Jumat, 05 Januari 2018

Siswa Madrasah Baca Qiro dengan Mengenakan Pakaian Adat

Yogyakarta, Haedar Nashir. Perhelatan Ajang Kreasi Seni dan Olahraga (Aksioma) serta Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2017 di Yogyakarta menjadi instrumen penguatan karakter bangsa oleh Kementerian Agama.

Siswa Madrasah Baca Qiro dengan Mengenakan Pakaian Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Madrasah Baca Qiro dengan Mengenakan Pakaian Adat (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Madrasah Baca Qiro dengan Mengenakan Pakaian Adat

Hal ini setidaknya terlihat ketika 14 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Yogyakarta melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan mengenakan pakaian adat Jawa dipadu blangkon sebagai penutup kepala pada Senin (7/8) dalam acara pembukaan Aksioma dan KSM di Stadion Mandala Krida Yogyakarta.

Di hadapan sekitar 12.000 hadirin yang memadati tribun stadion, 14 murid MI yang terdiri dari 9 siswa dan 5 siswi secara serasi melantunkan ayat 11 dari Surat Al-Mujadalah dan Surat Ar-Rahman ayat 33.

Suara emas mereka sejurus dengan warna emas pakaian adat yang mereka kenakan. Semua mata dan kamera tertuju kepada mereka. Bagi anak-anak madrasah, menguatkan nilai-nilai keislaman tidak lantas melepaskan identitas budaya bangsa.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggelegar memenuhi sudut-sudut stadion yang dipenuhi oleh para generasi muda berprestasi dari seluruh penjuru tanah air. Mereka berkompetisi selama satu pekan di bidang sains, seni, olahraga, dan karya tulis ilmiah untuk meraih prestasi tertinggi.

Haedar Nashir

"Saya bangga menjadi bagian dari siswa madrasah. Saya sangat siap berkompetisi dengan siswa-siswi lain dari seluruh Indonesia," ujar Kholida Nailul Muna pada acara pembukaan lalu.

?

Siswa MAN 3 Bantul, DIY ini merupakan salah seorang siswi berprestasi global. Ia meraih juara di ajang matematika internasional di Vietnam pada Juli 2017 lalu.

Haedar Nashir

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan bahwa ajang Aksioma dan KSM ini mampu sekaligus menyiapkan bibit-bibit unggul di bidang sains dengan tetap mencintai bangsa dan negaranya.

“Selain berkompetisi, mereka berkumpul dari seluruh Indonesia untuk saling mengenal budaya dari daerah mereka satu sama lain sehingga tumbuh bukan hanya intelektualitasnya saja, tetapi juga integritasnya,” ujar Lukman. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, AlaSantri Haedar Nashir

Negara Lain Berupaya Maju, Indonesia Berkutat Debat Pancasila

Jakarta, Haedar Nashir



Deputi Bidang Advokasi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Haryono mengungkapankan bahwa ada lima isu utama yang menjadi perhatian. Di antara kelima isu tersebut adalah mengenai distorsi pemahaman terhadap pancasila.

Menurutnya, di saat negara-negara lain berupaya untuk membangun bangsanya lebih maju, tapi di Indonesia masih disibukkan dengan kelahiran Pancasila.?

Negara Lain Berupaya Maju, Indonesia Berkutat Debat Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Lain Berupaya Maju, Indonesia Berkutat Debat Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Lain Berupaya Maju, Indonesia Berkutat Debat Pancasila

“Kita masih sibuk Pancasila 1 Juni, 22 Juni atau 18 Agustus,” kata Haryono pada acara Ngobrol Kebangsaan: Merayakan Toleransi dalam Keberagaman di Gedung Konvensi Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (23/7).?

Menurutnya, mencuatnya perbedaan kelahiran Pancasila dikarenakan pemahaman yang tidak benar. Apalagi ada guru besar yang beranggapan bahwa Pancasila itu didirikan 18 Agustus.?

“Logikanya, rumah didirikan sebelum pondasi atau pondasi didirikan setelah rumah,” katanya.

Haedar Nashir

Lalu orang yang menyebarkan 18 Agustus itu seorang profesor, guru besar yang memilik integritas, ia pun membalikan pertanyaan.

“Kira-kira…, Mohammad Hatta, dan Pak Hugeng Imam Santoso, mantan jenderal polisi itu apakah tidak punya integritas? Ini Pak, akibat mereka tidak tahu Pancasila,” katanya.

Selain Haryono, hadir juga menjadi pembicara; Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H. Yaqut Cholil Qoumas, dan dosen Antropologi Universitas King Fahd Arab Saudi. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Jadwal Kajian Haedar Nashir

Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim

Kediri, Haedar Nashir

Kesebelasan Quen Al-Falah Ploso Mojo Kediri dan Darut Taibin (DaTa) Tulungagung menyusul An-Nur 2 Malang lolos ke babak semifinal kompetisi Liga Santri Nusantara Region Jatim II di Stadion Brawijaya Kota Kediri.

Sementara kesebelasan Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Kediri batal lolos ke babak semifinal karena kena diskualifikasi. Sebagai gantinya adalah Tim Pesantren Darul Ulum Rejoso Petrongan Jombang yang sempat dikalahkan Darussalam.

Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim

Quen Al-Falah lolos setelah dalam perempat final kemarin sore berhasil mencukur gundul Tim Pesantren Mahir Ar-Riyadh Ringinagung Kepung Kediri dengan skor telak 5-0. Sedangkan Darut Taibin Tulungagung di tempat yang sama menghabisi perlawanan Pospoda Nganjuk dengan skor 3-0.

Haedar Nashir

Pada babak perempat final, Quen Al-Falah bermain lepas. Meski sempat mendapat perlawanan dari pemain Mahir Ar-Riyadh. Gol perdana Quen diciptakan oleh M. Kemeal Zain pada menit ke 30. Hingga sampai babak pertama komposisi masih 1-0 untuk Quen.

Di babak kedua Quen permainannya semakin berkembang ditunjang para pemain Mahir Ar-Riyadh sudah habis setaminanya. Sehingga, Quen bisa bermain lepas dan berhasil menambah 4 gol. Masing-masing melalui A Lutfan di menit ke-55, Sulthan Abdul Kahfi (kapten) di menit ke-64 setelah dapat hadiah penalti dari wasit. Lalu 2 gol dilesatkan oleh striker Quen Ilham A Ghoni di menit ke-65 dan ke-69.

Haedar Nashir

Sementara Darut Taibin memenuhi janjinya bermain agresif sejak awal pertandingan. Namun tidak mudah karena terus mendapat tekanan juga dari tim Pospoda Nganjuk . Baru Darut Taibin bisa mendobrak pertahanan lawan pada menit ke-29 melalui tendangan M. Edi Sofyan . Kemudian disusul Nando Endra S di menit ke-57 dan M Alum Alfin P di menit ke-64.

Di babak semifinal nanti Quen Al-Falah akan bertemu dengan DaTa Tulungagung. Sedangkan An-Nur 2 Turen Malang bertemu dengan kesebelasan Pesantren Darul Ulum Ploso Peterongan Jombang. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Habib, Pesantren Haedar Nashir

Kata Cholil Nafis soal Dai Bertarif

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis mengatakan, kalau para dai atau penceramah tidak memiliki pekerjaan lain selain ceramah maka sudah pasti mereka mengandalkan pemasukan dari ceramah tersebut.

Kata Cholil Nafis soal Dai Bertarif (Sumber Gambar : Nu Online)
Kata Cholil Nafis soal Dai Bertarif (Sumber Gambar : Nu Online)

Kata Cholil Nafis soal Dai Bertarif

“Apalagi di kota besar. Kita tidak bisa ingkari bahwa kehidupan di kota itu menuntut finansial yang lumayan,” kata Kiai Cholil kepada Haedar Nashir di Jakarta, Jumat (16/6).

Ia mengaku tidak pernah memberikan tarif tertentu kepada pihak pengundang. Baginya, ceramah adalah tempat untuk mengaji bersama, bukan hanya sekedar dari pelengkap sebuah acara dan dihitung bayarannya.

“Kalau bagi saya lebih senang ceramah itu sebagai tempat ngaji, bukan sebagai pelengkap dari sebuah kegiatan,” ungkap Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia itu.

Haedar Nashir

Ia tidak menafikan bahwa ada beberapa dai yang secara terang-terangan memberi tarif kepada pihan pengundang. Namun demikian, ia menyatakan bahwa mayoritas mereka berdakwa memang karena ingin menyebarkan Islam dan bukan karena tarif.?

“Tetapi sepanjang yang saya tahu, mayoritas masih takdzim. Tidak semata-mata karena tarif,” terangnya.

Haedar Nashir

Terkait dengan ceramah bertarif, ia sering bepesan dan berkoordinasi untuk tidak berceramah dan menentukan tarif tertentu jika yang mengundang umat masyarakat.?

“Tetapi kalau yang mengundang perusahaan karena untuk syiar dan itu dianggarkan, sebaiknya saling pengertian antara pihak panitia dan dai nya,” ungkapnya.

Ia menyadari, ada dai yang tidak mendapatkan bagian yang seharusnya dia dapatkan. Misalkan, sebuah perusahan menganggarkan ratusan juta untuk mengundang dai tertentu agar orang yang datang banyak. Tetapi, di lapangan dai tersebut hanya mendapatkan bagian yang jauh lebih kecil dari yang dianggarkan. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Kamis, 04 Januari 2018

Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat

Perkembangan fashion pakaian sangat beragam. Berbagai gaya pakaian didesain untuk menambah keelokan paras dan menambah pesona. Pilihan busana juga kian beragam, termasuk model kerudung penutup kepala.

Dewasa ini, khususnya di Indonesia, mulai ada pembedaan istilah tentang penyebutan kerudung penutup kepala. Dua sebutan yang banyak disebut adalah hijab dan jilbab. Hijab biasa disebutkan untuk kerudung yang dihias dan dikenakan dengan variasi sedemikian rupa, sesuai selera dan kepantasan. Sedangkan jilbab, adalah kerudung pada umumnya, baik model praktis yang langsung dikenakan, kerudung paris yang jamak di kalangan ibu-ibu, sampai model terbaru yang disebut sebagai jilbab syar’i, yang panjang menjulur menutupi bagian dada, sampai menutupi bagian perut bahkan hingga lutut.

Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat

Preferensi dan kepantasan berkerudung, tentu adalah pilihan. Namun patut diketahui, bagaimana kita mendudukkan istilah penutup kepala yang ada dalam Islam?

Setidaknya masalah ini berkaitan erat dengan ayat-ayat Al Quran yang memuat dua istilah hijab dan jilbab. Utamanya terkait dengan perintah Allah kepada para istri-istri Nabi untuk tidak berinteraksi secara terbuka kepada lawan jenisnya. Hendaknya hal tersebut dilakukan di balik hijab.

Haedar Nashir

Seorang sastrawan Arab bernama Ibnul Manzhur menyebutkan dalam kitabnya Lisanul Arab tentang makna hijab. Hijab bermakna As-Sitr, yang bermakna tutup. Ia bisa diartikan tirai, penghalang, dan sebagainya.

Bagaimana dengan masalah penghalang untuk lawan jenis? Hal ini terjadi pada pemaknaan surat Al-Ahzab ayat 53 yang memerintahkan istri Rasulullah untuk tidak berbicara kepada selain mahram kecuali dengan menggunakan tirai penghalang terhadap kontak langsung, atau dengan menutup wajah mereka.

Haedar Nashir

...? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...

Artinya: “...Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka...”

Ayat ini disebutkan terkait dengan masalah terkait etika ketika bersama istri-istri Nabi. Karena itu, hijab di atas ini bermakna penutup kontak langsung, bukan terkait pakaian. Sedangkan bagaimana dengan jilbab? Jilbab disebutkan sekali dalam Al-Qur’an, dalam surat Al-Ahzab ayat 59. Penyebutannya dalam bentuk plural, yaitu jalabîb.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Wahai Nabi, katakanlah terhadap istri-istrimu, anak-anakmu, dan istri-istri orang-orang yang beriman (agar) mereka mengulurkan jalaabib mereka. Demikian itu, supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak disakiti. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul menyebutkan bahwa penyebab turunnya ayat di atas adalah suatu ketika, istri Nabi keluar karena suatu keperluan. Dahulu menggunakan kain penutup kepala belum begitu populer. Kemudian ternyata ada sekelompok orang nakal yang mengganggu mereka.

Mereka yang digoda itu mengadu ke Rasulullah. Melalui turunnya ayat ini, maka mereka diperintahkan untuk menutupi kepala hingga dada agar mudah dikenal, serta terhindar dari gangguan laki-laki yang nakal. Selain itu, perempuan yang merdeka ditandai dengan jilbab, sedangkan budak perempuan dengan kepala terbuka. Demikianlah asbabun nuzul dan konteks turunnya ayat tentang jilbab.

Maka dari paparan di atas, setidaknya dalam Islam istilah yang muncul untuk busana penutup kepala perempuan adalah jilbab dibanding hijab, meskipun dalam perkembangannya dua kata tersebut sama-sama digunakan. Jilbab digunakan dalam masalah ajaran Islam, sedangkan istilah hijab bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Perbedaan tersebut, asalnya bukan dibedakan berdasarkan model pakaiannya. Yang terpenting dari cara berpakaian, busana yang sopan tentu akan tampak menawan. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, AlaNu Haedar Nashir

Bukan Haram, Mendoakan Orang Tua Justru Tanda Bakti

Metro, Haedar Nashir. Rais Syuriyah PCNU Kota Metro Lampung KH Zainal Abidin mengingatkan segenap umat Islam untuk senantiasa berbakti kepada orang tua dengan mendoakan keduanya baik saat hidup di dunia maupun ketika sudah dipanggil oleh Allah SWT. Ia mengingatkan juga bahwa doalah yang senantiasa diharapkan oleh orang tua kita.

Bukan Haram, Mendoakan Orang Tua Justru Tanda Bakti (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukan Haram, Mendoakan Orang Tua Justru Tanda Bakti (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukan Haram, Mendoakan Orang Tua Justru Tanda Bakti

"Yang bisa diberikan kepada orang tua apalagi sudah meninggal dunia adalah doa dari anak yang shaleh. Mari doakan minimal bada shalat maktubah karena itu merupakan waktu mustajabah untuk berdoa," ajaknya, Sabtu (30/12) malam saat memberikan tadzkirah takziyah malam ketujuh salah satu pengurus Muslimat Kota Metro.

"Lalu apakah doa dari orang lain yang bukan anaknya tidak diterima oleh Allah?" tanyanya kepada jamaah mengutip pertanyaan sebagian paham yang tidak meyakini jika doa kepada mayit akan sampai dan bermanfaat.

Kiai Zainal menjelaskan bahwa doa kepada orang yang meninggal dunia diterima oleh Allah SWT karena hal tersebut telah tertulis dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 41 yang artinya, "Ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang Mukmin, pada hari terjadinya hisab."

Haedar Nashir

Ia juga menjelaskan bahwa setiap kali melaksanakan shalat jenazah juga dipastikan ada bacaan untuk mengampuni dosa si mayit dan bila tidak dibaca maka tidak sah shalat jenazahnya.

Hal inilah yang perlu dipahami oleh umat Islam agar tidak sempit dalam mempelajari dan memahami agama.

Haedar Nashir

"Jangan mudah terkecoh dengan paham yang memahami dalil secara tekstual saja. Seperti ada yang mengatakan bahwa kumpul untuk tahlil hukumnya haram. Padahal yang namanya tahlil itu adalah mengucapkan lafadz La illaaha illallah. Dalam Majelis tahlil, dibacakan juga tasbih, tahmid, takbir dan sejenisnya," jelasnya.

Maka menurutnya beruntunglah masyarakat yang memiliki majelis dzikir dan takziyah di lingkungannya. Berbagai manfaat bisa didapatkan diantaranya silaturahmi, mendoakan orang tua dan para  pendahulu.

"Yang tidak diperbolehkan adalah meminta kepada yang sudah meninggal," katanya sekaligus menjelaskan manfaat dari bertakziyah yaitu ingat akan kematian yang akan menambah ketakwaan kepada Allah SWT.

"Kematian pasti akan datang kepada kita, namun kita tidak akan tahu kapan datangnya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah Haedar Nashir

Gerakan Islam Transnasional Tak Punya Semangat Nasionalisme

Probolinggo, Haedar Nashir. Gerakan Islam transnasional samasekali tidak mempunyai semangat nasionalisme. Ideologi mereka tidak lagi bertumpu pada nation state, melainkan international state, yang didominasi oleh corak pemikiran skriptualis, fundamentalis dan radikal.

Demikian disampaikan KH Imam Ghazali Said dalam sarasehan dengan tema “Kelompok Transnasional: Antara Idealitas dan Realitas” di aula PCNU Kraksaan, Probolinggo, Ahad (12/5). Kegiatan dilaksanakan dalam rangkaian peringatan hari lahir (Harlah) ke-90 NU.

Gerakan Islam Transnasional Tak Punya Semangat Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Islam Transnasional Tak Punya Semangat Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Islam Transnasional Tak Punya Semangat Nasionalisme

Kiai yang banyak mengamati gerakan Islam transnasional di Indonesia itu memaparkan, gerakan transnasional yang secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern akan lebih mudah berkembang dan diterima oleh masyarakat.

Haedar Nashir

“Realitas di lapangan mengatakan, gerakan ini banyak menggerogoti gerakan Islam lokal. Basis Muhammadiyah di perkotaan sekarang ini sedang digerogoti oleh jama’ah Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. Jama’ah Tabligh dan Hizbut Tahrir menggerogoti beberapa konstituen penting NU di perkotaan. Gerakan salafi dan syi’ah berusaha mengambil jama’ah NU puritan dengan pendekatan pesantren,” ungkapnya.

Haedar Nashir

“Apabila melihat kecenderungannya, gerakan transnasional berpotensi untuk terus membesar,” ujar Pengasuh pesantren mahasiswa An-Nur Wonocolo itu? sembari mengingatkan kepada warga Nahdliyin untuk selalu berhati-hati.

Sarasehan itu dihadiri oleh Wakil Rais Syuriyah KH Amin Fathullah, Ketua Tanfidziyah KH Nasrullah Ahmad Sudja’i dan para pengurus lembaga, badan otonom, pengurus MWCNU dan ranting serta utusan dari beberapa perguruan tinggi dan pondok pesantren se-Kabupaten Probolinggo.

H. Supanut, ketua panitia menyampaikan dalam sambutannya bahwa seluruh kegiatan dalam memperingati Harlah NU ini mencakup semua lembaga di bawah naungan PCNU Kraksaan, termasuk kegiatan sarasehan kali ini.

Total keseluruhan kegiatan yang memeriahkan harlah ini sebanyak 14 kegiatan. “Alhamdulillah, semua kegiatan mendapat tanggapan dan sambutan yang positif dari warga nahdliyin pada khususnya,” pungkasnya.

?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Hasan Baharun?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Fragmen Haedar Nashir