Kota Surabaya.

Selain itu, jasa yang diberikan Kiai Ridlwan bagi NU adalah lambang yang mencerminkan sifat ulama dan bila dilihat tidak bosan, yang mana pada Muktamar NU I, NU belum mempunyai lambang sebagai simbol organisasi. Kiai Ridlwan dipercaya oleh KH. Hasyim Asy’ari yang saat itu menjabat sebagai Rais Akbar  untuk melukisnya. Lambang tersebut, beliau lukis atas hasil istikharah beliau dan dapat ditampilkan pada Muktamar NU II pada tanggal 9 Oktober 1927 M/12 Rabiuts Tsani 1346 H, bertempat di Hotel Muslimin Peneleh Surabaya (Sekarang menjadi Hotel Bali) yang membuat decak kagum bagi yang melihatnya, (Hlm. 56)

Ditinjau dari sudut sumber sejarah, buku tersebut memadukan antara sumber primer dengan sumber sekunder, Sumber primer penulis dapat dari tempat-tempat atau dokumen bersejarah yang hingga kini masih eksis keberadaannya, seperti bangunan tempat penandatanganan NU, Surat ijin anggota Konstituante RI milik Kiai Ridlwan, dan sebagainya dan sumber sekunder penulis dapat dari kepustakan-kepustakaan yang ada.

Buku karya Abdul Holil ini merupakan skripsi yang ditulisnya dan sebagai bukti kecintaannya kepada NU. Buku ini wajib dibaca bagi seluruh kader NU dari berbagai kalangan yang ada, sebab isinya menggambarkan secara utuh sosok dan figur seorang Kiai Ridlwan Abdullah agar para penerus NU selalu mencontoh para pendirinya serta sebagai dasar pijakan dalam berkhidmat di NU.

Data Buku 

Judul : Kiai Ridlwan Abdullah; Peran dan Teladan Pelukis Lambang NU

Penulis : Abdul Holil

Penerbit : Pustaka Idea

Terbitan : I, 2015

Tebal : xvii + 88 hlm

ISBN : 978-602-72011-6-12

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes Haedar Nashir

Masih Terbuka Upaya Diplomasi

London, Haedar Nashir. Menteri Muda Luar Negeri AS, Nicholas Burns, Selasa (27/3), mengungkapkan bahwa masih terbuka kemungkinan upaya diplomasi untuk mengatasi ketegangan antara Iran dan komunitas internasional kaitannya dengan program pengayaan uraniumnya.



Masih Terbuka Upaya Diplomasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Masih Terbuka Upaya Diplomasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Masih Terbuka Upaya Diplomasi

Kepada harian Financial Times, Burns mengatakan bahwa AS “telah dengan sabar membantu menciptakan koalisi internasional yang besar ini,” mengacu pada keputusan Dewan Keamanan PBB pada Sabtu lalu untuk menjatuhkan sanksi kepada Iran atas ambisi nuklirnya.

“Saya kira, kita masih punya waktu untuk bekerja,” ungkap Burns kepada harian bisnis tersebut.

Haedar Nashir

Menurutnya, diplomasi akan berhasil jika diimbangi dengan kesabaran dan ketekunan. Karena itu, tambahnya lagi, upaya diplomasi ini masih mungkin untuk dimainkan.

Burns juga mengatakan bahwa saat ini ”Iran secara internasional berada dalam posisi yang tidak menguntungkan,” mengingat lima anggota tetap DK (AS, Inggris, China, Rusia, Perancis) plus Jerman mendesak Iran untuk menghentikan aktivitas uraniumnya yang disinyalir sebagai langkah untuk pembuatan senjata nuklir.

Haedar Nashir

Pihaknya mengatakan bahwa kepemimpinan Iran bukanlah “sebuah rezim yang monolitik,” namun suatu pemerintahan yang didalamnya banyak pihak menginginkan perundingan guna mencari solusi terbaik krisis nuklir Iran. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Khutbah, Humor Islam Haedar Nashir