Kamis, 21 Desember 2017

Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU

Kudus, Haedar Nashir. Sebanyak 21 pelajar setingkat SMA/MA/SMK dari berbagai sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama Kudus, Jawa Tengah, mengikuti lomba reportase pada Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) di aula Gedung Pengurus Cabang NU pada Ahad pagi (8/2).

Secara praktik, sebenarnya lomba ini telah dimulai pada saat acara pembukaan hari Sabtu (7/2) di Gedung Olahraga (GOR) Wergu Wetan milik Pemkab Kudus. Saat itu juga, para peserta telah berburu berita, baik pada upacara pembukaan Porsema sendiri maupun di beberapa titik lokasi pelaksanaan berbagai lomba yang tersebar di beberapa tempat di Kudus itu.

Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU

Peserta diberi waktu untuk menulis hasil liputannya selama 90 menit, sejak pukul 09.00-10.30 WIB. Disediakan selembar kertas folio dan karenanya harus ditulis secara manual. Penilaian meliputi isi berita, narasumber, penggunaan bahasa, hingga ketepatan waktu saat mengumpulkan naskah.

Haedar Nashir

Untuk mengatasi kejenuhan menunggu selama penilaian juri, para peserta berkumpul dan dipersilakan untuk berbagi pengalaman mengenai dunia kepenulisan. Baik menulis berita, penerbitan majalah, hingga karya sastra.

Terdapat di antaranya siswi MA NU Mu’allimat yang baru saja menerbitkan buku antologi cerpen dan puisi bertajuk “Rembulan Masih Tersenyum”. Sementara itu, siswi MA NU Banat mengisahkan pengalamannya selama menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah di tengah kesibukannya santri di pondok pesantren. Hadir juga alumni peserta yang menjuarai lomba reportase pada Porsema tingkat Jawa Tengah tahun lalu untuk memberi motivasi.

Haedar Nashir

Rosidi, salah satu juri mengatakan bahwa lomba ini bukan untuk menang atau kalah. “Salah, jika teman-teman hanya berorientasi di lomba ini hanya untuk menang atau kalah. Karena lebih dari itu, ajang ini merupakan bagian dari proses untuk terus belajar,” paparnya di depan peserta.

Rosidi yang sekarang mengelola salah satu situs berita online itu juga mengarahkan para peserta untuk terus menulis dan mengirimkannya ke media mana saja. Seperti halnya ia mengatakan tak boleh putus asa jika tak memenangkan lomba ini, ia pun melarang para peserta putus asa untuk mengirimkan tulisan ke media, baik cetak maupun digital.

Juara I putri, Nila Sinta Fitriyani mengaku bahwa setelah mengikuti lomba tersebut ia akan terus belajar menulis. “Awalnya saya tak menyangka bisa juara, padahal saingannya dari sekolah-sekolah terkenal di Kudus. Ternyata bisa! Saya senang, dan saya pasti akan terus belajar menulis. Sekarang saya merasa lebih tertarik lagi di dunia tulisan,” kata Sinta yang mengharumkan almamaternya, MA NU Ibtidaul Falah Samirejo kecamatan Dawe, Kudus.

Selain Rosidi, juri lainnya yakni Qomarul Adib, wartawan Haedar Nashir daerah Kudus. Acara diakhiri dengan foto bersama antara peserta, pendamping, dewan juri serta panitia. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Pertandingan, Pendidikan Haedar Nashir

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW

Kuala Lumpur, Haedar Nashir. Pengurus Pusat  Fatayat NU memberikan orientasi kepada pengurus PCI Fatayat NU Malaysia, Senin (25/9). Orientasi bertujuan  menyemangati para pengurus PCI Fatayat NU Malaysia yang dilantik sehari sebelumnya.

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW

“Organisasi Fatayat NU harus mampu menjawab kebutuhan dan kepentingan para kader perempuan NU di Malaysia,” ujar Sekretaris Umum PP Fatayat NU, Margareth Aliyatul Maimunah.

Ketua Bidang Keorganisasian PP Fatayat NU, Nadhifa mengungkapkan banyaknya jumlah tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia. “Di antara mereka banyak yang terlibat permasalahan hukum,” tambahnya.

Perempuan yang juga staff ahli Mentri Ketenagakerjaan ini juga mengungkapkan dengan berbagai masalah yang dialami TKW di Malaysia, PCI Fatayat Malaysia harus dapat membantu para TKW tersebut dalam advokasi hukum.  

Haedar Nashir

Sementara itu, Ketua PCI Fatayat NU Malaysia Kiki Rizki Makiya, menyampaikan tugas dan tantangan Fatayat semakin berat.

“Tetapi yang paling penting adalah tidak boleh keluar dari ideologi kita, yaitu ahlussunah wal jamaah,” ujarnya.

Pelantikan PCI Fatayat NU Malaysia mengambil moto Jadilah orang yang tangguh dan mampu struggle. Kiki menegaskan, dengan moto itu  tidak ada kalimat menyerah dan buntu dalam menyampaikan amanah. (Uswah/Kendi Setiawan)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, IMNU, Ulama Haedar Nashir

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi

Khartoum, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj beserta rombongan termasuk istri Hj Nurhayati Said Aqil, Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Abdul Rashid Tang Abdullah, dan beberapa pengusaha Malaysia melakukan kunjungan kerjasama ke Sudan.

Menurut beberapa sumber, Kang Said Ke Sudan beserta rombongan yang langsung disambut dengan Seni Hadrah JSQ bertujuan untuk menyepakati sejumlah MoU antara Sudan, Malaysia, China dan Indonesia  yang diwakili oleh NU dalam rangka pengembangan sektor ekonomi dari berbagai bidang budidaya dan potensi.

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi

Acara yang bertajuk Silaturahim dan tatap muka bersama DR KH Said Aqil Siroj ini diselenggarakan di Wisma KBRI untuk Sudan dan Eritrea, atas kerjasama antara Pengurus Cabang Istimewa NU Khartoum Sudan dengan KBRI. 

Haedar Nashir

Hadir dalam acara tersebut WNI, baik mahasiswa dari berbagai aliansi dan partai, tenaga kerja maupun masyarakat umum yang berada di Sudan. 

Dubes RI untuk Sudan Sujatmiko dalam pidato penyambutannya menyampaikan optimisme Islam di Indonesia, sebagai  laju kebangkitan Islam dunia. Melansir beberapa data yang menyebutkan bahwa perkembangan Islam di Indonesia adalah nilai nilai Islam di masa kejayaan.

Haedar Nashir

Dikatakannya, Islam dituntut mampu head to head membaca titik strategi dan kebutuhan global. Islam yang dinamis, anti radikal, toleran dan Berkemanusiaan. Ini selaras dengan pidato yang disampaikan sebelumnya oleh ketua tanfidziyah PCINU Sudan, Miftahuddin Ahimy.

Sementara itu KH Said Aqil Siroj (Kang Said) dalam pidatonya lebih bertendensi mensinergikan kembali semangat keilmuan, kemanusiaan dan nasionalis di mata Muslimin Indonesia. Juga beberapa catatan sejarah mengenai perkembangan Islam dan Nusantara, khususnya NU. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: M. Tajul Mafachir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Pesantren Haedar Nashir

Rabu, 20 Desember 2017

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur

Boyolali, Haedar Nashir. Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Sabtu (14/6), sejak pukul 05.30 WIB sudah terlihat ramai. Ratusan warga pun mulai berdatangan untuk mengikuti kegiatan Bubak.

Seperti di daerah lain, meski dengan istilah berbeda, Bubak atau kegiatan membersihkan makam dilakukan warga Mlambong untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dengan bergotong-royong mereka membersihkan bersama, lingkungan di kompleks pemakaman dan sekitarnya.

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur

Sesepuh warga setempat, Hadi Sutarno, mengatakan tradisi ini sudah ada sejak lama. “Jangan sampai tradisi ini ditinggalkan,” tutunya singkat.

Haedar Nashir

Usai membersihkan makam, dilanjutkan dengan mendoakan para leluhur dan keluarga yang telah meninggal. “Ziarah ke makam para leluhur ini, waktunya bebas, sebelum Ramadhan tiba,” kata Hadi.

Menurutnya, hal ini merupakan sebagai wujud rasa berbakti (birrulwalidain) warga kepada orang tua maupun para leluhur yang telah meninggal dunia. Selain itu, hal ini juga dapat mempererat rasa persaudaraan antarwarga. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Makam, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi

Sleman, Haedar Nashir. Para santri Pondok Pesantren Nailul Ula Plosokuning Yogyakarta, selain diajarkan kitab kuning, pengajian Al-Qur’an, tapi juga teknologi yang berkembang dewasa ini. Pengenalan teknologi diisi dengan pelatihan Teknologi Informasi (TI).

Pengasuh Pondok Pesantren Nailul Ula KH. Aliy Asad mengatakan, di zaman serba "mobile" ini para santri diajak melek teknologi karena disadari atau tidak, Muslim Indonesia (Aswaja) sudah ketinggalan, “Kebanyakan aplikasi islami dibuat mereka (non-Aswaja). Berangkat dari keperihatinan itulah kami mengadakan kegiatan ini," terangnya, Ahad lalu (19/5).

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi

Menurutnya, pada zaman dahulu, Walisongo menggunakan kebudayaan sebagai media dakwah di Jawa (islamisasi Jawa - jawanisasi Islam). Hal itu dilakukan karena masih kental dengan budaya Hindu-Budha.

Haedar Nashir

Walisongo kemudian berhasil mendakwahkan Islam melalui media budaya, “Kalau kita sebagai penerus Walisongo, berarti harus jeli menggunakan "perangkat budaya" yang paling dominan hari ini, yaitu teknologi digital, lebih spesifik lagi gadget,” tambahnya.

Ia menambahkan, sebagai para pengikut Walisongo, semestinya dapat memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi digital sebagai alat untuk berdakwah, sebagai itiba kepada mereka. Selain itu juga untuk mengimbangi dominasi penguasaan teknologi orang non-Muslim yang semakin kuat dengan konten-konten yang tidak bertanggung jawab dan penuh maksiat.

Haedar Nashir

Metode pembelajaran di Nailul Ula tidak sepadat di pesantren pada umumnya, karena memang disesuaikan dengan kegiatan santri yang rata-rata aktivis kampus seperti UGM, AMIKOM, UIN, UII, UNY, dan lain-lain.

Pesantren yang terletak di daerah Ploso Kuning III No:81 Sleman juga menyediakan wadah mendukung minat dan bakat santri, dviantaranya seni rebana, english club, dan juga LPQ Bina Akhlaq.

Redaktur    : Abdullah Alawi

Kontributor    : Ajie Najmuddin, M Khoiruddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Pertandingan, Lomba Haedar Nashir

Ini Pandangan Pergunu Jawa Barat tentang Lokalisasi

Bandung, Haedar Nashir. Ditemui di Sekretariat Pergunu Jawa Barat lantai 2 Kantor PWNU Jawa Barat, Rabu (29/4) Jalan Terusan Galunggung No 9 Kota Bandung, Sekretaris PW Pergunu Jabar H Saepuloh menyatakan bahwa rencana sertifikasi PSK dengan membangun lokalisasi merupakan langkah yang keliru, karena itu tidak menyelesaikan masalah. 

“Justru dengan langkah tersebut akan menjadi semacam legalitas dari pemerintah terhadap prostitusi,” tegasnya.Lebih lanjut Saepuloh mengatakan, penting untuk diperhatikan bahwa pendidikan, mulai dari pendidikan formal seperti sekolah dan madrasah serta pengawasan keluarga secara intens sangatlah penting.

Ini Pandangan Pergunu Jawa Barat tentang Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pandangan Pergunu Jawa Barat tentang Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pandangan Pergunu Jawa Barat tentang Lokalisasi

“Orang tua dan guru mempunyai peranan yang sangat strategis dalam menyelesaikan masalah tersebut,” tuturnya.

Haedar Nashir

Oleh karena itu, pungkasnya, Pergunu Jawa Barat menghimbau kepada guru-guru NU agar dalam setiap kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan akan bahaya protitusi terhadap kesehatan jasmani dan rohani. (Awis/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Lomba, News Haedar Nashir

Selasa, 19 Desember 2017

Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran

Karanganyar, Haedar Nashir - Dalam menyambut harlah IPNU Ke-63 dan IPPNU Ke-62, para pengurus IPNU dan IPPNU Kabupaten Karanganyar mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an. Upacara khataman itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil sebelum dialog terbuka dengan para pembina di Gedung PCNU Kabupaten Karanganyar, Kamis (2/3).

Ketua IPNU Karanganyar M Ilham Subkhan mengatakan, khatmil Quran ini merupakan sarana agar nilai spiritual dalam berorganisasi para pengurus IPNU-IPPNU bertambah untuk kebesaran IPNU-IPPNU.

Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran

"Kegiatan khataman ini? merupakan momentum untuk memberikan tambahan bekal spiritual kepada para pengurus IPNU-IPPNU se-Kabupaten Karanganyar agar lebih giat lagi dalam membesarkan organisasi pelajar ini," ujarnya.

Ketua IPPNU Karanganyar Muflichah mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah SWT karena organisasi pelajar yang ia pimpin di Karanganyar mengalami perkembangan cukup menggembirakan.

Haedar Nashir

Selain itu, ia juga berharap dengan khatmil Quran oleh pengurus ini yang diselenggarakan dalam peringatan harlah IPNU-IPPNU semakin solid dan merata dalam pengkaderan.

Haedar Nashir

"Bertepatan dengan harlah IPPNU yang jatuh hari ini. Semoga IPNU dan IPPNU di Kabupaten Karanganyar semakin solid, aktif, dan berkembang. Selain itu, pengkaderan semakin merata," harap Muflich.

Pembina IPNU NHT Kholid menegaskan pentingnya menggalakan kaderisasi. Tetapi pendalaman terhadap NU tidak kalah penting. “Kita pun harus menata niat perjuangan di IPNU dan IPPNU, bahwa kita khidmah di NU juga melestarikan Aswaja.”

Pertemuan harlah ini ditutup dengan pemotongan nasi tumpeng. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir