Rabu, 28 Oktober 2015

Kiai As’ad Baca Ratibul Haddad Sebelum Dicegat Serdadu Jepang

Jember, Haedar Nashir - Kisah perjuangan KH As’ad Syamsul Arifin yang sukses “menumpas” serdadu Jepang? di Desa Garahan, Kecamatan Silo,? Jember, Jawa Timur, bukan semata-mata mengandalkan usaha fisik tapi juga doa dan wiridan yang tak putus-putus meluncur dari bibir sang kiai dan para pejuang lainnya.

Hal ini terekam dalam penelusuran tim pencari fakta peringatan “Napak Tilas Nasional 2016, Sejarah Perjuangan Pengusiran Penjajah Jepang di Curah Damar”? yang akan digelar pada 9-10 November 2016.

Kiai As’ad Baca Ratibul Haddad Sebelum Dicegat Serdadu Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai As’ad Baca Ratibul Haddad Sebelum Dicegat Serdadu Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai As’ad Baca Ratibul Haddad Sebelum Dicegat Serdadu Jepang

Alkisah, saat itu Desa Garahan menjadi markas serdadu Jepang untuk Jember bagian timur. Kiai As’ad selaku Komandan Hizbulloh Kawasan Timur Indonesia, berinisiatif untuk mengusir mereka sejauh mungkin. Maka Kiai As’ad dan sejumlah kiai serta petinggi tentara Hizbulloh berkumpul di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Kecamatan Sukowono terkait rencana itu. Dan memang, pesantren yang ketika itu diasuh oleh? Kiai Umar tersebut, sejak lama menjadi markas perjuangan melawan penjajah.

Haedar Nashir

Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah Kiai As’ad dan rombongan menuju markas Jepang di Desa Garahan. Desa Garahan sendiri terletak sekitar 45 kilometer ke arah tenggara dari Pondok Pesantren Raudlatul Ulum yang menjadi start gerilya. Mereka berjalan kaki melewati arah selatan. Sampai di Desa Sumberwaru, tepatnya di rumah Kiai Sholeh, sekitar 5 kilometer dari start, Kiai As’ad dan rombongan berhenti. Di situ Kiai? As’ad berembuk, mencari cara yang tepat untuk menghadapi serdadu Jepang.

Haedar Nashir

“Seperti kata Nyai Sholeh, beliaulah yang saat itu selama sekian hari melayani kebutuhan konsumsi Kiai As’ad dan rombongan. Nanaknya dini hari untuk makan setelah rapat dan koordinasi dengan para kiai,” tukas Ketua Panitia Bidang Perlengkapan sekaligus tim pencari fakta Napak Tilas 2016, Ustadz Fauzi kepada Haedar Nashir di Jember, Selasa (13/9).

Setelah dirasa cukup berkoordinasi, Kiai As’ad dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Namun sekitar 4 kilometer kemudian, Kiai As’ad dan rombongan kembali berhenti, tepatnya di? Pesantren Sayyidul Ali, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono. Saat itu pesantren tersebut diasuh oleh KH. Syarkowi. “Di? situ Kiai As’ad hanya satu malam. Beliau dan rombongan membaca rotibul haddad semalam suntuk,” lanjut Ustadz Fauzi yang juga alumni? Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Asembagus, Situbondo tersebut.

Keesokan harinya, Kiai As’ad dan rombongan bergerak menuju Desa Garahan. Tapi perjalanan belum begitu jauh, serdadu Jepang sudah menunggu di sungai Kramat. Mereka mencegat Kiai As’ad, hingga pertempuran pun tak bisa dihindari. Atas pertolongan Allah, Kiai As’ad berhasil memaksa mereka lari terbirit-birit, menyelinap dalam kelebatan hutan. (Aryudi A Razaq)

Bersambung…



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Sabtu, 24 Oktober 2015

Buku Sekolah Kok Mahal Sih...?


Jakarta, Haedar Nashir
"Pendidikan semakin mahal, buku berganti-ganti. Belum iuran ini dan itu, susah !" ungkap seorang ibu rumah tangga di Kramat Raya, kepada Haedar Nashir, Senin (1/8) ketika mengantar anaknya sekolah.

Mira, nama ibu itu juga mengeluhkan masih adanya kewajiban anak-anak mereka yang mesti membeli buku pelajaran dari sekolahnya yang umumnya harus pula sekaligus dibayarkan pada awal tahun ajaran baru ini.

Untuk pelajar SD, misalnya, paling tidak harus disediakan buku matematika (seharga Rp 25.000), bahasa Indonesia (Rp 15.000), IPA (Rp 15.000), IPS (Rp 15.000). Belum lagi buku-buku yang lain. Paling tidak, untuk keperluan buku-buku pelajaran anak SD diperlukan biaya antara Rp 125.000 hingga Rp 170.000.

"Padahal dulu buku-buku sekolah relatif murah dan bisa dipakai secara turun-temurun, tapi sekarang tiap semester bukunya beda-beda, mahal lagi," papar Mira yang memiliki 3 putera dan 1 puteri yang masih duduk di SD dan SMP ini.

Keluhan ini, parahnya ditengah rencana pemerintah menerapkan kebijakan  Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang semestinya diikuti dengan penghentian berbagai pungutan bagi siswa yang memberatkan para orangtua itu.

Menanggapi kondisi ini pegiat di dunia buku, G Aris Buntaran menilai hampir tak ada Presiden yang memberi perhatian khusus terhadap dunia perbukuan, selain Soekarno. Presiden Soekarno dalam sebuah rapat akbar memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Priyono, ketika itu, untuk menerbitkan buku murah, kenangnya.

Setelah itu, tak ada lagi rezim yang memberi perhatian untuk menerbitkan buku murah. Padahal, kata Aris, India saja memiliki political will untuk menerbitkan buku murah. Dengan kebijakan itu, rakyat bisa membaca buku tanpa harus merogoh kantong terlalu dalam.

Bila negara mau serius, buat saja kertas khusus yang ringan dan murah khusus digunakan untuk mencetak buku murah, paparnya. Untuk kalangan masyarakat yang mampu, bisa membeli buku yang sama namun dengan kualitas kertas yang lebih baik. Hal itu, sudah berlangsung di India.

Hal senada juga dikemukakan Kabid Hukum Humas dan Kerjasama Antarlembaga Ikapi Cabang DKI Jakarta, HR Harry. Menurutnya, sebenarnya harga buku bisa lebih murah. Asalkan, imbuh dia, beberapa komponen bahan pembuat buku seperti kertas dan tinta disubsidi pemerintah.

Pemerintahkan memiliki beberapa perusahaan kertas. Buat saja kertas khusus yang disubsidi untuk menerbitkan buku murah, paparnya. Ia pun berharap agar royalti penulis yang hanya 10 persen dari oplah buku ditingkatkan, dan pajak buku 10 persen dihapus saja. Pemerintah bisa mengalokasikan dana kompensasi BBM untuk buku murah. tandasnya.

Sementara itu menurut sumber Haedar Nashir yang enggan disebutkan namanya mengatakan, mahalnya harga buku sekolah karena masuknya mavia percetakan ke lingkungan Diknas dengan proyek-proyek perbukuan yang disusun berdasarkan kurikulum Diknas. "Mavia ini bekerjasama dengan orang dalam, dan ini sudah berlangsung lama," tandasnya tanpa mau menyebutkan siapa mavia itu.(cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Syariah, Humor Islam Haedar Nashir

Buku Sekolah Kok Mahal Sih...? (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Sekolah Kok Mahal Sih...? (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Sekolah Kok Mahal Sih...?

Kamis, 15 Oktober 2015

Ada Keringanan dalam Beribadah

Jakarta, Haedar Nashir. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al-Baqarah 2: 286). Potongan ayat ini menjadi pengantar dalam Pengajian Online Ramadhan kitab “Manahijul Imdad” bidang fikih-tasawuf karya ulama besar Nusantara Syeikh Ihsan Jampes di ruang redaksi Haedar Nashir, lantai V gedung PBNU Jakarta, Jum’at (21/9), yang diasuh oleh KH Arwani Faisal dari Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU. Pengajian kali ini membincang keringanan-keringanan dalam menjalankan ibadah puasa.

Bahwa Allah SWT memberikan keringanan (rukhshoh) bagi orang yang berkesulitan dalam menjalankan ibadah puasa. Namun definisi “kesulitan” (masyaqqah) dulu dan sekarang sangat berbeda. Sebagai misal adalah kesulitan apa yang membebani orang yang sedang bepergian (musafir), sementara betapa mudah alat transportasi saat ini.

Ada Keringanan dalam Beribadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Keringanan dalam Beribadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Keringanan dalam Beribadah

Syeikh Ihsan Jampes dalam kitab Manahijul Imdad jilid 1 hal 491 mengutip pendapat dari madhab Syafi’i bahwa puasa lebih utama bagi musafir yang kuat menjalankan ibadah puasa atau tidak merasa mendapat masyaqqah, berbeda dengan para ulama madzab lainnya yang lebih memilih untuk membatalkan puasa, itupun dengan syarat bepergian dilakukan sejak sebelum waktu puasa.

Namun peserta pengajian dari Kebumen dan Jakarta yang mengikuti pengajian secara online melalui akun pbnu_online@yahoo.com justru menyoal definisi masyaqqoh yang dimaksud. Pada hampir semua kitab fikih masyaaqqah selalu didefinisikan dengan jarak perjalanan (masafah) yakni sepanjang 16 marhalah atau sekitar 96 km menurut madhab Syafi’i. Sementara masyaqqah saat ini tidak bisa didefinisikan sesederhana itu.

Menurut Kiai Arwani, masyaqqoh mengandung maksud sesuatu yang bisa mendatangkan kesengsaraan atau bahkan mendatangkan kejelekan (madzorot). “Misalnya Jakarta-Cikampek kan bisa menjapai 100 KM, padahal bisa ditempuh dengan cepat, dan pakai mobil ber-AC, apa lantas boleh meninggalkan puasa? Masyaqqah tidak seperti itu,” kata Kiai Arwani.

Dicontohkan juga pada kasus ibu yang hamil tua atau sedang menyusui, masyaqqoh yang dimaksud adalah kekhawatiran akan adanya kesengsaraan yang dalami oleh ibu atau bayinya. Menjawab pertanyaan Ibu Erwin, seorang peserta pengajian yang berada di Australia, mengenai wanita hamil dan menyusui, masyaqqah yang dimaksud adalah kehawatiran adanya bahaya bagi ibu atau anaknya menurut dokter ahli.

Haedar Nashir

Namun demikian, ditambahkan Kiai Arwani, faktor terpenting adanya masyaqqah dalam setiap ibadah sebenarnya lebih diketahui oleh indivudu yang bersangkutan. Pada persoalan musafir dapat dipastikan bahwa masing-masing orang lebih tahu apakah dia merasa berat atau tidak dalam menjalankan ibadah pada saat dia bepergian, dan ini tentu tidak dimaksudkan bagi individu yang selalu manja dan menuntut keringanan dalam beribadah.

Keringanan lain dalam ibadah puasa adalah bagi orang yang sakit (maridl) dan para manula. Orang sakit sekiranya akan bertambah parah penyakitnya jika dia puasa diperkenankan mengganti atau meng-qodlo puasa di hari yang lain. Sementara para manula atau orang sakit yang sudah tidak mungkin menjalankan ibadah puasa diperkenankan mengganti puasanya dengan tebusan (fidyah) sebanyak 1 sho’ atau sekitar 0,6 kg atau 6 ons makanan pokok perhari puasa yang ditinggalkan.

Ditambahkan, madzab Syafi’i tetap tidak membolehkan membayar fidyah dengan uang, sementara madzab Hanafi membolehkan mengganti fidyah dengan uang senilai 1 sho’ makanan pokok. Namun demikian para ulama sepakat untuk memberikan fidyah kepada fakir-miskin di daerah mana orang yang bersangkutan tinggal.(nam)

Haedar Nashir



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Selasa, 13 Oktober 2015

LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib

Sumedang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Lembaga Ta’mir Mesjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) kabupaten Sumedang akhir pekan kemarin mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas yang melibatkan imam-khotib dan pengurus masjid sekecamatan Buahdua. Di desa Cilangkap, Ahad (7/6), peserta diajak untuk membaca kembali peran mereka di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat.

LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib

Peserta yang berjumlah 35 orang ini mengupas etika imam dan khotib. Pada kesempatan ini, mereka juga mengaji materi Fiqh Jum’at, materi Al-Qur’an, serta teknik penyusunan kepengurusan masjid.

"Pelatihan ini sangat bermanfaat dan penting, sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan, wawasan, dan kualitas seorang yang dipercaya sebagai salah satu komponen penegak amar ma’ruf ? nahi mungkar. Terlebih dalam menghadapi tuntutan zaman dengan problem masyarakat yang semakin kompleks, maka dibutuhkan kemampuan yang cukup bagi seorang imam dan khatib,” kata Ketua LTMNU Sumedang ustadz Eman Sulaeman.

Haedar Nashir

Ustadz Eman menyebut beberapa peran dan fungsi yang harus diwujudkan seorang imam dan khatib di tengah masyarakat. Mereka, kata Eman, harus mampu menjadi pemersatu umat, menjadi benteng aqidah, menjadi contoh teladan, menjadi rujukan dalam masalah keislaman, dan membangun soliditas umat.

"Khusus mengenai perannya sebagai rujukan dalam masalah keislaman, hendaknya imam dan khatib untuk selalu menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang keislaman. Karena, bagaimanapun seorang imam dan khatib pasti akan menjadi tempat bertanya masyarakat soal keislaman,” Ketua LTMNU menambahkan.

Haedar Nashir

Ketua PCNU Sumedang KH Sa’dulloh yang hadir sebagai pemateri berharap kegiatan bertema “Meningkatkan Peran NU dalam Upaya Membentuk Imam-Khotib dan DKM yang Berkualitas dan Profesional” ini dapat menjadi dorongan untuk meningkatkan kemampuan imam-khotib masjid.

“Saya berharap pelatihan ini dapat menjadi suatu motivasi untuk meningkatkan kemampuan para imam masjid,” kata Kiai Sa’dulloh. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Haedar Nashir

Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi

Kudus, Haedar Nashir. Ulama asal Semarang Habib Umar al-Muthohar menyampaikan taushiyah dalam pengajian umum dalam rangka peringatan haul ke-56 KHR Asnawi di Pondok Pesantren Raudlotuth Thalibin Bendan Kudus, Jum’at malam (26/4) kemarin.

Habib mengajak umat Islam untuk selalu menghormati maupun memuliakan yang tua dan memberi kasih sayang kepada yang muda. Bila sikap itu terjaga, kehidupan di dunia akan selalu suasana yang indah dan penuh kedamaian.

Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi

“Hal itu sesuai tuntunan Nabi Muhammad dalam haditsnya yang menegaskan barang siapa yang tidak memuliakan orang tua dan tidak sayang kepada yang muda, maka ia bukan termasuk golonganku,” katanya.

Haedar Nashir

Ia menerangkan orang tua yang patut dihormati ini tidak hanya dilihat dari sisi usianya saja melainkan orang yang mempunyai kelebihan ilmu, akhlak, ibdahnya, kejiwaan maupun perjuangannya. Meskipun masih berusia muda tetapi memiliki daya linuwih kealiman harus lebih dihormati.

Haedar Nashir

“Begitu pula orang biasa yang sudah berlanjut usia pun harus kita hormat kepadanya baik dalam kondisi masih hidup maupun sudah mati,” tegas Habib di depan ribuan jamaah yang menghadirinya.

Habib juga  mengutarakan orang tua dengan daya lebihnya mampu menjadi tumbal tidak turunnya hari kiamat secara cepat. Mengutip sebuah hadits, Habib menegaskan selama masih ada orang tua yang mau beribadah dan bayi yang menyusui ibunya Qiyamat tidakakan dijatuhkan oleh Allah.

Terhadap yang muda, Habib menjelaskan perlu diberi kesempatan menunjukkan kemahiran untuk mengganti peran yang tua. Hal ini sebagai bentuk kasih sayang kepada yang muda supaya mampu membentuk generasi penerus yang sudah memiliki kesiapan dan pengalaman.

“Bila yang muda memiliki keinginan baik kita hargai sehingga bisa maju dan yang tua merestui atau mendoakan. Termasuk kita memperingati haul KHR Asnawi ini juga untuk menghormati orang yang mempunyai kelebihan ilmu,akhlak maupun kejiwannya guna meraih keberkahan untuk kita,” tandasnya lagi.

Habib Umar yang menyampaikan ceramahnya dengan nada kocak ini juga menyinggung prilaku masyarakat saat pemilu kemarin memilih calon legislatif karena adanya uang. Menurutnya, sikap demikian tidak baik karena akan melahirkan prilaku politisi yang duduk menjadi anggota DPR/DPRD melakukan penyelewengan.

“Mereka yang duduk di DPR nanti yang dilakukan pertama kali tentu mencari sauran atas uang yang dibagikan kepada anda semua. Sehingga tidak menutup kemungkinan mereka caleg nanti akan bertindak korupsi melalui proyek-proyek pembangunan,”tandasnya lagi.

Pengajian yang dihadiri ribuan jamaah dari Kudus dan daerah lain ini menghadirkan juga KH Abdul Qoyyum Mansur (Lasem) yang berceramah sebelum Habib Umar. Pengajian ditutup dengan doa yang dipimpin Habib Ja’far al Kaff. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Makam, Tokoh Haedar Nashir

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan!

Kudus, Haedar Nashir. Pada Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Jawa Tengah Rabu (24/7) pagi tadi, Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengingatkan jangan suka bercanda (guyon) kebablasan yang hanya mengumbar kebohongan. Karena hal tersebut bisa berakibat hati menjadi keras dan fasik.

“Kalau guyon maton diperbolehkan saja, tetapi kalau guyon yang membohongi untuk mengundang tawa belaka itu tidak baik,” katanya saat menerangkan ayat 15- 20 Surat Al-Hadid Juz 27.

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan!

Ulama kharismatik yang biasa disapa Mbah Sya’roni ini menjelaskan bahwa ayat 15 Surat Al-Hadid menerangkan sikap para sahabat Muhajirin yang bercanda berlebihan saat menerima sambutan luar biasa dari sahabat Ansor (sahabat yang sudah mukim di Madinah).

Haedar Nashir

“Kaum Muhajirin diingatkan supaya tidak meniru orang Yahudi yang senang guyon sehingga menjadi fasik sampai lupa kitab Taurat dan Injil,” katanya menerangkan ayat selanjutnya.

Haedar Nashir

Nabi Muhammad, tutur mbah Sya’roni, suka bercanda namun gaya dan materi yang disampaikan tidak pernah bohong. Dikisahkan, Nabi Muhammad menyapa seorang perempuan tua yang selalu menyapu jalan menuju masjid yang sering dilaluinya. Nabi bertanya alasan perempuan tua menyapu jalan itu, sang perempuan menjawab, ingin masuk surga bersama Nabi. 

“Nabi menjawab dengan canda bahwa di surga tidak ada nenek-nenek seperti ibu. Sang perempuan tua itu menangis. Lalu Nabi menyahuti lagi, di surga itu perempuan tua-tua akan menjadi muda lagi. Jadi, ibu tetap masuk surga. Sang nenek tadi bisa tersenyum lega,” cerita Mbah Sya’roni mencontohkan. 

Diterangkan ayat selanjutnya, meskipun banyak orang yang lupa akibat guyonan berlebihan, Allah bisa mengubah kembali menjadi khusuk sehingga ingat kembali kepada Allah maupun membaca Al-Qur’an. 

“Makanya, guyon ya guyon tapi yang maton. Jangan kebablasan. Lebih baik untuk dzikir atau membaca Al-Qur’an,” tegas mbah Sya’roni dalam bahasa Jawa.

Mbah Sya’roni juga menerangkan hidup di dunia adalah permainan, kesenangan, perhiasan untuk kebanggaan manusia belaka. Banyak harta dan anak, merupakan kesenangan di dunia yang hanya sementara. 

“Oleh karenanya kita harus berusaha menggunakan harta benda kita untuk kebaikan termasuk berinfak juga,” ajaknya lagi kepada  ribuah jamaah yang memenuhi ruangan dan halaman masjid Menara Kudus.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Bahtsul Masail, Sholawat Haedar Nashir

Minggu, 11 Oktober 2015

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia

Oleh R. Ahmad Nur Kholis

Sejarah Nusantara mengatakan kepada kita bahwa Islam di Indonesia lebih menonjol penyebarannya dengan menggunakan budaya sebagai media utama. Meskipun tidak mengalami perkembangan yang berarti selama lebih kurang 500 tahun, namun kemudian terjadi secara massif di masa wali songo.

Moderatisme, toleransi dan sikap tawazun (penuh pertimbangan) dalam kehidupan sosial setidaknya menjadi kunci sukses para Wali Songo itu. Meskipun perkembangannya juga dipengaruhi kondisi politik, namun praktis bisa dikatakan bahwa Islam berkembang dengan pesatnya tampa menimbulkan pertumpahan darah sedikitpun.

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia

Pada masa para wali ini, Islam kemudian berkembang sedemikian rupa hingga membentuk sebuah institusi sendiri yang mengatur sendi kehidupan masyarakat. Hal ini ditandai dengan beridirnya kesultanan Demak yang menggunakan Islam sebagai konstitusinya. Hukum Islam digali dari berbagai referensi kitab fiqih abad pertengahan khususnya madzhab Syafi’i.

Pada masa berikutnya, agama nasrani datang bersamaan dengan kolonialisme negara-negara Eropa. Pada masa inilah maka kondisi perubahan peta politik Islam di Nusantara mulai terjadi. Kolonial Belanda telah memasangkan pengaruhnya di Nusantara dan relatif berhasil dalam memecah belah politik Islam.

Bersamaan dengan itu, pada sekitar tahun 1700-an datanglah ke Indonesia paham Islam puritan Wahabi yang dibawa dari timur tengah. Sikapnya yang begitu ekstrim terbukti telah mengakibatkan perang saudara di Nusantara yang kemudian dimanfaatkan oleh penjajah. Hal demikian ini membuat politik Islam semakin melemah. Maka secara politis semakin berkuasalah penjajah di bumi nusantara.

Haedar Nashir

Hal demikian ini membuat Belanda mampu memasang sebuah konstitusi yang secara lambat laun kemudian melemahkankonstitusi islami yang telah dibangun sejak masa sebelumnya. Dampak logisnya, kondisi demikian telah mampu sedikit demi sedikit telah mampu menggeser pola hidup Islami masyarakat yang sejak sebelumnya telah dilaksanakan mereka secara sistematis.?

Memang bisa dikatakan bahwa para Wali Songo telah mampu mengislamkan masyarakat Islam dan Islam sebagai agama menjadi dipeluk oleh sebagian besar warga negara Indonesia. Namun jika membicaakan kualitas keislaman dalam arti ketaatan beragama secara penuh, maka prosentasenya berbeda-beda. Hal inilah yang mendorong Greetz dan Feillard membagai masyarakat Islam menjadi abangan dan santri. Bahwa Islam abangan adalah Islam yang tidak begitu taat dalam menjalankan syariat dan santri adalah yang lebi taat.?

Dalam menyikapi hal ini, kalangan Islam di Indonesia telah berbeda-beda dalam gayanya. Beberapa diantara ummat Islam menginginkan sistem Islam kembali digunakan secara formal. Kelopok ini kemudian mati-matian berjuang dari atas. Kelompok yang lain memilih perjuangan dalam menyadarkan masyarakat bawah dalam beragama Islam. Meskipun berbeda gaya, namun tujuannya sama, yakni dakwah, dalil yang digunakan pun juga sama yakni, Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Jelasnya, bagaimana Islam mampu dihayati oleh masyarakat. Contoh Kasus gerakan Islam yang ditampilkan organisasi-organisasi seperti Syarikat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan Masyumi dapat dijadikan contoh dalam kasus ini.

Pasca kemerdekaan, politik Islam menjadi tolok ukur yang paling mudah untuk dijadikan ukuran seberapa kuantitas santri dan abangan di Nusantara setelah dakwahnya yang berlangsung selama ratusan tahun. Dari sudut pandang politis, Islam terpecah setidaknya ke dalam dua kelompok besar yang pada mulanya bersatu. Kelompok Islam yang mengaku lebih progresif kala itu bergabung dalam Masyumi, sedangkan Islam pesantren (yang notabane-nya dianggap lebih kolot) berada dalam NU. Secara kuantitas ketika itu, seandainya bersatu maka Islamlah pemenangnya (Masyumi 20%, NU 18% disamping PNI 22% dan PKI 14%). Namun karena terpecah menjadi dua maka hal tersebut tidak terjadi.

Haedar Nashir

Pada masa kemudian, peran politis NU menjadi semakin melemah bahkan sampai saat ini. Di mana dalam pandangan penulis, keadaan itu disamping disebabkan peran pemerintah dalam menekan Islam, juga disebabkan oleh keributan di antara ummat Islam sendiri.

Bahwasanya Islam sebagai kekuatan budaya di Indonesia adalah dapat dipercaya meskipun secara formal tidak dipakai sebagai konstitusi negara. Namun kekuatan budaya ini harus senantiasa diimbangi dengan proses institusionalisasi di sisi lain yang dilakukan setahap demi setahap. Para elit muslim selayaknya sudah harus memikirkan hal ini. Hal demikian ini karena sudah menjadi sunnatullah bahwa kondisi kehidupan dunia ini yang karena pengaruh modernitas, budayanya semakin tergerus dan mengalami degradasi. Di sinilah maka proteksi dari sebuah konstitusi menjadi diperlukan.?

Ada yang mengatakan bahwa, “Dalam sebuah sistem yang baik, orang jahat diajak menjadi baik. Sedangkan dalam sistem yang jelek, orang baik diajak menjadi jahat.” Dalam hemat penulis, Islamlah sistem yang baik itu. Oleh karena Fiqih Islam tidak sebagaiman hukum sekuler yang semata-mata bertumpu pada kondisi sosial masyarakat belaka, namun juga diwarnai oleh campur tangan Tuhan.

Demikianlah maka perntanyaannya kemudian, bisakah para elit Islam mampu berpikir di manakah dia harus mengedepankan perbedaannya dengan kelompok Islam yang lain. Dan dimana pula ia harus bersatu dalam sebuah ikatan Ukhuwwah Islamiyah.

Nahdlatul Ulama sejak tahun 1985 telah merumuskan konsep persatuan ini kedalam 3 (tiga) bentuk, yakni Ukhuwah Islamiyah (Pesatuan Islam), Ukhuwah Wathaniyah (Persatuan Kebangsaan), dan Ukhuwah Basyariyah (Persatuan Kemanusiaan). Namun apakah ketiga prinsip ini mudah dalam tataran praktik untuk membantuk Ummatan Wahidah, nampaknya ini masih menjadi PR besar umat Islam khususnya para elitnya.

Ketidaksadaran akan hal ini hanya akan membuat penghayatan masyarakat akan Islam sebagai bagian hidupnya semakin lama semakin berkurang. Sungguh berat rasanya mengemban amanat dakwah. Tapi hal inilah yang menjadikan kita umat Islam sebagai ummat terbaik (Khaira Ummah).

Penulis tinggal di Karangploso, Malang, Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir