Kamis, 28 Desember 2017

Ini Perbedaan antara Panitia Zakat dan Amil Zakat

Pringsewu, Haedar Nashir. Untuk mengetahui pihak yang berwenang mengangkat amil di Indonesia, dari tingkat nasional sampai desa, diperlukan pemahaman Pengelola Zakat yang ada, sebagaimana dalam UU No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat dan PP No 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.

Ini Perbedaan antara Panitia Zakat dan Amil Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Perbedaan antara Panitia Zakat dan Amil Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Perbedaan antara Panitia Zakat dan Amil Zakat

Demikian dikatakan Katib Syuriyah PCNU Pringsewu KH Munawir yang juga merupakan Wakil Ketua BAZNAS Kabupaten Pringsewu saat menjelaskan materi tentang Menejemen Amil Kepada Pengurus MWC NU, Ranting NU dan Takmir Masjid Se Kecamatan ambarawa, Jumat (16/6).

Dari dasar tersebut lanjutnya, dapat diketahui bahwa ada tiga Pengelola Zakat yang ada di Indonesia. Pertama adalah Badan Amil Zakat Nasional atau (BAZNAS) baik ditingkat Nasional, Provinsi maupun Kabupaten. Kedua adalah Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang sudah diberi izin oleh BAZNAS dan ketiga adalah Pengelola Zakat Perseorangan atau Kumpulan Perseorangan dalam Masyarakat di komunitas atau wilayah yang belum terjangkau oleh BAZNAS dan LAZ dan akui oleh BAZNAS Kabupaten atau LAZ Kabupaten.

"Pengangkatan amil adalah kewenangan imam (penguasa tertinggi) seperti dalam definisi amil. Namun demikian, kewenangan itu bisa dilimpahkan kepada para pejabat pembantunya, yang ditunjuk untuk mengangkat amil–yang menurut PP ? No 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat," jelasnya.

Status Kepanitiaan Zakat yang dibentuk atas Prakarsa Masyarakat Seperti di Pedesaan, Perkantoran, Sekolahan yang dibentuk atas prakarsa masyarakat dan tidak diangkat oleh presiden atau pejabat yang diberi kewenangan olehnya, maka keduanya tidak berstatus sebagai amil syari.

Haedar Nashir

"Pengelolaan zakat yang dilakukan oleh Panitia Zakat bisa dibenarkan, tapi terbatas pada menerima zakat dari muzakki dan mendistribusikannya kepada yang berhak," ujarnya.

Selain masalah kewenangan, perbedaan antara Kepanitiaan Zakat dengan amil syari adalah pada gugurnya kewajiban muzakki atas zakat. "Kalau Muzakki menyerahkan zakatnya kepada Amil maka kewajiban membayar zakatnya sudah gugur walaupun ketika umpamanya terjadi Amil tidak menyerahkan zakatnya kepada mustahiq," katanya.

Haedar Nashir

Beda dengan apabila para muzakki menyerahkan zakatnya kepada Panitia Zakat. Karena Panitia Zakat hanya merupakan wakil atau perpanjangan tangan, maka ketika panitia lalai dalam menyalurkan zakat dari muzakki, kewajiban zakat belum gugur.

Oleh karenanya Ia mengjimbau kepada para Panitia Zakat di Masjid dan Musholla maupun Majelis Taklim yang membentuk Kepengurusan Zakat untuk dapat mendapatkan izin dan melegalkan kepengurusan tersebut ke Lazisnu Kecamatan masing-masing sehingga akan benar-benar statusnya menjadi Amil. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Rabu, 27 Desember 2017

Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan

Pada tahun 1984 M, Habib Umar bin Ahmad Al-Muthohar dari Semarang sedang mengikuti KKN di Kecamatan Kedungjati, salah satu kecamatan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kala itu, Habib Umar mendapat cerita dari masyarakat setempat yang menyatakan bahwa di Brabo, desa yang masih sekecamatan dengan tempat di mana Habib Umar mengikuti kegiatan purna mahasiswa itu, terdapat ulama sepuh yang alim, shalih.

Sebagaimana biasa, Habib Umar ketika mendengar kisah orang seperti demikian, ingin sekali sowan ngalap (mencari) berkah serta doa-doa kiai tersebut. Dan ia pun datang ke kediaman Kiai Syamsuri Dahlan beserta satu teman lain bernama Ir. Budi (kini Staf Wali Kota Semarang).

Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan

Sampai di ndalem Kiai Syamsuri, Habib Umar mendapati piantun sepuh itu sedang duduk siang, santai di atas kursi besar dan lebar, khas mebel kuno dengan memakai baju putih tanpa dikancingkan di bagian dada.

Haedar Nashir

Habib Umar menyapa, mengucap salam “Assalamualaikum...”

Melihat ada tamu datang, Kiai Syamsuri segera tergopoh berdiri, menatap tepat menuju pintu di mana Habib ini berdiri, seraya menyambut dengan kalimat hangat

“Waalaikumussalam... Monggo, monggo... Ndhoro Sayyid. Monggo Ndhoro Sayyid”, silakan masuk, Tuan. Silakan masuk.”

Haedar Nashir

Sejurus kemudian Kiai Syamsuri masuk ke dalam ruangan dalam rumah, berganti baju yang lebih layak untuk hormat tamu.

Parasaan heran dan tanda tanya besar menyelimuti hati Habib Umar yang masih terlalu muda dan belum banyak dikenal khalayak seperti sekarang ini, "Bagaimana bisa, Kiai Syamsuri mengenali saya sebagai keturunan Nabi SAW (sayyid/habib) sedangkan Kiai Syamsuri sendiri belum pernah sekalipun bertemu dengan saya,” gumamnya dalam hati.

Usai bincang-bincang cukup, Habib Umar memberanikan diri bertanya, “Mbah, panjenengan belum pernah bertemu saya, bagaimana panjenengan tahu bahwa saya ini termasuk sayyid.”

Gandane ketawis, Bib (aromanya terlihat jelas, Bib)!” Jawab Kiai Syamsuri dengan singkat, jelas. Jawaban ini membuat hati Habib Umar merinding.

Habib Umar mengibaratkan kisah tersebut dengan cerita Nabi Ya’qub saat berpisah dengan Nabi Yusuf, di mana Nabi Ya’qub mengenali baju yang diberikan kepadanya adalah milik Yusuf hanya melalui ciuman aroma baju yang dibawa saudara Nabi Yusuf ketika sudah mendekati rumah sang ayah. Hal ini mereka dapatkan karena kekuatan cinta di antara mereka.

Cerita ini disampaikan Habib Umar Al Muthohar saat menyampaikan mauidhah hasanah di Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo dan diulang kembali saat pelacak Buku Biografi Jejak Kiai Syamsuri Dahlan sowan ke kediamannya di Semarang. (Mundzir)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Pondok Pesantren, Anti Hoax Haedar Nashir

PC IPNU-IPPNU Demak Gelar Orientasi Peningkatan Kinerja

Demak, Haedar Nashir. Dalam rangka membangun semangat segenap pengurus baru PC IPNU-IPPNU Demak masa khidmah 2015-2017 yang baru saja dilantik, mereka menggelar orientasi peningkatan kinerja (upgrading), Ahad (5/4) Siang.?

PC IPNU-IPPNU Demak Gelar Orientasi Peningkatan Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Demak Gelar Orientasi Peningkatan Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Demak Gelar Orientasi Peningkatan Kinerja

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung NU Demak lantai 3, Jl Sultan Fatah No Demak. Acara diikuti oleh segenap Pengurus IPNU-IPPNU Demak yang berjumlah 100 orang, terdiri dari 50 IPNU dan 50 IPPNU. Kegiatan tersebut mengusung tema ‘Membangun Sinergi, Perkuat Organisasi, dan Kaderisasi’.

Kegiatan ini menghadirkan Ketua GP Ansor Demak H Abdurrahman Kasdi, Lc, MSi yang juga direktur Pasca Sarjana STAIN Kudus serta Ahmad Syafiq selaku mantan Ketua PC IPNU masa khidmat 2010-2012 yang juga DKN CBP PP IPNU masa khidmat 2012-2015 guna menjadi pemateri. Acara dipandu oleh Dzawits Tsiqoh selaku Wakil Ketua Bidang organisasi dan Kaderisasi PC IPPNU Demak.

Haedar Nashir

“Rekan-rekanita, kalian telah resmi dilantik dan sah secara organisasi untuk menjalankan segenap tugas dan fungsi organisasi, namun kiranya agar dalam penyusunan program kerja nantinya dapat terarah, maka kita perlu meng-upgrade semangat dan pemikiran, ibarat perangkat elektronik aplikasi harus di upgrade agar tidak out of date,” ungkap Dzawits memulai acara.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Demak, Abdul Halim menuturkan, melalui kegiatan serta pengarahan ? ini, yang melibatkan alumni IPNU-IPPNU serta tokoh dari banom NU lain pihaknya optimis kepengurusan ini bisa bekerja secara totalitas dan optimal dengan melaksanakan beberapa program yang nanti akan dirumuskan pada rapat kerja.

Haedar Nashir

“Kami sangat berharap agar semua pihak mendukung perjuangan kami ini," ujar Abdul Halim.

Senada dengan Abdul Halim, Ketua PC IPPNU Demak, Istiqomah menegaskan agar amanat dijalankan sesuai dengan tugas masing-masing. “Serta tiap pengurus harus memahami apa yang harus dilakukan merujuk berbagai tantangan kedepannya,” tegasnya.

Selain dari dataran PC IPNU-IPPNU Demak, agenda tersebut juga dihadiri perwakilan kader dari tingkat ranting, komisariat, dan anak cabang agar program yang hendak disusun dalam rakercab benar-benar tepat sasaran sesuai kebutuhan kader di grass root. (Rifqi Jamil/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Amalan Haedar Nashir

LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa

Jember, Haedar Nashir. Terjadinya beberapa kasus sengketa kepemilikan masjid membuat miris banyak pihak. Sebagai tempat ibadah yang nota bene milik umat, masjid sebenarnya tidak perlu disengketakan, tapi kenyataannya tidak sedikit masjid yang menjadi rebutan warga atau antar oknum takmir.?

Itulah yang mendorong Lembaga Takmir Masjid Nadlatul Ulama (LTMNU) Jawa Timur menggelar Pelatihan Manajemen Masjid dan Sosialisasi Sertifikasi Tanah Masjid.?

LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa

“Sertifikasi tanah wakaf masjid itu salah satu tujuannya untuk menghindari masjid dari kemungkinan timbulnya sengketa,” tukas Ketua LTMNU Jawa Timur H Ali Mas’ud Kholqillah di kepada Haedar Nashir sela-sela Pelatihan Manajemen Masjid dan Sosialisasi Sertifikasi Tanah Masjid di aula STAIN Jember, Sabtu (16/2). ?

Haedar Nashir

Ali Mas’ud menambahkan, pihaknya mendorong adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan tertib administrasi, khususnya terkait dengan sertifikasi tanah masjid. Sebab, kejelasan status tanah masjid juga ? akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi jamaah.?

Haedar Nashir

Di samping itu, juga supaya jelas siapa pemilik masjid itu. “Sebab, seperti kita ketahui, karena ketidakpahaman pengurus masjid, tidak sedikit masjid NU beralih tangan kepada pihak lain, yang tidak sepaham dengan NU,” ulasnya sambil menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tengah mendata jumlah masjid di Jawa Timur.

Di tempat yang sama, Ketua LTMNU Cabang Jember, H Muhammad Hasin menyatakan pihaknya siap memfasilitasi masyarakat yang ingin membuat sertifikat tanah masjid.?

“Kami siap mengkomunikasikan dengan notaris atau BPN untuk pembuatan sertifikat itu,” tukasnya.?

Pensiunan guru agama tersebut menambahkan, saat ini pihaknya tengah mendata jumlah masjid di Kabupaten Jember, yang diperkirakan mencapai 2500 buah. Dari pendataan itu, akan diketahui berapa jumlah masjid yang belum bersertifikat. ?

“Kalau belum disertifikat, kita dorong, tapi juga terserah mereka,” urainya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Bahtsul Masail, Halaqoh Haedar Nashir

Selasa, 26 Desember 2017

Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI

Jombang, Haedar Nashir. Resolusi Jihad NU melawan penjajah yang dikeluarkan para kiai sudah 68 tahun berlalu. Dalam konteks kekinian, jihad umat Islam, khususnya warga NU, tidak perlu menggunakan senjata atau turun ke medan perang, tapi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI

Hal itu mengemuka pada Lokakarya Nderes Seni Budaya Jombangan yang digelar Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia NU Jombang di kantor PCNU, Jombang, Jawa Timur pada Selasa (22/10) malam.

Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Sholahuddin Wahid yang didaulat jadi pembicara, mengungkap masalah jihad yang harus dilakukan NU pada situasi saat ini.

Haedar Nashir

Berangkat dari cerita perjuangan para kiai pendiri NU, kiai yang akrab disapa Gus Sholah itu menyatakan, bahwa untuk menjalankan dan mengamalkan ajaran agama Islam dalam berbangsa dan bernegara, Indonesia tidak harus menjadi negara Islam. Pertimbangannya, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlatar belakang kemajemukan.

Dia menuturkan, pada kurun waktu tahun 1956 - 1957, para tokoh NU saat itu terus mendorong agar Indonesia menjadi negara Islam. Namun, para ulama NU dengan mempertimbangkan kemajemukan yang ada pada bangsa Indonesia, akhirnya mengambil keyakinan bahwa untuk memasukkan nilai-nilai ajaran agama, bukan menjadi negara Islam.

Haedar Nashir

"Para tokoh NU waktu itu, utamanya Rais Aam Bisri Syansuri mengambil kesimpulan bahwa tanpa negara Islam bisa memasukkan ajaran Islam. Ini artinya, pertimbangan keutuhan negara yang lebih diutamakan," ungkap Gus Sholah.

Berangkat dari situasi tersebut, PBNU kala itu menugaskan Ahmad Siddq untuk menyusun dokumen tentang agama dan pancasila. "Hasilnya, Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan agama.”

Pada konteks kekinian, jihad apa yang harus dilakukan oleh NU? Para ulama NU dulu menetapkan jihad NU adalah mencari titik temu antara agama dan Pancasila. “Saya pikir itu jihad yang harus terus dilakukan," ujar Rektor UNHASY Tebuireng Jombang ini.

Keyakinan NU untuk mengakui asas Pancasila sebagai dasar Negara memang memiliki kerugian dan keuntungannya. Namun, lanjut cucu Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari ini, keutuhan NKRI yang tetap terjaga hingga kini merupakan keuntungan yang patut disyukuri bersama.

"Ada kerugiannya, di antaranya partai-partai Islam tidak laku karena asasnya tidak jauh beda dengan partai nasionalis yang ada di Indonesia. Tapi keuntungannya, Indonesia tetap Indonesia yang tetap satu sampai sekarang. Tidak kayak Mesir yang sekarang negaranya kacau balau karena dominasi kepentingan kelompok agama," kata adik Gus Dur ini.

Ketua PC Lesbumi NU Jombang, Suudi Yatmo mengatakan, memaknai resolusi jihad, pihaknya mengambil pilihan untuk merawat dan melestarikan seni dan budaya tradisional. Hal itu berangkat dari kemajemukan yang dimiliki bangsa Indonesia sejak awal berdirinya. "Kita merangkul seluruh elemen seni dan budaya, harapannya apa, supaya bangsa Indonesia bisa tetap satu di tengah keberagaman," ujarnya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

PCNU Pariaman dan CBDRMNU Lakukan Pengobatan Gratis

Pariaman, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Pariaman bekerjasama dengan Community Based Disaster Risk Management (CBDRMNU) selenggerakan pengobatan gratis di dua titik di Kota Pariaman, masing-masing di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Desa Kajai Kecamatan Pariaman Timur dan Kampung Perak Kecamatan Pariaman Tengah. Pengobatan gratis yang berlangsung Kamis (25/2/2010) mendapat sambutan meriah dari masyarakat di sekitarnya.



PCNU Pariaman dan CBDRMNU Lakukan Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pariaman dan CBDRMNU Lakukan Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pariaman dan CBDRMNU Lakukan Pengobatan Gratis

Koordinator Lapangan CBDRMNU Ahmad Ghozi menyebutkan, pengobatan gratis ini diselenggarakan di empat titik. Masing-masing di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Desa Kajai, Kampung Perak, Toboh Palabah Kecamatan Pariaman Selatan dan Mangguang Pariaman Utara. Pengobatan gratis dilaksanakan selama 2 hari. Demikian dilaporkan Kontributor Haedar Nashir Bagindo Armaidi Tanjung di Padang.

Dikatakan Ghozi, pengobatan gratis ini dengan menurunkan tim media dr. Jati Satriyo dan dr. Eva? Rahmatun Nuzul. ”Pengobatan gratis ini merupakan yang ketiga kalinya setelah pasca gempa yang terjadi di Sumatera Barat. Pertama pengobatan gratis dilaksanakan beberapa hari setelah terjadinya gempa di Sumatera Barat. Lamanya kurang lebih 20 hari. Pengobatan kedua, sebulan? pasca gempa yang lamanya juga 20 hari,” kata Ghozi.

Haedar Nashir

Sekretaris PC NU Kota Pariaman M.Nur Tuanku Bagindo yang juga pimpinan Pesantren Nahdlatul Ulum mengatakan, masyarakat sangat antusias menerima layanan pengobatan gratis tersebut. ”Mereka yang berasal dari empat desa, Desa Kajai, Kaluat, Kampung Kandang dan Air Santok sudah antri sejak pagi,” kata M. Nur.

Kita berharap pengobatan gratis ini dapat dilanjutkan di masa mendatang. Sehingga masyarakat yang mengalami sakit dapat terbantu, kata M.Nur menambahkan. (bat)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian

Malang, Haedar Nashir. Wajah Islam Indonesia sejatinya bukan mengajarkan kebencian. Namun, wajah Islam di negeri ini, awalnya disebarkan dengan keramahan terhadap budaya dan tradisi. Penyebaran Islam di kawasan Nusantara, terutama oleh Wali Songo, menggunakan tradisi, musik dan kebudayaan.

Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian

Hal itu ditegaskan dalam Seminar Internasional Islam and Peace di Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, Jawa Timur, Kamis (16/2). Seminar ini, dihadiri oleh Prof Anne Rasmussen (Professor of Ethnomusicology, The College of William and Mary Virginia-USA), Assoc Prof Yahya Don (Dean of School of Education and Modern Language, Universiti Utara Malaysia), dan Hasan Abadi (Rektor UNIRA Malang).

Prof Anne Rasmussen, mengungkapkan pentingnya toleransi dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa-bernegara. Prof Anne merupakan pakar musik dan budaya Islam, yang lama meneliti tentang fenomena musik di Timur Tengah dan Indonesia. "Musik dapat menjadi instrumen untuk mengajarkan dan menyebarkan perdamaian," terang Anne.

Ia menjelaskan tentang toleransi yang menjadi karakter bangsa Indonesia. "Pada tahun 1999, ada Musabaqah Tilawatil Quran di Jakarta. Pada posternya, ada gambar lelaki dan perempuan yang ditampilkan beriringan. Ini penting, menggambarkan cara pandang yang luar biasa, sesuatu yang tidak akan terjadi di Arab Saudi, Pakistan atau Bangladesh," jelas Prof Anne.

Haedar Nashir

Sementara itu, Yahya Don menjelaskan pentingnya perubahan masyarakat yang harus menjadi platform. "Perubahan masyarakat itu penting. Namun, yang harus jelas, ke arah mana perubahan masyarakat tersebut? Jelaslah ke arah perdamaian Islam," ungkapnya.

Perubahan ke arah perdamaian inilah, yang menjadi cara berpikir penting dalam membangun toleransi di tengah masyarakat. Dalam narasinya, Yahya Don menjelaskan tentang pentingnya menggunakan bahasa dalam pendidikan. Ia mengisahkan tentang hambatan budaya dari guru-guru yang menganggap etnis lain dengan tanpa pemahaman komprehensif, yang memicu kebencian.?

"Kita harus mengajar dengan perdamaian, bukan dengan bahasa kebencian. Inilah nilai penting yang perlu disampaikan dari pendidik muslim," terangnya.

Haedar Nashir

Rektor UNIRA Malang, Hasan Abadi mengungkapkan tentang pentingnya memahami nilai-nilai agama dengan beragam tafsir. "Yang paling penting adalah menggunakan pesan-pesan dalam agama. Apa yang dilakukan Gus Dur sangat tepat, dengan gagasan pribumisasi Islam. Jadi, dengan akar budaya bukan skripturalis," jelasnya.?

Dengan demikian, pesan perdamaian dalam Islam tersampaikan dengan media budaya. Di akhir seminar, dilanjutkan perumusan kerja sama UNIRA dengan Universitas Utara Malaysia dalam bidang riset Peace Education dan kerja sama penguatan pendidikan. (Abdillah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Sholawat, Lomba Haedar Nashir