Senin, 26 Desember 2016

Kiai Said: Kekerasan Bukan Solusi Beradab

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan keprihatinannya atas memanasnya kondisi sosial politik di Mesir serta terbunuhnya sejumlah orang dalam konflik politik tersebut.

Ia berharap para pihak yang bertikai dapat mencari solusi damai demi keselamatan bersama, apalagi Mesir dikenal sebagai negara Muslim dengan paling maju dari sisi pendidikan dan menjadi rujukan negara Timur Tengah lainnya.

Kiai Said: Kekerasan Bukan Solusi Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Kekerasan Bukan Solusi Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Kekerasan Bukan Solusi Beradab

“Perang dan kekerasan itu kan bukan solusi yang beradab,” katanya di gedung PBNU, Sabtu (6/7).

Haedar Nashir

Mesir dalam ancaman perang saudara setelah para pendukung presiden Mursi yang digulingkan mulai melakukan perlawanan dengan menggelar demo besar-besaran. Dilaporkan terjadi baku tembak antara militer dan pendukung Mursi.

Belum siap demokrasi

Kiai Said, yang menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Ummul Quro Makkah ini berpendapat, secara umum, masyarakat Arab belum siap melaksanakan demokrasi sebagai sebuah sistem yang dicopy paste dari Barat. Politik harus disesuaikan dengan karakter budaya dan manusianya, tidak bisa dipaksakan dari luar.

Haedar Nashir

Masyarakat Arab, tambahnya, memiliki kondisi antropologi, sejarah, agama, kesukuan dan faktor-faktor lain yang sangat berbeda dengan Barat. Ia mencontohkan, konsep kesukuan sangat kuat mengakar di masyarakat Arab sehingga ketika terjadi sesuatu pada anggotanya, suku akan membelanya.

Ukuran demokrasi bagi orang Arab bukan periodisasi kepemimpinan, tetapi adanya musyawarah. Dan yang penting para pemimpin dianggap adil, meskipun menjabat dalam periode lama. Konsep seperti ini melekat kuat terutama pada generasi tua di Arab. Apa yang terjadi saat ini adalah sebuah masa peralihan yang luar biasa antara generasi muda dan generasi tua.

“Konsep demokrasi memang rasional, dan itu tidak bertentangan dengan Islam, tetapi belum tentu ideal jika masyarakatnya belum siap. Fanatisme kesukuannya masih sangat kental,” tandasnya.

Ia juga menyoroti karakter orang Arab yang menggunakan cara-cara kekerasan, bahkan membunuh dalam menyelesaikan masalah. Apalagi sebagian penduduknya pernah mengikuti wajib militer sehingga berani melawan tentara.

“Kenapa reformasi kita tidak berlarut-larut, salah satunya, ormas tidak punya milisi. Disana, rakyat pernah mengalami wajib militer, jadi rakyat pernah jadi tentara, jadi berani, dengan senjata sudah familiar,” terangnya. 

Reformasi masih panjang

Ia menyayangkan tidak terjadinya kompromi antara berbagai kepentingan sehingga masing-masing saling memaksakan kehendaknya. Di satu sisi, kelompok Islam ingin memaksakan konsepnya sementara di pihak lain, kelompok sekuler juga ingin konsepnya digunakan, sehingga yang terjadi upaya menang-menangan.

“Ini yang harus kita syukuri, NU, Muhammadiyah dan komponen kebangsaan lainnya bersatu padu membangun konsep bersama negara Indonesia. Ini merupakan modal sosial yang sangat kuat dalam membangun bangsa,” terangnya.

Jika konsep dan bentuk negara saja sebagai hal yang paling mendasar belum disepakati diantara berbagai kelompok masyarakatnya, ia pesimis, krisis di Mesir akan cepat selesai. 

Sementara itu, bagi warga dan para mahasiswa NU yang sedang belajar di Mesir, ia berharap mereka tidak ikut campur dalam masalah politik Mesir. 

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir

Minggu, 25 Desember 2016

Santuni Anak Yatim Agenda Tahunan Madrasah Ini

Brebes,Haedar Nashir. Memperingati tahun baru 1438 Hijriyah, MTs Negeri Model Brebes akan memberikan santuan kepada 99 anak yatim. Santunan diberikan sebagai wujud kepedulian kepada anak-anak yang nasibnya kurang beruntung.Demikian disampaikan Kepala MTs N Model Brebes Drs H Moh Muntoyo, di ruang kerjanya, Sabtu (1/10).

Muntoyo menjelaskan, kegiatan santunan sudah menjadi agenda tahunan di sekolahnya. Harapannya, para siswa dan keluarga sekolah bisa memiliki sifat dan sikap kepedulian terhadap sesama. Apalagi, di bulan Muharram ini, menurutnya, adalah bulannya anak yatim. Jadi tidak keliru, kalau keluarga besar MTs N Brebes turut menggembirakan hati mereka. “Kita harus menggembirakan hati mereka dihari raya anak yatim ini,” kata Muntoyo.

Santuni Anak Yatim Agenda Tahunan Madrasah Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Santuni Anak Yatim Agenda Tahunan Madrasah Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Santuni Anak Yatim Agenda Tahunan Madrasah Ini

Tiap anak, kata Muntoyo, mendapatkan Rp 150 ribu dan bingkisan. Meskipun nilai rupiahnya tidak seberapa, tetapi nilai kepedulian dan kasih sayangnya jauh lebih tinggi. “Santunan, akan kami berikan pada Senin (3/10) lusa,” kata Muntoyo yang juga Bendahara PCNU Kabupaten Tegal itu.

Selain santunan anak yatim, juga diadakan donor darah bagi guru dan Karyawan madrasah. Donor darah terselenggara atas kerjasama dengan PMI Kabupaten Brebes dan sudah dilakukan pengambilan darahnya pada Kamis (29/9) lalu, namun hanya mendapatkan 15 kantong dari 35 guru dan karyawan yang mendaftar.

Berbagai perlombaan pun digelar untuk memeriahkan Muharraman diantaranya Lomba Adzan, MTQ, Khitobah, Kaligrafi ? dan lain-lain. “Kami ingin mengubah image, kalau tahun baru Islam itu sepi. Tapi harus meriah, namun pada jalur tatanan syariat Islam dan membawa manfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat,” paparnya.

Haedar Nashir

MTs Negeri Model Brebes juga turut aktif pada Pawai Taaruf Muharraman yang digelar Pemerintah Kabupaten Brebes dan Yayasan Islamic Center pada Sabtu (1/10) malam. “Kami mengerahkan seluruh siswa dengan berbagai atraksi yang akan diusungnya, seperti kelompok pawai obor, drumband, kosidah, rebana, dan berbagai replica islamiyah lainnya,” pungkasnya. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Doa, Pahlawan Haedar Nashir

Haedar Nashir

Rabu, 14 Desember 2016

Amalan Saat Bangun Tidur

? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?, ? ?, ? ? ? ?, ? ? ?, ? ? ?, ? ? ?, ?: ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Telah datang dari Aisyah berkata: Nabi Muhammad ketika bangun dari tidurnya, membaca takbir (? ?) sepuluh kali dan memuji kepada Allah ( dengan membaca, ? ?) sepuluh kali, dan membaca tasbih (? ?) sepuluh kali, dan membaca tahlil (? ? ? ?) sepuluh kali, dan membaca istighfar (? ? ?) sepuluh kali. dan dia berdoa: ? ? ? ? ? ? dan dia (juga berdoa) meminta perlindungan dari sempitnya tempat di hari kiamat.



Amalan Saat Bangun Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)
Amalan Saat Bangun Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)

Amalan Saat Bangun Tidur



Dan di dalam riwayat (yang lain) Nabi Muhammad salallahualaihi wasalam, ketika bangun dari tidur membaca sepuluh ayat terakhir Surah Ali imran.

Sumber: Hasyiah Al-Shawy Ala Tafsir Jalalain karya Imam Ahmad Ibn Muhammad Al-Showi Al-Maliki.

Haedar Nashir

Muh. Ulinuha Karim, santri Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Kyai, Kiai Haedar Nashir

Haedar Nashir

Jumat, 09 Desember 2016

Hukum Mencabut Uban

Assalamu’alaikum wr. w.

Nama saya Hadi, usia sudah kepala empat dan rambut saya mulai beruban. Rasanya gatal sekali dan saya sering meminta isteri untuk mencabuti uban saya. Tetapi akhir-akhir ini isteri males mencabuti uban saya, kata isteri saya hukumnya makruh. Yang ingin saya tanyakan kepada ? pak ustad, pertama bagaimana sebenarnya hukum mencabut uban di kepala? Kedua, berapa jumlah uban Rasulullah SAW? Mohon penjelasan pak ustad. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb (Hadi/Kaltim)

Hukum Mencabut Uban (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Mencabut Uban (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Mencabut Uban

?

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Ada dua pertanyaan diajukan kepada kami. Dua pertanyaan tersebut nampak saling bertalian satu dengan yang lainnya Pertama tentang hukum mencabut uban di kepala. Kedua tentang jumlah uban Rasulullah saw. Dan karena keterbatasan ruang dan waktu maka kami akan menjawab pertanyaan yang pertama. Sedang untuk pertanyaan yang kedua akan kami jawab pada kesempatan yang lain. ?

Haedar Nashir

Munculnya uban biasanya selalu diidentikan dengan ketuaan. Identifikasi ini memang tidak sepenuhnya benar sebab ada juga orang usianya masih muda namun beruban. Banyak faktor yang menyebakan rambut kepala kita beruban seperti faktor usia dan banyaknya beban pikiran.

Haedar Nashir

Namun terlepas dari semua itu, menurut ulama dari kalangan madzhab syafi’i—sebagaimana dikemukakan oleh Muhyiddin Syarf an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab— bahwa mencabut uban hukumnya adalah makruh. Hal ini didasarkan kepada sabda Rasulullah saw:

? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Jangan kalian mencabut uban karena uban itu adalah cahaya orang muslim kelak di hari kiamat” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Nasa’i)

Pandangan ini ditegaskan oleh al-Ghazali, al-Baghawi dan ulama lainnya. Bahkan Muhyiddin Syarf an-Nawawi menyatakan: “Jika dikatakan haram mencabut uban karena adanya larangan yang jelas dan sahih maka hal itu tidak mustahil”. Kemakruhan mencabut uban di sini tidak dibedakan antara mencabu uban jenggot dan uban kepala. Dengan kata lain, mencabut uban yang ada di jenggot dan uban yang ada di kepala hukumnya adalah sama-sama makruh.? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?

“Makruh mencabut uban karena didasarkan kepaa hadits riwayat ‘Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi saw beliau bersabda: ‘Jangan kalian mencabut uban karena uban itu adalah cahaya orang muslim kelak di hari kiamat’. Ini adalalah hadist hasan yang telah diriwayatkan oleh Abu Dawud at-Tirmidzi, Nasai, dan lainnya dengan sanad hasan. At-Tirmidzi berkata: ‘Bahwa hadits ini adalah hadits hasan. Para ulama dari madzhab kami (madzhab syafi’i) berpendapat bahwa makruh mencabut uban. Pandangan ini ditegaskan oleh al-Ghazali sebagaimana keterangan yang terdahulu, al-Baghawi dan ulama lainnya. Seandainya dikatakan haram mencabut uban karena adanya larangan yang jelas maka mungkin saja. Dan tidak ada perbedaan hukum kemakruhanya antara mencabut uban jenggot dan kepala” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Bairut-Dar al-Fikr, juz, I, hlm. 293)

Namun ada pandangan lain yang dikemukakan oleh imam Abu Hanifah yang terdapat dalam kitab al-Khulashah yang dinukil dari kitab al-Muntaqa. Menurutnya, hukum mencabut uban tidaklah makruh kecuali jika bertujuan untuk berhias diri (tazayyun). Pandangan ini menurut ath-Thahawi sebaiknya tidak dipahami secara literalis. Beliau memberi catatan, bahwa pandangan imam Abu Hanifah tersebut seyogyanya dipahami ketika uban yang dicabut adalah sedikit, tetapi jika banyak maka hukumnya tetap makruh karena adanya hadits yang melarang untuk mencabut uban yang diriwayatkan Abu Dawud sebagaimana disebutkan di atas.? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Di dalam kitab al-Khulashah yang dinukil dari kitab al-Muntaqa terdapat keterangan yang menyatakan bahwa imam Abu Hanifah tidak memakruhkan mencabut uban kecuali dengan tujuan berhias diri. Dan seyogynya pandangan ini dipahami ketika uban yang dicabut adalah sedikit, namun jika banyak maka hukumnya tetap makruh berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud: ‘Jangan kalian mencabut uban karena uban itu adalah cahaya orang muslim kelak di hari kiamat’” (Lihat, ath-Thahawi, Hasyiyah ‘ala Maraqi al-Falah Syarh Nur al-Idlah, Bulaq-Mathba’ah al-Amiriyah al-Kubra, 1318 H, h. 342).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Bagi orang yang sudah beruban tak perlu risau dan malu dengan ubannya karena uban adalah cahaya orang muslim kelak di hari kiamat. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

?

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu’alaikum wr. wb

?

Mahbub Ma’afi Ramdlan

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Ulama, Pendidikan Haedar Nashir

Jumat, 02 Desember 2016

Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba!

Jakarta, Haedar Nashir. 13 organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menyerukan desakan ke Pemerintah untuk memberlakukan hukuman mati kepada koruptor dan gembong narkoba. Korupsi dan peredaran narkoba dinilai sebagai kejahatan berat yang sejauh ini tidak ditindak secara tegas.

"Hukuman yang selama ini diberikan, kami nilai masih sangat ringan. Korupsi yang membangkrutkan negara dan gembong narkoba harus dihukum mati," ungkap Ketua Umum LPOI KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Jumat (1/2).

Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba! (Sumber Gambar : Nu Online)
Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba! (Sumber Gambar : Nu Online)

Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba!

LPOI beranggotakan 13 Ormas, masing-masing Nahdlatul Ulama, Persis, Al Irsyad Al Islamiyah, Matlaul Anwar, Ittihadiyah, Al Wasliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), IKADI, Dewan Dakwah Islamiyah, Arrabithah Al Alawiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, Azikra, dan Syarikat Islam Indonesia.

Haedar Nashir

Kiai Said yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menambahkan, LPOI juga mendesak penyegeraan pelaksanaan hukuman mati yang sudah divonis oleh pengadilan.

"Kami tahu pemberian grasi adalah hak Presiden. Tapi kami mohon Presiden bijak. Untuk terpidan yang sudah divonis, segera eksekusi, jangan ditunda-tunda agar kesempatan mendapatkan keringanan hukuman tidak ada," tambah Kiai Said.

Haedar Nashir

Selain penanganan korupsi dan peredaran narkoba, di kesempatan yang sama LPOI juga mendesak Pemerintah untuk serius dalam perang melawan terorisme.

"Kemendagri kami minta membubarkan Ormas yang keberadaannya jelas-jelas merongrong Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sementara yayasan dari luar negeri yang terindikasi menjadi donatur Ormas bermasalah, itu juga harus ditindak tegas," pungkas Kiai Said.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Cerita, Berita Haedar Nashir

Kamis, 01 Desember 2016

Ini Pesan Gus Mus untuk Pilpres 9 Juli 2014

Rembang, Haedar Nashir. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A. Mustofa Bisri menyampaikan pesan khusus untuk masyarakat Indonesia yang akan melaksanakan hajat pemilihan presiden dan wakil presiden 9 Juli 2014. Pesan suara berdurasi 3 menit 29 detik itu diunggah di situs youtube.com diiringi lagu "Padamu Negeri".

Pesan diunggah oleh Radio Mataair yang bertajuk “Pesan Gus Mus Untuk Pilpres 9 Juli 2014”. Ini linknya http://www.youtube.com/watch?v=hxhkPqEC3Wk dan berikut ini pesannya:

Ini Pesan Gus Mus untuk Pilpres 9 Juli 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Gus Mus untuk Pilpres 9 Juli 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Gus Mus untuk Pilpres 9 Juli 2014

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Haedar Nashir

Saya Ahmad Mustofa Bisri

Saudara-saudaraku di manapun Anda berada

Marilah kita memilih, mendukung calon presiden dan wakil presiden;

Haedar Nashir

yang kita pilih, yang kita yakini

Namun tidak usahlah kita bersikap berlebih-lebihan

Kita harus ingat bahwa calon-calon itu semuanya adalah putra-putra Indonesia...

Yang mempunyai kepentingan untuk kebaikan Indonesia

Yang mendukung masing-masing adalah saudara kita;

juga orang Indonesia yang ingin kebaikan Indonesia lima tahun ke depan,

LIMA TAHUN ke depan, bukan sampai hari kiamat

Mari kita dukung pilihan-pilihan kita dengan tetap pikiran yang jernih

sebagai warga negara Indonesia yang menghendaki kebaikan Indonesia

Dengan memohon kepada Allah SWT

Mudah-mudahan Allah meridlai apa yang kita lakukan

Mudah-mudahan dibantu dengan suasana khusu’ Ramadhan,

kita dihindarkan oleh Allah Ta’ala dari perilaku berlebihan

yang tidak disukai oleh Allah dan Rasul-Nya

Semoga kita dapat melaksanakan acara rutin pemilihan presiden

dan wakil presiden nanti dengan tertib damai aman

dan kita tetap sebagai saudara apapun nanti yang terjadi

Terima Kasih

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Ahmad Asmu’i/Anam)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Sunnah, Warta Haedar Nashir

PMII Unair Diskusikan Film “Ilir-ilir”

Surabaya, Haedar Nashir. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Airlangga mendiskusikan film Ilir-ilir di pelataran sekretariat organisasi tersebut pada Selasa (6/12) malam.

Menurut Andaru, ketua panitia, kegiatan ini diselenggarakan sebagai rangkaian dari kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba).

PMII Unair Diskusikan Film “Ilir-ilir” (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unair Diskusikan Film “Ilir-ilir” (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unair Diskusikan Film “Ilir-ilir”

“Diskusi ini serangkaian kegiatan kita menuju Mapaba, dibuat diskusi film agar sahabat-sahabat tidak bosan dengan kajian-kajian intelektual sembari mempelajari bagaimana sebuah ide dikontekstualisasikan dalam sebuah karya film,” pungkasnya.

Haedar Nashir

Sementara itu Dita, salah satu peserta mengaku senang dapat mengikuti kegiatan diskusi film yang digagas PMII Unair.

“Kegiatan ini seru karena bisa menyajikan film yang tak hanya sebuah tayangan, namun bisa mengekspresikan arti dari sebuah kehidupan. Saya rasa PMII menjadi wadah yang pas untuk saya mengembangkan diri dan berproses di dalamnya. Semoga ke depan film nya semakin seru,” ucap Mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair.

Haedar Nashir

Film Ilir-ilir sendiri dirilis pada pertengahan tahun 2011, merupakan film pendek yang mengambil latar kehidupan kakak-beradik yatim piatu, Sahid dan Wahid di Kadilangu, Demak. Film ini adalah intisari dari pemaknaan syair Ilir-ilir. (Alfi Rohma-Asrari Puadi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Ulama, Humor Islam Haedar Nashir