Minggu, 22 Februari 2015

Empat Kriteria Rais Aam Ideal

Rais aam merupakan pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama, segala petuah dan keputusannya harus dihormati oleh warga NU. Dengan demikian, tugas yang diembannya menjadi sangat berat. Karena itulah, dibutuhkan figur yang mumpuni untuk mengemban amanah tersebut. Berikut pikiran dari KH Makruf Amin, tokoh senior NU tentang kriteria yang perlu dimiliki oleh rais aam.

Menjelang Muktamar NU ke 33 di Jombang, semakin banyak yang memperbincangkanrais ‘aam yang ideal. Bagaimana menurut kiai?. Yang harus difahami, rais ‘aam itu bukan hanya sekedar jabatan kepengurusan tertinggi di jam’iyah Nahdlatul Ulama, tapi merupakan maqam atau kedudukan khusus untuk seseorang yang memiliki kualifikasi yang memadai. Karena itu, tidak boleh diperebutkan, tapi harus dicari seseorang yang memiliki kualifikasi seperti itu, yang sering saya sebut sebagai shahibul maqam. Atau kalau kesulitan untuk mencari seseorang dengan kriteria ideal, maka yang mendekati, atau al- aqrab ila al-maqam. 

Empat Kriteria Rais Aam Ideal (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Kriteria Rais Aam Ideal (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Kriteria Rais Aam Ideal

Menurut kiai apa saja yang perlu dilakukan untuk mencari seseorang yang memiliki kualifikasi sebagai rais ‘aam?. Ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu kriteria dan mekanisme. Menurut hemat saya, kriteria ideal seorang rais ‘am adalah seperti KH Wahab Hasbullah. Seperti yang pernah saya sampaikan di forum Munas Alim Ulama NU tahun 2015, paling tidak ada empat kriteria rais ‘aam.

Haedar Nashir

Pertama, harus faqih. Artinya harus mendalam penguasaan keagamaannya, terutama dalam ilmu fiqh. Karena rais ‘aam lah yang mengarahkan jalannya organisasi tertinggi, termasuk dalam hal keagamaan. Bagaimana seseorang bisa menjadi pengarah kalau tidak faqih. 

Haedar Nashir

Kedua, harus munaddhim. Artinya harus faham dalam mengelola organisasi. NU merupakan organisasi besar dan rais ‘aam merupakan nahkoda yang membawa organisasi ini ke mana arahnya. Oleh karena itu, harus memiliki pemahaman dan pengalaman yang cukup untuk dapat menjalankan roda organisasi. Karena tanfidziyah itu hanya pelaksana tugas. Sehingga rais ‘aam harus memahami tata laksana manajemen organisasi.

Yang kedua dan ketiga kiai?. Ketiga, harus muharrik, atau penggerak, karena NU merupakan gerakan ulama untuk memperbaiki umat dan negara atau istilah saya harakah al-ulama fi ishlah al-ummah wa ad-daulah. Karena itu rais ‘aam harus menjadi seperti dinamo yang bisa menggerakkan seluruh jaringan di NU. Tidak orang yang hanya bisa bergerak sendiri tapi tidak menggerakkan apa-apa, seperti gasing. 

Keempat, harus mutawarri’, atau orang yang terjaga, baik pergaulannya, perilakunya, makanannya, politik, dsb. 

Apa maksud kiai dengan harus memerhatikan mekanisme?

Begini. Karena posisi rais ‘aam yang seperti itu, maka mekanisme pemilihannya juga harus diperhatikan. Menurut saya pemilihan rais ‘aam dengan mekanisme pemilihan langsung tidak tepat. Yang paling aman adalah melalui cara ahlul halli wal aqdi. Yaitu beberapa ulama yang memenuhi kriteria memilih figur yang memiliki kriteria di atas (shahibul maqam), atau yang mendekati (al- aqrab ila al-maqam), sehingga layak  dipilih menjadi rais ‘aam. 

Kiai, banyak yang mempertanyakan kenapa mekanisme ahlul halli wal ‘aqdi baru dilaksanakan sekarang?. Memang banyak pertanyaan kenapa baru saat ini dipakai mekanisme ahlul halli wal a’qdi, sedang zaman dulu, zaman Mbah Wahab dan Mbah Bisri tidak pakai AHWA, tapi langsung. Perlu dijelaskan, bahwa saat itu suasananya sangat kondusif. Cabang-cabang yang mengikuti muktamar semua masih jernih. Karena itu pilihan mereka tidak pernah melenceng. Pilihan rais ‘aam tidak pernah melenceng dari Mbah Wahab dan Mbah Bisri. Baru sekali di muktamar Bandung tertukar, sehingga suara Mbah Bisri lebih banyak dari Mbah Wahab, tapi Mbah Bisri tidak mau. Maka yang menjadi rais ‘aam tetap Mbah Wahab dan Mbah Bisri menjadi wakil rais ‘aam. Mekanisme ahlul halli wal ‘aqdi baru dipakai di muktamar Situbondo, karena ada kondisi mendesak (lil-hajah). Saat itu Pak Idham telah terpilih sampai lima periode. Kalau itu terus terjadi akan menghambat kaderisasi, maka pemilihan pakai mekanisme ahlul halli wal ‘aqdi.

Jadi menurut kiai kondisi saat ini sama seperti Muktamar Situbondo?. Menurut saya, kondisi saat ini bukan hanya sekedar masuk kategori lil-hajah, tapi lebih dari itu, yaitu lihajatin massah, karena ada kebutuhan yang sangat mendesak. Karena alasannya lebih substansial daripada alasan muktamar Situbondo. Dipergunakannya mekanisme ahlul halli wal ‘aqdi adalah untuk menutup pintu politik uang (saddan li bab ar-risywah) yang terjadi dalam muktamar. Atau setidaknya untuk mencegah kemungkinan orang yang tidak shahibul maqam dapat menduduki posisi rais ‘aam. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Cerita, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Kamis, 19 Februari 2015

Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa

Semarang, Haedar Nashir. Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa tingkat Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Jogjakarta, Kamis (1/1) kemarin secara resmi dibuka. Ketua Umum PB PGRI, DR H Sulistiyo yang berkesempatan membuka acara.

Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa

Kejurda yang akan berlangsung hingga 4 Januari itu mengambil tempat di Pondok Pesantren Az-Zuhri Ketileng Semarang.

Saat membuka acara tersebut, Sulistiyo yang juga anggota DPD RI itu mengajak pengurus dan? warga Pagar Nusa untuk terus mengembangkan silat khas warga NU itu. Bahkan PGRI siap diajak kerjasama dengan pengurus Pagar Nusa untuk mengembangkan silat tersebut di sekolah-sekolah. "Kami siap diajak MOU oleh Pagar Nusa," ungkap Sulistiyo.

Haedar Nashir

Dikatakan, saat ini seni beladiri dari perguruan? lain juga sudah masuk di sekolah-sekolah. Pagar Nusa juga bisa menjadi salah satu pilihan di sekolah.

Haedar Nashir

Bahkan, dia menyarankan pengurus agar Pagar Nusa dikembangkan di perguruan tinggi. Kalau Pagar Nusa masuk perguruan tinggi, seperti UIN, IAIN, IKIP atau universitas, akan memiliki dampak cukup bagus bagi pengembangan Pagar Nusa ke depan.

Nantinya, lanjut dia, mahasiswa yang telah lulus bisa mengembangkan Pagar Nusa di lingkungan masing-masing. Kalau ada yang jadi guru, guru tersebut nantinya akan mengembangkan Pagar Nusa kepada murid-muridnya di sekolah masing-masing.

Hadir di acara pembukaan itu antara lain Ketua PWNU NU Jawa Tengah, KH DR Abu Hafsin MA, jajaran pengurus Pagar Nusa wilayah Jawa Tengah dan pengasuh Pondok Pesantren Az Zuhri, Gus Luqman. Selain itu, sekitar 500 pesilat dari dua provinsi secara khidmah mengikuti jalannya upacara pembukaan. (Sholihin Hasan/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Amalan Haedar Nashir

Sabtu, 14 Februari 2015

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan

Subang, Haedar Nashir. Karakter dan jenis musik Indonesia masih dikendalikan oleh media. Tidak salah jika dikatakan seni musik di Indonesia ditentukan oleh media. Media membopong seni musik tersebut.

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan

Demikian disampaikan pentolan grup hadrah pesantren Yafata Deden Muhammad Fauzi Ridwan kepada Haedar Nashir saat di temui di Pesantren Yafata yang beralamat di Desa Marengmang, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (12/3) malam.

“Memang masih banyak musisi yang tetap bergerak tanpa dukungan media, bahkan memang mereka tak peduli media. Seperti pejuang-pejuang musik daerah. Namun akhirnya tidak populer, termasuk hadroh, hentakannya tak dipedulikan. Wal hasil masyarakat menganggap tak ada," keluh Fauzi.

Haedar Nashir

Musik kita, kata Fauzi, itu ditentukan TV. "Dulu waktu ramainya band Ska bermunculan di mana-mana, tapi kini hilang entah ke mana. Kemudian dulu juga ramenya grup band, sama seperti itu juga banyak yang muncul tapi redup lagi, sekarang yang sedang trend kan musik K-Pop, boyband dan Girlband menjamur, tapi sebentar lagi sepertinya akan redup juga,” jelas Fauzi yang juga ketua PAC IPNU Kalijati tersebut.

Melihat fenomena tersebut, santri Pesantren Yafata ini berinisiatif untuk membuat grup musik hadrah. Santri-santri kemudian mengajukan permohonan kepada pengasuh Pesantren Yafata, yang juga Rais PCNU Subang, KH. Moh. Musa Muttaqin, pada tahun 2010 permohonan tersebut dikabulkan.

Haedar Nashir

“Kita tidak ingin mengikuti musik di TV yang menurut saya araraneh, karena nanti kita pasti akan gonta-ganti musik, karena mereka kan melihatnya penontonnya. Kalau banyak yang nonton ya lanjut, kalau tidak ya ganti, kan kalau seperti itu kita tidak istiqomah. Jadi kita milih hadrah saja, Insya Allah kalau hadrah kita bisa istiqomah ditambah lagi kan kita ini di pesantren, hadrah kan identiknya,” paparnya.

Saat ini, personil Grup hadrah tersebut berjumlah 10 orang yang digawangi oleh Deden MFR, Uswanto, Deden MZ, Rijal, Abdul Fatah, Afif, Iqbal, Ilham, Opik dan Cecep, disepakati jadwal latihannya adalah setiap hari Jumat dan atau hari Ahad.

Perlahan tapi pasti, hadrah pesantren Yafata ini mulai dikenal di berbagai daerah dan jam terbang “manggung” mereka sudah lumayan banyak. Tidak sedikit masyarakat yang meminta hadrah Yafata untuk tampil dalam acara walimah, maulidan, rajaban, dan lain sebagainya, bahkan pada bulan Rabi`ul Awal kemarin mendapat juara harapan 1 dalam lomba seni musik yang diadakan oleh Ikatan Remaja masjid Nurul Huda Kecamatan Binong, Subang.

"Alhamdulillah, meski media tidak memperhatikan, masyarakat masih suka mendengarkan. Semoga NU, juga PBNU, selera musiknya tidak ikut media. Artinya apa? Ya minta dukungan, Ishari itu didukung." ujara Fauzi, dengan tegas.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Ahlussunnah Haedar Nashir

Jumat, 13 Februari 2015

Warga NU Madiun Gelar Haul Syuhada, Doa, dan Ikrar Setia NKRI

Madiun, Haedar Nashir



Pada Kamis (12/05) ratusan warga NU kabupaten Madiun tumpah ruah di halaman Monumen Kresek, bangunan pengingat keganasan PKI pada tahun 1948 dan 1965 di Kabupaten Madiun. Acara tersebut dikemas dengan “Haul Syuhada’, Doa Bersama, dan Ikrar Setia NKRI.?

Warga NU Madiun Gelar Haul Syuhada, Doa, dan Ikrar Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Madiun Gelar Haul Syuhada, Doa, dan Ikrar Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Madiun Gelar Haul Syuhada, Doa, dan Ikrar Setia NKRI

Kegiatan tersebut dimaksudkan mengingatkan memori kepada seluruh masyarakat tentang para korban peristiwa berdarah pada masa lalu. Selain itu juga diarahkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh oknum–oknum yang hendak merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rosyidin, penanggung jawab acara mengajak semua warga NU, khususnya Madiun, ikut berbela sungkawa dan mendoakan para syuhada agar arwah diterima di hadirat Allah SWT.?

“Baik dari kalangan NU maupun masyarakat umum yang turut hadir pada agenda sore hari ini agar, mari kita berdoa kepada para syuhada demi setia NKRI telah jadi korban, dan semoga tidak terulang kembali,” kata Gus Rosyidin, dalam sambutannya.

Haedar Nashir

Pihaknya, selaku ketua Ansor Kab Madiun, juga mengajak para pemuda mengisi kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para syuhada dengan membantu pembangunan pemerintah dan menghasilkan karya–karya terbaik yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pada kesempatan haul tersebut, seluruh jamaah melaksanakan Tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh ketua Majelis Dzkir dan Sholawat Rijalul Ansor, Samsul Hadi. Pada akhir acara, seluruh jamaah diminta oleh panitia untuk meminum air asma’ yang telah disediakan. (Ali Makhrus/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Pertandingan Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sabtu, 07 Februari 2015

Ramadhan Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri

Puasa dan amalan sunah di bulan suci Ramadhan jangan dijadikan ritualitas biasa saja. Tapi hendaknya dijadikan momentum bagi setiap muslim, untuk mengintropeksi dan evaluasi diri dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurut Sari Hernawati, mengintropeksi diri tentunya dengan menyadarkan diri sebagai hamba Allah yang telah menempuh kehidupan selama sebelas bulan dengan berbagai aktivitas duniawi. “Namun, apakah aktivitas duniawi itu sudah mengantarkan kita kepada keridhoan Illahi ataukah sekadar memenuhi hawa napsu manusiawi belaka?” kata doktor dari UNNES Semarang ini Rabu (16/6) ketika ditemui Haedar Nashir.

Ramadhan  Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri

Secara kodrati, manusia merupakan mahluk yang paling sempurna karena diberi kelebihan akal dan hawa nafsu oleh Allah SWT. Konteks nafsu di sini, ibarat komponen dalam mobil adalah gas yang mampu mendorong kita dalam melakukan berbagai macam kegiatan muamalah maupun ubudiyah. Sedangkan akal, ibarat rem yang mengendalikan mobil. “Jika mobil dalam bahaya, maka akal akan mengendalikan napsu kita,” tutur istri dari Ali Ansori Khamaluddin.

Haedar Nashir

Mengevaluasi diri dalam bulan Ramadhan, lanjutnya, berarti memaknai apakah ibadah-ibadah yang kita lakukan dibulan ramdhan ini hanyalah sekadar melakukan ritual belaka, tanpa mengambil hikmahnya.

Jangan sampai berpuasa, sekadar hanya mengganti jam makan, ditambah shalat tarawih dan witir yang hanya dianggap sebagai gerakan dimulai takbiratul ihram sampai dengan salam. Hal ini sudah diperingatkan dalam hadits Nabi Muhamad saw, “Betapa banyak mereka berpuasa tanpa memperoleh apapun dari ibadah puasanya kecuali sebuah proses menahan lapar dan dahaga.” (HR. Bukhari). ?

Haedar Nashir

Bulan Ramadhan, kata Sari, selayaknya menjadi bulan untuk menggantikan bulan-bulan yang sebelumnya yang sudah kita lewati dengan pahala-pahala yang berlebih. Kita harus sadar, bahwa Allah SWT memberikan umur manusia yang sangat terbatas dalam ukuran Nabi hanya 63 tahun. Lalu berapa tahun kita maksimalkan untuk ibadah kepada Allah dan berbuat kebaikan terhadap sesama manusia.

Sedangkan di alam barzah, kita akan lebih lama berada disana untuk menunggu perhitungan amalan-amalan kita. Maka saatnya kita manfaatkan bulan ramadhan untuk menambah umur kita dalam beribadah, karena pahalanya dilipatgandakan. “Betapa bahagianya, bila seorang pegawai diberi tambahan gaji ketiga belas dan THR serta uang bonus lainya,” terang ibu dari Uzma Syarifatul Muna Salsabila dan AH Minerva Akram Ansori.

Maka sudah seharusnya kita tidak menyia-nyiakan bulan Ramadhan, sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Bahwa Rasuwlullah Shalallahul Alaihi wa Sallam bersabda, “Telah datang bulan ramdhan, bulan penuh berkah, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka. Didalam bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia rugi” (HR. Nasai, Lafadz Hammad bin Zaid).

“Di bulan mulia ini, mari kita bergembira dan memafaatkan bulan ramadhan ini sebagai sarana untuk intropeksi dan mengevaluasi diri dalam meningkatkan amal ibada kita,” pungkasnya. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Makam Haedar Nashir

Rabu, 28 Januari 2015

Mencetak Siswa Intelek dan religius

Brebes, Haedar Nashir. Berangkat dari niatan menampung anak-anak desa yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke kota, MTs Maarif 4 Songgom didirikan. Awalnya, sekolah ini bernama MTs Al-Wathoniyah yang didirikan para tokoh Nahdlatul Ulama, tokoh masyarakat dan tokoh pendidikan di Kecamatan Songgom pada tanggal 14 Desember 1972. 

Karena saat itu, menempati MI Al Wathoniyah 01 Songgom maka dinamakan MTs Al-Wathoniyah.

Mencetak Siswa Intelek dan religius (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencetak Siswa Intelek dan religius (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencetak Siswa Intelek dan religius

Seiring dengan perkembangan zaman dan penataan kelembagaan organisasi, maka sekolah-sekolah dibawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif NU diganti namanya menjadi MTs Maarif NU 4 Songgom. 

Haedar Nashir

“Sejak 15 Januari 1986, dengan Akta Notaris Nomor 103 MTs Al-Wathoniyah berubah menjadi MTs Maarif NU 4 Songgom,” terang Kepala Sekolah Drs KH Imam Badjuri MPd di sela tasyakuran Hari lahir (Harlah) di ruang kerjanya Rabu (14/12).

Menurutnya, di usianya yang ke-39, sekolahnya kini mendapatkan kepercayaan yang penuh dari masyarakat. Terbukti perkembangannya sangat dinamis, baik dari pertambahan jumlah peserta didik juga sarana dan prasarana yang memadai. Termasuk dari pemerintah juga sangat memperhatikan. 

Haedar Nashir

“Terakhir, kami mendapatkan bantuan dari Menteri Agaga berupa Actif board multi media sebagai kegiatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK),” lanjut Haji Bajuri sambil mengajak Haedar Nashir melihat langsung Laboratorium TIK.

Atas besutan tangan Haji Badjuri dan 28 orang guru, sebanyak 410 siswa MTs Maarif 4 kerap menorehkan prestasi. Antara lain menjadi sekolah Favorit di Kecamatan Songgom dan menjadi juara diberbagai event baik tingkat kecamatan maupun kabupaten. Tercatat menjadi juara kabupaten Sepak bola, tartil dan tilawah, lari, kepramukaan, bola volley dan lain-lain.

Tasyakuran peringatan Harlah ke-39, selain acara tumpengan juga digelar lomba drumb band tingkat SD/MI se Kecamatan Songgom. Setelah melalui penjurian yang ketat, akhirnya SDN Songgom 01 berhasil menjadi juara 1 dengan nilai 486. Juara 2 MI Al Wathoniyah 01 (456) dan juara 3 SD Songgom 03 (435).

Yang jelas, tambah Haji Badjuri, kami bertekat akan mencetak siswa yang memiliki intelektualitas dan religiusitas yang tinggi dan merdeka. “Siswa yang intelek dan religious, akan mampu menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya. 

Redaktur     : Syaifullah Amin

Kontributor : Wasdiun 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Nasional Haedar Nashir

Jumat, 16 Januari 2015

Agama dalam Politik Kekuasaan

Oleh Teuku Saifullah



Ahli sejarah mengatakan, penemuan manusia paling tertua setelah penemuan api adalah agama. Dari mana datang agama itu masih menjadi kesanksian. Yang menganut teisme akan mengatakan agama muncul berdasarkan wahyu dari Tuhan yang disampaikan melalui utusannya. Pasangan manusia pertama adalah Adam dan Hawa yang diyakini oleh agama-agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) berasal dari surga yang diturunkan ke bumi karena melakukan dosa besar. Adam adalah pembawa wahyu pertama kepada keturunannya, setelah ia wafat muncul utusan-utusan lain dari anak cucunya.

Agama dalam Politik Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama dalam Politik Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama dalam Politik Kekuasaan

Mereka yang ateis akan mengatakan agama muncul sebagai penenang hati manusia dan menjadi alat kontrol sosial. Penenang hati karena manusia melihat setelah ia hidup akan menemui mati. Mati menjadi tanda tanya besar karena tidak ada pengetahuan untuk mengetahui apa yang terjadi setelahnya. Mereka menemukan bahwa kadangkala dalam kehidupan terdapat hal-hal janggal seperti muncul bayang-bayang aneh menakutkan yang mereka sebut dengan hantu. Konsep hantu menjadi konsep awal tentang adanya roh. Roh dipahami sebagai wujud setelah mati yang keluar dari jasad. Roh adalah kehidupan kedua, dan mempunyai kuasa untuk mendatangkan marabahaya dan kebahagian kepada manusia.

Oleh karena itu, mereka mengubur mayat dengan sebaik mungkin, ditempatkan dalam peti dan diucapkan kalimat-kalimat tertentu (mantra) agar roh tersebut bisa hidup damai dalam kehidupan keduanya. Orang-orang yang sakit seperti ayan (epilepsi), diyakini berasal dari gangguan roh jahat, sehingga perlu dibuatkan sesuatu untuk menenangkan roh. Muncullah konsep dukun, yaitu seorang yang ahli membaca kalimat-kalimat untuk roh, dan didengarkan oleh roh kata-katanya. Dari konsep demikian secara perlahan menjadi agama, dan agama itu? menjadi bermacam-macam tergantung kondisi sosial setempat; muncul animisme, paganisme, pantheisme, sampai konsep yang paling komplit yaitu monoteisme.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Dan tidak dapat dielakkan bahwa sejak awal agama saling berperang, mendominasi untuk memperebutkan manusia. Persaingan antar agama itu terjadi melalui konsep keyakinan dan aturan-aturan yang ada dalam agama. Bukan soal apakah konsep keyakinan itu adalah hasil karya manusia dari generasi ke generasi sebagaimana dalam paham ateis, atau memang berasal dari Tuhan dalam teisme. Peperangan antar agama ini adalah hukum alam, sebagaimana persaingan antara kebaikan dan kejahatan. Sebabnya adalah karena manusia memiliki akal yang ia gunakan sebagai alat penilai.

Sebagian manusia menilai agama tertentu adalah jalan yang benar, karenanya ia ingin agar orang-orang terdekat dengan nya mengikuti jalan yang ia tempuh. Mulailah ia menyampaikan pesan, ajaran agama, serta propaganda untuk mempengaruhi. Sesekali mengetengahkan alasan-alasan yang logis tentang kebenaran agamanya dan dilain waktu mengungkap kelemahan-kelemahan agama lain. Di lain pihak, penganut agama lain juga mempunyai pandangan yang sama untuk menyebarkan kebenaran agama yang ia yakini. Maka terjadilah perebutan manusia oleh agama-agama, yang satu ingin mendominasi yang lain.

Melalui akal manusia, agama memainkan perannya mengatur manusia, menjadikan manusia sebagai objek untuk dikontrol. Agama membuat aturan-aturan yang wajib dipatuhi dan aturan-aturan yang dilarang untuk dilakukan. Agama juga menunjukkan kepada manusia bahwa suatu perbuatan adalah kejahatan, dan yang lain adalah kebaikan. Setiap kejahatan akan diganjar dengan dosa, setiap kebaikan diganjar dengan pahala. Dosa membawa kepada neraka, yaitu tempat yang oleh agama dijadikan kediaman manusia pembangkang yang dipenuhi oleh siksa-siksa yang tiada tara. Kebaikan membawa kepada surga, yaitu tempat yang penuh dengan kenikmatan.

Dalam agama tertentu konsep surga dan neraka menjadi kabur oleh konsep reinkarnasi. Reinkarnasi adalah keyakinan bahwa roh dari manusia yang telah mati akan hidup kembali ke dunia dengan wujud baru, dimana wujud itu tergantung prilaku manusia sebelum ia mati. Jika ia selalu melakukan kejahatan bisa jadi akan berinkarnasi menjadi babi, kambing, tumbuhan atau segala sesuatu yang tidak terhormat. Sebaliknya, manusia baik akan berinkarnasi menjadi manusia baik, atau menjadi dewa. Konsep demikian bisa ditemukan dalam agama budha, hindu, dan animisme.

Dengan kata lain, agama memegang ubun-ubun manusia dengan konsep akhirat, kehidupan setelah mati. Pun, cukup logis untuk setiap manusia beragama. Manusia melihat alam yang luar biasa megahnya, yang rahasianya sulit diungkap. Ia menundukkan alam untuk memenuhi kebutuhannya, dibuatnya rumah dari pepohonan, dibuatnya kursi untuk tempat duduk, dll. Dari itu sangat logis manusia manapun akan bertanya pada dirinya bukankah seharusnya ia pun diciptakan. Dengan perangkap kodrat alam tersebut, manusia mengelompokkan diri nya kedalam agama-agama, seakan merupakan suatu keharusan.

Karenanya, sangat mudah bagi agama untuk ikut campur dalam lalu lintas kemanusiaan, ia membuat kewajiban manusia akan tunduk, ia membuat larangan manusia akan patuh. Sebab itu agama adalah kontrol sosial horizontal sekaligus vertikal, yang didalamnya terdapat kesakralan illahiah. Selain sanksi akhirat, ajaran agama juga tak jarang mengandung sanksi dunia, yaitu dengan menetapkan sejumlah perbuatan yang jika dilakukan, dilanggar akan berakibat pada hukuman tertentu pada manusia yang disebut dengan hukum agama. Agama menjadi tatanan hukum.

Tatanan hukum agama sebagaimana tatanan hukum modern ada untuk menjamin hak-hak pemeluk agama yang mengandung demensi ilahiyah. Mereka tunduk pada aturan itu karena mereka menganggap aturan itu suci, berasal dari sesuatu yang sangat mulia, yaitu tuhan, dewa, atau totem. Dalam agama hindu India misalnya, masyarakat hindu terpecah kedalam strata-strata sosial yang pembagiannya berdasarkan legalitas agama; Brahmana, Kesatrian, Wisnu, dan Sudra. Meskipun kadangkala ada orang-orang yang merasa tatanan itu tidak adil tetapi tidak ada yang menyangkal tatanan itu bersifat suci yang legalitasnya berasal dari dewa.

Dalam agama Islam, yang bisa dijadikan contoh bagaimana agama mengatur kehidupan, terdapat larangan larangan yang dikenakan sanksi seperti membunuh, mencuri, merampok, memperkosa, dan berzina. Orang yang membunuh dengan sengaja akan di qishas (dibunuh) atau diwajibkan membayar diyat sebagai ganti dari pembunuhan, mencuri akan dipotong tangan, berzina akan dicambuk 100 kali, atau dirajam sampai mati bagi yang berzina dalam posisi sudah menikah. Selain itu, Islam juga membuat sebuah aturan acara bagaimana hukum itu dilaksanakan, seperti tentang jumlah saksi yang harus dipenuhi dan yang berwenang menjadi hakim.

Akan tetapi aturan agama adalah aturan yang hanya efektif bagi pemeluknya dan menjadi tidak berguna untuk yang lain. Sehingga ide-ide untuk menjadikan hukum agama sebagai hukum positif dalam sebuah negara akan menjadi sulit tercapai ketika terdapat banyak agama maupun aliran keyakinan (heterogen/majemuk). Pun, jika sebuah negara dengan pemeluk agama yang homogen, akan ditemui juga orang-orang yang tidak sepakat, akan tetapi hal itu tidak menjadi soal karena begitu hukum agama diundangkan menjadi hukum positif, maka hukum itu mengikat kepada semua orang.

Menjadikan hukum agama sebagai hukum positif nasional karena alasan suatu agama adalah mayoritas, atau alasan sumbangsih agama tertentu begitu besar terhadap suatu negara tidak akan menghentikan masalah yang akan muncul di kemudian hari. Hukum agama adalah hukum yang bersifat ilahiyah. Esensi hukum tersebut hanya dipahami sepenuhnya oleh pemeluknya. Ketaatan pemeluk agama pada hukum tersebut adalah bagian dari ketaatan pada tuhan (ibadat) yang balasannya adalah surga.

Dalam posisi demikian, pemeluk agama lain tidak menemukan alasan untuk mematuhi aturan agama lain, karena kepatuhan pada aturan lain berarti mereka telah mengkhianati aturan agama yang mereka anut. Setiap agama membuat pemeluk nya menjadi fanatik dengan anggapan aturan agama itulah yang paling sempurna dan paling absah.

Dengan demikian menjadi mudah dipahami kenapa tujuh kata pada sila pertama pancasila? yang merepresentasikan superioritas umat Islam “Ketuhanan yang maha esa dengan kewajiban menjalankan hukum Islam bagi pemeluknya” mendapatkan penolakan dari orang-orang di luar Islam dan tokoh-tokoh nasionalis yang berpikiran liberal. Mereka menilai jika tujuh kata tersebut tetap dipertahankan, maka secara terang-terangan ajaran Islam telah diutamakan dan agama lain dianggap sebagai agama kelas dua.

Dalam paham mereka, kemerdekaan Indonesia adalah perjuangan bersama, walaupun tidak bisa memungkiri sumbangsih umat Islam lebih besar dari yang lainnya. Islam adalah agama mayoritas penduduk, tetapi mayoritas bukan berarti superior. Suatu ancaman masa depan bagi keutuhan Indonesia jika Islam tetap memaksakan kehendaknya pada sila pertama adalah pecahkongsi. Orang-orang Indonesia timur yang dibeberapa tempat dikuasai oleh agama selain Islam menunjukkan tanda-tanda keberatan untuk bergabung dengan Indonesia yang baru berdiri. Suatu kesadaran mulia tokoh-tokoh Islam ketika itu yaitu dengan mengikhlaskan tujuh kata pada sila pertama, sebagai pertanda bahwa Indonesia adalah sebuah negara baru dengan agama yang majemuk dan semuanya dalam tingkatan yang setara.? ? ? ?

Jalan yang paling bijak mengakomodir agama dalam kekuasaan politik adalah dengan menjadikan agama-agama sebagai sumber moral dan sumber hukum. Agama-agama mana adalah agama yang dianut oleh penduduk setempat tanpa mengedepankan satu diantara yang lain. Dalam tatanan hukum di Indonesia, agama merupakan salah satu sumber hukum, yang artinya aturan agama bisa menjadi hukum ketika terjadi resultan politik di legeslatif, eksekutif maupun yudikatif. Akan tetapi aturan agama bisa juga dikesampingkan ketika elite politik tidak menghendakinya. Aturan agama mana yang diambil adalah aturan agama yang dihajatkan oleh pemerintah setelah melalui berbagai pertimbangan.

Kelemahan dalam sistem demikian yaitu pada tataran praktis suatu agama mempunyai potensi untuk mendominasi atau mewarnai pemerintahan ketika percaturan politik dominan dikuasai oleh suatu agama. Karenanya faktor mayoritas kadangkala tidak bisa dihindari sebagai alasan penguasaan politik. Munculnya, partai politik bersendikan agama di Indonesia, seperti Masyumi, Partai Nadlatul Ulama (pada 1952, red), Partai Keadilan sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) adalah salah satu alasannya melalui partai-partai ini aspirasi politik yang bersendikan agama diharapkan dapat mendominasi politik kekuasaan.

Jika dilihat dalam percaturan politik kekuasaan, agama merupakan salah satu kekuatan politik yang berkehendak untuk memegang tali kekuasaan. Karena kekuasaan merupakan alat bagi agama untuk menerapkan aturannya pada umatnya dan kepada manusia-manusia lain yang diharapkan nantinya ikut menjadi pemeluk agama tersebut. Bisa dilihat, misalnya; Ajaran Kristen pernah menguasai kekaisaran Roma dalam waktu yang lama; Islam pernah menjadi sumber aturan dalam kekhalifahan (kekaisaran) Umayyah, Abbasiah dan Utoman serta kekuasaan-kekuasaan kecil lainnya; Hindu pernah menguasai nusantara melalui kerajaan Majapahit, Budha menguasai sumatra dengan kerajaan Sriwijaya.

Hal–hal tersebut diatas tidak bisa dihindari karena agama adalah aturan hidup yang menyeluruh (way of life) yang keabsahannya bersifat ilahiyah (Ketuhanan). Karenanya untuk mencapai fungsinya itu, kekuasaan adalah alat yang paling efektif. Tanpa kekuasaan peran agama sebagai aturan hidup yang menyeluruh tidak bisa tercapai. Yang artinya selama hal tersebut belum tercapai, pemeluk agama tidak bisa menjalankan aturan agamanya secara sempurna (kaffah).

Bisa dilihat misalnya dalam suatu negara demokrasi seperti Indonesia, masih ada kelompok-kelompok yang mengusung cita-cita untuk menjadikan agama sebagai landasan negara, seperti yang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia yang menuntut kekhalifahan Islam ditegakkan, dalam Kristen juga ada kelompok-kelompok ortodok yang memimpikan kerajaan Tuhan. Belum lagi kelompok-kelompok keras yang berusaha menggulingkan pemerintah dengan cara pemberontakan, seperti Darul Islam dan teroris agamis untuk kemudian diganti dengan pemerintahan yang didasarkan pada agama.

Kita menilai kelompok-kelompok semacam ini tidak pernah mempertimbangkan konflik antaragama yang akan ditimbulkan oleh ego-agama. Konflik yang ujungnya akan membawa kepada perpecahan dan permusuhan antarmasyarakat yang berbeda keyakinan. Bahwa Kerajaan Kristen Roma pernah menindas mereka yang tidak sepaham adalah fakta yang diketahui oleh orang-orang barat yang puncaknya terjadi revolusi Prancis. Kekhalifah Islam yang terkenal pada masa Ummayyah, Abbasiah, dan Otaman juga di sana-sini terdapat gesekan semacam itu yang membuat pemeluk-pemeluk agama lain menjadi masyarakat kelas dua. Konflik semacam ini tidak bisa dihindari, karena begitu agama berkuasa, ego-agama menguat dan segala sesuatu dipandang dari sudut pandang agama.

Penulis adalah peneliti di Farabi Institute Jawa Tengah. ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, News, Pertandingan Haedar Nashir