Minggu, 03 Agustus 2014

MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik

Di pinggiran Kota Bojonegoro, tepatnya di Dusun Kendal, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander terdapat madrasah swasta tingkat Madrasah Aliyah (MA) bernama MA Ar-Rasyid. Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al Rasyid ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang? mengedepankan ilmu keagamaan dan sopan santun sebagai tolak ukur siswa berprestasi. Sehingga, penilaian prestasi tidak hanya terpaku pada nilai akademik tapi juga nilai suluk (akhlak) peserta didik.

Dari sejarahnya, MA Al-Rasyid berdiri sejak awal tahun 1959. Sebelum berdiri MA Ar-Rasyid dulu hanyalah berupa pendidikan berbentuk madrasah diniyah dengan nama Al-Islah. Seperti madrasah diniyah pada umumnya, Madin Al-Islah yang mengklasifikasikan setiap anak didik menjadi tiga tingkatan yakni Madrasah diniyah Ulaa (dasar), Wustho (menengah), dan Ulya (Atas).

MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik

Muridnya ketika itu hanya kurang lebih 18 anak didik yang juga menetap di asrama pondok. Seiringnya berjalannya waktu madrasah diniyah mengembangkan keilmuanya di bidang sosial dengan mendirikan Madrasah Aliyah (MA) Al Rasyid. Tujuannya agar semua anak didik bisa juga menguasai berbagai macam ilmu di bidang formal atau sosial guna membangun bangsa serta Negara sesuai ilmu yang dimilikinya. Selain itu juga belajar? ilmu agama sebagai bekal Tafaqquh Fiddin yang berfungsi pemeliharaan, pengembangaan penyiaran ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah.

Sejak mulai berdiri di tahun 1979 sampai sekarang, MA Al-Rasyid mengalami tiga periodedisasi kepemimpinan yang setiap periodenya tetap konsisten menjadi sekolah yang tetap menjunjung nilai kesopanan dalam berakhlaqul karimah.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Di masa awal periode pertama tahun 1979 sampai 1991 MA Al-Rasyid dipimpin oleh KH.Sajjidun. Saat itu, lembaga masih dalam masa sulit karena kesemuanya dalam keterbatasan sarana maupun prasarana bahkan keterbatasan tenaga pendidik.

Pada masa kedua MA Al Rasyid dipimpin oleh H Syamsul Hadi beliau memimpin mulai tahun 1991 sampai 2005 dimana Madrasah yang beliau pimpim belum bisa berkembang secara signifikan. Meski? tenaga pendidik potensial mulai ada yang terus mengabdikan tenaganya untuk sekolah.? Pada periode ini, MA Al-Rasyid sudah mulai banyak dikenal masyarakat luas di Kabupaten Bojonegoro salah satunya selalu tampil dalam pelaksanaan fungsi Kepala Madrasah.

Pada periode ketiga yakni tahun 2006 hingga sekarang MA Al-Rasyid mengalami kemajuan yang sangat pesat di berbagai bidang baik dalam segi pembelajaran serta tenaga pendidik. Sehingga saat ini mumpuni untuk bisa bersaing dengan lembaga sekolah lain, bahkan kini? juga membuka Kelas Unggulan.

Kegiatan pembelajaran di MA Al-Rasyid mencakup pendidikan agama dan pembelajaran kitab kuning. Peserta didik diajarkan ilmu Alquran, Hadis, Nahwu, Sharaf, Fikih, Ushul Fiqih, Tafsir, Imla serta Insya.? Selain itu juga menonjol di bidang ekstrakurikuler, salah satunya di bidang drumben.

Madrasah yang berada di Jalan KHR Moh Rosyid Nomor 28 ini memiliki grup drumben akrobatik. Grup drumben binaan lembaga tersebut tidak hanya sekadar membunyikan alat-alat drumben seperti terompet, simbal, Baritone Horn, bass dan terompet tapi juga dilengkapi atraksi akrobatik? yang biasa dikenal dengan sebutan Air Fighter.

Sesuai dengan namanya, Air Fighter, para personel grup drumben MA Al-Rasyid saat bermain juga melakukan salto dan atraksi udara lainnya. Karena keunikannya ini, tak ayal grup drumben MA Al-Rasyid sering mengikuti berbagai festival bahkan pernah juga diundang di kabupaten-kabupaten luar Bojonegoro. Bisa dibilang, MA Al-Rasyid menjadi pelopor drumben Air Fighter, tak ayal ketika disearch di google kata kunci “Drumbad Air Fighter” yang muncul adalah atraksi salto dari siswa MA Al-Rasyid.

Para personel drumben akrobatik setiap satu pekan sekali belajar teknik-teknik drumben akrobatik dengan para pembina khusus yang sudah piawai. Ektrakurikuler memang sengaja dilaksanakan di luar jam sekolah setiap hari yang dimulai pukul 07.00 pagi hingga 13.00 siang dan di hari libur, yakni hari Jumat. Alasannya, agar para siswa bisa fokus dan tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar.

Selain drumben, ada pula kegiatan ekstra kulikuler lainnya seperti Pramuka,PMR, Olahraga, Muhadhoroh dan Munaqosah. Semua kegiatan itu dilksanakan untuk mengembangkan siswa dari segala potensi yang ada di diri mereka.

MA Al-Rasyid saat ini sudah berusia 36 tahun, di usia yang terbilang sudah matang sebagai lembaga pendidikan dan bisa dikategorikan sebagai pesantren tujuan para peserta didik. Terbukti,? 75 persen siswa MA Al Rasyid berasal dari berbagai daerah luar Bojonegoro selebihnya 25 persen siswa berasal dari masyarakat sekitar Bojonegoro.

Untuk memenuhi tuntutan perkembangan keilmuan, selain jurusan agama, MA Al-Rasyid juga mempunyai dua program jurusan yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) . Tak hanya itu, pihak madrasah juga menerapkan penggunaan bahasa asing yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang t rutin digunakan pada waktu pembelajaran efektif.

Tujuannya, agar pengembangan diri setiap siswa dapat terpupuk serta tergali dengan mengalokasikan jadwal tertentu yang dibimbing dan diawasi oleh tenaga pendidik yang berkompeten di bidangnya. Terbukti, banyak raihan prestasi yang diperoleh siswa MA Al-Rasyid,? termasuk prestasi Juara Lomba Pidato Bahasa Inggris.

Untuk memajukan sekolah, setiap bulan sekali pihak yayasan melakukan evaluasi untuk mengukur taraf kemampuan pendidikan sekolah agar terus berkembang dan dapat besaing dengan lembaga sekolah lain. Harapannya, semoga Madrasah Aliyah (MA) Al Rasyid kedepan lebih dapat bisa bersaing dapat mencetak generasi yang cinta terhadap lingkungan Ponpes Al Rasyid serta menjadikan alumni-alumninya? berguna bagi negara sebagai wujud sumbangsih yayasan untuk selalu maju. (Nidhomatum MR)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Nahdlatul Haedar Nashir

Jumat, 01 Agustus 2014

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo

Kudus, Haedar Nashir - Kegiatan Tur Dakwah Keliling Meneladani KHR Asnawi yang digelar keluarga besar Qudsiyyah Kudus dimeriahkan dengan tari sufi diiringi dan rebana Al-Mubarok Qudsiyyah. Dakwah dari desa ke desa ini ditutup dengan pengajian umum yang berlangsung di halaman masjid Suryawiyyah Desa Kirig Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus, Ahad (15/5) malam. Sedikitnya 5.000 pengunjung meramaikan pengajian ini.

Pengajian di Mejobo ini merupakan putaran terakhir kegiatan Tur Dakwah Keliling dalam rangka peringatan satu abad Qudsiyyah. Sebelumnya kegiatan serupa telah berlangsung di Kecamatan Dawe, Bae, Undaan, Kaliwungu, Jekulo, Gebog, dan Jati. Berikutnya kegiatan serupa akan dilaksanakan di luar Kudus, yakni di Demak, Jepara, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo (Sumber Gambar : Nu Online)
Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo (Sumber Gambar : Nu Online)

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo

KH Nor Halim Maruf saat menyampaikan taushiyah mengajak generasi sekarang mengikuti dan menggali model-model dakwah yang dilakukan para pendahulu. "Jasa-jasa para ulama terdahulu, jasa Mbah Kiai Raden Asnawi dalam berdakwah mengembangkan Islam begitu besar," kata Kiai Nor Halim.

Haedar Nashir

Ia menambahkan, para ulama terdahulu begitu ikhlas berjuang mengembangkan Islam dengan ajaran yang santun dan penuh makna. Ia berharap generasi sekarang mampu meneladani dan mengambil hikmah serta meneruskan perjuangan para sesepuh.

Haedar Nashir

Sepuluh jamiyyah rebana dari Kudus dan Pati meramaikan festival hadrah pada Ahad (15/5) siang. Kegitan yang berlangsung sangat meriah ini dimulai jam 10 pagi hingga sore. Tiga grup terbaik mendapatkan trofi dan uang pembinaan dari panitia.

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR Asnawi Kudus, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dari Kudus. Madrasah Qudsiyyah resmi berdiri pada tahun 1337 H. (Kharis/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Kamis, 24 Juli 2014

1-23 September, Masa Akreditasi Anak Cabang Ansor Se-Bondowoso

Bondowoso, Haedar Nashir

Gerakan Pemuda Ansor dalam upaya menertibkan administrasi dan menata system pengaderan melakukan akreditasi kelembagaan mulai dari tingkat wilayah, cabang, anak cabang, hingga anak ranting.

1-23 September, Masa Akreditasi Anak Cabang Ansor Se-Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)
1-23 September, Masa Akreditasi Anak Cabang Ansor Se-Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)

1-23 September, Masa Akreditasi Anak Cabang Ansor Se-Bondowoso

Untuk proses ini, Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kebupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengingatkan seluruh anak cabang atau kepengurusan di tingkat kecamatan untuk mempersiapkan diri menyongsong giliran akreditasi pada September ini.

“Adanya akreditasi tentu menjadi sebuah motivasi bagi kita selaku kader Gerakan Pemuda Ansor,” kata Ketua PC GP Ansor Bondowoso Muzammil pada rapat pleno yang diikuti ketua dan sekeretaris Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Se-Kabupaten Bondowoso di Desa Wisata Organik, Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, Ahad (14/8) siang.

Haedar Nashir

Proses akreditasi akan dilakukan langsung oleh Pimpinan Pusat GP Ansor dan Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur. Muzammil memaparkan rincian jadwal turba (turun ke bawah) dalam akreditasi kali ini ini. Secara berurutan, akderitasi akan dilakukan tiap hari dari tanggal 1-23 September.

PAC GP Ansor Kecamatan Bondowoso mendapat giliran pertama kali kunjungan akreditasi (1 September), disusul Tenggarang, Wonosari, Botolinggo, Cermee, Klabang, Pejaten, Tapen, Pujer, Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Tolgosari, Grujugan, Jambesari, dan Maesan.

Haedar Nashir

Pada tanggal 17 September, kunjungan berlanjut ke PAC GP Ansor Kecamatan Tamanan, kemudian hari berikutnya ke Binakal, Curahdami, Pakem, Taman? Krocok, Tegalampel, dan terakhir pada 23 September di Kecamatan Wringin.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut pengurus harian PC GP Ansor Bondowoso, Satkorcab Banser Bondowoso, dan segenap PC Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Bondowoso. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Tegal, Humor Islam Haedar Nashir

Minggu, 20 Juli 2014

Karya Ulama Nusantara Harus Masuk Kurikulum

Banjarmasin, Haedar Nashir. Karya-karya ulama Nusantara seharusnya menjadi referensi kurikulum pokok dalam dunia pendidikan nasional. Selama ini, karya-karya ulama Nusantara hanya dikaji di lingkungan pesantren. Di perguruan tinggi Islam hanya ada di program pasca sarjana, itupun baru sebatas penelitian-penelitian. Padahal, karya-karya ulama Nusantara bukan saja terkait dengan dunia keislaman, tapi juga meliputi sastra hingga hukum tatanegara, dan banyak aspek kehidupan yang lain.

Demikian dikatakan Prof. Dr. KH. Muhammad Machasin dalam sambutan penutupan Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke-10 di hotel Arum Banjarmasin Rabu malam (3/11).

Karya Ulama Nusantara Harus Masuk Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Ulama Nusantara Harus Masuk Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Ulama Nusantara Harus Masuk Kurikulum

“Dewasa ini karya Nusantara sebetulnya relatif lebih diapresiasi, tapi belum cukup karena belum masuk kurikulum. Kita baru sadar ada karya ulama kita ketika memasuki S2. Ini terlambat, semestinya kita tahu sejak dini, ketika masih muda. Untuk pesantren mengkaji karya-karya ulama kita dengan baik, meski ada kekurangan,” papar Kiai Machasin yang menjabat sebagai Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam, Kementerian Agama RI.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan itu, Kiai Machasin juga mengungkapkan bahwa obyektifitas dalam penelitian itu bagus dan diperlukan, tapi semestinya tidak hanya berhenti di situ. Sebab, obyektifitas itu hanya alat, bukan tujuan.

Haedar Nashir

“Dari sekian metodelogi, sekian pemikiran, yang telah kita pelajari, harus dipilih dengan tepat untuk sebuah sikap dan pertanggungjawaban ilmiah. Biar kita tidak terombang-ambing, terbawa arus, sehingga tidak jelas. Penelitian harus jadi patokan, untuk itu kita harus memilih,” tegasnya.

Kiai Machasin yang juga Rais Syuriyah PBNU mengkritik bahwa pembicaraan dalam ACIS ke-10 tentang Islam Nusantara baru sampai pada hal-hal yang baik.

“Kita belum membincangkan sisi negatifnya. Pasti ada sisi negatifnya. Yang negatif harus diteliti juga, biar kita tidak terjerembab ke dalam kubangan. Yang positif diteliti, dikembangkan, masuk dalam pendidikan, disebarkan secara luas pada masyarakat,” jelasnya. (hh)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Berita, Ulama Haedar Nashir

Sabtu, 19 Juli 2014

Hafalan Al-Qur’an Jalan, Memimpin IPNU-IPPNU Juga Jalan

Cirebon, Haedar Nashir

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Cirebon, Jawa Barat, menambah komisariat baru di SMP Mu’allimin Mu’allimat (SMP-MMA) Cirebon.

Pengukuhan perdana dilakukan Ketua PC IPPNU Cirebon Nur Aida Fajrianti di sekolah setempat, Kamis (31/3). Dengan demikian, Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU SMP-MMA resmi menjadi komisariat ke-45 di Kabupaten Cirebon.

Hafalan Al-Qur’an Jalan, Memimpin IPNU-IPPNU Juga Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hafalan Al-Qur’an Jalan, Memimpin IPNU-IPPNU Juga Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hafalan Al-Qur’an Jalan, Memimpin IPNU-IPPNU Juga Jalan

Mewakili SMP-MMA Agus Mansur menyambut gembira peresmian komisariat baru ini. Menurutnya, IPNU-IPPNU bisa menjadi sarana siswa belajar berorganisasi. Kiai muda yang tengah menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Internasional Malaya Malaysia ini juga menekankan pentingnya proses dalam hidup.

Haedar Nashir

”Hal-hal besar tidaklah pernah kita capai sebelum melewati hal-hal kecil. Maka manfaatkan kesempatan berharga ini,” kata ketua Yayasan Fatkhul Amin ini. Agus juga mendorong diselenggarakannya pendidikan jurnalistik sebagai program unggulan PK IPNU-IPPNU SMP-MMA.

Haedar Nashir

Diana Mercy Stacia dipercaya memimpin PK IPPNU SMP-MMA periode 2016-2017. Ia merupakan santriwati asal Depok, Jawa Barat. “Saya akan memaksimalkan diri, untuk? belajar mengabdi di masyarakat melalui lembaga kaderisasi terkecil di NU ini,” tegas santri kelas VIII B yang sudah hafal Al-Qur’an 3 juz ini.

Senada dengan Aida, Ketua PK IPNU SMP-MMA Heru mengatakan, walaupun ia sedang dalam proses hafalan Al-Qur’an ia berkomitmen agar organisasi tetap mendapat prioritas. “Organisasi jalan, hafalan Al-Qur’an tetap di hati,”? ujar remaja yang duduk di kelas VII A ini.

Sejak berdiri tahun 2012 kemarin, SMP-MMA mempunyai target keunggulan hafalan Al-Qur’an. Tidak heran, banyak siswanya yang berprestasi di bidang itu. Awal tahun 2016 ini, Ali Rifki, santri kelas VIII B SMP-MMA, menjadi pemenang II Musbaqah Hifdzil Qur`an atau lomba hafaan Al-Qur’an tingkat Kabupaten Cirebon. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Pertandingan Haedar Nashir

Rabu, 16 Juli 2014

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran

Subang, Haedar Nashir. Setiap daerah memiliki keunikan sendiri dalam menyambut lebaran, seperti di wilayah pantura kabupaten Subang terdapat tradisi tukar rantang atau biasa disebut dengan udun-udunan.

Menurut Reti salah satu warga desa Cilamayagirang tukar rantang adalah saling tukar makanan atau masakan yang disimpan di dalam rantang susun, “Tradisi tersebut sudah turun temurun dari nenek moyang daerah sini” jelasnya.

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran

”Dalam tukar tantang ada perbedaan antara kerabat dan tetangga. Jika kerabat yang nasabnya lebih tua, tukar rantang berisi lengkap, seperti nasi, bakakak (ayam panggang), gula, kopi, udud (rokok) aneka macam buah-buahan,” ujar Siti Aisyah.  

Haedar Nashir

Kalau untuk kerabat yang nasabnya lebih muda dan tetangga, tukar tantang isinya sederhana, yaitu nasi lengkap lauk pauknya, seperti telur atau ayam opor. 

Haedar Nashir

“Kebiasaan orang yang diberi hantaran rantang akan membalas hantaran pada hari yang sama atau hari berikutnya. Tentu saja isinya sama, nasi lengkap dengan lauk-pauk,” jelas Aisyah pada Haedar Nashir, Selasa (6/8/2013).

Menurut Ustadz Sobri, Tradisi tukar rantang harus dilestarikan karena selain bersedekah makanan, tradisi tersebut untuk memperetat tali silaturrahim antar kerabat dan tentangga.

Uniknya, dalam tradisi tukar rantang ada juga angpau atau amplop yang berisi uang yang disisipkan. Uang tersebut diperuntukkan kepada si anak pengirim rantang. 

Untuk isi amplop beragam, mulai dari Rp5.000 sampai dengan  Rp50.000 atau pun Rp100.000, tergantung pada kemampuan si pemberi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Rosyidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara Haedar Nashir

Senin, 14 Juli 2014

Menag Tunda Paling Cepat 10 Tahun Registrasi Mereka yang Pernah Haji

Jakarta, Haedar Nashir. Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin pada Jumat (29/5), mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) nomor 29 Tahun 2015 yang mengatur pendaftaran calon jamaah haji yang pernah menunaikan haji wajib. Setelah Permen ini keluar, mereka yang pernah berhaji tetapi ingin kembali berhaji bisa melakukan registrasi ulang setelah 10 tahun dari keberangkatan haji sebelumnya.

Menag Tunda Paling Cepat 10 Tahun Registrasi Mereka yang Pernah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Tunda Paling Cepat 10 Tahun Registrasi Mereka yang Pernah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Tunda Paling Cepat 10 Tahun Registrasi Mereka yang Pernah Haji

“Mulai sekarang diberlakukan bagi setiap calon jamaah yang mendaftar tahun ini dan sudah berhaji, maka paling cepat bisa berhaji lagi sepuluh tahun kemudian. Ini darurat di tengah keterbatasan bahkan pengurangan kuota,” kata Lukman.

Menurut putra KH Saifuddin Zuhri ini, pemerintah sejatinya tidak menutup sama sekali kesempatan berhaji merekayang pernah menunaikannya. Keluarnya kebijakan ini lebih dikarenakan pada pemberian prioritas bagi calon haji yang belum pernah berhaji.

Haedar Nashir

“Karena mereka itu tetap diberi peluang setelah sepuluh tahun,” kata Lukman.

Haedar Nashir

Ketentuan dalam Permen ini, tambah Lukman, tidak berlaku bagi pembimbing ibadah. Untuk para pembimbing, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag akan membuat aturan tersendiri.

Pasal 3 ayat (4) Permen ini berbunyi bahwa jamaah haji yang pernah menunaikan ibadah haji dapat melakukan pendaftaran haji setelah 10 (sepuluh) tahun sejak menunaikan ibadah haji yang terakhir. Sementara Ayat (5)-nya menyebutkan bahwa ketentuan pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak berlaku bagi pembimbing.

Adapun ayat (6) mencatat bahwa ketentuan lebih lanjut pendaftaran bagi pembimbing sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

Sebagaimana diketahui, isu penundaan keberangkatan haji mereka yang pernah menunaikannya ini pernah diangkat pada bahtsul masail pra muktamar ke-33 NU di pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta pada 28-29 Maret 2015.

Pada forum ini, para kiai akhirnya memutuskan agar pemerintah membuat kebijakan soal pelaksanaan haji mereka yang sudah menunaikan haji wajib. Para kiai juga menyebutkan banyak dalil dalam hasil akhir forum ini. Mereka yang pasti menuntut keseriusan pemerintah dalam menangani isu ini dengan memperbaiki database orang-orang yang pernah berhaji. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Nahdlatul Ulama, Khutbah Haedar Nashir