Selasa, 27 Februari 2007

Seni Untuk Dakwah ala Santri Ta’mirul Islam

Solo, Haedar Nashir. Islam di Indonesia dapat berkembang dengan pesat, salah satunya karena jasa para Walisongo yang menyebarkan Islam dengan pendekatan kesenian. Wayang, Gamelan dan lain sebagainya menjadi media dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang waktu itu masih banyak menganut paham Hindu-Budha.

Metode ini, berdakwah dengan kesenian, rupanya menjadi inspirasi santri-santri Ma’had Aly Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta. Pada acara Harlah Ma’had Aly yang ke-8, Sabtu (30/3) dihelat acara yang bertema “Dengan Seni Dakwah Menjadi Indah” di Kompleks Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta.

Seni Untuk Dakwah ala Santri Ta’mirul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Seni Untuk Dakwah ala Santri Ta’mirul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Seni Untuk Dakwah ala Santri Ta’mirul Islam

Acara tersebut, akan menghadirkan Budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) beserta grup Kiai Kanjeng. Salah satu panitia, Agus Styawan, menuturkan kesenian dapat menjadi salah satu cara efektif untuk berdakwah.

Haedar Nashir

“Dakwah dengan kesenian ini misalnya, yang sering kami lakukan yakni sholawatan bersama dengan diiringi rebana,“ kata Agus yang juga Ketua Dewan Mahasantri (Dema) Ma’had Aly ini.

Haedar Nashir

Agus melanjutkan tujuan acara ini juga untuk menjalin jalinan silaturahim mahasantri Ma’had Aly dengan masyarakat. Ma’had Aly sendiri merupakan sebuah lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi yang berdiri di bawah naungan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Quote, Internasional Haedar Nashir

Kamis, 22 Februari 2007

Jenang Procotan, Tradisi untuk Orang Hamil 9 Bulan

Karanganyar, Haedar Nashir. Menilik namanya, kuliner jenang yang satu ini tidak hanya kuliner biasa. Jenang Procotan menyimpan makna serta gambaran tentang harapan seseorang terhadap proses kelahiran dan  kualitas keturunan dalam sebuah keluarga.

Jenang Procotan, Tradisi untuk Orang Hamil 9 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jenang Procotan, Tradisi untuk Orang Hamil 9 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jenang Procotan, Tradisi untuk Orang Hamil 9 Bulan

Jenang Procotan, atau dikenal juga dengan Jenang Procot, merupakan kuliner khas yang dibuat ketika usia kehamilan seorang perempuan mencapai 9 bulan. Ia sejenis doa agar proses kelahiran berjalan lancar. Bubur ini juga dimakan saat bancakan ketika seorang ibu hamil tua, atau mendekati HPL (hari perkiraan lahir).

"Jenang Procotan ini mengandung makna agar jabang bayi lekas lahir dengan selamat, mak Procot kalau orang Jawa bilang," papar Ngatmi, salah satu warga kaki Gunung Lawu Karanganyar yang sedang membuatkan jenang procot untuk putrinya yang sedang hamil 9 bulan, Jum’at (6/9).

Haedar Nashir

Setelah Jenang Procotan selesai dibuat, Bu Ngatmi, demikian ia biasa disapa, pun membuat nasi tumpeng yang dilengkapi beraneka macam lauk di sekelilingnya. Setelah didoakan, jenang beserta tumpeng tersebut dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar. Makna dari tradisi tersebut, agar kelak anak menjadi orang yang suka bersedekah dan berbagi dengan sesama.

Haedar Nashir

Tekstur Jenang Procot sendiri terbilang lembut dan manis, dimana jenang tersebut dibuat dari tepung beras dan paduan bumbu alami seperti daun pandan, gula jawa, serta tambahan pisang raja utuh di tengahnya.

Pisang raja sendiri dimaknai sebagai simbol raja. Harapannya, jika si anak lahir kelak akan menjadi anak yang baik dan berbudi luhur. Jenang ini tergolong istimewa karena selain enak rasanya, di dalamnya juga terkandung nilai budaya. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Tegal Haedar Nashir

Jumat, 09 Februari 2007

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid

Pringsewu, Haedar Nashir. Saat mengisi Kegiatan Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi yang rutin dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu, Ahad (14/5), Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani mengajak umat Islam memaksimalkan masjid khususnya di lingkungan NU untuk pengembangan dakwah dan amaliyah ibadah.

"Masjid merupakan tempat membangun peradaban dan aset yang berperan penting dimasyarakat. Membangun Masjid gampang namun memakmurkannyalah yang lebih penting," tegasnya di hadapan jamaah dan Pengurus NU di Kabupaten Pringsewu yang memenuhi Aula gedung tersebut.

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid

Maksimalisasi Masjid sebagai tempat dakwah dan ibadah lanjut Kiai yang sebelumnya merupakan Ketua Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) ini dapat ditempuh dengan berbagai langkah nyata. Lebih lanjut Ia memaparkan tujuh Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid.

Strategi tersebut terangkum dalam doa yang sering diucapkan setiap waktu yaitu "Allahumma Inna Nasaluka Salamatan Fiddin, Waafiyatan Fil Jasad, Wazidatan Fil Ilmi, Wa Barakatan Fi Rizq, wa Taubatan Qablal Maut, Warahmatan Indal Maut, wa Maghfiratan Badal Maut.

Pertama, salamatan fiddin yaitu memaksimalkan masjid sebagai tempat gerakan, pemeliharaan aqidah ummat Islam  ahlus sunnah wal jamaah (aqidah, syariah, akhlak) sesuai dengan sunah Rasulullah, para sahabat, tabiin dan para ulama Salafussalihin.

Haedar Nashir

Hal ini dapat ditempuh dengan langkah nyata seperti Menegakkan shalat berjamaah dan mendata jamaah, Pengajian Al-Qur`an dan Aqidah Aswaja, Sertifikasi Masjid dan pendataan Masjid-Masjid NU.

Haedar Nashir

Kedua adalah Waafiyatan Fil Jasad yaitu memaksimalkan Masjid sebagai tempat gerakan pelayanan kesehatan ummat. Dalam hal ini takmir Masjid dapat menjalin kerjasama Lembaga Kesehatan dalam melayani kesehatan jamaah masjid, penyuluhan kesehatan dan penyuluhan  pola hidup sehat dan menyelenggarakan Gerakan kebersihan masjid serta lingkungan sekitar masjid. Selain itu perlu menghidupkan majlis dzikir, baik jamaah yasin, istighosah, sholawat dan sejenisnya.

Ketiga adalah Waziyadatan fil Ilmi yaitu menjadikan Masjid sebagai tempat gerakan peningkatan Sumber Daya Manusia Jamaah Masjid dan putra-putrinya di bidang keilmuan dan keterampilan. Langkah konkrit yang bisa ditempuh adalah seperti menyelenggarakan bimbingan belajar putra-putri jamaah masjid berbagai bidang keilmuan dan keterampilan sekaligus kaderisasi Remaja Masjid seperti : bahasa Arab, bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS, pelatihan MC, dan lain-lain.

Keempat adalah Wabarakatan Fi Rizq yaitu menjadikan Masjid sebagai pusat gerakan pemberdayaan ekonomi ummat. Membuat LAZ, UPZ masjid, GISMAS (Gerakan Infaq Shadaqah memakmurkan Masjid), Membangun Kewirausahaan, Warmas (warung masjid) merupakan salah satu usaha real yang bisa ditempuh.

Kelima adalah Wataubatan Qablal Maut yaitu menjadikan Masjid sebagai pusat gerakan dakwah mengajak dan menyadarkan orang Islam yang belum menjalankan syariat Islam dan dakwah untuk non-muslim sebagai tempat kembali bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah. 

Hal ini dapat ditempuh dengan Pelatihan dakwah, Penyebarluasan materi Islam melalui berbagai media, Menyediakan pengajian (massal atau privat) untuk orang-orang yang ingin mempelajari dan memperdalam Islam tetapi terkendala waktu dan kesibukan lainnya serta Menyusun materi dan metodologi dakwah sesuai dengan perkembangan.

Keenam adalah Warahmatan Indal Maut yaitu maksimalisasi Masjid Sebagai pusat gerakan kepedulian sosial seperti Menjenguk jamaah yang sakit, Mengantar jamaah sakit ke rumah sakit, Menolong orang-orang yang terkena bencana, Pelatihan pemulasaraan jenazah dan lain lain.

Dan yang terakhir adalah Wa Maghfiratan Badal Maut yaitu Masjid sebagai tempat berdoa untuk mendoakan orang-orang yang telah wafat dengan bentuk kegiatan seperti Talqin Mayyit, mengadakan tahlilan dan yasinan, Ratiban, dibaan, barzanjian, Istighatsah serta Lailatul Ijtima. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Hikmah, AlaSantri Haedar Nashir

Rabu, 10 Januari 2007

Perbincangan Rasulullah SAW Usai Shalat Gerhana

Saat gerhana terjadi di masa Nabi, banyak orang mengaitkan fenomena itu dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW. Ia adalah putra kesayangan Nabi Muhammad. Dugaan ini langsung dibantah oleh Rasulullah SAW sembari menjelaskan bahwa kejadian gerhana tidak ada kaitannya dengan kematian dan kehidupan siapa pun.

Gerhana hanyalah fenomena alam biasa, yang terjadi atas kehendak Sang Pencipta Alam. “Apabila kalian mendapati fenomena ini, ingatlah Allah,” demikian pesan Nabi Muhammad SAW, (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Perbincangan Rasulullah SAW Usai Shalat Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbincangan Rasulullah SAW Usai Shalat Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbincangan Rasulullah SAW Usai Shalat Gerhana

Di antara media paling baik untuk mengingat Allah ialah shalat. Makanya shalat gerhana sangat dianjurkan, sunah mu’akkad. Bahkan makruh meninggalkannya. Usai shalat, menurut Madzhab Syafi’i disunahkan dua khotbah, laiknya khotbah hari raya (‘Idul Fitri dan ‘Idul Adlha).

Haedar Nashir

Seketika selesai shalat gerhana, Nabi Muhammad SAW menyempatkan diri berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Mungkin obrolan ini dimulai setelah Nabi melaksanakan khotbah. Hasil obrolan itu terekam baik dalam Shahih Muslim. Kisah ini diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas yang turut hadir mengikuti shalat gerhana bersama Rasulullah SAW. Berikut petikan obrolannya,

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ?: ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?.

Haedar Nashir

Artinya, “Wahai Rasulullah, kami melihat engkau sepertinya mendapatkan sesuatu di tempat anda berdiri ini. Kami juga melihat Anda menahan kedua tangan?” tanya sahabat.

 “Sesungguhnya aku melihat surga. Aku mendapati satu tandan darinya. Sekiranya Kuambil, niscaya kalian akan memakannya selama dunia ini berputar. Aku juga melihat neraka, sebuah pemandangan mengerikan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya. Kulihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita,” kata Rasulullah SAW.

“Apa sebabnya?”

“Lantaran kekufuran mereka,” jawab Rasul.

“Apakah mereka kufur kepada Allah?”

“Mereka kufur terhadap suaminya dan mengingkari kebaikannya. Andaikan kalian berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang zaman, lalu dia mendapati satu kekuranganmu, ia akan mengatakan, ‘Saya belum pernah melihat kebaikanmu sama sekali,’” kata Rasul.

Obrolan ini memiliki makna yang sangat dalam, terutama bagi kaum perempuan. Ternyata kufur tidak hanya terhadap Allah SWT, tetapi ada juga yang ditujukan kepada suami. Dua jenis kufur ini termasuk perbuatan yang tidak baik.

Sepantasnya seorang istri menghargai setiap jerih payah dan usaha suaminya. Karena bagaimana pun mereka sudah bersusah-payah banting tulang demi kebahagian seorang istri. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Khutbah Haedar Nashir

Senin, 06 November 2006

Cerita di Balik Disingkirkannya Nabi Yusuf AS oleh Saudara Tirinya

Nabi Yaqub AS ialah nabi besar dengan kesabaran luar biasa. Ia diuji Allah dengan keirihatian sebagian anak kepada sebagian lainnya. Namun di balik ujian itu, Allah ingin menyampaikan pelajaran penting kepada umat manusia pada umumnya lewat pengalaman keluarga Nabi Yaqub AS.

Nabi Ya’qub AS memiliki 12 anak dari beberapa istri. Mereka inilah yang kemudian menurunkan 12 keturunan Bani Israil. Dari kalangan mereka juga terlahir banyak rasulullah.

Cerita di Balik Disingkirkannya Nabi Yusuf AS oleh Saudara Tirinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita di Balik Disingkirkannya Nabi Yusuf AS oleh Saudara Tirinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita di Balik Disingkirkannya Nabi Yusuf AS oleh Saudara Tirinya

Alkisah Nabi Ya’qub AS menaruh perhatian dan kecintaannya sedikit berlebih kepada dua anak terakhirnya, Nabi Yusuf dan Bunyamin. Kecemburuan pun hadir di kalangan lainnya.

Haedar Nashir

Melihat ini, kakak-kakak dari keduanya tidak senang. Mereka mengatur siasat bagaimana caranya mengembalikan cinta dan perhatian sang bapak. Sebagian berpendapat, membunuh keduanya. Sebagian lain, membuang. Sebagian lagi, menjual Yusuf.

Mereka akhirnya sampai pada pilihan membuang Yusuf ke dalam sumur hingga pada gilirannya diambil dan dijual oleh musafir yang tengah lewat.

Haedar Nashir

Sejak itu, Nabi Ya’qub AS tidak pernah lagi melihat anak kesayangannya. Nabi Yusuf, dikabarkan tewas ditelan serigala. Sejak itu juga Nabi Ya’qub AS kerap menangis kehilangan. Karena itu juga, daya penglihatannya bisa dibilang rusak. Air mata dari dua sudut matanya membekas dua garis permanen.

Nabi Ya’qub AS terus saja menangis hingga Allah mempertemukan dirinya dan sang anak pada suatu ketika setelah berpisah selama 80 tahun. Allah mengungkapkan hikmah itu seperti dialog dalam kitab Al-Majalis Saniyah.

“Wahai Ya’qub, tahukah kau kenapa Aku jatuhkan sanksi dan Kupisahkan Yusuf darimu selama 80 tahun?” tanya Allah kepada Nabi Ya’qub.

“Tidak tahu, wahai Tuhanku,” jawabnya.

“Ingatkah, kau dulu pernah memanggang kambing muda. Sementara kau menikmatinya, tetanggamu tidak. Kau pun tidak berbagi kambing panggang itu kepada tetanggamu.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes, Pahlawan Haedar Nashir

Minggu, 29 Oktober 2006

Maqamat

Maqamat adalah istilah tasawuf untuk menyebut berbagai kedudukan pendakian rohani yang harus ditempuh salik  agar bisa wushul (sampai) kepada Allah. Maqamat adalah jamak dari kata maqam, yang berarti “tempat, kedudukan, dan derajat”. Di Nusantara, maqom digunakan juga untuk menyebut petilasan (jejak) dan kuburan (maqbaroh)

Para guru sufi memberikan jumlah yang berbeda dalam maqamat. Al-Kalabadzi menyebutkan ada 7 maqamat: taubat, zuhud, sabar, tawakkal, ridha, mahabbah, dan ma’rifat. Bu Nashra as-Sarraj juga menyebutkan ada 7; Abu Thalib al-Makki menyebutkan ada 9; al-Ghazali menyebutkan ada 10; Ibnu Arabi menyebutkan ada 15, dan lain-lain. Perbedaan tersebut juga terjadi dalam penentuan hierarki maqam, misalnya syukur lebih tinggi dari sabar, dan atau sebaliknya. 

Maqamat (Sumber Gambar : Nu Online)
Maqamat (Sumber Gambar : Nu Online)

Maqamat

Sebagian apa yang disebut seorang guru sebagai maqam, oleh guru lain disebut sebagai "hal" (keadaan tertentu) saja. Perbedaan-perbedaan ini dapat dijumpai dalam berbagai tarekat dan literatur sufi. Pada umumnya perbedaan ini, terutama dalam menentukan jumlah maqam, tergantung dari pengalaman pendakian sang sufi dn pencapin yng dirih. Pencapaian itu sendiri adalah anugrah dari Allah yang masing-masing salik memiliki kedudukan yang tidak sama, sehingga menyebabkan perbedaan dalam menteorisasikan maqamat.

Haedar Nashir

Tahapan-tahapan yang banyak disebut para guru sufi, di antaranya ada tujuh, yaitu: pertama, taubat adalah penyucian diri atau taubat dari semua dosanya dan memohon ampun kepada Allah. Tahap taubat ini juga mempunyai sub-sub tahapan. Seorang calon sufi harus taubat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya. 

Selanjutnya ia akan bertaubat dari dosa-dosa kecil, kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. Taubat yang dimaksud adalah taubat yang sebenarnya atau disebut taubah nasuha, yaitu penyesalan atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun.

Kedua, zuhud adalah tidak terbelenggu  oleh dunia materi dan dunia ramai, meski dia mungkin pemilik dunia dan ad di keramaian. Ia harus mengasingkan diri di tengah keramaian; atau kalau tidak bias menyepi untuk beribadah dengan puasa, shalat, membaca al-Quran dan dzikir. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani, makan dan minum untuk mempertahankan kelanjutan hidup, sedikit tidur dan banyak beribadat.

Haedar Nashir

Ketiga, wara’ adalah menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan shubhat atau tidak jelas kebaikannya, atau menjauhi makanan yang shubhat atau yang tidak jelas halal dan haramnya. 

Keempat, faqir adalah menjalani hidup dalam kefakiran, yaitu selalu membutuhkan Allah dalam kondisi apa pun. Salik tidak menunjukkan kekurangan apapaun yang bersifat materi, karena yang dihajati hanya Allah.

Kelima, sabar adalah meneguhkan hati dalam menjalankan perintah Tuhan, menjauhi larangan-Nya, dan  dalam menerima cobaan-cobaan berat dalam hidupnya, termasuk dalam pencapaian pendakian rohani.  

Keenam, tawakkal adalah berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Ia tidak memikirkan hari apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari, baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. 

Ketujuh, ridla adalah menerima semua yang menimpa dirinya dalam dunia ini: senang, susah, gembira, sakit, dan lain-lain sejtiny datangnya dari Allah; dan rela terhadap pencapaian pendakian rohani yang dilakukan, dan dimana Allah mendudukkannya. Ia tidak mempunyai perasaan benci, yang ada hanyalah perasaan senang. Misalnya ketika bencana menimpa dirinya, ia malah semakin cinta kepada Tuhan karena merasa diperhatikan. Pada tahap ini ia telah merasa dekat sekali dengan Tuhan dan telah berada di ambang pintu untuk mencapai keintiman dengan Tuhan.

Maqamat di atas merupakan pintu masuk untuk menjadi seorang sufi sejati untuk mencapai tahapan selanjutnya. Ada  yang bermuara pada mahabah (cinta), ma’rifat (mengenal), ittihad, musyahadah, dan lain-lain. Ada juga yang dikembalikan untuk membimbing masyarakat sebagai imam, da’i, faqih, dan lain-lain.

Dan, ada yang ditarik Allah sampai menjadi majdzub, sehingga tindakannya banyak dilihat ganjil oleh awam; dan berbagai jenis lain muara sufi sesuai anugrah yang diberikan Allah. (Sumber: Ensiklopedia NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Minggu, 18 Juni 2006

PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan

Jakarta, Haedar Nashir



Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan Pembukaan Daurah Ula Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) angkatan 1 di Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Jakarta, Selasa (18/4) sore.

Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad mengucapkan terima kasih kepada semua peserta yang sudah hadir. Ia sadar, peserta yang hadir ke sini adalah mereka yang memiliki komitmen dan khidmah yang tinggi untuk NU.

PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan

Ia menjelaskan, Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) adalah semacam lembaga pelatihan untuk mencetak pemimpin-pemimpin NU masa depan. “PPWK itu semacam Lemhanasnya NU. Kader PPWK dihatapkan menjadi Pengurus NU di masa depan, terutama syuriahnya," jelasnya.

PPWK, terang Rumadi, akan dilaksanakan dalam tiga kali daurah dan satu daurahnya diselenggarakan kurang lebih dalam lima hari. Ia menjelaskan setiap daurahnya memiliki topik yang berbeda-beda. "Daurah pertama sampai tanggal 22 April. Tema yang diangkat adalah tentang NU dan Kebangsaan. Soal negara, konstituisanilme akan dibahas di daurah pertama ini," jelasnya.

Daurah kedua membahas tentang tata kelola pemerintah yangg baik dan antikorupsi. Menurutnya, NU adalah penyokong negara ini. Maka dari itu, NU tidak boleh diam dalam hal bagaimana mengelola pemerintaham yang baik. "KPK juga akan siap memfasilitasi dalam daurah kedua ini sehingga semangat anti-korupsi bisa kita pahami," urainya.

Haedar Nashir

Daurah ketiga, imbuh Rumadi, membahas tentang bagaimana menjadikan NU sebagai gerakan sosial, tantangan NU, permasalahan media sosial, dan peran apa yg harus dilakukan oleh NU. Sementara, Kepala Madrasah Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan Marzuki Wahid menjelaskan, PPWK adalah amanat Muktamar NU di Jombang tahun 2015 silam yang baru bisa dutunaikan oleh Lakpesdam PBNU. "Ini amanah dari PBNU. Ini adalah bagian dari pelaksanaan dari amanah itu," katanya.

Haedar Nashir

Ia berharap, PPWK bisa diselenggarakan setiap tahunnya tetapi ia menyadari itu adalah hal yang tidak ringan. "Tapi tampaknya agak berat," cetusnya.

Peserta PPWK angakatan pertama berjumlah 30 orang dari delapan provinsi. Tujuh diantaranya adalah peserta perempuan.

Turut hadir pada kegiatan yang dirangkai sebagai Peringatan Hari Lahir (Harlah) Lakpesdam yang ke-32 acara tersebut KH Abdullah Syarwani, Ulil Abshar Abdalla, Muntajib Billah, dan Maria Ulfah. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Fragmen, IMNU Haedar Nashir