Sabtu, 09 Desember 2017

Sampai Berapa Lama Obat Kencing Manis Diminum? Ini Penjelasannya

Sidoarjo, Haedar Nashir. Minum obat kencing manis harus dilakukan secara terus menerus dan dilakukan dalam waktu lama, bahkan seumur hidup. Hal ini, menurut dokter Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, dr. Atik Yuniani, untuk melindungi kerusakan organ yang permanen karena kencing manis, tentu saja atas petunjuk dari dokter.

Dokter yang bertugas di Rumah Sakit NU ini menegaskan, pemberian obat kencing manis dilakukan dengan cara titrasi, artinya dimulai dengan dosis kecil yang dinaikkan secara bertahap. Apabila perlu dikombinasikan dengan beberapa obat lain, harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien untuk mencapai kadar gula darah yang diinginkan.

Sampai Berapa Lama Obat Kencing Manis Diminum? Ini Penjelasannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampai Berapa Lama Obat Kencing Manis Diminum? Ini Penjelasannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampai Berapa Lama Obat Kencing Manis Diminum? Ini Penjelasannya

"Seringkali kita mendengar pertanyaan minum obat kencing manis sampai kapan? kalau tidak ada keluhan apakah obat harus terus diminum? kalau minum obat terus menerus apakah tidak merusak ginjal?. Sebelum menjawab beberapa pertanyaan tersebut, perlu kita pahami bahwasanya, pada penderita kencing manis (diabetes mellitus) ? terjadi penumpukan gula darah (glukosa) di dalam pembuluh darah yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah pada pemeriksaan laboratorium," kata dr Atik, Kamis (21/7).

Atik memaparkan, penumpukan gula darah terjadi akibat kegagalan tubuh dalam pemanfaatan glukosa, kurangnya hormon insulin efektif yang lazim terjadi pada penderita kencing manis. Kadar gula yang tinggi inilah yang akan mengganggu banyak organ apabila tidak dikendalikan dengan baik.

Haedar Nashir

"Pengendalian gula darah dapat dilakukan dengan cara pengaturan diit dan latihan fisik yang sesuai dengan kondisi pasien. Apabila dengan pengaturan diit dan latihan fisik tidak berhasil, maka pada penderita kencing manis harus mulai diberikan obat-obatan kencing manis yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, dan pada beberapa pasien dapat diberikan suntikan insulin," paparnya.

Ia menjelaskan, gula darah puasa antara 95-126 mg/dl, dan gula darah setelah makan antara 150-180 mg/dl. Dengan bahasa sederhana, gula darah manusia ada di kisaran antara 100 dan 200. Apabila target gula darah telah tercapai, maka dosis tersebut akan dipertahankan, dan akan terus dievaluasi, dimonitor dan akan dilakukan penyesuaian. Meskipun kadar gula darah sudah dalam batas normal, dan pasien sudah merasa nyaman, tetap dilakukan monitoring serta evaluasi oleh dokter yang merawat secara rutin.

Kadar gula darah yang teregulasi dengan baik, dapat mencegah terjadinya komplikasi lanjut, penyakit kencing manis seperti, gagal ginjal, penyakit jantung koroner, kebutaan akibat gangguan saraf mata, stroke dan lain-lain.

"Biasanya kita baru bertekad untuk berobat dengan rutin ke dokter pada saat komplikasi lanjut itu telah terjadi. Padahal, pada kondisi tersebut regulasi gula darah yang baik pun tidak dapat mengembalikan fungsi organ yang telah terganggu karena kerusakan organ tersebut bersifat permanen atau menetap," jelasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Centralo Culturale Islamico, Pusat Kebudayaan Islam di Roma, Italia

Roma, Haedar Nashir - Ahad, 11 Juni 2017, saya diajak berbuka puasa bersama oleh salah seorang? jamaah, namanya Pak Didit. Beliau adalah salah seorang staf KBRI Roma yang sudah tinggal di kota itu sejak 42 tahun lalu. Saya dikenalkan dengan sebuah masjid besar dan terbesar di Eropa, yang terletak di Roma, Italia.

Dalam bahasa Italia, masjid ini disebut juga Centralo Culturale Islamico atau Pusat Kebudayaan Islam. Meskipun mayoritas penduduk Roma adalah umat Katolik, tidak menghalangi kebebasan kaum muslimin untuk menjalankan ibadah puasa dari fajar sampai maghrib.

Centralo Culturale Islamico, Pusat Kebudayaan Islam di Roma, Italia (Sumber Gambar : Nu Online)
Centralo Culturale Islamico, Pusat Kebudayaan Islam di Roma, Italia (Sumber Gambar : Nu Online)

Centralo Culturale Islamico, Pusat Kebudayaan Islam di Roma, Italia

Kehangatan kebersamaan Muslim terdapat di dalam masjid yang menjadi pusat berkumpulnya kaum muslimin untuk melaksanakan sholat berjamaah dan ibadah-ibadah yang lainnya.

Haedar Nashir

Sebagaimana dulu ketika zaman Nabi, masjid bukan hanya dijadikan sebagai tempat untuk ibadah, tetapi juga sebagai pusat budaya. Masjid difungsikan untuk berdiskusi dan bermusyawarah. Masjid menjadi tempat belajar mengajar. Bahkan masjid adalah tempat mengatur strategi.

Centralo Culturale Islamico Roma, dibangun atas hasil kesepakatan Organisasi Islam sedunia atau yang disebut OKI. Tercatat ada 23 negara yang menjadi perintis dan menyetujui dibangunnya pusat kebudayaan Islam di Roma.

Haedar Nashir

Adapaun negara-negara yang mendukung adalah Algeria, Saudi Arabia, Bahrain, Bangladesh, Brunei Darussalam, Egitto, Emirat Arab, Giordania, Indonesia, Iraq, Kuwait, Libia, Malaysia, Maroko, Mauritania, Oman, Pakistan, Qatar, Senegal, Sudan, Tunisia, Turki, dan Yaman.

Masjid yang menjadi kebanggaan kaum Muslim di Roma ini diresmikan pada 21 Juni 1995 yang bertepatan dengan tanggal 23 Muharram 1416 H oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz as-Su’ud.

Semoga masjid yang telah terbangun di Roma ini menjadi pusat bertukar ilmu pengetahun dan budaya antarbangsa dan negara, juga menjadi tempat berkumpulnya kaum muslimin dan mempererat persaudaraan, meskipun beda bahasa dan warna kulit. (H Khumaini Rosadi, dai anggota Tim Inti Dakwah Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Roma, Italia)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Nahdlatul Ulama, Anti Hoax Haedar Nashir

Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu

Pringsewu, Haedar Nashir



Peserta Musyawarah Daerah (Musda) kedua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Pringsewu sepakat memilih KH Hambali untuk melanjutkan kepemimpinan MUI masa khidmah 2017-2022. Musda tersebut diselenggarakan di aula kantor Bupati Pringsewu, Selasa (8/8).

Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu

Kiai yang terkenal sangat sederhana ini didukung secara mutlak dan mufakat tanpa melakukan voting oleh 16 suara yang berhak memberikan hak pilihnya. Sebanyak 16 suara tersebut berasal dari 1 suara MUI Provinsi Lampung, 2 suara MUI kabupaten, 9 suara MUI kecamatan, dan 4 suara dari perwakilan ormas, pondok pesantren dan perguruan tinggi.

Sesaat setelah terpilih menjadi Ketua MUI kedua kalinya, Kiai Hambali mengatakan bahwa hal tersebut merupakan tanggungjawab yang sangat berat.?

"Ini merupakan tugas yang tidak ringan. Namun saya yakin akan menjadi ringan jika dilakukan dengan bersama-sama oleh seluruh pengurus yang nantinya akan disusun," kata Wakil Ketua Tanfidziyyah PCNU Pringsewu ini.

Haedar Nashir

Beberapa program kerja MUI masa khidmah 2012-2017 yang selama ini ia pimpin akan dievaluasi secara komprehensif dengan memperhatikan berbagai hal sehingga akan lebih baik lagi.?

"Nanti kita perdalam lagi Program Kerja kita pada Raker setelah Kepengurusan baru telah terbentuk,” katanya.

Seetelah terpilih, KH Hambali langsung bertemu dengan Bupati Pringsewu H. Sujadi di Kantor Bupati yang kebetulan berdampingan dengan aula tempat diselenggarakannya Musda.?

Pada kesempatan tersebut Bupati menyampaikan selamat atas telah terselenggaranya Musda dan berharap kedepan kepengurusan MUI Pringsewu akan lebih baik lagi.

Haedar Nashir

Bupati berharap juga MUI Pringsewu dapat melakukan terobosan-terobosan baru dalam berkhidmah memberikan kesejukan kepada umat. Sinergitas dan peningkatan kualitas hubungan dengan pemerintah daerah juga diharapkan akan terjain lebih baik lagi.

Hal ini sesuai dengan tema besar Musda kedua ini yaitu yaitu "Peningkatan Kualitas Hubungan Antara Umara, Ulama dan Cendikiawan Muslim dalam Rangka Pembangunan Pringsewu Bersahaja dan Bersenyum Manis". (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Jumat, 08 Desember 2017

Ansor Malang Gelar Diklat Aswaja An-Nahdliyah

Malang, Haedar Nashir

GP Ansor Kabupaten Malang memberikan pembekalan terhadap kader-kadernya demi membentengi masuknya paham radikal dengan diklat kepemimpinan dasar.

Kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka penguatan kader Ansor Banser. Husnul H Syadad, Sekretaris GP Ansor Kabupaten Malang mengungkapan kegiatan itu dilakukan demi meningkatkan pemahaman tentang Aswaja An-Nahdliyah.

Ansor Malang Gelar Diklat Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Malang Gelar Diklat Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Malang Gelar Diklat Aswaja An-Nahdliyah

"Untuk membentengi kader dengan pemahaman Aswaja An-Nahdliyah agar tidak mudah terpengaruh dengan faham-faham baru yang cenderung radikal," ujar Husnul, di PP Sunan Kalijogo, Kecamatan Jabung, Ahad (7/2/2016).

Ia menambahkan diklat tersebut dilakukan untuk menyiapkan kader menghadapi paham-paham radikal yang mengancam keutuhan NKRI.

Haedar Nashir

Hadir sebagai pemateri diantaranya H Fathulloh anggota Fraksi PKB DPRD Provinsi Jawa Timur, Danramil setempat, dan Ketua LBM NU Kabupaten Malang. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Santri Haedar Nashir

Haedar Nashir

Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam

Tarim, Haedar Nashir. Habib Umar bin Hafidz menegaskan, sikap moderat (wasathiyah) adalah karakter inti ajaran Islam yang merepresentasikan perilaku Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Hal ini ia sampaikan dalam acara bedah buku karyanya, al-Wasathiyyah fil Islam (Moderat dalam Perspektif Islam).

Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam

Diskusi bedah buku diselenggarakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman cabang Hadhramaut di Auditorium Fakultas Syariah dan Hukum, Universtitas Al-Ahgaff Tarim, Hadhramaut, Yaman, Jumat (27/12).

Habib Umar mengutip surat al-Baqarah (143), “Dan demikianlah Kami (Tuhan) jadikan kalian umat yang ‘wasath’ (adil, tengah-tengah, terbaik) agar kalian menjadi saksi (syuhada’) bagi semua manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi (syahid) juga atas kalian.”

Haedar Nashir

Dalam ayat tersebut umat Islam dipuji Tuhan sebagai golongan yang ‘wasath’ karena mereka tak terjerembab dalam dua titik ekstrem. Yang pertama, ekstremitas umat Kristen yang mengenal tradisi “rahbaniyyah” atau kehidupan kependetaan yang menolak keras dimensi jasad dalam kehidupan manusia serta pengkultusan terhadap utusan.

Yang kedua adalah ekstremitas umat Yahudi yang melakukan distorsi atas Kitab Suci mereka serta melakukan pembunuhan atas sejumlah nabi. Habib Umar mengajak setiap Muslim untuk tidak berlaku tatharruf (ekstrem) dalam menjalankan ajaran agama.

Haedar Nashir

“Ekstrimisme yang terjadi akhir-akhir ini terjadi karena konsep wasathiyah mulai terkikis,” terang pengasuh perguruan Darul Mushtafa ini di hadapan 500 pelajar.

Karenanya, tutur Habib Umar, sikap moderat harus menjelma di setiap dimensi kehidupan seorang muslim, baik dalam ranah akidah, pemikiran, etika, maupun  interaksi dengan orang lain.

Habib Umar menyebut Wali Songo sebagai contoh ideal yang berhasil menerapkan prinsip moderat dalam kegiatan dakwah menyebarkan Islam di Nusantara. “Dengan sikap moderat yang ditunjukkan Walisongo, Islam dapat diterima dengan baik di Indonesia,” ujar Habib Umar.

Boleh Ucapkan Selamat Natal

Dalam kesempatan itu, Habib Umar bin Hafidz juga menerima pertanyaan dari peserta diskusi soal hukum mengucapkan selamat (tahni’ah) Natal kepada umat Kristiani. Ia menjawab bahwa ucapan tersebut boleh selama tak disertai pengakuan (iqrar) terhadap hal-hal yang bertentangan dengan pokok akidah Islam, seperti klaim Isa anak Tuhan dan keikutsertaan dalam kemaksiatan.

Kebolehan ini, tutur Habib Umar, karena memuliakan para utusan Allah, termasuk Nabi Isa, adalah di antara hal yang pasti diakui dalam Islam (min dharuriyyati hadza ad-din).

Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff Dr Muhammad Abdul Qadir al-Aydrus mengatakan, di tengah radikalisme yang marak dalam kehidupan beragama, makna moderasi perlu diulas kembali.

“Setiap orang mengaku dirinya menempuh jalan yang moderat, sehingga pengertian dari terma wasathiyah sendiri harus diperjelas,” ujar dosen jebolan Universitas Badhdad tersebut saat memberi sambutan.

Usai bedah buku, acara Departemen Pendidikan dan Dakwah PPI Hadhramaut ini juga meluncurkan buku berjudul “Janganlah Berbantah-bantahan yang Menyebabkan Kamu Menjadi Gentar dan Hilang Kekuatanmu”, sebuah terjemah atas karya Habib Umar berjudul “Wa La Tanaza’u Fatafsyalu wa Tadzhaba Riihukum”. (Abdul Muhith/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Kyai, Aswaja Haedar Nashir

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta

Tangerang Selatan, Haedar Nashir. Lapangan Triguna di samping UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dipadati kaum muslimin. Spanduk-spanduk bertajuk shalawat dan Majelis Rasulullah bertebaran di sekitar area kampus. Malam itu Tabligh Akbar “UIN Jakarta Bershalawat dan Santunan Anak Yatim” diselenggarakan CSSMoRA (Community Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Jakarta dan Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN, bekerja sama dengan Majelis Rasulullah SAW.

Menurut Widya Prayoga selaku perwakilan panitia penyelenggara dari CSSMoRA, acara yang berlangsung Jumat (25/03) tersebut merupakan bentuk silaturrahim komunitas penerima beasiswa santri Kementerian Agama RI kepada mahasiswa UIN Jakarta serta kepada khalayak luas.

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta

“Semoga lewat acara UIN Bershalawat ini kita juga bisa menjalin perdamaian dan persaudaraan, serta mengambil hikmah dari Syekh Syarif Hidayatullah yang menjadi nama universitas kita ini,” ujar Widya.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari Rektor UIN Jakarta, yang diwakili oleh Kepala Subbagian Administrasi dan Alumni, Rohmatullah. Selain menyampaikan amanat Rektor, Rohmatullah juga mengulas sejarah Syarif Hidayatullah sebagai cikal bakal nama institusi UIN yang berlokasi di Ciputat, Tangerang Selatan itu.

Haedar Nashir

“Syarif Hidayatullah, yang juga dikenal dengan Sunan Gunung Jati ini merupakan seorang pemimpin yang memiliki peran penting dalam perkembangan daerah Jakarta, yang waktu itu masih bernama Jayakarta. Karena hubungan itulah, Syarif Hidayatullah terpilih menjadi nama universitas ini,” terangnya.

Jamaah tampak khidmat menyimak dan melantunkan Simthud Duror bersama pemimpin majelis. Di panggung hadir Kapolsek Ciputat, Ketua PCNU Tangerang Selatan H Muhammad Tohir, serta pejabat dari Kelurahan Cempaka Putih. Tausiyah dan doa diisi oleh Habib Abdurrahman bin Ahmad Al Habsyi, dan acara ditutup dengan penyerahan santunan secara simbolis kepada anak yatim oleh Bapak Rohmatullah.

Haedar Nashir

CSSMoRA adalah organisasi berbasis pesantren yang berusaha turut melestarikan budaya Islam di Indonesia, dan berorientasi untuk pengembangan dunia pesantren. Organisasi ini beranggotakan penerima beasiswa santri dari Kemenag RI, dan tersebar di beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Didik Generasi Muda Melalui Manasik Haji

Bojonegoro, Haedar Nashir. Sekolah Dasar Integral (SDI) Lukmanul Hakim Bojonegoro mengadakan manasik haji di alun-alun kota minyak, Kamis (3/10). Ketua panitia pelaksana kegiatan, Abdul Wahid mengatakan, kegiatan bertujuan mendidik anak-anak generasi Islam untuk benar-benar melaksanakan ajarannya.

Didik Generasi Muda Melalui Manasik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Didik Generasi Muda Melalui Manasik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Didik Generasi Muda Melalui Manasik Haji

Menurut Wahid, manasik ini dilaksanakan SDI Lukmanul Hakim bekerjasama dengan KB Ya Bunaiya I dan II, serta diikuti TK Bhayangkari, PUWAB, Putra Bangsa dan MI Al-Falah Kenongo Tuban.

Para peserta mengenakan baju putih, layaknya orang dewasa yang melaksanakan ibadah haji di Makkah. Serta mereka juga mengitari replika kabah. "Setidaknya ada sekitar 600 lebih peserta yang mengikuti manasik haji," ujarnya.

Haedar Nashir

Selain mendidik generasi muda, tujuan manasik haji ini juga untuk mengenalkan peserta didik, proses haji. Jadi anak-anak tidak diajari teori haji saja, tetapi praktik dan proses pelaksanaan haji dapat diketahui anak-anak.

"Kegiatan ini sudah rutin dilaksanakan, setiap bulan-bulan haji," ujarnya kepada Haedar Nashir, usai acara.

Haedar Nashir

Dijelaskan, sebelum anak-anak melaksanakan masnaik haji dialun-alun, mereka mengikuti gladi bersih di sekolah SDI Lukmanul Hakim Jalan Lisman 18B Bojonegoro.

Termasuk diajari miqot, berada di Masjidil Haram, memutari kabah, shalat sunnah di Hijjir Ismail, berada di sumur zam-zam, sai, tahallul, wukuf di Arofah, Muzdalifah dan melempar jumroh aqobah di Mina. "Seluruh proses haji, dilaksanakan lengkap," pungkasnya. (Muhammad Yazid/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai Haedar Nashir