Jumat, 02 Desember 2016

Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba!

Jakarta, Haedar Nashir. 13 organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menyerukan desakan ke Pemerintah untuk memberlakukan hukuman mati kepada koruptor dan gembong narkoba. Korupsi dan peredaran narkoba dinilai sebagai kejahatan berat yang sejauh ini tidak ditindak secara tegas.

"Hukuman yang selama ini diberikan, kami nilai masih sangat ringan. Korupsi yang membangkrutkan negara dan gembong narkoba harus dihukum mati," ungkap Ketua Umum LPOI KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Jumat (1/2).

Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba! (Sumber Gambar : Nu Online)
Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba! (Sumber Gambar : Nu Online)

Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba!

LPOI beranggotakan 13 Ormas, masing-masing Nahdlatul Ulama, Persis, Al Irsyad Al Islamiyah, Matlaul Anwar, Ittihadiyah, Al Wasliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), IKADI, Dewan Dakwah Islamiyah, Arrabithah Al Alawiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, Azikra, dan Syarikat Islam Indonesia.

Haedar Nashir

Kiai Said yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menambahkan, LPOI juga mendesak penyegeraan pelaksanaan hukuman mati yang sudah divonis oleh pengadilan.

"Kami tahu pemberian grasi adalah hak Presiden. Tapi kami mohon Presiden bijak. Untuk terpidan yang sudah divonis, segera eksekusi, jangan ditunda-tunda agar kesempatan mendapatkan keringanan hukuman tidak ada," tambah Kiai Said.

Haedar Nashir

Selain penanganan korupsi dan peredaran narkoba, di kesempatan yang sama LPOI juga mendesak Pemerintah untuk serius dalam perang melawan terorisme.

"Kemendagri kami minta membubarkan Ormas yang keberadaannya jelas-jelas merongrong Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sementara yayasan dari luar negeri yang terindikasi menjadi donatur Ormas bermasalah, itu juga harus ditindak tegas," pungkas Kiai Said.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Cerita, Berita Haedar Nashir

Kamis, 01 Desember 2016

Ini Pesan Gus Mus untuk Pilpres 9 Juli 2014

Rembang, Haedar Nashir. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A. Mustofa Bisri menyampaikan pesan khusus untuk masyarakat Indonesia yang akan melaksanakan hajat pemilihan presiden dan wakil presiden 9 Juli 2014. Pesan suara berdurasi 3 menit 29 detik itu diunggah di situs youtube.com diiringi lagu "Padamu Negeri".

Pesan diunggah oleh Radio Mataair yang bertajuk “Pesan Gus Mus Untuk Pilpres 9 Juli 2014”. Ini linknya http://www.youtube.com/watch?v=hxhkPqEC3Wk dan berikut ini pesannya:

Ini Pesan Gus Mus untuk Pilpres 9 Juli 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Gus Mus untuk Pilpres 9 Juli 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Gus Mus untuk Pilpres 9 Juli 2014

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Haedar Nashir

Saya Ahmad Mustofa Bisri

Saudara-saudaraku di manapun Anda berada

Marilah kita memilih, mendukung calon presiden dan wakil presiden;

Haedar Nashir

yang kita pilih, yang kita yakini

Namun tidak usahlah kita bersikap berlebih-lebihan

Kita harus ingat bahwa calon-calon itu semuanya adalah putra-putra Indonesia...

Yang mempunyai kepentingan untuk kebaikan Indonesia

Yang mendukung masing-masing adalah saudara kita;

juga orang Indonesia yang ingin kebaikan Indonesia lima tahun ke depan,

LIMA TAHUN ke depan, bukan sampai hari kiamat

Mari kita dukung pilihan-pilihan kita dengan tetap pikiran yang jernih

sebagai warga negara Indonesia yang menghendaki kebaikan Indonesia

Dengan memohon kepada Allah SWT

Mudah-mudahan Allah meridlai apa yang kita lakukan

Mudah-mudahan dibantu dengan suasana khusu’ Ramadhan,

kita dihindarkan oleh Allah Ta’ala dari perilaku berlebihan

yang tidak disukai oleh Allah dan Rasul-Nya

Semoga kita dapat melaksanakan acara rutin pemilihan presiden

dan wakil presiden nanti dengan tertib damai aman

dan kita tetap sebagai saudara apapun nanti yang terjadi

Terima Kasih

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Ahmad Asmu’i/Anam)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Sunnah, Warta Haedar Nashir

PMII Unair Diskusikan Film “Ilir-ilir”

Surabaya, Haedar Nashir. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Airlangga mendiskusikan film Ilir-ilir di pelataran sekretariat organisasi tersebut pada Selasa (6/12) malam.

Menurut Andaru, ketua panitia, kegiatan ini diselenggarakan sebagai rangkaian dari kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba).

PMII Unair Diskusikan Film “Ilir-ilir” (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unair Diskusikan Film “Ilir-ilir” (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unair Diskusikan Film “Ilir-ilir”

“Diskusi ini serangkaian kegiatan kita menuju Mapaba, dibuat diskusi film agar sahabat-sahabat tidak bosan dengan kajian-kajian intelektual sembari mempelajari bagaimana sebuah ide dikontekstualisasikan dalam sebuah karya film,” pungkasnya.

Haedar Nashir

Sementara itu Dita, salah satu peserta mengaku senang dapat mengikuti kegiatan diskusi film yang digagas PMII Unair.

“Kegiatan ini seru karena bisa menyajikan film yang tak hanya sebuah tayangan, namun bisa mengekspresikan arti dari sebuah kehidupan. Saya rasa PMII menjadi wadah yang pas untuk saya mengembangkan diri dan berproses di dalamnya. Semoga ke depan film nya semakin seru,” ucap Mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair.

Haedar Nashir

Film Ilir-ilir sendiri dirilis pada pertengahan tahun 2011, merupakan film pendek yang mengambil latar kehidupan kakak-beradik yatim piatu, Sahid dan Wahid di Kadilangu, Demak. Film ini adalah intisari dari pemaknaan syair Ilir-ilir. (Alfi Rohma-Asrari Puadi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Ulama, Humor Islam Haedar Nashir

Rabu, 30 November 2016

Fiqih Jangan Hanya Teoritis, Harus Punya Agenda Praksis

Pati, Haedar Nashir. Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, Jawa Tengah menggelar peringatan 1000 hari wafatnya KH MA. Sahal Mahfudh, Jumat (30/9) dengan mengadakan Seminar Nasional bertajuk Fiqh Sosial dalam Konteks Kajian Islam Nusantara.?

Seminar ini menghadirkan Wakil Ketua LBM PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali, intelektual muda yang juga santri Mbah Sahal Ulil Abshar Abdalla dan Arief Subhan.

Fiqih Jangan Hanya Teoritis, Harus Punya Agenda Praksis (Sumber Gambar : Nu Online)
Fiqih Jangan Hanya Teoritis, Harus Punya Agenda Praksis (Sumber Gambar : Nu Online)

Fiqih Jangan Hanya Teoritis, Harus Punya Agenda Praksis

“3 tahun lalu KH MA Sahal Mahfudh wafat, meninggalkan keluarga, santri, warga NU. Namun, sehari penuh saya berada di Kajen, Kiai Sahal seperti masih hidup; orang-orang sowan dan mendiskusikan pemikirannya,” ungkap Kiai Moqsith.

Dia menegaskan, salah satu pemikiran keislaman Kiai Sahal yang masih relevan hingga sekarang adalah fiqih sosialnya. “Melalui fiqih sosial ini, Kiai Sahal hendak menegaskan bahwa fiqih tidak cukup hanya canggih secara teoritis. Fiqih pun harus memiliki agenda praksis,” ujar Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini.

Haedar Nashir

Kiai Moqsith juga tidak memungkiri bahwa kini murid-murid Kiai Sahal bertungkus lumus mensistematisasikan pemikiran-pemikiran Kiai Sahal melalui sejumlah riset, diskusi, dan workshop.?

“Di Kajen, ada sejumlah kiai dan nyai muda yang berjuang untuk itu. Di samping Gus Rozin, tentu ada Ning Tutik N. Jannah Bunda Ak-za,Jamal Pati, dan lain-lain,” ungkapnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaNu Haedar Nashir

Rabu, 23 November 2016

Jelang Konferensi, 100 Ansor-Banser Sidoarjo Ikuti PKD dan Diklatsar

Sidoarjo, Haedar Nashir ? . Sekitar 100 anggota Ansor dan Banser dari perwakilan kecamatan se-Kabupaten Sidoarjo mengikuti Pendidikan Kader Dasar (PKD) dan Diklatsar Ansor-Banser Sidoarjo, Jawa Timur. Acara tersebut digelar di daerah pesisir Sidoarjo, tepatnya di Desa Sawohan Kecamatan Buduran Sidoarjo.

Jelang Konferensi, 100 Ansor-Banser Sidoarjo Ikuti PKD dan Diklatsar (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Konferensi, 100 Ansor-Banser Sidoarjo Ikuti PKD dan Diklatsar (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Konferensi, 100 Ansor-Banser Sidoarjo Ikuti PKD dan Diklatsar

Pembukaan acara tersebut dilaksanakan pada Jumat (23/9) malam dan dihadiri perwakikan Forkopimka kecamatan Buduran. Perwakilan mereka sekaligus menjadi saksi "Deklarasi Mengawal Tradisi Menjaga NKRI" peserta dan seluruh Pengurus Cabang GP Ansor Sidoarjo.

Sekretaris Ansor Sidoarjo H Riza Ali Faizin mengatakan, PKD dan Diklatsar 2016 merupakan rangkaian acara pra-konfrensi Ansor yang akan digelar Desember mendatang. Para peserta diharapkan dapat menjadi kader yang mampu mengawal tradisi Indonesia yang penuh dengan keberagaman, toleransi antarbudaya dan agama.

Haedar Nashir

"Ini salah satu rangkaian acara pra-konfrensi Ansor Desember nanti. Saya berharap hasilnya nanti para peserta tangguh dalam menjaga tradisi Indonesia," harap Riza Ali Faizin, Jumat (23/9).

Haedar Nashir

Ia menambahkan, tokoh lintas kompetensi juga dilibatkan untuk memberi materi kegiatan tersebut. Selain itu, penguatan kemampuan beladiri peserta juga dioptimalkan dalam acara itu.

Kegiatan tersebut dilaksanakan selama tiga hari, berakhir pada Ahad (24/9). Beberapa fasilitas desa dijadikan tempat pengisian materi. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Selasa, 22 November 2016

Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua

Kudus, Haedar Nashir

Konferensi Pimpinan Cabang IX Fatayat NU Kabupaten Kudus IX memberikan amanah kepada Miftahurrohmah untuk memimpin PC Fatayat NU Kudus lima tahun ke depan. Konfercab yang berlangsung di SMU Islam Almaruf, Senin (24/4), itu bertepatan dengan hari lahir ke-64 Fatayat NU.

Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua

Ditemui terpisah setelah terpilih? Miftahurrohmah yang juga Dosen STAIN Kudus tersebut menyatakan, tantangan ke depan adalah bagaimana PC Fatayat NU Kabupaten Kudus mampu menyiapkan, mendidik, menata dan mendistribusikan kader perempuan NU. Menurutnya, usia yang ke-67 tahun adalah usia yang dewasa untuk sebuah organisasi kader perempuan NU.

"PC Fatayat NU Kudus sebagai salah satu basis terbesar kader NU Jawa Tengah punya peranan yang sangat strategis dalam rangka menyiapkan, mendidik, menata, dan mendistribusikan kader kader perempuan NU di tengah masyarakat," katanya.

Haedar Nashir

Miftahurrohmah menambahkan, ke depan Fatayat NU Kudus harus mampu melakukan konsolidasi sampai tingkat basis dalam rangka proses kaderisasi sehingga tercipta kader-kader perempuan yang militan, profesional, berwawasan luas, dan berakhlakul karimah. Fatayat NU Kudus juga mesti mampu mendistribusikan kader kadernya pada semua level tingkatan dalam rangka mengembangkan paham Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah yang toleran di tengah berkembangnya paradigma masyarakat yang semakin ekslusif dan diskriminatif.

Menyinggung soal isu nasionalisme, mantan pengurus PW IPPNU Jateng tersebut berkomentar bahwa Fatayat NU Kudus mesti mampu bersinergi dengan organisasi kepemudaan lainnya dalam rangka menjaga stabilitas, persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI.

Haedar Nashir

Forum tertinggi tingkat cabang Fatayat ini dibuka secara resmi oleh Agus Hari Ageng, Sekretaris PCNU Kudus. Turut hadir Hj. Tazkiyyatul Mutmainnah dari Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jawa Tengah, serta utusan sejumlah badan otonom NU dan organisasi kepemudaan di Kabupaten Kudus. Dalam amanahnya, PCNU menitikberatkan pada pentingnya kaderisasi dan pembinaan kader perempuan NU.

Pemilihan ketua Fatayat NU yang berlangsung dua kali putaran tersebut memilih Miftahurrohmah sebagai ketua PC Fatayat NU Kabupaten Kudus masa khidmah 2017-2022. Suara Miftahurrohmah unggul dari calon laonnya mengalahkan,? Siti Nafisatun, dengan selisih 20 suara. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam Haedar Nashir

Senin, 21 November 2016

Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani

Presiden, guru, tukang catut karcis di stasiun, penyair, sipir rumah tahanan, atau siapa saja pernah mengalami nyeri kepala dengan aneka penyebab. Begitu pun Ahmad Tohari.

Saat menuju Gedung PBNU untuk menerima penghargaan, ia meminta obat sakit kepala dengan merk tertentu untuk mengatasi nyeri kepalanya akibat tersiram air hujan di Bandara Sukarno-Hatta.

Ahmad Tohari yang kerap disapa Kang Tohari menerima penghargaan Hadiah Asrul Sani (HAS) di Gedung PBNU, Kamis (28/3) malam lalu. Penghargaan HAS diberikan dalam rangka peluncuran peringatan 10 tahun Haedar Nashir.

Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani

Kang Tohari menerima HAS atas kategori Penulis Serba Bisa. Selama usianya berkarya, pria yang berkemeja putih sederhana itu telah menghasilkan karya dengan aneka bentuk penulisan mulai dari novel, cerpen, puisi, esai, kritik sastra, karya jurnalistik, dan sejumlah bentuk penulisan lainnya.

Dalam sambutan penerimaan penghargaan, Kang Tohari di hadapan sedikitnya 200 orang yang menghadiri penganugerahan HAS mengajak masyarakat umum terutama anak muda untuk bersastra. “Dengan bersastra, tradisi keumatan yang kerap digaungkan NU akan terjaga.”

Kang Tohari yang sudah berusia 65 tahun kini tengah menggarap penerjemahan Alquran ke dalam bahasa ibunya, Bahasa Banyumas. “Niatnya sederhana; agar isi Alquran itu dibaca juga oleh penunggu warung nasi Tegal (warteg), orang pasar, orang-orang di terminal, dan lainnya,” tegas Kang Tohari dalam wawancara khusus dengan Haedar Nashir di Yayasan LKiS, Yogyakarta Rabu (27/2) lalu.

Haedar Nashir

Kang Tohari adalah novelis yang dibesarkan dalam keluarga pesantren. Berikut ini merupakan biografi lengkapnya yang ditulis oleh Hairus Salim dalam Ensiklopedi NU.

Haedar Nashir

Ahmad Tohari (1948-...): Novelis, cerpenis dan esais. Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Sebagaimana lazimnya anak dari keluarga santri, pendidikan informalnya dimulai dari langgar dan pesantren di desanya. Setelah menyelesaikan pendidikan formal tingkat dasar, menengah dan atas, ia sempat mengecap bangku kuliah Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976), tetapi tak ada satu pun yang dituntaskannya.?

Tohari adalah seorang pembelajar otodidak di dunia kepengarangan dengan bakat dan hasrat yang besar. Masa awal kepengarannya beririsan dengan pekerjaannya sebagai redaktur ? majalah terbitan BNI 46, Harian Merdeka, majalah Keluarga, dan Amanah di Jakarta. Tetapi kemudian ia memilih pulang dan hidup di desanya.

Karier sastranya diawali dengan keikutsertaan dalam sejumlah sayembara menulis. Namanya muncul sebagai pengarang pada pertengahan tahun 1970an ketika cerpennya “Jasa-Jasa Buat Sanwirya” masuk sebagai salah satu dari duabelas cerpen terpilih untuk diterbitkan bersama tiga cerpen pemenang lain hasil Sayembara Kincir Emas 1975 (Dari Jodoh Sampai Supiyah, Djembatan 1976). Dua novel awalnya yang diikutsertakan dalam sayembara DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) memperoleh rekomendasi untuk diterbitkan dan salah satunya bahkan memenangkan salah satu nomor dalam sayembara tersebut.

Namanya kian menjulang setelah ceritanya Di Kaki Bukit Cibalak dan Ronggeng Dukuh Paruk dimuat bersambung dalam harian Kompas dan kemudian dibukukan. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, yang boleh dikatakan merupakan adi karyanya, memperoleh perhatian serius para pengamat sastra dan menempatkannya sebagai salah seorang dalam jajaran novelis penting di Indonesia. Novel ini bercerita bagaimana huru-hara berlangsung pada peralihan politik tahun 1965 di sebuah pedukuhan kecil. Jelas dari novel tersebut bahwa perubahan di sebuah dukuh kecil itu persambungan dan pengaruh belaka dari perubahan yang terjadi di tingkat nasional. Srinthil, penari ronggeng yang jelita, dengan segala kultur dan pandangan dunia yang dipeluknya, yang menjadi tokoh utama novel itu, adalah personifikasi dari rakyat kecil yang menjadi korban utama dari perubahan berdarah tersebut. Novel ini merupakan salah satu novel yang berhasil mengangkat latar peralihan politik pada tahun 1965 dengan cara yang subtil, tetapi menohok.

Dari segi latar belakangnya sebagai santri, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu juga sangat unik, karena di sini Tohari menunjukkan perhatiannya yang sangat rinci dan lengkap mengenai kebudayaan dan pandangan dunia kelompok masyarakat yang dalam kategori sosial disebut sebagai ‘abangan’ plus simpatinya yang mendalam. Ia memang sangat mengakrabi lingkungannya dan seperti tak mengenal marka-marka sosial yang diciptakan oleh ideologi politik maupun agama di hadapannya. ? ?

Tohari menjadikan pedukuhan di desanya sebagai latar cerita-ceritanya. Lukisan-lukisannya yang terperinci dan dalam mengenai lingkungan desa, lengkap dengan dunia flora dan faunanya, adalah kekuatan dan kelebihan dari cerita-ceritanya. Gaya menulisnya lugas, jernih, sederhana, dan lancar mengalir. Terutama yang penting dan tak tergantikan juga adalah penghadirannya pada pandangan dunia para orang desa, yang lugu, polos, jujur, dan apa adanya itu, berhadapan dengan laju dan ganasnya perubahan politik, sosial, dan ekonomi. Dalam hal ini, tak salah jika dikatakan kalau Tohari adalah salah seorang juru bicara dan pembela utama orang-orang desa yang miskin, kumuh, dan nelangsa di dalam jagat kesusasteraan Indonesia. ?

Cerpennya “Pengemis dan Shalawat Badar” yang pernah dimuat dalam bulanan Warta NU Februari 1989, barangkali bisa memperlihatkan ilustrasi menarik bagaimana orang kecil dan pandangan dunianya itu dihadirkan. Cerpen ini berkisah tentang seorang pengemis yang mendendangkan shalawat badar di dalam bus yang penuh jejalan penumpang. Tak ada seorang pun yang memperhatikannya, dan sebagian besar bahkan, mengabaikan dan mencibirnya. Ketika kemudian bus itu mengalami kecelakaan, dan penumpang banyak yang terluka dan bahkan tewas, si pengemis itu dengan menakjubkan melenggang keluar dari bus tanpa sedikit pun terluka sembari melantunkan lagi shalawat badar. Alur cerita tampak sederhana, tetapi muatannya jelas sangat dalam. Antara kemiskinan, formalisme keagamaan, kepekaan sosial, dan lain-lain berjalin berkelindan dalam sepersekian menit kehidupan di dalam bus yang kencang melaju itu. ? ? ?

Tohari termasuk penulis yang cukup produktif. Boleh dikata sejak awal kepengarangannya rata-rata setahun sekali ia mengeluarkan karya baik berupa novel, antologi cerpen, maupun kumpulan esai. Beberapa dari karyanya terus mengalami penerbitan ulang. Berikut daftar karyanya dan tahun pertama kali terbitnya: Kubah ? (novel, 1980); Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982); Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985); Jantera Bianglala (novel, 1986); Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986); Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989); Bekisar Merah (novel, 1993); Mas Mantri Gugat (Kumpulan Esai, 1994); Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995); Mas Mantri Menjenguk Tuhan (Kumpulan Esai, 1997); Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000); Belantik (novel, 2001); Orang Orang Proyek (novel, 2002); dan Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004). Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Inggris, Jepang, Tionghoa, Belanda, dan Jerman. Karya-karyanya juga telah menjadi bahan kajian akademis baik di dalam maupun di luar negeri.

Sebagai sastrawan terkemuka telah banyak penghargaan yang telah ia terima. Dua kali ia memperoleh hadiah dari Yayasan Buku Utama dan sekali dari Pusat Pengembangan Bahasa Indonesia. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat (1990) dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1995). Novel Ronggeng Dukuh Paruk versi Banyumasan (2006), meraih Hadiah Sastera Rancagé tahun 2007.

Sejak pertengahan 1980an, Ahmad Tohari tinggal di desanya, meneruskan hobinya memancing dan terus mengakrabi lingkungan desanya. Seminggu sekali esainya yang kocak dan penuh sindiran muncul di Harian Suara Merdeka, Semarang. Sembari itu, ia juga menjadi aktivis sosial yang mendorong peningkatan ekonomi dan kehidupan harmoni masyarakat, serta memberikan banyak workshop menulis kepada kalangan anak muda dan prasaran seminar ke berbagai kota di Indonesia.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Lomba, Tegal Haedar Nashir