Rabu, 13 Desember 2017

Pelatihan Asistensi Kiai NU

Bandung, Haedar Nashir

Selama ini wacana penguatan ulama sering diangkat, tapi sulit untuk diwujudkan. Beberapa hasil refleksi mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena fokus penguatan itu tertuju kepada para kiai atau ulama secara langsung. Sementara mereka memiliki banyak keterbatasan, menyangkut usia, kesibukan, dan lain-lain.

Demikian diungkapkan Ketua Pengurus Wilayah Robithah Ma’ad Islamy (PW RMI) Jawa Barat, KH Abdul Chobir, dalam sambutan acara bertajuk Pelatihan Asistensi Kiai NU. Acara yang kelola RMI ini diikuti oleh 26 utusan pesantren dari 26 kabupaten/kota seluruh Jawa Barat.

Pelatihan Asistensi Kiai NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Asistensi Kiai NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Asistensi Kiai NU

Acara yang telah berlangsungkan dari tanggal 3-5 Desember ini bertempat di? Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat, jalan Terusan galunggung No. 09 Bandung. Pelatihan yang rencanya dilakukan beberapa tahap ini dinilai unik, karena di baru pertama kali dilakukan.

Haedar Nashir

“Pelatihan ini ikhtiyar PW RMI Jabar untuk memecahkan problem yang disebut Kiai Chobir dalam sambutan tadi,” ujar Iip D Yahya, ketua panitia yang juga wakil sekretaris PW RMI Jawa Barat itu.

Haedar Nashir

“Pesertanya kebanyakan anak kiai, kerabat dekat atau santri kepercayaan. Saya kaget, ternyata mereka antusias,” tambah Iip D Yahya, penulis biografi KH Ilyas Ruchiyat, Cipasung Tasikmalaya.

Selama tiga hari para peserta diperkenalkan dengan teori jurnalisitik, teknik dasar penulisan biografi, pengenalan peta mutakhir pesantren dan NU di tingkat nasional dan internasional, serta manajemen internal pesantren. Acara ini mendatangkan Abdul Mun’im DZ (PBNU), Muhammad Syafi dan Hamzah Sahal dari Haedar Nashir, Ahmad Dairobi dari pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. (yy)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Pesantren Haedar Nashir

Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal

Oleh Suwarsa

Ada semacam keanehan ketika Plato menyebutkan - secara detail - peradaban dari Timur. Dia menulis kisah tentang sebuah peradaban yang telah berkembang di belahan bumi bagian Timur. The East of Eden, sorga di Timur. Ekstase dan pencapaian batiniyah seorang Plato ini tentu bersebrangan dengan logika yang dianut oleh para sophis Yunani Kuno waktu itu.

Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal

Buah pikiran Plato dengan tingkat transenden yang sangat tinggi ini menjadi sebab alam pikiran Yunani Kuno terbagi menjadi tiga: 1. Mereka para pemuja kebijaksanaan materi, phisik. 2. Mereka yang memadukan dua hal bertentangan, phisik dan nous. 3. Mereka para pemuja mitologi. Kelompok ketiga ini cenderung dianut oleh para penguasa dan agamawan yang dekat dengan kekuasaan.

Haedar Nashir

Pertentangan terjadi, jauh sebelum Plato menyodorkan konsep negara ideal. Gurunya, Socrates merupakan seorang filsuf? yang benar-benar menentang kekuasaan kelompok tirani. Kelompok ini membonceng keyakinan, mengendalikan masyarakat dengan dalil yang dikemas sedemikian bagus oleh kelompok agamawan berjubah. Sokrates memandang pembodohan masyarakat melalui pranata agama ini bertolak-belakang dengan hukum alam yang hakiki sebagai hukum Tuhan sejati. Penentangannya tersebut menjadi akibat, Sokrates dipaksa meminum racun. Kelompok tirani dan kaum agamawan palsu ini tetap ajeg mempertahankan konsep politheismenya, keyakinan dipaksakan agar masyarakat menganutnya.

Kaum filsuf , para pencari kebijaksanaan diawasi ruang gerak-geriknya oleh penguasa dan kaum agamawan. Mereka tampil sebagai minoritas di dalam kehidupan yang telah dipenuhi oleh racun kekuasaan dan hegemoni agama. Keterbatasan tersebut menjadi sebab mereka menjadi kelompok yang sering melakukan pengembaraan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan menyendiri di goa-goa sebagai bentuk penghindaran dari kesemrawutan dalam hidup. Mereka tetap memegang teguh satu ajaran, hukum semesta sejati yang digerakkan oleh Causa Prima, Kholiq. Akan tetapi, ajaran kaum sophis ini kemudian tetap juga diadopsi oleh para penguasa dan tokoh agama pengejar dunia, dalam bentuk kepura-puraan.

Haedar Nashir

Tiga abad kemudian, seorang pemuda Aramia, Yesus (Isa) melakukan hal yang sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh kaum sophis. Ajaran kebaikan disebarkan tidak melalui lembaga bernama agama. Dia menyelusup dari rumah ke rumah menelurkan kebaikan. Puncaknya, pada saat Khotbah di bukit, Yesus mengabarkan kebaikan tulus dan murni, memisahkan urusan Ketuhanan dengan Kekuasaan. Tokoh agamawan waktu itu menganggap Yesus adalah sebuah ancaman yang bisa meracuni masyarakat dengan ajaran tanpa ritus. Lantas mereka menghasud Yesus sebagai ancaman bagi kekuasaan Herodes.? Ajaran Yesus dikatakan telah menyerang dewa-dewa bangsa Romawi. Kembali, kaum agamawan membonceng kekuasaan untuk melenyapkan Yesus.

Setelah Yesus tiada, ajaran kebaikannya kemudian dimanfaatkan oleh kaum agamawan, nabi palsu (Saul, seorang Yahudi penghasud dan penyiksa ke 12 murid Yesus) dan mendapat sokongan dari penguasa Romawi. Tumbuhlah dengan pesat, ajaran transenden yang dipadukan dengan agama serta ritual Romawi menjelma menjadi agama yang terlembagakan sampai saat ini.

Tanah Haran, sebelum dikenal sebagai Mekah merupakan padang tandus tidak berpenghuni. Migrasi besar-besaran terjadi pada abad ke 2 Sebelum Masehi. Sekelompok bangsa Nabatea dari pinggiran Jordan dan Kanaan pindah karena desakan kultural pasca eksodus kaum Yahudi dari Mesir ke Kanaan (daerah kuno yang terdiri dari Lebanon, Palestina, dan sebagian Yordania: pada masa? sekarang) Sebelum kedatangan kaum Yahudi, peradaban bangsa Nabatea telah begitu maju, mereka mahir dalam seni memahat, sastra dan prosa, bentuk tulisan Fenisia ditranslatasikan ke aksara yang sekarang menjadi Aksara Arab. Bangsa Nabatea lah yang memperkenalkan bentuk kubus sebagai dewa kesuburan, Manath, dan Hubal. Seorang Nabatea selalu membawa kubus kecil kemanapun mereka pergi. Di Haran, mereka membangun kubus berukuran besar. Ke sanalah, dari rumah-rumah mereka menghadap saat ritual keagamaan dilakukan.

Kehidupan di Haran semakin berkembang pesat. Kepiawaian bangsa Nabatea melakukan lobi dan kompromi dengan berbagai kabilah yang datang belakangan menghasilkan konsensus, mereka tetap memiliki posisi sebagai penjaga rumah tuhan. Sementara itu, kekuasaan diserahkan kepada kaum Nomaden, selanjutnya disebut Arab Badui. Mereka dinamai bangsa Arab karena kehidupannya tidak pernah lepas dari tapal kuda, bangsa nomaden yang gemar melakukan peperangan. Kabilah lain diberi kesempatan untuk menyimpan berhala yang mereka sembah di dalam bangunan tersebut, kemudian diberi nama rumah tuhan, lebih tepat adalah rumah para tuhan.

Kenapa pembangunan kubus bangsa Nabatea ini disematkan kepada Ibrahim dan Ismail? Secara historis, perjalanan spiritual Ibrohim tidak pernah sampai ke Haran. Jalur perjaanannya dari Babel ke Kanaan. Di Kanaan inilah terjadi interaksi antara bangsa Nabatea dengan Ibrahim. Interaksi intensif ini menjadikan seorang Ibrahim dipandang sebagai penasehat spiritual oleh bangsa Nabatea. Maka sebagai bentuk penghargaan kepada Ibrahim, pembangunan bangunan berbentuk kubus tersebut disematkan kepada Ibrohim, Sang Kekasih Tuhan. Di antara sekian banyak orang Nabatea, beberapa orang tetap mempertahan ajaran Ibrahim, dalam tradisi di Mekah mereka dinamai kelompok hanif atau hunafa. Kelompok ini yang kemudian akan melahirkan seorang messiah baru dari Mekah, Muhammad SAW.





Penulis adalah budayawan Sunda tinggal di Sukabumi



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Kiai Haedar Nashir

Sertifikat Aswaja sebagai Syarat Kelulusan UIJ

Jember, Haedar Nashir. Bagi Universitas Islam Jember (UIJ) Jawa Timur, Nahdlatul Ulama bukan sekedar lebel. Namun ? harus menjiwai dan menjadi ? ciri khas di antara ? pergurun tinggi lain. Itulah sebabnya, materi-materi yang terkait dengan Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) merupakan mata kuliah pokok di perguruan tinggi milik NU Jember itu. Bahkan, UIJ mensyaratkan ? sertifikat Aswaja harus dimiliki oleh mahasiswa yang ? mau ikut ? ujian skripsi.

Demikian disampaikan Rektor UIJ, Abdul Hadi saat membuka pelatihan Aswaja di masjid komplek kampus, Sabtu (25/6). Menurut Hadi, mulai tahun ini pihaknya menerapkan kebijakan lulusan UIJ benar-benar paham soal Aswaja. Minimal tahu amalan-amalan yang menjadi tradisi NU. "Bukti bahwa mereka paham Aswaja, ya sertifikat itu. Jadi itu wajib sebelum diwisuda," katanya.

Sertifikat Aswaja sebagai Syarat Kelulusan UIJ (Sumber Gambar : Nu Online)
Sertifikat Aswaja sebagai Syarat Kelulusan UIJ (Sumber Gambar : Nu Online)

Sertifikat Aswaja sebagai Syarat Kelulusan UIJ

Wakil Sekretaris PCNU Jember itu menambahkan, kebijakan tersebut diambil karena didorog oleh keinginan untuk mengejawantahkan amanah para pendiri UIJ. Mereka, mendirikan UIJ untuk mecetak kader-kader NU yang mumpuni. Sebagai ujung tombak ? di masyarakat, katanya, lulusan UIJ harus dibekali dengan ? pengetahuan yang cukup tentang Aswaja. Apalagi saat ini, begitu banyak ? aliran-aliran baru yang sama sekali tidak sesuai dengan amaliaah Aswaja.?

"Saya berharap agar lulusan UIJ benar-benar kokoh sebagai kader NU. Tidak goyah, walauun dikepung budaya atau aliran lain yang tidak coaok dengan Islam ala Ahlissunnah wal jamaah," jelasnya.

Pelatihan itu sendiri diikuti ? 87 orang. Mereka adalah mahasiswa semester akhir yang sebentar lagi akan menggarap skripsi. Materi pelatihan meliputi wawasan ke-NU-an, praktek memandikan janazah, tahlil, maulid nabi dan sebagainya. (Aryudi A. Razaq/Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Pendidikan, Amalan Haedar Nashir

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme

Brebes, Haedar Nashir

Rais Aam Jamiyah Ahluth Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) PBNU Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya menyerukan agar umat Islam menguatkan lita‘arafu (saling kenal mengenal) untuk menangkal gerakan radikal. Namun tidak hanya kenal mengenal dalam artian secara lahiriah tetapi juga suasana kebatinannya.?

Hal tersebut disampaikan Habib Luthfi pada peringatan Maulud Nabi dan Haul Kiai Anwar bin Kiai Munawar ke-27 di Kelurahan Kaligangsa Kulon, Brebes, Kamis malam (11/2/2016).

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme

Menurut Habib, pelaku teror membabi buta karena tidak mengenal dari mana dia dilahirkan dan ? hidup di daerah mana serta manfaat apa yang bisa dicurahkan untuk kemaslahatan umat. Keinginan kuat untuk menguasai dunia dengan dalih agama menjadikan mereka kalaf dan tidak santun dalam melakukan ‘dakwah’ versi mereka.?

Berbeda jauh dengan misi yang diemban para Walisongo, mereka mampu mengislamkan rakyat tanah Jawa dengan saling kenal mengenal. Mengenal kebudayaan, mengenal tradisi dan kebiasaan orang orang jawa dengan mengakulturasikan pesan-pesan Islam ke dalamnya. Penokohan pewayangan misalnya, mengispirasi tentang jatidiri, sifat kebaikan, jiwa mandiri, ketegasan dan kepiawaian berdiplomasi.

Haedar Nashir

Habib juga mengiritisi jajaran pemangku kebijakan yang masih kurang turun ke bawah. Berbagai keluhan dan permasalahan masyarakat belum terakomodir dengan baik. Kekuatan fungsi intelegen juga belum dilakukan secara maksimal dalam merangkul rakyat dan memenuhi keinginanya. “Sehingga ana godong obah weruh (ada daun bergerak pun tahu),” ungkap Habib.

Sekda Brebes H Emastoni Ezam yang mewakili Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak kepada masyarakat untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW. Pengejawatan akhlak Kanjeng Nabi akan membawa perubahan lahir dan batin dalam pembangunan daerah. Di samping itu, diimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dengan berbagai ajakan yang menggiurkan sementara akan menimbulkan masalah di kemudian hari.?

“Seperti yang dilakukan oleh Gafatar, dengan balutan peningkatan ekonomi ternyata menyelipkan ajaran yang menyesatkan umat,” katanya.

Ketua Panitia Letkol Inf Efdal Nazra menjelaskan, pengajian Maulid Nabi digelar sebagai upaya meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Selain itu, untuk menjalin silaturahmi antara ulama, umara dan umat dalam rangka membangun bangsa dan Negara. “Dengan kekuatan yang maksimal antara ulama, umara dan umat, NKRI akan tetap tegak berdiri,” ujar Efdal Nazra yang juga Dandim 0713/Brebes.?

Turut memberikan tausiyah Habib Ali Zaenal Abidin yang juga mantan Walikota Tegal. Selain ribuan pengunjung yang tumpah ruah memenuhi pelataran Masjid Al Munawar juga terlihat ratusan TNI, Polisi dan Banser dengan pakaian kebesaran mereka turut mengunjungi pengajian. (Wasdiun/Fathoni)?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Olahraga Haedar Nashir

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem

Salaman atau saliman dalam budaya Indonesia adalah suatu kegiatan berjabat tangan, biasanya dilakukan ketika seorang anak berpamitan pergi kepada orang tuanya, seorang murid yang bertemu dengan guru dan saudara atau keluarga ketika di jalan, atau ketika seseorang bertemu dengan teman-temannya.  Secara refleks kita akan mengulurkan tangan untuk mengajak salaman.

Salaman atau saliman sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “selamat”. Erat kaitannya dengan budaya mengucap salam dalam umat muslim. Dalam pelaksanaannya pun tidak selalu mengucap salam, namun lebih menekankan berjabat tangan sebagai rasa hormat. Sekali lagi di Indonesia, kegiatan salaman tidak melulu selalu diidentikkan dengan orang Islam walaupun berasal dari bahsa Arab. Karena makna salaman sudah dipakai oleh masyarakat umum sebagai milik bersama.

Salaman dalam tulisan adalah yang disebut orang Jawa sebagai sungkem. Salaman dan sungkem mempunyai persamaan yaitu kegiatan berjabat tangan, bedanya sungkem mempunyai nilai rasa hormat yang lebih tinggi. Sungkem bukanlah berjabat tangan biasa seperti yang dilakukan antar teman atau seseorang dengan seseorang yang derajatnya setara.

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem (Sumber Gambar : Nu Online)
Rindu Budaya Salam(an) Sungkem (Sumber Gambar : Nu Online)

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem

Namun sungkem dilakukan kepada seseorang yang lebih tinggi derajatnya seperti orang tua, guru atau ustadz/ustadzah. Caranya pun berbeda, sungkem disertai dengan mencium tangan seseorang yang kita sungkemi. Pada saat hari raya Idul Fitri pasti setiap anggota keluarga melakukan sungkeman, entah itu anak kepada orang tua, cucu kepada kakek nenek atau keponakan kepada paman dan bibi.

Pada zaman penulis masih menempuh pendidikan MI (Madrasah Ibtidaiyah -setara SD- ), penulis masih ingat dengan jelas setiap akan masuk kelas dan akan keluar kelas (waktu akan pulang) murid-murid antri berbaris rapi untuk sungkeman kepada sang guru. Jika direnungkan, betapa luhurnya budaya ini, penulis tidak yakin kalau dinegara lain diajarkan budaya sungkeman ini sebagai salah satu tata krama di sekolah. Jikalau ada mungkin juga masih tergolong bangsa Asia atau bangsa Timur.

Namun yang penulis sayangkan, semakin kesini budaya sungkeman mulai luntur, atau memang budaya sungkeman hanya diajarkan waktu MI/SD?

Haedar Nashir

Menurut pengalaman penulis, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin langka sekali budaya sungkeman ini. Mulai MTs (Madrasah Tsanawiyah -setara SD-) hingga MA (Madrasah Aliyah -setara SMA-) budaya ini agak jarang, mungkin karena sekolah madrasah, jadi antara murid dan guru yang berbeda jenis kelamin agak menjaga jarak. Namun menurut penulis hal seperti ini bisa disiasati, bisa saja to murid perempuan hanya salaman dengan ibu guru dan begitu juga dengan murid laki-laki hanya salaman dengan bapak guru.

Apalagi ketika menjadi mahasiswa perguruan tinggi di kota besar, budaya sungkeman seperti suatu hal yang tidak penting. Bukan dari segi mahasiswa atau anak didiknya saja yang kurang membudayakan sungkeman, tapi hal yang agak mengecewakan adalah ketika dosen itu sendiri tidak bersedia di sungkemi.

Ada fenomena lucu yang sering penulis temui, sungkeman yang dilakukan mahasiswa kepada dosen biasanya dilakukan berdasarkan alasan tertentu, misalnya saja ketika seorang mahasiswa datang terlambat, untuk menarik hati agar dosen tidak marah mahasiswa sering kali melakukan sungkem agar dosen luluh dan “tidak jadi” memarahi mahasiswa yang datang terlambat tersebut. Mungkin ini salah satu trik yang cerdas, hehe.

Salaman atau sungkeman merupakan budaya Indonesia yang menggambarkan karakter bangsa sebagai bangsa yang menjunjung tinggi rasa hormat dan kasih sayang kepada sesama manusia. Tidak hanya itu, salaman dan sungkeman juga salah satu cara untuk memperertat silaturrahim, persaudaraan dan pertemanan diantara manusia.

Haedar Nashir

Semoga tulisan ini memberikan kita pencerahan betapa penting budaya salaman dan sungkeman, walaupun kelihatannya sepele namun penulis yakin manfaat dan hikmah dari budaya ini sangat besar dan bermanfaat.

Ayu Ulfa Dewi, Mahasiswa Program Studi Jawa FIB UI

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Pesantren, Kajian Haedar Nashir

Selasa, 12 Desember 2017

Hasan Bisri Pimpin KMNU IPB

Bogor, Haedar Nashir. Hasan Bisri terpilih menjadi Ketua KMNU IPB dalam Musyawarah Besar (Mubes) yang bertempat di RK. AGB 202A Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Sabtu (28/2) lalu. Mubes yang diketuai oleh Amir Muzakki ini dihadiri oleh segenap civitas KMNU IPB mulai dari anggota, pengurus, alumni, dan pembina.

Agenda yang dilaksanakan tiap tahun di akhir kepengurusan ini terdiri dari sidang pembahasan AD/ART, sidang laporan pertanggungjawaban kepengurusan 2014-2015, pemilihan ketua KMNU, serta pemilihan Dewan Pertimbangan. Sidang ini dipimpin oleh M. Mulya Tarmidzi (presidium sidang I), Isna Nur Arifina (presidium sidang II), dan Irfan Sofyan (presidium sidang III).

Hasan Bisri Pimpin KMNU IPB (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasan Bisri Pimpin KMNU IPB (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasan Bisri Pimpin KMNU IPB

Dalam sidang AD/ART ditetapkan dan disahkan AD/ART yang diamandemen untuk disesuaikan dengan AD/ART KMNU Nasional yang baru saja terbentuk Januari lalu. 

Haedar Nashir

Mantan Ketua KMNU IPB, Achmad Mujib Dalam sambutannya menyatakan, bahwa ke depannya akan banyak tantangan dan peluang bagi KMNU IPB. "Saya yakin dan percaya ke depannya  KMNU IPB akan semakin baik dengan sumber daya yang potensial serta kepengurusan yang lebih professional," ujar Mujib.

Haedar Nashir

Sebelumnya, dalam musyawarah pemilihan ketua KMNU IPB yang dimoderatori oleh Ikrom Mustofa (mahasiswa berprestasi KMNU IPB), terdapat empat calon ketua yaitu Hamdan Ubaidillah, Hasan Bisri, A. Hijayat Ibnun, serta Hamzah Alfarisi. 

Dua calon yang cukup kuat diperdebatkan untuk menduduki kursi panas ketua KMNU IPB yakni Hasan Bisri dan A. Hijayat Ibnun. Keduanya mempunyai potensi, daya tarik, ciri khas, semangat, dan kapabilitas yang sudah tidak diragukan lagi oleh sebagian besar peserta musyawarah. 

Pada akhirnya, musyawarah sepakat menunjuk Hasan Bisri sebagai ketua KMNU IPB terpilih periode 2015-2016. Hasan dinilai lebih mampu merangkul semua civitas KMNU, mempunyai problem solving yang baik, serta pola pikir yang visioner dalam memetakan potensi yang ada.

Dalam sambutannya Hasan menyatakan, bahwa dia ingin bersama-sama bersinergi dengan semua elemen yang ada di KMNU IPB, melakukan yang terbaik menuju KMNU IPB yang lebih banyak berkarya bagi umat. 

Sidang terakhir memilih dan menetapkan Dewan Pertimbangan KMNU IPB yang terdiri dari 10 pengurus KMNU IPB periode sebelumnya. (Afifah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Anti Hoax, Tokoh Haedar Nashir

PBNU Harap Arab Saudi dan Iran Tahan Diri

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyayangkan ketegangan antara Pemerintah Arab Saudi dan Pemerintah Iran. Kang Said berharap dua negara ini mengendalikan diri agar tidak menambah deretan konflik di Timur Tengah.

“Konflik yang terjadi antara Saudi Arabia dan Iran sangat tidak layak dan sangat menghawatirkan. Masing-masing negara memunyai bobot di dunia Islam ini,” ujar Kang Said di Jakarta, Senin (4/1) sore.

PBNU Harap Arab Saudi dan Iran Tahan Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Harap Arab Saudi dan Iran Tahan Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Harap Arab Saudi dan Iran Tahan Diri

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini berharap kedua negara bertetangga itu menyatukan barisan umat Islam. Menurutnya, banyak pihak di luar Islam tidak senang melihat umat Islam bersatu.

Haedar Nashir

“Tunjukkan umat Islam masih punya idealisme ingin memperkuat barisan dalam menghadapi era globalisasi yang cukup menantang ini,” ujar Kang Said.

Ia mengajak kedua negara untuk melupakan apa yang sudah terjadi.

Haedar Nashir

“Ke depan yang saya harapkan Saudi dan Iran masing-masing dengan jiwa besar dan lapang dada membangun persaudaraan yang kuat, persaudaraan yang kokoh demi kerukunan umat Islam.” (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Santri Haedar Nashir