Sabtu, 30 April 2016

Hukum Azan dan Iqamah untuk Sembahyang Munfarid atau Sendiri

Assalamu ‘alaikum wr. wb. redaksi bahtsul masail Haedar Nashir yang terhormat. Apa hukumnya mengumandangkan azan atau iqamah ketika ingin melaksanakan shalat fardhu secara sendiri? Terima kasih banyak sebelumnya. Wassalamu alaikum wr. wb. (Asmizanunix)

Jawaban

Hukum Azan dan Iqamah untuk Sembahyang Munfarid atau Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Azan dan Iqamah untuk Sembahyang Munfarid atau Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Azan dan Iqamah untuk Sembahyang Munfarid atau Sendiri

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Azan dan iqamah merupakan ibadah yang dilakukan sebelum shalat dimulai. Keduanya mengandung kalimat-kalimat luar biasa dalam Islam. Di dalamnya antara lain terdapat pujian, pengakuan keesaan, pengakuan risalah Nabi Muhammad SAW, seruan Islam, panggilan kemenangan.

Karena di dalamnya mengandung dua kalimat syahadat, maka orang kafir yang mengumandangkan azan maupun iqamah dinilai sebagai muslim. Sementara perihal hukum azan dan iqamah ulama berbeda pendapat. Imam Nawawi menjelaskannya sebagai berikut.

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?.... ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Artinya, “(Pasal) hukum azan dan iqamah adalah sunah. Tetapi ada ulama yang mengatakan, fardhu kifayah. Azan dan iqamah hanya dilakukan untuk shalat wajib. Sementara untuk Shalat Ied dan sejenisnya cukup dengan ‘As-shalâtu jâmi‘ah’. Menurut qaul jadid madzhab Syafi’i, azan dianjurkan bagi orang yang shalat sendiri. Ia juga perlu mengeraskan suara azannya kecuali di masjid yang dipakai untuk shalat berjamaah... sementara menurut pendapat yang masyhur, jamaah perempuan dianjurkan mengumandangkan iqamah, tanpa azan,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajut Thalibin wa ‘Umdatul Muftin, Darul Minhaj, Beirut Libanon, 1426 H/2005 M, halaman 92).

Keterangan Imam Nawawi di atas sudah cukup menjawab pertanyaan yang diajukan. Hanya saja berikut ini kami kutip uraian Syekh Muhammad Al-Khatib As-Syarbini untuk melengkapi jawaban Imam An-Nawawi.

? ) ? ? : ? ? ? ? ( ? ) ? ? ( ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Menurut qaul jadid) yang menurut Imam Ar-Rafi‘i menjadi pedoman jumhur ulama (dianjurkan) mengumandangkan azan (bagi orang yang sembahyang sendiri) di sebuah negeri atau di tanah lapang bia ia ingin sembahyang berdasarkan hadits yang akan datang. Sementara menurut qaul qadim, azan tidak dianjurkan baginya karena tidak ada tujuan dari azan itu sendiri, yaitu mengumumkan masuknya waktu sembahyang. Secara lahir kemutlakan sebutan ini dengan mengikuti pandangan kitab Al-Muharrar mengamanahkan kumandang azan orang yang sembahyang sendiri meski kumandang azan orang lain terdengar olehnya. Pendapat ini paling sahih seperti disebut di kitab Tahqiq dan Tanqih. Pengamalan ini yang didasarkan pada pandangan yang mu’tamad meski Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menyatakan, tidak perlu azan.

Imam Al-Adzra‘i mengatakan, ‘Ini pendapat yang kami yakini lebih rajih. Kumandang azannya cukup terdengar oleh telinganya sendiri. Hal ini berbeda dari azan pengumuman masuk waktu dengan tujuan sembahyang berjamaah yang tentu saja disyaratkan dengan suara keras agar terdengar oleh mereka. Tanpa suara keras tujuan memberi tahu masuknya waktu sembahyang menjadi tidak memadai. Karenanya azan  cukup terdengar olehnya saja. Sementara iqamah dianjurkan menurut qaul qadim dan jadid. Sebagai azan kumandang iqamah cukup terdengar olehnya saja. Lain hal kalau iqamah dimaksudkan untuk sembahyang berjamaah. Hanya saja volume suara iqamah lebih kecil dari volume azan,’” (Lihat Muhammad ibnil Khatib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma‘rifati Ma‘ani Alfazhil Minhaj, Darul Ma‘rifah, Beirut, Libanon, 1418 H/1997, juz I, halaman 208).

Dari sini kami menyimpulkan bahwa sebelum sembahyang fardhu sendiri meskipun di masjid atau sembahyang berjamaah gelombang kedua, ketiga, kita dianjurkan untuk mengumandangkan azan dan iqamah. Hanya saja kita harus membatasi volume azan dan iqamah sebatas terdengar diri sendiri atau terdengar oleh beberapa orang di sekitarnya jika berjamaah dengan kelompok kecil.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Fragmen, Hikmah Haedar Nashir

Selasa, 26 April 2016

Tipu Ibu Sumarni, Dua Muslimah HTI Jombang Akhirnya Minta Maaf

Jombang, Haedar Nashir?

Dua Pengurus Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jombang yang sempat membuat Ibu Sumarni merasa tertipu akibat menyebarluaskan fotonya di media sosial (Medsos) akhirnya minta maaf.

Tipu Ibu Sumarni, Dua Muslimah HTI Jombang Akhirnya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Tipu Ibu Sumarni, Dua Muslimah HTI Jombang Akhirnya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Tipu Ibu Sumarni, Dua Muslimah HTI Jombang Akhirnya Minta Maaf

Permintaan maaf yang langsung disampaikan di rumah perempuan asal Dusun Kembangsore, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang ini dilakukan dengan keadaan menangis. Pasalnya, Ibu Sumarni yang geram mengetahui tingkah dua perempuan tersebut saat itu sudah tidak bisa mengontrol emosinya.

"Mereka mohon maaf ke saya. Saat itu saya benar-benar kesal, cantik-cantik kok bertingkah tidak baik. Saya ditipu, saya suruh megang bendera HTI itu, kemudian satunya tiba-tiba ngambil gambar, saat disebar di FB mereka megklaim saya pengikut HTI," katanya, Jumat (2/6).

Sumarni mengungkapkan, mereka datang ke rumahnya dengan tiba-tiba tepatnya pada Ahad (28/5) lalu. Sejak awal datang, mereka menyampaikan maksud dan tujuan dirinya bershilaturrahim.?

Namun di tengah-tengah percakapan berlangsung, Ibu Sumarni yang sudah lama menyimpan rasa kesalnya tak mampu memendam, hingga akhirnya tanpa diduga ia meluapkan kekesalannya kepada mereka. Dalam kondisi demikian salah satu di antara mereka menangis dan meminta maaf kepada Ibu Sumarni.

Haedar Nashir

"Saya tidak apa-apain mereka, apalagi melakukan kekerasan fisik, tidak, saya bilang, jika saya mau, saya bisa tuntut mereka karena sudah mencemarkan nama baik saya," ujarnya.

Tak heran, Ibu Sumarni di lingkungannya dikenal sebagai tokoh masyarakat. Ia juga aktif mengikuti forum-forum pengajian Muslimat NU dan MWCNU Mojowarno. Namun saat fotonya disebar, sebagian masayarakat setempat sudah menduga Ibu Sumarni berubah paham dan sebagian yang lain menganggapnya sudah menjadi simpatisan HTI.

"Dan saya bilang, saya ini mbak Muslimat bukan Muslimah seperti sampean," tutur dia menirukan lughatnya saat berbincang dengan mereka.

Haedar Nashir

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, saat fotonya beredar luas, ia meminta kepada Ketua MWCNU dan Ketua Muslimat NU Mojowarrno untuk merehabilitasi namanya.

(Baca: Diduga HTI via Foto Viral, Ibu Ini Minta Rehabilitasi Nama)

"Saya mohon kepada bapak Ketua MWCNU Mojowarno dan Ibu Ketua Muslimat NU Mojowarrno, agar nama saya direhabilitasi. Saya bukanlah pengikut HTI dan sampai mati saya akan tetap berkiprah dan berjuang di NU di bawah panji Muslimat," ungkapnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan Haedar Nashir

Sabtu, 16 April 2016

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1)

Oleh Choirul Anam

--Diskusi mendalam di pondok pesantren Al-Mansyuriyah, Lombok Tengah, NTB telah berlangsung beberapa waktu lalu guna menerima dan mencari masukan untuk melengkapi rumusan PBNU mengenai sistim baru pemilihan Rais Aam (Syuriyah) PBNU yang dikenal dengan Ahlul Halli Wal Aqdi (sering disingkat Ahwa). Sistim pemilihan zaman Nabi dan sahabat ini mulai akan diuji-coba di Muktamar Jombang.

Dalam kata sambutan pembukaan diskusi, ketua umum PBNU KH Prof Dr Said Aqil Siroj mendukung penuh sistim pemilihan rais aam dengan model Ahlul Halli Wal Aqdi.? Sebab kalau pilihan langsung, dikesankan mengadu kekuatan antar kiai, dan karena itu dicarikan jalan musyawarah yang lebih tepat seperti Ahlul Halli Wal Aqdi. Lagi pula kalau sistim pemilihan langsung, masih kata Kang Said, akan lahir kubu-kubuan, lalu kampanye hitam (black campaign) antarpendukung, saling menjelekkan dan menjatuhkan. Terus lagi, ditakutkan muncul politik uang yang merusak moral.

Ada juga pandangan lain dari peserta diskusi bahwa kalau NU tetap mempertahankan sistim pemilihan langsung, maka kesan NU sama saja dengan partai politik akan terus terbangun selamanya. Bahwa orang akan terus menganggap suksesi di lingkungan NU sama saja dengan di parpol, tergantung mana yang kuat uangnya. Maka dari itu beberapa pengurus PCNU maupun PWNU yang masih mau berpikir, mengharuskan ada perubahan, dan untuk sementara ini yang dipandang cocok adalah model Ahlul Halli Wal Aqdi.

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1)

Saya ingin memberi masukan dari perspektif historis NU mengenai Ahwa ini. Bahwa yang perlu dipahami, Ahwa tidak ada sangkut pautnya dengan politik uang (money politics), dengan kubu-kubuan, kampanye hitam (black campaign), saling jatuh menjatuhkan antar kelompok pendukung kiai atau ulama yang dijagokan, dan seterusnya. Ahwa adalah sebuah sistim pemilihan pemimpin yang diajarkan atau dicontohkan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang bergelar "al-Khulafa ar- Rasyidun", yang tak lain adalah Abu Bakar as- Shiddiq, Umar Ibnu Khottab, Usman bin Affan, dan Aly bin Abi Thalib. Sedang NU sebagai salah satu pewaris Ahwa ini hanya ingin mencoba menerapkannya di Muktamar Jombang nanti.

Jadi, jangan mengait-kaitkan Ahwa dengan politik uang, kampanye hitam, kubu-kubuan dst. Apakah dengan Ahwa dijamin tidak akan terjadi politik uang? Tidak akan terjadi konflik dan kubu-kubuan? Belum tentu! Buktinya NU sejak berdiri hingga saat ini menggunakan sistem pemilihan langsung tidak ada masalah, baik-baik saja! Hanya saja belakangan ini (di era reformasi) NU tergerus oleh dampak negatif sistem politik makro yang dibangun pemerintah, yakni pilihan langsung anggota DPR, DPD dan Presiden/Wakil sampai Bupati dan Wakil. Warga NU yang hidup di zaman sebelum reformasi tidak pernah tahu dan merasakan politik uang.

Pertanyaan besarnya adalah buat apa sistem Ahwa ini diterapkan? Untuk apa Ahwa disodor-sodorkan agar dipraktikkan di muktamar ke 33? Kenapa tidak pada zaman Mbah Hasyim Asyari dan Mbah Abdul Wahab Hasbullah tempo dulu diberlakukan? Apa beliau-beliau kurang Ahwa? Dalam perjalanan sejarah NU belum pernah menggunakan model Ahwa dalam pemilihan Rais Aam Syuriyah PBNU, kecuali pada muktamar ke 27 di Situbondo (3-12 Desember 1984). Penggunaan sistim Ahwa ini pun didasarkan beberapa pertimbangan, antara lain, karena kondisi NU sebagai Jamiyyah Diniyah Islamiyah (Organsasi Keagamaan Islam) waktu itu, memang sudah rapuh sehingga memerlukan pemikiran dan upaya baru untuk menyelamatkannya.

Haedar Nashir

Terutama sepeninggal Rais Aam PBNU KH. Bisri Syansuri (wafat Jumat 25 April 1980). Tubuh NU terbelah menjadi dua kubu: kubu politik yang bermuara kepada Ketua Umum PBNU KH. DR. Idham Cholid (Cipete) dan kubu khitthah yang dijaga ketat KH.R. Asad Syamsul Arifin Situbondo yang didukung kelompok muda pembaharu di NU seperti Gus Dur. Bisa dipahami, karena KH. Idham Cholid kala itu benar-benar sebagai figur sentral, yaitu selain menjabat Ketua Umum PBNU, juga Presiden Partai (PPP). Hampir setiap hari kubu politik berteriak-teriak agar jabatan Rais Aam dibiarkan kosong, sehingga mereka bisa leluasa memainkan jurus-jurus politiknya guna memperoleh kekuasaan politik di parlemen atau eksekutif di pemerintahan. Sementara kubu khitthah terus berupaya agar segera diisi. Kalau tidak, maka nasib NU ke depan semakin sulit untuk ditolong.

Pertengkaran dua kubu tersebut, jika digambarkan, memang hampir mirip seperti cicak dan buaya. Masing-masing kubu beradu argumentasi di media massa. Kelompok Cipete ngotot meminta jabatan Rais Aam dibiarkan lowong, dan kalau toh mau diisi mesti diambil dari salah satu wakil untuk naik menjadi Rais Aam. Pendapat itu ditolak mentah oleh kubu khitthah atau kelompok Situbondo karena tidak sesuai dengan konstitusi NU. Menurut AD/ART NU, jabatan Rais Aam dipilih langsung oleh ulama NU seluruh Indonesia melalui muktamar (atau forum ulama yang setingkat dengan itu), yaitu Munas atau Konbes.

Haedar Nashir

Kubu Situbondo yang secara diam-diam berupaya keras mengembalikan NU ke khittah aslinya, akhirnya berhasil mengonsolidasikan pikiran-pikirannya ke hampir seluruh ulama senior di Indonesia. Puncaknya kelompok ini sukses menggelar munas alim ulama NU di Kaliurang, Yogyakarta (September 1981). Dan berhasil memilih KH. Ali Mashum sebagai Rais Aam PBNU menggantikan KH. Bisri Syansuri.

Mestinya persoalan sudah selesai, ternyata belum juga. Hasil Munas yang menggemparkan jagat politik nasional dan? mendapat banyak pujian serta sanjungan dari berbagai kelompok tersebut, terutama menyangkut soal isu politik dukung-mendukung pemberian gelar Bapak Pembangunan dan pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden RI pada Sidang Umum MPR hasil Pemilu 1982, justru dimentahkan oleh kubu Cipete dengan menggunakan sayap Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) unttuk menandinginya.

Sehari setelah Munas Alim Ulama NU ditutup, kubu Cipete menggelar Konferensi Besar (Konbes) GP Ansor (3-6 September 1981) di Semarang. Drs. HA. Cholid Mawardi selaku Ketua Umum PP GP Ansor sekaligus mereprentasikan diri sebagai pimpinan kelompok Cipete menyatakan: "Pemberian gelar Bapak Pembangunan kepada Presiden Soeharto adalah gagasan wajar dan penting bagi integrasi bangsa. Dan Konbes menyarankan kepada DPR RI membuat memorandum kepada MPR untuk mempercayakan kepemimpinan nasional kepada Jenderal Soeharto."

Dari sini pertentangan semakin tajam. Lalu bagaimana upaya para kiai sepuh NU menyelamatkan organisasi? Inilah episode sejarah yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan. (--bersambung)

?

Choirul Anam, Dewan Korator Museum NU

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Pertandingan Haedar Nashir

Kamis, 14 April 2016

Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara Segera Dibangun

Jakarta, Haedar Nashir. Warga nahdliyin di Kabupaten Banjarnegara akan segera memiliki gedung Aswaja NU Center. Peletakan batu pertama pembangunan Aswaja NU Center Banjarnegara dilakukan pada ? Ahad (29/1) bersamaan dengan rangkain kegiatan Harlah ke-91 NU.

Seperti rilis yang diterima Haedar Nashir Senin (30/1), Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara berlokasi di Parakancanggah RT 07/RW 9 Banjarnegara, Jawa Tengah.

Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara Segera Dibangun (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara Segera Dibangun (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara Segera Dibangun

Rais PCNU Banjarnegara KH Mujtahadi Toblawi menyampaikan Indonesia dibangun dari keanekaragaman dan melebur menjadi NKRI. Dengan dibangunnya gedung Aswaja NU Center Banjarnegara, diharapkan warga NU dan seluruh elemen turut mendukung baik materiil maupun moril.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara mewakili Bupati Banjarnegara Fahrudin Slamet Susiadi menyampaikan selamat atas harlah NU ke-91. Ia berharap NU dapat menjadi sakaguru dalam menjaga keutuhan NKRI dari segala ancaman paham radikal dan segala bentuk ancaman terorisme.?

“Gedung Aswaja NU Center merupakan prestasi PCNU Banjarnegara sekaligus keberhasilan umat Islam,” kata Fahrudin.?

Haedar Nashir

Tak kurang dari 4000 orang memeriahkan kegiatan tersebut. Dari unsur NU, hadir Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Ketua PCNU Banjarnegara H Zahid Khasani, Pengurus PCNU Banjarnegara, pengurus Ranting NU, Fatayat NU, serta para pimpinan, pengurus dan santri pondok pesantren se-Kabupaten Banjarnegara.?

Adapun dari unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) hadir Ketua DPRD Nuryanto, Wakapolres Banjarnegara Kompol Widiyantoro, Anggota DPR RI Taufiq R Abdullah, dan Ketua Panwaslu Kabupaten Banjarnegara. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Ulama Haedar Nashir

Selasa, 12 April 2016

STAINU Jakarta Diusulkan Kembangkan Kuliah Terbuka

Jakarta, Haedar Nashir. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta diusulkan untuk mengembangkan program kuliah terbuka dengan unit program pembelajaran jarak jauh.

Usulan disampaikan warga nahdliyin yang juga Guru Kemenag DPK di SD 1 Bandung Jepara Nor Hasan Wahyudi dalam surat elektroniknya kepada Haedar Nashir, Sabtu (16/12).

STAINU Jakarta Diusulkan Kembangkan Kuliah Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Diusulkan Kembangkan Kuliah Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Diusulkan Kembangkan Kuliah Terbuka

Ini merupakan respon dari program kerja Lajnah Perguruan Tinggi NU (LPTNU) yang akan membuka 10 sampai dengan 29 perguruan tinggi NU baru. Ia mengusulkan STAINU Jakarta diperluas menjadi Universitas NU atau UNU Internasional yang mengadopsi program dan cara belajar universitas terbuka (UT).

Haedar Nashir

“Dengan demikian para nahdliyin di pelosok desa akan dapat merasakan kuliah di UNU tanpa harus ke Jakarta,” katanya.

Teknisnya, di kantor-kantor wilayah (PWNU) dibuat Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UNU dan di kantor cabang (PCNU) dan wakil cabang (MWCNU) dibuat kelompok belajar (Pokjar) UNU.

Haedar Nashir

“Jadi sederhana, lebih bermanfaat dan cepat berkembang karena fasilitas kantor-kantor NU di daerah banyak yang sepi kegiatan. Kalau ada pembelajaran kan kantornya bisa hidup, warganya pintar. UNU akan cepat berkembang dengan ribuan mahasiswa di seluruh Indonesia.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Olahraga, Cerita Haedar Nashir

Minggu, 10 April 2016

Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan

Pekalongan, Haedar Nashir. Puluhan ribu umat Islam dari Pekalongan dan sekitarnya, Rabu (13/2), menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1434 H.

Maulid Nabi tersebut terasa istimewa karena digelar oleh Habib Luthfy bin Yahya di Gedung Sholawat, Jalan dr. Wahidin Pekalongan.

Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan

Ratusan kendaraan pribadi maupun rombongan sejak malam sebelumnya telah memadati sepanjang Jl. dr. Wahidin yang sehari sebelumnya digunakan untuk kegiatan pawai Panjang Jimat Pekalongan berubah menjadi area tempat kegiatan dan parkir.

Haedar Nashir

Tidak hanya itu, ratusan pedagang kaki lima penjual makanan, minuman dan aneka souvernir baik yang berasal dari Kota Pekalongan maupun dari wilayah sekitarnya tak ketinggalan ikut mengais rejeki di Kanzus Sholawat.

Maulidurrasul yang di gelar di Kanzus Sholawat sejak beberapa tahun silam selalu menjadi magnet umat Islam dari perbagai pelosok kota. Dari tahun ke tahun pengunjung selalu membludak. Mereka rela duduk berdesakan bersimbah keringat dan rela berpanas panasan sambil terus melantunkan sholawat.

Haedar Nashir

Tak ada suara keluhan yang keluar dari pengunjung yang hadir mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek. Mereka rela duduk beralaskan koran bekas dengan perbekalan makanan dan minuman seadanya yang telah dibawanya dari rumah. 

Bahkan rumah rumah penduduk di sekitar area kegiatan peringatan maulid menjadi tempat transit sementara yang sangat strategis. Para pemilik rumah dengan senang hati menyediakan tempat seadanya untuk transit para tamu Habib Luthfy yang datang dari berbagai daerah.

Wakil Sekretaris panitia maulid H. Suwardi mengatakan, meski persiapannya sangat mepet, tak mengurangi kesemarakan kegiatan peringatan maulid di Kanzus Sholawat. Berbagai kegiatan penunjang semuanya berjalan dengan lancar. Diantaranya khotmil quran, pembacaan rotibul kubro, apel siaga Banser, kirab merah putih, pawai panjang jimat, pembacaan manakib Syech Abdul Qodir Al Jaelani dan pentas musik gambus El Balasyik.

Dikatakan, cuaca terang serta dukungan dari TNI Polri dan Banser dalam hal keamanan sangat menunjang kelancaran kegiatan peringatan maulid yang rutin di gelar setiap tahun di Kanzus Sholawat.

Hadir dalam acara peringatan maulid, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Kabinet Indonesia Bersatu II H Helmy Faishal Zaini, Staf Khusus Presiden RI Bidang Energi dan Pangan, ratusan ulama, kiai dan habaib, para pejabat daerah juga tampak hadir antara lain Wakil Walikota Pekalongan dan Wakil Walikota Tegal.

Redaktur    : A.Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Pahlawan, Kyai Haedar Nashir

Sabtu, 02 April 2016

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Makassar, Haedar Nashir. Bank Sulselbar tertarik melengkapi infrastruktur salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Islam Makassar (UIM). Perhatian serius itu dibuktikan dengan kunjungan Direktur Umum Bank Sulselbar Ambo Syamsuddin ke Rektor UIM Dr. Ir. Hj. Majdah Agus Arifin Nu’mang, Selasa (16/12) kemarin.

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Kunjungan itu dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran konkret kemajuan yang telah dicapai universitas yang dipimpin istri Wagub Sulsel itu, terutama dari segi sarana dan prasarana. Setelah di terima di ruang kerja, Ambo Syamsuddin bersama Majdah didampingi Pembantu Rektor II Ir. Saripuddin Muddin meninjau langsung ke Auditorium KH Muhyiddin Zain yang tengah dalam tahap penyelesaian akhir. Auditorium itu akan menampung sekitarb 4000 undangan dilengkapi dengan panggung berukuran besar dan balkon di bagian belakang.

Menurut Ambo Syamsuddin, pihaknya memang menaruh perhatian besar kepada UIM karena telah mengalami perkembangan yang begitu pesat setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Selain telah terbangun 11 gedung perkuliahan dan fasilitas lainnya yang cukup megah, juga perkembangan mahasiswanya telah mencapai 6.000 orang.

Haedar Nashir

Untuk lengkah awal, pada tahun 2015 nanti Bank Sulselbar sudah menyiapkan bantuan khusus untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan gedung auditorium. Gedung ini perlu kita dukung sepenuhnya karena dapat difungsikan secara produktif, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat di daerah ini.

Haedar Nashir

“Kami terpanggil memberi bantuan nyata karena memang pengelolaan UIM semakin mapan di tangan ibu Rektor. Pembangunan fisiknya saja sudah tampak jauh dari bebrapa tahun lalu yang masih kelihatan dipenuhi pada rumput. Sekarang sudah dipenuhi gedung bertingkat,” tandasnya. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Kajian Sunnah, Pertandingan Haedar Nashir