Minggu, 08 Oktober 2017

Kiai Sederhana yang Menghindari Pejabat ini Telah Berpulang

Jember, Haedar Nashir

Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Curahkates Ajung Jember, KH Sam’ani telah wafat pada hari Sabtu malam, 16 Pebruari 2013 dalam usia 88 tahun. 

Kiai Sam’ani sosok tokoh yang istiqamah mengajar di pesantren dan terkenal Wara’. Waktu hidupnya dikonsentrasikan untuk membaca kitab dan membimbing santri beribadah. 

Kiai Sederhana yang Menghindari Pejabat ini Telah Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sederhana yang Menghindari Pejabat ini Telah Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sederhana yang Menghindari Pejabat ini Telah Berpulang

Menurut Gus kholik (menantu Kiai Sam’ani), Abah, panggilan akbar beliau, dalam sehari semalam membaca 13 judul kitab. Bermula dari setelah subuh, pagi, siang dan malam. 13 judul kitab itu dibaca di tempat lingkungan pesantren yang berbeda-beda, di Masjid, mushalla, di teras pesantren dan di dalem Kiai sepuh.

Haedar Nashir

Selain mulang, Kiai Sam’ani selalu menjaga waktu shalat untuk berjama’ah dengan para santri. 

Haedar Nashir

Ia termasuk Kiai yang tidak berpolitik dan tidak pernah datang ke pejabat. Kata Gus khalik, Kiai Sam’ani pernah didatangi bupati, kedatangan bupati tidak beliau sambut dengan upacara atau penyambutan yang meriah. Bahkan saat bupati masuk ke dalem, Kiai Sam’ani tanya, 

Jenengan dari mana? dan kerja dimana?”

Spontan salah satu rombongan bupati itu menunjakkan, bahwa ini bupati Jember. 

Kiai Sam’ani langsung dawuh saya minta maaf, karena tidak tahu dan tidak kenal Bupati jember. Setelah selesai ramah tamah bupati pamitan dan memberi amplop yang berisi uang. Tidak berapa lama Kiai Sam’ani langsung memanggil pengurus pesantren agar amplop itu dibuka, dan uang yang ratusan ribu disuruh tukar puluhan ribu untuk diberikan pada faqir miskin. 

Kiai Sam’ani tidak mengambil dan menikmati se-rupiah pun uang tersebut.  Gus Khalik juga menuturkan, salah satu kebiasaannya, kalau di pesantren ada acara Imtihan dan haul, ia biasanya keliling mendatangi para tetangga yang tidak mampu, ia membagi-bagikan uang dengan alasan kasihan mereka di pesantren ada ramai-ramai banyak orang jualan, nanti anak-anak mereka minta dibelikan sesuatu. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Misbahus Salam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

Wabup Subang: Pesantren Terbukti Cetak Generasi Handal

Subang, Haedar Nashir. Wakil Bupati Subang Imas Aryumningsih menyebutkan bahwa peran ulama, santri dan pesantren begitu vital bagi bangsa Indonesia.

Wabup Subang: Pesantren Terbukti Cetak Generasi Handal (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabup Subang: Pesantren Terbukti Cetak Generasi Handal (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabup Subang: Pesantren Terbukti Cetak Generasi Handal

“Ajaran agama tentu menjadi filter atas budaya global yang merusak moral bangsa sehingga peran pesantren sangat besar di Indonesia ini,” ujar Imas seusai memperingati Hari Santri Nasional di Wisma Karya Subang, Sabtu (22/10).

Menurut Imas, sebagaimana kemajuan teknologi yang digunakan salah kaprah, menjadikan generasi muda bangsa Indonesia begitu mudah terpengaruh hal negatif. “Maka kehadiran pesantren Insyaallah dapat membendung itu semua," katanya.

Haedar Nashir

Hal yang tak kalah pentingnya, lanjut Imas, peran alim ulama juga merupakan panutan masyarakat. “Tanpa mereka (alim ulama, red), negara tidak akan tentram karena orang tidak diajarkan untuk sabar dan sebagainya,” ucapnya.

Karena, lanjut Ketua DPD Golkar Subang ini, proses pengasuhan yang dilakukan oleh para alim ulama di pondok pesantren sudah terbukti sebagai tempat untuk mencetak generasi-generasi yang handal.

Haedar Nashir

“Inilah kelebihan khusus di pondok pesantren. Orang tua jadi tenang saat menitipkan anak di pesantren. Saya rasa lebih aman di pesantren, selama 24 jam anak kita dibimbing penuh oleh seorang alim ulama,” tegasnya.

Selain mendukung dan mengapresiasi refleksi HSN, Imas juga mengajak kepada segenap elemen masyarakat untuk mendukung gerakan Ayo Mondok. “Jangan khawatir, seorang ulama, ataupun kiai, memiliki metodologi sendiri dalam membina santrinya. Dan saya yakin, berkat doa dari ulama anak-anak kita menjadi anak yang berguna untuk nusa dan bangsa,” pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah Haedar Nashir

Sabtu, 07 Oktober 2017

Kemensos Target 10.000 e-Warong Berdiri pada 2018

Kendari, Haedar Nashir. Kementerian Sosial menargetkan pertumbuhan jumlah Layanan elektonik Warung Gotong Royong (e-Warong) mencapai 10.000 buah seiring perluasan jangkauan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) hingga 10 juta keluarga di tahun 2018 mendatang.?

Kemensos Target 10.000 e-Warong Berdiri pada 2018 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemensos Target 10.000 e-Warong Berdiri pada 2018 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemensos Target 10.000 e-Warong Berdiri pada 2018

"Tahun ini (2017-red) kami baru menargetkan tambahan 2500 buah e-warong yang tersebar di 98 kota. Tapi tahun depan jumlahnya akan meningkat lebih dari tiga kali lipat," ungkap Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat pencairan Program Keluarga Harapan (PKH) Non Tunai di Pendopo Walikota Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (14/4).?

Dikatakan, 2500 buah e-warong yang dibangun tahun 2017 diperuntukkan guna melayani sebanyak 1,286 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan total nilai sebesar Rp1,7 triliun.

Adapun jumlah sasaran penerima rastra ada sebanyak 15,5 juta. Dengan demikian konversi Rastra menjadi BPNT masih menyisakan sedikitnya 5,5 juta keluarga yang masih menggunakan sistem lama pada tahun 2018.

Haedar Nashir

Khofifah menjelaskan, BPNT merupakan lompatan besar Pemerintah melalui Kemensos dalam menyalurkan program subsidi beras sejahtera (Rastra) yang sebelumnya telah dijalankan.

Skema bantuan tersebut mengubah metode subsidi beras yang sebelumnya disalurkan dengan ditebus 1600 per kilo oleh penerima manfaat. Sementara BPNT diterimakan oleh KPM dengan membelanjakan dana bantuan setiap bulannya sebesar 110 perbulan untuk membeli bahan pangan yang sudah ditentukan di e-Warong.?

Khofifah mengatakan penerima manfaat BPNT juga akan semakin mudah dalam mencairkan bantuan karena adanya teknologi interkoneksi dan interoperabilitas. Teknologi ini, lanjutnya, memungkinkan penerima bansos mencairkannya di seluruh ATM bank milik negara.?

"Kapanpun dan dimanapun, KPM bisa mengambil dana jika sewaktu-waktu dibutuhkan," tuturnya.

Haedar Nashir

Kucurkan Bansos Rp21,4 Miliar

Sementara itu, dalam kunjungan kerja di Kota Kendari Mensos menyalurkan bantuan sosial senilai total Rp21,47 miliar. Bantuan tersebut terdiri dari bantuan sosial PKH tunai untuk 4.762 KPM dengan nilai bantuan Rp9 miliar.?

Selanjutnya Beras Sejahtera (rastra) untuk 8.787 keluarga dengan nilai bantuan Rp12 miliar. Bansos Disabilitas untuk 37 jiwa dengan nilai bantuan sebesar Rp111 juta. Bansos Lanjut Usia untuk 60 jiwa dengan nilai bantuan sebesar Rp120 juta. Dan, Bansos KUBE Perkotaan kepada 100 keluarga senilai Rp200 juta.?

"Untuk PKH Kota Kendari semuanya sudah disalurkan secara non tunai. Sementara untuk BPNT sedianya akan disalurkan tahun 2018," imbuhnya.?

Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat mengungkapkan, terkoneksinya masyarakat miskin dengan perbankan membuat mereka dapat memanfaatkan berbagai produk dan jasa keuangan formal seperti ? transfer, menabung maupun pinjaman serta asuransi.?

Ditambahkan, intervensi pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan pun semakin efektif. Karena bantuan sosial dan subsidi diintegrasikan dalam satu kartu yaitu Kartu keluarga Sejahtera (KKS) yang memiliki fitur uang elektronik dan tabungan sehingga bisa menampung bansos PKH, Pangan, Subsidi LPG 3 Kg, dan subsidi listrik. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Ubudiyah Haedar Nashir

Bagaimana Hamba Bisa Masuk Neraka?

Suatu ketika Nabi Musa as. mengadu kepada Allah, “Wahai Tuhan! Engkau ciptakan makhluk dan Kau berikan kenikmatan rizki. Kau (pula) yang menjadikan (sebagian) pengikutku masuk neraka.”

Allah berfirman, “Bangkit dan bertanamlah, wahai Musa!”

Nabi Musa lalu bercocok tanam dan menyiraminya. Ia melakukan hal itu hingga masa panen tiba.

Bagaimana Hamba Bisa Masuk Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Hamba Bisa Masuk Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Hamba Bisa Masuk Neraka?

“Apa yang kau dapat dengan tanamanmu itu, Musa?”

“Aku telah memanennya,”

“Apakah sedikit yang tersisa?”

Haedar Nashir

“Aku tak pernah menyisakan sesuatu yang tak ada kebaikannya,”

Allah berfirman, “Wahai Musa! Aku memasukkan hamba yang tak mempunyai kebaikan ke dalam neraka,”

“Siapakah dia?”

“Dia adalah yang meremehkan kalimat Laa Ilaaha Illa Allah Muhammadur Rasulullah,”

(Ajie Najmuddin/ disarikan dari kitab Al-Mawaidh Al-Ushfuriyyah)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Quote, Pahlawan Haedar Nashir

Jumat, 06 Oktober 2017

Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong

Gembong, Haedar Nashir. Pada hari Jum’at sampai Ahad (24-26 Maret 2017) Yayasan Bani Karim, Yayasan Al-Ma’arif Gembong, dan Pondok Pesantren Shofa Azzahro Gembong Pati mengadakan peringatan Haul ke-33 Mbah Muhammad Karim. Kegiatan Haul Mbah Karim dipusatkan di Ponpes Shofa Azzahro Gembong. Diawali dengan khataman Qur’an bil-ghoib, bin-nadhor, pawai atau karnaval mengelingi Desa Gembong, tahlil umum di makam Mbah Karim, dan santunan anak yatim/piatu.

Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong

Puncak dari kegiatan Haul Mbah Karim diisi dengan pengajian akbar oleh KH. Syarofuddin Qoimas dari Rembang Jawa Tengah, hadir pula Bupati Pati H. Haryanto, MM, M.Si, Ketua Tanfidziah PCNU Pati KH. Ali Munfaat, M.Pd, Ketua FKUB Dr. KH. Ahmad Khoiron, M.Pd, KH. Rusdi anggota DPRD Kabupaten Pati, Kapolsek Gembong, Koramil Gembong, Kepala Desa Gembong, dan para kiai, santri, wali santri, alumni, dan masyarakat Kecamatan Gembong sekitarnya.

Mbah Muhammad Karim sendiri adalah seorang kiai yang lahir sekitar tahun 1890an dan meninggal di tahun 1984. Sewaktu masih remaja, Karim muda nyantri di Piji Dawe Kudus yang diasuh oleh KH Shiddiq dan kemudian melanjutkan nyantri di kakeknya Mbah Sahal Mahfudz (mantan Rais Aam PBNU) yang bernama KH. Salam Kajen Margoyoso Pati. Kemudian setelah selesai mondok dan menikah, ia diamanahi untuk memimpin NU di Gembong Kab. Pati, sehingga beliau menjadi Ketua NU pertama di Gembong Kabupaten Pati.

Secara garis besar, terdapat tiga perjuangan inti dari Mbah Karim. Pertama seorang pejuang kemerdekaan, karena kontribusinya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, rumah beliau menjadi saksi bagaimana para pejuang menjadikan kediaman Mbah Karim sebagai tempat transit dan menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan senjata. Atas hal itulah, akhirnya membuat nama Mbah Karim menjadi salah satu daftar orang yang dicari untuk ditangkap Belanda. Namun, menurut penuturan mantan santri Mbah Karim yang bernama Mbah Abdullah Gembong, bahwa berkali-kali Belanda mencoba menangkap Mbah Karim tetapi selalu gagal. Mbah Abdullah meyakini bahwa kejadian tersebut terjadi lantaran karomah Mbah Karim yang memang sejak remaja sudah terbiasa tirakat dan puasa. Perjuangan itu pun terus berlanjut sampai pada masa penjajahan Jepang dan pemberontakan PKI 1965.

Haedar Nashir

Kedua, seorang pejuang pendidikan di Kecamatan Gembong Pati, lantaran surau yang dibangun pada tahun 1927 menjadi saksi bagaimana anak-anak dan remaja-remaja di Gembong di waktu itu bisa mendapatkan pendidikan mengaji, pendidikan shalat, sampai pendidikan kanuragan. Bahkan dari surau sederhana itupun akhirnya berkembang di tahun 1971 bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang besar dengan nama Yayasan al-Ma’arif Gembong yang mengelola pendidikan mulai dari jenjang PAUD, TK, MI, MTs, MA, SMK dan Pondok Pesantren Shofa Azzahro yang sudah meluluskan ribuan murid dan santri.

Ketiga, seorang pejuang Islam dan Nahdlatul Ulama di Kecamatan Gembong. Hidup Mbah Karim hampir seluruhnya dihabiskan untuk berjuang untuk mengembangkan Islam dan Nahdlatul Ulama’ di Kecamatan Gembong Pati. Sampai-sampai pada waktu itu, di zaman sebelum kemerdekaan dan awal-awal kemerdekaan beliau untuk dakwah di desa-desa pelosok di wilayah Gembong harus berangkat sore dan pulangnya menjelang subuh, mengingat ditempuh jalan kaki dengan medan yang berat. Perjuangan itu terus dijaga dan diistiqomahi sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1984.?

Kini, perjuangan Mbah Karim Gembong dilanjutkan oleh putra-putri beliau, menantu dan cucu-cucunya, di antaranya adalah seperti KH. Imam Shofwan putra kedua dari Mbah Karim adalah seorang muballigh, mantan anggota DPRD Fraksi PPP periode 1982-1987 Kabupaten Pati, mantan Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Pati tahun 2009-2014, dan sekarang adalah Mustasyar PCNU Kabupaten Pati. Putra ketiga, almarhum KH. Muhammad Sudirman mantan Ketua MUI Kecamatan Gembong, putra keempat KH. Nur Kholid mantan Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Margorejo Kab. Pati periode 2010-2015, putra kelima KH. Abdul Qohar Ketua Yayasan al-Ma’arif Gembong periode 2010-sampai sekarang, dan Kiai Sholikhin Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Gembong periode 2014-sampai sekarang. Ditambah lagi Nyai Hj. Fatimatuzzahro menantu beliau merupakan muballighoh ternama di Kabupaten Pati sekaligus Ketua Muslimat NU PAC Gembong dari tahun 1994-sampai sekarang, dan menantu lain Ibu Maria Ulfah adalah Ketua Fatayat PAC Kec. Gembong dari tahun 2006-sampai sekarang. Salah satu cucu dari Mbah Karim yang sudah bergerak di tengah-tengah masyarakat yaitu Faiz Aminuddin, MA Kaprodi PMI IPMAFA dan Sekretaris LTN NU Kabupaten Pati periode 2014-sampai sekarang.

Haedar Nashir

Untuk itulah, dengan diadakan Haul KH. Muhammad Karim yang ke-33 harapannya bisa tetap menghidupkan ajaran-ajaran dari beliau seperti nilai-nilai keikhlasan dan kedermawanan beliau, sekaligus dapat memberikan spirit dan juga inspirasi kepada keluarga, santri, serta masyarakat untuk bisa melanjutkan perjuangan-perjuangan yang pernah beliau rintis. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Berita Haedar Nashir

Menteri Desa Ajak GP Ansor Kawal Pembangunan dan Alokasi Anggaran Desa

Jakarta, Haedar Nashir - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDDT) Eko Putro Sanjoyo mengunjungi Kantor Sekretariat Pimpinan Pusat GP Ansor di Jalan Kramat Raya 65A, Jakarta, Selasa (11/1) malam. Pada pertemuan ini Eko mengharapkan segenap jaringan GP Ansor di daerah untuk ikut mengembangkan potensi dan sumberdaya di desa-desa.

Dalam rangka mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat, Eko sangat yakin keberadaan GP Ansor bisa bekerja sama dengan pemerintah. “Ansor bisa membela kepentingan rakyat, bisa ikut membangun desa,” ujarnya.

Menteri Desa Ajak GP Ansor Kawal Pembangunan dan Alokasi Anggaran Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Desa Ajak GP Ansor Kawal Pembangunan dan Alokasi Anggaran Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Desa Ajak GP Ansor Kawal Pembangunan dan Alokasi Anggaran Desa

Dalam upaya mencegah potensi penyelewengan dana desa yang digulirkan oleh pemerintah kepada desa, Eko berharap GP Ansor bisa mengawalnya.

Haedar Nashir

Sementara itu, persoalan radikalisme, terorisme, dan kekerasan atas nama agama juga menjadi perhatian pemerintah. Karenanya menteri yang menjabat sejak 27 Juli 2016 ini mendorong agar kader GP Ansor menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) supaya bisa masuk ke forum Musyawarah Desa (Musdes). Menurutnya, dengan GP Ansor ikut masuk menjadi anggota Musdes, persoalan radikalisme di desa juga bisa dicegah.

Dalam konteks lebih besar, NU diharapkan lebih berperan dalam pembangunan bangsa. “Kita (NU) harus bisa berbuat untuk bangsa Indonesia,” tegasnya.

Turut menemani menteri, Ketum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas, Sekretaris Umum Adung Abdul Rahman. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Pertandingan Haedar Nashir

Kamis, 05 Oktober 2017

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis

Jombang, Haedar Nashir

Setiap menjelang penetapan jatuhnya hari raya atau lebaran, atau penetepan awal puasa yang dilakukan pemerintah melalui sidang istbat, masyarakat selalu ramai menunggu dengan memelototi media televisi maupun media online.

Dalam menentukan awal puasa dan jatuhnya hari lebaran bagi kaum muslim itu, pemerintah juga menunggu laporan berbagai petugas, ormas maupun tim yang berada di lapangan untuk melakukan rukyatul Hilal.

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis

Di samping tim falak, ada sekelompok orang dari awak media yang ikut berperan dalam perburuan hilal, bulan sabit tanda awal bulan hijriyah. Mereka adalah kaum jurnalis. Para wartawan ini juga berperan besar menyampaikan kabar tentang keberadaan hilal melalui media masing masing, baik televisi, radio maupun online.

Haedar Nashir

Tugas para wartawan ini sering kali luput dari pantauan, meski sering dipandang miring oleh sebagian masyarakat. Padahal, untuk berburu warta soal hilal, mereka seperti tidak mengenal lelah, rela meninggalkan rumah, anak istri keluarga untuk memberitakan fakta.? Sedangkan masyarakat bisa menunggu kabar keberadaan hilal, di depan televisi, radio, mapun hanya menggemgam telepon seluler.

Jurnalis pemburu iilal ini harus ikut menuju lokasi di mana tim rukyat dari lembaga falak Kementerian Agama, MUI, maupun ormas seperti NU dan Muhamadiyah yang biasanya sangat jauh dari kota. Terkadang di pinggir pantai, dan tidak jarang di puncak dataran tinggi.

Haedar Nashir

Dengan mebawa peralaan yang cukup berat, berupa kamera dan yang lainnya, rasa nyaman bisa berkumpul dengan keluarga, rasa? haus, lapar terkesampingkan, demi memberikan kabar baik yang sudah ditunggu ribuan bahkan jutaan masyarakat Muslim di penjuru Nusantara dan juga dunia.

Di akhir bulan puasa Ramadhan yang sangat mulia, kita semua bisa berdoa, mereka awak media, wartawan pekerja media diberi kekuatan diberi keberkahan. Sehingga puasanya amal ibadahnya diterima Allah SWT dan menjadikannya? memudahkan untuk masuk surga. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Sejarah Haedar Nashir