Selasa, 14 April 2015

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo

Yogyakarta, Haedar Nashir. Wakil Ketua PWNU DIY Jadul Maula berpendapat, frame kebangkitan nasional harus dimaknai dari kerajaan di Nusantara. Karena nasionalisme secara kultural sudah dibangun oleh para Wali Songo.

“Akar nasionalisme kita itu terbukti dari kerajaan Demak mengusir penjajah. Nasionalisme bangsa kita itu lahir dari agama. Beda dengan Eropa yang terpisah dari agama,” katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi dengan tema, “Forum Mahasiswa, Santri & Warga: Refleksi Hari Kebangkitan Nasional” di Lantai 2 Kantor PWNU DIY, Jalan MT Haryono, Rabu (20/5) pagi.

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo

Jadul melanjutkan, Islam dan budaya itu diharmoniskan oleh para wali, sehingga melahirkan Islam yang khas Nusantara. Sebab itu, persatuan dan kesatuan sudah digalakkan para sultan dengan bahasa agama dan bahasa kebudayaan.

Haedar Nashir

“Frame kebagkitan itu tidak terpisah dan berdiri sendiri dari sejarah kerajaan masa lampau,” tutur pengasuh Pesantren Kaliopak Yogyakarta ini.

Akar budaya Nusantara kita, tambah Jadul, mengandung tiga unsur, yakni menyatunya Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Itu hasil dari dakwah para wali yang menyampaikan Islam ke Nusantara.

Haedar Nashir

Kehadiran penjajah tidak bisa dilawan dengan senjata dan perlawanan secara fisik dengan begitu saja. Benteng yang sangat kuat untuk menghalang itu adalah kebudayaan dan spiritualitas. Para wali mempersiapkan hal itu untuk melawan para penjajah.

Peserta yang hadir terdiri atas para santri dan mahasiswa generasi muda nahdliyyin. Acara yang dimoderatori Muhammadun ini juga menghadirkan Mukhtar Salim, Kandidat Doktor UII Yogyakarta. (Suhendra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Doa, Tegal Haedar Nashir

Minggu, 05 April 2015

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya

Dua rakaat sebelum shalat subuh sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Nilai dua rakaat (sebelum subuh) ini, sebagaimana pesan Rasulullah saw lebih baik dari pada jagad seisinya.

? ? ? ? ? ? ?

Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari dunia seisinya.

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya

Banyak sekali istilah yang digunakan untuk menunjukan dua rakaat sebelum shubuh. Dari redaksi hadits tersebut sebagian ulama mengatakannya shalat sunnah fajar. Adapula yang menamainya sebagai shalat sunnah subuh karena dilakukan sesebelum shalat subun. Ada pula yang mengatakan shalat sunnah barad mungkin karena dilaksanakan ketika hari masih dingin. Ada pula yang menamakan shalat sunnah ghadat yaitu shalat sunnah yang dilakukan pagi-pagi sekali.

Oleh karena itu dalam Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi memperbolehkan niat shalat dua rakaat subuh ini dengan berbagai macam istilah tersebut. Misalkan ushalli sunnatal fajri rok’ataini ada’an lillahi ta’ala. Atau boleh juga ushalli sunnatal barodi rok’ataini ada’an lillahi ta’ala  sunnatas  subhi, dan seterusnya. Atau boleh juga yang lebih lengkap adalah

 

Haedar Nashir

?? ? ? ? ? ? ? ? ?

Usholli sunnatas shubhi rokataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi taaala.                                                  

Di samping itu yang harus diperhatikan adalah anjuran untuk tidak berlama-lama dalam shalat, mengingat predikat shalat ini adalah shalat sunnah. Walaupun nilainya lebih berharga daripada dunia seisinya.

Selain itu alasan kebergegasan dua rakaat ini adalah mengikuti Rasulullah saw (liitba’I sunnatir rasul) yang cukup membaca surat al-Kafirun dalam rakaat pertama (setelah al-fatihah) dan al-Ikhlash (setelah al-fatihah)pada rakaat kedua. Atau membaca Alam Nasyrakh (surat al-Insyirakh) pada rakaat pertama dan Alam Taro (Surah al-Fiil) pada rakaat ke dua.

Haedar Nashir

Secara praktis, tersebut pula dalam Nihayatuz zain  anjuran untuk membaca wirid khusus setelah dua rakaat sambil menunggu shalat subuh. Bacaan itu adalah (1) Ya Hayyu Ya Qayyum La Ilaha Illa anta, 40 kali. (2) Surat Al-Ikhlas, 11 kali (3) Surat Al-Falaq, 1 kali (4) Surat An-Nas, 1 kali dan (5) Subhanallah wa Bihamdihi, Subhanallahil Adhim, Asytaghfirullah, 100 kali.  

 Demikianlah keterangan dua rakaat sebelum shalat subuh yang menurut sebagian ulama dikategorikan sebagai rawatib (sebagaimana shalat qabliyah lainnya) yang dilaksanakan sebelum shalat subuh.

 

Red. Ulil Hadrawy. Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Pahlawan Haedar Nashir

Sabtu, 04 April 2015

Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB

Tegal, Haedar Nashir 

Bupati Tegal yang juga Ketua Satkorcab Banser Kabupaten Tegal Ki Enthus Susmono melepas ribuan peserta jalan sehat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tegal di halaman kantor Kementrian Agama kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Ahad (12/1).

Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB

Peserta jalan sehat ini berasal dari kepercayaan berbeda. Mereka terdiri dari umat Islam, Kristen, Protestan, Konghucu, Hindu, dan Budha. Untuk umat Islam lebih dominan diikuti siswa  Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan guru-guru mereka.

“Kerukunan umat beragama tidak hanya ditunjukan dalam acara jalan sehat saja tetapi perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ki Enthus dalam sambutannya jelang melepas peserta jalan sehat.

Haedar Nashir

Dalam menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing, kita tidak boleh ikut campur karena agama memiliki rambu-rambu sendiri. Sedangkan kerukunan ini perlu dijaga supaya tidak terjadi gontok-gontokan antarpemeluk agama, tandas Ki Enthus singkat.

Salah satu guru MA Babakan, Masroni menyatakan rasa gembiranya dengan kegiatan jalan sehat antarumat beragama. “Selain menambah keakraban, Kita dapat membangun silaturahmi antarumat beragama,” terang Masroni usai jalan sehat. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Nahdlatul Ulama, Sunnah Haedar Nashir

Jumat, 03 April 2015

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya

Dhaka, Haedar Nashir



Koordinator Tim Delegasi Nahdhatul Ulama (NU) untuk Rohingya Muhammad Wahib menyebutkan, saat ini bantuan yang diberikan untuk pengungsi Rohingya di Bangladesh difokuskan pada makanan untuk ibu dan anak.

"Tahap pertama, kita fokus pada makanan ibu dan balita," kata Wahib di Dhaka, Ahad (24/9).

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya

Hal itu dikarenakan jumlah angka kelahiran di kamp pengungsian begitu tinggi. Menurut Wahib, setiap bulannya ibu yang melahirkan berjumlah sekitar 160 orang. 

Oleh karenanya, jenis bantuan makanan untuk mereka memiliki jatah yang paling banyak. Tidak sedikit dari pengungsi Rohingya yang hamil dan melahirkan di tempat-tempat kamp pengungsian. Diprediksi, dalam beberapa bulan ke depan angka kelahiran juga akan tetap tinggi.

Selain itu, lanjut Wahib, bantuan obat-obatan, tenda, dan air serta sanitasi juga akan diserahkan kepada pengungsi pada tahap pertama ini. Pengungsi Rohingya di Bangladesh semakin bertambah, sementara tenda, toilet, dan sumber air begitu terbatas.

Haedar Nashir

Rencananya, Ahad, 24 September Tim Delegasi NU untuk Rohingya dan tim lainnya yang tergabung dalam Indonesia Humanitarian Alliance (IHA) akan berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Bangladesh. Sedangkan, besok akan bertolak ke Coxs Bazar untuk mempersiapkan pendistribusian bantuan kemanusiaan. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Ulama Haedar Nashir

Minggu, 29 Maret 2015

NU, Imlek, dan Indonesia

Lebih dari 30-an tahun umat agama Kong Hu Cu mengalami diskriminasi. Hak mereka untuk bebas beragama dan berkeyakinan dilarang oleh pemerintah Orde Baru melalui Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Perayaan Imlek (Guo Xin Nian) selain juga Cap Go Meh, Ceng Beng, Sembahyang Rebut, dan lainnya dianggap sebagai sebuah afinitas budaya pada negeri leluhurnya, Tiongkok, yang akan mengancam budaya bangsa Indonesia.

Padahal jelas, pada pasal 29 ayat 2 UUD 1945 dinyatakan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk  agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Atas dasar itu, beruntunglah sosok presiden Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur dengan penuh keyakinan mencabut Inpres itu melalui Keppres RI Nomor 6 Tahun 2000.

Bukan tanpa alasan, Gus Dur paham betul bahwa masyarakat Indonesia di hadapan Negara adalah sama dan setara kedudukannya. Tak peduli ia beretnis dan beragama apa. Lebih daripada itu bahwa agama Islam dan lainnya adalah agama universal. Islam sendiri punya visi rahmatan lil’alamin, sebagai agama yang bercita-cita mewujudkan tatanan kehidupan berbangsa dan beragama yang penuh kasih sayang dan harmoni.

NU, Imlek, dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Imlek, dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Imlek, dan Indonesia

Harlah NU dan Imlek

31 Januari merupakan hari lahir (harlah) Nahdlatul Ulama (NU). Kini, usianya mencapai 88 tahun (1926-2014). Pada harlah NU tahun ini, juga bertepatan dengan tahun baru Imlek. Dua momen ini betapa penting. NU sebagai ormas terbesar di Indonesia, mengemban amanat dalam menjaga harmonisasi umat beragama. Komitmen itulah yang dipegang oleh Gus Dur, sebagai orang yang pernah menjadi pimpinan tertinggi NU dan presiden RI, untuk memenuhi hak beragama dan berkeyakinan bagi umat Kong Hu Cu dan umat-umat agama lain yang rentan mendapat perlakuan diskriminatif.

Sejak berdirinya NU meyakini bahwa bangsa ini merdeka berkat persatuan dan kesatuan seluruh komponen bangsa, bukan hanya hasil jerih payah umat agama tertentu saja. Karena itu NU berkomitmen dalam mengusung kerja-kerja kemanusiaan berdasarkan prinsip yang kukuh dipedomaninya; tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), tawassuth (moderat) dan ‘itidal (tegak lurus).

Haedar Nashir

Baik harlah NU maupun tahun baru imlek, paling tidak kita bisa memaknai bahwa keduanya merupakan pengingat untuk kita, masyarakat bangsa, untuk kembali pada khitthah ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dan kembali bangkit menjadi bangsa yang bersatu dan maju di bawah payung empat pilar kebangsaan; Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kasus-kasus kekerasan dan intoleransi atas nama apapun, apalagi atas nama agama, tak ada ampun dan sudah seharusnya dihentikan. Karena kalau tidak, ia akan semakin membahayakan dan berujung pada radikalisme dan terorisme. Kesadaran itu dapat bermuara pada titik temu yang satu mana kala kita menyadari bahwa Indonesia menjadi milik bersama, karena itu sesama masyarakat bangsa perlu menumbuhkan kesadaran moral untuk saling menghargai dan mengasihi.

Apalagi harlah NU dan Imlek tahun ini, dirayakan di saat bangsa tengah dikepung oleh berbagai tindak koruptif dan inkonstitusional. Sudah seharusnya umat beragama, para tokoh dan pemeluknya bersatu padu untuk membangun sebuah kesadaran moral dan solidaritas kebangsaan yang kuat, agar nasib dan masa depan bangsa tak tergadaikan. Jangan lagi kita habiskan energi untuk mengurusi hal-hal parsial tak ada guna, sementara praktik politik manipulatif dan korupsi lekang dari perhatian kita. Ditambah jelang hajat demokrasi akbar April 2014 mendatang, sederet problem sosial kemanusiaan yang lain juga tak berangsur membaik; kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, dan lainnya semakin mewabah secara endemik. Kenyataan ini yang juga semakin berpeluang untuk dijadikan ajang untuk menarik simpati rakyat.

Merayakan Indonesia

Sebagaimana perayaan tahun baru Islam (hijriyah) dan tahun baru masehi, tahun baru Imlek merupakan perayaan masyarakat bangsa. Merayakan Imlek berarti merayakan Indonesia. Sungguh tak berdasar jika turut bahagia atas kebahagiaan umat agama lain dianggap sebagai sebuah sikap merusak agama dan keyakinan. Karena justru, agama menjadi spirit dan perekat untuk membingkai persaudaraan.

Haedar Nashir

Spirit persaudaraan itu senada dengan spirit perdamaian dan kebangsaan. Spirit ini  dapat juga kita ilhami dalam lima ajaran Konfusius, yakni Jen (kebajikan dari segala kebajikan), Chun-tzu (hubungan ideal antara sesama manusia), Li (kesopanan), Te (kebajikan atau kekuatan untuk memerintah), dan Wen (seni perdamaian). Lima ajaran Confucius ini sejatinya adalah ajaran universal yang juga terdapat pada agama-agama lain, tak terkecuali Islam.

Mari bersaudara, merajut kembali bhinneka tunggal ika, setia menjaga NKRI, selamat harlah NU yang ke 88, selamat tahun baru Imlek, Gong Xi Fat Cai!

 

Mamang M. Haerudin, Khadimul-Ma’had di pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin dan Ketua LP3M STID Al-Biruni Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Hadits Haedar Nashir

Sabtu, 28 Maret 2015

Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus

Kudus, Haedar Nashir

Konferensi Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Kudus telah menetapkan ketua baru masa khidmah 2016-2018.

Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus

Pada sidang pemilihan secara terpisah di aula SMK NU Maarif, Sabtu (13/8) itu, M Wahyu Saputro terpilih menjadi ketua IPNU Kudus dan Khotimatus Saadah sebagai ketua IPPNU.

?

Dalam pemilihan yang dipimpin PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah, M Wahyu Saputro memperoleh 53 suara mengungguli calon lain M Tausiul Ilma yang memperoleh 51 suara dan Saiful Huda (Bae) yang meraih hanya 2 suara. Sementara Khotimatus Saadah meraih 69 suara lebih unggul dari dua calon lain Nurul Afifah (23 suara) dan Asri Awaliyah (9 suara).

?

Haedar Nashir

Setelah terpilih, keduanya menyatakan kesediaannya mengemban amanah badan otonom NU beranggotakan para pelajar ini tiga tahun mendatang. Kendati tidak menyangka mendapat kepercayaan, Wahyu Saputro menegaskan kesiapannya memimpin pelajar NU Kudus.

"Ini adalah sebuah amanah yang harus dijalankan, semoga mendapat ridha dari Allah SWT," ujarnya.

?

Haedar Nashir

Kader terbaik dari Kecamatan Jati ini akan berusaha memperbaiki sistem pendirian komisariat di madrasah, sekolah dan pesantren guna menyiapkan kader sejak dini. Di samping itu, Wahyu juga akan membenahi sistem kaderisasi dari tingkatan cabang, anak cabang, ranting, hingga komisariat.

?

"Kita akan menginventarisir kader-kader di madrasah-sekolah dan pesantren untuk dijadikan cikal bakal pendirian komisariat," katanya.

?

Langkah lainnya, imbuh pria yang biasa disapa Yoyok ini, akan melakukan pendekatan kepada kepala madrasah/sekolah terutama wakil kepala kesiswaan dalam rangka mewujudkan pendirian komisariat.

?

"IPNU akan bersinergi LP Maarif, kepala madrasah/sekolah NU. Tanpa kekuatan sinergis tidak bisa berjalan program-program IPNU-IPPNU," ujarnya menyadari.

?

Senada dengan Yoyok, Khotimatus Saadah menyatakan siap mengemban amanah dan akan menjalin kerja sama dalam mengembangkan organisasi dengan visi keterpelajaran. "Doakan saja semoga kami amanah menjalankan mandat konferensi," ujarnya singkat.

?

Untuk melengkapi kepengurusan, ketua terpilih dibantu tim formatur yang terdiri dari ketua terpilih, ketua lama, dan 9 ketua Pimpinan Anak Cabang se-Kudus. (Qomaru Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, AlaSantri Haedar Nashir

NU harus Mengarah pada Pendidikan Berbasis Sistem, bukan Figur

Jakarta, Haedar Nashir. Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama, sudah saatnya NU mengembangkan pendidikan yang berbasis pada sistem, bukan lagi pada figur yang memimpin.

Demikian dituturkan oleh Wakil Rais Aam PBNU KH Tolhah Hasan dalam acara rapat koordinasi Lembaga Pendidikan Maarif NU yang diselenggarakan di hotel Sofyan, Selasa (14/8).

NU harus Mengarah pada Pendidikan Berbasis Sistem, bukan Figur (Sumber Gambar : Nu Online)
NU harus Mengarah pada Pendidikan Berbasis Sistem, bukan Figur (Sumber Gambar : Nu Online)

NU harus Mengarah pada Pendidikan Berbasis Sistem, bukan Figur

Dikatakan oleh Mantan Menteri Agama ini bahwa keberadaan pesantren sebagai sistem pendidikan yang banyak dikelola oleh warga NU masih sangat menggantungkan diri pada figur kiai yang memimpinnya.

“Jika kiai memiliki kharisma yang tinggi, maka santrinya akan sangat banyak, tetapi belum tentu hal ini bisa bertahan jika pengelola pesantren tersebut sudah berganti,” tuturnya.

Banyak sekali contoh pesantren yang dulu sangat besar dan disegani tetapi belakangan ini mengalami penyusutan karena pergantian kepemimpinan yang oleh masyarakat kualitasnya dianggap tidak sama dengan pendahulunya. Hal sebaliknya juga terjadi, meskipun pesantrennya baru, tetapi kiainya dianggap memiliki kelebihan tertentu, maka dengan segera, akan terjadi peningkatan jumlah santri.

Dalam pendidikan yang sudah mengandalkan sistem manajemen modern, maka kualitas pendidikan dan pengajaran ditentukan oleh kurikulum dan kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran yang ada seperti adanya guru yang berkualitas, laboratorium, peralatan yang memadai dan lainnya.

Haedar Nashir

“Jadi ketika kepala sekolah ganti, hal ini tidak akan berpengaruh terhadap jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut,” paparnya.

Haedar Nashir

Pendiri Universitas Islam Malang ini juga menuturkan bahwa pengelola lembaga pendidikan saat ini tak boleh main-main dengan kualitas sekolahnya agar tetap bias eksis di masyarakat.

“Jika kualitas sekolah sudah menjadi kebutuhan, maka ikatan primordial akan berkurang dibandingkan dengan mutu sekolah,” katanya.

Untuk membangun sekolah yang baik, tiga modal pokok yang harus dipenuhi adalah aspek financial, intelektual dan jaringan.

Kiai Tolhah menuturkan bahwa saat ini ia tengah berupaya mengambangkan SMK berbasis pesantren atau pesantren teknologi untuk menyiapkan para generasi muda NU agar bisa terjun ke bidang tersebut. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir