Minggu, 26 Februari 2017

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Jakarta, Haedar Nashir. Selama ini Ma’had Aly merupakan pendidikan tingkat tinggi khas pesantren yang konsisten mengajarkan ilmu-ilmu agama berbasis kitab kuning. Oleh Karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tentu menyambut baik pengakuan negara atas legalitas Ma’had Aly.

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH M. Maksoem Mahfoedz saat menghadiri Halaqah Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly yang digelar Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag dengan menggandeng Lakpesdam PBNU, Kamis (2/6) di The Media Hotel Jakarta.

Konsekuensi dari legalitas tersebut, lanjut Maksoem, Ma’had Aly harus merumuskan berbagai standar, kualifikasi, dan kurikulum agar eksistensinya menemukan relevansi dan signifikansi. “Siginifikansi inilah yang menjadikan peran Ma’had Aly sesuai dengan perubahan masyarakat di era global,” ujar Guru Besar UGM ini.

Dia juga menegaskan bahwa lulusan Ma’had Aly merupakan produk pendidikan tinggi khas pesantren. Sebab itu, Prinsip kemandirian dan pemahaman Islam secara substantif harus terus dipertahankan.

Dalam konteks penyusunan kurikulum, Maksoem menerangkan bahwa kurikulum sepenuhnya menjadi kewenangan lembaga tersebut. Namun demikian, pemerintah dan pihak-pihak terkait juga perlu memberikan atau mengusulkan kerangka sehingga Ma’had Aly tetap menemukan relevansinya dengan perubahan sosial masyarakat.

Haedar Nashir

Hadir beberapa tokoh penting dalam halaqoh ini diantaranya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, Ketua PP Lakpesdam PBNU H Rumadi, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag H Mohsen, A’wan PBNU Hj Sri Mulyati, dan beberapa pimpinan Ma’had Aly. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir

Kamis, 23 Februari 2017

Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Haedar Nashir yang kami hormati, syarat orang yang masuk Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Lantas bagaimana jika ada orang yang tidak bisa bicara atau bisu mau masuk Islam, apakah syahadat yang diucapkan melalui bahasa isyarat itu sudah dianggap sah sehingga orang tesebut dihukumi sebagai Muslim setelah mengucapkannya? Selanjutnya sebagai tambahan, apakah hukumnya belajar bahasa isyarat. Mohon penjelasannya, karena ada orang bisu yang non-Muslim hendak masuk Islam tetapi kebingungan bagaimana cara bersyahadatnya. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Adi/Jakarta)

Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1)

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Ada dua pertanyaan yang diajukan kepada kami. Pertama mengenai syahadat orang yang bisu. Kedua mengenai hukum mempelajari bahasa isyarat. Dalam kesempatan ini kami akan menjawab pertanyaan yang pertama terlebih dahulu. Sedang untuk jawaban pertanyaan kedua insyaallah akan segera menyusul pada kesempatan berikutnya.

Haedar Nashir

Seorang non-Muslim yang hendak masuk Islam maka harus membaca dua kalimat syahadat sebagai bukti bahwa ia masuk Islam. Sampai di sini tidak ada kendala berarti. Namun kendala akan muncul manakala orang yang mau masuk Islam memiliki keterbatasan dalam berbicara seperti orang bisu sehingga ia tidak serta merta bisa mengucapkan dua kalimat syahadat yang dapat dipahami oleh pihak lain.

Karena keterbatasan ini maka yang dilakukannya adalah membaca dua kalimat syahadat dengan bahasa isyarat. Dari sini kemudian muncul pertanyaan, apakah syahadat orang bisu dianggap absah sebagai bukti ia masuk Islam?

Haedar Nashir

Para ulama telah sepakat bahwa Allah SWT tidak akan memberikan beban taklif kepada para hamba-Nya melebihi batas kemampuanya. Ini merupakan prinsip umum dalam hukum Islam dan merupakan bentuk karunia serta rahmat Allah SWT. Kesepakatan para ulama tersebut salah satunya didasarkan kepada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah.

? ? ? ? ? ?

Artinya, “Allah tidak memberikan beban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya,” (Surat Al-Baqarah ayat 286).

Salah satu contoh yang sudah maklum adalah kebolehan mengqashar, menjamak, dan tidak berpuasa bagi musafir dengan ketentuan yang telah ditetap oleh syara`. Seseorang yang sakit dan tidak bisa shalat dengan berdiri, maka diperbolehkan baginya shalat sambil duduk. Jika masih tidak bisa maka sambil tidur. Jika memang sudah tak sanggup dengan tidur, maka boleh dengan isyarat. Karena itu kemudian dikatakan dalam salah kaidah fikih bahwa “Al-masyaqqah tajlibut taysir,” (Kesulitan dapat menarik kemudahan).

Atas dasar ini, maka menurut hemat kami syahadat orang bisu adalah absah sebagai bukti bahwa ia masuk Islam sepanjang bahasa isyarat yang digunakan dapat dipahami. Kendatipun ada pendapat (qila) yang menyatakan bahwa syahadat orang bisu dengan bahasa isyarat tidak dianggap abasah sebagai bukti bahwa ia masuk Islam. Pandangan kedua ini merujuk pada pembacaan tekstual terhadap pendapat Imam Syafi’i (zhahiru nashshil Imam As-Syafi’i).

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Masalah cabang, keislaman orang bisu melalui bahasa isyarat yang dapat dimengerti dianggap sah. Tetapi dalam pendapat lain dikatakan, keislaman seseorang tidak diakui kecuali apabila setelah mengucapkan syahadat dengan bahasa isyarat ia menjalankan shalat. Ini adalah zhahir pendapat Imam Syafi’i yang terdapat dalam kitab Al-Umm,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Raudlatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin, Beirut, Al-Maktab Al-Islami, juz VII, halaman 282).

Namun, menurut An-Nawawi, pendapat Imam Syafi’i ini harus dibaca dalam konteks ketika isyarat yang digunakan orang yang bisu tersebut tidak dapat dipahami. Lain halnya ketika bahasa isyarat tersebut dapat dipahami maka dianggap absah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pendapat yang benar dan dikenal adalah pendapat pertama. Sedangkan pendapat Imam Syafi’i itu mesti dipahami dalam konteks ketika (syahadat) dengan bahasa isyarat tidak bisa dimengerti,” (Lihat An-Nawawi, Raudlatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin, juz VII, halaman 282).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik dan bermanfaat. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Syariah, Khutbah Haedar Nashir

Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur

Jombang, Haedar Nashir. Panitia kegiatan haul Gus Dur ke-4 PP Tebuireng, Jombang, Lukman, mengatakan terus melakukan komunikasi dengan aparat untuk persiapan acara haul yang rencananya dihadiri langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur

Pihaknya juga menyebut seluruh warga yang membawa undangan bisa diperbolehkan masuk, namun harus melewati pengamanan yang sudah ditetapkan oleh Paspampres.

"Ada sekitar 5.000 kursi yang disiapkan dan kami berharap jumlah itu mencukupi," kata Lukman.

Haedar Nashir

Dalam rombongan Presiden tersebut, sejumlah menteri sudah memastikan akan hadir di antaranya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, dan Kapolri Jenderal Pol Sutarman.

Haedar Nashir

Tentang tradisi ziarah, ia mengatakan aktivitas akan normal seperti biasa. Para peziarah tetap dipersilakan untuk berziarah di makam yang ada di PP Tebuireng, namun saat kunjungan Presiden akan lebih diperketat.

Presiden SBY dijadwalkan akan melakukan kunjungan kerja di Jawa Timur, pada Jumat-Minggu (3-5/1). Rombongan Presiden akan singgah ke Museum Trowulan, Mojokerto, lalu melanjutkan kunjungan ke Jombang di antaranya ke PT Usaha Sejahtera Bersama, di Kecamatan Diwek, dan acara haul almarhum Gus Dur ke-4 di PP Tebuireng.

Pada Sabtu, rombongan menuju PT Bumi Menara Internusa dan berkunjung ke "Jatim Expo" Surabaya serta beristirahat di sebuahh hotel di Surabaya hingga kembali ke Jakarta pada Sabtu (5/1).

Petugas Kepolisian Resor Jombang, Jawa Timur, menurunkan sekitar 815 personelnya untuk pengamanan saat kedatangan Presiden dalam haul ke-4 almarhum mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"Pengamanan kami di ring tiga yang kami khususkan untuk pengamanan jalur, termasuk di lokasi yang akan didatangi Presiden," kata Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Polres Jombang AKP Sugeng Widodo di Jombang, Rabu.

Ia mengatakan 815 personel itu merupakan gabungan dari unsur Polri, Brimob, sampai intelijen. Tim mulai bertugas saat hari "H" kedatangan Presiden mulai di perbatasan Kabupaten Jombang-Mojokerto, sampai seluruh jalur masuk ke Jombang.

Namun, arus lalu lintas akan tetap berjalan dengan normal, termasuk yang melewati "fly over" di Peterongan, Kabupaten Jombang. Kendaraan akan diminta untuk menepi ketika rombongan datang, agar lalu lintas lancar.

Ia juga menyebut sampai saat ini belum ada tembusan unjuk rasa yang dimungkinkan akan terjadi menyambut kedatangan rombongan Presiden, namun ia memastikan tim siap mengawal jika ada unjuk rasa.(antara/mukafi niam)

Foto: Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, RMI NU, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Selasa, 21 Februari 2017

Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung

Oleh Anggi Afriansyah

Akhir pekan ini, Ahad, 18 September 2016 Pondok Pesantren Cipasung akan menyelenggarakan Peringatan Haul ke-39 Almaghfurlah KH Ruhiat (pendiri Ponpes Cipasung) dan Peringatan Haul ke-9 Almaghfurlah KH M. Ilyas Ruhiat (Pimpinan Pesantren Cipasung 1977-2007). Peringatan haul ini menjadi momen yang tepat untuk mempelajari rekam jejak kedua Ajengan tersebut dalam kontribusinya bagi dunia pendidikan, khususnya di tataran priangan.?

Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung

Sosok KH Ruhiat dikenal sebagai tokoh yang memiliki keberanian besar dalam perjuangan melawan penjajah. Bersama KH Zaenal Mustafa asal Ponpes Sukamanah, ia aktif berjuang hingga harus rela keluar masuk penjara. Sedangkan, KH Ilyas Ruhiyat, sering disebut Ajengan Santun menjadi Rais Aam PBNU tahun 1994-1999. Keduanya sangat aktif di Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). ?

Mendidik umat

Ponpes Cipasung sudah eksis sejak tahun 1931. Situasi perjuangan kemerdekaan sangat kental ketika itu. Periode di mana perjuangan bangsa sedang bergejolak. Pada awal berdiri, sudah ada 40 orang yang menjadi santri dan belajar dengan K.H. Ruhiat secara langsung. Tak lama kemudian beliau mendirikan Sekolah Agama (Madrasah Diniyah) untuk membina anak-anak usia muda, disusul pendirian Kader Muballigh wal Musyawirin sebagai medium pelatihan dakwah dan musyawarah bagi santri-santri yang sudah dewasa. Di tengah keterbatasan dan berulang kali keluar masuk penjara karena melawan pemerintah kolonial, KH Ruhiat tetap konsisten memperjuangkan pendidikan di pesantren yang ia pimpin.?

Haedar Nashir

Menariknya, KH Ruhiat juga memberikan porsi yang besar bagi kemajuan pendidikan santri putri. Terbukti dari pendirian Kursus Mubalighoh bagi santri putri. Sesuatu yang sangat progresif untuk masa-masa penjahan ketika itu. Kursus Mubalighoh menjadi wahana pelatihan dakwah bagi santri putri dan arena kaderisasi penceramah perempuan. KH Ruhiat sepertinya menyadari bahwa perempuan-perempuan cerdas merupakan aset penting bagi masyarakat. Karena dari rahim perempuan cerdaslah anak-anak bangsa lahir.?

Pasca kemerdekaan Indonesia menjadi momen pertumbuhan lembaga pendidikan formal di bawah naungan Ponpes Cipasung. Perlahan tapi pasti lembaga-lembaga pendidikan formal didirikan. Mulai dari unit pendidikan terendah yaitu Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi didirikan oleh Ponpes Cipasung. Lembaga-lembaga tersebut didirikan untuk mengakomodir perubahan zaman. Tak hanya diberikan pemahaman yang mumpuni tentang keagamaan, santri pun mesti dibekali kecapakan-kecakapan hidup teknis melalui pendidikan dan pelatihan. Modal dasar pendidikan ini menjadi pegangan bagi para santri untuk mengabdi di masyarakat.

Jika melihat rentang sejarah, pendidikan formal di Ponpes Cipasung sudah mulai didirikan lima tahun pasca kemerdekaan Indonesia. Tahun 1950 didirikan Sekolah Pendidikan Islam (SPI) yang kemudian pada tahun 1953 berubah menjadi Sekolah Menengah Islam Pertama, tahun 1954 didirikan Sekolah Rendah Islam (SRI) yang kemudian berubah menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB) dan kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan tahun 1959 didirikan Sekolah Menengah Atas Islam (SMAI). Sekolah Persiapan IAIN (SP IAIN) Sunan Gunung Djati cabang Cipasung yang kemudian pada tahun 1978 diubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cipasung.

Haedar Nashir

Tak hanya mengakomodir pendidikan dasar dan menengah, Ponpes Cipasung pun menginisiasi pendidikan tinggi. Sejak tahun 1965 didirikan Fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Islam Cipasung (PTI Cipasung), tahun 1982 juga didirikan Fakultas Syariah. Kedua Fakultas tersebut menjadi cikal bakal berdirinya Institut Agama Islam Cipasung (IAIC). Pada tahun 1992 didirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Cipasung melengkapi jenjang pendidikan dasar di Ponpes Cipasung.?

Kemudian, tak hanya bergerak pada pendidikan tinggi bidang keagamaan, pada tahun 1997 didirikan Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung (STTC), pada tahun 1999 didirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Cipasung, pada tahun 2000 dibuka Program Pasca Sarjana UII Jogyakarta kelas khusus Cipasung.

Pendidikan anak usia dini juga menjadi salah satu prioritas penting sehingga membuat Ponpes Cipasung mendirikan TK Islam Cipasung pada tahun 2003. Pada tahun 2009 didirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Islam Cipasung dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan KH Ilyas Ruhiat. ?

Perjalanan sejarah Pondok Pesantren Cipasung dalam memperjuangkan pendidikan anak bangsa secara detil dapat dibaca di website resmi Ponpes Cipasung (www.ponpescipasung.com). Dalam rentang waktu tersebut Ponpes Cipasung sudah mendirikan beragam institusi pendidikan di bawah naungan pesantren. Upaya tersebut merupakan bagian penting bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mendidik anak bangsa melalui pendidikan di pesantren.?

Keteladanan

Keteladanan KH Ruhiat dan KH Ilyas Ruhiat menjadi kunci bagi keberlanjutan perjuangan pendidikan Islam di Jawa Barat. Bagaimana pendidikan Islam dapat bersinergi dengan baik dengan pendidikan modern. Proses pendidikan yang tak menjadikan lulusan pesantren menjadi gemar menebar kebencian terhadap yang berbeda paham. Kedua ulama tersebut mencontohkan dengan baik bagaimana umat Islam dapat berkontribusi secara optimal bagi negeri ini. Para santri yang ditempa di pesantren setelah lulus akan berbaur dengan masyarakat serta aktif terlibat dalam proses pembangunan bangsa.?

Ponpes Cipasung sudah memberi teladan bagaimana seorang santri dapat menjadi sosok yang menghadirkan kedamaian dan keteduhan. ? Contoh yang secara nyata diberikan oleh para ulama dan ustadz/ustadzah di Pesantren Cipasung. Mereka memberikan teladan melalui laku harian dan aktivitas nyata yang bermanfaat bagi bangsa. Perjuangan KH Ruhiat dalam membangun Ponpes Cipasung dilanjutkan oleh putra-putri dan cucunya.?

Sosok KH Ilyas Ruhiat mengutip catatan Iip D. Yahya, penulis Buku Ajengan Santun, Biografi KH Ilyas Ruhiat, sebagai seorang pejuang sederhana. Bukan orator handal yang membakar massa di podium, bukan penulis piawai yang merangkai kata-kata. KH Ilyas menurut Iip merupakan guru yang ingin agar murid-muridnya mudah menangkap yang diajarkannya. Beliau adalah pengamal tasawuf, yang sanggup untuk tidak berburuk sangka kepada orang lain dan selalu mampu mengendalikan emosi.

Contoh nyata lainnya dapat dilihat dari perjuangan putra-putri dari KH Ilyas Ruhiat dalam menebar kebermanfaatan bagi sesama. Putra pertamanya, Acep Zamzam Noor, merupakan seniman yang banyak menghasilkan karya. Putri kedua, Ida Nurhalida dikenal sebagai seorang pendidik dan sosok pejuang kesetaraan perempuan. Sedangkan putri ketiganya, Enung Nursaidah menjadi salah satu tokoh inspirasi yang tercatat pada buku “Dari Inspirasi Menjadi Harapan, Perempuan Muslim Indonesia dan Kontribusinya Kepada Islam yang Pluralis dan Damai” diterbitkan oleh LBH APIK.?

Menebar kebermanfaatan bagi sesama merupakan cita-cita bagi setiap santri yang mengenyam pendidikan di pesantren. Kekhawatiran bagi santri adalah ketika ilmu yang didapatnya tidak dapat diaplikasikan dalam keseharian, tidak bermanfaat bagi masyarakat.?

Berdirinya beragam institusi pendidikan formal dan informal dibawah naungan pesantren merupakan salah satu tujuan agar penyebaran kebermanfaatan dapat dirasakan dalam daya jelajah yang lebih jauh. Alumni Ponpes Cipasung tak hanya menjadi ulama atau kyai, tetapi juga menjangkau profesi lain seperti politisi, birokrat, pengusaha, pendidik, seniman, wartawan dan bidang pekerjaan lainnya.

Pengabdian pesantren bagi komunitas masyarakat memang penting. Pesantren menjadi mercusuar yang memberikan wajah islam yang rahmatan lil alamin. ? Perjuangan K.H. Ruhiat menjadikan Ponpes Cipasung mendidik umat merupakan ikhtiar berharga bagi bangsa. Sebagai kontribusi besar tak hanya untuk umat Islam tapi juga untuk bangsa. Perjuangan besar yang harus dilanjutkan oleh para santrinya.?

Sebagai penutup, karya puitis dari Acep Zamzam Noor dapat menjadi renungan, hari esok adalah perjalananku sebagai petani, membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat. Maka, sebagai santri, kita harus terus berjuang, membuka ladang kebajikan, menebar kebermanfaatan, bekerja nyata untuk negeri tercinta.***

?

Penulis adalah Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, pernah nyantri di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Syariah, Kyai Haedar Nashir

Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa

Batang, Haedar Nashir. Para pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa tidak hanya berpartisipasi mengamankan arus mudik. Di posko Pagar Nusa, para pemudik yang kecapekan bisa mampir beristirahat sembari menikmati pijat gratis.

“Program posko Pagar Nusa ini meliputi terapi sentuh, pijat refleksi, pijat listrik, akupresure metafisika (pijat tenaga dalam). Semua gratis,” kata koordinator Posko Mudik Batang Jawa Tengah, Harun Heru Supriyanto, dihubungi Haedar Nashir, Ahad (4/8).

Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa

Senin hari ini, posko mudik Pagar Nusa yang berada di Jalan Raya Batang dan Sabah akan didatangi langsung oleh Dewan Ketabiban Pimpinan Pusat Pagar Nusa.

Di posko Pagar Nusa yang berada di pos Dishub Kominfo, Pagar Nusa juga memberikan layanan informasi mudik, terkait rute utama dan jalur-jalur alternatif.

Selain itu, partisipasi utama Pagar Nusa adalah menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para pemudik.

Haedar Nashir

Menurut Harun yang juga pengurus bidang pelatihan untuk wasit dan juri Pimpinan Pusat Pagar Nusa, pihaknya telah menempatkan para pendekar di beberapa tempat strategis di sepanjang arus mudik, wilayah Batang, Jawa Tengah.

“Kami juga melakukan ronda keliling di sepanjang jalan kabupaten Batang,” katanya.

Program posko mudik Pagar Nusa Batang ini merupakan tahun tahun keempat. Tahun-tahun sebelumnya mereka membuka posko sendiri.

Haedar Nashir

“Dulu kita membikin posko sendir i, tapi hanya sedikit pemidik yang mau singgah. Sekarang kita bergabung dengan Dishub Kominfo. Tempatnya juga lebih strategis,” kata Harun.

 

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Fragmen, Kiai Haedar Nashir

Rabu, 15 Februari 2017

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni

Pacitan, Haedar Nashir. Ada banyak cara dilakukan untuk memeriahkan datangnya tahun baru Islam. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh keluarga besar GP Ansor Pacitan yang menggelar Gebyar 1 Muharram 1437 H dengan tema ‘Islam Nusantara: Agama yang berbudaya, budaya yang beragama’, Selasa malam (14/10) di kawasan wisata pantai selatan Pacitan, Jawa Timur.

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni

Khoirul Anam, Ketua GP Ansor Pacitan mengatakan, pihaknya sengaja memperingati tahun baru hijriyah dengan menggelar pagelaran budaya karena didasari rasa keprihatinan atas banyaknya kebudayaan lokal yang mulai hilang tergeser kemajuan zaman.

"Kami ingin mengangkat dan menampilkan kembali kearifan lokal seperti sepak bola api Brojo Geni dan pembacaan Sholawat Khataman Nabi yang biasa dilakukan oleh para sesepuh terdahulu saat datangnya tahun baru hijriyah," katanya dihadapan ratusan anggota banser dan masyarakat.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan itu, ditampilkan permainan sepak bola api brojo geni yang dilakukan oleh para santri dari Pondok Tremas Pacitan. Sebelumnya para santri telah melakukan tirakat dengan berpuasa selama seminggu dan telah melewati serangkaian proses latihan.?

Permainan sepak bola api brojo geni dilakukan layaknya pertandingan futsal. Tetapi mereka tidak menggunakan sepatu. Bola yang digunakan merupakan bola khusus yang terbuat dari sabut kelapa. Kemudian bola api itu direndam ke dalam minyak tanah dan disulut api hingga terbakar. Butuh kemampuan khusus untuk memainkan permain ala pesantren itu. Mereka yang pemberani yang sanggup berebut bola dan menendangnya ke gawang.

Haedar Nashir

Antusias pemain dan penonton sepak bola api cukup besar sehingga pertandingan berlangsung dengan semarak. Selama permainan berlangsung, dibacakanlah sholawat dan syi’iran Jawa yang dibawakan oleh jam’iyyah sholawat dari MWCNU Kecamatan Kebonagung Pacitan.

Menurut Agus Susanto salah satu panitia mengatakan, filosofi permainan bola api yang diajarkan oleh kiai kepada para santrinya mempunyai makna yang dalam. Ketakwaan dilambangkan dengan puasa sebelum memulai permainan, pengendalian nafsu dilambangkan dengan bola api yang selalu menyala dan berbuat baik kepada sesama yang dilambangkan kerjasama saling menghargai antar-pemain. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi

Pekalongan, Haedar Nashir. Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Syirkah Muawanah Nahdlatul Ulama (KSPPS SMNU) Kota Pekalongan mulai tahun 2017 dan seterusnya akan membagikan keuntungan usaha kepada siswa berprestasi di lingkungan NU.

NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi

Koperasi yang semula bernama Koperasi Serba Usaha (KSU) Nahdlatut Tujjar itu mulai beroperasi tahun 2004. Kini telah membukukan aset sebesar Rp 119 milyar dengan anggota pendiri sebanyak 85 orang dan ribuan anggota. Koperasi tersebut telah memiliki 1 kantor cabang utama dan 12 kantor cabang yang tersebar di Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang.

"Pemberian beasiswa kepada anak yang berprestasi di sekolah lingkungan Nahdlatul Ulama adalah sebagai bentuk kepedulian KSPPS SM NU yang dirintis sejak 13 yang lalu," ujar Sulaeman Ketua KSPPS SM NU Kota Pekalongan pada saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Gedung Aswaja Ahad (12/3).

Dikatakan, sebelumnya PSPPS SMNU juga sudah melakukan dukungan ke lembaga pendidikan khususnya kepada siswa yang kurang mampu, yakni di SMA Hasyim Asyari Pekalongan. Akan tetapi mulai tahun 2017, pihaknya memberikan kepada siswa berprestasi ke seluruh sekolah di lingkungan LP Maarif NU, yakni MI/SD, SMP/MTS, MA/SMA/SMK se-Kota Pekalongan.

Dana yang diberikan selama 6 bulan dan bisa ditarik setiap bulannya untuk biaya SPP dan lain lain diberikan dalam bentuk tabungan siswa. Meski nilainya belum signifikan, dirinya berharap bantuan beasiswa berprestasi bisa membantu anak anak termotivasi untuk lebih giat belajar. Dirinya berjanji setiap tahunnya akan ada peningkatan nilai beasiswa, ujar Sulaeman yang juga pensiunan Bank Mandiri.

Haedar Nashir

Kehadiran KSPPS SMNU berdampak signifikan bagi PCNU Kota Pekalongan khususnya. Karena lembaga keuangan mikro ini adalah wujud kepercayaan warga Nahdliyin kepada lembaga keuangan syariah. Meski di Kota Pekalongan tumbuh dengan subur lembaga semacam itu, tapi tak menyurutkan langkah warga Nahdliyin dan masyarakat umum mempercayakan transaksinya di lembaga yang dikelola anak anak muda NU. (Abdu Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Makam Haedar Nashir

Haedar Nashir