Kamis, 10 April 2014

Hidupkan NU di Setiap Tingkatan untuk Tangkal Paham Sesat dan Radikal

Demak, Haedar Nashir

Akhir-akhir ini muncul berbagai aliran yang mengatasnamakam Islam. Padahal menanamkan paham sesat maupun paham keras atau radikal. Semua itu muncul dan hidup di daerah yang minim NU atau tidak ada kepengurusan NU, sehingga pesan dan ajaran Aswaja tidak bisa disampaikan kepada masyarakat di lingkungan tersebut.

Hidupkan NU di Setiap Tingkatan untuk Tangkal Paham Sesat dan Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidupkan NU di Setiap Tingkatan untuk Tangkal Paham Sesat dan Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidupkan NU di Setiap Tingkatan untuk Tangkal Paham Sesat dan Radikal

Demikian disampaikan KH Musadad Syarif dalam rapat koordinasi pengurus cabang dengan pengurus MWCNU se-Kabupaten Demak di masjid Jami Baitul Muttaqin Pidodo Karang Tengah, Demak, Jawa Tengah, Ahad (13/3).

Musadad menjelaskan, hidupnya kepengurusan NU di semua tingkatan menjadikan organisasi yang mengembangkan aliran sesat maupun radikal tidak mempunyai ruang untuk mengembangkan maupun menyebarkan ajarannya.

“Hidupnya NU otomatis menangkal aliran sesat, karena program dan ajaran NU bisa sampai ke umat,” tambah Musadad.

Haedar Nashir

Senada dengan Musadad, Sekretaris PCNU Demak Khoirun Zain saat mendampingi ketua dalam memimpin rapat lebih ? menekankan pada menghidupkan kembali pengurus ranting dengan berbagai kegiatannya.

Harapannya, intensitas kegiatan yang dilakukan organisasi akan bisa menyampaikan pesan pimpinan pada anggotanya sehingga konsolidasi organisasi bisa berjalan dengan baik.

“Kami mengharap pada seluruh pengurus MWCNU agar ranting-ranting yang selama ini agak kurang greget untuk diaktifkan kembali, dengan demikian semakin banyak silaturrahim, semakin banyak info yang kita dapat dan semakin cepat pula kita bertindak,” terang Khoirun Zain. (A Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Fragmen, AlaNu, Sejarah Haedar Nashir

Kamis, 27 Maret 2014

Siapkan Kader Kawal Ulama dan Bangsa, Banser Pringsewu Rekrut Anggota Baru

Pringsewu,Haedar Nashir. Dalam rangka kaderisasi anggota Barisan Serbaguna (Banser) sekaligus memupuk militansi dalam berorganisasi serta penanaman nilai nilai Aqidah Ahlussunnah wal-Jama’ah pada seluruh kader baru, Satkorcab Banser VII-12 Kabupaten Pringsewu melakukan penerimaan anggota baru. Rekrutmen dikemas dalam bentuk Pendidikan Latihan Dasar Banser angkatan III Tahun 2016 berbarengan dengan Pelatihan Kepemimpinan Dasar.

Siapkan Kader Kawal Ulama dan Bangsa, Banser Pringsewu Rekrut Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapkan Kader Kawal Ulama dan Bangsa, Banser Pringsewu Rekrut Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapkan Kader Kawal Ulama dan Bangsa, Banser Pringsewu Rekrut Anggota Baru

Dihubungi Rabu (20/7) Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pringsewu M. Sofyan mengatakan bahwa pelaksanaan pendidikan akan dilaksanakan mulai 29 sampai 31 Juli 2016 di Kecamatan Ambarawa.

Sofyan menambahkan bahwa para anggota baru akan mendapatkan materi materi yang meliputi Ke NU an dan keaswajaan, keansoran, kebanseran, Peraturan Militer Dasar (Permildas), bela diri Banser, wawasan kebangsaan, dan kewirausahaan.

Haedar Nashir

Lebih lanjut Sofyan mengajak kepada segenap pemuda NU untuk bergabung bersama Ansor dan Banser dalam rangka berkhidmah menjunjung agama Islam melalui organisasi dengan menjadi benteng pangawal para ulama.

Haedar Nashir

Ia menejlaskan beberapa hal yang harus dipenuhi sebagai syarat keikutsertaan dalam kegiatan ini meliputi beragama Islam ala ahlissunnah wal-Jama’ah an-Nahdliyyah, sehat jasmani rohani, berumur minimal 18 tahun maksimal 40 tahun, tinggi 160 cm dan mendapat persetujuan orang tua.

"Setelah mengikuti Diklat ini para anggota baru yang dinyatakan lulus dalam pendidikan harus siap berkhidmah di organisasi," tegasnya.

Sofyan menjelaskan bahwa anggota Ansor dan Banser harus mengetahui bahwa organisasi tersebut merupakan pemuda Nahdlatul Ulama memiliki fungsi dan tanggung jawab untuk menjaga, memelihara, menjamin kelangsungan hidup serta kejayaan Gerakan Pemuda Ansor dan jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Selain itu Ansor dan Banser juga bertanggungjawab dalam melakukan pengamanan dan ketertiban terhadap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Banser, Gerakan Pemuda Ansor, Nahdlatul Ulama serta kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya yang tidak bertentangan dengan perjuangan Nahdlatul Ulama.

Dan yang tidak kalah penting menurutnya, Ansor dan Banser harus bersama dengan kekuatan bangsa yang lain untuk tetap menjaga dan menjamin keutuhan bangsa dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam ikut menciptakan keutuhan NKRI. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Selasa, 25 Maret 2014

Beberapa Wirid Rasulullah Jelang Menunaikan Shalat

Suatu kali Rasulullah didatangi Salma Ummu Rafi’. Budak perempuan yang dimerdekakannya ini meminta petunjuk Rasulullah tentang amalan apa bisa ia praktikkan. Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam pun menjawab, “Saat engkau hendak menunaikan shalat bertasbihlah kepada Allah sepuluh kali, bertahlillah sepuluh kali, bertahmidlah sepuluh kali, bertakbirlah sepuluh kali, dan beristighfarlah sepuluh kali. Setelah engkau bertasbih, Allah mengatakan “Ini untuk-Ku”; setelah bertahlil, Allah mengatakan “Ini untuk-Ku”; setelah engkau bertahmid, Allah mengatakan “Ini untuk-Ku”, setelah engkau bertakbir Allah mengatakan “Ini untuk-Ku”; setelah engkau beristighfar, Allah mengatakan “Aku telah mengampunimu”.

Bertasbih berarti membaca:

Beberapa Wirid Rasulullah Jelang Menunaikan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Wirid Rasulullah Jelang Menunaikan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Wirid Rasulullah Jelang Menunaikan Shalat

? ? ?

Haedar Nashir

Subhânallâh (Mahasuci Allah)



Bertahlil berarti membaca:

? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Lâilâha illallâh (tiada Tuhan selain Allah)



Bertahmid berarti membaca:

? ?

Alhamdulillâh (segala puji bagi Allah)



Bertakbir berarti membaca:

? ?

Allâhu akbar (Mahabesar Allah)



Beristighfar berarti membaca:

? ?

Astaghfirullahal ‘adhîm (aku memohon ampun kepada Allah)



Menjelang dilaksanakannya shalat merupakan waktu yang baik untuk dzikir dan berdoa. Rentang waktu tersebut menjadi momen umat Islam mempersiapkan diri menunaikan ibadah paling spesial, yakni shalat. Dalam salah satu hadits juga disebutan bahwa saat kumandang iqamah, adalah saat doa-doa dikabulkan.? (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

(Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Budaya, Sejarah Haedar Nashir

Selasa, 18 Maret 2014

Kader Ansor Gayam Didorong Kembangkan Bisnis Peternakan

Bojonegoro, Haedar Nashir

Peternakan merupakan hal yang strategis untuk meningkatkan perekonomian, namun hal itu harus dilakukan dengan benar. Setidaknya hal itu yang muncul dalam forum Obrolan Bareng Ansor atau Obor yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Gayam Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (4/8/2017).

Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, Muhammad Jai yang juga sebagai ahli peternakan dan Direktur Yayasan Bimantari.

Kader Ansor Gayam Didorong Kembangkan Bisnis Peternakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Gayam Didorong Kembangkan Bisnis Peternakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Gayam Didorong Kembangkan Bisnis Peternakan

Dia menyampaikan bahwa memahamkan pemuda tentang peternakan adalah persoalan mengubah pola pikir yang tidak bisa dilakukan begitu saja. karena stigma di masyarakat masih menganggap sektor peternakan tidak menjanjikan hasil yang besar.

Haedar Nashir

"Banyak dari masyarakat kita yang belum memahami cara beternak yang efektif sehingga seringkali gagal dalam beternak, sampai mereka berkesimpulan beternak tidak prospektif," ungkapnya dalam dialog yang digelar di Mushala Maslakul Huda, Beged, itu.

Padahal, ia melanjutkan, beternak harus dipahami di semua lini prosesnya, termasuk dalam memahami nutrisi pakan dan efektivitas pembiayaanya.

Haedar Nashir

"Kalau kita paham caranya, memberi pakan ternak itu cukup kita mencari rumput sekali dan dibuat menjadi pakan yang bisa digunakan selama sebulan lebih, dengan melalui cara dan strategi yang tepat," tambahnya.

Ia berharap, kader Ansor Gayam menjadi bagian dari elemen yang mengubah pemahaman masyarakat soal peternakan. "Forum seperti ini sangat luar biasa untuk mengembangkan pengetahuan kita secara benar," pungkasnya.

Sementara itu, koordinator kegiatan Obor, Mustofa Amin menyampaikan, kegiatan ini akan menjadi wadah penambahan wawasan kader, supaya dapat diaplikasikan ilmunya secara nyata.

"Semoga ke depan lebih banyak yang menerima manfaat atas wawasan seperti ini," ungkap pria yang juga guru di salah satu madrasah aliyah di Bojonegoro ini. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Pondok Pesantren, Quote Haedar Nashir

PCINU Turki Beserta Komunitas Indonesia di Istambul Gelar Isra Mi’raj

Istambul, Haedar Nashir?

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Turki (PCINU Turki) bekerja sama dengan Masyarakat Indonesia di Istanbul (MII), serta Perhimpunan Pelajar Indonesia Istanbul (PPI Istanbul) memperingati Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW 1438 H di Istanbul, Turki, baru-baru ini.?

PCINU Turki Beserta Komunitas Indonesia di Istambul Gelar Isra Mi’raj (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Turki Beserta Komunitas Indonesia di Istambul Gelar Isra Mi’raj (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Turki Beserta Komunitas Indonesia di Istambul Gelar Isra Mi’raj

Acara yang dimulai dari pukul 12.30 waktu setempat ini diikuti oleh sekitar lima puluh orang, baik warga Turki maupun warga negara Indonesia yang sedang belajar, bekerja, atau memang hidup di Turki.

Dalam acara tersebut, hadir pula Perwakilan Konsul Jenderal KJRI Bidang Sosial dan Budaya, Harlan Hakim serta penceramah utama Prof Dr Syaikh Muhammad Fadhil Al Jaelani. Ia merupakan cucu ke-8 dari Sulthonul Awliya’ Syaikh Abdul Qodir Jaelani. Syaikh Fadhil juga kerap kali datang dan memberikan ceramah agamanya di Indonesia.?

Acara juga dihadiri oleh Ketua MII, Fardal Dele Yilmaz, Rais Syuriyah PCINU Turki, Amirullah Asyarie, Ketua Tanfidziyah PCINU Turki, Yafik Mursyid, serta perwakilan organisasi-organisasi di Istanbul dan Turki seperti PPI Istanbul, Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PPI Turki, Pengurus Cabang Muhammadiyah ? Turki, dll.?

Haedar Nashir

Acara ini juga dimeriahkan oleh kehadiran penyanyi kondang Siti Rahmawati, atau yang akrab disapa Siti KDI, dengan membawakan beberapa buah lagu religi.

Acara yang didukung penuh oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia Istanbul (KJRI Istanbul) diadakan di sebuah yayasan yang bernama Ensar Vakfi, sebuah yayasan yang fokus terhadap bidang iptek dan imtak bagi warga negara Turki dan juga dunia internasional.?

Haedar Nashir

Acara dimulai dengan makan bersama dengan menu makanan khas Turki, kemudian pembacaan ayat suci Al-Quran serta saritilawahnya, dilanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sambutan dari Ketua Panitia, Achmad Zuhdi, serta Konsul Jenderal Bidang Sosial dan Budaya, Harlan Hakim.?

“Acara ini tidak hanya terbuka bagi kalangan WNI di Turki atau warga negara Turki saja, kami juga mengundang warga negara lain yang tinggal di Turki. Hal ini menunjukkan persatuan umat Islam yang menjadi rahmat bagi segala alam, termasuk bagi warga negara di seluruh dunia, demi mengenalkan budaya Islam Nusantara yang luhur seperti yang diperkenalkan oleh Walisongo,” ucap Achmad Zuhdi dalam sambutannya.?

Tema persatuan juga diungkapkan kembali oleh Harlan Hakim dalam sambutannya. Terselenggaranya acara atas kerja sama tiga organisasi (PCINU Turki, MII, PPI Istanbul) adalah salah satu bentuk dari persatuan itu dan seyogyanya bisa dibawa oleh warga Indonesia hingga nanti kembali ke tanah air. Harapannya ke depan akan ada acara-acara serupa yang didasarkan pada kerja sama mengingat setiap tahun selalu ada acara yang didasarkan pada gotong-royong antar sesama organisasi di Turki.?

Setelah itu acara diisi oleh kegiatan seni dengan pembacaan puisi-puisi islami, serta pemutaran video profil dari PCINU Turki dan MII.?

Acara berlanjut pada tausyiah yang diberikan oleh penceramah Syaikh Muhammad Fadhil Al Jailani. Ulama yang kerap ini disapa Syaikh Fadhil ini memberikan ceramah agama dengan bahasa Turki dan Arab, dengan penerjemah Ketua Tanfidziyah PCINU Turki periode sebelumnya, Ulin Nuha. Syaikh Fadil mengawali ceramah dengan menegaskan bahwa nabi besar Muhammad SAW diutus ke muka bumi sebagai pemimpin tidak hanya bagi manusia, tidak juga hanya kepada hewan dan jin, tapi juga untuk seluruh alam.?

Ia mengatakan bahwa manusia pertama yang merasakan rahmat Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Adam AS, di mana Nabi Adam AS bisa menikah dengan Siti Hawa setelah membaca shalawat kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Bentuk rahmat Nabi Besar Muhammad SAW yang lain juga beliau tambahkan yaitu dengan diterimanya taubat Nabi Adam AS dengan mengucapkan shalawat atas Nabi Muhammad SAW. Kemudian ia mengingatkan kepada hadirin yang hadir untuk menambahkan kata sayyidina di belakang nama Nabi Muhammad SAW ketika bershalawat sebagai bentuk penghormatan, sebab beliau Nabi Besar Muhammad SAW merupakan penghulu (sayyid: penghulu) bagi sekalian alam.

Kemudian Syaikh Fadil menjelaskan mengenai Isra dan Miraj Nabi Besar Muhammad SAW. Isra merupakan perjalanan Nabi Besar Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Sedangkan Miraj merupakan kisah perjalanan Nabi dari bumi naik ke langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah Allah SWT, termasuk menjalankan shalat lima waktu dalam sehari semalam.?

Sejarah Isra Miraj Nabi Besar Muhammad SAW ditandai dengan adanya batu yang mengambang setinggi kurang lebih 2 meter. Menurut penjelasan Syaikh Fadhil batu tersebut merupakan landasan pacu saat Nabi Besar Muhammad SAW melakukan Miraj.?

Ceramah diakhiri dengan ijazah beliau dalam bershalawat kepada hadirin yang hadir yaitu Allahumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa alihii wa shahbihi wasallim sebanyak 313 dalam sehari semalam, seperti apa yang dikatakan Syaikh Abdul Qodir Jailani, Sulthonul Awliya.

Setelah ceramah kemudian penyerahan cindera mata untuk Syaikh Fadhil dari PCINU Turki yang diberikan langsung oleh Harlan, serta cindera mata dari MII yang diwakilkan oleh Fardal Dele Yilmaz. Kemudian seluruh hadirin berfoto bersama dengan Syaikh Fadhil Al Jailani. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Daerah Haedar Nashir

Rabu, 12 Maret 2014

Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah

Sumenep, Haedar Nashir. Para mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta turut memeriahkan acara silaturrahim alumni Pesantren Annuqayah di aula Syarqawi, Guluk-Guluk, Sumenep Madura, Sabtu (31/10). Mereka merupakan perwakilan dari Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Cabang Yogyakarta.

Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah

Rinciannya, 3 dari perwakilan pengurus IAA Yogyakarta tersebut ialah Zian Faradis (ketua), Moh. Affan dan Faza Binal Alim; 2 orang penasehat IAA Yogyakarta Ruslani dan Haris.

Dalam kesempatan itu, mereka menghadirkan keteladanan pengasuh Pesantren Annuqayah alm KH A Warits Ilyas. Dua buku tersebut berjudul ‘Inspirator dan Guru Umat’ sebanyak 60 buah dengan harga Rp 25 ribu, sedangkan buku lainnya bertajuk ‘Oase Keteladanan KH Warits’ sebanyak 4 buku seharga Rp 35 ribu.

Haedar Nashir

"Penghasilannya buat IAA Press yang baru diprakarsai oleh IAA Yogyakarta," ujar Moh Affan.

Mengacu pada keteladanan Kiai Warits, lanjut Affan, pesantren secara umum dan Pesantren Annuqayah khususnya, harus menjadi lembaga Islam yang mampu memberikan solusi terdepan bagi kehidupan modern saat ini.

Haedar Nashir

"Tentunya dengan menjadi lembaga pendidikan Islam yang tidak terjebak pada pendikotomian ilmu: ilmu agama dan umum, seperti yang sudah ditulis Prof Dr Abd Ala (salah satu Kiai Annuqayah) dalam buku  Pembaharuan Pesantren," harap Affan.

Affan juga menerangkan, bahwa  alumni Annuqayaah banyak menjadi tokoh, pemikir, penyair, penulis, dosen, politisi, kiai, pengusaha, wartawan, dan sebagainya. “Mari berdayakan  sumberdaya manusia yang ada. Dan semoga Annuqayah menjadi lembaga yang terus merakyat," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Minggu, 02 Maret 2014

Ini Komentar Imam Aziz Soal Jilbab Halal dan Labelisasinya

Gunung Kidul, Haedar Nashir - Terminologi jilbab halal menarik perhatian Ketua PBNU H Imam Aziz. Istilah ‘jilbab halal’ beserta sertifikat halal yang menyertainya bagus-bagus saja di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Islam. Hanya saja yang terbaik adalah edukasi halal itu sendiri, bukan sertifikatnya.

"Produk bersertifikat halal memang perlu, tapi yang lebih perlu dan penting itu edukasi halal, " ujar H Imam Aziz kepada Haedar Nashir, Ahad (7/2).

Ini Komentar Imam Aziz Soal Jilbab Halal dan Labelisasinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Komentar Imam Aziz Soal Jilbab Halal dan Labelisasinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Komentar Imam Aziz Soal Jilbab Halal dan Labelisasinya

Menurut Imam, halal dan haram itu bukan labelisasi tetapi pendidikan kepada masyarakat agar mereka memahami halal dan haram sebagaimana yang diajarkan Islam.

Haedar Nashir

"Selain itu, labelisasi itu berisiko karena setelah sebuah produk itu sudah dicap halal, jangan-jangan di tengah-tengah perjalanan produk tersebut sudah tidak halal lagi. Dikarenakan tidak setiap saat badan itu mengontrol produk yang telah dicap halal," jelas Imam.

Ia menambahkan, kalau edukasi itu berjalan dengan baik, sebuah produk itu akan halal li dzatih (Red. halal pada produk), maupun halal li ghairih (Red. halal pada pengguna)," pungkas Ketua PBNU tersebut. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Amalan Haedar Nashir