Senin, 26 Februari 2018

Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui

Jakarta, Haedar Nashir



Sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj memiliki kegiatan yang sangat padat. Acara yang dihadiri pun bervariasi, mulai dari pelantikan pengurus NU dari tingkat cabang hingga wilayah, pengajian, seminar, sampai acara pernikahan.?

Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui (Sumber Gambar : Nu Online)
Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui (Sumber Gambar : Nu Online)

Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui

Kegiatan tersebut tempatnya tidak hanya acara di dalam kota, tetapi juga di luar kota, tak jarang di desa, bahkan luar negeri. Oleh karena itu, butuh tubuh yang kuat dan semangat yang tinggi untuk menghadiri acara-acara tersebut.

Sekretaris pribadi KH Said Aqil Siroj Muhammad Sofwan menuturkan, Kiai Said memiliki fisik yang luar biasa. “Tubuh Kiai Said kuat. Mobilitasnya tinggi,” kata Sofwan di gedung PBNU, Senin (3/4).?

Dalam satu hari, cerita Sofwan, Kiai Said bisa menghadiri acara di beberapa tempat. Bahkan, sehari ia pernah melakukan lima kali perjalanan pesawat. Saking padat aktivitasnya, lanjut Sofwan, Kiai Said memiliki tiga kamar, yaitu kamar di rumah, di mobil, dan di pesawat. ? ?

Haedar Nashir

“Penerbangan paling padet itu lima kali sehari. (Penerbangan) Surabaya ke Batam, Batam-Medan, ? Medan-Aceh, Aceh-Pidi, dan Aceh-Jakarta. Ini terjadi saat kejadian bencana Pidi (Aceh),” jelasnya.

Menurut Sofwan, Kiai Said tidak menganggap simbol-simbol kearaban sebagai simbol kesalehan. Namun demikian, ia sangat hormat dan bahkan tidak segan-segan untuk mencium tangan seorang habib yang notabennya adalah keturunan Arab.

“Beliau sangat hormat dengan habaib yang berilmu dan berakhlak seperti Habib Luthfi. Beliau juga mencium tangan Habib Luthfi dan bahkan duduk di bawah (sementara Habib Luthfi duduk di kursi),” terangnya.

Haedar Nashir

Sisi lain yang tidak banyak orang tahu tentang Kiai Said, lanjut Sofwan, adalah ia memiliki kekuatan hafalan yang sangat tinggi. Ia bisa hafal meski hanya baru sekali membaca sebuah buku, terutama bidang sejarah.?

“Ingatan beliau sangat luar biasa. Riyadlohnya (latian menghafalnya) ya dari kebiasaan dzikir (yang dilakukan sehari-hari), ” katanya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat, Pemurnian Aqidah, Warta Haedar Nashir

KMNU Akan Gelar Rakernas di Lampung

Jakarta, Haedar Nashir

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Nasional melakukan silaturahim ke kantor PBNU di Jakarta, Rabu (16/3). Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkuat organisasi dan melaporkan perkembangan KMNU.

Delegasi KMNU yang diwakili Hasan Bisri (Presidium Nasional 1), Laila Na’imatul Muthoharoh (Presidium Nasional 3) dan Achmad Mukhlis Hidayat (Departemen Nasional 5) langsung disambut Sekjen PBNU, Ir H Helmy Faishal Zaini beserta Wasekjen H Masduki Baidlawi.

KMNU Akan Gelar Rakernas di Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Akan Gelar Rakernas di Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Akan Gelar Rakernas di Lampung

Dalam pertemuan itu, Helmy menyatakan dukungan dan apresiasi atas peran KMNU yang aktif melakukan kajian Islam ahlus sunnah wal jama’ah dan melestarikan kegiatan kultural NU di kampus. Lebih dari itu, di tengah pesatnya arus teknologi dan informasi seperti sekarang ini KMNU diharapkan mampu memberikan sumbangsih dalam menangkal masuknya penyebaran paham radikal dan dampak negatif teknologi terhadap masyarakat luas, khusus nya melalui media-media sosial yang ada.



Selain itu juga disinggung terkait rencana peningkatan kualitas mahasiswa NU di tingkat kampus dalam bentuk kaderisasi. Helmy menegaskan bahwa PBNU akan turut berperan aktif dalam kapabilitas KMNU. “Kami akan siapkan pemateri ahli yang siap mengisi agenda peningkatan wawasan Aswaja dan ke-NU-an teman-teman KMNU,” tegasnya.

Haedar Nashir



Dalam kesempatan ini juga disampaikan undangan atas kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ke-2 KMNU yang rencananya dilaksanakan awal April mendatang di Lampung. Menanggapi undangan tersebut, Sekjen PBNU menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir disebabkan ada agenda PBNU di Medan. Namun demikian, ia menyatakan akan mengirim delegasi PBNU di acara tersebut. Di akhir perbincangan, Helmy menyatakan bahwa PBNU siap mendukung dan membuka kesempatan KMNU untuk bekerja sama dalam mensukseskan program-program PBNU di waktu yang akan datang. (Laila/el Naomiy/Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Minggu, 25 Februari 2018

Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo

Kudus, Haedar Nashir. Ratusan santri MA NU TBS Kudus lakukan sholat istisqo’, Selasa (3/11). Ritual ini dilakukan di halaman madrasah tepatnya saat memasuki jam istirahat pertama. Hadir dalam kegiatan ini beberapa kiai sepuh madrasah ini, KH Choiruzyad Turaichan Adjhuri, KH Musthafa Imron, KH Munfaat Lc, KH Abdullah Hafidz dan beberapa dewan guru lainnya.

Pada kesempatan ini, yang menjadi imam sholat istisqo’ adalah KH Hasan Fauzi sedangkan yang menjadi khotib adalah KH Amin Yasin. Sebelum dimulainya prosesi sholat, terlebih dahulu diadakan pengarahan tentang tata cara sholat, khutbah serta penggunaan rida’ yang dilakukan oleh pihak madrasah. Prosesi ini, mulai dari pengarahan hingga berakhirnya sholat dan khutbah memakan waktu sekitar satu jam lamanya dan diakhiri dengan do’a yang intinya adalah memohon untuk diturunkannya hujan.

Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo

Dalam khutbah yang disampaikan oleh khotib, ada beberapa pesan yang disampaikan. Beberapa pesan itu adalah siswa diharapkan memperbanyak istighfar serta menjauhi maksiat, karena bisa jadi sebab banyaknya kemaksiatan di bumi maka Allah tidak menurunkan hujan sebagai peringatan kepada manusia.

Haedar Nashir

Menurut Suwantho SPdI, selaku Wakil Kepala (Waka) bagian Humas, kegiatan semacam ini dilangsungkan karena kemarau yang cukup lama. “Atas inisiatif sendiri dan juga untuk melatih siswa agar mengetahui tata cara sholat istisqo,” jelasnya.?

Selepas serangkaian prosesi tersebut, pihak madrasah juga melakukan sedekah berupa dawet yang dibagikan kepada warga MANU TBS Kudus, serta perwakilan dari guru MI, MTS dan MPTs.

Haedar Nashir

Malam hari setelah pelaksanaan sholat minta hujan, tepatnya sekitar jam tujuh hingga jam delapan malam, hujan turun di daerah Kudus, khususnya daerah sekitar MANU TBS Kudus. (Ahmad Hanan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Berita Haedar Nashir

Sabtu, 24 Februari 2018

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan

Oleh Fathan Subchi



Nahdlatul Ulama (NU) tidak lama akan memasuki satu abad. Tentu, sebagai organisasi sosial keagamaan, NU memang sepatutnya terus berinovasi. Jamiyah yang terkenal corak komunalnya dan identik dengan kaum sarungan ini harus kian akrab dengan isu-isu dan gagasan soal penguatan ekonomi warganya.?

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan

Dalam menapaki usianya yang kian matang ini--satu rentang waktu yang terbilang cukup matang mestinya dalam mengarungi pahit getirnya kehidupan--tentu tuntutan warga menjadi satu keharusan yang terus diformulasikan oleh stakeholder, termasuk para pemangku kebijakan di berbagai daerah (eksekutif, legislatif, dll) ?

NU memang sejatinya jelmaan Indonesia itu sendiri. Sebaran warganya yang di berada pelosok-pelosok desa, tradisi kulturnya yang menyatu dengan kehidupan sosial masyarakat, dan corak kegamannya yang terbuka dan menerima pandangan dari luar yang baik merupakan mozaik bangsa yang perlu dilestarikan oleh siapa pun, termasuk terhadap para penguasa.?

Namun, kendala yang kita hadapi memang sejatinya dari fase ke fase hampir sama, setidaknya ? problem kesejahteraan yang melekat pada kelompok-kelompk warga yang tak punya akses pendidikan, miskin keahlian, dan memang tertinggal secara pemikiran. Perlu ada intervensi semacam tandzimul harakah melalui sebuah kebijakan negara. ?

Haedar Nashir

Sebaran mereka yang mengenyam pendidikan yang baik memang seberuntung daripada mereka yang pada masa-masa lampau telah menjauh dan tak mau bersentuhan dengan dunia ? pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan dan pesantren. Yang tersebar menjadi petani, nelayan, buruh, guru swasta, pegawai kontrak, pekerja informal tentu kian rumit untuk diurai tali dan relasi kesejahteraannya, apalagi tantangan zaman juga kian kompleks.?

Sebagai jamiyah, kontribusi NU dalam berbagai aspek dalam menjejak satu abad memang terlihat sudah amatlah luas. Yang terlihat dan bisa dirasakan secara kultural adalah: pertama, kontribusinya dalam menjaga daya ketahanan sosial masyarakat melalui berbagai sarana persemaian nilai-nilai budaya dan tradisi-tradisi seperti yang menjadi langgam dakwah Wali Songo.?

Kedua, kontribusi secara tarbiyah bisa dilacak menjadi konsistensi NU dalam mengelola pesantren dan madrasah sebagai implementasi pendidikan keagamaan. Nilai-nilai keagaman yang disemai kalangan pesantren dan kiai NU jauh lebih bias diterima masyarakat luas, dan menjadi inspirasi pengetahuan keagamaan dan sumber-sumber kajian akademik di tengah oase padang tandus kerasnya aliran dan paham-paham radikal yang kian mulai berembus. Apalagi, secara jelas dunia sedang menggejala intoleransi. ?

Haedar Nashir

? ? ?

Nahdlatut Tujjar sebagai Gerakan?

Ada tiga pilar utama sebagai pondasi bagi tegaknya organisasi NU yaitu, Nahdlatul Wathan (Gerakan Cinta Tanahair), Tashwirul Afkar (Gerakan Intelektual dan Pemikiran) dan Nahdlatut Tujjar (Gerakan Ekonomi). Ketiga pilar ini menjadi bagian terpenting dalam perjalanan NU dalam membangun bangsa ini. Ketiga pilar tersebut pada mulanya adalah sebuah organisasi yang masing-masing didirikan oleh ulama-ulama dari kalangan NU sendiri. Tahun 1914 berdiri Nahdlatul Wathan sebagai manisfestasi dari kebangkitan berbangsa dan bernegara yang merdeka, bebas dari pengaruh penjajahan.?

Kemudian Tashwirul Afkar pada 1918 sebagai ikon dari pengembangan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dan pada tahun yang sama berdiri pula Nahdlatut Tujjar sebagai perwujudan dari pengembangan ekonomi umat. Ketiga menjadi cikal bakal NU dan sekaligus sebagai pondasi fundamental NU.?

Nahdlatut Tujjar adalah narasi sejarah yang dilukis oleh para pendahulu-pendahulu NU. Nahdlatut Tujjar harus bisa dihadirkan kembali, apalagi secara jelas Raisul Akbar, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari dengan kata-kata mutiaranya tentang “Pak Tani itulah penolong negeri”.?

Kata-kata mutiara itu diambil dari cuplikan tulisan beliau, “Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa’ Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa’ Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta’ soedi menolong) pada negeri; dan Pa’ Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat ? negeri didasarkan.” (artikel F. Rahman-NU, Online, 1/1/2017)?

Sesungguhnya banyak hal yang menyebabkan perlunya didirikan organisasi ini. Satu hal yang terpenting adalah keprihatinan ulama terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang terbelakang baik secara mental maupun sosial ekonomi hingga persoalan kebangsaan dan keagamaan. Sebagai bangsa yang berada di bawah kungkungan imperialisme bangsa barat pada saat itu bangsa Indonesia mengalami kondisi yang memperihatinkan. Dan di sinilah Nahdltut Tujjar dihidupkan. Saudagar ulama-santri konsolidasi dan lahirlah organisasi ini sebagai wahana dakwah yang kemudian bisa membesarkan jamiyah untuk lebarkan kekuatan anti-kolonial barat. ? ?

Sebagai embrio gerakan saudagar ulama-santri, Nahdlatut Tujjar bisa letakkan dalam konteks hari ini di mana kita menyadari bahwa warga NU masih jamak yang berada dalam lapis sosial yang tertinggal, mereka masih perlu diintervensi kesejahterannya.?

Mereka menjadi "miskin" secara intelektual dan ekonomi. Dua jalur yang sama-sama perlu diikhtiarkan, yaitu Intelektualisme dan ekonomi. Dua hal pokok kehidupan yang dapat menjadi awal keterbelakangan atau kemajuan suatu bangsa. NU sebagai ormas keagamaan lahir untuk membangkitkan bangsa Indonesia dari tidur lelapnya. ?





Strategi Cluster?

Sejak awal peran Nahdlatut Tujjar dalam memberdayakan ekonomi umat mendapat dukungan dari para pendiri NU yang kebanyakan adalah para pedagang atau sekurang-kurangnya mempunyai unit produksi yang membuat mereka bisa mandiri secara ekonomi.

Diakui atau tidak, mayoritas penduduk Indonesia berada dalam kemiskinan dan mayoritas dari itu adalah warga Nahdliyin yang berada di pedesaan.?

Dalam kondisi masyarakat seperti ini, pengembangan ekonomi menjadi satu hal terpenting. Karena sabda Rasul SAW yang artinya "kefakiran akan mendekatkan pada kekufuran". Ini mencerminkan bahwa dalam ekonomi islam pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs) akan sangat mempengaruhi keimanan dan keislaman seseorang. Memberdayakan ekonomi umat bisa dimulai dari mana saja. Pergerakannya berbanding lurus dengan konsistensi dan fokus yang menjadi sasaran pasarnya. Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, di antaranya dengan model cluster :?

Pertama, pesantren sebagai cluster utama bagi NU. Formulasi gerakannya dititik tekankan pada studi kebutuhan dan kelayakan usaha, serta akses permodalan, kecakapan SDM, dan ketekunan induknya dalam melakukan pembinaan dan pengawasan. Pesantren sesungguhnya sudah tak asing dengan gerakan ekonomi, produk-produk pesantren seperti Kopontren pada masa lampau termasuk produk yang kita banggakan bersama.

Saat ini, Pesantren bisa lebih agresif memfasilitasi santrinya pada bentuk misalnya pendidikan entrepreneur, pemagangan, dan lain-lain. Dan itu, bisa kami koneksikan dengan para pemangku kebijakan di pemerintahan. Dan PKB sudah merintis itu.?

Kedua, cluster warga berbasis pada Pedesaan. Dalam kontek ini, PCNU dan MWCNU bisa mengenali warganya yang telah menekuni pada bidang-bidang tertentu. Mereka yang menjadi petani, nelayan, pengrajin, peternak, pelaku UKM, bisa didata sehingga betul-betul bisa dijadikan acuan untuk menyalurkan bantuan dan bentuk-bentuk dukungan lainnya, seperti akses pelatihan, permodalan, dan lain lain.?

Ketiga, cluster jenis usaha. Lahirnya UU Desa yang memberikan perhatian penuh pada pembangunan di pedesaan, termasuk adalah soal pemberdayaan masyarakat berbasis Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). MWCNU bisa memetakan dan membuat satu formulasi Bumdes-Bumdes yang bisa dirancang untuk kesejahteraan warganya. Tentu Hal ini bisa ditempuh dengan membuat semacam pilot project, sehingga jenis-jenis usaha yang dikembangkan, tidak berdasar atas tren, tapi memang sudah menjadi penguasaan para ahli. ? ?

? ?

Dalam rangka ikhtiar membangun ekonomi umat yang kuat, dan tak mudah tergoyah oleh pengaruh global, maka landasan yang perlu ditanamkan saat ini bagaimana warga NU sejahtera, dan memiliki aset tak ternilai. Salah satu juga yang patut dirintis ulang- bagaimana dulu juga pernah dirintis oleh guru kita, Gus Dur—yaitu model bank Nusumma—yang menghadirkan sistem pembiayaan usaha mikro kecil yang bias berdampingan beriringan dengan kelompok masyarakat marjinal, seperti nelayan, petani, buruh, guru honorer, pekerja kasar, dan lain-lain.?

Lokomotif ekonomi menjadi tantangan tersendiri ketika stakeholder NU kini sudah merambah di berbagai jalur kekuasaan; eksekutif dan legislative. Kaum mudanya –yang terpelajar—harus bias diintegrasikan ke dalam model pengelolaan ekonomi pembiyaaan mikro tadi.?

Kita sungguh masih memiliki beban sejarah yang belum selesai. Setidaknya ini terekam dalam statuennya NU (AD/ART) Fatsal 3 poin f yaitu: "mendirikan badan-badan oentoek memadjoekan oeroesan pertanian, perniagaan dan peroesahaan jang tiada dilarang oleh sjara Agama Islam". Di sini sangat jelas bahwa NU harus memperhatikan sektor-sektor penggerak ekonomi. Orientasi politik yang sangat kuat dari sebagian besar kaum Nahdliyyin harus dibarengi orientasi pengembangan ekonomi umat yang bermuara pada kesejahteraan warga.?

Inilah politik kemaslahatan NU yang perlu dirancang dan diimplementasikan segera, apalagi pasar dan Negara kian terbuka dengan model pendekatan NU yang terbuka. Kita memiliki gambaran bahwa 10-20 tahun ke depan adalah medan dari sebuah pilot projek yang amat strategis, bagaimana mengetengahkan politik ekonomi warga lebih dekat dengan bandul politik kemaslahatan NU.

Ibarat gadis cantik, NU seringkali hanya seksi di perebutan pesta lima tahunan. Mudah-mudahan ini menjadi kesadaran dan beban historis yang segera harus kita urai bersama. ?





Penulis adalah anggota DPR RI FPKB. Ketua IKAPMII DKI Jakarta. ? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, AlaNu, Ahlussunnah Haedar Nashir

KH Kholirurrahman-Jema’ie Makmur Pimpin NU Ketapang-Kalbar

Ketapang, Haedar Nashir. Konferensi Cabang ke-11 Nahdlatul Ulama Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, yang dilaksanakan Ahad (20/4) kemarin di Ketapang telah mengeluarkan berbagai keputusan strategis antara lain memilih dan menetapkan Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah masa khidmat 2014-2019.

Sidang Pleno kelima yang dipimpin Wakil Ketua PCNU Kabupaten Ketapang demesioner masa khidmat 2009-2014 Drs. Satuki Huddin, M.Si ini berjalan khidmat dan sukses. Sebelum diadakan pemilihan seluruh peserta konferensi diminta pimpinan sidang untuk sama-sama membaca Shalawat Badar dan pembacaan ummul kitab yang dipimpin oleh KH. Kholilurrahman.

KH Kholirurrahman-Jema’ie Makmur Pimpin NU Ketapang-Kalbar (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Kholirurrahman-Jema’ie Makmur Pimpin NU Ketapang-Kalbar (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Kholirurrahman-Jema’ie Makmur Pimpin NU Ketapang-Kalbar

Pemilihan PCNU masa khidmat 2014-2019 didahului dengan pemilihan Rais Syuriyah. Setelah diajukan bakal calon (balon) melalui pemilihan langsung dan rahasia akhirnya terjaring empat balon terpilih yakni KH Kholirurrahman, KH Faisol Maksum, KH Abdullah Alfaqir dan KH Jema’ie Makmur.

Haedar Nashir

Berdasarkan Tata Tertib Konfercab ke-11 dalam pemilihan pengurus cabang bahwa seorang calon dinyatakan sah apabila didukung oleh sekurang-kurangnya 5 (lima) suara dari peserta konferensi. Oleh karena itu setelah diadakan penghitungan dari suara sah yang berhak memilih dari 18 rais syuriyah tingkat MWC plus satu orang perwakilan syuriyah PCNU Ketapang, akhirnya yang memenuhi syarat hanya satu orang balon yakni KH Kholilurrahman setelah memperoleh 15 suara.

Mengingat balon yang terpih hanya satu orang, akhirnya seluruh peserta konfercab menyepakati agar balon yang terpilih secara aklamasi langsung ditetapkan sebagai Rais Syuriyah PCNU masa khidmat 2014-2019.

Haedar Nashir

Proses pemilihan Ketua Tanfidziyah dilaksanakan setelah pemilihan Rais Syuriyah. Pemilihan balon ketua tanfidziah juga dilaksanakan secara langsung dan rahasia. Setelah diadakan penghitungan suara balon yang terpilih hanya 2 (dua) orang yakni KH. Abdullah Alfaqir dan KH Jema’ie Makmur.

Mengingat hanya satu orang yang memenuhi syarat yakni KH Jema’ie Makmur setelah memperoleh dukungan 18 suara dari 19 suara yangh berhak memilih, akhirnya peserta konfercab menetapkan secara aklamasi KH Jema’ie Mamur sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Ketapang Masa Khidmat 2014-2019 setelah disetujui Rais Syuriyah terpilih.

KH Kholilurrahman sebelumnya adalah Wakil Rais Suriyah PCNU Kabupaten Ketapang Masa Khidmat 20109-2014 sementara KH Jema’ie Makmur Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Ketapang Masa Khidmat 20109-2014 dan pada pemilihan kali ini beliau kembali memimpin NU ketapang lima tahun ke depan.

Sebelum disahkan melalui pembacaan SK pada sidang Pleno kelima ini, juga ditetapkan tim formatur sebanyak 5 (lima) orang yakni Rais Syuriyah terpilih merangkap ketua, Ketua Tanfidziyah merangkap sekretaris dan 3 (tiga) orang dari pengurus MWC masing-masing MWC Delta Pawan, Benua Kayong dan Matan Hilir Utara. Kepada Tim Formatur diamanatkan agar menyusun kepengurusan NU Ketapang Masa Khidmat 2014-2019 dengan jangka waktu satu bulan. (Syafi’ie /Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam Haedar Nashir

“Jalan Dakwah Pesantren” Gambarkan Santri dan Kiai Apa Adanya

Jepara, Haedar Nashir



Pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara menyelenggarakan pemutaran dan bedah film dokumenter “Jalan Dakwah Pesantren” berlangsung di aula Gedung Serba Guna MA Hasyim Asyari, Bangsri Jepara, Kamis (27/7) malam.?

Dalam pemutaran film berdurasi 38 menit itu dihadiri oleh ratusan santri dan menghadirkan 3 narasumber: Hamzah Sahal (inisiator film), Hj. Hindun Anisah (pengasuh pesantren Hasyim Asyari) dan Ahmad Sahil (ketua Lakpesdam NU Cabang Jepara) dan sebagai moderator Syariful Wai, mantan aktivis PP Lakpesdam.?

“Jalan Dakwah Pesantren” Gambarkan Santri dan Kiai Apa Adanya (Sumber Gambar : Nu Online)
“Jalan Dakwah Pesantren” Gambarkan Santri dan Kiai Apa Adanya (Sumber Gambar : Nu Online)

“Jalan Dakwah Pesantren” Gambarkan Santri dan Kiai Apa Adanya

Ahmad Sahil ketua Lakpesdam NU Cabang Jepara dalam paparannya menyampaikan film dokumenter itu menggambarkan pesantren apa adanya.?

“Film ini ialah film riil yang memberi pembelajaran bahwa pesantren telah melahirkan tokoh besar Gus Dur,” kata kiai muda yang disapa Gus Sahil ini.?

Gus Sahil putra KH Miftah Abu berkomentar dalam film yang disupport oleh Kementerian Agama RI lantaran menampilkan sosok KH Abdurrahman Wahid.?

Haedar Nashir

Kepada ratusan santri ia mengatakan bahwa sosok kiai di pesantren berjuang 24 jam tanpa lelah. Kiai, ulama, baginya, adalah sosok yang istimewa. “Basyarun la kal basyar, manusia tapi tidak seperti manusia biasa,” sebutnya.?

Kiai muda asal desa Karangrandu itu menyontohkan saat selepas kiai minum. Sisanya menjadi rebutan santri. Sandal kiai juga menjadi rebutan untuk ditata. Itu keistimewaan kiai, katanya. ?

Haedar Nashir

Hj. Hindun Anisah, selaku shahibul bait menyatakan usai nonton film dirinya jadi ingat saat menjadi santri yang tumbuh dengan kecerdasan serta mental tahan banting.?

Perempuan yang akrab dipanggil Neng Hindun itu mengapresiasi bahwa film menunjukkan eksistensi kitab kuning yang merupakan keunggulan pesantren.?

Kitab kuning kata istri KH Nuruddin Amin, bisa menjadi simbol anti-Islam radikal.?

“Saya sering pesan kepada alumni pondok ini bawalah kitab kuning selalu bersamamu,” pesan Neng Hindun yang juga salah satu aktris film ini. ?

Ternyata pesan itu pernah dipraktikkan oleh santrinya. Sehingga saat melihat di kamar ada kitab kuning orang yang mau mengajak santri gabung di aliran radikal tidak jadi mengajaknya.?

“Kitab kuning ampuh untuk mengurangi serangan Islam bukan NU, Islam radikal,” tandasnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, IMNU, Doa Haedar Nashir

Jumat, 23 Februari 2018

Santri Nuris Ciptakan Alat Pendeteksi Kebocoran Gas

Jember, Haedar Nashir. Kebakaran yang diakibatkan oleh bocornya gas berbahaya seperti LPG, tak perlu terlalu dirisaukan. Pasalnya, saat ini telah ditemukan alat pendeteksi kebocoran gas sehingga ledakan maupun kebakaran yang diakibatkannya bisa dihindari.

Adalah Muhammad Wiliam Mursyida, Fani Rosiful dan Alvin Widiardi yang berhasil menemukan alat canggih tersebut, dan diberi nama “D’tron Fire Flow Alarm”. Temuan ketiga siswa MA Unggulan Nuris, Antirogo, Jember, Jawa Timur itu? berhasil meraih juara harapan pertama? dalam lomba Instrumentation And Control Competition (ICONIC) 2016 di ITB Bandung, belum lama ini.

Santri Nuris Ciptakan Alat Pendeteksi Kebocoran Gas (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Nuris Ciptakan Alat Pendeteksi Kebocoran Gas (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Nuris Ciptakan Alat Pendeteksi Kebocoran Gas

Dalam lomba berskala nasional tersebut, MA Unggulan Nuris menjadi satu-satunya perwakilan pesantren yang mampu bersaing dengan ratusan delegasi sekolah umum di tanah air.

Menurut Wiliam, alat tersebut dilengkapi dengan sensor yang berfungsi menyensor gas berbahaya dalam ruangan. Juga ada alarm untuk mengirim tanda bahaya ketika sensor menemukan gas yang bocor.

Tidak hanya itu, ketika alat tersebut menemukan gas berbahaya, maka? secara otomatis gas tersebut dikumpulkan dalam satu titik, lalu mendorongaya keluar ruangan sehingga kepadatan gas dalam ruangan berkurang. “Ketika gas? liar dalam ruangan bisa dibuang keluar, maka tak akan terjadi kebakaran,” ucapnya kepada Haedar Nashir di kompleks Pesantren Nuris, Senin (26/9).

Haedar Nashir

Rekan Wiliam, Fani Rosiful mengaku penemuan alat tersebut terilhami oleh banyaknya kejadian ledakan atau kebakaran akibat bocornya gas yang tersambung ke kompor. Penggunaan kompor gas, katanya, selain irit juga minim polusi. Namun kenyataannya, ada bahaya lain yang mengancam, yaitu ledakan. “Maka kami berpikir, dan akhirnya terciptalah alat itu,” tukas pemuda asal Wuluhan itu.

Haedar Nashir

Nama D’tron adalah kepanjangan dari the electronic. Pembuatan alat tersebut memakan waktu sekitar satu bulan dengan menghabiskan dana kurang dari Rp 1 juta. Sedangkan sebagian besar komponen D’tron Fire Flow Alarm diambil dari peralatan bekas elektronik yang tersimpan di laboratorium Nuris.

“Kami berharap agar pemerintah dapat mematenkan prototype alat ini, dan bisa diproduksi secara massal untuk kepentingan kenyamanan dan keamanan penggunaan kompor gas,” harapnya.

Wiliam, Fani dan Alvin adalah kelas XII MA Unggulan Nuris. Ketiganya tergabung? dalam satu tim, yang setiap sore berkumpul melakukan eksperimen dan mencoba melakukan inovasi ilmiah.

“Mereka juga dijamin lancar membaca kitab kuning. Khusus Wiliam, dia TOEFL-nya hampir 500,” terang Gus Robith Qashidi, Pengasuh Pondok Pesantren Nuris. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, RMI NU Haedar Nashir