Jumat, 24 November 2017

Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah

Jember, Haedar Nashir. Jangan pernah berharap untuk menjadi pemenang bila hidup ini tak pernah dipertaruhkan. Kemenangan hanya milik orang yang bertarung (berjuang). Kalimat bijak tersebut muncul dari pidato Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch. Eksan saat memberikan pengarahan dalam acara pembukaan Porseni ke-XIV PAC IPNU-IPPNU Wuluhan, Ahad (18/12).

Menurut Eksan, berjuang adalah sebuah keniscayaan. Kemenangan sejatinya adalah anugerah dari Allah yang diberikan bersamaan dengan usaha yang dilakukan manusia sebagai tebusan terhadap jerih payah dan perjuangannya. “Karena itu jangan pernah menyerah untuk menjadi yang terbaik, termasuk dalam event Porseni ini ,” ucapnya.

Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah

Penulis buku “Kiai Muchit, Kiai Kelana” itu menambahkan, bahwa hidup ini esensinya adalah kompetisi tanpa akhir. Selama nyawa masih dikandung badan, selama? itu pula manusia harus berkompetisi untuk menjaga eksistensinya. Untuk meraih hidup yang mapan, bahkan untuk sekadar mempertahankan hidup saja, dibutuhkan usaha yang tidak ringan.

“Karena itu, bila kita ingin sukses, jangan pernah berhenti berjuang. Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Justru kegagalan adalah 50 persen kesuskesan. Dengan kata lain kegagalan adalah sukses yang tertunda,” urainya.

Dalam kesempatan tersebut, Eksan sedikit bernostalgia saat-saat? dirinya menjadi aktifis IPNU Jember sekian tahun yang lalu. Ia bercerita soal keikut-sertaan dirinya dalam Porseni IPNU-IPPNU tahun? 1994 di Yayaan Pendidikan? Ma’arif Wahid Hasyim, Balung. Ketika itu, Eksan berhasil meraih juara 2 dalam lomba pidato.

Haedar Nashir

“Saya waktu itu utusan Ancab IPNU Silo, dan alhamdulillah berhasil. Sampai sekarang piala lomba itu masih ada dan terawat di rumah saya,” ungkap politisi Partai Nasdem tersebut.

Semua kegiatan Porseni tersebut dihelat? di Yayasan Pondok Pesantren Bintang Sembilan (Yaspibis) Jl. Pahlawan 127, Desa Dukuhdempok, Wuluhan, dan akan berlangsung hingga empat hari ke depan.? (aryudi a. razaq/abdullah alawi) ?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir

Kamis, 23 November 2017

Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak

Para tokoh atau ilmuwan yang berhasil “mengubah dunia” tidak hanya terlahir dari negara-negara Barat, dan bukan hanya berasal dari orang-orang non-Muslim. Beberapa ilmuwan yang berhasil meninggalkan temuan-temuan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia juga berasal dari orang-orang Islam. Ketika kita membuka kembali lembaran sejarah tentang kemajuan umat Islam klasik, di sana kita akan menemukan bahwa Kota Baghdad merupakan pusat segala ilmu yang dinahkodai oleh orang-orang Islam, beberapa ilmuwan Muslim muncul dan meninggalkan beberapa karya. Akan tetapi, pada tahun 1258 Bangsa Mongol menyerang Baghdad, memporak-porandakan segala penjuru Kota Baghdad, perpustakaan dibakar, karya-karya ilmuwan Muslim yang dihasilkan bertahun-tahun pun lenyap seketika, sebagian mereka bawa ke negara-negara Eropa untuk dipelajari. Sebelum peristiwa itu, Eropa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemajuan di dunia Islam.

Beberapa ilmuwan Muslim berikut karya-karya sangat penting untuk kita ketahui, selain menambah wawasan, hal ini juga dapat memacu semangat belajar kita, terutama generasi muda. Ada beberapa penulis yang mengarsipkan beberapa hasil temuan para ilmuwan Muslim dalam sebuah buku, yang bisa dibaca dan dipelajari oleh beberapa kalangan, akan tetapi terkadang tidak dapat dipahami oleh anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Lain halnya dengan buku yang satu ini, buku ini memang didesain dan dirancang khusus untuk anak-anak Muslim. Di dalamnya disertakan aneka macam gambar dengan format full color, sehingga menambah gairah si kecil untuk segera membaca.

Buku ini berisi riwayat hidup 25 tokoh ilmuwan Muslim berikut juga penemuannya dalam berbagai bidang, salah satunya adalah Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Sina, yang dikenal dengan Ibnu Sina dan di Barat disebut Avicenna. Ibnu Sina disebut-sebut sebagai gurunya para dokter lewat karyanya yang berjudul al-Qanun fi ath-Thibb, kitab ini memuat beberapa hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan segala ilmu kedokteran, saking mujarabnya kitab ini dijadikan rujukan dan dipelajari oleh semua dokter dunia. Pada awalnya, Ibnu Sina ditugaskan untuk mengobati penyakit yang diderita oleh salah satu pejabat di wilayahnya, sang pejabat itu sudah putus asa sebab tidak ada dokter yang bisa mengobatinya, hingga akhirnya Ibnu Sina diberikan kesempatan untuk mencoba mengobati sang pejabat, dan dengan caranya sendiri, Ibnu Sina berhasil menyembuhkan penyakit pejabat itu. Dari peristiwa ini, keahlian Ibnu Sina dalam menyembuhkan penyakit menjadi terkenal, hingga suatu ketika beliau dipanggil untuk mengobati Gubernur Bukhara, Nuh bin Mansur yang sedang jatuh sakit, dan Ibnu Sina pun berhasil menyembuhkannya, atas jasanya beliau dilantik sebagai dokter istana dan diperkenankan untuk menggunakan perpustakaan kerajaan yang menyimpan berbagai karya, (halaman 72-74).

Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak

Tidak menutup kemungkinan, ilmu-ilmu kodekteran yang kita pelajari saat ini—salah satunya—merupakan warisan dari sang Guru Dokter, sehingga dengan hal ini kita akan tahu bahwa mayoritas dokter yang ada di dunia ini—secara tidak langsung—berguru kepada orang Islam. Dan sayang sekali ketika kita dan generasi kita tidak tahu tentang hal yang luar biasa ini.

Selain Ibnu Sina yang terkenal dalam ilmu kedokteran, ada juga ilmuwan Muslim yang berhasil meninggalkan temuan yang sangat bermanfaat bagi seluruh manusia, yaitu Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, beliau berhasil menemukan angka “nol”. Sepintas memang terlihat sepele, akan tetapi coba kita bayangkan bagaimana kita bisa membuat angka puluhan, ratusan, ribuan, atau jutaan, tanpa adanya angka nol. Lewat buku pertamanya al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan), al-Khawarizmi  memperkenalkan angka nol. Dengan diperkenalkannya angka nol, kesulitan bisa diatasi dan permasalahan pun berhasil dipecahkan, angka nol merupakan sumbangan tersebar dalam dunia “hitung-menghitung” (matematika). Dunia patut berterima kasih pada ilmuwan yang satu ini, karena dengan adanya angka nol, bilangan 217 dan 2017 berhasil dibedakan, (halaman 12-13).

Haedar Nashir

Generasi kita selayaknya tahu bahwa orang Islam itu tidak jumud, statis, dan apalagi bodoh, para ilmuwan yang berhasil mengubah dunia juga terlahir dari Islam, dan sebagian terkumpul dalam buku “Ilmuwan Muslim Pengubah Dunia” ini, dengan bahasa yang sangat sederhana, padat, dan ringkas, Norwita Ariany menghadirkan buku ini khusus dibaca oleh anak-anak Muslim.

DATA BUKU

Judul : Ilmuwan Muslim Pengubah Dunia

Penulis : Norwita Ariany

Penerbit : Mizan

Haedar Nashir

Cetakan : -

ISBN : 978-602-2421-505-2

Tebal : 116 halaman

Peresensi: Saiful Fawaitm,  mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Berita, Amalan Haedar Nashir

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Popularitas shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia lantas bersih dari para penolaknya? Ternyata tidak. Sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat lumrah dalam kehidupan beragama.

Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah alias bid’ah. Sebagian yang lain mengahakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah.

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. Yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian?

Kita simak dulu redaksi shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut:

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Perhatian para penuduh shalat Nariyah mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada empat kalimat berurutan di bawah ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kalimat-kalimat itu pun dirinci lalu diterjemahkan begini:

? ? ?

Artinya: "Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad."

Menurut para penuduh itu, empat kalimat tersebut sarat kesyirikan karena secara terjemahan mengandung pengakuan bahwa Nabi Muhammad memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Allah, seperti bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah.



Bantahan dari Ilmu Sharaf dan Nahwu Dasar


Shalawat Nariyah atau disebut juga shalawat Tâziyah atau shalawat Tafrîjiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Mufti Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko.

Jika shalawat Nariyah dianggap syirik, ada beberapa kemungkinan. Pertama, para ulama pengamal shalawat itu tak mengerti tentang prinsip-prinsip tauhid. Ini tentu mustahil karena mereka besar justru karena keteguhan dan keluasan ilmu mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam. Kedua, pengarang shalawat Nariyah, termasuk para pengikutnya, ceroboh dalam mencermati redaksi tersebut sehingga terjerumus kepada kesyirikan. Kemungkinan ini juga sangat kecil karena persoalan bahasa adalah perkara teknis yang tentu sudah dikuasai oleh mereka yang sudah menyandang reputasi kelilmuan dan karya yang tak biasa. Ketiga, para penuduhlah yang justru ceroboh dalam menghakimi, tanpa mencermati secara seksama dalil shalawat secara umum, termasuk juga aspek redaksional dari shalawat Nariyah.

Dilihat dari segi ilmu nahwu, empat kalimat di atas merupakan shilah dari kata sambung (isim maushul) ? yang berposisi sebagai na‘at atau menyifati kata ?.

Untuk menjernihkan persoalan, mari kita cermati satu per satu kalimat tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Pertama, ? ? ? .




Dalam kacamata ilmu sharaf, kata ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?. Bentuk ini mengikuti wazan ? yang memiliki fungsi/faedah ? ? (dampak dari ?). Demikian penjelasan yang kita dapatkan bila kita membuka kitab sharaf dasar, al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah, karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali.

Contoh:

? ? ?

“Saya memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu.” Dengan bahasa lain, kaca itu pecah (?) karena dampak dari tindakan subjek “saya” yang memecahkan.

Contoh lain:

? ? ? ?

“Allah telah melepas beberapa ikatan (kesulitan) maka lepaslah ikatan itu.” Dengan bahasa lain, ikatan-ikatan itu lepas karena Allahlah yang melepaskannya.

Di sini kita mencermati bahwa wazan ? mengandaikan adanya “pelaku tersembunyi” karena ia sekadar ekspresi dampak atau kibat dari pekerjaan sebelumnya.

Kalau ? ? ? dimaknai bahwa secara mutlak Nabi Muhammad melepas ikatan-ikatan itu tentu adalah kesimpulan yang keliru, karena tambahan bihi di sini menunjukkan pengertian perantara (wasilah). Pelaku tersembunyinya tetaplah Allah—sebagaimana faedah ? ?.

Hal ini mengingatkan kita pada kalimat doa:

? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ?

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah ikatan/kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Kedua, ? ? ?. Senada dengan penjelasan di atas, ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?, yang juga mengikuti wazan ?. Faedahnya pun sama ? ? (dampak dari ?).

Ketika dikatakan ? ? ? maka dapat diandaikan bahwa ? ? ? ?. Dengan demikian, Allah-lah yang membuka atau menyingkap bencana/kesusahan, bukan Nabi Muhammad.

Ketiga, ? ? ?. Kata ? adalah fi’il mudlari‘ dalam bentuk pasif (mabni majhûl). Dalam ilmu nahwu, fi’il mabni majhul tak menyebutkan fa’il karena dianggap sudah diketahui atau sengaja disembunyikan. Kata ? menjadi naibul fa’il (pengganti fa’il). Ini mirip ketika kita mengatakan “anjing dipukul” maka kita bisa mengandaikan adanya pelaku pemukulan yang sedang disamarkan.

Dengan demikian kita bisa mengandaikan kalimat lebih lengkap dari susunan tersebut.

? ? ?

“Allah akan mengabulkan kebutuhan-kebutuhan.”



Keempat, ? ? ?




Penjelasan ini juga nyaris sama dengan kasus ? ? ?. Singkatnya, Nabi Muhammad bukan secara mutlak memiliki kemampuan memberikan keinginan-keinginan karena Allah-lah yang melakukan hal itu yang dalam kalimat tersebut disembunyikan. Fa’il tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui.

Alhasil, dapat dipahami bahwa tuduhan syirik atas kalimat-kalimat itu sesungguhnya keliru. Sebab, kemampuan melepas kesulitan, menghilangkan bencana/kesusahan, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan-keinginan secara mutlak hanya dimiliki Allah. Dan ini pula yang dimaksudkan pengarang shalawat Nariyah, dengan susunan redaksi shalawat yang tidak sembrono. Hanya saja, dalam redaksi shalawat Nariyah tersebut diimbuhkan kata bihi yang berarti melalui perantara Rasulullah, sebagai bentuk tawassul.

Bahasa Arab dan bahasa Indonesia memang memiliki logika khas masing-masing. Karena itu analisa redaksi Arab tanpa meneliti struktur bakunya bisa menjerumuskan kepada pemahaman yang keliru. Lebih terjerumus lagi, bila seseorang membuat telaah, apalagi penilaian, hanya dengan modal teks terjemahan. Wallahu a’lam. (Mahbib Khoiron)

(Baca juga: Menjawab Penggugat Shalawat Nariyah)


Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Cerita Haedar Nashir

Silaturrahim Kiai dan Alumni Pesantren Krapyak Bahas Masa Depan NU

Bantul, Haedar Nashir. Pada acara Silaturrahim Kiai-Alumni Pesantren Krapyak dalam rangka Menyambut Haul ke-28 Al-Maghfurlah Kiai Ali Maksum, Ahad (5/2), mengemuka tentang rasa optimis terhadap NU di masa depan.?

Acara yang berlangsung di kompleks Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, DIY tersebut menghadirkan tiga pembicara yakni, KH As’ad Said Ali, KH Zaim Maksum, dan KH Masyhuri Malik.?

Silaturrahim Kiai dan Alumni Pesantren Krapyak Bahas Masa Depan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturrahim Kiai dan Alumni Pesantren Krapyak Bahas Masa Depan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturrahim Kiai dan Alumni Pesantren Krapyak Bahas Masa Depan NU

Mendapatkan kesempatan pertama untuk berbicara, Kiai As’ad Said Ali mengemukakan tentang fakta terkini organisasi NU.?

“Ini ada anak muda NU yang melakukan penelitian di Alvara menemukan fakta bahwa NU merupakan organisasi paling dikenal dan masyarakat Indonesia banyak yang berafiliasi kepada NU,” kata Kiai As’ad di hadapan ratusan peserta yang hadir.?

Ke depan, lanjut Kiai As’ad, saya tetap optimis, NU akan tetap ada di masa depan, meski kini selalu coba dihancurkan oleh kelompok-kelompok yang tidak suka terhadap NU. Utamanya yang ingin menguasai NKRI, karena NU adalah penjaga NKRI.?

Haedar Nashir

Senada dengan Kiai As’ad Said Ali, Kiai Zaim Maksum, cucu Kiai Maksum Lasem juga optimis NU bisa bertahan dan tetap istiqomah menjaga NKRI.

Haedar Nashir

“Saya optimis, NU akan selalu ada tetapi memang ada beberapa hal yang harus dibenahi, misalnya kemandirian organisasi,” tandas Kiai Zaim.?

Sementara itu, KH Masyhuri Malik (mantan Ketua LAZISNU Pusat) mengutip Kiai As’ad, mengemukakan gagasan tentang perlunya sebuah wadah yang bisa menampung orang-orang NU yang tidak masuk struktural.?

“Orang-orang NU yang menjadi tentara, kemudian pebisnis, dan anak-anak muda yang ahli IT kan tidak mungkin masuk kepengurusan. Nah makanya, perlu ada sebuah wadah yang bisa menampung mereka. Kita harus memaksimalkan semua potensi yang kita miliki,” tegasnya. (Nur Rokhim/Fathoni)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Kyai, Lomba Haedar Nashir

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari

Jombang, Haedar Nashir. Molornya penutupan Muktamar Ke-33 NU membawa berkah bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya. Selain muktamirin punya waktu lebih lama bersilaturahim, pedagang punya waktu lebih lama berjualan sehingga bisa untung lebih banyak.

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari

Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Daerah (Panda) Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), Senin (3/8/2015) malam di media center Muktamar ke-33 NU yang berada di komplek SMA 1 Jombang. Dalam konferensi pers yang dihadiri belasan wartawan dari lokal, nasional dan asing, Gus Ipul tampak ceria dan melemparkan guyonannya.

Menurutnya, jumlah peserta dan panitia Muktamar saja  5.000 orang. Sedangkan pengunjung muktamar selain peserta dan panitia, setiap hari rata-rata berjumlah 10.000 orang. Mereka ini datang bukan karena diundang oleh panitia, melainkan “diundang” oleh NU. Mereka merasa memiliki NU, sehingga tanpa diundang oleh panitia pun mereka pasti datang. Yang penting semuanya bisa menikmati suasana kemeriahan muktamar ini.

Haedar Nashir

"Jika rata-rata setiap orang berbelanja Rp 100.000 dari 15.000 orang tersebut, maka setiap harinya terjadi perputaran uang rata-rata Rp 15 miliar. Jika dipatok Muktamar berlangsung lima hari saja, ya bisa kalikan sendiri berapa jumlahnya. Ini berkah bagi pedagang dan masyarakat Jombang. Kalaupun sempat molor penutupan Muktamar dari jadwal yang sudah ditetapkan, sebenarnya ada juga untung bagi masyarakat," tutur Syaifullah.

"Panitia selain menyelenggarakan rapat-rapat, sidang-sidang agenda muktamar, juga menyediakan arena berbagai kegiatan. Seperti di GOR ada pameran, bazar, pertunjukan musik yang menampilkan Ahmad Dhani, Rhoma Irama, shalawatan dan sebagainya. Sedangkan di sejumlah pondok pesantren juga berlangsung, bazar,  diskusi dan bedah buku dari berbagai tokoh/intelektual NU," tambah Gus Ipul.

Haedar Nashir

Dari pantauan Haedar Nashir, berbagai kelompok/organisasi di lingkungan struktural maupun kultural NU menggelar pula banyak kegiatan. Mulai dari sebelum dibukanya Muktamar Ke-33 NU oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu (1/8) malam, hingga Senin (3/8/2015) malam. (Armaidi Tanjung/Mahbib)     

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, RMI NU Haedar Nashir

Rabu, 22 November 2017

PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menyerahkan uang total Rp180.000.000 kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui NU Care-LAZISNU sebagai bentuk bantuan kemanusiaan untuk etnis Rohingya dan pengungsi Gunung Agung, Bali.

Penyerahan bantuan diwakili oleh Sekretaris Jenderal bersama Bendahara Umum PB PMII Muhamad Risal kepada Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda di Lantai 2, Gedung PBNU, Selasa (3/10).

PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung (Sumber Gambar : Nu Online)
PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung (Sumber Gambar : Nu Online)

PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung

Sekretaris Jenderal PB PMII Sabolah Al Kalamby, usai menyerahkan bantuan menyatakan, uang yang diserahkan kepada etnis Rohingya melalui NU Care-LAZISNU sebesar Rp125.000.000 dan Rp55.000.000 disalurkan untuk pengungsi Gunung Agung secara langsung.

Utusan PB PMII, Zeni Syargawi (Ketua Bidang Advokasi) dengan didampingi Azwardi Natta menyerahkan bantuan langsung senilai Rp55.000.000 untuk pengungsi Gunung Agung ke Dusun Karang Sidemen, Kabupaten Karang Asem, Bali di hari yang sama.

Sabolah menjelaskan, jumlah itu merupakan hasil penggalangan dana dari 25 cabang PMII se-Indonesia. Selain 25 cabang, masing-masing cabang se-Nusantara, juga melakukan aksi penggalangan dana. Menurutnya, mereka berinisiatif menyerahkan bantuan ke masing-masing PCNU sebagai langkah sinergi. 

Haedar Nashir

Harapannya dengan bantuan kemanusiaan itu, dapat meringankan beban serta kebutuhan etnis Rohingya yang saat ini banyak mengungsi ke Bangladesh. 

Aksi penggalangan dana serentak di seluruh Indonesia itu, tambah Sabolah, merupakan wujud komitmen PMII dalam melawan aksi kekerasan terhadap etnis Rohingya.

“Ini aksi kemanusiaan kita lakukan di seluruh cabang di Indonesia, kita serahkan ke NU Care supaya segera didistribusikan kepada masyarakat Rohingya yang mengalami aksi kekerasan, aksi ini juga wujud komitmen kami melawan aksi kejahatan manusia dalam bentuk apapun,” tukas Sabolah.

Sementara itu, Ketua Umum PB PMII Agus M. Herlambang mengungkapkan apresiasinya atas kontribusi 25 cabang untuk aksi penggalangan dana. Tak hanya itu, Ia juga sangat bangga kepada seluruh kader di Indonesia yang telah bersusah payah melaksanakan aksi penggalangan di kampus-kampus, perempatan jalan dan di berbagai tempat lainnya. 

Haedar Nashir

Agus berharap, seluruh kader PMII di Indonesia tidak hanya melakukan aksi penggalangan dana, tetapi juga menjadikan gerakan  itu sebagai momentum perlawanan terhadap aksi kekerasan dalam bentuk apapun. 

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada sahabat-sahabat se-Nusantara karena telah melakukan gerakan kemanusiaan. Semoga menjadi momentum dan komitmen seluruh kader untuk melawan aksi kejahatan kemanusiaan,” pungkas Agus.

Syamsul Huda, Ketua NU Care-LAZISNU menerima silaturahmi PB PMII dan berterimakasih atas kerja sama sahabat-sahabat PMII.

“Terimakasih sahabat-sahabat PMII atas kepercayaannya kepada NU Care-LAZISNU. Donasi akan disalurkan langsung oleh teman-teman LPBI NU yang memang fokus atas peristiwa di sana,” ucap Syamsul.

Syamsul juga menuturkan bahwa sinergi antara PMII dan NU Care – LAZISNU harus terus berjalan untuk kemajuan bersama. “Kita sama-sama menata langkah. Bersinergi secara simultan, terencana, dan massif,” tuturnya.

Pengumpulan dana berasal dari cabang-cabang yaitu Lampung Utara, Pinrang, Kota Makasar, Pare-pare, Kabupaten Buol, Lombok Tengah, Palangkaraya, Lumajang, Kabuapten Seram Bagian Timur, Bulungan, Batanghari, Dompu, Manado, Kota Serang, Kabupaten Sumbawa Barat, Sumbawa, Seruyan, Lubuklinggau, Sampit, Kota Sorong, Martapura, Lombok Timur, Kabupaten Takalar, Pamekasan, dan Kabupaten Pati. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Nahdlatul Haedar Nashir

Selalu Cek Kebenaran Sebelum Membagikan Berita di Medsos

Boyolali, Haedar Nashir. Kewaspadaan terhadap berita yang beredar melalui media sosial juga perlu dilakukan anggota Ansor maupun Banser. Upaya tabayyun (klarifikasi/cek) atau mencari tahu fakta dari kebenaran berita tersebut, merupakan langkah yang paling tepat.

“Kita mesti hati-hati untuk membagikan informasi atau berita di media sosial. Sering kali hal itu justru bersifat provokatif dan bahkan menjurus pada ujaran kebencian,” papar Ketua PC GP Ansor Boyolali Choiruddin Ahmad pada silaturahim GP Ansor dan Fatayat NU se-Boyolali di Slembi, Mojosongo, Boyolali, Ahad (25/12).

Senada dengan itu, Kiai Jundan dari Pesantren Dawar Boyolali, yang juga hadir dalam kesempatan itu mengingatkan kepada para kader GP Ansor Boyolali untuk senantiasa menjunjung tinggi para ulama. “Kita jangan mudah terbawa berita dengan menjelek-jelekkan para ulama,” tuturnya.

Selalu Cek Kebenaran Sebelum Membagikan Berita di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Selalu Cek Kebenaran Sebelum Membagikan Berita di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Selalu Cek Kebenaran Sebelum Membagikan Berita di Medsos

Sementara itu, Choirudin menambahkan kegiatan silaturahim atau turba ini menjadi media untuk menjalin kedekatan Ansor-Fatayat dengan masyarakat.

“Kegiatan ini sudah beberapa kali berjalan. Kita harapkan dapat menjadi wahana silaturahmi, tidak hanya sesama kader Ansor, akan tetapi juga kepada masyarakat, pengurus NU setempat, Banom, dan para kiai,” ungkap Choiruddin.

Haedar Nashir

Pengasuh Pesantren Mifathul Huda itu menambahkan, kegiatan turba semacam ini juga bermanfaat untuk lebih memahami kebutuhan kader di tingkatan bawah.

“Boyolali ini wilayahnya cukup luas, kesempatan pertemuan ini kita efektifkan untuk menjalin sinergitas pengurus cabang dengan pengurus PAC,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Daerah Haedar Nashir