Sabtu, 29 Oktober 2016

Bersama BNN, Pelajar NU Siap Perangi Narkoba

Jakarta, Haedar Nashir. Ikatan Pelajar Nahlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) berkomitmen turut memberantas narkoba di kalangan pelajar.

Komitmen ini diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman antara IPNU, IPPNU, dan BNN di aula lantai 8 gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (21/2). Penandatanganan dilakukan Ketua PP IPNU Khairul Anam HS, Ketua PP IPPNU Farida Farichah, dan Deputi Bidang Pencegahan BNN Yappi Manafe.

Bersama BNN, Pelajar NU Siap Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama BNN, Pelajar NU Siap Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama BNN, Pelajar NU Siap Perangi Narkoba

Anam mengapresiasi ajakan BNN untuk bersama-sama mencegah penyalahgunaan narkoba. Dengan melibatkan 412 pimpinan cabang aktif yang tersebar di 30 wilayah, kerja sama ini menjadi momentum positif bagi gerakan anti-narkoba.

Haedar Nashir

Farida menambahkan, selain jumlah kader yang ditaksir mencapai 3 juta anggota, IPPNU kini juga aktif di sedikitnya 200 sekolah. ”Ini merupakan potensi. Semoga kerja sama ini tak berhenti pada slogan saja, tapi harus disertai program dan kerja konkret. Dan IPPNU siap menjalankan ini,” tegasnya.

Yappi, atas nama Ketua BNN, mengatakan, IPNU dan IPPNU merupakan institusi yang tepat bagi BNN untuk menyinergikan peran, khususnya dalam upaya pencegahan penyalahgunaan di lingkungan pendidikan yang jumlahnya terus meningkat.

Haedar Nashir

”Total kerugian, baik sosial ataupun ekonomi, dari barang haram ini mencapai 48,2 triliun. Itu untuk tahun 2011. Belum lagi dampak buruk pada kasusu hukum dan kesehatan,” paparnya.

Dalam kesempatan ini, Ketua Penguru Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Iqbal Sulam, Sekretaris Jendral PBNU H Marsdi Syuhud, Deputi Bidang Rehabilitasi BNN Rusman Suria Kusuma, dan Direktur Kerja Sama Charles Victor Sitorus, ikut menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax Haedar Nashir

Jumat, 28 Oktober 2016

Minta Saran Ulama, Bupati Subang Kunjungi PCNU

Subang, Haedar Nashir. Hj Imas Aryumningsih, Bupati Subang, Jawa Barat meminta saran dan masukan dari ulama terkait kinerja pemerintah agar pemerintahannya yang akan segera berakhir bisa husnul khotimah. 

Minta Saran Ulama, Bupati Subang Kunjungi PCNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Minta Saran Ulama, Bupati Subang Kunjungi PCNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Minta Saran Ulama, Bupati Subang Kunjungi PCNU

Untuk itu, ia beserta rombongan kunjungi kantor PCNU Subang. Dalam kunjungan tersebut Bupati disambut oleh jajaran Mustasyar, Syuriyah, Tanfidziyah, Banom dan Panitia Hari Santri Nasional, Rabu (13/9).

"Kami sampaikan terima kasih karena selama ini NU turut berpartisipasi dalam pembangunan di Kabupaten Subang, pemerintah dan ulama harus bersinergi dalam keberlangsungan pemerintahan di Kabupaten Subang," ujarnya.

Ditambahkannya, saat ini di wilayah pesisir Subang sedang berlangsung proses pembangunan pelabuhan internasional yang akan berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, budaya di masyarakat. 

Haedar Nashir

Dalam menghadapi program tersebut para ulama diminta untuk terlibat dalam proses pembangunan psikis dan mental masyarakatnya.

Sementara itu, KH Musyfiq Amrullah, Ketua PCNU Subang menyampaikan beberapa saran dan pendapat diantaranya mengharapkan agar Subang menjadi daerah relijius dan mempunyai daya tarik masyarakat luar sehingga mampu mengundang wisatawan dan dapat meningkatkan Pendapatan Daerah.

"Kami juga bangga karena Subang dapat penghargaan adipura," tambahnya.

Selain itu, dalam pertemuan selama kurang lebih 1 jam tersebut disampaikan bahwa PCNU Subang akan mengadakan hajat besar yaitu peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada tanggal 22 Oktober.

Diharapkan Pemerintah Daerah turut aktif dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut karena HSN sudah menjadi hari nasional yang mesti diperingati oleh pemerintah. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Syariah, Khutbah Haedar Nashir

Kamis, 27 Oktober 2016

Peduli Nelayan, GP Ansor Gerokgak, Bali Bentuk Banser Maritim

Buleleng, Haedar Nashir?

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali membentuk satuan khusus Barisan Ansor Maritim (Baritim) sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan pesisir, baik alam dan manusianya.

Ketua PAC, Abdul Karim Abraham mengatakan, pembentukan Baritim pada Ahad (5/3) bukan tanpa alasan, sebab kondisi geografis Kecamatan Gerokgak merupakan wilayah pesisir utara Bali sepanjang kurang lebih 60 km, membentang dari barat ke timur. Pertimbangan yang lain juga, karena mayoritas umat Muslim berada di wilayah pesisir.?

Peduli Nelayan, GP Ansor Gerokgak, Bali Bentuk Banser Maritim (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Nelayan, GP Ansor Gerokgak, Bali Bentuk Banser Maritim (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Nelayan, GP Ansor Gerokgak, Bali Bentuk Banser Maritim

Ia menginginkan Baritim ini bisa menjembatani keinginan nelayan dengan pihak lain, termasuk pemerintah dan investor.

“Nelayan di wilayah Kecamatan Gerokgak rata-rata muslim Nahdliyin, GP Ansor berkeinginan untuk bisa mengawal tatkala ada persolan nelayan dengan pihak luar, seperti contoh dengan pelaku wisata dan industri yang terkadang merugikan nelayan tradisional,” ungkapnya di Buleleng (7/3).

Karim mencontohkan kasus nelayan yang harus terusir karena wilayah pesisirnya dibangun hotel-hotel. Dan yang paling parah, dampak laut karena limbah perusahaan seperti PLTU di Celukanbawang.

Haedar Nashir

“Untuk langkah awal, Baritim akan menginventarisir masalah masalah yang dihadapi nelayan di setiap desa, kemudian kita akan coba mencari jalan keluarnya,” tegasnya.?

Pembentukan Baritim ini ditandai dengan clean up sampah plastik di pulau Menjangan dan pengibaran Bendera Ansor dan Banser di bawah laut Bali.(Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Syariah, News Haedar Nashir

Senin, 24 Oktober 2016

Mudji Sutrisno: Jadi Presiden Terlalu Kecil bagi Gus Dur

Jakarta, Haedar Nashir. Kehidupan Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tak hanya berkesan di kalangan umat Islam. Sebuah pujian pun datang dari rohaniawan Katolik Prof Dr Mudji Sutrisno. Ia menilai, Gus Dur sanggup mengayomi semua golongan.

Mudji Sutrisno: Jadi Presiden Terlalu Kecil bagi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Mudji Sutrisno: Jadi Presiden Terlalu Kecil bagi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Mudji Sutrisno: Jadi Presiden Terlalu Kecil bagi Gus Dur

“Gus Dur mengemas Islam menjadi Islam yang ramah, humanis, dan humoris. Bahkan, menurut saya, (jabatan) presiden itu terlalu kecil bagi seorang Gus Dur, mestinya ya tetap jadi guru bangsa, sebab itu melebihi status apapun,” ujar budayawan ini.

Pernyataan tersebut Mudji lontarkan pada acara peluncuran buku “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” karya Muhammad AS Hikam di Function Room, Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Ahad (22/9). Selain penulis buku, Hadir pula? Ketua PP Lebumi Zastrouw al-Ngatawi sebagai narasumber.

Haedar Nashir

Mudji berpendapat, kelebihan Gus Dur yang lain adalah komitmennya dalam memperjuangkan demokrasi sebagai sistem politik yang mampu melindungi minoritas maupun mayoritas.

Dalam kesempatan yang sama, Zastrouw menyebut Gus Dur sebagai komunikator ulung yang mampu memahamkan pemikiran keagamaan yang sebetulnya rumit menjadi mudah, dan menjelaskan permasalahan yang dianggap sederhana oleh orang lain secara ilmiah dan rasional.

Haedar Nashir

“Gus Dur kalau dalam istilah saya itu Amfibi Sosial, yaitu mampu hidup dan menyesuaikan diri dan meloncat-loncat di beberapa alam, dari alam bawah ke alam atas, dari alam imajiner ke alam empirik,” imbuhnya.

Zastrouw menilai, Gus Dur merupakan sosok yang tidak pernah mendikotomikan antara tradisionalitas dengan modernitas. “Modernitas yang dianggap superior, di mata Gus Dur adalah sesuatu yang biasa, tradisionalitas yang dipandang secara pegoratif dan seolah-olah disepelakan diangkat oleh Gus Dur ke permukaan,” katanya. (Fathoni/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Humor Islam, Pesantren Haedar Nashir

Kamis, 20 Oktober 2016

IPNU Pesantren Cipasung Pelopori Gerakan Cipasung Clean and Fresh

Tasikmalaya, Haedar Nashir - Komisariat IPNU Pesantren Cipasung bekerja sama dengan PAC IPNU Singaparna Kabupaten Tasikmalaya mengawali gerakan Cipasung Clean and Fresh di sekitar Kompleks Pesantren Cipasung, Sabtu (20/02). Mereka melakukan pembersihan lingkungan dari pelbagai sampah.

Aksi ini juga diikuti beberapa komunitas yang digerakkan oleh IPNU Singaparna seperti Slankers,Orang Indonesia (OI), Sanggar Gamma, Sanggar Kobong, dan Komunitas Bangkong Teurab.

IPNU Pesantren Cipasung Pelopori Gerakan Cipasung Clean and Fresh (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Pesantren Cipasung Pelopori Gerakan Cipasung Clean and Fresh (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Pesantren Cipasung Pelopori Gerakan Cipasung Clean and Fresh

Gerakan ini memuat aksi bersih-bersih yang dimulai dari Kompleks Pesantren Cipasung kemudian sekitaran pondok sampai ke Jalan Muktamar NU XXIX.

Menurut Koordinator Aksi Cipasung Clean and Fresh Muhammad Najmi, gerakan ini merupakan bentuk komitmen IPNU Cipasung untuk pentingnya menjaga alam.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

“Sekarang ini banyak anak muda yang gengsi dan malu bila berdekatan dengan sampah-sampah atau malah sekarang banyak juga yang terkena virus hedonis yang hanya berpikir untuk dirinya sendiri,” kata Najmi.

Kami berusaha memberi contoh dan mengajak anak muda supaya bisa peduli lingkungan agar kita juga merasakan sangat enak dan betah berada di tempat yang bersih dan sehat, ujar Najmi. (Husni Mubarok/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Meme Islam Haedar Nashir

Selasa, 11 Oktober 2016

Tadrij al-Adani, Karya Murid Syekh Nawawi Banten di Bidang Ilmu Sharaf

Kitab Hasyiah Tadrij al-Adani karangan seorang ulama Nusantara ini telah banyak dikaji di Mesir, Turki, dan Iran. Disayangkan, karya momumental ilmu sharaf ini belum mendapat perhatian serius di pesantren maupun perguruan tinggi Islam di Indonesia.Satu lagi kitab langka karangan ulama Nusantara yang menjadi rujukan penting dalam bidang sintaksis Arab (ilmu sharaf): “Hasyiah Tadrij al-Adani ila Qira’ah Syarh al-Sa’d al-Taftazani ‘ala Tashrif al-Zanjani”, karangan Syaikh ‘Abd al-Haqq ibn ‘Abd al-Mannan al-Jawi (w. 1324 H/1906 M), cucu sekaligus murid Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi.

Tadrij al-Amani merupakan hasyiah (catatan-komentar panjang) atas syarh (penjelasan) al-Taftazani (w. 792 H/ 1390 M) atas matn (teks) al-Zanjani (w. 655 H). Ketiganya (baik matn, syarh, atau pun hasyiah) sama-sama terhitung sebagai kitab terpenting dalam bidang ilmu sharaf. Tadrij al-Amani untuk pertama kalinya dicetak di Maktabah ‘Isa al-Babi al-Halabi di Kairo pada tahun 1348 H (1929 M), atau 23 tahun selepas kewafatan sang pengarang (Syaikh ‘Abd al-Haqq ibn ‘Abd al-Mannan al-Jawi).

Tadrij al-Adani, Karya Murid Syekh Nawawi Banten di Bidang Ilmu Sharaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Tadrij al-Adani, Karya Murid Syekh Nawawi Banten di Bidang Ilmu Sharaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Tadrij al-Adani, Karya Murid Syekh Nawawi Banten di Bidang Ilmu Sharaf

Menimbang nilai penting kitab ini, ia pun banyak dikaji dan disunting (dirasah wa tahqiq) oleh banyak cendikiawan, sekaligus mengalami cetak ulang berkali-kali di berbagai negara Muslim (bukan hanya di negara Arab), seperti di Iran (Kitabkhane Arumiye, Qum, 1338 H; Kitabkhane Farus, Qum, 1994 M; Dar Zain al-‘Abidin, Qum, 2015 M), dan juga di Turki (al-Maktabah al-Hanafiyyah, Istanbul, tt; Maktabah Saida, Diyarbakir, 1436 H; Dar Nûr al-Shabah, Istanbul, 2015 M).

Syaikh ‘Abd al-Haqq al-Jawi menghimpun dan mensarikan kajian-kajian terpenting dalam ilmu sharaf, memilih teori sintaksis paling baik, sekaligus menyortir pendapat paling akurat. Karena itulah, dalam halaman akhir versi cetakan edisi pertama kitab tersebut (al-Halabi, Kairo, 1929 M), disebutkan bahwa: “kitab ini sangat kaya materi, lugas bahasanya, menghimpun kajian-kajian penting yang banyak terpisah dan tercecer dalam bidang ilmu ini (sharaf/ sintaksis Arab), disertai catatan dan analisa yang tajam, yang menunjukkan akan banyaknya membaca (sang pengarang), luhur ilmunya, dan luas wawasannya”.

Haedar Nashir

Terdapat lima kitab penting ilmu sharaf yang dijadikan rujukan utama Syaikh Syaikh ‘Abd al-Haqq al-Jawi dalam menulis karyanya ini, yaitu (1) Hasyiah al-Nashir al-Laqqani ‘ala Syarh al-Taftazani, (2) Syarh al-Manshûr al-Thablawi ‘ala Tashrif al-Zanjani, (3) Syarh al-Fushûsh karangan Syaikh Nawawi al-Bantani, (4) Hasyiah al-Dadah Junki ‘ala Syarh al-Taftazani (Dede Cun, ulama Turki-Ottoman), dan (5) Hasyiah al-‘Allamah Qasim al-Ghazzi ‘ala Syarh al-Taftazani.

Haedar Nashir

Dalam asumsi saya, karya ini ditulis tak lama setelah kewafatan Syaikh Nawawi Banten (w. 1316 H/ 1898 M), kakek sekaligus guru dari Syaikh ‘Abd al-Haqq al-Jawi. Ketika menyinggung rujukan ke-3, yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi, Syaikh ‘Abd al-Haqq al-Jawi mengatakan: “yang mana zaman pun menangis karena kepergiannya, dan ‘arasy al-Mannan pun terguncang karena kematiannya, seorang alim pada masanya, kebanggaan abadi; guruku sekaligus teladanku, al-Marhûm Syaikh Muhammad Nawawi ibn al-Marhûm Syaikh ‘Umar al-Jawi al-Bantani al-Tanari”.

Kitab Hasyiah Tadrij al-Adani karangan seorang ulama Nusantara ini telah (catat: telah) banyak dikaji, disunting, dan diterbitkan di pelbagai negara Muslim (Mesir, Turki, dan Iran). Yang justru disayangkan, karya momumental ilmu sharaf ini justru belum (catat: belum) mendapat perhatian serius (baik inventarisasi naskah kitab, kajian, suntingan, dst) dari sesama anak bangsanya (Nusantara) dan anak kalangannya (santri).

Padahal, dalam kata pengantar kitab ini, Syaikh ‘Abd al-Haqq al-Jawi mengatakan: “aku menjadikan kitab ini sebagai pengingat bagiku, juga bagi anak-anak sebangsaku, untuk memudahkan memahami Syarh al-Taftazani atas Matn Tashrif al-Zanjani”.

Kenyataan di atas tentu sangat pahit dan membuat sesak dada kita.

Selain mengarang Hasyiah Tadrij al-Adani, Syaikh ‘Abd al-Haqq al-Jawi juga mengarang al-Aqwal al-Mulhaqat ‘ala Syarh al-Waraqat dalam bidang uhsul fikih. Kitab ini masih berupa naskah-manuskrip yang tersimpan di Perpustakaan Kementrian Wakaf Saudi Arabia di Mekkah. Naskah-manuskrip tersebut menunggu sentuhan tangan “santri-filolog” dari Nusantara, tanah air dan bangsa dimana Syaikh ‘Abd al-Haqq al-Jawi berasal, untuk segera mengkaji dan menyuntingnya (dirasah wa tahqiq). (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Internasional, Ulama Haedar Nashir

Senin, 10 Oktober 2016

Kapan dan Dimana Pertolongan Allah Datang, Itu Rahasia

Pringsewu, Haedar Nashir. Setiap perjuangan bisa dipastikan akan menghadapi berbagai macam cobaan dan ujian. Namun dalam berjuang kita harus tetap optimis untuk meraih tujuan yang ditargetkan.?

"Jika kita pesimis dalam berjuang maka sama saja kita mengecilkan Allah SWT," demikian tegas Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu H. Sujadi saat menjelaskan tafsir surah An-Nasr pada Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (18/12).

Kapan dan Dimana Pertolongan Allah Datang, Itu Rahasia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapan dan Dimana Pertolongan Allah Datang, Itu Rahasia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapan dan Dimana Pertolongan Allah Datang, Itu Rahasia

Abah Jadi, begitu beliau biasa disapa, lebih lanjut mengisahkan perjuangan Nabi saat melakukan Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) yang merupakan asbabun nuzul atau turunnya surat tersebut. Hasil perjuangan pun terlihat berkat pertolongan Allah dengan kekalahan orang-orang musyrik dan kemenangan di pihak Nabi.

"Setelah itu orang-orang masuk agama Allah secara beramai-ramai dan berduyun-duyun, bukan perseorangan sebagaimana halnya pada permulaan dakwah," katanya.

Haedar Nashir

Dalam kisah Fathu Makkah tersebut, ujarnya, juga banyak sekali hikmah yang bisa dipetik umat Islam dalam berjuang menegakkan Agama Allah. "Setiap perjuangan selalu ada godaan. Godaan bisa berupa teror, iming-iming, kabar-kabar yang tak jelas ataupun penghianatan," katanya.

Ia mengimbau kepada jamaah untuk senantiasa tidak gentar dengan godaan dan cobaan dalam berjuang. "Kita harus optimis dalam perjuangan. Jangan sampai pesimisme menghinggapi diri kita," tegasnya.

Abah Jadi juga mengingatkan agar dalam perjuangan senantiasa menata hati dengan memurnikan niat dan meyakinkan diri bahwa yang berhak menentukan kesuksesan adalah Allah SWT. Mengutip surat Al-Baqarah ayat 249, Allah telah menegaskan bahwa berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.

Haedar Nashir

"Namun kapan dan dimana pertolongan Allah akan datang kepada kita semua adalah rahasia dan hanya Allah SWT yang tahu," katanya menjelaskan tafsir dengan rujukan Kitab Tafsir Jalalain. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir