Senin, 06 November 2017

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab

Jakarta, Haedar Nashir. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) akan melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Rajab 1433 H. Rukyat dilaksanakan Senin (21/5) sore, bertepatan dengan 29 Jumadal Tsaniyah 1433 H.

Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit akan dilaksanakan di sedikitnya 90 titik strategis di seluruh Indonesia.

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab

“Dari sudut derajatnya sih sudah dapat dirukyat, nanti kita lihat hasil rukyatnya,” kata KH A. Ghazalie Masroeri, Ketua Pengurus Pusat LFNU dihubungi Haedar Nashir di Jakarta, Senin (21/1).

Haedar Nashir

Data hisab dalam almanak PBNU yang diterbitkan oleh LFNU menunjukkan, ijtima’ atau konjungsi telah terjadi pada hari ini, pukul 06.42 WIB. Untuk markaz Jakarta, hilal pada saat matahari terbenam nanti sudah berada di ketinggian 3,27 derajat dengan posisi miring ke utara, dan akan berada di ufuk selama 18 menit 20 detik.

Dengan pertimbangan waktu ijtima’ dan posisi hilal tersebut diperkirakan tanggal bulan tanggal 1 rajab 1433 akan jatuh pada hari Selasa 22 Mei 2012 besok, dan umat Islam sudah bisa menjalankan puasa sunnah Rajab. Namun ketentuan awal bulan Rajab masih menunggu hasil rukyat nanti sore.

Haedar Nashir

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu Haedar Nashir

Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun



Foto yang ditampilkan di halaman ini adalah hasil jepretan Muhammad Fatichin di pesawahan Desa Kalipucung Timur, Batang, Jawa Tengah, pada 11 April 2016. Sekilas, foto ini terlihat biasa dan tak ada yang istimewa, yaitu: para petani melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di pematang sawah.

Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat

Namun, di balik apa yang tampak ini, betapa agama Islam yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW 15 abad lalu di Makkah, telah membumi dan dilaksanakan oleh umat Islam sampai di pelosok desa. Pengaruh Islam begitu terasa, dan telah berakulturasi dengan adat dan budaya masyarakat.

Haedar Nashir

Belakangan, Islam ini mulai dikoyak dengan ide khilafah (Negara Islam). Mungkin mereka berpikir, butuh polisi syariat untuk menilang orang-orang yang enggan atau belum melaksanakan shalat pada waktunya. Padahal, tindakan pemaksaan seperti itu justru akan merendahkan kualitas ibadah seseorang: tidak berangkat dari kesadaran.

Haedar Nashir

Mereka lantang meneriakkan anti-Pancasila dan anti-demokrasi. Padahal, seharusnya mereka sadar, hanya demokrasi lah yang memungkinkan mereka bersuara tanpa kehilangan nyawa. Andai mereka berteriak ketika era Orde Baru dulu, tentu mereka sudah habis tanpa sisa, seperti beberapa aktivis Komunis yang mencoba menggulingkan negara.

Kemapanan Islam di Nusantara juga dikoyak oleh beberapa organisasi yang mengimpor Islam dari Timur Tengah. Dengan serta merta, tanpa pemahaman ideologis, metodologis dan historis yang memadahi, mereka menghakimi sesama muslim dengan ungkapan provokatif: bid’ah dan sesat.

Namun, sepertinya kita tak perlu khawatir dengan tingkah-polah mereka, karena dalam sejarahnya paham-paham yang mencerabut akar-budaya Nusantara selalu akan tergerus dan tidak laku. Meski demikian kita mesti waspada kepada gerakan mereka, oleh karena mereka memiliki jaringan internasional dengan biaya yang besar. Televisi, radio sampai buku dan majalah menjadi media mereka dalam mencerabut Islam dari akar-budaya Nusantara.

Sekali lagi, foto ketaatan petani ini mengingatkan, menegur, dan memberi teladan kepada kita, bahwa "orang kecil" pun memiliki kebesaran dan harga diri dalam melaksanakan ajaran Tuhan. Mereka bekerja, memakan hasil keringat sendiri, beribadah dan jauh dari ingar-bingar korupsi yang marak di parlemen, pemerintahan, sampai sekolahan. Mereka memiliki kemuliaan yang dewasa ini banyak hilang: kemandirian dan ketaatan kepada Tuhan.

Mereka para petani itu juga menjadi "tulang punggung bangsa", kata pendiri NU, KH Hasyim Asyari. Keberadaannya belum sepenuhnya diperhatikan pemerintah, utamanya upaya protektif akan keberadaan cukong dan pemborong. Pemerintah lewat Kementan dan Bulog mesti kerja lebih keras lagi, akar nasib petani bisa menjadi tuan-rumah di negeri sendiri. Beruntung, tahun lalu Indonesia telah mengekspor beras kelas khusus/organik 148 ton yang artinya ada peningkatan yang signifikan.

Dengan tenaga, keringat, doa dan keringat para petani, nasi putih dan harum tersaji di meja makan kita, meja makan restoran mewah, warung-warung angkringan sampai meja makan istana negara. Semoga pemerintah kedepan bisa lebih memperhatikan petani. Juga, nasib petani bisa sejahtera sebagai pilar kemandirian sebuah negara. Amin.

Penulis adalah kader IPNU dan seorang anak petani desa.



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Bahtsul Masail, Santri Haedar Nashir

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan

Karanganyar, Haedar Nashir

Para pengurus IPNU-IPPNU Kabupaten Karanganyar menggelar syukuran harlah ke-62 IPNU dan ke-61 IPPNU. Syukuran sederhana dengan doa bersama dan dilanjutkan pemotongan nasi tumpeng simbolis di kantor PCNU Karanganyar Jl. Gatot Subroto Karanganyar, Ahad (28/2).

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan

Ketua IPNU Karanganyar Muhammad Ilham Subkhan mengungkapkan peringatan harlah merupakan upaya untuk mengingat perjuangan dan mendoakan para pendiri IPNU-IPPNU.

?

"Kami selenggarakan acara harlah ini dengan sederhana, yang terpenting esensinya tercapai, yaitu mendoakan para pendiri IPNU dan semangat juangnya," ungkap Ilham.

Ia juga berharap semoga harlah ini sebagai momentum kebangkitan pelajar NU di Karanganyar sehingga keberadaanya semakin diperhitungkan.

Haedar Nashir

Selanjutnya Ketua PCNU Karanganyar H Khuzaini Hasan dalam tausiyahnya meminta kepada pelajar NU untuk terus belajar, tapi belajar dengan guru yang jelas sanadnya.

"Putra-putriku yang ada di jajaran pengurus harus terus belajar, tapi belajar kepada guru yang jelas gurunya," jelas Khuzaini.

Haedar Nashir

"Kalau belajar tanpa guru atau guru yang tidak jelas, itu bisa berbahaya dan kita bisa tersesat," tambahnya.

Selain itu, ia berpesan kepada pengurus IPNU-IPPNU untuk berani menyuarakan paham Aswaja an-Nahdiyyah di daerah Karanganyar, karena sebagian dari masyarakat Karanganyar belum mengenal NU. (Ahmad Rosyidi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh?

Subang, Haedar Nashir

Usai melaksanakan pengajian bahtsul masail di kantor MWCNU Dawuan, Subang, Jawa Barat yang digelar tiap Sabtu, Ketua MWCNU setempat, Ajengan Toto Ubaidillah Haz mengutip sebuah keterangan yang menyatakan bahwa di liang kubur jasad seorang hafidh (penghafal) Al-Quran akan tetap utuh.

Mengenai hal ini, pria yang akrab disapa Kang Toto itu mengisahkan pertemuannya dengan Bu Supaedah. Ia adalah anak seorang hafidh Al-Quran yang saat ini berprofesi menjadi bidan di sebuah klinik. Pertemuan itu terjadi beberapa waktu lalu saat Kang Toto mengantar anaknya berobat. Dalam pertemuan itu keduanya berdialog cukup serius.

32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh? (Sumber Gambar : Nu Online)
32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh? (Sumber Gambar : Nu Online)

32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh?

"Pak Ustadz, kira-kira kemana kalau mau mesantrenin anak ya?" tanya bidan Supaedah

Haedar Nashir

Pria yang akrab disapa Kang Toto itu menjawabnya dengan pertanyaan, "Memangnya ibu maunya di pesantren daerah mana?"

Haedar Nashir

Bidan Supaedah menjawab bahwa ia asli Cirebon dan menginginkan anak-anaknya bisa masuk pesantren yang ada di daerah Cirebon supaya bisa dekat dengan keluarga besarnya. Selain itu, ia pun menegaskan bahwa pesantren yang diinginkannya adalah pesantren tahfidh Al-Quran.

"Kalau pesantren Al-Quran ada di Kaliwadas Cirebon, Pesantrennya Uwa saya almarhum KH Nashir, nama pesantrennya An-Nashr. Ada juga di Ambit, Kecamatan Waled pesantrenya KH Abdul Basith, pesantren itu dikelola anak-anak dari Pesantren Rawamerta, Karawang," jawab Kang Toto yang saat ini menjabat Ketua Lembaga Dakwah NU Subang.

Namun benak Kang Toto sedikit termenung, karena biasanya para orang tua menginginkan anaknya mengikuti dan melanjutkan jejak orang tuanya, tapi bu bidan yang satu ini malah menginginkan anaknya masuk ke pesantren Al-Quran, bukan ke sekolah kesehatan.

"Kenapa ibu mau masukin anak ke pesantren? Enggak dimasukin ke kedokteran atau yang sesuai dengan profesi ibu?"

Bidan Supaedah kemudian menjawabnya dengan sebuah kisah nyata yang dialami keluarganya. Suatu hari, dengan alasan tertentu makam ayah Bidan Supaedah yang telah wafat 32 tahun yang lalu hendak dipindahkan, proses pemindahannya disaksikan oleh seluruh keluarga. Saat makam dibongkar, semua orang terkejut menyaksikan jasad penghuni makam itu masih utuh sempurna dan tidak hancur.

"Anak-anak saya bertanya, Mah, kenapa jasad kakek tidak hancur? Kok masih utuh? Kan kakek sudah meninggal puluhan tahun yang lalu?" ungkap Supaedah menirukan pertanyaan anak-anaknya.

Dengan berlinang air mata, Supaedah kemudian menjawabnya dengan sejarah sosok sang kakek yang belum diketahui oleh cucu-cucunya itu.

"Jasad kakek kalian tidak hancur dan masih utuh karena kakek kalian semasa hidupnya adalah seorang hafidh Al-Quran, kakek kalian kiai pengamal Al-Quran, Nak..."

Sejak saat itu, anak-anak Bidan Supaedah ingin menjadi penghafal Al-Quran dan minta dimasukan ke pesantren supaya bisa seperti kakeknya di kemudian hari. "Menurut informasi, sekarang anak-anaknya bu bidan itu sudah masuk pesantren Al-Quran"pungkas Kang Toto kepada Haedar Nashir, Sabtu (30/7). (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Fragmen, Sholawat Haedar Nashir

Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra

Jakarta, Haedar Nashir. Kementerian Agama RI dan University of Canberra menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dalam realisasi program 5000 Doktor yang tahun ini menjadi tahun kedua program ini berjalan. Penandantanganan dilakukan Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin dan pihak University of Canberra Australia Frances Shannon di Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat, Senin (23/5).

Kamaruddin mengungkapkan University of Canberra merupakan salah satu perguruan tinggi di Australia, sedangkan Australia sendiri adalah salah satu negara yang menjadi target untuk mengirim dosen-dosen ke luar negeri. "Seperti sering kami sampaikan di sejumlah kesempatan bahwa program 5000 doktor akan meng-cover 25 persen ke luar negeri di antaranya ke negara di Eropa, Mesir, Arab Saudi, Maroko, Turki, Jepang dan lainnya, dan 75 persen lainnya di universitas dalam negeri. Dan hari ini adalah MoU dengan University of Canberra di negara Australia," ujar Kamaruddin sebagaimana dilansir kemenag.go.id.

Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra (Sumber Gambar : Nu Online)
Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra (Sumber Gambar : Nu Online)

Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra

Menurut Kamaruddin, yang menarik dari MoU ini adalah mereka akan membantu pihaknya mempersiapkan caloh Doktor. "Misalnya, kita mengirim kandiat doktor yang IELTS baru enam, universitas ini menerima, meski standarnya 6.5," ujarnya .

“Mereka (University of Canberra) akan membantu mempersiapkan dan menggembleng lagi bahasa Inggerisnya (calon doktor) tersebut, dan itu sepenuhnya dibiayai oleh pihak universitas. Itu poin atau nilai tambah dari MoU ini,” terang Kamaruddin.

Kamaruddin menambahkan, terdapat beragam program studi yang ditawarkan melalui program 5000 doktor ini, dan tidak semata tentang studi agama, tapi juga studi non agama seperti arsitektur, kedokteran, teknologi informasi dan komunikasi yang bisa dipilih. Diharapkan mereka bisa menyelesaikan studinya sesai target tang ditentukan, 3-4 tahun.?

Haedar Nashir

“Tahun ini kami menyiapkan 250 orang untuk studi di perguruan tinggi luar negeri, dan 750 di perguruan tinggi dalam negeri,” kata Kamaruddin.

Penerima program 5000 Doktor ini adalah mereka yang telah lulus melalui sejumlah tahapan yang dilakukan oleh tim seleksi yang dibentuk Kemenag.? (Red-Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Budaya, Kiai, Pahlawan Haedar Nashir

Minggu, 05 November 2017

Kang Said: Pelanggar Hukum jadi Musuh Bersama

Jakarta, Haedar Nashir. “Para pelanggar hukum merupakan musuh bersama bagi semua rakyat Indonesia,” kata KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU kepada Haedar Nashir baru-baru ini.?

Perihal ini menjadi sikap dasar NU. Karena, NU berpedoman pada pernyataan Rasulullah, “Wa la ‘udwana illa ‘alaz zhalimin,” “Tiada permusuhan selain hanya kepada mereka yang berlaku zalim,” tambah Kang Said.

Kang Said: Pelanggar Hukum jadi Musuh Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Pelanggar Hukum jadi Musuh Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Pelanggar Hukum jadi Musuh Bersama

Mereka yang zalim merupakan musuh bersama. Karena, mereka telah menganiaya diri sendiri atau pun orang lain. Kang Said menyebut sejumlah pelanggar hukum yang antara lain adalah teroris, pengedar narkoba, pembunuh, koruptor, sejumlah importir nakal, dan penyalahgunaan wewenang.

Haedar Nashir

Sebelumnya dalam refleksi awal tahun 2013, Kang Said mengimbau pemerintah untuk lebih tegas menindak para pelanggar hukum di Indonesia. Penindakan tegas terhadap musuh bersama, merupakan harapan masyarakat umum.

Harapan masyarakat itu belum terwujud di tahun 2012 lalu. Kang Said yang didampingi sejumlah pengurus lembaga, lajnah, dan PBNU, menilai kinerja pemerintah dalam penegakkan hukum belum maksimal.

Haedar Nashir

Pemerintah masih tebang pilih dalam menindak mereka yang terbukti melanggar hukum. Padahal, hukum adalah perangkat mutlak yang dapat menjamin rasa aman masyarakat dari segala bentuk gangguan mulai dari keamanan, permainan harga pasar, hingga kepercayaan terhadap hukum itu sendiri, imbuh Kang Said.

Pemerintahan SBY jilid dua, menurut Kang Said, hanya mempunyai waktu satu setengah tahun terakhir untuk membenahi diri. Pemerintahan ini akan dinilai gagal oleh masyarakat saat mengabaikan PR yang menjadi keresahan masyarakat umum di tahun terakhir pemerintahannya.

? Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Lomba Haedar Nashir

IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Cetak Kader Jurnalis

Kudus, Haedar Nashir. Untuk menjawab tantangaan zaman, IPNU-IPPNU Kudus terus bertekad mencetak kader-kader jurnalis dari kalangan pelajar NU. Harapan ke depan, pelajar NU memiliki kemampuan menulis ide maupun gagasannya untuk kepentingan dakwah.?

Wakil Ketua bidang pengembangan santri, pelajar dan mahasiswa (PSPM) IPNU Kudus Ubaidillah Dwi Lazuardi menyampaikan hal itu kepada Haedar Nashir disela-sela acara Latihan Dasar Jurnalistik (LDJ) Forkapik IPNU-IPPNU di di Aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Prambatan, Kamis (9/5).

IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Cetak Kader Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Cetak Kader Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Cetak Kader Jurnalis

Ubadillah menekankan IPNU-IPPNU mempunyai tanggung jawab memberdayakan pelajar (NU) dalam berbagai bidang kemampuan dan ketrampilan. Jurnalistik, katanya, merupakan salah satu ketrampilan yang saat ini menjadi kebutuhan pelajar.

Haedar Nashir

“Meski di sekolah-sekolah sudah diajarkan ilmu jurnalistik, namun LDJ ini sebagai upaya memperdalam ilmu menjadi lebih matang sampai mampu mempraktekkan,” katanya.

Haedar Nashir

Upaya pengembangan keterampilan menulis, IPNU-IPPNU Kudus menerbitkan majalah Pilar yang terbit 3 bulan sekali dan bulletin Adz-Dzaka’ terbit sebulan sekali. Kedua media pelajar itu, imbuh ubaidillah, diharapkan menjadi ajang latihan menulis dalam menuangkan gagasan dan ide-ide bernas.

Terkait keberadaan Forkapik, ia menjelaskan ? organisasi forum pimpinan komisariat IPNU-IPPNU di lingkungan sekolah dan Madrasah di Kudus.?

“Forkapik dibawah pembinaan dan pendampingan IPNU-IPPNU, secara khusus keberadaannya berjalan eksis mengembangkan IPNU-IPPNU di sekolah dan madrasah,” imbuhnya.

Latihan dasar Jurnalistik ini berlangsung selama dua hari mulai Rabu–Kamis (8-9/5). Sedikitnya 80 pelajar ? yang berasal dari MA/SMA/SMK se Kudus mengikuti dengan seksama. Berbagai materi dasar jurnalistik mulai pengenalan jurnalistik, teknik menulis berita, artikel dan manajemen redaksi disampaikan pemateri yang berasal dari wartawan media lokal di Kudus.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul ? Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir