Sabtu, 16 April 2016

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1)

Oleh Choirul Anam

--Diskusi mendalam di pondok pesantren Al-Mansyuriyah, Lombok Tengah, NTB telah berlangsung beberapa waktu lalu guna menerima dan mencari masukan untuk melengkapi rumusan PBNU mengenai sistim baru pemilihan Rais Aam (Syuriyah) PBNU yang dikenal dengan Ahlul Halli Wal Aqdi (sering disingkat Ahwa). Sistim pemilihan zaman Nabi dan sahabat ini mulai akan diuji-coba di Muktamar Jombang.

Dalam kata sambutan pembukaan diskusi, ketua umum PBNU KH Prof Dr Said Aqil Siroj mendukung penuh sistim pemilihan rais aam dengan model Ahlul Halli Wal Aqdi.? Sebab kalau pilihan langsung, dikesankan mengadu kekuatan antar kiai, dan karena itu dicarikan jalan musyawarah yang lebih tepat seperti Ahlul Halli Wal Aqdi. Lagi pula kalau sistim pemilihan langsung, masih kata Kang Said, akan lahir kubu-kubuan, lalu kampanye hitam (black campaign) antarpendukung, saling menjelekkan dan menjatuhkan. Terus lagi, ditakutkan muncul politik uang yang merusak moral.

Ada juga pandangan lain dari peserta diskusi bahwa kalau NU tetap mempertahankan sistim pemilihan langsung, maka kesan NU sama saja dengan partai politik akan terus terbangun selamanya. Bahwa orang akan terus menganggap suksesi di lingkungan NU sama saja dengan di parpol, tergantung mana yang kuat uangnya. Maka dari itu beberapa pengurus PCNU maupun PWNU yang masih mau berpikir, mengharuskan ada perubahan, dan untuk sementara ini yang dipandang cocok adalah model Ahlul Halli Wal Aqdi.

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1)

Saya ingin memberi masukan dari perspektif historis NU mengenai Ahwa ini. Bahwa yang perlu dipahami, Ahwa tidak ada sangkut pautnya dengan politik uang (money politics), dengan kubu-kubuan, kampanye hitam (black campaign), saling jatuh menjatuhkan antar kelompok pendukung kiai atau ulama yang dijagokan, dan seterusnya. Ahwa adalah sebuah sistim pemilihan pemimpin yang diajarkan atau dicontohkan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang bergelar "al-Khulafa ar- Rasyidun", yang tak lain adalah Abu Bakar as- Shiddiq, Umar Ibnu Khottab, Usman bin Affan, dan Aly bin Abi Thalib. Sedang NU sebagai salah satu pewaris Ahwa ini hanya ingin mencoba menerapkannya di Muktamar Jombang nanti.

Jadi, jangan mengait-kaitkan Ahwa dengan politik uang, kampanye hitam, kubu-kubuan dst. Apakah dengan Ahwa dijamin tidak akan terjadi politik uang? Tidak akan terjadi konflik dan kubu-kubuan? Belum tentu! Buktinya NU sejak berdiri hingga saat ini menggunakan sistem pemilihan langsung tidak ada masalah, baik-baik saja! Hanya saja belakangan ini (di era reformasi) NU tergerus oleh dampak negatif sistem politik makro yang dibangun pemerintah, yakni pilihan langsung anggota DPR, DPD dan Presiden/Wakil sampai Bupati dan Wakil. Warga NU yang hidup di zaman sebelum reformasi tidak pernah tahu dan merasakan politik uang.

Pertanyaan besarnya adalah buat apa sistem Ahwa ini diterapkan? Untuk apa Ahwa disodor-sodorkan agar dipraktikkan di muktamar ke 33? Kenapa tidak pada zaman Mbah Hasyim Asyari dan Mbah Abdul Wahab Hasbullah tempo dulu diberlakukan? Apa beliau-beliau kurang Ahwa? Dalam perjalanan sejarah NU belum pernah menggunakan model Ahwa dalam pemilihan Rais Aam Syuriyah PBNU, kecuali pada muktamar ke 27 di Situbondo (3-12 Desember 1984). Penggunaan sistim Ahwa ini pun didasarkan beberapa pertimbangan, antara lain, karena kondisi NU sebagai Jamiyyah Diniyah Islamiyah (Organsasi Keagamaan Islam) waktu itu, memang sudah rapuh sehingga memerlukan pemikiran dan upaya baru untuk menyelamatkannya.

Haedar Nashir

Terutama sepeninggal Rais Aam PBNU KH. Bisri Syansuri (wafat Jumat 25 April 1980). Tubuh NU terbelah menjadi dua kubu: kubu politik yang bermuara kepada Ketua Umum PBNU KH. DR. Idham Cholid (Cipete) dan kubu khitthah yang dijaga ketat KH.R. Asad Syamsul Arifin Situbondo yang didukung kelompok muda pembaharu di NU seperti Gus Dur. Bisa dipahami, karena KH. Idham Cholid kala itu benar-benar sebagai figur sentral, yaitu selain menjabat Ketua Umum PBNU, juga Presiden Partai (PPP). Hampir setiap hari kubu politik berteriak-teriak agar jabatan Rais Aam dibiarkan kosong, sehingga mereka bisa leluasa memainkan jurus-jurus politiknya guna memperoleh kekuasaan politik di parlemen atau eksekutif di pemerintahan. Sementara kubu khitthah terus berupaya agar segera diisi. Kalau tidak, maka nasib NU ke depan semakin sulit untuk ditolong.

Pertengkaran dua kubu tersebut, jika digambarkan, memang hampir mirip seperti cicak dan buaya. Masing-masing kubu beradu argumentasi di media massa. Kelompok Cipete ngotot meminta jabatan Rais Aam dibiarkan lowong, dan kalau toh mau diisi mesti diambil dari salah satu wakil untuk naik menjadi Rais Aam. Pendapat itu ditolak mentah oleh kubu khitthah atau kelompok Situbondo karena tidak sesuai dengan konstitusi NU. Menurut AD/ART NU, jabatan Rais Aam dipilih langsung oleh ulama NU seluruh Indonesia melalui muktamar (atau forum ulama yang setingkat dengan itu), yaitu Munas atau Konbes.

Haedar Nashir

Kubu Situbondo yang secara diam-diam berupaya keras mengembalikan NU ke khittah aslinya, akhirnya berhasil mengonsolidasikan pikiran-pikirannya ke hampir seluruh ulama senior di Indonesia. Puncaknya kelompok ini sukses menggelar munas alim ulama NU di Kaliurang, Yogyakarta (September 1981). Dan berhasil memilih KH. Ali Mashum sebagai Rais Aam PBNU menggantikan KH. Bisri Syansuri.

Mestinya persoalan sudah selesai, ternyata belum juga. Hasil Munas yang menggemparkan jagat politik nasional dan? mendapat banyak pujian serta sanjungan dari berbagai kelompok tersebut, terutama menyangkut soal isu politik dukung-mendukung pemberian gelar Bapak Pembangunan dan pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden RI pada Sidang Umum MPR hasil Pemilu 1982, justru dimentahkan oleh kubu Cipete dengan menggunakan sayap Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) unttuk menandinginya.

Sehari setelah Munas Alim Ulama NU ditutup, kubu Cipete menggelar Konferensi Besar (Konbes) GP Ansor (3-6 September 1981) di Semarang. Drs. HA. Cholid Mawardi selaku Ketua Umum PP GP Ansor sekaligus mereprentasikan diri sebagai pimpinan kelompok Cipete menyatakan: "Pemberian gelar Bapak Pembangunan kepada Presiden Soeharto adalah gagasan wajar dan penting bagi integrasi bangsa. Dan Konbes menyarankan kepada DPR RI membuat memorandum kepada MPR untuk mempercayakan kepemimpinan nasional kepada Jenderal Soeharto."

Dari sini pertentangan semakin tajam. Lalu bagaimana upaya para kiai sepuh NU menyelamatkan organisasi? Inilah episode sejarah yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan. (--bersambung)

?

Choirul Anam, Dewan Korator Museum NU

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Pertandingan Haedar Nashir

Kamis, 14 April 2016

Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara Segera Dibangun

Jakarta, Haedar Nashir. Warga nahdliyin di Kabupaten Banjarnegara akan segera memiliki gedung Aswaja NU Center. Peletakan batu pertama pembangunan Aswaja NU Center Banjarnegara dilakukan pada ? Ahad (29/1) bersamaan dengan rangkain kegiatan Harlah ke-91 NU.

Seperti rilis yang diterima Haedar Nashir Senin (30/1), Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara berlokasi di Parakancanggah RT 07/RW 9 Banjarnegara, Jawa Tengah.

Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara Segera Dibangun (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara Segera Dibangun (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara Segera Dibangun

Rais PCNU Banjarnegara KH Mujtahadi Toblawi menyampaikan Indonesia dibangun dari keanekaragaman dan melebur menjadi NKRI. Dengan dibangunnya gedung Aswaja NU Center Banjarnegara, diharapkan warga NU dan seluruh elemen turut mendukung baik materiil maupun moril.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara mewakili Bupati Banjarnegara Fahrudin Slamet Susiadi menyampaikan selamat atas harlah NU ke-91. Ia berharap NU dapat menjadi sakaguru dalam menjaga keutuhan NKRI dari segala ancaman paham radikal dan segala bentuk ancaman terorisme.?

“Gedung Aswaja NU Center merupakan prestasi PCNU Banjarnegara sekaligus keberhasilan umat Islam,” kata Fahrudin.?

Haedar Nashir

Tak kurang dari 4000 orang memeriahkan kegiatan tersebut. Dari unsur NU, hadir Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Ketua PCNU Banjarnegara H Zahid Khasani, Pengurus PCNU Banjarnegara, pengurus Ranting NU, Fatayat NU, serta para pimpinan, pengurus dan santri pondok pesantren se-Kabupaten Banjarnegara.?

Adapun dari unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) hadir Ketua DPRD Nuryanto, Wakapolres Banjarnegara Kompol Widiyantoro, Anggota DPR RI Taufiq R Abdullah, dan Ketua Panwaslu Kabupaten Banjarnegara. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Ulama Haedar Nashir

Selasa, 12 April 2016

STAINU Jakarta Diusulkan Kembangkan Kuliah Terbuka

Jakarta, Haedar Nashir. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta diusulkan untuk mengembangkan program kuliah terbuka dengan unit program pembelajaran jarak jauh.

Usulan disampaikan warga nahdliyin yang juga Guru Kemenag DPK di SD 1 Bandung Jepara Nor Hasan Wahyudi dalam surat elektroniknya kepada Haedar Nashir, Sabtu (16/12).

STAINU Jakarta Diusulkan Kembangkan Kuliah Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Diusulkan Kembangkan Kuliah Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Diusulkan Kembangkan Kuliah Terbuka

Ini merupakan respon dari program kerja Lajnah Perguruan Tinggi NU (LPTNU) yang akan membuka 10 sampai dengan 29 perguruan tinggi NU baru. Ia mengusulkan STAINU Jakarta diperluas menjadi Universitas NU atau UNU Internasional yang mengadopsi program dan cara belajar universitas terbuka (UT).

Haedar Nashir

“Dengan demikian para nahdliyin di pelosok desa akan dapat merasakan kuliah di UNU tanpa harus ke Jakarta,” katanya.

Teknisnya, di kantor-kantor wilayah (PWNU) dibuat Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UNU dan di kantor cabang (PCNU) dan wakil cabang (MWCNU) dibuat kelompok belajar (Pokjar) UNU.

Haedar Nashir

“Jadi sederhana, lebih bermanfaat dan cepat berkembang karena fasilitas kantor-kantor NU di daerah banyak yang sepi kegiatan. Kalau ada pembelajaran kan kantornya bisa hidup, warganya pintar. UNU akan cepat berkembang dengan ribuan mahasiswa di seluruh Indonesia.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Olahraga, Cerita Haedar Nashir

Minggu, 10 April 2016

Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan

Pekalongan, Haedar Nashir. Puluhan ribu umat Islam dari Pekalongan dan sekitarnya, Rabu (13/2), menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1434 H.

Maulid Nabi tersebut terasa istimewa karena digelar oleh Habib Luthfy bin Yahya di Gedung Sholawat, Jalan dr. Wahidin Pekalongan.

Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Warga Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan

Ratusan kendaraan pribadi maupun rombongan sejak malam sebelumnya telah memadati sepanjang Jl. dr. Wahidin yang sehari sebelumnya digunakan untuk kegiatan pawai Panjang Jimat Pekalongan berubah menjadi area tempat kegiatan dan parkir.

Haedar Nashir

Tidak hanya itu, ratusan pedagang kaki lima penjual makanan, minuman dan aneka souvernir baik yang berasal dari Kota Pekalongan maupun dari wilayah sekitarnya tak ketinggalan ikut mengais rejeki di Kanzus Sholawat.

Maulidurrasul yang di gelar di Kanzus Sholawat sejak beberapa tahun silam selalu menjadi magnet umat Islam dari perbagai pelosok kota. Dari tahun ke tahun pengunjung selalu membludak. Mereka rela duduk berdesakan bersimbah keringat dan rela berpanas panasan sambil terus melantunkan sholawat.

Haedar Nashir

Tak ada suara keluhan yang keluar dari pengunjung yang hadir mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek. Mereka rela duduk beralaskan koran bekas dengan perbekalan makanan dan minuman seadanya yang telah dibawanya dari rumah. 

Bahkan rumah rumah penduduk di sekitar area kegiatan peringatan maulid menjadi tempat transit sementara yang sangat strategis. Para pemilik rumah dengan senang hati menyediakan tempat seadanya untuk transit para tamu Habib Luthfy yang datang dari berbagai daerah.

Wakil Sekretaris panitia maulid H. Suwardi mengatakan, meski persiapannya sangat mepet, tak mengurangi kesemarakan kegiatan peringatan maulid di Kanzus Sholawat. Berbagai kegiatan penunjang semuanya berjalan dengan lancar. Diantaranya khotmil quran, pembacaan rotibul kubro, apel siaga Banser, kirab merah putih, pawai panjang jimat, pembacaan manakib Syech Abdul Qodir Al Jaelani dan pentas musik gambus El Balasyik.

Dikatakan, cuaca terang serta dukungan dari TNI Polri dan Banser dalam hal keamanan sangat menunjang kelancaran kegiatan peringatan maulid yang rutin di gelar setiap tahun di Kanzus Sholawat.

Hadir dalam acara peringatan maulid, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Kabinet Indonesia Bersatu II H Helmy Faishal Zaini, Staf Khusus Presiden RI Bidang Energi dan Pangan, ratusan ulama, kiai dan habaib, para pejabat daerah juga tampak hadir antara lain Wakil Walikota Pekalongan dan Wakil Walikota Tegal.

Redaktur    : A.Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Pahlawan, Kyai Haedar Nashir

Sabtu, 02 April 2016

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Makassar, Haedar Nashir. Bank Sulselbar tertarik melengkapi infrastruktur salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Islam Makassar (UIM). Perhatian serius itu dibuktikan dengan kunjungan Direktur Umum Bank Sulselbar Ambo Syamsuddin ke Rektor UIM Dr. Ir. Hj. Majdah Agus Arifin Nu’mang, Selasa (16/12) kemarin.

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Kunjungan itu dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran konkret kemajuan yang telah dicapai universitas yang dipimpin istri Wagub Sulsel itu, terutama dari segi sarana dan prasarana. Setelah di terima di ruang kerja, Ambo Syamsuddin bersama Majdah didampingi Pembantu Rektor II Ir. Saripuddin Muddin meninjau langsung ke Auditorium KH Muhyiddin Zain yang tengah dalam tahap penyelesaian akhir. Auditorium itu akan menampung sekitarb 4000 undangan dilengkapi dengan panggung berukuran besar dan balkon di bagian belakang.

Menurut Ambo Syamsuddin, pihaknya memang menaruh perhatian besar kepada UIM karena telah mengalami perkembangan yang begitu pesat setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Selain telah terbangun 11 gedung perkuliahan dan fasilitas lainnya yang cukup megah, juga perkembangan mahasiswanya telah mencapai 6.000 orang.

Haedar Nashir

Untuk lengkah awal, pada tahun 2015 nanti Bank Sulselbar sudah menyiapkan bantuan khusus untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan gedung auditorium. Gedung ini perlu kita dukung sepenuhnya karena dapat difungsikan secara produktif, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat di daerah ini.

Haedar Nashir

“Kami terpanggil memberi bantuan nyata karena memang pengelolaan UIM semakin mapan di tangan ibu Rektor. Pembangunan fisiknya saja sudah tampak jauh dari bebrapa tahun lalu yang masih kelihatan dipenuhi pada rumput. Sekarang sudah dipenuhi gedung bertingkat,” tandasnya. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Kajian Sunnah, Pertandingan Haedar Nashir

Senin, 28 Maret 2016

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan

Jakarta, Haedar Nashir. Untuk penguatan kader, PP GP Ansor akan mengadakan Kursus Keaswajaan yang akan diluncurkan pukul 15.00, Kamis sore, 26 Juli 2012 di kantor PP GP Ansor, jalan Kramat Raya nomor 65.A, Jakarta Pusat. Kursus ini akan dibuka oleh KH Malik Madani, Katib Aam PBNU.

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan

“Kursus Keaswajaan ini sedikitnya akan diikuti oleh enam puluh peserta. Selain kader PP GP. Ansor, para peserta terdiri dari jajaran Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Pengurus Anak Cabang GP Ansor DKI Jakarta, IPNU, dan PMII,” ungkap Hasan Sagala, panitia Kursus kepada Haedar Nashir di aula lantai dasar kantor PP GP Ansor, jalan Kramat Raya nomor 65.A, Jakarta Pusat, Rabu (25/7) malam.

Menurut Sagala, dari enam puluh peserta, panitia kursus akan membagi mereka menjadi dua; kelas A dan kelas B. Mereka akan mengikuti kursus tersebut selama enam kali pertemuan sesuai jadwal yang ditentukan panitia.

Haedar Nashir

Dalam jadwal kursus, kepanitiaan menetapkan hari Senin dan Rabu bagi peserta kelas A. Sementara jadwal kursus bagi peserta kelas B adalah hari Selasa dan Kamis. Pembagian jadwal dan kelas seperti ini bertujuan untuk mengondisikan forum lebih efektif.

Haedar Nashir

Para peserta akan menerima materi keaswaajaan baik dari pelbagai sisi, antara lain sejarah, tauhid, syariah, tasawuf, dan politik. Materi aswaja akan diuraikan secara komprehensif dari pelbagai aspek. Selain mengejar pembahasan komprehensif, panitia juga menyediakan pengisi materi yang mumpuni untuk memngupas materi secara mendalam.

Pengisi materi antara lain adalah KH Malik Madani, KH Tolchah Hasan, KH Mashdar F. Mas’udi, dan KH Yahya C. Staquff. Uraian mendalam mereka diharapkan dapat membekali para peserta kursus dengan kematangan materi aswaja.

Penyelenggaraan kursus ini diadakan dalam rangka pelaksanaan PO baru yang diatur belakangan dalam Konbes di PP Alhamid, Cilangkap, Jakarta Timur, tambah Sagala. Selain itu, lewat kursus ini, GP Ansor bermaksud untuk memperkuat pemahaman aswaja di tingkat bawah. Karena, mereka berhadapan langsung dengan tantangan-tantangan dari luar.

Kata Sagala, pembekalan ini juga bisa dianggap sebagai matrikulasi bagi kader-kader GP. Ansor yang baru mengenal permukaan aswaja. Forum kursus ini dapat mengakomodir para peserta untuk bersama meningkatkan sinergi dalam sebuah gerakan yang berhaluan aswaja.

Kursus ini akan konsentrasi membahas hanya materi aswaja. Forum ini tidak menyinggung materi-materi lain yang tidak terkait aswaja, tandas Sagala. ? ? ?

?

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Aswaja, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Jumat, 25 Maret 2016

Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai, Indonesia sedang mengalami krisis kebangsaan yang akut. Kondisi ini tercermin dari begitu bebasnya orang asing melenggang di Tanah Air, bahkan melebihi warga pribumi sendiri.

Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air

”Coba bayangkan, orang luar negeri dengan begitu mudah mengembangkan agen di sini. Membentuk perwakilan-perwakilan di tengah-tengah masyarakat kita. Orang-orang Saudi membangun pesantren, madrasah, yayasan, dengan sangat mudah,” ujar Kang Said, sapaan akrabnya.

Kang Said menyampaikan hal itu saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) ke-5 Ikatan Alumni Pergerakan Mahahsiswa Islam Indoesia (IKA-PMII) bertema”Menegaskan Kedaulatan Indonesia di Tengah Percaturan Geolpolitik Dunia” di Jakarta, Senin (1/7).

Haedar Nashir

”Coba dibalik kita membangun pesantren di Arab Saudi sampai tenggorokan protol (putus) tidak akan kesampaian. Sampai leher putus tidak akan terlaksana. Itu baru satu contoh. Betapa kebangsaan kita terancam,” ujarnya.

Haedar Nashir

Tak hanya Islam garis keras, lanjut Kang Said, kebebasan luar biasa tersebut juga berlaku bagi ideologi-ideologi lain, seperti liberalisme, dan lain-lain. ”Sudah kebablasan kita ini,” tuturnya.

Menurut Kang Said, Indonesia penting mengembalikan jati diri bangsa, salah satunya melalui jalur pendidikan. Kemendikbud dinilai hingga sekarang belum sukses mengupayakan hal ini meskipun dengan dukungan anggaran yang sangat fantastis.

”Jati diri bangsa harus kita perkuat, kalau tidak jati diri bangsa kita akan terkikis, paling tidak termarginalkan,” paparnya.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir