Minggu, 10 April 2016

Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan

Pekalongan, Haedar Nashir. Puluhan ribu umat Islam dari Pekalongan dan sekitarnya, Rabu (13/2), menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1434 H.

Maulid Nabi tersebut terasa istimewa karena digelar oleh Habib Luthfy bin Yahya di Gedung Sholawat, Jalan dr. Wahidin Pekalongan.

Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan

Ratusan kendaraan pribadi maupun rombongan sejak malam sebelumnya telah memadati sepanjang Jl. dr. Wahidin yang sehari sebelumnya digunakan untuk kegiatan pawai Panjang Jimat Pekalongan berubah menjadi area tempat kegiatan dan parkir.

Haedar Nashir

Tidak hanya itu, ratusan pedagang kaki lima penjual makanan, minuman dan aneka souvernir baik yang berasal dari Kota Pekalongan maupun dari wilayah sekitarnya tak ketinggalan ikut mengais rejeki di Kanzus Sholawat.

Maulidurrasul yang di gelar di Kanzus Sholawat sejak beberapa tahun silam selalu menjadi magnet umat Islam dari perbagai pelosok kota. Dari tahun ke tahun pengunjung selalu membludak. Mereka rela duduk berdesakan bersimbah keringat dan rela berpanas panasan sambil terus melantunkan sholawat.

Haedar Nashir

Tak ada suara keluhan yang keluar dari pengunjung yang hadir mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek. Mereka rela duduk beralaskan koran bekas dengan perbekalan makanan dan minuman seadanya yang telah dibawanya dari rumah. 

Bahkan rumah rumah penduduk di sekitar area kegiatan peringatan maulid menjadi tempat transit sementara yang sangat strategis. Para pemilik rumah dengan senang hati menyediakan tempat seadanya untuk transit para tamu Habib Luthfy yang datang dari berbagai daerah.

Wakil Sekretaris panitia maulid H. Suwardi mengatakan, meski persiapannya sangat mepet, tak mengurangi kesemarakan kegiatan peringatan maulid di Kanzus Sholawat. Berbagai kegiatan penunjang semuanya berjalan dengan lancar. Diantaranya khotmil quran, pembacaan rotibul kubro, apel siaga Banser, kirab merah putih, pawai panjang jimat, pembacaan manakib Syech Abdul Qodir Al Jaelani dan pentas musik gambus El Balasyik.

Dikatakan, cuaca terang serta dukungan dari TNI Polri dan Banser dalam hal keamanan sangat menunjang kelancaran kegiatan peringatan maulid yang rutin di gelar setiap tahun di Kanzus Sholawat.

Hadir dalam acara peringatan maulid, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Kabinet Indonesia Bersatu II H Helmy Faishal Zaini, Staf Khusus Presiden RI Bidang Energi dan Pangan, ratusan ulama, kiai dan habaib, para pejabat daerah juga tampak hadir antara lain Wakil Walikota Pekalongan dan Wakil Walikota Tegal.

Redaktur    : A.Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Pahlawan, Kyai Haedar Nashir

Sabtu, 02 April 2016

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Makassar, Haedar Nashir. Bank Sulselbar tertarik melengkapi infrastruktur salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Islam Makassar (UIM). Perhatian serius itu dibuktikan dengan kunjungan Direktur Umum Bank Sulselbar Ambo Syamsuddin ke Rektor UIM Dr. Ir. Hj. Majdah Agus Arifin Nu’mang, Selasa (16/12) kemarin.

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Kunjungan itu dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran konkret kemajuan yang telah dicapai universitas yang dipimpin istri Wagub Sulsel itu, terutama dari segi sarana dan prasarana. Setelah di terima di ruang kerja, Ambo Syamsuddin bersama Majdah didampingi Pembantu Rektor II Ir. Saripuddin Muddin meninjau langsung ke Auditorium KH Muhyiddin Zain yang tengah dalam tahap penyelesaian akhir. Auditorium itu akan menampung sekitarb 4000 undangan dilengkapi dengan panggung berukuran besar dan balkon di bagian belakang.

Menurut Ambo Syamsuddin, pihaknya memang menaruh perhatian besar kepada UIM karena telah mengalami perkembangan yang begitu pesat setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Selain telah terbangun 11 gedung perkuliahan dan fasilitas lainnya yang cukup megah, juga perkembangan mahasiswanya telah mencapai 6.000 orang.

Haedar Nashir

Untuk lengkah awal, pada tahun 2015 nanti Bank Sulselbar sudah menyiapkan bantuan khusus untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan gedung auditorium. Gedung ini perlu kita dukung sepenuhnya karena dapat difungsikan secara produktif, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat di daerah ini.

Haedar Nashir

“Kami terpanggil memberi bantuan nyata karena memang pengelolaan UIM semakin mapan di tangan ibu Rektor. Pembangunan fisiknya saja sudah tampak jauh dari bebrapa tahun lalu yang masih kelihatan dipenuhi pada rumput. Sekarang sudah dipenuhi gedung bertingkat,” tandasnya. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Kajian Sunnah, Pertandingan Haedar Nashir

Senin, 28 Maret 2016

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan

Jakarta, Haedar Nashir. Untuk penguatan kader, PP GP Ansor akan mengadakan Kursus Keaswajaan yang akan diluncurkan pukul 15.00, Kamis sore, 26 Juli 2012 di kantor PP GP Ansor, jalan Kramat Raya nomor 65.A, Jakarta Pusat. Kursus ini akan dibuka oleh KH Malik Madani, Katib Aam PBNU.

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan

“Kursus Keaswajaan ini sedikitnya akan diikuti oleh enam puluh peserta. Selain kader PP GP. Ansor, para peserta terdiri dari jajaran Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Pengurus Anak Cabang GP Ansor DKI Jakarta, IPNU, dan PMII,” ungkap Hasan Sagala, panitia Kursus kepada Haedar Nashir di aula lantai dasar kantor PP GP Ansor, jalan Kramat Raya nomor 65.A, Jakarta Pusat, Rabu (25/7) malam.

Menurut Sagala, dari enam puluh peserta, panitia kursus akan membagi mereka menjadi dua; kelas A dan kelas B. Mereka akan mengikuti kursus tersebut selama enam kali pertemuan sesuai jadwal yang ditentukan panitia.

Haedar Nashir

Dalam jadwal kursus, kepanitiaan menetapkan hari Senin dan Rabu bagi peserta kelas A. Sementara jadwal kursus bagi peserta kelas B adalah hari Selasa dan Kamis. Pembagian jadwal dan kelas seperti ini bertujuan untuk mengondisikan forum lebih efektif.

Haedar Nashir

Para peserta akan menerima materi keaswaajaan baik dari pelbagai sisi, antara lain sejarah, tauhid, syariah, tasawuf, dan politik. Materi aswaja akan diuraikan secara komprehensif dari pelbagai aspek. Selain mengejar pembahasan komprehensif, panitia juga menyediakan pengisi materi yang mumpuni untuk memngupas materi secara mendalam.

Pengisi materi antara lain adalah KH Malik Madani, KH Tolchah Hasan, KH Mashdar F. Mas’udi, dan KH Yahya C. Staquff. Uraian mendalam mereka diharapkan dapat membekali para peserta kursus dengan kematangan materi aswaja.

Penyelenggaraan kursus ini diadakan dalam rangka pelaksanaan PO baru yang diatur belakangan dalam Konbes di PP Alhamid, Cilangkap, Jakarta Timur, tambah Sagala. Selain itu, lewat kursus ini, GP Ansor bermaksud untuk memperkuat pemahaman aswaja di tingkat bawah. Karena, mereka berhadapan langsung dengan tantangan-tantangan dari luar.

Kata Sagala, pembekalan ini juga bisa dianggap sebagai matrikulasi bagi kader-kader GP. Ansor yang baru mengenal permukaan aswaja. Forum kursus ini dapat mengakomodir para peserta untuk bersama meningkatkan sinergi dalam sebuah gerakan yang berhaluan aswaja.

Kursus ini akan konsentrasi membahas hanya materi aswaja. Forum ini tidak menyinggung materi-materi lain yang tidak terkait aswaja, tandas Sagala. ? ? ?

?

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Aswaja, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Jumat, 25 Maret 2016

Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai, Indonesia sedang mengalami krisis kebangsaan yang akut. Kondisi ini tercermin dari begitu bebasnya orang asing melenggang di Tanah Air, bahkan melebihi warga pribumi sendiri.

Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air

”Coba bayangkan, orang luar negeri dengan begitu mudah mengembangkan agen di sini. Membentuk perwakilan-perwakilan di tengah-tengah masyarakat kita. Orang-orang Saudi membangun pesantren, madrasah, yayasan, dengan sangat mudah,” ujar Kang Said, sapaan akrabnya.

Kang Said menyampaikan hal itu saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) ke-5 Ikatan Alumni Pergerakan Mahahsiswa Islam Indoesia (IKA-PMII) bertema”Menegaskan Kedaulatan Indonesia di Tengah Percaturan Geolpolitik Dunia” di Jakarta, Senin (1/7).

Haedar Nashir

”Coba dibalik kita membangun pesantren di Arab Saudi sampai tenggorokan protol (putus) tidak akan kesampaian. Sampai leher putus tidak akan terlaksana. Itu baru satu contoh. Betapa kebangsaan kita terancam,” ujarnya.

Haedar Nashir

Tak hanya Islam garis keras, lanjut Kang Said, kebebasan luar biasa tersebut juga berlaku bagi ideologi-ideologi lain, seperti liberalisme, dan lain-lain. ”Sudah kebablasan kita ini,” tuturnya.

Menurut Kang Said, Indonesia penting mengembalikan jati diri bangsa, salah satunya melalui jalur pendidikan. Kemendikbud dinilai hingga sekarang belum sukses mengupayakan hal ini meskipun dengan dukungan anggaran yang sangat fantastis.

”Jati diri bangsa harus kita perkuat, kalau tidak jati diri bangsa kita akan terkikis, paling tidak termarginalkan,” paparnya.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Selasa, 22 Maret 2016

Dua Warga Afsel Naik Haji dengan Bersepeda

Makkah, Haedar Nashir

Dua belas negara, memakan waktu sembilan bulan, dan menempuh jarak ribuan kilometer, telah ditempuh oleh dua orang warga Afrika Selatan ini untuk mewujudkan mimpinya naik haji ke Makkah. Dua warga Cape Town itu, Nathim Cairncross (28) dan Ahmad Haron (25) hanya menggunakan sepeda untuk melintasi benua Afrika yang panas menuju Arab Saudi.



Dua Warga Afsel Naik Haji dengan Bersepeda (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Warga Afsel Naik Haji dengan Bersepeda (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Warga Afsel Naik Haji dengan Bersepeda

Keduanya melintasi perbatasan Arab Saudi pada akhir Oktober lalu, tiba hampir tiga pekan sebelum ritual haji dimulai di Makkah. Rangkaian ibadah haji dimulai Ahad kemarin, 14 November 2010.

Ide menunaikan ibadah haji dengan menggunakan sepeda itu muncul dari Haron Desember 2009. Kala itu, ia menyampaikan ide tersebut kepada sahabatnya Cairncross setelah membaca tulisan mengenai ibadah haji yang dihadiri lebih dari dua juta umat Muslim dari seluruh dunia ini.

Haedar Nashir

Dalam kehidupan, saya mempunyai prinsip, ujar Cairncross kepada Al Jazeera. Jika saya bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu, di akhirnya pasti akan didapat. Setelah sembilan bulan mengayuh sepeda melintasi Afrika menuju Timur Tengah, tentu saja, saya mendapatkan nilai lebihnya.

Perjalanan melintasi Benua Afrika itu dimulai pada 7 Februari 2010, di pagi yang dingin dan berhujan di sebuah masjid di Cape Town. Sekitar 500 orang mengiringi kepergian keduanya seraya memanjatkan doa keselamatan. Berbekal peta, mereka menyusuri negara-negara di Afrika yang gersang.

Haedar Nashir

Kami bukan pengendara sepeda yang profesional, ujar Cairncross. Tapi kami telah latihan fisik sejak dua bulan sebelum berangkat, seperti mendaki gunung, berlari di pantai, dan berenang.

Untuk mewujudkan rencana itu, keduanya tidaklah mudah. Ada pula sebagian masyarakat yang coba menghalangi kepergian itu dengan alasan mustahil bisa dilakukan. Namun tanpa rasa takut, teman-teman mereka ikut merancang perjalanan haji itu, berkonsultasi dengan departemen lalu lintas Afrika Selatan untuk memastikan keduanya bisa bersepeda dengan aman, mengurus visa, dan meminta nasihat medis dari dokter. Kami sampai dikatakan orang gila, ucap keduanya.

Dalam perjalanan panjang itu, keduanya melalui negara di antaranya Botswana, Zimbabwe, Mozambik, Malawi, Tanzania, dan Zanzibar. Setiap hari, mereka bersepeda sepanjang 80-100 kilometer, dimulai sejak usai salat Subuh dan berhenti saat waktu malam. Terkadang, keduanya bermalam di penginapan, berkemah, atau di masjid.

Di saat bermalam itu, tak jarang keduanya menceritakan kisah perjalanan dan tujuannya. Masyarakat setempat banyak yang tersentuh dan kemudian membantu memberikan penginapan dan makan gratis. Selama di perjalanan itu, keduanya juga memanfaatkannya untuk menjelaskan tentang Islam dan ibadah haji kepada penduduk yang dijumpai.

Dengan bersepeda, anda dapat berbicara dengan banyak orang, tutur Cairncross. Namun jika menggunakan pesawat atau mobil, Anda tak akan mendapatkan kesempatan seperti itu. Selama perjalanan, Anda juga bisa belajar lebih banyak, mengenali diri anda sendiri. Ini merupakan pengalaman yang nyata.

Perbedaan bahasa terkadang menjadi kendala selama perjalanan. Lantas masalah ban bocor, rantai sepeda rusak, atau sadel yang bermasalah. Namun mereka bersyukud karena selama perjalanan tak pernah mendapatkan masalah keamanan. Meski tak mempunyai uang yang banyak, keduanya tak pernah kesulitan mendapatkan tempat bermalam atau makan.

Dalam perjalanan itu, keduanya bahkan sempat singgah ke Yerusalem dan mengunjungi Masjid Aqsha. Melintasi perbukitan Petra dan Laut Mati di wilayah Yordania. Keduanya singgah terlebih dahulu di Madinah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah. Seperti halnya ketika memulai perjalanan, keduanya tiba di Makkah dengan naungan awan mendung yang pekat.

Sungguh luar biasa, ungkap Cairncross bahagia. Guntur dan kilat menyambut kedatangan kami di Makkah untuk melihat Kabah pertama kalinya.

Melakukan tawaf dengan pakaian ihram dengan hujan yang mengguyur, sepertinya Allah memberikan rasa kasihnya kepada kita. Semoga Allah menerima usaha keras kita ini. (bil/kemenag)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Pendidikan Haedar Nashir

Presiden Diminta Segera Ambil Alih Penanganan Lumpur Porong

Surabaya, Haedar Nashir. Berlarut-larutnya penanganan semburan lumpur di Porong semakin memprihatinkan banyak orang. Penderitaan itu tidak hanya dirasakan oleh mereka yang terkena dampak langsung, namun juga mereka yang menjadi dampak antaranya. Sementara Timnas penanggulangan lumpur yang seharusnya bertanggung jawab menghentikan semburan itu, nyaris tak mendapatkan hasil.

“Pemerintah harus segera mengambil alih penanganan bencana lumpur di Porong ini,” kata Ketua PWNU Jawa Timur KH Ali Maschan Moesa di Surabaya, Kamis (22/2) siang.  Ali menyatakan kesimpulan itu bukan hanya pendapat dirinya, namun kesimpulan akhir sekaligus rekomendasi dari seminar internasional tentang lumpur Porong pada tanggal 20-21 Pebruari kemarin. Seminar yang berlangsung di BPPT itu diselenggarakan oleh IAG (Ikatan Ahli Geologi) dan BPPT dengan mengundang para pakar geologi dari berbagai negara maju.

Senin, 21 Maret 2016

Hari Santri Momentum untuk Berinovasi

Purworejo, Haedar Nashir. Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2017 diperingati oleh berbagai kalangan santri di seluruh penjuru Tanah Air dengan berbagai ritual seperti pembacaan shalawat, kirap dan upacara bendera, hendaknya dimaknai sebagai momentum bagi santri untuk lebih tafaqquh fiddien, menggali inspirasi dari ulama dan kiai, serta lebih berinovasi.

Hari Santri Momentum untuk Berinovasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri Momentum untuk Berinovasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri Momentum untuk Berinovasi

Demikian disampaikan Muslikhin Madiani dalam amanat upacara Peringatan Hari Santri yang diselenggarakan oleh MTs dan MA An-Nawawi di halaman sekolah setempat, Ahad (22/10) pagi.

Di depan 1500-an santri, mantan ketua PC IPNU Purworejo itu juga memaparkan peran santri mulai dari Komite Hijaz, perjuangan melawan kolonialime asing, Revolusi Kemerdekaan, pengukuhan Bung Karno sebagai waliyyul amri ad-dhoruri bis-syaukah sampai peristiwa penumpasan pemberontakan yang tsk lepas dari peran santri dalam memperjuangkan, menjaga dan merawat Islam dan NKRI.

Muslikhin berharap, para santri masa kini meneladani apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu serta tak larut dalam arus zaman.

"Hari Santri ini adalah bentuk pengakuan bangsa dan negara kepada santri. Sudah selayaknya, kita semua - terutama para generasi muda - berlajar dari para ulama, kiai dan santri yang telah banyak berkontribusi untuk NKRI," terangnya.

Haedar Nashir

Upacara bendera merah putih berjalan dengan penuh khidmad. Tak seperti upacara pada umumnya, pra santri memakai peci, baju putih serta sarung dalam mengikutinya. 

Muslikhin berharap, dengan adanya upacara Hari Santri Nasional ini, para siswa dan siswi semakin mencintai ulama dan para pejuang yang telah berdarah-darah mendirikan NKRI, serta pemantil untuk lebih giat dalam belajar dan berinovasi.

"Karena dewasa ini banyak yang mempertentangkan Islam dengan NKRI, jadi upacara ini juga sekaligus untuk terus memupuk nasionalisme para santri," pungkasnya. (Ahmad Naufa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir