Senin, 23 Oktober 2017

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

Surabaya, Haedar Nashir. Sekitar 120 peserta mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) yang digelar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU dan IPPNU) UIN Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan yang diselenggarakan di kantor PCNU Mojokerto pada Jumat-Ahad, (8-10/11) dibuka Ketua IPNU Sunan Ampel 2013-2014 M. Ishomuddin selaku, tepat pukul 21.00 WIB Jumat (8/11) .

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

“Peserta aslinya ada 170 lebih karena banyak calon kader yang ikut UKM dan IPNU ini adalah organisasi Ekstra maka mereka lebih memilih mengikuti pelatihan UKM yang berlangsung bareng dengan LAKMUD 2013 ini,” kata Ketua Panitia Lakmud, Taufiq.

Haedar Nashir

Menurut Taufiq, kegiatan Lakmud ini berbarengan dengan pengkaderan 4 organisasi intra kampus. Salah satunya adalah UKM IQMA. UKM ini sudah dianggap saudara sendiri oleh IPNU-IPPNU karena rutinitasnya dan kegiatan-kegiatannya adalah amaliyah warga Nahdliyin. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah diba’iyah, berzanji, rebana, sholawatan, istighosah.

Haedar Nashir

Taufiq menambahkan, pada kegiatan tersebut peserta mendapat materi Keaswajaan, Ke-NU-an, Ke-IPNU/IPPNU-an, Managemen Organisasi dan Analisis Wacana. Selain itu, ada beberapa kegiatan berupa pengayaan seperti tes, nightmare, diskusi panel, RTL dan juga debat Ilmiah. Untuk meningkatkan semangat para peserta diadakan juga outbond dan lomba-lomba kecil. (Ali Ibrohim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, News Haedar Nashir

IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum

Jakarta, Haedar Nashir. Keputusan Presiden No 22 Tahun 2015 mengenai ketetapan Hari Santri Nasional yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober 15 dengan langsung ditandatangani dan dibacakan oleh Presiden Joko Widodo harus dijadikan sebagai momentum yang sebaik-baiknya.

IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum

Momentum yang sangat baik ini, membuat PW IPNU DKI Jakarta mendorong agar sejarah perjuangan para ulama dan santri juga bisa dimasukkan dalam mata pelajaran sejarah menjadi sebuah kurikulum pendidikan sekolah.

Ada beberapa alasan, menurut IPNU DKI Jakarta diantaranya sebagai berikut:?

Haedar Nashir

Pertama sejarah mencatat, dalam masa peperangan menegakkan kemerdekaan, ada sebanyak 20 Batalyon dari 64 Batalyon yang dipimpin oleh para kiai pesantren. Inilah peran besar kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan RI yang termotivasi dari fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari pada tanggal 22 Oktober 1945 (Haedar Nashir, 15/10).

Haedar Nashir

Kedua, resolusi jihad pada tanggal 22 oktober 1945, juga menjadi pemicu semangat santri dalam mempertahankan kemerdekan dan menginspirasi perlawanan para ulama serta santri melawan NICA pada tanggal 10 November.?

Ketiga, kontribusi santri dalam membentuk dan mempertahankan bangsa ini tidak bisa dilupakan begitu saja, peranan santri terhadap bangsa ini sangat ? lah besar. Meskipun pada akhirnya, setelah kemerdekaan peranan santri terus terlupakan. Apalagi pada masa orde baru, santri sangat dipinggirkan, tidak mendapat perhatian oleh pemerintah dianggap kaum yang marjinal, sangat dipinggirkan oleh pemerintahan orde baru.?

Keempat, setelah masa orde baru berakhir, memasuki masa reformasi Peranan ? para santri masih terus berlanjut dengan mempromosikan moderasi islam di tengah budaya dan etnik yang masif menciptakan perdamaian di negara ini.?

Oleh karena besarnya peranan santri dan ulama terhadap bangsa ini, Pengurus PW IPNU DKI Jakarta mengusulkan kepada Kemendikbud RI agar sejarah perjuangan dan peranan ulama serta santri dimasukan kedalam kurikulum pendidikan pada mata pelajaran sejarah.?

Ketua IPNU DKI Jakarta, Muhammad Said mengatakan, sejarah perjuangan santri dan ulama banyak yang dikaburkan oleh sejarahwan, bahkan tidak masuk dalam buku pelajaran sejarah SD, SMP dan SMA. Seharusnya sejarah perjuangan santri bisa masuk kedalam pelajaran sejarah, agar para pelajar SMP dan SMA bisa mengambil hikmah dari sejarah tersebut.?

"Besar harapan kami, dari PW IPNU DKI Jakarta agar sejarah perjuangan santri dan peristiwa resolusi jihad NU bisa dimasukan ke dalam kurikulum mata pelajaran sejarah di sekolah," ucap Said.?

Sementara itu, Ketua Departemen Kaderisasi IPNU DKI Jakarta, Adam menuturkan, dengan memasukan sejarah perjuangan santri ke dalam kurikulum, maka pelajar-pelajar Indonesia bisa menjadi pelajar yang mempunyai jiwa kepahlawanan tinggi dan kecintaan yang sangat dalam terhadap negara ini.

“Sebagaimana para santri, sehingga menjadi aset negara yang bisa mewujudkan cita-cita bangsa," ujar Adam. (Kowi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Amalan Haedar Nashir

Minggu, 22 Oktober 2017

Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan

Batam, Haedar Nashir



Kementerian Agama kembali menerapkan kebijakan untuk mempercepat keberangkatan jamaah haji lanjut usia (lansia). Karenanya, bagi jamaah yang berusia  minimal 75 tahun bisa segera mengajukan percepatan keberangkatan ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota tempat mendaftar haji (domisili).

Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan

“Tahun ini masih diberikan kesempatan bagi lanjut usia minimal 75 tahun untuk mengajukan percepatan keberangkatan. Sehingga diharapkan jamaah lansia mendapat prioritas mengingat kondisi fisik yang lemah,” kata Kasubdit Pendaftaran Haji M Noer Alya Fitra (Nafit), Kamis malam (10/03) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menurutnya, calon jamaah haji lansia yang ingin mendapat percepatan keberangkatan bahkan dapat didampingi oleh satu pendamping. “Prosedurnya dengan mengajukan ke Kemenag Kabupaten/Kota tempat pendaftaran,” tambahnya.

Selain prioritas lansia, Kementerian Agama juga telah menerbitkan  Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler yang membatasi pendaftaran haji minimal berusia 12 tahun. Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Ditjen PHU Ahda Barori mengatakan bahwa sebelumnya tidak ada aturan minimal usia untuk mendaftar haji.

Haedar Nashir

“Antrian haji sudah terlalu lama di Indonesia sehingga dalam aturan yang baru, mendaftar haji harus sudah berusia 12 tahun,” terang Ahda. Bahkan,  antrian daftar tunggu haji di Sulawesi Selatan sudah mencapai 28 tahun.

Aturan lainnya,  lanjut Ahda, kuota haji diprioritaskan untuk jamaah yang belum berhaji. Kalau orang yang sudah pernah haji ingin berhaji lagi, dia baru boleh mendaftar kembali setelah sepuluh tahun dari keberangkatan terakhir.

Regulasi baru penyelenggaraan haji ini disosialisasikan kepada para kepala seksi pendaftaran haji seluruh Sumatera dan unsur Ditjen  Penyelenggaraan Haji Dan Umrah. Sebelumnya, sosialisasi telah dilakukan di Makassar untuk kawasan Indonesia Timur dan Yogyakarta untuk wilayah Jawa. Red: Mukafi Niam

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Olahraga, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional

Jakarta, Haedar Nashir



Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj atau yang akrab disapa Kiai Said mengatakan, budaya itu harus menjadi infrastruktur atau pondasi agama.?

Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional

"Tanah air dulu yang kokoh, baru agamanya," kata Kiai Said mengawali pembicarannya saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran Perkemahan Wirakarya Pramuka Maarif NU Nasional (Perwimanas) II dengan tema Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah: Kokohkan Karakter Generasi Bangsa yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan Maarif NU di Lantai 8 Gedung PBNU Jakarta, Sabtu (25/3).

Kiai Said juga meminta kepada Nahdliyin untuk aktif dan menyebarkan Islam damai di dunia maya.

"Kita harus menguasai medsos (untuk mendakwahkan Islam yang damai dan ramah). Kalau tidak pakai medsos, kalah kita," cetusnya.

Terkait dengan agenda Perwimanas, Kiai Said berharap, kegiatan tersebut bisa melahirkan kader-kader muda yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah.

Haedar Nashir

"Semoga membawa kemajuan kepada Maarif, " terangnya.?

Sementara itu, Ketua LP Maarif NU KH Z Arifin Junaidi mengatakan, acara perkemahan ini adalah yang kedua.

Haedar Nashir

Lebih jauh, ia menyebutkan, tujuan diadakannya kemah nasional ini ada dua. Pertama, melahirkan kader-kader muda yang memiliki paham Aswaja An Nahdliah.

"Yang kedua, kita ingin menciptakan kader NKRI harga mati," jelasnya.

Terkait kegiatan kemah tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi mengatakan akan mendukungnya.

"Kita tidak hanya mendukung, tetapi mendorong," kata H Imam disambut gelak tawa penonton.

Ia berharap, acara kemah nasional yang diselenggarakan LP Maarif NU itu bisa membawa dampak yang positif.?

Melalui pramuka, ia berharap acara tesebut bisa meng-ahlussunnah-kan masyarakat sekitar.?

"Pramuka bukan hanya untuk pramuka saja, tetapi juga untuk masyarakat," cetusnya.

Rencananya, acara kemah nasional ini akan digelar pada 18 - 20 September 2017 di Magelang dan diikuti enam ribu peserta. (Muchlishon Rochmat/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Khutbah, Habib Haedar Nashir

Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017

Banyuwangi, Haedar Nashir - Rasa syukur dan terima kasih terucap di bibir M Sholeh Mubarok selepas terpilih sebagai juara pertama pemilihan duta kang santri (kategori laki-laki), saat dimintai keterangan Haedar Nashir Banyuwangi via telpon, Senin (25/9) pagi.

"Alhamdulillah. Saya bersyukur terutama kepada Allah SWT dan kepada segenap panitia, guru, dan dewan juri pemilihan duta kang dan mbak santri tahun 2017. Karena saya menjadi juara pertama pemilihan duta kang santri," kata Sholeh.

Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017

Santri yang masih menempuh pendidikan di Institut Agama Islam Darussalam ini mengatakan, dengan menjadi juara tahun ini menjadi sebuah tantangan dan spirit untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

"Juara kali ini bukan untuk kesombongan, melainkan untuk memacu saya menjadi lebih berprestasi kembali. Menjadi lebih giat untuk belajar di pesantren. Karena di atas langit masih ada langit. Saya siap untuk menjadi yang lebih baik," tutur santri semester tiga, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Selain itu, menurut Sholeh, segala bentuk takdir dan kelebihan butuh diimbangi dengan nilai-nilai akhlaqul karimah.

"Kosong. Jika banyaknya kelebihan dan ilmu yang dimiliki seseorang tanpa dihiasi dengan nilai-nilai akhlaqul karimah. Karena ini saling berkaitan. Tidak dapat dipisahkan. Bukankah akhlaq, perhiasan bagi seseorang yang memiliki ilmu?" tutur santri yang mondok di Pesantren Darussalam, Tegalsari selama empat tahun.

Dalam hal penyampaian manfaat dan keilmuan di masyarakat luas, Sholeh menegaskan butuh wadah organisasi sebagai wasilah.

"Organisasi ideal bagi saya adalah terlibat dalam Nahdlatul Ulama. Karena NU memiliki kelengkapan di setiap lembaga dan badan otonomnya. Juga ditambah organisasi sosial kemasyarakatan ini memiliki basis massa terbesar di Indonesia, bahkan di dunia," jelas santri yang juga aktif dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Terkait dengan hal yang persiapan materi pelajaran yang dibutuhkan untuk pemilihan duta kang dan mbak santri, Sholeh lebih banyak belajar masalah wawasan kebangsaan, sejarah, dan ke-NUan.

"Firasat saya benar. Ternyata banyak teman-teman santri yang berguguran karena minimnya wawasan kebangsaan, sejarah, dan keorganisasian, khususnya terkait ke-NUan. Ini adalah cambuk bagi santri-santri sudah saatnya untuk bangkit dengan keseimbangan ilmu-ilmu yang kontekstual. Bukan hanya unggul dalam keilmuan khas pesantren," tegasnya.

Hadiah yang diberikan oleh panitia akan digunakan untuk hal-hal kebaikan yang dapat meringankan dan membuat tersenyum kedua orang tuanya.

"Uang pembinaan ini akan saya gunakan untuk melunasi biaya administrasi kuliah yang masih kurang. Saya ingin meringankan beban kedua orang tua saya. Pun sudah waktunya untuk melatih hidup mandiri, tanpa bersandar di balik punggung kedua orang tua," kata Sholeh.

"Semoga ini memberikan kemanfaatan dan keberkahan untuk diri saya dan orang tua menjadi lebih baik ke depannya," harap santri yang berusia 20 tahun ini. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Ubudiyah Haedar Nashir

Intelektual dan Arogansi Gerakan Mahasiswa

Oleh? Ahmad Riyadi

Kabar buruk menggumpal di langit kampus ketika segerombolan mahasiswa secara terang-terangan menolak nilai-nilai pluralitas, demokrasi, serta tak luput dari bidikan mereka untuk mendirikan negara khilafah. Entah dari mana pikiran sempit itu muncul, yang jelas, fanatisme agama—baik dalam lingkup kecil seperti kampus atau masyarakat secara luas—merupakan tantangan besar bagi kita dalam berbangsa dan bernegara.

Siapa pula dapat mengira, bahwa kampus yang oleh Plato dikatakan sebagai propopuli discimus (kita belajar untuk rakyat) ternyata menjadi tanah lapang bibit-bibit fanatisme tumbuh. Bahwa kampus yang konon mempunyai fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, pengabdian—jauh dari harapan ideal dan kenyataan.?

Tetapi berbicara fanatisme seperti kasus di atas, tidak cukup menyandarkan segala macam persoalan dan solusi kepada pihak yang secara struktural terikat dengan kampus. Kampus tidak berdiri sendiri; ada masyarakat, keluarga, ormas dan keagamaan sampai organisasi kemahasiswaan ekstra yang turut serta berada di dalam lingkaran itu dengan kapasitas kepentingan yang beragam.

Intelektual dan Arogansi Gerakan Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Intelektual dan Arogansi Gerakan Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Intelektual dan Arogansi Gerakan Mahasiswa

Lantas bagaimana peran pihak-pihak tersebut bertanggung jawab menjaga keutuhan Indonesia dari bahaya fanatisme agama, dalam lingkup paling kecil sekalipun seperti kampus?

Intelektual anti-Intelektualitas

Ada dua pengertian tentang kaum intelektual. Pertama adalah pengertian Bendaian tentang kaum intelektual yang harus menjaga jarak dengan kekuasaan. Kedua yaitu, kaum intelektual harus melakukan keberpihakan terhadap kelompok tertentu sebagaimana termaktub dalam pengertian Gramscian.?

Haedar Nashir

Tetapi, diartikan bagaimanapun kaum intelektual, publik mengamini bahwa kaum intelektual harus berpihak pada kejujuran dan kebenaran di tengah perubahan dan tantangan sosial. Kiranya itu yang di lakukan Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Mbah Hasyim, Mahbub Djunaidi sampai Cak Nur dan Gus Dur sebagai kaum intelektual. Mereka adalah kaum intelektulal yang mendedikasikan ide, gagasan, bahkan hidupnya kepada kelompok-kelompok minoritas yang mengalami ketertindasan oleh kekuasaan, menjunjung keadilan dan nilai-nilai universalitas kemanusian.?

Di tengah ancaman fanatisme agama yang dewasa ini muncul; penolakan terhadap nilai-nilai universalitas kemanusiaan jelas menunjukkan semakin menggejalanya tindakan intoleransi yang mememecah belah bangsa. Kaum intelektual (baca: kader) organisasi kemahasiswaan, harus menunjukkan keberpihakannya; menjaga kesatuan Indonesia dari bahaya fanatisme agama untuk menjaga keutuhan bangsa dan kebhinekaan.

Kendati persoalan itu sudah tampak di kelopak mata beserta bahayanya, tak banyak perhatian yang diberikan oleh organisasi kemahasiswaan. Meminjam bahasa Martin Suryajaya (2016), mereka kaum intelektual yang penerapan fungsinya mengarah kepada kemubaziran sosial. Suatu keadaan yang mencemaskan ini ditandai dengan arogansi mahasiswa untuk melakukan gerakan-gerakan non-politis dan non-profit secara ekonomi, tapi dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakat.?

Berbasis realitas

Haedar Nashir

Fanatisme muncul akibat pengklaiman ? kepercayaan paling baik kelompok tertentu ketimbang kelompok lainnya sebagaimana tertera dalam buku Kala Agama Jadi Bencana (Charles Kimball, 2013). Budi Gunawan dalam artikelnya berjudul Horor Fanatisme, mengatakan bahwa gagasan besar yang tertindas dalam kultur modern adalah Tuhan. Ia menilai, dalam kultur modern fanatisme agama kian tak terbendung, bahkan dengan wajah teror dan pembunuhan. Parahnya, mereka yang melakukan adalah yang mengaku lebih dekat dengan Tuhan (Koloni Keadilan, 2006).

Dalam masyarakat kita sekarang ini, apa yang dikatakan Kimball maupun Budi Gunawan nyatanya menemukan relevansinya. Kaum agamawan nyaris lupa menghadirkan agama yang manusiawi. Pluralitas masyarakat dari aspek budaya, agama, dan ideologi diindahkan karena klaim berlebihan terhadap kebenaran kelompoknya sendiri. Dampaknya, memandang kelompok lain yang berbeda, adalah "najis" sehingga harus dimusnahkan.?

Gerakan anti universalitas kemanusiaan perlu mendapatkan perhatian dari gerakan mahasiswa. Perlawanan gerakan terhadap pemakzulan nilai-nilai universalitas sangat memungkinkan jika gerakan mahasiswa kembali ke tengah-tengah kesulitan dan problem masyarakat. Mereka hadir dengan seperangkat dan kadar intelektual untuk mewacanakan agama dan Tuhan dengan spirit humanis.

Karena bagaimanapun, keutuhan bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran agama, baik secara nilai maupun gerakan. Jangan sampai, fakta ini dinodai dengan munculnya gerakan-gerakan fanatisme yang justru membawa agama pada keburukan. Dan itulah tugas gerakan mahasiswa hari ini, mewacanakan agama yang humanis sebagai counter gerakan fanatisme agama.?

Penulis adalah? Anggota Biro Penelitian dan Pengembangan Cabang PMII DIY, dan Peneliti Sosial di Laboratorium Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Humor Islam, Kyai Haedar Nashir

Kiai Masdar Farid Mas’udi: FDS Lebih Besar Mudharatnya

Jakarta, Haedar Nashir. Sikap tegas penolakan terhadap pelaksanaan full day school (FDS) ditunjukkan oleh pelbagai pihak. Selain sikap tegas penolakan berbentuk unjuk rasa dan aksi damai di sejumlah daerah, sikap tegas juga ditunjukkan oleh Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi saat ditemui di Gedung PBNU Jakarta, Jumat (11/8).

Menurut Kiai Masdar, pelaksanaan full day school akan menyebabkan mudharat (kerugian) yang lebih besar di kalangan masyarakat daripada kemaslahatan (kebaikan)-nya

Kiai Masdar Farid Mas’udi: FDS Lebih Besar Mudharatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar Farid Mas’udi: FDS Lebih Besar Mudharatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar Farid Mas’udi: FDS Lebih Besar Mudharatnya

"Selain terbukti telah menimbulkan polemik, full day school juga akan berpotensi mematikan eksistensi Madrasah Diniyah yang selama ini terbukti berkontribusi dalam memerangi radikalisme," jelas Kiai Masdar.

Kebijakan, lanjut Kiai Masdar, harusnya didasarkan pada basis pengkajian yang komprehensif sehingga seminimal mungkin tidak menimbulkan polemik.?

Haedar Nashir

"Jangan sampai sebuah kebijakan justru kontraproduktif dan cenderung membuat kegaduhan. Maka menurut saya full day school ini sebaiknya dibatalkan saja," jelas penulis buku Syarah Konstitusi: UUD 1945 Perspektif Islam ini.

Sementara itu sampai saat ini gelombang penolakan demi penolakan terus dilakukan di pelbagai daerah. Sikap resmi juga ditunjukkan oleh Pengurus Wilayah dan Cabang di Jawa Timur dan Jawa Tengah. (Fariz Alniezar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Daerah, Aswaja, Ubudiyah Haedar Nashir