Minggu, 02 Agustus 2009

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng

Jombang, Haedar Nashir - Setelah menerima kunjungan mahasiswa The Kings College, New York, Amerika Serikat, Pesantren Tebuireng kembali menerima kunjungan mahasiswa asing dari Negeri Paman Sam, Sabtu (3/6). Kali ini, sebanyak 11 mahasiswa dari Miami Dade College berkunjung ke pesantren yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari.

"Kunjungan mereka difasilitasi oleh International Office Universitas Airlangga Surabaya," kata Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng KH Abdul Ghofar.

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng

Dalam kunjungan singkat ini, kata Gus Ghofar, para mahasiswa tampak sangat antusias dan terlibat dalam dialog yang sangat hangat.

Salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Enrique Sepulvedas, menanyakan bagaimana perlakuan terhadap non-Muslim di Pesantren Tebuireng. "Apakah Anda menerapkan kebijakan pintu terbuka untuk mereka yang berbeda agama?" tanya pria blasteran Spanyol-Prancis ini.

Haedar Nashir

Menjawab pertanyaan ini, Mudir Pesantren Tebuireng Lukman Hakim menuturkan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk kerja sama yang bersifat lintas etnis dan agama. Dalam beberapa kesempatan, pesantren yang kini diasuh oleh KH Salahuddin Wahid ini juga melakukan kerja sama kegiatan dengan berbagai pihak.

Haedar Nashir

"Di Universitas Hasyim Asyari (Unhasy), bahkan ada salah satu pejabat di Unit Penjamin Mutu yang beragama Hindu," imbuh Pembantu Rektor II Unhasy Muhsin Kasmin. Pria yang telah puluhan tahun mengabdi di Pesantren Tebuireng ini menambahkan, ada juga dosen di Fakultas Teknologi Informatika yang beragama Katolik.

Joshua Elias, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, menanyakan pendapat pengurus Pesantren Tebuireng terhadap aspirasi penegakan syariat Islam di Indonesia. Terhadap pertanyaan ini, mantan Direktur Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) Mohammad Asad menjelaskan peran KH Abdul Wachid Hasyim sebagai salah satu perumus Pancasila.

Pria yang sedang menempuh S-3 di Leiden University Belanda itu menuturkan, pendiri Pesantren Tebuireng KH Hasyim Asyari adalah tokoh yang berperan penting dalam memadukan Islam dan nasionalisme melalui doktrin "Cinta Tanah Air adalah bagian dari iman" dan fatwa Resolusi Jihad.

"Jihad yang dimaksud bukanlah upaya memusuhi Barat atau non-Muslim, tapi melawan penjajah kolonial Belanda. Inilah salah satu pondasi nasionalisme di Indonesia," jelasnya.

Dengan gambaran itu, imbuh Asad, jelas sekali pandangan Pesantren Tebuireng terhadap Islam dan kebangsaan. "Kalau hari ini masih ada orang yang memaksakan syariat Islam menjadi dasar negara, atau mendesakkan berdirinya khilafah, maka orang itu mengajak mundur 30 tahun ke belakang," tandasnya.

Isu lain yang didiskusikan para mahasiswa Miami Dade College adalah soal kesetaraan perempuan dalam ajaran Islam. Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Marie Geraldine Georges, seorang mahasiswi kulit hitam yang menempuh studi di jurusan Antropologi.

"Saya melihat, yang hadir sekarang laki-laki semua. Apa memang perempuan tidak boleh berperan di sini?" tanya Maria dengan nada penasaran.

Menjawab pertanyaan tersebut, Muhsin Kasmin menyatakan bahwa perempuan mendapatkan peluang yang sama, sepanjang mempunyai kemampuan yang dipersyaratkan. "Salah satu sekolah di lingkungan Pesantren Tebuireng bahkan pernah dijabat oleh seorang perempuan selama beberapa periode. Kesempatan serupa juga diberlakukan di Unhasy," ungkapnya.

Asad menambahkan, Nyai Khoiriyah Hasyim, salah satu putri KH Hasyim Asyari, bahkan dikenal sebagai ulama perempuan yang sangat terkemuka di zamannya. "Beliau juga tercatat pernah menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Di akhir kunjungan, rombongan mahasiswa yang didampingi Prof Michael Lenaghan itu menyempatkan berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di kompleks makam, mereka mendapatkan penjelasan bahwa para peziarah biasanya menyalurkan donasi atau infaq di kotak amal yang disediakan. Kotak amal ini dikelola oleh LSPT untuk pelayanan sosial, kesehatan, dan ekonomi bagi dhuafa di sekitar Pesantren Tebuireng.

Mendengar cerita itu, Michael Lenaghan spontan mengeluarkan dompetnya dan menanyakan lokasi kotak amal tersebut. Pria yang mengaku pernah tiga kali bertemu Gus Dur ini pun bergegas menuju kotak amal dan memasukkan selembar uang dolar Amerika.

Langkah dosen senior itu segera diikuti oleh dua mahasiswanya, Joshua Elias dan Enrique Sepulvedas. Ketika ditanya kenapa ikut memberikan donasi, pria paruh baya ini menjawab singkat, "Thats what friends do," ujarnya dengan nada bangga.

Selain donasi yang dimasukkan ketiga orang ini ke kotak amal, mereka secara kolektif juga menyerahkan donasi sebesar Rp. 1,5 juta kepada LSPT. Donasi ini diterima oleh Mohammad Asad mewakili pengurus LSPT. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Quote, Nasional Haedar Nashir

Selasa, 19 Mei 2009

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren

Salatiga, Haedar Nashir

Pengurus Pesantren Sunan Giri bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah mengadakan halaqah pesantren dan wawasan kebangsaan serta workshop sistem manajemen pesantren (Simapes), Ahad (24/1/2016). Halaqah ini menghadirkan pembicara Kapolres Salatiga dan Komandan Kodim 0174 Salatiga keduanya berbicara mengenai penguatan pesantren dalam bingkai etika kehidupan bernegara dan implementasi nilai-nilai Pancasila.

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren

Hadir perwakilan dari Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah KH Fadhlullah Turmudzi. Dia menyatakan bahwa RMI memfasilitasi dan meningkatkan ikhtiar pesantren melalui berbagai kegiatan, pelatihan, dan workshop.?

Hal ini sesuai dengan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama Bab V tentang Perangngkat Organisasi Pasal 17 ayat C 2015 menjelaskan bahwa RMI bertugas melaksanakan kebijakan NU dalam pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Pesantren ikut bersama membangun bangsa dan negara pada porsi masing-masing untuk mengantarkan akhlak santri dan meneladani sifat-sifat Nabi SAW.

"Dengan berbagai kegiatan tersebut, mutakhorrijin (alumni pesantren) diharapakan bisa berkiprah di masyarakat sebagaimana yang sudah disampaikan pendahulu kita," ungkap Gus Fad sapaan akrabnya.?

Haedar Nashir

Di samping itu, Gerakan Ayo Mondok tahun lalu perlu adanya tindak lanjut dari pengurus wilayah agar pesantren menjadi pilihan utama. Dengan demikian pesantren harus menyiapkan semuanya. Pesantren harus tahu tentang manajemen atau pengelolan yang baik.?

Terdapat dua langkah yang ditempuh pengurus RMINU Jateng. Pertama, memberikan pelatihan Simapes kepada pesantren. Kedua, menyelenggarakan gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren (PBPK). Ke depan pesantren harus menjadi percontohan dalam hal kebersihan. Semua itu tak lepas dari dukungan berbagai pihak termasuk pesantren itu sendiri.

Pesantren memiliki dua tantangan besar yang menghadang ke depan. Pertama, dalam hal kebangsaan. Dalam hal ini Nahdlatul Ulama yang didalamnya terdapat pesantren harus berani menaruh nyawa untuk mempertahankan Negara Kesatuan Rakyat Indonesia. Kedua, pesantren itu sendiri harus tetap eksis sebagai lembaga kaderisasi ulama bukan malah menjadi tempat untuk mengkafirkan dan membidahkan orang lain. Tantangan yang lain adalah pengembangan kemandirian ekonomi dan manajemen pesantren.?

Haedar Nashir

"Kami melibatkan pihak internal dan eksternal pesantren dalam workshop SIMAPES ini",” ungkap Kepala Seksi Pondok Pesantren Mukhtasit.?

Mukhtasit juga menegaskan, pesantren ke depan perlahan-lahan harus mampu mengimbangi perkembangan zaman dengan menata manajemen agar menjadi lebih baik. Acara ini dihadiri 50 santriwan-santriwati dari 15 pesantren di lingkungan Salatiga. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Daerah, Pendidikan Haedar Nashir

Senin, 11 Mei 2009

Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah

Uwais al-Qarni, pemuda saleh asal Yaman, pernah kecewa berat saat jerih payahnya jauh-jauh pergi ke Madinah untuk bertemu Rasulullah ternyata tak membuahkan hasil. Ketika itu ia hanya bertemu dengan istri beliau, A’isyah radliyallâhu ‘anhâ karena Nabi sedang keluar ke medan pertempuran.

Uwais juga tak mungkin menunggu orang yang sangat dirindukannya itu berlama-lama lantaran di Yaman ia sedang meninggalkan sang ibunda yang renta dan sakit-sakitan. Uwais memang terkenal sebagai pemuda dengan pengabdian kepada orang tua yang luar biasa. Rasulullah sendiri memberi catatan khusus kepadanya dan menyebut Uwais sebagai “penghuni langit”.

Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah



(Baca: Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah)


Dalam kesempatan lain, pasca-wafatnya Nabi, ia pergi ke Madinah dalam suatu momen ibadah haji. Dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn karya Imam al-Ghazali, melalui cerita Abu Sulaiman, dikisahkan bahwa ketika Uwais sampai di pintu masjid Madinah, Uwais menerima kabar bahwa di masjid tersebut Nabi dimakamkan. Seketika itu ia pingsan.

Haedar Nashir

Saat siuman, Uwais berujar, “Keluarkan aku dari sini. Aku merasa tidak enak di negeri tempat bersemayamnya Rasulullah.”

Di sini Uwais kembali menunjukkan rasa cinta dan hormatnya kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Rasa tidak nyamannya, atau lebih tepatnya perasaan malu, muncul lantaran ia sesungguhnya tidak berkenan menginjak tanah suatu daerah yang di dalamnya terdapat jasad mulia Rasulullah. Uwais memosisikan Nabi yang sudah wafat selayak ketika beliau masih hidup.

Haedar Nashir

Imam al-Ghazali di kitab yang sama lantas menjelaskan tentang adab berziarah ke makam Rasulullah. Al-Ghazali menggarisbawahi bahwa penghormatan yang setinggi-tingginya mesti ditunjukkan kala berziarah ke makam Rasulullah. Rasa tadhim peziarah mesti tampil sebagaimana saat ia menghadap pribadi mulia yang masih hidup, misalnya, dengan tidak sembarangan menyentuh atau mencium makam beliau.

Rasulullah, kata Imam al-Ghazali, mengetahui kedatangan para peziarah makamnya dan mendengar shalawat dan salam yang disampaikan kepada beliau. Sebuah hadits riwayat Nasai menjelaskan bahwa Allah mengutus malaikat yang bertugas menyampaikan salam kepada Nabi dari umatnya. (Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Warta, Syariah Haedar Nashir

Selasa, 28 April 2009

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan

Jepara, Haedar Nashir. Ketua PWNU Jawa Tengah, H Abu Hafsin mengatakan, di Thailand pernah mendiskusikan kepemimpinan di Asia. Salah satu bahasan diskusi itu, kepemimpinan di Indonesia era presiden KH Abdurrahman Wahid.

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan

Dari hasil diskusi yang diselenggarakan Bangkok Post tersebut menghasilkan empat hal negatif bahwasanya era Gus Dur sangat rentan digulingkan.

Hal itu dikemukakan Abu Hafsin saat memberikan pengarahan dalam Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah pada komisi organisasi bertempat di pesantren Al-Falah desa Bakalan kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Senin (6/1).

Haedar Nashir

Keempat hal tersebut dikatakan Abu, pada era Gus Dur tidak didukung oleh kekuatan ekonomi, birokrat, media dan konstituen. Padahal sebelum pendirian NU 1916, 2 tahun sebelumnya sudah ada Nahdlatut Tujar dan Tasywirul Afkar.

“Sebelum NU didirikan kekuatan ekonomi dan pemikiran diperkuat agar NU tetap bertahan,” sebutnya kepada pengurus PCNU, Banom, Lajnah dan MWCNU se-Jepara yang hadir.  

Haedar Nashir

Ke depan, berpijak dari hal itu NU harus memperkuat keempat komponen tersebut. “NU ke depan harus memperkuat lembaga perekonomian. Meskipun kita punya hak di pemerintahan tetapi tidak lantas manja dengan bantuan-bantuan tersebut. NU harus mandiri dalam bidang perekonomian,” paparnya.

Selanjutnya, ormas yang didirikan KH Hasyim Asyari lanjutnya harus memiliki kader politisi sebanyak-banyaknya yang punya komitmen terhadap NU dan Aswaja. Muaranya kader-kader NU yang bertebaran diharapkan menjadi tangan panjang kebijakan NU agar tetap eksis. Sedangkan di bidang media para warga NU khususnya santri harus melek media dan bisa menulis.

Selain memperkuat keempat kekuatan tersebut, Abu Hafsin juga mengetengahkan ancaman ideologi NU. Aliran-aliran yang hendak membumi hanguskan NU bebernya sudah door to door, dari rumah ke rumah.

“Semisal tradisi tahlilan oleh mereka disebutkan memang ada dalam kitab kuning (salaf, red) namun bagi mereka tidak termaktub dalam Al-Qur’an. Itu yang menjadi target “dakwah” mereka. Itu salah satu ancaman yang mesti kita waspadai,” himbaunya.

Dirinya yakin kekuatan NU kultural di desa-desa dan kampung-kampung masih eksis. Jamaah Habib Syekh dan Jamuro ditegaskannya juga menjadi salah satu penjaga Aswaja. Namun sekolah-sekolah umum yang belum terjamah NU telah dirasuki aliran-aliran tersebut.

Karenanya, siswa di sekolah imbuhnya yang merupakan kader potensial utamanya sekolah-sekolah NU perlu diselamatkan ideologinya agar tidak terjangkiti aliran-aliran salafi tersebut. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

Rabu, 08 April 2009

Layanan Kesehatan Gratis bagi Pemudik dari Komunitas Santri

Surabaya, Haedar Nashir. Seperti tahun-tahun sebelumnya, santri-santri yang tergabung dalam Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMORA) menggelar kembali posko mudik. Organisasi mahasiswa penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dari Kementerian Agama ini membuka Posko Mudik 2015 pada 11-15 Juli 2015.

Layanan Kesehatan Gratis bagi Pemudik dari Komunitas Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Layanan Kesehatan Gratis bagi Pemudik dari Komunitas Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Layanan Kesehatan Gratis bagi Pemudik dari Komunitas Santri

Kali ini pos pelayanan tersebut didirikan di tiga lokasi, yakni di samping Masjid Roudlatus Shalihin Kragan, Rembang, Jawa Tengah; di depan Masjid Muhammad Cheng Hoo Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur; dan sebelum pintu masuk Jembatan Suramadu, Surabaya.

Dalam posko itu, para perantau yang sedang dalam perjalanan pulang kampung akan mendapatkan sejumlah fasilitas gratis, antara lain pemeriksaan medis, konsultasi kesehatan, takjil, tempat istirahat, informasi seputar mudik, dan lain-lain. Panitia juga bekerja sama dengan pengurus masjid, dinas kesehatan daerah dan Polres sekitar lokasi posko.

Haedar Nashir

Sebelumnya posko dibuka dengan khataman al-Qur’an di tiga lokasi tersebut. Menurut Misbahul Huda, ketua panitia, dengan khataman, pihaknya berharap posko mudik yang dilaksanakan dapat berjalan lancar dan bermanfaat.

Haedar Nashir

Ia mengatakan, tujuan CSSMORA mengadakan posko mudik adalah untuk mengembangkan keilmuan santri yang didapat di bangku kuliah, melatih diri lebih aktif, kreatif, dan tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi saat praktik di lapangan atau masyarakat.

"Ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbunga. Lewat posko mudik ini, diri kita dilatih bagaimana mengahadapi masyarakat, meningkatkan kepedulian, dan membangun karakter saling berbagi,” ungkap Misbah yang menjaga lokasi posko di Surabaya saat diminta konfirmasi Haedar Nashir, Ahad (12/07). (M. Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax Haedar Nashir

Sabtu, 07 Maret 2009

Pergunu Jakarta Barat Dilantik

Jakarta, Haedar Nashir?

Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta melantik Pimpinan Cabang Pergunu Jakarta Barat di aula Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Barat bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional akhir pekan lalu.?

Pergunu Jakarta Barat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jakarta Barat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jakarta Barat Dilantik

Kegiatan tersebut dirangkai dengan sarasehan bertema "Membendung Radikalisme dengan Pengutan Pemahaman Ahlussunah Wal Jamaah An-Nahdliyah".

Ketua PC Pergunu Jakarta Barat H. Nur Sehat mengungkapkan, Pergunu merupakan pilihan yang tepat bagi guru untuk memperjuangkan nilai-nilai Aswaja dan nilai kebangsaan melalui jalur pendidikan.?

Haedar Nashir

“Kerana melalui guru, nilai kebangsaan ala NU akan ditanamkan menjadi karakter peserta didik,” katanya melalui siaran pers Selasa (25/10).?

Lebih lanjut, Nur Sehat yang kepala SMPN 207 menjelaskan keberadaan Pergunu juga diharapkan mampu membendung berkembangnya paham radikalisme di lingkungan sekolah. Karena paham tersebut kalau dibiarkan berkembang akan menjadi bom waktu bagi NKRI.

Haedar Nashir

Sementara itu, Ketua PW Pergunu DKI Jakarta Aris Adi Leksono dalam sambutannya menekankan bahwa nilai dan prinsip perjuangan Pergunu selaras dengan NU.?

Maka, menurutnya Pergunu wajib memperjuangkan paham Aswaja An-Nahdliyah melalui jalur pendidikan. Maka dari itu, anggota Pergunu harus memiliki empat kompetensi yang menjadi amanat undang-undang, juga harus memiliki kompetensi ideologis berbasis Aswaja Annahdliyah.

Lebih lanjut, Aris menekankan pentingnya guru dalam naungan Pergunu dalam praktek pembelajaran mengambil referensi dari ulama salafunassolikh. Pandahulu NU, dalam mendidik selalu memegang teguh keikhlasan dan ruh jihad sebagai seorang guru yang peka dan peduli pada peserta didiknya. "athoriqotu ahammu minal maadah, wal mudarrisu ahammu minat thoriqoh, wa ruuhul mudarrisu ahammu minal mudarrisi binafsihi".

Sebagai narasumber sarasehan Aswaja, KH Mujib Qulyubi, Katib Syuriyah PBNU, dan Jakfar Amirudin, Ketua LP Maarif DKI Jakarta yang juga Anggota Komisi Pusat Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah.?

Menurut Kiai Mujib, paham Aswaja sudah teruji dalam lintasan sejarah mampu menghadirkan wajah Islam yang sejuk dan kedamaian.?

“Kiprah NU sebagai organisasi kemasyarakatan juga sudah mendapatkan pengakuan, baik secara nasional maupun internasional. Salah satu buktinya adalah hari ini kita peringati hari Santri.”

Sementara itu, Jakfar Amirudin mengungkapkan perlu mengemas paham Aswaja An-Nahdliyah dengan medotologi yang modern. Bagaimana kemudian dakwah Aswaja ini memanfaatkan media IT yang sekarang cepat. Dengan kemasan jenaka dan kata-kata atau kalimat yang familier di semua kalangan, khususnya kalangan remaja, pemuda, dan belajar. Untuk itu, LP Maarif DKI Jakarta mengajak bersinergi dengan Pergunu dalam merumuskan konsep dan gerakan Aswaja dengan sajian yang kompatibel dengan perkembangan zaman.?

Hadir dalam pelantikan dan sarasehan Aswaja tersebut H. Solahi, Kepala Kantor Kemenag Kota Jakarta Timur, AKBP Fauzan, Waka Polres Jakarta Barat, KH Fahrurrozi, Ketua PCNU Jakarta Barat, Kepala Badan Kesmas Wali Kota Jakarta Barat, segenap banom dan lembaga NU se-Jakarta Barat, Pengurus MWCNU, serta organisasi profesi guru lainnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Khutbah Haedar Nashir

Senin, 02 Maret 2009

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Solo, Haedar Nashir. Menjelang pelaksanaan Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama XVIII di Boyolali, Jawa Tengah, pada Desember mendatang, sejumlah kader IPNU di wilayah Soloraya menitipkan harapan pada acara tertinggi di ranah pelajar NU tersebut.

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Harapan pertama datang dari salah satu pengurus PW IPNU Jawa Tengah, Ahmad Saefuddin. Mantan Ketua PC IPNU Klaten tersebut berharap, Kongres mampu menelurkan program-program yang berdampak langsung kepada wilayah, cabang dan seterusnya.

“Selain itu, PP IPNU juga mampu merapikan struktur IPNU di setiap tingkatan terkait peraturan baru yang dikeluarkan oleh PBNU bahwa maksimal pengurus IPNU sampai 26 tahun,” kata Saefuddin, saat dihubungi Haedar Nashir, Jumat (12/11).

Haedar Nashir

Ia juga berharap, agar Kongres tidak dijadikan hanya sebagai ajang pemilihan pimpinan, tetapi pemilihan pemimpin. “Optimalisasi sinergi PP IPNU dengan LP Maarif dan RMI juga masih belum maksimal, sehingga ini masih menjadi tugas besar bagi IPNU ke depannya,” ujar dia.

Senada dengan Saefuddin, alumni kader IPNU asal Boyolali, Agus Luqman, juga menantikan sebuah asa untuk Kongres mendatang.

Haedar Nashir

“Masih banyak agenda besar yang harus dikawal dan dilaksanakn oleh IPNU ke depannya. Tentunya terkait dengan kaderisasi di segmen pelajar dan santri. Pengalaman saya dari kongres ke kongres, peserta tidak fokus membahas materi, yang itu tentunya sangat penting untuk masa depan IPNU, tetapi peserta disibukkan dan terfokus masalah suksesi calon ketum. Seharusnya paradigma itu harus dirubah,” paparnya.

Sementara itu, dua Ketua PC IPNU Sukoharjo dan Klaten, Atsani Imam Ghozali dan Lystyanto Achmad berharap, Kongres IPNU kali ini dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang ada di IPNU. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Pendidikan, Pahlawan Haedar Nashir