Selasa, 24 Februari 2015

Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan

Gunung Kidul, Haedar Nashir. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Semin Kabupaten Gunung Kidul menggelar lomba tilawatul Qur’an, Ahad (3/1). Perlombaan ini melibatkan 326 santri TPA dan TPQ sekecamatan setempat di Kompleks SMP Pembangunan Semin.

Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan

Sebanyak 12 macam lomba difasilitasi pelajar NU Semin. Masing-masing perlombaan, peserta memperebutkan trofi juara 1-3 dan juara umum.

Ketua Panitia MTQ Alan Nursaid mengucapkan banyak terimakasih kepada para donatur yang sudah membantu terlaksananya kegiatan MTQ baik itu bantuan moral maupun bantuan material. Ia juga berterima kasih kepada rekan dan reknita panita yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk menyukseskan acara MTQ sekecamatan Semin.

Haedar Nashir

“Musabaqoh ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh IPNU dan IPPNU Semin yang kebetulan pada tahun ini bebarengan dengan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Ketua IPNU Semin Azis Yulianto.

Haedar Nashir

Rais Syuriyah MWCNU Semin KH Mustajib Muhyi mengapresiasi atas terlaksananya kegiatan ini. Ia berharap IPNU dan IPPNU Semin kelak menjadi generasi yang akan meneruskan estafet organisasi dan perjuangan MWCNU Semin. (Khairul Rasyid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Pahlawan Haedar Nashir

Minggu, 22 Februari 2015

Empat Kriteria Rais Aam Ideal

Rais aam merupakan pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama, segala petuah dan keputusannya harus dihormati oleh warga NU. Dengan demikian, tugas yang diembannya menjadi sangat berat. Karena itulah, dibutuhkan figur yang mumpuni untuk mengemban amanah tersebut. Berikut pikiran dari KH Makruf Amin, tokoh senior NU tentang kriteria yang perlu dimiliki oleh rais aam.

Menjelang Muktamar NU ke 33 di Jombang, semakin banyak yang memperbincangkanrais ‘aam yang ideal. Bagaimana menurut kiai?. Yang harus difahami, rais ‘aam itu bukan hanya sekedar jabatan kepengurusan tertinggi di jam’iyah Nahdlatul Ulama, tapi merupakan maqam atau kedudukan khusus untuk seseorang yang memiliki kualifikasi yang memadai. Karena itu, tidak boleh diperebutkan, tapi harus dicari seseorang yang memiliki kualifikasi seperti itu, yang sering saya sebut sebagai shahibul maqam. Atau kalau kesulitan untuk mencari seseorang dengan kriteria ideal, maka yang mendekati, atau al- aqrab ila al-maqam. 

Empat Kriteria Rais Aam Ideal (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Kriteria Rais Aam Ideal (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Kriteria Rais Aam Ideal

Menurut kiai apa saja yang perlu dilakukan untuk mencari seseorang yang memiliki kualifikasi sebagai rais ‘aam?. Ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu kriteria dan mekanisme. Menurut hemat saya, kriteria ideal seorang rais ‘am adalah seperti KH Wahab Hasbullah. Seperti yang pernah saya sampaikan di forum Munas Alim Ulama NU tahun 2015, paling tidak ada empat kriteria rais ‘aam.

Haedar Nashir

Pertama, harus faqih. Artinya harus mendalam penguasaan keagamaannya, terutama dalam ilmu fiqh. Karena rais ‘aam lah yang mengarahkan jalannya organisasi tertinggi, termasuk dalam hal keagamaan. Bagaimana seseorang bisa menjadi pengarah kalau tidak faqih. 

Haedar Nashir

Kedua, harus munaddhim. Artinya harus faham dalam mengelola organisasi. NU merupakan organisasi besar dan rais ‘aam merupakan nahkoda yang membawa organisasi ini ke mana arahnya. Oleh karena itu, harus memiliki pemahaman dan pengalaman yang cukup untuk dapat menjalankan roda organisasi. Karena tanfidziyah itu hanya pelaksana tugas. Sehingga rais ‘aam harus memahami tata laksana manajemen organisasi.

Yang kedua dan ketiga kiai?. Ketiga, harus muharrik, atau penggerak, karena NU merupakan gerakan ulama untuk memperbaiki umat dan negara atau istilah saya harakah al-ulama fi ishlah al-ummah wa ad-daulah. Karena itu rais ‘aam harus menjadi seperti dinamo yang bisa menggerakkan seluruh jaringan di NU. Tidak orang yang hanya bisa bergerak sendiri tapi tidak menggerakkan apa-apa, seperti gasing. 

Keempat, harus mutawarri’, atau orang yang terjaga, baik pergaulannya, perilakunya, makanannya, politik, dsb. 

Apa maksud kiai dengan harus memerhatikan mekanisme?

Begini. Karena posisi rais ‘aam yang seperti itu, maka mekanisme pemilihannya juga harus diperhatikan. Menurut saya pemilihan rais ‘aam dengan mekanisme pemilihan langsung tidak tepat. Yang paling aman adalah melalui cara ahlul halli wal aqdi. Yaitu beberapa ulama yang memenuhi kriteria memilih figur yang memiliki kriteria di atas (shahibul maqam), atau yang mendekati (al- aqrab ila al-maqam), sehingga layak  dipilih menjadi rais ‘aam. 

Kiai, banyak yang mempertanyakan kenapa mekanisme ahlul halli wal ‘aqdi baru dilaksanakan sekarang?. Memang banyak pertanyaan kenapa baru saat ini dipakai mekanisme ahlul halli wal a’qdi, sedang zaman dulu, zaman Mbah Wahab dan Mbah Bisri tidak pakai AHWA, tapi langsung. Perlu dijelaskan, bahwa saat itu suasananya sangat kondusif. Cabang-cabang yang mengikuti muktamar semua masih jernih. Karena itu pilihan mereka tidak pernah melenceng. Pilihan rais ‘aam tidak pernah melenceng dari Mbah Wahab dan Mbah Bisri. Baru sekali di muktamar Bandung tertukar, sehingga suara Mbah Bisri lebih banyak dari Mbah Wahab, tapi Mbah Bisri tidak mau. Maka yang menjadi rais ‘aam tetap Mbah Wahab dan Mbah Bisri menjadi wakil rais ‘aam. Mekanisme ahlul halli wal ‘aqdi baru dipakai di muktamar Situbondo, karena ada kondisi mendesak (lil-hajah). Saat itu Pak Idham telah terpilih sampai lima periode. Kalau itu terus terjadi akan menghambat kaderisasi, maka pemilihan pakai mekanisme ahlul halli wal ‘aqdi.

Jadi menurut kiai kondisi saat ini sama seperti Muktamar Situbondo?. Menurut saya, kondisi saat ini bukan hanya sekedar masuk kategori lil-hajah, tapi lebih dari itu, yaitu lihajatin massah, karena ada kebutuhan yang sangat mendesak. Karena alasannya lebih substansial daripada alasan muktamar Situbondo. Dipergunakannya mekanisme ahlul halli wal ‘aqdi adalah untuk menutup pintu politik uang (saddan li bab ar-risywah) yang terjadi dalam muktamar. Atau setidaknya untuk mencegah kemungkinan orang yang tidak shahibul maqam dapat menduduki posisi rais ‘aam. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Cerita, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Kamis, 19 Februari 2015

Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa

Semarang, Haedar Nashir. Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa tingkat Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Jogjakarta, Kamis (1/1) kemarin secara resmi dibuka. Ketua Umum PB PGRI, DR H Sulistiyo yang berkesempatan membuka acara.

Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa

Kejurda yang akan berlangsung hingga 4 Januari itu mengambil tempat di Pondok Pesantren Az-Zuhri Ketileng Semarang.

Saat membuka acara tersebut, Sulistiyo yang juga anggota DPD RI itu mengajak pengurus dan? warga Pagar Nusa untuk terus mengembangkan silat khas warga NU itu. Bahkan PGRI siap diajak kerjasama dengan pengurus Pagar Nusa untuk mengembangkan silat tersebut di sekolah-sekolah. "Kami siap diajak MOU oleh Pagar Nusa," ungkap Sulistiyo.

Haedar Nashir

Dikatakan, saat ini seni beladiri dari perguruan? lain juga sudah masuk di sekolah-sekolah. Pagar Nusa juga bisa menjadi salah satu pilihan di sekolah.

Haedar Nashir

Bahkan, dia menyarankan pengurus agar Pagar Nusa dikembangkan di perguruan tinggi. Kalau Pagar Nusa masuk perguruan tinggi, seperti UIN, IAIN, IKIP atau universitas, akan memiliki dampak cukup bagus bagi pengembangan Pagar Nusa ke depan.

Nantinya, lanjut dia, mahasiswa yang telah lulus bisa mengembangkan Pagar Nusa di lingkungan masing-masing. Kalau ada yang jadi guru, guru tersebut nantinya akan mengembangkan Pagar Nusa kepada murid-muridnya di sekolah masing-masing.

Hadir di acara pembukaan itu antara lain Ketua PWNU NU Jawa Tengah, KH DR Abu Hafsin MA, jajaran pengurus Pagar Nusa wilayah Jawa Tengah dan pengasuh Pondok Pesantren Az Zuhri, Gus Luqman. Selain itu, sekitar 500 pesilat dari dua provinsi secara khidmah mengikuti jalannya upacara pembukaan. (Sholihin Hasan/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Amalan Haedar Nashir

Sabtu, 14 Februari 2015

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan

Subang, Haedar Nashir. Karakter dan jenis musik Indonesia masih dikendalikan oleh media. Tidak salah jika dikatakan seni musik di Indonesia ditentukan oleh media. Media membopong seni musik tersebut.

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan

Demikian disampaikan pentolan grup hadrah pesantren Yafata Deden Muhammad Fauzi Ridwan kepada Haedar Nashir saat di temui di Pesantren Yafata yang beralamat di Desa Marengmang, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (12/3) malam.

“Memang masih banyak musisi yang tetap bergerak tanpa dukungan media, bahkan memang mereka tak peduli media. Seperti pejuang-pejuang musik daerah. Namun akhirnya tidak populer, termasuk hadroh, hentakannya tak dipedulikan. Wal hasil masyarakat menganggap tak ada," keluh Fauzi.

Haedar Nashir

Musik kita, kata Fauzi, itu ditentukan TV. "Dulu waktu ramainya band Ska bermunculan di mana-mana, tapi kini hilang entah ke mana. Kemudian dulu juga ramenya grup band, sama seperti itu juga banyak yang muncul tapi redup lagi, sekarang yang sedang trend kan musik K-Pop, boyband dan Girlband menjamur, tapi sebentar lagi sepertinya akan redup juga,” jelas Fauzi yang juga ketua PAC IPNU Kalijati tersebut.

Melihat fenomena tersebut, santri Pesantren Yafata ini berinisiatif untuk membuat grup musik hadrah. Santri-santri kemudian mengajukan permohonan kepada pengasuh Pesantren Yafata, yang juga Rais PCNU Subang, KH. Moh. Musa Muttaqin, pada tahun 2010 permohonan tersebut dikabulkan.

Haedar Nashir

“Kita tidak ingin mengikuti musik di TV yang menurut saya araraneh, karena nanti kita pasti akan gonta-ganti musik, karena mereka kan melihatnya penontonnya. Kalau banyak yang nonton ya lanjut, kalau tidak ya ganti, kan kalau seperti itu kita tidak istiqomah. Jadi kita milih hadrah saja, Insya Allah kalau hadrah kita bisa istiqomah ditambah lagi kan kita ini di pesantren, hadrah kan identiknya,” paparnya.

Saat ini, personil Grup hadrah tersebut berjumlah 10 orang yang digawangi oleh Deden MFR, Uswanto, Deden MZ, Rijal, Abdul Fatah, Afif, Iqbal, Ilham, Opik dan Cecep, disepakati jadwal latihannya adalah setiap hari Jumat dan atau hari Ahad.

Perlahan tapi pasti, hadrah pesantren Yafata ini mulai dikenal di berbagai daerah dan jam terbang “manggung” mereka sudah lumayan banyak. Tidak sedikit masyarakat yang meminta hadrah Yafata untuk tampil dalam acara walimah, maulidan, rajaban, dan lain sebagainya, bahkan pada bulan Rabi`ul Awal kemarin mendapat juara harapan 1 dalam lomba seni musik yang diadakan oleh Ikatan Remaja masjid Nurul Huda Kecamatan Binong, Subang.

"Alhamdulillah, meski media tidak memperhatikan, masyarakat masih suka mendengarkan. Semoga NU, juga PBNU, selera musiknya tidak ikut media. Artinya apa? Ya minta dukungan, Ishari itu didukung." ujara Fauzi, dengan tegas.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Ahlussunnah Haedar Nashir

Jumat, 13 Februari 2015

Warga NU Madiun Gelar Haul Syuhada, Doa, dan Ikrar Setia NKRI

Madiun, Haedar Nashir



Pada Kamis (12/05) ratusan warga NU kabupaten Madiun tumpah ruah di halaman Monumen Kresek, bangunan pengingat keganasan PKI pada tahun 1948 dan 1965 di Kabupaten Madiun. Acara tersebut dikemas dengan “Haul Syuhada’, Doa Bersama, dan Ikrar Setia NKRI.?

Warga NU Madiun Gelar Haul Syuhada, Doa, dan Ikrar Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Madiun Gelar Haul Syuhada, Doa, dan Ikrar Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Madiun Gelar Haul Syuhada, Doa, dan Ikrar Setia NKRI

Kegiatan tersebut dimaksudkan mengingatkan memori kepada seluruh masyarakat tentang para korban peristiwa berdarah pada masa lalu. Selain itu juga diarahkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh oknum–oknum yang hendak merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rosyidin, penanggung jawab acara mengajak semua warga NU, khususnya Madiun, ikut berbela sungkawa dan mendoakan para syuhada agar arwah diterima di hadirat Allah SWT.?

“Baik dari kalangan NU maupun masyarakat umum yang turut hadir pada agenda sore hari ini agar, mari kita berdoa kepada para syuhada demi setia NKRI telah jadi korban, dan semoga tidak terulang kembali,” kata Gus Rosyidin, dalam sambutannya.

Haedar Nashir

Pihaknya, selaku ketua Ansor Kab Madiun, juga mengajak para pemuda mengisi kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para syuhada dengan membantu pembangunan pemerintah dan menghasilkan karya–karya terbaik yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pada kesempatan haul tersebut, seluruh jamaah melaksanakan Tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh ketua Majelis Dzkir dan Sholawat Rijalul Ansor, Samsul Hadi. Pada akhir acara, seluruh jamaah diminta oleh panitia untuk meminum air asma’ yang telah disediakan. (Ali Makhrus/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Pertandingan Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sabtu, 07 Februari 2015

Ramadhan Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri

Puasa dan amalan sunah di bulan suci Ramadhan jangan dijadikan ritualitas biasa saja. Tapi hendaknya dijadikan momentum bagi setiap muslim, untuk mengintropeksi dan evaluasi diri dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurut Sari Hernawati, mengintropeksi diri tentunya dengan menyadarkan diri sebagai hamba Allah yang telah menempuh kehidupan selama sebelas bulan dengan berbagai aktivitas duniawi. “Namun, apakah aktivitas duniawi itu sudah mengantarkan kita kepada keridhoan Illahi ataukah sekadar memenuhi hawa napsu manusiawi belaka?” kata doktor dari UNNES Semarang ini Rabu (16/6) ketika ditemui Haedar Nashir.

Ramadhan  Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri

Secara kodrati, manusia merupakan mahluk yang paling sempurna karena diberi kelebihan akal dan hawa nafsu oleh Allah SWT. Konteks nafsu di sini, ibarat komponen dalam mobil adalah gas yang mampu mendorong kita dalam melakukan berbagai macam kegiatan muamalah maupun ubudiyah. Sedangkan akal, ibarat rem yang mengendalikan mobil. “Jika mobil dalam bahaya, maka akal akan mengendalikan napsu kita,” tutur istri dari Ali Ansori Khamaluddin.

Haedar Nashir

Mengevaluasi diri dalam bulan Ramadhan, lanjutnya, berarti memaknai apakah ibadah-ibadah yang kita lakukan dibulan ramdhan ini hanyalah sekadar melakukan ritual belaka, tanpa mengambil hikmahnya.

Jangan sampai berpuasa, sekadar hanya mengganti jam makan, ditambah shalat tarawih dan witir yang hanya dianggap sebagai gerakan dimulai takbiratul ihram sampai dengan salam. Hal ini sudah diperingatkan dalam hadits Nabi Muhamad saw, “Betapa banyak mereka berpuasa tanpa memperoleh apapun dari ibadah puasanya kecuali sebuah proses menahan lapar dan dahaga.” (HR. Bukhari). ?

Haedar Nashir

Bulan Ramadhan, kata Sari, selayaknya menjadi bulan untuk menggantikan bulan-bulan yang sebelumnya yang sudah kita lewati dengan pahala-pahala yang berlebih. Kita harus sadar, bahwa Allah SWT memberikan umur manusia yang sangat terbatas dalam ukuran Nabi hanya 63 tahun. Lalu berapa tahun kita maksimalkan untuk ibadah kepada Allah dan berbuat kebaikan terhadap sesama manusia.

Sedangkan di alam barzah, kita akan lebih lama berada disana untuk menunggu perhitungan amalan-amalan kita. Maka saatnya kita manfaatkan bulan ramadhan untuk menambah umur kita dalam beribadah, karena pahalanya dilipatgandakan. “Betapa bahagianya, bila seorang pegawai diberi tambahan gaji ketiga belas dan THR serta uang bonus lainya,” terang ibu dari Uzma Syarifatul Muna Salsabila dan AH Minerva Akram Ansori.

Maka sudah seharusnya kita tidak menyia-nyiakan bulan Ramadhan, sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Bahwa Rasuwlullah Shalallahul Alaihi wa Sallam bersabda, “Telah datang bulan ramdhan, bulan penuh berkah, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka. Didalam bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia rugi” (HR. Nasai, Lafadz Hammad bin Zaid).

“Di bulan mulia ini, mari kita bergembira dan memafaatkan bulan ramadhan ini sebagai sarana untuk intropeksi dan mengevaluasi diri dalam meningkatkan amal ibada kita,” pungkasnya. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Makam Haedar Nashir