Kamis, 19 Oktober 2017

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam

Surabaya, Haedar Nashir . Aswaja NU Center Jatim mengadakan dauroh Ahlussunnah Wal Jama’ah yang bertempat di Aula PWNU Jawa Timur. Kegiatan ini ditujukan untuk kader muda Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), khususnya yang sedang menempuh pendidikan di jenjang perkuliahan.

Kegiatan yang digelar akhir pekan kemarin (6/9) ini menarik minat kaum muda NU. Hampir 80 orang mendaftar sebagai peserta dauroh ini. KH Abdurrahman Navis selaku Direktur Aswaja NU Center Jatim menjelaskan, Dauroh Aswaja digelar untuk mematangkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi banyaknya kelompok agama, khususnya lingkungan kampus

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam

Dalam kegiatan dauroh ini, terdapat empat materi yang diterima oleh para peserta. Sebelum memasuki materi pertama, pihak panitia memberikan pre-test kepada para peserta dauroh. “Pre-tes tini untuk mengukur tingkat keberhasilan dauroh ini sebab nanti di akhir dauroh juga akan diadakan post-test juga,” ujar Ustadz Fauzi, ketua panitia dauroh ini.

Setelah peserta selesai mengerjakan post-test, acara dilanjutkan kembali dengan pemaparan materi oleh beberapa pemateri yang telah disiapkan oleh panitia. Salah satu pemateri, Ustadz Faris Khoirul Anam menyampaikan, ada tujuh penyebab munculnya perbedaan di tengah umat Islam. Pertama adalah primordialisme kesukuan yang merupakan warisan jahiliyah.

Penyebab kedua adalah faktor perebutan kekuasaan. “Sepeninggal Rasulullah terjadi perebutan kekuasaan antara kaum muhajirin dan anshar, namun bisa tereduksi dengan masih banyaknya pembesar di kalangan sahabat,” jelasnya.

Ketiga adalah persinggungan dengan pengikut agama lain. Keempat, penerjemahan materi-materi filsafat. Kelima, kajian terhadap permasalahan-permasalahan yang sulit dipahami oleh akal. Dan selanjutnya adalah metode pemahaman terhadap ayat-ayat mutasyabihat.

Haedar Nashir

“Ayat-ayat mutasyabihat itu tidak bisa dipahami secara langsung, ada dua pendekatan. Pertama pendekatan atsariyah (literalis), kedua pendekatan nadhariyah (rasionalis),” jelasnya kepada peserta.

Maksud dari pendekatan atsariyah (literalis) adalah mengartikan teks al-Qur’an maupun hadits dengan apa adanya. Sedangkan maksud dari pendekatan nadhariyah (rasionalis) ialah menggunakan pentakwilan dan logika saat mencari arti dari teks yang sedang dilakukan.

Penyebab terakhir adalah Istinbanth al-Ahkam (penetapan hukum). Dari ketujuh penyebab itu, faktor pertama hingga keenam bisa menyebabkan ikhtilaf madzmum (perbedaan tercela/jelek). Sedangkan hanya yang ketujuh saja yang menyebabkan munculnya ikhtilaf mahmud (perbedaan yang baik/terpuji) yang mana sesuai dengan kaidah khilaful aimmah rahmatul ummah (perbedaan para imam adalah rahmat bagi umat).

Haedar Nashir

“Hanya yang ketujuh saja yang memberikan kemanfaatan bagi masyarakat,” tutur alumni Al-Ahgaff University itu.

Pemateri lain yang turut mengisi dauroh ini adalah Ustadz Ma’ruf Khozin (dewan pakar Aswaja NU Center Jatim), Ustadz Ainul Yaqin dari MUI, dan Ustadz M Idrus Ramli (dewan pakar Aswaja NU Center Jatim).

Acara dauroh ini ternyata tidak hanya dihadiri oleh kader aswaja dari sekitar Surabaya, tapi juga dari Kediri, Pasuruan bahkan Pulau Madura. “Tertarik untuk mengikuti karena ingin menambah keilmuan tentang Aswaja,” ujar salah seorang peserta. (Ahmad Hanan/Mahbib)

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah, Lomba Haedar Nashir

Selasa, 17 Oktober 2017

Melawan Radikalisme dengan Cerita

Tangerang Selatan, Haedar Nashir. Penulis Fahd Pahdepie memaparkan pentingnya sebuah cerita hingga bisa mengubah sesuatu. Cerita juga bisa digunakan untuk sebanyak mungkin kebaikan, termasuk dijadikan counter narative terorrism, dan kita bisa mengatakan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang damai. Salah satunya cerita Hijrah Bang Tato yang disampaikan pada Seminar Islam Kontemporer di Indonesia dan Australia di FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Rabu, (20/9).

Melawan Radikalisme dengan Cerita (Sumber Gambar : Nu Online)
Melawan Radikalisme dengan Cerita (Sumber Gambar : Nu Online)

Melawan Radikalisme dengan Cerita

“Cerita selalu luar biasa. Cerita selalu bekerja dengan baik,” ungkap direkrur Inspirasi.co itu. 

Peraih Ahmad Wahib Award dari Yayasan Paramadina itu memulai ceritanya dari seorang pria yang bernama Lalan Maulana. Seorang preman yang luar biasa ditakuti di daerah Rumpin, Bogor. Ia menceritakan Lalan yang selanjutnya akrab disapa Bang Tato, dalam kesehariannya mengendalikan jaringan preman yang luar biasa besar. 

“Memalak toko dan material yang mayoritas dikendalikan dari etnis China adalah kebiasaan yang dilakukannya setiap hari. Dari masa lalunya yang kelam itu, ia ingin berhijrah ke jalan yang benar,” tambahnya.

Haedar Nashir

Namun Fahd dalam ceritanya menyayangkan bahwa momen hijrah tersebut dipakai oleh Bang Tato untuk kemudian merasa mempunyai ruang untuk melakukan sesuatu yang disebut sebagai jihad atau perlawanan. Menurutnya hal itu dilakukan untuk menebus dosa di masa lalu, tetapi jalur yang dipilih adalah kekerasan. 

Selanjutnya lulusan Monash University Australia itu menilai hijrah adalah sesuatu yang menarik. Hal itu dikarenakan karena betapa mudahnya mantan preman atau mereka yang berurusan dengan kekerasan, ketika mengkonversi dirinya untuk hijrah, bisa masuk ke dalam kelompok radikal dan tiba-tiba merasa mempunyai rasa legitimasi untuk melawan siapa pun yang berseberangan dengannya.

Haedar Nashir

“Jika artis dan selebriti hijrah, mereka bisa aktif di majelis dzikir dan sebagainya. Tetapi ketika preman atau mereka yang berurusan dengan kekerasan ingin berhijrah, tempat yang paling kompatibel dengan posisi mereka adalah kelompok radikal,” terangnya. 

Selanjutnya peraih Outstanding Young Alumni Award dari Australia Global Alumni itu memberikan contoh kecil tindakan radikal tersebut dengan menampilkan status facebook dari Bang Tato. Status yang isinya kurang lebih menceritakan bahwa Bang Tato akan membakar toko-toko jika kasus Basuki Tjahja Purnama berujung dengan mengulang sejarah seperti halnya pemberontokan 1998.

Pria kelahiran Cianjur itu mempunyai keyakinan bahwa kita tidak bisa mengadili seseorang dengan masa lalunya, dan kita tidak bisa menentukan masa depan seseorang karena fisiknya. Ia memulai dengan melibatkan Bang Tato untuk mendalami kesibukan baru di tempat usahanya yaitu barber shop dan coffe shop yang ia miliki di BSD Tangerang Selatan. Lalu diberikannya sejumlah keahlian yang akhirnya memunculkan rasa bangga baru. 

Bang Tato dalam kesehariannya diceritakan bertemu dengan pelanggan dari etnis dan agama yang berbeda. “Sampai pada akhirnya ia mempunyai rasa bangga baru karena merasa mempunyai empati yang diletakkan di kondisi psikolgisnya,” tuturnya.

Perubahan tersebut digambarkan melalui status facebook pada bulan Juni 2017 yang kurang lebih berisi sebagai berikut

    Tenang para pemilik toko dan material yang di Rumpin sana, sekarang saya tidak akan meminta uang lagi kepada     kalian. Sekarang saya sudah mempunyai pekerjaan.

“Dari status tersebut, ia menunjukkan bahwa cara berpikir radikal sudah berubah. Dan itu merupakan sesuatu yang luar biasa dari hijrahnya seorang Bang Tato,” tambahnya.

Bulan depan, Hijrah Bang Tato itu akan diterbitkan oleh  Bentang Pustaka menjadi sebuah novel. Ia menegaskan bahwa ke depan yang akan berbicara tentang cerita tersebut bukan lagi dirinya, melainkan Bang Tato sendiri. 

“Lalan Maulana yang akan menceritakannya sendiri,” ungkapnya. (M Ilhamul Qolbi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Olahraga Haedar Nashir

PCNU Surabaya Tolak Keras Raperda Miras Bebas Dijual di Minimarket

Surabaya, Haedar Nashir

Munculnya pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kota Surabaya tentang minuman keras (Miras) oleh DPRD Kota Surabaya (5/2) yang membebaskan penjualan miras di minimarket sontak menjadi perhatian publik. Begitu juga dengan warga Nahdliyin di Surabaya.?

"Kami menolak keras pembahasan Raperda Mihol (Minuman Beralkohol). Meskipun itu masih rancangan. Jelas kami menolak keras," kata H A Muhibbin Zuhri, Ketua PCNU Surabaya, Sabtu (6/2).

PCNU Surabaya Tolak Keras Raperda Miras Bebas Dijual di Minimarket (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Surabaya Tolak Keras Raperda Miras Bebas Dijual di Minimarket (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Surabaya Tolak Keras Raperda Miras Bebas Dijual di Minimarket

Kepada Haedar Nashir ia mengatakan, pada prinsipnya NU menginginkan Surabaya bebas dari minuman keras, apapun jenis minuman itu. Kalau sudah memabukkan, jelas kami tolak, imbuhnya.

Kalau sampai Raperda itu disahkan maka peredaran miras di Surabaya akan terjadi semakin luas dan bebas karena bisa dibeli oleh siapa saja. "Dengan alasan apapun peredaran minuman keras merupakan ancaman serius bagi integritas moral dan masa depan bangsa ini," tegas mantan Ketua PW GP Ansor Jatim itu.

Apalagi miras itu nantinya diberi ruang penjualannya di gerai minimarket yang terbuka untuk masyarakat umum. "Ini secara implisit melegalisasikan minuman keras. Menghalalkan sesuatu yang haram," tandasnya.

Haedar Nashir

"Pada saat ini, yang menjadi keperluan masyarakat adalah raperda yang berisi penegasan menggenai pelarangan produksi, impor, peredaran serta konsumsi minuman keras dan disertai hukuman yang jelas bagi pelakunya," pungkas Muhibbin. (Rof Maulana/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Daerah Haedar Nashir

PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menggelar Workshop Finalisasi Penyusunan Buku Modul dan Panduan Pemimpin Agama Pelopor Perubahan Gerakan Revolusi Mental di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (12/10).

Dalam sambutannya, penanggung jawab acara Wakil Sekretaris Jenderal Sultonul Huda mengatakan, kegiatan workshop ini merupakan bagian kerja sama PBNU dengan Kemenko PMK.

PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama

Ia mengatakan, buku modul yang ada merupakan berbeda dengan buku modul pada umumnya karena banyak menggunakan perspektif keislaman.

“Kita semua paham, ketika kita bicara revolusi mental berarti kita bicara karakter bangsa, otomatis. Karena kita orang timur, keberadaan agama itu sangat substansial untuk memberikan pengaruh kepada pendidikan karakter yang ada di kita ini,” katanya.

Sementara itu, Asisten Deputi Pemberdayaan dan Kerukunan Umat Beragama Kemenko PMK Aris Darmansyah mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan gerakan revolusi mental yang harus disosialiskan ke semua kalangan.

Haedar Nashir

 “Salah satu bentuk kegiatannya ini adalah mensosialisasikan gerakan revolusi mental khususnya untuk di lingkungan keagamaan,” kata Aris.

Ia mengatakan, Kemenko PMK akan melakukan sosialisasi ke semua kalangan khususnya dengan PBNU. Terkait kerja sama dengan PBNU, ia mengaku senang bisa bekerja sama, karena kegiatan revolusi mental ini bisa diharapkan lebih menasional lagi mengingat jumlah warga NU yang banyak.

“Jadi ke seluruh kalangan, khususnya di PBNU dengan warganya, jamaahnya di PBNU,” katanya.

Haedar Nashir

Tampak hadir pada acara tersebut, Ketua PBNU Aizzudin Abdurrahman dan Wakil Sekjen H Masduki Baedlowi. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Quote Haedar Nashir

Senin, 16 Oktober 2017

Majalah Auleea Manggung di Grand City Super Mall Surabaya

Surabaya, Haedar Nashir. Sejumlah kiat harus dilakukan dalam mengenalkan media kepada khalayak, termasuk di pertokoan modern atau mal. Ini dilakukan juga dalam rangka meluaskan pasar bagi kalangan kelas menengah dan atas.

Majalah Auleea Manggung di Grand City Super Mall Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Auleea Manggung di Grand City Super Mall Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Auleea Manggung di Grand City Super Mall Surabaya

Hal ini juga yang dilakukan majalah keluarga muslimah "Auleea" dengan terlibat sebagai mitra media kegiatan Indonesia Moslem Fashion Expo and Islamic Tourism 2015 di salah satu mall kenamaan, Grand City Super Mall Surabaya, Jawa Timur.  

Wakil Pemimpin Umum Majalah Auleea Mochamad Jamil menyatakan, media yang berada di bawah menejemen PT Aula Media NU ini terpanggil untuk tampil pada kegiatan tersebut sebagai sarana promosi dan eksistensi diri. "Karena Auleea adalah media baru, maka sudah selayaknya lebih intensif menyapa calon pelanggan dan ingin mentahbiskan keberadaannya di sejumlah kegiatan bernuansa islami," katanya kepada Haedar Nashir, Selasa (4/2) malam.

Haedar Nashir

Pak Jamil, sapaan akrabnya, menandaskan dengan kerap hadir pada kegiatan bernuansa agama seperti ini, maka Auleea dapat semakin dikenal masyarakat. "Kegiatan juga mampu mengukuhkan keberadaan Auleea di tengah persaingan media cetak di tanah air," katanya.

Haedar Nashir

Bersama dengan media kenamaan seperti Jawa Pos, TV9, Sindo TV, RCTI, Metro TV, MNC TV, Suara Surabaya, Majalah Auleea menjadi salah satu media partner bagi kegiatan yang berlangsung sejak Selasa (4/2) hingga Ahad (8/2) tersebut. Di samping itu, ada sejumlah perusahaan lain yang ikut berpartisipasi di antaranya YDSF, Wardah, Mangga serta Persada.

"Bulan Februari ini Majalah Auleea memang baru memasuki cetakan ke delapan, karenanya menyapa pelanggan lama dan menjaring calon pelanggan baru adalah sebuah hal yang tidak dapat ditawar," ungkapnya. Pada saat yang bersamaan, menjaga kepercayaan klien yang selama ini bermitra juga sangat penting, lanjutnya.

Karena besarnya manfaat yang akan diraih dalam keikutsertaan even seperti ini, maka menejemen Auleea terus berupaya hadir dan berpartisipasi. "Hasil yang akan dipetik bisa sekaligus yakni dengan penambahan pelanggan dan klien iklan, juga dapat dalam waktu yang lebih panjang," terang Pak Jamil.

Pada kegiatan yang berlangsung sejak jam 09.00 hingga 21.00 WIB ini tidak hanya Majalah Auleea yang dipajang serta ditawarkan kepada pengunjung salah satu mall kenamaan di Surabaya ini, juga Majalah Aula. "Karena antara Aula dan Auleea berada dalam satu menejemen," katanya.

Masih cukup waktu untuk bisa hadir pada acara ini. Selama kegiatan berlangsung, ada berbagai acara pendukung seperti talk show kecantikan, lomba fashion, panggung hiburan, pameran produk dari sejumlah mitra serta puncaknya adalah pemilihan hijaber yang dilangsungkan Ahad, (8/2) malam. Apalagi yang dijadualkan hadir saat puncak acara adalah artis kenamaan, Dewi Sandra. Berminat? Silakan hadir. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, News Haedar Nashir

Minggu, 15 Oktober 2017

Pendudukan Israel Akibatkan Palestina Sulit Dapatkan Bantuan

Jakarta, Haedar Nashir

Menteri Hubungan Perempuan Palestina Dr Mariam Saleh mengungkapkan, penderitaan yang dihadapi rakyat Palestina saat ini tak hanya disebabkan pertikaian antara kelompok Hamas dan Fatah. Pendudukan Israel yang didukung Amerika Serikat (AS), menurutnya, juga menjadi sebab keterpurukan negara yang pernah dipimpin Presiden Yasser Arafat itu

“Pendudukan Israel telah benar-benar menyulitkan kami. Amerika Serikat yang mendukung pendudukan Israel tak mengizinkan kami mendapatkan bantuan dari luar,” terang Mariam kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (24/1)

Pendudukan Israel Akibatkan Palestina Sulit Dapatkan Bantuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendudukan Israel Akibatkan Palestina Sulit Dapatkan Bantuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendudukan Israel Akibatkan Palestina Sulit Dapatkan Bantuan

?

Mariam yang didampingi anggota Parlemen Palestina Muna Mansur, mengungkapkan hal itu saat bertemu dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa. Sejumlah pengurus teras organisasi perempuan terbesar di Indonesia itu turut hadir dalam kesempatan tersebut.

Haedar Nashir

Mariam mengaku tak bisa menggambarkan kepedihan yang dirasakan rakyat Palestina akibat pendudukan Israel. Negara Zionis tersebut, ungkapnya, tak hanya merusak seluruh apa yang dimiliki bangsanya, melainkan juga membunuh kaum perempuan dan anak-anak yang tak berdosa serta merampas tanah milik rakyat.

Sebagai menteri yang bertanggungjawab atas kesejahteraan dan masa depan kaum perempuan Palestina, Mariam mengaku tak bisa berbuat banyak. Organisasi yang menghimpun kaum perempuan semacam Muslimat NU juga ada di negaranya. Namun, sekali lagi, tegas Mariam, organisasi tersebut tak mampu berkembang karena sulit mendapatkan bantuan, terutama dana.

Haedar Nashir

“Kami bangga terhadap Indonesia yang mempunyai ormas (organisasi kemasyarakatan) dengan anggota yang besar pula seperti kalian (Muslimat NU, Red). Kami juga punya organisasi seperti kalian, tapi pemboikotan Israel benar-benar telah menyulitkan kami (kaum perempuan Palestina),” ungkap Mariam.

Hal serupa diungkapkan anggota Parlemen Palestina Muna Mansur. Israel telah sangat menyengsarakan rakyat Palestina. Bahkan, katanya, bagi umat Islam, untuk salat di Masjidil Aqsa saja, tentara Israel melarang. “Padahal Masjidil Aqsa merupakan masjid kebanggaan kami dan kebanggaan umat Islam seluruh dunia,” tandasnya.

Selain itu, ia juga mengaku salut terhadap pemerintah dan rakyat Indonesia yang hingga saat ini tetap tak mengakui pendudukan Israel atas negaranya. Termasuk pula sikap politik luar-negeri Indonesia yang tegas memutuskan hubungan diplomatik dengan negara Yahudi pimpinan Perdana Menteri Ehud Olmert tersebut.

“Saya berharap pemerintah Anda (Indonesia, Red) tetap memutuskan hubungan dengan Israel. Agar Indonesia bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain,” ujar Muna tegas.

Kepada Khofifah Indar Parawansa dan petinggi Muslimat NU lainnya, Muna meminta dukungan atas upaya dan perjuangan memerdekakan bangsanya. Menurutnya, perjuangan rakyat Palestina tak akan banyak berarti tanpa dukungan dan bantuan dari negara lain, terutama negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia.

“Anda (Indonesia) juga bisa menghentikan pendudukan Israel melalui pembangunan opini lewat media massa,” ujar Muna. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, News Haedar Nashir

Kapolda Jawa Barat Sowan ke Pesantren al-Mizan

Majelengka, Haedar Nashir. Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Barat Mochamad Iriawan berkunjung ke Pondok Pesantren al-Mizan, Majalengka, Jawa Barat, Selasa (26/8). Kunjungan dilaksanakan dalam rangka silaturahim sekaligus sosialisasi tentang pentingnya mewaspadai kelompok ekstrem.

Kapolda Jawa Barat Sowan ke Pesantren al-Mizan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda Jawa Barat Sowan ke Pesantren al-Mizan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda Jawa Barat Sowan ke Pesantren al-Mizan

Mochamad Iriawan diterima Pembina Pondok Pesantren al-Mizan KH Maman Imanulhaq beserta pengurus pesantren lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Iriawan mengingatkan soal bahaya kelompok garis keras pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang belakang menggemparkan masyarakat.

“Kami pihak Polda berhak menindak, jangan sampai ada gerakan ISIS. Kami tidak menerima keberadaan mereka,” ujarnya.

Haedar Nashir

Menurut Iriawan, meskipun sempat mendeklarasikan diri dan mengibarkan bendera, ISIS hingga kini tidak mendapat dukungan masyarakat luas di Indonesia, termasuk Jawa barat.

“Persenjataan mereka ada, dana mereka punya, tetapi dukungan masyarakat yang mereka belum ada. Jika ada dukungan maka mereka semakin kuat,” kata mantan kapolda NTB ini.

Haedar Nashir

Wakil Bupati Majalengka Karna Sobahi yang juga hadir pada kesempatan tersebut berterima kasih kepada pihak kepolisian setempat. Menurutnya, keamanan di Majalengka, baik pasca pemilihan presiden maupun idul fitri, berlangsung berkat kerja sama masyarakat Majalengka dengan pihak kepolisian Jawa Barat. (Tata Irawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Internasional, Sejarah Haedar Nashir