Sabtu, 21 Oktober 2017

Belajar Perdamaian pada Gus Dur

Buku ini merupakan hasil tesis penulis yang kemudian digubah menjadi buku populer sehingga setiap pembaca mampu mencerna dengan renyah. Selain itu, penulis buku ini menjadi aktifis Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), dimana Gus Dur menjadi bagian dari pendiri lembaga ini. Lembaga yang lahir pada 12 Juli 2000 ini berusaha menyebarkan tradisi dialog dalam pengembangan kehidupan keberagamaan yang humanis dan pluralis di tanah air. Selain itu, misi ICRP ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang damai, berkeadilan, setara, persaudaraan dalam pluralisme agama dan kepercayaan, dan penghormatan kepada martabat manusia.

Pendidikan menjadi jembatan penting menuju hal yang ingin kita capai. Dengan perdamaian yang berorientasi pada pengurangan konflik dan mencegah terjadinya kekerasan. Maka, kita tak bisa lepas dari kurikulum pendidikan mencakup subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan etno-kultural dan agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi dan pemahaman atas kemajemukan (pluralitas), kemanusia universal dan subjek-subjek lain yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Abdurrahman Ad-Dakhil sebagai santri genuine mengawali pendidikan dasarnya di pesantren. Berbagai literaratur baik Islam hingga Barat menjadi konsumsinya sejak usia muda. Dengan bacaan yang kuat inilah Gus Dur mampu mengaktualisasikan keilmuan menjadi tindakan kongkret. Sepanjang perjalanan hidupnya, Gus Dur kemudian dikenal sebagai pembela kaum minoritas, penggerak demokrasi, mendorong terwujudnya kehidupan nirkekerasan. (hal. 138)

Belajar Perdamaian pada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Perdamaian pada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Perdamaian pada Gus Dur

Tak hanya berhenti pada tataran konsep belaka banyak gerakan yang telah dikerjakan beliau, mulai pembelaan terhadap Jemaah Ahmadiyah, kelompok yang dituduh komunis, kasus tabloid Monitor, peristiwa Banyuwangi dan pembunuhan di Jawa Timur tahun 1998, persoalan etnis Tionghoa dan teorisme (hal 193-206) Pembelaan dan gerakan ini tak lepas dari orientasi kemanusiaan, kebersamaan, kesejahteraan, nilai proporsionalitas, pengakuan terhadap pluralitas dan heterogenitas dan antihegemoni dan antidominasi.

Gus Dur memahami bahwa pendidikan Islam tak bisa diejawantahkan dengan baik tanpa menggunakan strategi yang baik. Strategi politik menjadi jalan pertama yang ditempuh. Kedua, strategi kultural; yang menekankan pada basis pesantren sebagai lembaga, satuan, sistem, dan struktur pendidikan yang bisa menyelenggarakan pendidikan secara mandiri. Ketiga, strategi sosio-kultural dengan cara mengembangkan cara berfikir masyarakat dengan mempertahankan nilai-nilai keislaman.

Dalam karangan langsung Gus Dur "Islamku, Islam Anda dan Islam Kita" (2005) secara panjang lebar menerangkan tentang Islam perdamaian dan permasalahan internasional. Walaupun Gus Dur memegang teguh nilai-nilai kepesantrenan dengan kuat beliau mampu memberikan analisis yang kuat mengenai peta perpolitikan dunia internasional. Memberikan pandangan dan alternatif untuk perang Irak, memberikan jalan kerjasama antara Indonesia-Muangthai, memberikan pendapat di forum internasional dan kontribusi lain untuk perdamaian.

Haedar Nashir

Perdamaian menurut Gus Dur bisa diciptakan dan dihapuskan dengan jalan penanganan secara tuntas persoalan utama berupa kesalah pahaman dasar antara ideologi negara dan aspirasi keagamaan. Bila hal pokok ini mampu terselesaikan niscaya para pemegang kekuasaan bisa mengejawantahkan dalam bentuk paket kebijakan prinsipil. Harapan inilah yang disampaikan dalam "Islam Kosmopolitan" (2007) sehingga pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah memahami hal prinsip yang perlu dipegangi dalam menjalankan sebuah kebijakan.

Melihat perdamaian tak bisa dilepaskan dari latar belakang presiden keempat ini beragama Islam. Islam berakar kata dari salam yang berarti perdamaian. Maka Islam adalah perdamaian itu sendiri. Dengan kesadaran penuh Gus Dur mampu mengejawantahkan makna Islam menjadi perdamaian dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita ingin lebih detil menyimak kehidupan cucu pendiri Nahdlatul Ulama ini dari kecil sudah mengenal pluralitas bahkan, Gus Dur mengakui bahwa leluhurnya juga memiliki latar belakang yang beragam.

Dengan kesantrian yang mendarah daging dan referensi keilmuan kitab kuning menjadi pijakan dalam menentukan arah pembicaaan Gus Dur. Permasalahan yang menimpanya mampu diurai dan dicarikan solusi dengan berbagai macam variannya. Kemudian diaktualisasikan dalam implementasikan dalam gerakan sosial, politik dan kemasyarakatan.

Dalam menulis Gus Dur walaupun tak menggunakan footnote sebagaimana kajian ilmiah. Tulisannya menunjukkan kelas seorang yang berpengetahuan luas, banyak tokoh Islam atau non-muslim yang menjadi pijakannya dalam berargumentasi. Hal ini juga dikuatkan bahwa Gus Dur memiliki sederet gelar honouris causa dalam bidang bidang Filsafat Hukum, Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora, kemanusiaan dari berbagai universitas dunia.

Putra menteri agama pertama ini layak menjadi guru bangsa yang baik. Bila kita melihat Gus Dur secara utuh kita bisa mengambil pelajaran yang bisa kita kloning bagi masa-masa kita. Setidaknya terdapat tiga karakter kuat yang tak lepas dari Gus Dur. Pertama, gerakan sosial. Kedua, nilai-nilai luhur yang bisa menerobos apapun sebab nilai ini telah menjadi norma. Ketiga, Gus Dur sebagai seorang aktivis; dia memiliki target dan tujuan yang harus tercapai dalam tiap langkah dan geraknya.

Haedar Nashir

Guru bangsa yang meninggal 30 Desember 2009 selalu memberikan kejutan dalam tingkah lakunya. Berbagai golongan membuat acara doa bersama untuk mengenang jasa dan pemikirannya. Begitu pula buku ini memberikan tambahan kekayaan referensi mengenai perdamaian. Perdamaian itu sendiri bukan sekadar menumpuk sebagai ilmu di universitas namun, menjadi ilmu aplikasi yang terus berkembang dan dikembangkan untuk meminimalkan konflik yang ada Indonesia. Semoga.





Info Buku

Judul : Peace Education dan Pendidikan Perdamaian Gus Dur

Penulis : Ahmad Nurcholish

Penerbit : Elex Media Komputindo

Cetakan : 2015

Tebal : 236 halaman dan xxviii





Peresensi

Mukhamad Zulfa

Pegiat Diskusi Rabu Sore IDEASTUDIES Semarang aktif di jaringan pesantren Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Tegal, Habib Haedar Nashir

Saran Guru Besar Belanda untuk NU

Jombang, Haedar Nashir. Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) tidak saja memanggil warganya sendiri hingga media massa untuk hadir di Jombang, Jawa Timur, tempat kelahiran Presiden ke - 4 RI KH Abdurahman Wahid (Gus Dur). Sejumlah akademisi dan pengamat dari luar negeri juga hadir dan membaur dengan warga NU, salah satunya Guru Besar Studi Kurdi Universitas Utrecht, Belanda, Martin van Bruinessen.

Saran Guru Besar Belanda untuk NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Saran Guru Besar Belanda untuk NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Saran Guru Besar Belanda untuk NU

"NU harus mempunyai strategi jika ingin benar-benar kembali kepada khittah," ujar Martin yang mengaku telah mengamati beberapa kali perhelatan lima tahunan NU atau muktamar berlangsung, di Jombang,, Rabu (5/8).

Dalam praktiknya, di mana pun tempat dan organisasinya, kata Professor Studi Kurdi di Freie Universität (Universitas Bebas) Berlin (1996-1997) itu menambahkan, para peserta yang mengikuti setiap kegiatan berlokasi jauh seringkali berharap mendapat imbalan.

Haedar Nashir

"Sebagai organisasi besar, NU seharusnya bisa mengambil iuran anggotanya secara sistematis dan mengelolanya secara transparan," kata Dosen tamu pascasarjana di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1991-1993) itu pula.

Haedar Nashir

Tetapi sebagai konsekuensi logis atas hal itu, ujar dia pula, NU akan memerlukan badan yang menjalankan transparansi.

Pendiri International Institute of the Study of Islam in Modern World (ISIM) itu mengandaikan, kalau orang dari Sulawesi Utara datang ke Jombang, apa mungkin swadaya atau mungkin harus ditolong oleh sponsor?

Martin yang menjadi konsultan metode penelitian di LIPI pada 1986-1990 itu lalu menambahkan, dana diperoleh NU dari anggotanya atau sponsor bisa dipakai untuk menjamin transportasi sehingga bisa membantu wakil cabang peserta datang ke muktamar.

"Dalam hal ekonomi, pola semacam itu bisa membantu," demikian Martin van Bruinessen, penulis buku "Kitab Kuing: Pesantren dan Tarekat" itu. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, RMI NU Haedar Nashir

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas

Jakarta, Haedar Nashir

Muktamar ke-33 NU yang dihelat di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015 bakal menyoroti berbagai persoalan dan mencarikan jawabannya dari sudut pandang agama. Salah satu pokok bahasan yang diangkat adalah tentang pasar bebas (free trade).

Persoalan seputar pasar bebas masuk dalam materi diskusi Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah. Komisi ini bertugas mengaji serangkaian problem dengan jawaban konseptual-tematik, tak sekadar halal-haram. Draf deskripsi masalah dan jawaban tentang hal ini telah rampung disusun melalui diskusi intensif para pakar yang terlibat dalam komisi yang diketuai Katib Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir tersebut.

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas

Dalam draf itu dijelaskan, Indonesia yang tak bisa menghindar dari sistem perdagangan global dalam waktu dekat menghadapi salah satu mekanisme perdagangan global, yakni pasar bebas. Penjualan produk antar negara tidak lagi dikenakan pajak, bea masuk atau hambatan perdagangan lainnya. Peran pemerintah kurang lebih seperti wasit yang memastikan tidak ada kecurangan, sementara aturan mainnya ditentukan oleh regulasi internasional seperti GATT (General Agreement on Tariffs and Trade), WTO (World Trade Organisation), GATS (General Agreement on Trade in Services), TRIPs (Trade Related Intellectual Property Right), TRIMs (Trade Related Invesment Measures), AoA (Agreement on Agriculture) dan sebagainya.

Dalam konteks lokal Asia Tenggara, Negara-negara yang tergabung didalam ASEAN telah sepakat untuk memberlakukan pasar bebas yang disebut AFTA (Asean Free Trade Area) pada bulan Desember 2015. Beberapa poin kesepakatan AFTA antara lain adalah penghapusan pembatasan komoditas dan penghapusan bea masuk impor komoditas yang berada dalam kategori General Exception (GE). Di luar GE, diberlakukan CEPT- AFTA (Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area), yakni tahapan penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif. Komoditas CEPT-AFTA umumnya adalah komoditas yang terkait dengan keamanan nasional, keselamatan, atau kesehatan manusia, binatang, dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya.

Dengan diberlakukannya AFTA, arus barang, jasa, investasi, tenaga terampil dan modal akan berputar secara bebas di antara negara ASEAN. Mereka yang memiliki daya saing tinggi akan meraup keuntungan besar, sementara yang tidak memiliki daya saing akan menjadi pasar bagi pihak lain. Berdasarkan data, Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index/GCI) Indonesia tahun 2014 berada di peringkat 34, sementara Singapura berada di peringkat 2, Malaysia di peringkat 20, dan Thailand yang berada di peringkat ke-31. Sementara Filipina berada di peringkat 52, Vietnam di peringkat 68, Laos di peringkat 93, Kamboja di peringkat 95, dan Myanmar di peringkat 134.

Haedar Nashir

Dengan posisi ini, dapat dikatakan bahwa posisi Indonesia belum terlalu siap. Namun sekarang bukan waktunya mempertanyakan kesiapan Indonesia, karena AFTA akan dimulai beberapa bulan lagi. Pada aras inilah NU perlu tampil ambil bagian. Sebagai ormas keagamaan terbesar, NU diharapkan mampu memberikan landasasan syar’i agar penanganan pasar bebas (free trade) tetap mengacu kepada fitrah kemanusiaan. Sementera di level praksis, NU diharapkan mampu menyodorkan konsep yang mampu mengayomi warga dari serangan modal yang kian masif. ?

Dengan gambaran ini, tim khusus yang tergabung dalam Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah Muktamar ke-33 NU bersepakat untuk merumuskan tiga pertanyaan, antara lain, (1) bagaimana pandangan Islam tentang pasar bebas?; (2) bagaimana keberpihakan Negara kepada rakyat dan ekonomi nasional?; dan (3) apa yang perlu dilakukan oleh NU sebagai jam’iyyah?

Selain soal pasar bebas, Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah juga akan mengupas lima masalah lainnya, di antaranya metode istinbath hukum (bayani – qiyasi-maqashidi), khashaish ahlus-sunnah wal-jamaah, hutang luar negeri, hukuman mati dalam perspektif HAM, serta asas praduga tak bersalah. (Mahbib)

?

?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Tokoh, Sunnah Haedar Nashir

Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam

Tarim, Haedar Nashir

Pelajar Jawa Timur di Yaman yang terkumpul dalam organisasi Keramat Jatim menggelar pertemuan akbar yang untuk pertama kalinya dihadiri seluruh pelajar dari berbagai lembaga di Hadhramaut.

Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam

Tak hanya berkumpul, acara perdana ini juga membawa misi untuk menyatukan visi dan misi dalam berdakwah di Jawa Timur nanti, sekembalinya mereka ke Tanah Air. Arek-arek Jawa Timur itu berharap, di samping menyambung tali silaturahim, pertemuan kali ini juga membentuk misi dakwah yang kelak dipikul bersama demi terwujudnya Jawa Timur yang semakin Islami.

“Tujuan perkumpulan kali ini tidak lain untuk menyatukan misi dakwah kita demi Jawa Timur dan negeri tercinta yang lebih baik dan lebih Islami,” tutur Ahmad Khoiron Roib, ketua pelajar Jawa Timur di Yaman dalam acara yang dihadiri sekitar 80 anggota itu, Kamis (10/03) malam waktu setempat.

Haedar Nashir

Acara dikemas dengan sederhana dan dimulai dengan pembacaan Maulid Nabi, kemudian perkenalan masing-masing anggota, sambutan-sambutan, baik dari ketua pelajar Jawa Timur,? ketua Persatuan Pelajar Indonesia, maupun ketua perwakilan dari setiap lembaga.

Sebelum acara benar-benar selesai pukul 23.30, hadirin disuguhi dengan marawis dan tari zavin. Hadir dalam acara tersebut jajaran ketua dari organisasi daerah di Indonesia yang ada di Yaman. (Zain Mahfudz/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat, Cerita Haedar Nashir

Sembilan TKI dari Aleppo Diselamatkan ke Damaskus

Damaskus, Haedar Nashir. KBRI Damaskus menerima kedatangan sembilan orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Aleppo (18/7). Kedatangan mereka ke Damaskus setelah selesai diperjuangkan hak-haknya oleh pengacara retainer dan petugas konsuler KBRI Damaskus cabang Aleppo.

Sembilan TKI dari Aleppo Diselamatkan ke Damaskus (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan TKI dari Aleppo Diselamatkan ke Damaskus (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan TKI dari Aleppo Diselamatkan ke Damaskus

Kesembilan TKI tersebut adalah bagian dari TKI yang pernah dijenguk oleh Duta Besar RI Djoko Harjanto bulan Ramadhan 1437 H yang lalu dan telah berhasil diperjuangkan hak-haknya, terutama gaji selama bekerja. ?

"Kami menempuh 10 jam perjalanan dari Aleppo ke Damaskus. Jalanan rusak parah dan memutar jauh menghindari wilayah bahaya," ujar Muhammad Akra, pengacara retainer KBRI Damaskus yang mendampingi perjalanan. Di Suriah saat ini sedang musim panas, hari ini sekitar 40 derajat celcius.

Haedar Nashir

"Itu pun kami diizinkan lewat oleh check point militer Suriah tanpa harus membuka semua koper-koper bawaan. Kalau harus membuka semua koper, bisa dua hari perjalanan belum tiba di Damaskus," tambah Akra dengan menceritakan puluhan check point dari Aleppo-Damaskus yang dijaga super ketat oleh militer Suriah.

Haedar Nashir

Pengacara asal Aleppo juga menceritakan, Kota Aleppo yang seminggu terakhir babak belur dihujani mortar oleh pemberontak. Air dan listrik menjadi barang langka.

"Alhamdulillah akhirnya saya dan teman-teman sampai dengan selamat di Damaskus," tutur Enday bt Tarwan, salah satu TKI Aleppo, yang telah 6 tahun terjebak di wilayah konflik Aleppo.

"Saya kira tadinya kita tidak akan selamat tiba di Damaskus," tambah Sema bt Kusan Sunip, TKI yang bekerja 5 tahun di Aleppo dengan membawa seluruh hak-haknya. "Di perjalanan mencekam sekali. Semua orang ketakutan."

Aleppo dikenal sebagai kota kedua terbesar di Suriah setelah ibu kota Damaskus yang kini hancur lebur akibat konflik. Pemerintah hanya menguasai sekitar 25% kota Aleppo. Sebelum konflik, puluhan perwakilan asing membuka kantor di Aleppo. Kini hanya KBRI Damaskus, satu-satunya kedutaan yang masih membuka kantor cabang konsulernya di wilayah konflik Aleppo.

"Kita jelas masih punya kepentingan perlindungan WNI di wilayah Aleppo," ujar AM. Sidqi, Pejabat Konsuler KBRI Damaskus. "Masih banyak TKI yang masih terjebak di wilayah konflik Aleppo. KBRI Damaskus masih terus berjuang untuk bisa memulangkan seluruh WNI dari Suriah ini."

Sejak tahun 2012, KBRI Damaskus telah merepatriasi sebanyak 12.430 WNI dari Suriah yang sebagian besar TKI dalam 276 gelombang.

Pengiriman TKI ke Suriah sudah disetop sejak 2011 dan ke seluruh Timur Tengah sejak 2015. Namun ironisnya, di tengah gelombang pengungsi rakyat Suriah ke luar negeri, ternyata masih marak praktik perdagangan manusia ke Suriah berkedok pengiriman TKI.

"Perempuan Indonesia masih diperjualbelikan ke Suriah sebagai pembantu rumah tangga di tengah konflik. Menyedihkan," tambah Sidqi.

"Masalahnya berada di Tanah Airnya. Jika serius menutup pengiriman, maka para TKI tersebut tidak akan menderita seperti ini," pungkas Sidqi. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Jumat, 20 Oktober 2017

Ansor Gayam Latih Kader Wirausaha Budidaya Kroto

Bojonegoro, Haedar Nashir. Sebagai upaya menciptakan kader yang mapan ekonomi, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gayam melalui kajian rutin "Obrolan Bareng Ansor (Obor)" menggelar diskusi dan pelatihan wirausaha budidaya Kroto.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Madrasah Diniyah Roudlotul Mubtadiin Desa Brabowan kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (2/10).

Ansor Gayam Latih Kader Wirausaha Budidaya Kroto (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gayam Latih Kader Wirausaha Budidaya Kroto (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gayam Latih Kader Wirausaha Budidaya Kroto

Arifin, pegiat budidaya kroto di Bojonegoro, saat menjadi pemateri menyampaikan, banyak orang bingung untuk memilih bisnis apa yang relevan untuk dijalankan, karena kebanyakan lemah di pemasaran.

Haedar Nashir

Menurutnya, bisnis kroto bisa menjadi alternatif karena tidak membutuhkan banyak biaya, hanya menyediakan bibit semut rangrang sekira 30 toples dan pembuatan rak untuk beternak. "Bisnis ini cukup prospek, karena mulai dari pembibitan pun sudah ada asosiasi yang menyediakan masyarakat yang membutuhkan," paparnya.

Di sisi lain, akan ada pembinaan pula kepada pelaku yang menjalankan budidaya ini. Sebab ikatan pelaku usaha ini tergolong sangat kuat. "Termasuk pemasaranya sudah siap, berapapun yang dipanen akan ada pembeli yang menampungnya, harganya pun tergolong tinggi karena sekilogram kroto bisa sampai Rp. 300 ribu," lanjut pria alumni kampus IKIP PGRI Bojonegoro itu.

Haedar Nashir

Arifin juga mengajak para kader Ansor untuk meninjau langsung usaha tersebut di sekolah alam miliknya. "Di sana ada ternak kroto, usaha budidaya jamur dan lainya," terangnya.

Sementara itu Koordinator Kajian Obor, Imam Hambali menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini akan rutin dilaksanakan setiap bulan. Karena menurutnya, kader Ansor saat ini sudah saatnya melek ekonomi. "Supaya? tercipta juga mental wirausaha bagi kader pemuda Nahdiyin," ucapnya.

Dalam acara tersebut hadir pula Ketua Cabang GP Ansor Bojonegoro Faizin, perwakilan madrasah diniyah di Kecamatan Gayam, dan sejumlah tamu undangan lainya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta Haedar Nashir

IPNU-IPPNU NTB Berikan Sembako untuk Yatim dan Lansia

Mataram, Haedar Nashir

Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU NTB membagikan paket sembako kepada anak yatim dan lansia di Kelurahan Jempong Kota Mataram Jumat (01/07) sore.?

IPNU-IPPNU NTB Berikan Sembako untuk Yatim dan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU NTB Berikan Sembako untuk Yatim dan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU NTB Berikan Sembako untuk Yatim dan Lansia

Yatim dan lansia yang dapat sembako serta uang ini merupakan warga Kota Mataram yang berada di lingkungan Sekretariat PW IPNU NTB di Jalan P No 44 Perumahan Elit Kota Mataram.

"Kami berbagi kepada yatim dan lansia ini agar dirasakan ada manfaat dengan keberadaan sekretariat kami," kata Syamsul Hadi, Ketua PW IPNU NTB di sela-sela acara kepada Haedar Nashir.

Sebelumnya di beberapa titik, lanjut Hadi, banom milik NU ini telah menyantuni anak yatim saat safari, dengan tujuan syiar IPNU-IPPNU di masyarakat umum. Namun warga sekitar tidak kalah penting untuk diperhatikan.

Haedar Nashir

Sementara Bq. Maisarah, ketua IPPNU NTB menyebutkan indahnya berbagi.





"Ayyadul ulya khoirum min yadussufla, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah," katanya.

Haedar Nashir

Jika hari ini hanya puluhan orang yang menerima santunan, harapan utama berikutnya tentunya mudah-mudahan bisa berbagi kepada orang yang lebih banyak.?

"IPNU-IPPNU NTB salah satu tempat kami belajar, yaitu belajar berjuang dan bertakwa. IPNU-IPPNU salah satunya mengajarkan kami untuk bisa menjadi insan yang bermanfaat untuk orang lain," katanya (Muslim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Haedar Nashir