Kamis, 14 September 2017

Mapala dan PMII IAINU Kebumen Bantu Korban Banjir Alian

Kebumen, Haedar Nashir. Mahasiswa Pencita Alam Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komsiariat kampus tersebut menggalang dana sosial untuk membantu dampak banjir bandang di Kecamatan Alian, Kebumen, Jawa Tengah.

Mapala dan PMII IAINU Kebumen Bantu Korban Banjir Alian (Sumber Gambar : Nu Online)
Mapala dan PMII IAINU Kebumen Bantu Korban Banjir Alian (Sumber Gambar : Nu Online)

Mapala dan PMII IAINU Kebumen Bantu Korban Banjir Alian

Penggalangan dana dilakukan para mahasiswa NU tersebut sejak Sabtu pagi hingga sore (29/11) di jalan utama Kebumen, tepatnya Tugu Lawet dan tempat strategis lainnya.

Pengalanag  dana mendapatkan total Rp 6.200.000,-00. Uang tersebut langsung dibelikan bahan kebutuhan pokok yaitu1 kwintasl beras, 50 dus mie, 1 karton minyak goreng, 20 kg gula, 1 karton kopi, 1 bal teh, dan minuman berupa botol sebanyak 20 dus. Semua barang itu langsung diantarkan ke lokasi setelah magrib di posko 2 Krakal Alian.

Haedar Nashir

Mapala IAINU Kebumen bukan hanya menggalang bantuan, sejak pertama banjir, mereka bekerja sama dengan BPBD dan RAPI berada di lapangan, melakukan evakuasi korban. Anggota Mapala yang perempuan bekerja di bagian adminitrasi pendataan korban atau di pos utama balai desa menerima laporan dari tim RAPI dan BPBD Kebumen.

Haedar Nashir

“Sampai saat ini Mahasiswa Pencita Alam  masih berada di lokasi sejak awal kejadian tanggal 26-29 November 2014 sebagi relawan untuk mendeteksi kebutuhan masyarakat yang terkena korban,” ungkap Bahrun Alimurtopo, mahasiswa kampus tersebut.

Menurut dia, Mapala IAINU masih berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam pengadaan komsumsi. Saat ini warga belum bisa memasak karena rumah mereka dalam proses pembersiahan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Rabu, 13 September 2017

Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok

Pasuruan, Haedar Nashir - Bentuk stan pameran pada acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Gerakan Ayo Mondok 2016 yang diinisiasi PP Rabithah Maahid Islamiyah NU kali ini terlihat mirip dengan masjid Jinggo yang bergaya Tiongkok. Di atas bangunan stan terlihat tulisan berlafal “Allah”. Silatnas sendiri berlokasi di area Taman Chandra Wilwatikta Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jumat-Ahad (13-15/5).

Ketua panitia lokal KH Ahmad Taufik (Gus Taufik) mengatakan, "Itu temanya Masjid Jinggo, salah masjid Pandaan yang dibangun oleh Pemkab Pasuruan.”

Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok

Pemkab Pasuruan beberapa tahun lalu membangun masjid dengan arsitektur bergaya China, karena untuk mengabadikan penyebaran Islam di tanah Jawa melalui berapa jinggo yang pernah datang ke Pasuruan. “karena pasukannya, orang-orang pernah ikut memperkuat Islam di Pasuruan," kata Gus Taufik di sela kegiatan pembukaan diskusi terbatas, Sabtu (14/5) siang.

Haedar Nashir

Jasa mereka kemudian diabadikan menjadi Masjid Jinggo. Untuk itu pihak panitia mengambil inspirasi pameran itu dari Masjid Jinggo.

Ia menjelaskan, pameran tersebut diikuti 70 stan yang terdiri atas 50 stan berbagai pegawai kecamatan dan dinas-dinas di Pemkab Pasuruan. Sementara 20 stan lainnya diisi oleh komunitas Nahdlatul Ulama.

"Masjid Jinggo ini merupakan ikon masyarakat Pandaan," terangnya.

Haedar Nashir

Terlihat mulai awal Silatnas dibuka suasana pameran waktu itu ramai didatangi pengunjung dari berbagai daerah yang ingin melihat-lihat atau membeli produk-produk unggulan kreativitas mereka. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Hikmah Haedar Nashir

Protes Malaikat Ketika Manusia Didaulat sebagai Khalifah

Pringsewu, Haedar Nashir. Pengasuh Pondok Pesantren Al Muawanah Fajaresuk, Pringsewu KH Tamrin Mahera pada Ngaji Ahad (Jihad) pagi (30/8) mengupas kandungan makna yang termaktub dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 30. Yaitu dialog antara malaikat dengan Allah SWT tentang manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Protes Malaikat Ketika Manusia Didaulat sebagai Khalifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Protes Malaikat Ketika Manusia Didaulat sebagai Khalifah (Sumber Gambar : Nu Online)

Protes Malaikat Ketika Manusia Didaulat sebagai Khalifah

Kiai Tamrin menerangkan bahwa pada mulanya para malaikat tidak setuju jika manusia didaulat sebagai khalifah di bumi karena akan berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah.

Hal ini berbeda jauh dengan para malaikat yang senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Allah SWT. Protes malaikat ini dijawab dengan firmanNya, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Haedar Nashir

Mendengar hal itu, para malaikat pun merasa bersalah dan kemudian mengelilingi Arsy sebanyak tujuh kali sebagai upaya untuk menebus kesalahannya sembari mengucapkan tasbih mengagungkan Allah SWT.

dari penjelasan itu, menurut Kiai Tamrin, manusia seharusnya mencontoh para malaikat yang ketika berbuat kesalahan segera menebus kesalahannya dengan berbuat sesuatu. "Semakin takut kepada Allah semakin bagus. Ketakutan harus ditunjukkan dengan perilaku, tidak berdiam diri saja," ujarnya.

Haedar Nashir

Sikap seperti ini harus dilakukan siapapun dan dimanapun. "Mari Beristighfar sebagai upaya untuk menunjukkan rasa bersalah kita sekaligus mengharap apa yang sudah kita lakukan akan diampuni oleh Allah," ajaknya.

Nampak hadir pada Kegiatan Jihad Pagi tersebut Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi yang menjadi moderator, Wakil Ketua PWNU Lampung H. Heri Iswahyudi, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali, Ketua PHBI Kabupaten Pringsewu H. Suyadi dan Ketua LBM NU Provinsi Lampung Ustadz Munawir. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Kajian Haedar Nashir

Selasa, 12 September 2017

Imam Aziz Akan Terima Anugerah Perdamaian di Korea

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua PBNU Imam Aziz menerima kunjungan kehormatan lima orang tamu dari The Jeju 4.3 Peace Foundation (Yayasan Perdamaian Jeju 3 April) Korea. Rombongan tersebut diterima Imam di lantai 4 gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Selasa (27/1) sore.

Salah satu organisasi nonprofit Korea ini berencana memberikan anugerah perdamaian kepada Imam Aziz atas jasanya mengadvokasi para korban kekerasan Tragedi Gerakan 30 September 1965 (Gestapu).

Imam Aziz Akan Terima Anugerah Perdamaian di Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Aziz Akan Terima Anugerah Perdamaian di Korea (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Aziz Akan Terima Anugerah Perdamaian di Korea

Kepada Imam Aziz, ketua rombongan dari Korea, Prof Koh Younghun, menyatakan rasa bahagia dan terima kasihnya atas penerimaan kunjungan mereka. Atas nama Jeju Foundation, Koh menyampaikan kabar gembira terkait penganugerahan “The Jeju 4.3 Peace Award” untuk Ketua PBNU kelahiran Pati ini.

Haedar Nashir

“Kami mengucapkan terima kasih banyak telah meluangkan waktu. Pada kesempatan ini, kami mengabarkan bahwa Pak Imam terpilih sebagai penerima anugerah perdana istimewa dari Jeju Peace Foundation yang baru berdiri tahun lalu,” ujar Koh.

Koh berharap, kunjungan tersebut makin menguatkan hubungan persahabatan kedua negara kian kuat. “Harapan kami, hubungan Korea-Indonesia makin baik. Kami melihat NU paling besar di Indonesia, bahkan di dunia. Harapan kami, pengalaman Pak Imam selama di Korea nantinya dapat ditularkan di sini,” harapnya.

Haedar Nashir

Menurut Koh, acara penganugerahan kepada para tokoh perdamaian akan digelar pada 1 April 2015 di Korea. Dua hari berikutnya, 3 April mereka diminta untuk mengikuti upacara peringatan tragedi pembantaian warga tertuduh komunis di Pulau Jeju, Korea, yang menewaskan tak kurang dari 30.000 jiwa. Imam Aziz dan para penerima anugerah? lainnya dijadwalkan tinggal sepekan di Negeri Ginseng.

Dalam catatan aktivis perdamaian Korea, Imam Aziz menginisiasi berdirinya Syarikat (Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat) Indonesia untuk kepentingan rekonsiliasi masyarakat sipil.

Kepada mereka, Imam menceritakan kembali pengalamannya saat menginisiasi Syarikat Indonesia yang memiliki jaringan di 35 kota. “Masing-masing kota menginvestigasi para korban peristiwa 1965. Antara lain para eks pulau Buru, ibu-ibu atau perempuan yang jadi korban, serta orang-orang NU yang tertuduh sebagai pembunuh,” paparnya.

Menurut Imam Aziz, problem yang masih tersisa dari tragedi 1965 adalah belum adanya langkah berarti dari pemerintah. “Sampai sekarang, pemerintah belum memiliki langkah konkret bagi tragedi itu. Akibatnya, kekerasan selalu terulang. Lihat saja ketika Pilpres kemarin, isu PKI muncul lagi untuk menyerang lawan politik,” ungkapnya.

Imam Aziz berharap, paling tidak tahun ini persoalan tragedi 1965 selesai. “Harapan saya, pemerintah mau minta maaf seperti pernah dilakukan Presiden Gus Dur dulu. Minimal ada pernyataan menyesal atas peristiwa itu. Kemudian, ada jaminan perbaikan hak-hak politiknya,” tandas Imam.

Imam mengaku sangat bangga dan berterima kasih kepada The Jeju 4.3 Peace Foundation yang akan memberikan penghargaan kepada dirinya. “Saya menilai ini merupakan penghargaan tidak hanya bagi saya pribadi. Namun juga para sahabat di Syarikat dan bagi NU secara keseluruhan,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Senin, 11 September 2017

Hari Kartini, IPPNU Bandung Deklarasi Pelajar Anti Narkoba

Bandung, Haedar Nashir. Dalam peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4) kemarin, Pimpinan Cabang IPPNU kota Bandung menyatakan Deklarasi Pelajar Anti Narkoba di MTs Sirnamiskin, Kopo, kota Bandung, Barat. Deklarasi ini diikuti oleh seratusan pelajar dari tingkat MTs, MA dan SMK beserta para staf guru yang berada dalam satu Yayasan Sirnamiskin itu.

“Yang melatarbelakangi deklarasi pelajar adalah sebagaimana diketahui narkoba kini marak di kalangan pelajar, banyak pelajar yang sudah mengkonsumsi narkoba, sehingga IPPNU bertekad untuk mendeklarasikan bahwa pelajar (NU) di kota bandung bebas dan tidak akan mengenal narkoba,” kata Ketua IPPNU kota Bandung Dhilla Nuraeni Az-Zuhri kepada Haedar Nashir.

Hari Kartini, IPPNU Bandung Deklarasi Pelajar Anti Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Kartini, IPPNU Bandung Deklarasi Pelajar Anti Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Kartini, IPPNU Bandung Deklarasi Pelajar Anti Narkoba

Dhilla nama sapaannya memandang penting bagi pelajar, khususnya IPPNU untuk menyikapi permasalahan narkoba, karena narkoba bukanlah budaya dari bangsa Indonesia di samping itu juga dapat menyengsarakan rakyat Indonesia.

Haedar Nashir

“Narkoba juga kejahatan yang luar biasa di mana kita sebagai pelajar harus menjauhi narkoba,” ujarnya.

Deklarasi Anti Narkoba, lanjut Dhilla, berupaya untuk berkomitmen bahwa pelajar di kota Bandung selamanya tidak akan mengenal narkoba serta menyatakan perang terhadap narkoba. “Tidak akan melakukan kegiatan penyalahgunaan narkoba dan akan menciptakan generasi Indonesia yang aktif, kreatif, inovatif dan berprestasi tanpa narkoba,” tambah dia.

Haedar Nashir

Dengan pengawalan yang rapi dan tertib dari Banser kota Bandung, sosialisasi tentang bahaya narkoba dan deklarasi yang dihadiri oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) kota Bandung itu berjalan dengan lancar. Sementara yang memimpin pembacaan teks Deklarasi Anti Narkoba adalah salah satu staf BNN dari bagian Tim Pencegahan, lalu teks deklarasi yang dibacakan diikuti serentak oleh peserta deklarasi. 

Menurut Dhilla, tindak lanjut dari deklarasi tersebut pihak IPPNU dan  BNN Kota Bandung akan melibatkan sekolah-sekolah dengan secara rutin tiap bulan memberikan penyuluhan serta aksi untuk tidak mengkonsumsi narkoba.

Dhilla berharap dengan diadakannya deklarasi tersebut dapat menjadikan pelajar Indonesia khususnya kota Bandung semakin sadar bahwa narkoba itu sangat brbahaya. “Pelajar Indonesia harus terbebas dari narkoba, karena narkoba akan merusak generasi penerus bangsa dan agama,” harap alumni Universitas Islam Nusantara itu.

Selain sosialisasi tentang bahaya narkoba dan deklarasi pelajar anti narkoba, dalam acara yang berlangsung sehari itu PC IPPNU juga menggelar Semarak Hari Kartini dengan mengadakan kompetisi pemilihan Mojang Jajaka yang ikuti oleh para siswa-siswi di kota Bandung. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Kiai, Pertandingan Haedar Nashir

Minggu, 10 September 2017

IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah

Wonosobo, Haedar Nashir

Sejumlah pemuda yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Watumalang, Wonosobo, Jawa Tengah, Ahad (19/6), menggelar acara buka puasa dan tarawih bersama jamaah Ahmadiyah di Masjid Al-Mubarok Dusun Sumber, Desa Lumajang, Kecamatan Watumalang yang merupakan basis terbesar jamaah Ahmadiyah di Kabupaten Wonosobo.

IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah

Ketua Pengurus Takmir Masjid Al-Mubarok Satoto, yang mewakili jamaah Ahmadiyah memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh kader IPNU-IPPNU Watumalang tersebut. Ia mengaku bangga bahwa kader IPNU-IPPNU mau menjaga silaturahim dengan umat Islam lain meskipun mempunyai perbedaan secara ideologis. Selain itu, ia juga memuji Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam yang memegang erat nilai-nilai toleransi.

"Dalam keadaan bangsa Indonesia yang sedang dilanda krisis moral ini, kami merasa bangga memiliki Nahdlatul Ulama yang merupakan ormas Islam yang sangat toleran terhadap kelompok lain, bukan hanya dalam internal Islam saja. Akan tetapi kepada umat agama lain," tambahnya.

Haedar Nashir

Sementara itu, M. Sairin, senior IPNU Watumalang, mengungkapkan bahwa acara tersebut merupakan upaya untuk menjaga tali silaturahim dan kesatuan serta persatuan umat Islam yang akhir-akhir ini banyak diwarnai dengan perpecahan.

"Dengan acara ini kami berharap kerukunan antarumat Islam selalu terjaga, perbedaan bukanlah alasan untuk saling berpecah-belah. Saling menghargai perbedaan adalah hal yang sangat penting untuk selalu dilakukan," tuturnya.

Haedar Nashir

Bukan hanya itu, dalam acara tersebut IPNU-IPPNU Kecamatan Watumalang memberikan sejumlah Al-Quran kepada Masjid Al-Mubarok sebagai kenang-kenangan yang diharapkan dapat dipergunakan untuk kemanfaatan jamaah Ahmadiyah di sana. Acara tersebut ditutup dengan taushiyah yang disampaikan Ketua Tanfidziyah MWCNU Watumalang Kiai Mansyur. Ia menekankan pentingnya bersyukur kepada Allah dan hikmah di balik bulan Ramadhan.

Acara buka dan tarawih bersama tersebut merupakan rangkaian kegiatan Ramadhan yang secara rutin dilakukan oleh IPNU-IPPNU Kecamatan Watumalamg yang selanjutnya akan disusul dengan kegiatan serupa serta santunan anak yatim di daerah Watumalang pada Sabtu (25/6), sebagai acara puncak dari rangkaian kegiatan tersebut. (Bujang Fajar Al-fatih/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Pondok Pesantren, Berita Haedar Nashir

Konfercab IPNU-IPPNU Malang Disambangi Kiai Tolhah Hasan

Malang, Haedar Nashir. Menjadi sangat lengkap dan hangat suasana Konferensi Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Malang ke XIV-XIII ketika hadir sang tokoh sekaligus pakar Pendidikan Nahdlatul Ulama’ Prof Dr KH M Tolhah Hasan.?

Konfercab IPNU-IPPNU Malang Disambangi Kiai Tolhah Hasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab IPNU-IPPNU Malang Disambangi Kiai Tolhah Hasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab IPNU-IPPNU Malang Disambangi Kiai Tolhah Hasan

Di sela-sela kesibukan beliau yang sangat padat, ia berkenan menghadiri undangan panitia untuk memberikan semangat dan wawasan pada generasi muda NU agar menjadi kader yang professional dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan bangsa Indonesia. ?

Kehadiran Mantan Menteri Agama RI 1999-2001 ini diharapkan bisa menambah wawasan kepada seluruh yang hadir pada kegiatan konferensi tersebut tentang pentingnya berorganisasi khususnya IPNU-IPPNU dan perannya dalam mewujudkan Indonesia yang maju.?

Haedar Nashir

Mantan wakil rais aam ini berpesan “Kader IPNU-IPPNU harus tamat pendidikannya menjadi generasi emas 10 tahun mendatang untuk menghadapi dampak arus globalisasi yang mana kita dihadapkan dengan masyarakat yang terbuka dan berpendidikan sehingga berpikir rasionalis dan kritis, serba bersaing serta materialis menggeser nilai-nilai moral dan berbuat semaunya tanpa mempertimbangkan nilai-nilai agama”.?

Haedar Nashir

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ika Rosaria?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Kyai, IMNU Haedar Nashir