Senin, 05 Juni 2017

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir

Sidoarjo, Haedar Nashir

Dalam rangka mempersiapkan mutu lulusan, Universitas NU (UNU) Sidoarjo telah memastikan diri dengan barbagai kegiatan di antaranya dengan mengikuti seleksi Proposal Hibah Pusat Karir di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada April 2016.

Irviandi Yudhotomo, dosen UNU Sidoarjo yang mengikuti seleksi tersebut menjelaskan, Hibah Pusat Karir merupakan program dari Kemenristekdikti untuk peningkatan kualitas lulusan di sebuah perguruan tinggi. Selain itu, program Pusat Karir dapat diikuti mahasiswa tanpa ada batasan semester dan jurusan.? ?

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir

Artinya, apapun jurusannya dan berapapun semesternya, bagi mahasiswa yang memiliki nilai tambah berupa bakat dan minat selain jurusan yang diambil dapat dimaksimalkan potensinya di Pusat Karir. Selain itu juga untuk pematangan dan pemetaan karir melalui program Karir Kompas yang dijalankan sebelum mereka lulus.

Haedar Nashir

"Jadi mahasiswa yang memiliki potensi lain selain jurusan yang dia ambil bisa dimaksimalkan melalui program Pusat Karir," ujar dosen yang akrab disapa Pak Irviandi itu, Senin (9/5). ?

Haedar Nashir

Ia menambahkan, dengan adanya hibah tersebut peluang mahasiswa UNU Sidoarjo dalam mengembangkan karir dapat dimulai sebelum mereka lulus. Selain itu, program tersebut juga membantu mahasiswa mengurangi masa tunggu masuk dunia kerja setelah lulus –permasalahan yang masih terjadi pada lulusan perguruan tinggi.

Berdasar pada Nota Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Bantuan Pengembangan Layanan Pusat Karir 2016 Nomor: 642.172/B3.4/KM/PK/2016 tertanggal 25 April 2016, UNU Sidoarjo bersama Kementerian Ristekdikti akan melakukan sederetan program pembinaan karir mahasiswa selama 6 bulan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Kyai, Aswaja Haedar Nashir

Minggu, 04 Juni 2017

Menristek Dikti Motivasi Peserta Sanlat Masuk PTN GP Ansor

Jombang, Haedar Nashir. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) RI M Nasir berharap program Pesantren Kilat Sukses Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang digelar Gerakan Pemuda Ansor terus berlanjut. Kepada para peserta, ia meminta tetap semangat dalam mengembangkan potensi.

"Saya berharap agar para santri istiqomah dalam belajar," katanya memberi motivasi saat mengunjungi peserta Sanlat Sukses Masuk PTN yang diprakarsai Pimpinan Cabang GP Ansor Jombang, Jawa Timur, Sabtu (16/5). Nasir mengingatkan bahwa untuk menjadi orang sukses, semangat haruslah terus dipupuk.

Menristek Dikti Motivasi Peserta Sanlat Masuk PTN GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Menristek Dikti Motivasi Peserta Sanlat Masuk PTN GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Menristek Dikti Motivasi Peserta Sanlat Masuk PTN GP Ansor

"Kembangkan dan tunjukkan terus potensi diri yang dimiliki," katanya. Karena melalui ikhtiar tanpa kenal lelah dan diimbangi dengan doa, maka kesuksesan akan dapat diraih, lanjutnya.

Haedar Nashir

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto mengemukakan, sanlat kali ini memasuki angkatan ke-5 dan akan diselenggarakan setiap tahun di sejumlah pesantren di Jombang secara bergantian.

Haedar Nashir

"Sejak angkatan ke-1, jika dihitung sudah hampir 200 santri yang diterima di sejumlah kampus negeri ternama," katanya. Keuntungan mengikuti sanlat GP Ansor ini, tambahnya, selain mendapat bimbingan belajar dalam menghadapi seleksi masuk kampus negeri, para santri ini juga dibekali dengan paham Aswaja ala NU.

Sanlat GP Ansor Jombang terselenggara atas kerja bersama GP Ansor dengan sejumlah badan otonom, lembaga dan lajnah di PCNU Jombang. "Ini merupakan bentuk kepedulian Ansor dan banom NU terhadap pendidikan kader NU dalam menghadapi masa depan," kata Gus Antok, sapaan akrabnya. Ia juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan motivasi yang diberikan Menristek Dikti.

Turut mendampingi dan menerima kehadiran Menristek Dikti RI adalah Pengasuh Sanlat, H Juaharul Afif, yang juga salah seorang pengasuh pesantren setempat, ketua panitia sanlat Hafis Muaddab dan pengurus lain.

Sekedar diketahui, dari 80 santri yang mengikuti Sanlat, ada 15 yang dinyatakan lolos masuk PTN tanpa tes. Sementara santri lainnya tinggal mengikuti tes tulis, namun telah diberikan pembekalan secara optimal melalui sanlat. Kegiatan tahunan rutin PC GP Ansor Jombang tahun ini dilangsungkan? di Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar. (Syaifullah/Mahbib)

?

Foto: Menristek Dikti M Nasir (baju batik merah) saat berpose bersama sebagian peserta Sanlat Sukses Masuk PTN

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir

Jumat, 02 Juni 2017

Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda

Malang, Haedar Nashir

Soal tokoh yang memiliki kapasitas dan kapabilitas mumpuni, Nahdlatul Ulama di kota ini tidak kekurangan Sejumlah kampus terkenal dan disegani tersedia. Para akademisi dan praktisi juga tidak terhitung jumlahnya.

"Kalau dilihat dari potensi sumber daya manusia, NU di sini sangat berlimpah," kata Mahmudi, Ahad (27/3). Pria yang setiap hari menjadi Sekretaris Pengurus Cabang Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PC LTN NU ) Kota Malang ini menyadari akan potensi yang ada. "Tinggal bagaimana mengoptimalkan ketersediaan yang ada untuk khidmat kepada NU," lanjutnya.

Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda

Bahkan secara berkelakar, Bapak Mahmudi mengemukakan bahwa semua potensi dimiliki NU. "Yang tidak dimiliki ormas keagamaan lain yakni para dukun, ternyata NU punya," katanya disambut tawa hadirin.

Yang menjadi problem cukup mendesak agar ditemukan solusinya adalah melahirkan para jurnalis muda. "Karena kalau pandangan para tokoh yang ada tidak dioptimalkan, maka keberadaan mereka juga akan percuma," katanya di hadapan utusan PW dan PC LTN NU se-Jatim.

Karena itu PC LTN NU Kota Malang mengadakan madrasah jurnalistik yang dilangsungkan satu minggu sekali. "Kami selenggarakan secara gratis dengan instruktur para praktisi media dari NU," katanya.

Haedar Nashir

Madrasah Jurnalistik sendiri diselenggarakan setiap hari Ahad dari mulai jam 1 siang hingga 3 sore. "Pesertanya masyarakat umum khususnya aktifis muda NU baik di IPNU maupun IPPNU serta Fatayat yang mamiliki ketertarikan di dunia tulis menulis, khususunya pers," terangnya.

Kepada para peserta Madrasah Jurnalistik tersebut selalu diingatkan bahwa tidak ada kewajiban bagi mereka untuk akhirnya memilih profesi sebagai pegiat media atau menjadi jurnalis. "Minimal mereka bisa mengisi web yang ada di PCNU Kota Malang," kata dia kata dia sembari mengenalkan laman http://nu-kotamalang.org/ sebagai situs resmi NU setempat.

Dan secara khusus, kepada PW dan PC LTN NU se-Jatim yang hadir, Bapak Mahmudi juga berharap ada saling komunikasi dan sinergi antara para pegiat media di berbagai tempat. "Masih banyak yang dapat kita sisipkan di masing-masing website, disamping berita kegiatan dan pangangan para tokoh NU" katanya. Salah satunya adalah  radio streaming, mp3 serta video pengajian maupun taushiyah singkat yang dapat diunggah secara bersama, lanjutnya.

Dengan dibantu rekan pewarta lain, Bapak Mahmudi juga telah berhasil menulis setidaknya 30 ulama Malang. "Ini kerja kolektif dan alhmadulillah baru bisa menulis profil 30 ulama di sini," katanya merendah.

Haedar Nashir

Tidak terasa, PCNU Kota Malang akan segera paripurna. "Sebentar lagi akan ada konferensi cabang yang bisa jadi para pengurusnya akan berganti," kata dia. Namun demikian, paling tidak keberadaan website dan para jurnalis muda NU dapat dioptimalkan dalam mengunggah kelebihan Kota Malang di dunia maya. "Apa yang sudah kami dermabhaktikan semoga bisa diteruskan generasi penerus NU di masa mendatang," harapnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Nasional Haedar Nashir

Bonus Demografi Kaum Santri

Oleh A Khoirul Anam





Bonus Demografi Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Bonus Demografi Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Bonus Demografi Kaum Santri

Kaum santri berpusat pada pesantren dan secara kultural dipimpin dan patuh kepada kiai, meskipun tidak semua pernah mondok atau menetap dan belajar di pesantren. Mereka sudah terbiasa menjalani kesalehan agama Islam semenjak masih kecil. Mereka tidak mesti berdagang, bahkan sebagian besar adalah keluarga petani. (Trikotomi Clifford Geertz 1951-1952 tentang santri-abangan-priyayi seringkali mengganggu pemahaman kita mengenai perkembangan kaum santri ini. Meskipun setelah peristiwa G30SPKI 1965 Geertz datang lagi ke Indonesia dan mengubah tesisnya, kesimpulannya itu sudah terlanjur terbit menjadi buku dan dikutip sana-sini.) Tegasnya, kaum santri berafiliasi dengan organisasi NU.

Pada mulanya kaum santri ini berada di desa-desa yang lekat dengan tradisi keagamaan seperti ritual kelahiran dan kematian (Geertz sebaliknya menyebut tradisi ini sebagai abangan). Berikutnya, sebagian dari kaum santri bermigrasi dan menetap di kota-kota, menjadi orang kota dan beranak-pinak. Kira-kira mereka yang bermigrasi sejak tahun 1960-1970an, saat ini sudah mempunyai cucu. Proses migrasi terus berlanjut. Migrasi yang terjadi pada kurun 1990an dan 2000an lebih banyak lagi, silakan diamati setiap musim mudik lebaran.

Orang-orang di luar sana sedang membicarakan soal bonus demografi. Jumlah penduduk produktif Indonesia besar sekali. Sementara sukses dakwah Islam telah berhasil menjadikan Indonesia mayoritas Muslim, sehingga bonus demografi yang dimaksud di atas pasti berkaitan dengan besarnya generasi muda Muslim di Indonesia. Catatan berikut fokus pada bonus demografi kaum santri.

Pada 2015 lalu sebuah media massa nasional yang aktif melakukan survei, merilis berita yang membuat saya tersenyum. Hasil survei menunjukkan ternyata, 70 persen wartawan berbagai media nasional di Jakarta mengaku sebagai warga NU, atau Nahdliyin. Ini hanya satu bidang profesi, sekedar menunjukkan betapa percaya dirinya kaum santri yang hidup di kota. Pada satu sisi, kemandirian yang diajarkan secara praktis di pesantren menjadi bekal yang luar biasa untuk bersaing hidup di kota. (Dalam catatan ini saya perlu menyampaikan kekaguman kepada sosok Savic Ali, alumni pesantren yang hijrah ke kota dan kuliah di jurusan filsafat, kemudian menjadi aktifis dan sekarang menjadi pebisnis sukses di bidang teknologi-komunikasi.)

Haedar Nashir

Sesuatu yang menarik dalam bonus demografi sebenarnya bukan migrasi, tapi mobilitas sosial yang sudah terjadi pada kaum santri selama bertahun-tahun melalui beberapa bidang dan peran. Di bidang politik, kaum sarungan mulai meroket ke kancah nasional melalui Partai NU pada tahun 1955, dan berikutnya kiprah politik ini terus bertahan meskipun mengalami pasang-surut. Posisi kaum santri sangat kuat karena dalam sistem demokrasi yang selalu mengandalkan jumlah massa; sesuatu yang menjadi keunggulan kaum santri.

Berikutnya, kisaran akhir 1970an dan 1980an, sebagian kaum sarungan menjajaki dunia baru sebagai aktivis LSM, gerakan advokasi yang didahului dengan berbagai kajian kritis terhadap berbagai teks pesantren dan adaptasi berbagai kajian filsafat dan teori sosial dari Barat. Gus Dur menjadi satu ikon penting dalam hal ini. Kemudian tibalah era reformasi yang ditunggu-tunggu dan generasi ini sudah siap "merebut" jabatan strategis di lembaga-lembaga negara yang baru dibentuk, serta tenaga-tenaga ahli di berbagai bidang.

Sarana mobilitas sosial yang paling penting bagi kaum santri adalah pendidikan. Negara Indonesia ini harus berterimakasih kepada pesantren yang menyelamatkan pendidikan warga negara terutama di basis pedesaan dan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Pada awal masa kemerdekaan, pesantren yang sejak awal memilih jalur politik non-kooperatif terhadap sistem kolonial, memilih tetap menjadi institusi pendidikan tersendiri yang secara nomenklatur berada di bawah naungan Kementerian Agama, bukan Kementerian Pendidikan. Berikutnya, sebagian pesantren bermetamorfosa menjadi madrasah atau sekolah formal yang diakui oleh pemerintah dan menyeleggarakan juga pendidikan tinggi dengan berbagai bidang keahlian yang hampir sama dengan yang dikembangan di lembaga pendidikan tinggi umum. Kementerian Agama juga sangat aktif melakukan proyek “integrasi” ilmu agama-umum dan memfasilitasi kaum santri untuk mendalami bidang sains dan humaniora.

Haedar Nashir

Hasilnya, banyak sekali kaum santri yang mempunyai keahlian selain bidang agama-normatif. Bahkan, bukan rahasia lagi sejak dahulu putra-putri para tokoh NU disekolahkan di lembaga pendidikan umum, bukan di pesantren atau lembaga pendidikan Islam. Dan pada saat Indonesia mengalami bonus demografi, sudah banyak kaum santri yang menjadi ahli matematika dan statistik,ahli biologi dan kimia, ahli teknologi, ahli astronomi, bahkan ahli di bidang nuklir: Bidang-bidang keahlian ini mungkin tidak terpikirkan pada 31 Januari 1926.

Organisasi NU sebagai rumah besar kaum santri memang terlalu “tua” untuk merespon bonus demografi kaum santri ini, namun intsitusi yang dipimpin para kiai pesantren ini menjadi sarana “kopi darat” generasi santri yang sudah beredar kemana-mana. (Di Jakarta misalnya halaqah-halaqah, istighotsah atau kegiatan apapun menjadi saranan berkumpul kaum santri, sekedar ngobrol-ngobrol, bercanda dan membahas hal-hal yang tidak penting (tidak berkaitan dengan bidang profesi mereka).

Sebagian orang luar masih menganggap kaum santri hanya sebagai komunitas massa Islam yang berkecimpung di bidang agama. Misalnya, para wartawan yang diturukan untuk meliput berbagai kegiatan NU atau datang menemui kiai di pesantren hampir selalu wartawan desk-politik. Singkatnya, NU dan pesantren di kancah nasional hampir selalu identik dengan manuver politik dan fatwa keagamaan.

Namun siapapun tidak bisa membendung arus pergerakan generasi kaum santri di berbagai bidang dan pos-pos penting. Di bidang politik, beberapa santri duduk sebagai pimpinan berbagai partai politik. Di birokrasi, kaum santri juga tidak hanya masuk melalui jalur Kementeria Agama. Di bidang keahlian lain pergerakan kaum santri di era bonus demografi ini juga tidak bisa dibendung dan dihalangi oleh siapapun atau apapun. Semua berlangsung secara alamiah dan bebas dari pengaruh “konspirasi wahyudi” sekalipun.?

Penulis adalah Redaktur Haedar Nashir. Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya Haedar Nashir

Kamis, 01 Juni 2017

Madrasah di Lamongan Peringati Harlah NU dengan Upacara Bendera

Lamongan, Haedar Nashir. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif NU Darussalam Jatipandak, Sambeng,? Lamongan, Jawa Timur, menggelar upacara peringatan hari lahir NU ke-92 yang jatuh pada 16 Rajab 1436 H.

Selain diperingati menurut hitungan kalender masehi, yakni pada 31 Januari, warga NU di berbagai daerah juga merayakan peringatan tahunan tersebut berdasarkan hitungan kalender hijriyah.

Acara yang berlangsung khidmat di halaman madarasah setempat, Selasa (5/5) dan diikuti puluhan siswa, dewan guru, dan undangan dari badan otonom NU, baik Muslimat NU, Fatayat NU, Gerakan Pemuda Ansor, serta IPNU dan IPPNU.

Madrasah di Lamongan Peringati Harlah NU dengan Upacara Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah di Lamongan Peringati Harlah NU dengan Upacara Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah di Lamongan Peringati Harlah NU dengan Upacara Bendera

”Kita jangan pernah melupakan sejarah. Ulama pendiri melahirkan organisasi (NU) yang cinta damai sebagai perwujudan Islam rahmatan lil ‘alamin bukan Islam yang radikal,” kata kepala MI Darussalam, Kholison.

Haedar Nashir

Pria yang juga ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Jatipandak ini mengungkapkan, dengan adanya peringatan Harlah NU ke-92 ini diharapkan meningkatkan kecintaan siswa terhadap NU dan para ulamanya untuk melestarikan nuansa Islam yag ramah terhadap sesama.

“Mari kita doakan di harlah NU ke-92 ini, semoga NU semakin jaya dan memberikan manfaat ke semua umat,” imbuh Kholison.

Haedar Nashir

Setelah menggelar upacara, siswa-siswi diajak doa bersama di aula madarasah sebagai puncak acara harlah NU ke-92.? “ Anak-anak kami ajak membaca tahlil dan istighotsah supaya madarsah ini mendapat berkah dari peringatan harlah NU,” pungkasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir

Rabu, 31 Mei 2017

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag

Probolinggo, Haedar Nashir. Terkait tragedi Mina, Mustasyar PCNU Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta keluarga jamaah haji untuk tidak memercayai informasi selain rilis resmi Kementerian Agama (Kemenag) dan sumber berita korban Mina. Pasalanya, Hasan menambahkan, validitas informasi yang beredar diragukan.

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag

Demikian disampaikan Hasan kepada sejumlah wartawan usai pulang dari melaksanakan ibadah haji, Selasa (29/9). “Saya saja yang ada di sana tidak tahu kronologis pasti kejadian itu. Karena itu, meskipun ada teman yang telepon, sms atau BBM tanya kondisi di sana tidak saya jawab. Karena saya tidak tahu persis, kalau tidak tahu persis kemudian bercerita maka khawatir keliru,” ujarnya.

Informasi terkait kejadian Mina itu baru dia dapatkan dari sumber berita korban Mina, Saiful Bahri. Di mana anggotanya banyak yang menjadi korban.

Haedar Nashir

“Di Bandara Jeddah saya bertemu dengan pimpinan Komisi VIII yang bertindak sebagai pengawas haji. Mereka menyampaikan akan segera menggelar RDP (Rapat Dengan Pendapat) begitu jamaah haji pulang ke Indonesia,” katanya.

Haedar Nashir

Tidak hanya itu, dalam RDP itu Hasan juga diminta untuk mengajak serta Saiful. Sebab, Komisi VIII ingin mengetahui kondisi yang ada di sana versi Saiful yang juga sebagai korban. Apalagi dirinya mengaku sudah berbicara dengan Saiful usai melaksanakan rukun haji dan mengetahui kondisi sebenarnya saat tragedi itu terjadi.

Menurut Hasan, saat itu seluruh jamaah di kloter 48 berangkat ke Mina melalui jalur yang semestinya. Tetapi sampai di pertigaan, askar meminta untuk berbelok. Pengalihan itulah yang membuat tragedi itu terjadi. Saiful mengaku sudah melayangkan protes pada askar, namun tidak dihiraukan.

Saat itulah tragedi terjadi. Mulanya, ada 3 kursi roda yang seharusnya memuat orang ternyata memuat barang. Kursi roda itu macet dan ada mobil berhenti. Sehingga, banyak jamaah yang terhalang untuk lewat.

Di tengah padatnya manusia dan cuaca yang cukup terik, banyak jamaah yang panik dan ingin segera sampai. “Saat itu gelombang manusia menurut Saiful seperti ombak. Semuanya histeris, apalagi banyak yang kehausan gara-gara cuaca yang terik. Semuanya berteriak dan minta tolong, kondisi saat itu sangat tidak menguntungkan,” jelasnya.

Di kanan dan kiri jalur tersebut terdapat maktab jamaah dari negara lain. Sebagian jamaah yang selamat karena memanjat pagar. Anehnya, tidak satupun orang yang membuka pintu pagar di kanan dan kiri.

“Seandainya pagar dibuka, munngkin bisa mengurai kepadatan jamaah. Hal itulah yang kini menjadi pertanyaan, apa alasan askar mengalihkan jalur jamaah,” terangnya.

Oleh karena itu, Hasan berharap pemimpin-pemimpin negara yang mengirimkan jamaah untuk mendesak Arab Saudi menjelaskan alasan askar tersebut. Sehingga ke depan manajemen tata kelola haji bisa dilakukan dengan baik. Dengan demikian, jamaah bisa beribadah dengan khusyuk. “Solusinya perlu keterlibatan dari Negara-negara Islam dalam rangka perbaikan pelayanan ibadah haji di Arab Saudi,” tegasnya.

Hasan juga meminta agar masyarakat tidak saling menyalahkan supaya bisa menyejukkan. “Sekali lagi, jangan percaya sms dari siapapun yang tidak tahu persoalannya. Saya berani bicara karena tahu dari sumber berita yang juga menjadi korban,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Tokoh, AlaNu Haedar Nashir

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak masyarakat untuk mewujudkan Pilkada serentak tanpa konflik. Pilkada telah terlaksana, selanjutnya bersama-sama menjaga kondusivitas pascapencoblosan.

"Ayo kita kawal bersama agar suasana rukun dan guyub ini terus terjaga," kata Kiai Said Aqil sesaat setelah keluar dari Tempat Pemungutan Suara di samping kediamannya di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (15/2).

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan

Kiai Said menuturkan, ketenangan masyarakat pascapencoblosan sangat ditentukan oleh statemen, sikap dan tindakan politisi. Karena itu semua pihak yang berkepentingan dengan pilkada harus mengendalikan diri.

"Yang kalah harus bersabar, yang menang tetaplah rendah hati," nasihat kiai pengasuh Pondok Pesantren al-Tsaqofah Ciganjur ini.

Jika masyarakat mampu mempertahankan kondusivitas ini, bagi Kiai Said Aqil, merupakan kemajuan luar biasa. "Demokrasi makin matang dan tentu manfaatnya kembali ke masyarakat," ujar Kiai Said Aqil.?

Haedar Nashir

Sebelumnya, ia mengeluarkan seruan agar warga bersikap bijak terhadap pilkada ini, termasuk dalam hal perbedaan pilihan politik. Menurutnya, perbedaan aspirasi harus disikapi secara wajar dan dianggap sebagai proses pendidikan politik warga.?

Haedar Nashir

“Perbedaan pendapat itu yang membuat kita cerdas, kritis. Tapi tidak boleh kemudian saling menjatuhkan, apalagi fitnah,” ujarnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, PonPes Haedar Nashir