Rabu, 15 Maret 2017

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran

Surabaya, Haedar Nashir

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur secara khusus mengajak Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama atau PW LTNNU untuk mengawasi mutu siaran televis dan radio. Hal tersebut penting untuk meningkatkan mutu siaran dan sebagai kontrol masyarakat.

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran (Sumber Gambar : Nu Online)
KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran (Sumber Gambar : Nu Online)

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran

"LTN punya tugas untuk turut mengawasi sejumlah siaran yang ditayangkan media radio serta televisi," kata Komisioner KPID Jatim, Mohammad Dawud, Ahad (18/1). Apalagi pada saat yang bersamaan mulai digalakkan pencegahan situs dan organiasasi yang menyecarkan teror.

Dalam pandangan Mohammad Dawud, KPID sendiri sangat terbuka atas keluhan masyarakat yang melakukan protes bila ditemukan muatan yang menyebarkan kebencian, tidak menghargai perbedaan dan ajakan tidak pantas lainnya.

"Apalagi LTN memiliki jaringan komunikasi dengan kepengurusan serupa di tingkat kota dan kabupaten di Jawa Timur. Cukup sediakan kader dan waktu untuk bisa memantau siaran di berbagai daerah,” kata Sekretaris PW ISNU Jatim ini

Haedar Nashir

M Dawud kemudian memberikan masukan bahwa cara yang bisa dilakukan bila ternyata menemukan siaran yang tidak pantas, maka cukup melayangkan surat ke KPID Jatim dengan menyertakan waktu dan tanggal serta dimana menangkap siaran yang meresahkan tersebut. "Selanjutnya kami dari KPID yang akan menindaklanjuti laporannya," ungkapnya.

Ketua PW LTN NU Jatim, Ahmad Najib AR sangat mengapresiasi ajakan tersebut. "Kami memang memiliki jaringan sampai ke kabupaten dan kota di Jatim, meskipun harus terus dijalin," katanya. Bahkan keberadaan pemantau media memang telah direkomendasikan saat rapat koordinasi dengan kepengurusan LTN se-Jatim beberapa waktu berselang.

Haedar Nashir

"Tinggal bagaimana mengintensifkan komunikasi dan memberikan informasi ini kepada kepengurusan di daerah," kata Gus Najib, sapaan akrabnya. Dengan semakin banyak pihak yang mengawasi mutu siaran, ia mengharapkan kian banyak tayangan yang mendidik masyarakat.

Salah seorang pimpinan di Pondok Pesantren Bayt al-Hikmah Pasuruan ini juga berharap agar frekwensi yang telah diberikan pemerintah dimaknai sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa. "Bukan malah menebar keburukan apalagi teror," katanya.

Pada saat yang sama, alumnus pasca sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini berharap agar pemerintah tegas. "Kami mendukung dan mendesak pemerintah untuk menutup gerakan penyebar terorisme baik di televisi dan radio, termasuk di dunia maya," tandasnya. Karena, lanjutnya, dari sejumlah media inilah gerakan teror akan merayu masyarakat untuk bertindak yang destruktif.

Bagi Gus Najib, tindakan pemerintah dengan menutup website, akun facebook dan media sosial lain dapat juga dilakukan kepada radio dan televisi. "Ini untuk menuutup gerak yang mengarah kepada terorisme," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Pemurnian Aqidah, Nahdlatul Haedar Nashir

Selasa, 14 Maret 2017

Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII

Jombang, Haedar Nashir. Ketua Umum PB PMII, Aminuddin Ma’ruf menggelar jumpa pers setelah PMII ditetapkan menjadi Badan Otonom (Banom) NU melalui putusan di Sidang Komisi Organisasi Muktamar Ke-33 NU yang berlangsung di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Selasa (4/8).

Aminuddin menilai, bahwa putusan tersebut tetap akan dibawa ke forum tertinggi PMII, yaitu kongres. “Yang jelas, PMII akan konsisten dengan dakwah Aswaja NU,” ujarnya dihadapan puluhan wartawan berbagai media di Media Centre Muktamar NU di SMAN 1 Jombang.

Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII

Ditanya apakah intinya PMII menolak keputusan Muktamar NU, Aminuddin menjawab bukan demikian artinya. “Karena sebagai sebuah organisasi, PMII memiliki mekanisme tersendiri dalam memutuskan itu, yakni melalui kongres,” jelasnya.

Haedar Nashir

Secara historis, ideologis, dan filosofis, lanjut Aminuddin, PMII berkomitmen untuk terus mengikuti NU dalam rangka dakwah Aswaja di kampus.

Haedar Nashir

Sebab itu, imbuhnya, pihaknya memohon kepada para alumni yang bertindak sebagai Muktamirin agar tetap memasukkan poin interdependensi ke dalam draft AD/ART NU.

“Dari memutuskan untuk independen di tahun 1972 dalam Perjanjian Munarjati, kita menjadi interdependen di tahun 1991 di Jakarta, artinya masih mengikuti NU meski tidak secara struktural,” paparnya.

Dalam sejarahnya, PMII memutuskan independen karena alasan politik. "Sekarang NU sudah kembali ke khittah 1926, sudah tidak masuk ke dalam ranah politik praktis sehingga PMII pun harus kembali ke pangkuan NU untuk menjadi Banom," ujar KH Nuril Huda, salah satu pendiri PMII beberapa bulan sebelum Muktamar NU digelar. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Anti Hoax Haedar Nashir

Senin, 13 Maret 2017

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Brebes, Haedar Nashir. Meski mengalami keterlambatan akibat delay pesawat di Bandara King Abdul Azis Mekah, jamaah haji dari Kabupaten Brebes pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Mereka tiba di Islamic Center Brebes terlambat lima jam dari waktu yang dijadwalkan semula.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE menyambut kedatangan haji kelompok terbang (Kloter) pertama di Islamic Center Sabtu dinihari (11/10). Idza mengaku sangat gembira karena tidak ada permasalahan yang menimpa jamaah haji Brebes. Sehingga semuanya dalam keadaan sehat walafiat. Dia berharap, para jamaah haji menjadi haji yang mabrur dan mabrurah.

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Selain itu, ia meminta mereka agar mampu menjadi contoh tauladan di masyarakat. “Gelar haji menjadi barometer akhlak dan tabiat di masyarakat,” katanya. Dengan tauladan yang telah dicontohkan para jamaah haji Brebes, mudah-mudahan Brebes semakin maju dan sejahtera dibawah naungan dan ridlo dari Allah SWT.

Haedar Nashir

Bupati juga menyambut kedatangan kloter 2 dan 3 di dampingi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (Kasi Garahaju) Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes Drs H Syauqi Wijaya. Kloter 1 sejumlah 363 jamaah tiba di Islamic Center Brebes Sabtu (11/10) pukul 00.30 dini hari dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan.

Sementara kloter kedua yang berjumlah 366 calon haji tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 08.00 dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan. Sedangkan kloter ketiga yang berjumlah 167 tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 12.30 mengendarai 4 bus.

Haedar Nashir

Terpisah, Kepala Kantor Kemenag Brebes Drs H Imam Hidayat yang melakukan penjemputan di Asrama Haji Donohudan Solo melaporkan jamaah yang berangkat sejak 30-31 Agustus lalu sudah menunaikan ritual haji dan kembali tiba di Donohudan dengan selamat. Mereka pulang ke Brebes dengan mengendarai 22 bus dan 2 bus cadangan.

Menurut Imam, secara umum kondisi jamaah haji Indonesia asal Brebes dalam keadaan baik, sehat walafiat. Namun demikian ada 2 orang suami istri dari Salem yang tertinggal tidak mengikuti jamaah asal Brebes, tetapi mengikuti kloter 16.

Sehingga, kata dia, yang sudah pulang saat ini baru 896 jamaah. Pada saat pemberangkatan, istrinya mengalami sakit maka suaminya turut mendampingi dan diberangkatkan mengikuti kloter 16, maka kepulangannya pun ikut juga kloter 16. “Yang bersangkutan memilih pulang tunda untuk menyempurnakan ibadahnya,” tandas Imam.

Salah seorang jamaah haji dari Kloter 1 H Moh Aqso MAg menjelaskan, jumlah jamaah haji dunia saat ini mengalami peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan tahun lalu. Namun demikian jamaah haji Brebes yang berangkat lebih awal terasa diuntungkan karena telah melakukan ibadah masih dalam kondisi lengang.

“Meski padat, tapi pemberangkatan awal bagi jamaah Brebes sangat diuntungkan,” kata Aqso ketika di tanya Bupati sesampainya di Brebes. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan Haedar Nashir

Kamis, 09 Maret 2017

Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah

Sukoharjo, Haedar Nashir. Pondok pesantren Al-Istiqomah Sukoharjo menggelar acara wisuda khotmil Quran, sadranan dan khaflah akhirussanah selama dua hari, Selasa-Rabu (25-26/6). Hari pertama diisi dengan sema’an al-Quran, sedangkan hari kedua dilaksanakan kegiatan sadranan, pawai ta’aruf oleh siswa/siswi PAUD, TK, Madin, bhakti sosial, dan acara wisuda khatmil Quran.

Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah

Menurut pengasuh Pesantren Al-Istiqomah, KH Ismail Thoyib, acara wisuda tahun ini sangat istimewa, karena ada mahasiswi IAIN Surakarta yang mondok di Al-Istiqomah dan dapat menyelasikan Al-Quran bilghaib 30 Juz.

"Ini merupakan kebahagiaan bagi kami, dan semoga ke depan banyak santri-santri mahasiswi IAIN yang mengikuti jejak mereka," tutur Ismail yang juga wakil Rais Syuriyah PCNU Sukoharjo. 

Haedar Nashir

Sementara itu, KH Syarif Rahmat yang mengisi tausiyah puncak acara menyatakan, nabi-nabi terdahulu berimukjizat berbentuk fisik, seperti tongkat Nabi Musa yang membelah air, Nabi Nuh dengan perahunya dan lain-lain. Sedangkan Nabi Muhammad diberi mukjizat Quran yang memiliki kekuatan dhahir maupun spiritual.

"Salah satu contoh kekuatan al-Quran adalah menjelaskan tentang ibadah sholat yang memiliki tiga dimensi. Pertama spiritual (ketenangan hati); kedua medikal (kesehatan jasmani); dan ketiga sosial (menumbuhkan sifat toleran, harmonis dan tawadhu)," jelasnya yang juga Pengasuh Pesantren tahfidz Ummul Quro Pondok Cabe Tangerang. 

Haedar Nashir

Puncak acara Haflah ini dihadiri tokoh-tokoh NU seperti KH Abdurrozaq Shofawi Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Solo, KH Ahmad Jablawi Pengasuh Pesantren Popongan Klaten, Nyai Maemunah Pengasuh Pesantren Sirojut Tholibin Grobogan. Acara juga dimeriahkan oleh group rebana Jamuro (jama’ah Muji Rosul) pimpinan Gus Karim Solo.

Pesantren Al-Istiqomah berlokasi di Pucangan Kertasura Sukoharjo. Pesantren ini merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ingin mencetak insan yang Qurani, mulai dari tingkat anak-anak sampai mahasiwa.

Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor  : Ahmad Rosyidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, AlaSantri Haedar Nashir

Senin, 06 Maret 2017

Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah

Bojonegoro, Haedar Nashir. Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Baureno Bojonegoro mengadakan kegiatan donor darah di kantor MWCNU kecamatan Baureno, Ahad (13/1). Kegiatan rutin ini didukung oleh Palang Mereh Indonesia (PMI) Cabang Bojonegoro.

Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah

Donor darah umum ini dimulai pada pukul 07.00 –12.00 WIB diikuti oleh pengurus, anggota, alumni dan juga masyarakat kecamatan Baureno.

Masyarakat mengikuti tahap demi tahap untuk lolos sebagai pendonor. Meski demikian, banyak juga yang tidak bisa mendonorkan darah mereka karena terkendala tensi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Haedar Nashir

Ali, staf unit transfusi darah PMI Bojonegoro dalam kesempatan itu mengatakan, donor darah sangat dianjurkan dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh dan meremajakan darah.

Ketua PAC IPNU Baureno Yajma’uddin mengatakan, donor darah ini merupakan kegiatan rutinan yang di adakan tiap  3 bulan sekali. Selain sebagai kegiatan sosial kegiatan ini juga sebagai ajang temu dengan alumni IPNU Baureno.

Haedar Nashir

“Saat ini sedang musim penghujan. Banyak sekali penyakit yang membutuhkan bantuan darah. Harapan kami kegiatan ini agar tetap eksis  sehingga dapat menumbuhkan jiwa sosial serta solidaritas yang tinggi bagi masyarakat,” katanya.

“Semoga solidaritas masyarakat semakin meluas di wilayah Baureno serta pendonor yang bisa bergabung lebih banyak lagi,” tambahnya.  

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber   : PAC IPNU Baureno

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Olahraga Haedar Nashir

Jumat, 03 Maret 2017

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Oleh A Mustofa Bisri

Akhirnya setelah sekian lama mendambakan dan tak kunjung mempunyai anak, permohonan Nabi Ibrahim agar dianugerahi anak dikabulkan oleh Tuhannya. Allah menganugerahi seorang anak yang sabar. Ketika di anak sudah cukup dewasa untuk membantu ayahnya bekerja, tiba-tiba sang ayah memberitahukan bahwa ada isyarat Tuhan untuk menyembelih si anak. “Bagaimana pendapatmu?” kata sang ayah. Dengan tenang, si anak menjawab, “Ayahku, laksanakan saja apa yang diperintahkan kepada ayah. Insyaallah ayah akan mendapatkan anakmu ini tabah.”

Berkorban Tak Sekadar Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkorban Tak Sekadar Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Ketika bapak-bapak itu bertekad bulat berserah diri sepenuhnya untuk melaksanakan perintah Allah dan Nabi Ibrahim telah merebahkan anak kesayangannya itu di atas pelipisnya, ketika itu pula keduanya membuktikan kepatuhan dan kebaktian mereka. Dan, Allah pun mengganti si anak dengan kurban sembelihan berupa kambing yang besar.

Meskipun ritual kurban (dengan “u”) konon sudah dilakukan sejak putra-putra Nabi Adam, Habil dan Qabil, peristiwa yang dituturkan dalam kitab suci Al Qur’an itulah yang menjadi dasar persyaratan kurban setiap Idul Adha (Hari Raya Kurban).

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya dan putranya ikhlas dijadikan kurban demi Tuhan mereka. Bagi Nabi Ibrahim dan putranya, Tuhan adalah nomor satu. Allah adalah segalanya. Siapa pun dan apa pun tidak ada artinya dihadapan-Nya. Demi dan untuk-Nya, apa pun ikhlas mereka korbankan; sampai pun anak atau nyawa sendiri.?

Inti Berkurban

Jadi inti makna kurban di Hari Raya Kurban memang berkorban. Namun, lihatlah, bahkan untuk sekedar mengorbankan hewan, banyak orang mampu yang masih “menawar-nawar” atau menitipkan kepentingan sendiri sebagai “kompensasi”

Apakah mereka ini mengira bahwa kurban (daging ternak) itu benar yang “dituntut” Tuhan sebagai bukti kecintaan dan kebaktian? Tidak. Sama sekali bukan daging-daging dan darah-darah hewan itu yang mencapai Allah, melainkan ketakwaan. Pengorbanan. “Tidaklah darah dan daging hewan kurban itu sampai kepada Allah sebagai ketakwaanmu yang sampai kepada-Nya” (Al Qur’an22;37).

Pengorbanan tidak hanya menyembelih kurban. Pengorbanan adalah atau mestinya merupakan pantulan dari kecintaan dan kebaktian itu. Dari pengorbanan, bisa diukur seberapa dalam kecintaan dan seberapa agung kebaktian seseorang.

Kita bisa saja mengaku cinta atau mengabdi kepada pujaan kita. Kita bisa saja menyatakan hal yang mulia demi Tuhan, demi tanah air, demi rakyat, demi siapa atau apa pun yang kita cintai. Namun tanpa kesediaan kita berkorban untuknya, pernyataan itu tidak ada artinya.?

Bahkan ,jika kita menawar-nawar di dalam pengorbanan kita, kata “demi”-“demi” itu hanyalah omong kosong belaka. Dalam pengorbanan, tak ada perhitungan untuk rugi atau tuntutan kompensasi apapun. Dalam pengorbanan hanya ada ketulusan.

Hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi kepada Allah seperti Nabi Ibrahim dan putranya, akan siap dan rela berkorban apa pun, yang paling berharga, atau yang remeh, termasuk ego dan kepentingan sendiri-bagi dan demi Tuhannya. Demi melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya siap dan rela mengalahkan egonya dan mengesampingkan kepentingan sendiri.

Apabila Tuhan, misalnya melarang perbuatan merusak, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya akan menghindari perbuatan perusak meski bertentangan dengan kehendaknya. Dia misalnya, tak akan melakukan perbuatan korupsi, tidak melakukan tindakan teror, tidak berurusan dengan narkoba, dan tindakan merusak lainnya, meski dirinya merasa berkepentingan untuk melakukan hal itu.?

Pemimpin berkorban

Warga negara yang sungguh mencintai dan mengabdi tanah arinya akan dengan sendirinya siap dan rela berkorban apa saja bagi dan demi tanah airnya, meski tidak pernah menyatakannya. Sebaliknya, mereka yang sering menyatakan cinta tanah air, tetapi tidak sudi mengorbankan sedikit waktu dan pikiran untuk kepentingan tanah airnya, jelas mereka pembohong besar.

Pemimpn yang selalu menyatakan diri sebagai abdi rakyat, tetapi tidak pernah rela berkorban meski sekedar waktu dan perhatian untuk rakyat, bahkan lebih sering mengorbankan rakyat, cepat atau lambat pasti akan ketahuan palsunya dan rakyat akan mencampakkannya.

Akhirnya, Idul Adha atau Hari Raya Kurban juga sering disebut Lebaran Haji. Pada Saat itu memang kaum Muslimin yang mampu sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Satu satunya ibadah dan rukun Islam yang di negeri ini ditangani secara “serius” oleh pemerintah. Ibadah ini pun memerlukan pengorbanan yang tidak kecil. Masih di Tanah air, jemaah calon haji sudah harus mengorbankan waktu, harta, tenaga, pikiran sering kali juga ? perasaan.

Dalam ritual haji, kaum Muslimin diingatkan dengan peragaan diri tentang kehambaan, kesetaraan, dan kefanaan manusia; bahkan tentang hari kemudian. Dengan demikian, jika itu semua dihayati, akan atau semestinya dapat menguban sikap dan perilaku mereka. Konon salah satu tanda haji mabrur, yang pahalanya tiada lain: surga, ialah merubahan sikap perilaku.?

Yang sebelum haji malas beribadah, misalnya, sesudahnya menjadi rajin. Sebelumnya sangat, sesudahnya santun. Sebelumnya korup, sesudahnya jujur. Demikian seterusnya. Bukan yang sebelum dan sesudah haji tetap saja sikap perilakunya atau malahan lebih buruk lagi.

Wallahualam. Selamat Hari Raya Kurban, Selamat Lebaran Haji

* Wakil Rais Aam PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, IMNU, Lomba Haedar Nashir

Rabu, 01 Maret 2017

Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan

Jombang, Haedar Nashir. Tingkat konsumsi masyarakat terhadap protein masih memprihatinkan. Karenanya, diperlukan peran berbagai kalangan agar menambah konsumsi protein ? lewat makan ikan menjadi salah satu tradisi di masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid. Dalam pandangan Gus Sholah, sapan akrabnya, peran tersebut dapat diambil ? d oleh santri untuk turut berperan aktif mengkampanyekan budaya makan ikan di tengah masyarakat.

Salah satu caranya, kata Gus Sholah, adalah dengan meningkatkan budidaya perikanan air tawar berbasis pesantren. Dengan meningkatnya budaya makan ikan, diharapkan akan turut meningkatkan konsumsi protein masyarakat.

Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan

Hal itu disampaikan Gus Sholah saat membuka Pelatihan Pembesaran Ikan Lele dengan Sistem Bioflok di Gedung Diklat Pesantren Tebuireng II di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Jombang, Senin (24/7) awal pekan ini. Pelatihan yang diikuti peserta dari beberapa pesantren di Jombang ini merupakan kerjasama antara Pesantren Tebuireng dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan menghadirkan instruktur dari Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi.

Gus Sholah menuturkan, pelatihan yang telah diikuti empat angkatan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada pertengahan November 2016 lalu. "Saat itu, Bu Susi mengajak Pesantren Tebuireng untuk turut berperan aktif membantu pemerintah dalam kampanye budaya makan ikan dan menantang para santri untuk merintis usaha budidaya ikan air tawar," ungkap Gus Sholah.

Usai pembukaan pelatihan untuk angkatan ketiga dan keempat tersebut, para peserta juga diajak mengikuti panen perdana hasil kegiatan peserta pelatihan angkatan sebelumnya. Panen perdana dipimpin oleh Nyai Hj. Farida Salahuddin (istri Gus Sholah) didampingi beberapa pejabat dari BPPP Banyuwangi dan Dinas Perikanan Jombang.

Haedar Nashir

Kepada para santri, Nyai Farida berpesan agar kepercayaan sekaligus tantangan yang diberikan oleh KKP dapat dijaga dengan baik dan amanah. "Minimal, hasil budidaya ikan lele ini nanti harus bisa memenuhi kebutuhan Jasa Boga di Pesantren Tebuireng. Jadi, pondok tidak perlu lagi memesan ikan lele dari luar," harapnya.

Mudir Pesantren Tebuireng Lukman Hakim menuturkan, ikan lele yang dipanen secara perdana merupakan hasil budidaya peserta pelatihan angkatan pertama dan kedua. "Secara keseluruhan, sudah ada 120 orang yang ikut pelatihan. Mereka berasal dari Pesantren Tebuireng dan sembilan pesantren lainnya," ungkap pria kelahiran Banten ini.

Saat ini, tutur Lukman, Pesantren Tebuireng sedang menyiapkan 24 buah kolam lele berdiameter tiga meter bantuan dari KKP. "Mulai awal Agustus, akan ada 40 kolam yang dikelola untuk usaha budidaya ikan lele," ujarnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU Haedar Nashir