Sabtu, 20 Mei 2017

Ramadhan dan Spirit Peradaban Buku

Oleh M. Haromain

Di antara sekian banyak keistimewaan bulan Ramadhan adalah diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk pertama kalinya pada bulan suci ini. Teristimewanya lagi dan ini juga yang membedakan Al-Qur’an dengan kitab-kitab suci agama lain ialah bentuk atau susunan kalimat pertama dalam Al-Qur’an. Al Quranlah satu-satunya kitab suci yang redaksi kalimat pertamanya menggunakan kata perintah (fiil amar), tidak redaksi kalimat berita (khabariyah). Tidak hanya itu, konten perintah dari kata pertama tersebut sifatnya menggebrak, yaitu perintah membaca. Suatu ajakan yang kini telah terbukti menjadi landasan dan basis untuk membangun peradaban dan kebudayaan.

Ramadhan dan Spirit Peradaban Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan dan Spirit Peradaban Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan dan Spirit Peradaban Buku

Perintah membaca ini (iqra) barangkali untuk konteks sekarang terkesan biasa-biasa saja. Tapi pada empat belas abad yang lalu saat Nabi menerima wahyu pertama, perintah tersebut jelas sangat revolosioner, ketika masyarakat Arab jahiliah sama sekali belum mengenal tradisi baca-tulis, melainkan hanya mengandalkan tradisi hafalan. Bahkan Nabi pun dalam menggambarkan kejahiliahan bangsa Arab masa itu pernah bersabda: Orang-orang yang pandai membaca dan menulis dari kalangan bangsa Arab dapat dihitung dengan jari.

Secara eksplisit perintah membaca itu sejatinya mengarahkan umat manusia agar membangun peradaban buku, masyarakat yang memuliakan keberaksaraan, bukan kelisanan yang dangkal, kendati penulisan Al-Qur’an secara sistematis dalam bentuk kodifikasi lengkap baru dimulai pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Haedar Nashir

Komitmen Nabi Muhammad dalam memperjuangkan dan menyadarkan urgensitas budaya literasi bagi umat manusia bisa dijumpai dalam pelbagai usaha dakwah beliau dalam membumikan risalah Islam, salah satunya pada perang Badar. Nabi Muhammad kala itu mensyaratkan mengajar membaca dan menulis kepada sepuluh anak kaum muslimin sebagai tebusan bagi tawanan perang dari pasukan musuh. ?

Haedar Nashir

Selanjutnya terang sekali generasi pascawafatnya Nabi, yaitu generasi sahabat, tabiin dan generasi ulama setelahnya, sangat menyadari hakikat perintah membaca itu untuk terus mengembangkan peradaban buku. Berkat upaya para penerus Nabi generasi awal ini, bersumber dari pembacaan Al-Quran lantas mereka berhasil melahirkan bejibun karya dan mengembangkan banyak cabang ilmu. Al-Qur’an menjadi satu kitab yang setelah dieksplorasi kandungannya mampu melahirkan beribu-ribu buku lain dengan aneka disiplin ilmu mulai bahasa, fiqih, tafsir, balaghoh (sastra), usul fiqh, arudh, kalam, tasawuf, dan lain sebagainya.

Pendek kata perintah membaca sebagai wahyu yang pertama kali turun telah menjadi pemantik dan inspirasi bagi lahirnya pelbagai cabang dan disiplin ilmu baru yang tertuang dalam pusparagam khazanah kitab, terlebih puncaknya pada masa periode khalifah Al Mamun dari Daulah Abbasiah. Al-Ma’mun yang memang sangat gandrung pada ilmu, terutama filsafat, mencanangkan proyek besar-besaran penerjemahan literatur Yunani ke dalam bahasa Arab, yang pada akhirnya Islam berhasil menjadi kiblat peradaban dunia berkat penghargaan yang sangat tinggi pada budaya literasi.

Penulis bergiat di "Rumah Pena" NU Temanggung dan Kontributor NU online kawasan Kedu



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita Haedar Nashir

Jumat, 19 Mei 2017

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus

Kudus, Haedar Nashir. Mahasiswa Ahlit Thariqah An Nahdliyyah (MATAN) menegaskan kehadirannya sebagai organisasi mahasiswa penganut tarekat adalah untuk membendung gerakan radikalisme yang telah berkembang di berbagai kampus.

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus

“MATAN mempunyai tanggung jawab mendidik generasi muda sebagai upaya penyelamatan umat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah pergolakan global,” kata Ketua Pimpinan Pusat  MATAN Hamdani Muin dalam acara Deklarasi dan Pelantikan Pengurus Cabang MATAN Kabupaten Kudus  di Aula Kantor NU setempat, Sabtu (29/9) malam.

Ia menandaskan, sebagai bagian dari Jamaah Ahli  Thariqah, MATAN akan selalu mendarmabaktikan kepada umat dan NKRI. Ditegaskan, thariqah atau tarekat tidak hanya sekedar berdzikir melainkan juga memikirkan kepentingan umat. 

Haedar Nashir

“Apa artinya Dizikir siang malam tetapi tidak memikirkan kepentingan umat. Begitu pula, tarekat bukan hanya milik para masyayih atau orang tertentu.  Thariqah adalah rahmatal lil Alamin.”tandasnya lagi.

Haedar Nashir

Hamdani menjelaskan  MATAN memiliki lima asas (al-asas al-khomsah)sebagai semangat pergerakan yakni Tafaqqu fi al din (mengasah kemampuan dan ketajaman intelektual), Iltizamut Thoat (semangat ketaatan kepada Allah,Rasulullah dan Ulil Amri), Tasfiah al qalb wa tazkiyat al-nafsi (pembersihan dan pensucian diri), hifdz-al-aurad wa al-adzkar (menjaga waktu untuk kemanfaatan dan pahala Allah SWT) dan  dan khidmah lil –ummah (mendarmabaktikan kepada umat manusia kepada bangsa dan negara).

“Kelima asas itu muaranya  hidmah kepada umat dan bangsa. Maka tidak aneh, Habib lutfiy selalu menggelorakan Indonesia Raya di setiap kesempatan,” tegas Dosen pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang ini.

Kepada terlantik, Hamdani mengajak pengurus MATAN selalu mengikuti mursyid (guru) dan berakhlakul karimah. Ia juga  melarang pemanfaatan  organisasi untuk kepentingan politik. 

“Thariqah itu milik masyayih, jadi jangan sampai narik-narik ke politik. Kalau ada yang melakukan hal itu , pasti akan kualat.” tambah dia menandaskan.

Sementara Pengurus Cabang Jamiyah ahli Thariqah An Nahdliyyah (JATMAN) KH. Syafiq Nashan mengharapkan MATAN mampu meredam gejolak situasi yang panas terutama di kalangan anak muda. 

“Kita perlu meredam situasi panas ini dengan selalu berdzikir sebagai ajaran thariqah.  Karena itu, kita bersama-sama memasyarakatkan thariqah dan menthariqahkan masyarakat melalui matan.” Ujar KH Syafiq yang juga ketua MUI Kudus ini.

Sementara sebelumnya,  pengurus Cabang MATAN Kudus secara resmi telah dilantik ketua PP Hamdani Muin. Dengan disaksikan para kyai thoriqah dan tamu undangan lain, Deklarasi dan prosesi   pelantikan berlangsung hidmah.

Adapun susunan PC MATAN Kudus yang dilantik yakni Ketua Muhammad Mawahib dan wakilnya Ah.Amir Faisol, Malik Khoirul Anam dan Wahyu Setiadi. Sekretaris Moh saifudin Nawawi, wakil sekretaris saifudin Bachri, Khoirul Anwar dan Riza Jauharatul Muniroh, sedangkan Bendahara Ismail dan wakil bendahara Muslihatul Izza. 

Kepengurusan dilengkapi  tujuh departemen  yakni Manajemen dan Pengembangan sumber daya Manusia, Pengkaderan, Cinta tanah air, Kajian dan Litbang, Seni dan Budaya, Komunikasi dan Informasi serta Ekonomi dan entrepreneur.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Ahlussunnah Haedar Nashir

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Jakarta, Haedar Nashir

Suasana kerukunan beragama di Indonesia kembali diuji. Ahad (28/8), Kota Medan dikagetkan dengan upaya teror berupa percobaan "bom bunuh diri" dengan pelaku seorang pemuda, IAH, berusia 17 tahun. Meskipun bom gagal meledak dan tidak ada korban jiwa, peristiwa ini patut dijadikan bahan pelajaran.

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, dalam rilisnya, menyebutkan bahwa kini gerakan terorisme telah menyasar beragam usia. Gerakan ini telah berhasil merekrut anak-anak muda untuk dicuci otaknya, kemudian diproyeksikan menjadi "pengantin".

Lebih jauh Gus Yaqut, panggilan akrabnya, mengatakan, "GP Ansor mengutuk keras upaya bom bunuh diri ini. Juga mendorong kepolisian mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat dan yang memerintah IAH."

Haedar Nashir

Melihat realitas ini, lanjutnya, GP Ansor mengimbau kepada segenap elemen bangsa terutama ormas keagamaan untuk tidak menoleransi tumbuhnya benih-benih terorisme. Menurutnya, upaya bom bunuh diri di Medan secara jelas menunjukkan betapa kelompok-kelompok teror telah melebarkan sayapnya dengan merekrut anak-anak muda untuk dikorbankan.

“Oleh karena itulah, ormas harus menjadi pelindung bagi generasi muda. Dengan demikian, harus berperan pula sebagai benteng pertahanan yang melawan segenap upaya menumbuhkan benih-benih terorisme," tegas Ketua Umum PP GP ansor. (Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Daerah, Nusantara Haedar Nashir

Selasa, 16 Mei 2017

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Macau,Haedar Nashir

Senin (5/6) adalah pelaksanaan shalat tarawih malam kesebelas. Tak terasa sudah sampai masuk sepertiga kedua Ramadhan. Rencananya saya akan memimpin tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat. Baru dua rakaat baju saya sudah lepek basah oleh keringat. Di ruangan itu kipas terus berputar kencang tanpa henti, namun angin yang berhembus justru laksana uap sauna.

Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Usai witir, bermula dari sebuah pertanyaan obrolan seputar zakat, infak, dan sedekah meluncur satu per satu dari jamaah Indonesia yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Memang diakui potensi zakat umat Muslim yang sedemikian besar belum digarap secara maksimal, walaupun diakui trennya setiap tahun selalu naik.

Salah satu yang menarik kami diskusikan ialah masih luputnya wawasan fiqh prioritas dari Muslim Indonesia. Banyak di antara kita yang menyalurkan sedekah atau infaknya, namun tidak mengindahkan skala prioritas. Padahal seharusnya orangtua, keluarga, dan kerabat dekat lebih dahulu menjadi perhatian utama.

Haedar Nashir

"Iya, Ustad. Kita sering bersedekah kepada fakir miskin ataupun masjid. Tapi lupa sama saudara sendiri yang susah. Seakan akan gak kelihatan," begitu komentar salah satu jamaah.

Haedar Nashir

Harus diakui tak jarang masyarakat kita justru gemar sedekah dan berinfak, namun abai pada keluarga atau kerabat dekat. Padahal ganjaran sedekah terhadap keluarga dan kerabat dekat nilainya dua kali lipat. Pertama, dinilai sedekah. Kedua dinilai sebagai upaya shilah (menyambung silaturahim) sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Turmudzi dan An-Nasai.

Jika kita merujuk kepada Al-Qur’an, di antaranya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 36 dan An-Nahl ayat 90, berbicara tentang pentingnya berbuat kebaikan kepada keluarga dan kerabat dekat. Bahkan ada satu ayat yang bicara tentang memberi harta pada dzawi al-Qurba", baru kemudian menunaikan zakat seperti yang tercantum dalam Al-Baqarah ayat 177.

Ibadah sosial dan yang memperkuat hubungan silaturahim memang lebih ditekankan di dalam Al-Qur’an ketimbang ibadah yang hanya membawa kenikmatan secara individual. Karena dampak ibadah sosial jauh lebih besar manfaatnya kepada masyarakat.

Malam itu, ditemani segelas kopi saya sampaikan, "Di dalam Islam kita dilarang meminta-minta. Tapi di saat yang sama kita harus memberi sebelum mereka yang membutuhkan, meminta."

Rekan saya, Ustad Muhammad Yunus turut menambahkan, fenomena itu mungkin terjadi karena adanya penyakit hati.

“Sehingga justru urusan harta dan hubungan kekeluargaan menjadi amat sensitif. Perbedaan ekonomi bukan jadi kesempatan untuk saling mengisi, justru yang ‘berada’ tak peduli walau terhadap keluarga sendiri,” papar Ustad asal Banyuwangi, Jawa Timur.

"Ibadah sosial bukan hanya membutuhkan tekad dan iming-iming pahala tapi juga kebersihan hati, kearifan serta kepekaan yang tinggi dalam menentukan prioritas," tutup saya. (Saepuloh, dai anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerja sama dengan LAZISNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Nasional Haedar Nashir

Senin, 15 Mei 2017

NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq

Oleh Nur Kholik Ridwan

Menurut para founding fathers NU, Islam yang diperjuangkan fiddin waddunya wal akhirah dinamakan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mengakui empat madzhab fiqih yang berkembang (Maliki, Hanafi, Syafii dan Hanbali), bertasawuf menurut tradisi Imam Junaid, Imam al-Ghazali dan imam-imam lain di lingkungan Ahlussunnah wal Jama’ah, dan beri’tiqad mengikuti jalan Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar NU dalam berbagai periode tahun. Oleh generasi berikutnya, hal ini kemudian disebut Ahlussunnah wal Jama’ah an- Nahdliyah, Ahlussunnah wal Jama’ah yang berlaku di lingkungan NU, yang berpijak dalam konteks masyarakat Indonesia dan Nusantara.

NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq

Islam yang demikian, oleh KH Achmad Siddiq kemudian diformulasi dengan nama Islam rahmatan lil `alamin, jauh sebelum Gus Dur mengemukakan istilah-istilah Islam rahmatan lil `alamin dalam tulisan-tulisannya.

KH Achmad Shidiq mengatakan: “Nahdlatul Ulama didirikan untuk meningkatkan mutu pribadi-pribadi Muslim yang mampu menyesuaikan hidup dan kehidupannya dengan ajaran agama Islam, serta mengembangkannya sehingga terwujudlah peranan agama Islam dan para pemeluknya sebagai rahmat bagi seluruh alam” (KH Achmad Siddiq, Khittah Nahdliyyah, hlm. 12). Rais Am PBNU tahun 1984-1991 itu, juga menegaskan bahwa ciri-ciri diniyah Nahdlatul Ulama itu tercermin pada beberapa hal, di antaranya: “Bercita-cita keagamaan, yaitu izzul islam wal muslimin menuju rahmatan lil`alamin.” (hlm. 15).

Haedar Nashir

Islam rahmatan lil`alamin itu, penamaannya mengambil dari banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan di antaranya wama arsalnaka illa rahmatan lil`alamin (QS. Al-Anbiya ayat 107).

Dalam ayat ini, terdapat beberapa riwayat yang menyebut Nabi sebagai rahmat yang membentang dan rahmat untuk sekalian alam. Di antara beberapa riwayat itu disebutkan dalam Tafsir Durrul Mantsur fi Tafsir al- Ma’tsur, yaitu riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah berkata: “Dikatakan kepada Rasulullah: ud`u `alal musyrikin. Nabi ber sabda: “inni lam ub`ats la’anan, wainnama buitstu rahmatan”; hadits lain dikeluarkan al- Baihaqi dalam ad- Dala’il dari Abu Hurairah dengan kata: “innama ana rahmatun mahdatun”; ada juga hadis dari Ibnu Hamid dari Ikrimah berkata: “Dikatakan kepada Nabi Muhammad: “Ya Rasulallah ala tal`anu quraisyan bima atau ilaika.” Nabi bersabda: “Lam ub`ats la`anan, innama buitstu rahmatan”; dan juga diriwayatkan oleh Imam athThayalisy, Ahmad, Thabrani, dan Abu Nuaim dalam ad-Dala’ il, dari Abu Umamah berkata: “Berkata Rasulullah Saw.: “Innallaha ba`atsani rahmatan lil `alamin wa hudan lilmuttaqin” (Jalaluddin as- Suyuthi, Durrul Man tsur fi Tafsir al-Ma’tsur, Jilid X, hlm. 405-406).

Haedar Nashir

Menyimak dari hadits-hadits Nabi itu, ketika diminta melaknat dan mencaci orang-orang Quraisy, justru Nabi Muhammad menimpali: “Saya tidak diutus sebagai caci maki (tidak untuk mencaci maki), tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat (untuk menebarkan kasih sayang).” Islam yang diajarkan itu adalah Islam yang mengedepankan akhlak mulia, bukan hanya pada dimensi apa yang diperjuangkan di mana Islam itu memang mulia, tetapi juga cara-cara memperjuangkan pun dengan akhlak yang mulia.

Oleh KH Achmad Siddiq watak dan ciri-ciri Islam rahamatan lil `alamin itu, disebutkan oleh Al-Qur’an sendiri yang kemudian disimpulkan dengan tiga hal penting: at-tawasuth (QS. Al-Baqarah? ayat 143), al-i’tidal (al- Ma’idah ayat 9), dan at-tawazun (QS. Al-Hadid ayat 25). Di dalam Khittah NU kemudian ditambah lebih lengkap dengan at- tasamuh, dan amar ma’ruf nahi munkar, yang sebelumnya dilengkapi juga dengan Mabadi’ Khaira Ummah (MKU) yang digagas KH Mahfudz Siddiq, yaitu ash-shidqu, al-amanah wa al-wafa bil `ahdi, dan at-ta`awun (disetujui Muktamar NU tahun 1937), yang ditambah pada Muktamar NU tahun 1992 di Lampung dengan dua hal penting, yaitu al-`adalah dan al-istiqamah.

Bentuk dari implementasi sikap at-tawasuth di dalam masalah kenegaraan, menurut KH Achmad Siddiq, tercermin dari sikap dan pandangan Nahdlatul Ulama yang melihat bahwa: (1) Negara nasional yang didiri kan bersama oleh seluruh nasion/ rakyat wajib dijaga dan dipelihara eksistensinya; (2) Penguasa Negara yang sah harus ditempatkan pada kedudukan yang terhormat dan ditaati, selama tidak menyeleweng, atau memerintah ke arah yang tidak bertentangan dengan hukum Allah; (3) Kalau terjadi kesalahan dari pihak pemerintah, cara memperingatkannya melalui tatacara yang sebaik-baiknya (KH Achmad Siddiq, Khittah Nahdliyyah, hlm. 66).

Meski begitu haruslah disadari bahwa peran NU dalam merumuskan dasar negara dan pandangannya dalam bentuk kenegaraan, mengalami proses panjang, baik di dalam adu argumentasi ataupun dalam sejarah politiknya, termasuk dalam riak-riak kecil dan besarnya di tengah gejolak Geosospolek bangsa Indonesia. Dari sudut ini bisa dilihat dari peran NU dalam merumuskan pandangan kenegaraan sebelum Republik Indonesia berdiri, pada masa pendirian bangsa zaman BPUPKI-PPKI, setelah itu dalam perdebatan tahun 1955 di sidang Konstituante, penerimaan Pancasila dan UUD 1945 di dalam Dekrit Presiden Soekarno, dan kemudian sampai pada perumusan dalam soal Pancasila dan asas Pancasila di Munas Alim Ulama tahun 1983 dan Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo.

Dari sejumlah peristiwa sejarah itulah, kemudian para kyai NU memberikan argumentasi dan formulasi argumentatifnya, agar bisa dimengerti generasi-generasi baru, seperti yang dilakukan KH Achmad Siddiq, KH Muchit Muzadi, KH Abdurrahman Wahid, KH Masdar Farid Mas`udi, dan banyak tokoh lain. Wallahu a’lam.

Penulis adalah anggota PP RMINU dan alumnus Pondok Pesantren Darunnajah Banyuwangi



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Nahdlatul, Quote Haedar Nashir

Rabu, 10 Mei 2017

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji

Jakarta, Haedar Nashir. Mustasyar PBNU KH Hafidz Usman yang meninggal Senin (20/10) pagi di Bandung dimakamkan di makam keluarga di Menes, Banten. Jenazah tiba di masjid yang terletak tidak jauh dari rumah singgah keluarga Menes pada sekitar pukul 00.10 dini hari dan langsung disambut ratusan jamaah yang memenuhi masjid.

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji

Shalat jenazah dipimpin oleh Rais Syuriyah PWNU Banten, KH Tubagus Abdul Hakim. Sambutan atas nama keluarga disampaikan oleh KH Suhri Usman, adik dari almarhum.

Atas permintaan keluarga, jenazah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga Menes Banten, tepatnya di makam keluarga dari istri Kiai Hafidz yang juga saudara dari istri KH Ma’ani Rusydi.

Haedar Nashir

Sejumlah pengurus NU hadir mengikuti pemakaman mewakili PBNU, antara lain Katib Syuriyah KH Mujib Qulyubi, Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PBNU H Sarmidi Husna dan H Mahbub Ma’afi Ramdlan, Ketua Lembaga Wakaf PBNU H Mardini. Terlihat juga mantan politisi PPP Endin Sofihara, dan mantan Ketua PBNU Andi Jamaro.

Menurut Mahbub Ma’afi, Kiai Hafidz meniggal sehari setelah pulang dari haji. Ia datang ke kediamannya di Bandung pada Ahad (19/10). Keesokan harinya Kiai Hafidz tiba-tiba dikabarkan meninggal, tanpa didahului sakit sedikitpun.

Haedar Nashir

“Jadi beliau berangkat haji itu seolah-olah berpamitan. Apalagi tahun ini bertepatan dengan haji akbar. Bahkan sebelum berangkat haji pun beliau belum sempat pulang ke rumah sehabis berkeliling Sumatera dan Sulawesi dalam rangka menjalankan tugas BWI (Badan Wakaf Indonesia),” kata Mahbub.

Pengurus Lembaga Bahtsul Masai PBNU itu menceritakan pengalamannya bersama KH Hafidz Usman terutama saat mendampingi almarhum dalam menyelesaiakan pembukuan hasil bahtsul masail NU sejak Muktamar pertama NU tahun 1926.

“Beliau memimpin tim menyocokkan referensi dari semua keputusan bahtsul masail. Kalau ada kitab yang menjadi referensi tidak ada di PBNU, beliau pesen itu kitab ke Mesir. Beliau salah satu Kiai NU yang ensikopedis, tahu banyak hal. Beliau mempunyai semua kitab yang menjadi rujukan bahtsul masail NU,” katanya.

Sebagai kiai senior, KH Hafidz Usman cukup menghargai pendapat kiai-kiai muda di lingkungan lembaga bahtsul masail. “Beliau tidak pernah marah. Kalau kami membantah atau mendebat beliau, secara etika kan tidak bener, tapi beliau tidak marah,” katanya.

KH Hafidz Usman meninggal pada usia 74 tahun. Aktivitasnya di NU dimulai sejak usia muda, sampai menjadi ketua PWNU Jawa Barat. Di PBNU, Jakarta, pertama-tama Kiai Hafidz diminta oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk menjadi salah satu Ketua PBNU. Pada periode berikutnya ia mendapatkan amanah sebagai Rais Syuriyah PBNU. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Ubudiyah Haedar Nashir

Senin, 08 Mei 2017

Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof Dr Arief Hidayat memberikan ceramah dalam Seminar Nasional tentang Tata Kelola Air yang digelar oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU), Rabu (20/5) di lantai 8 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat.

Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK

Dalam pemaparannya, Arief menuturkan, air perlu dikelola dengan baik agar kebutuhan manusia dan seluruh makhluk hidup akan air dapat terpenuhi.?

“Pengelolaan air tidak boleh dikuasai oleh swasta, harus dikuasai oleh negara. Itu diatur dalam pasal 33 UUD 1945,” tegasnya di hadapan peserta seminar yang memadati Aula PBNU.

Haedar Nashir

Arief menerangkan, dalam pasal 33 tersebut, seperti yang tertuang dalam Putusan Nomor 36/PUU-X/2012, MK menegaskan bahwa frasa ‘dikuasai negara’ tidak dapat dipisahkan dari frasa ‘sebesar-besarnya kemakmuran rakyat’.?

“Karena jika kedua frasa ini tidak dikaitkan sebagai satu kesatuan yang utuh, maka akan menimbulkan tafsir konstitusional yang kurang tepat. Karena bisa jadi negara menguasai sumber daya alam secara penuh tetapi tidak digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” paparnya.

Haedar Nashir

Dalam berbagai putusannya, imbuh salah satu Dewan Pakar ISNU ini, MK selalu berupaya mennguatkan peran negara dalam mengelola, mengawasi, dan memenuh hak atas air untuk kebutuhan dan kesejahteraan rakyat banyak.

“Pengelolaan sumber daya air mesti secara mutlak diselenggarakan oleh negara, sedangkan swasta hanya mendapatkan peran residu manakala pengelolaan sumber daya air oleh BUMN/BUMD sebagai perpanjangan tangan negara tidak dapat melakukan fungsinya,” tegas Arief.?

Selama ini, menurutnya, swasta itu hanya menjual kemasan air. Agar air tetap bersih dan jernih. “Masa’ kita membuat pesawat saja bisa, tetapi mengelola air secara komersil dan mandiri tidak bisa. Inilah salah satu faktor, mengapa kelompok swasta, bahkan swasta asing dengan bebas menjarah, memprivatisasi, dan meliberalisasi mata air rakyat,” tuturnya panjang lebar. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Sholawat Haedar Nashir