Kamis, 24 Juli 2014

1-23 September, Masa Akreditasi Anak Cabang Ansor Se-Bondowoso

Bondowoso, Haedar Nashir

Gerakan Pemuda Ansor dalam upaya menertibkan administrasi dan menata system pengaderan melakukan akreditasi kelembagaan mulai dari tingkat wilayah, cabang, anak cabang, hingga anak ranting.

1-23 September, Masa Akreditasi Anak Cabang Ansor Se-Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)
1-23 September, Masa Akreditasi Anak Cabang Ansor Se-Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)

1-23 September, Masa Akreditasi Anak Cabang Ansor Se-Bondowoso

Untuk proses ini, Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kebupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengingatkan seluruh anak cabang atau kepengurusan di tingkat kecamatan untuk mempersiapkan diri menyongsong giliran akreditasi pada September ini.

“Adanya akreditasi tentu menjadi sebuah motivasi bagi kita selaku kader Gerakan Pemuda Ansor,” kata Ketua PC GP Ansor Bondowoso Muzammil pada rapat pleno yang diikuti ketua dan sekeretaris Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Se-Kabupaten Bondowoso di Desa Wisata Organik, Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, Ahad (14/8) siang.

Haedar Nashir

Proses akreditasi akan dilakukan langsung oleh Pimpinan Pusat GP Ansor dan Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur. Muzammil memaparkan rincian jadwal turba (turun ke bawah) dalam akreditasi kali ini ini. Secara berurutan, akderitasi akan dilakukan tiap hari dari tanggal 1-23 September.

PAC GP Ansor Kecamatan Bondowoso mendapat giliran pertama kali kunjungan akreditasi (1 September), disusul Tenggarang, Wonosari, Botolinggo, Cermee, Klabang, Pejaten, Tapen, Pujer, Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Tolgosari, Grujugan, Jambesari, dan Maesan.

Haedar Nashir

Pada tanggal 17 September, kunjungan berlanjut ke PAC GP Ansor Kecamatan Tamanan, kemudian hari berikutnya ke Binakal, Curahdami, Pakem, Taman? Krocok, Tegalampel, dan terakhir pada 23 September di Kecamatan Wringin.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut pengurus harian PC GP Ansor Bondowoso, Satkorcab Banser Bondowoso, dan segenap PC Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Bondowoso. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Tegal, Humor Islam Haedar Nashir

Minggu, 20 Juli 2014

Karya Ulama Nusantara Harus Masuk Kurikulum

Banjarmasin, Haedar Nashir. Karya-karya ulama Nusantara seharusnya menjadi referensi kurikulum pokok dalam dunia pendidikan nasional. Selama ini, karya-karya ulama Nusantara hanya dikaji di lingkungan pesantren. Di perguruan tinggi Islam hanya ada di program pasca sarjana, itupun baru sebatas penelitian-penelitian. Padahal, karya-karya ulama Nusantara bukan saja terkait dengan dunia keislaman, tapi juga meliputi sastra hingga hukum tatanegara, dan banyak aspek kehidupan yang lain.

Demikian dikatakan Prof. Dr. KH. Muhammad Machasin dalam sambutan penutupan Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke-10 di hotel Arum Banjarmasin Rabu malam (3/11).

Karya Ulama Nusantara Harus Masuk Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Ulama Nusantara Harus Masuk Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Ulama Nusantara Harus Masuk Kurikulum

“Dewasa ini karya Nusantara sebetulnya relatif lebih diapresiasi, tapi belum cukup karena belum masuk kurikulum. Kita baru sadar ada karya ulama kita ketika memasuki S2. Ini terlambat, semestinya kita tahu sejak dini, ketika masih muda. Untuk pesantren mengkaji karya-karya ulama kita dengan baik, meski ada kekurangan,” papar Kiai Machasin yang menjabat sebagai Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam, Kementerian Agama RI.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan itu, Kiai Machasin juga mengungkapkan bahwa obyektifitas dalam penelitian itu bagus dan diperlukan, tapi semestinya tidak hanya berhenti di situ. Sebab, obyektifitas itu hanya alat, bukan tujuan.

Haedar Nashir

“Dari sekian metodelogi, sekian pemikiran, yang telah kita pelajari, harus dipilih dengan tepat untuk sebuah sikap dan pertanggungjawaban ilmiah. Biar kita tidak terombang-ambing, terbawa arus, sehingga tidak jelas. Penelitian harus jadi patokan, untuk itu kita harus memilih,” tegasnya.

Kiai Machasin yang juga Rais Syuriyah PBNU mengkritik bahwa pembicaraan dalam ACIS ke-10 tentang Islam Nusantara baru sampai pada hal-hal yang baik.

“Kita belum membincangkan sisi negatifnya. Pasti ada sisi negatifnya. Yang negatif harus diteliti juga, biar kita tidak terjerembab ke dalam kubangan. Yang positif diteliti, dikembangkan, masuk dalam pendidikan, disebarkan secara luas pada masyarakat,” jelasnya. (hh)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Berita, Ulama Haedar Nashir

Sabtu, 19 Juli 2014

Hafalan Al-Qur’an Jalan, Memimpin IPNU-IPPNU Juga Jalan

Cirebon, Haedar Nashir

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Cirebon, Jawa Barat, menambah komisariat baru di SMP Mu’allimin Mu’allimat (SMP-MMA) Cirebon.

Pengukuhan perdana dilakukan Ketua PC IPPNU Cirebon Nur Aida Fajrianti di sekolah setempat, Kamis (31/3). Dengan demikian, Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU SMP-MMA resmi menjadi komisariat ke-45 di Kabupaten Cirebon.

Hafalan Al-Qur’an Jalan, Memimpin IPNU-IPPNU Juga Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hafalan Al-Qur’an Jalan, Memimpin IPNU-IPPNU Juga Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hafalan Al-Qur’an Jalan, Memimpin IPNU-IPPNU Juga Jalan

Mewakili SMP-MMA Agus Mansur menyambut gembira peresmian komisariat baru ini. Menurutnya, IPNU-IPPNU bisa menjadi sarana siswa belajar berorganisasi. Kiai muda yang tengah menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Internasional Malaya Malaysia ini juga menekankan pentingnya proses dalam hidup.

Haedar Nashir

”Hal-hal besar tidaklah pernah kita capai sebelum melewati hal-hal kecil. Maka manfaatkan kesempatan berharga ini,” kata ketua Yayasan Fatkhul Amin ini. Agus juga mendorong diselenggarakannya pendidikan jurnalistik sebagai program unggulan PK IPNU-IPPNU SMP-MMA.

Haedar Nashir

Diana Mercy Stacia dipercaya memimpin PK IPPNU SMP-MMA periode 2016-2017. Ia merupakan santriwati asal Depok, Jawa Barat. “Saya akan memaksimalkan diri, untuk? belajar mengabdi di masyarakat melalui lembaga kaderisasi terkecil di NU ini,” tegas santri kelas VIII B yang sudah hafal Al-Qur’an 3 juz ini.

Senada dengan Aida, Ketua PK IPNU SMP-MMA Heru mengatakan, walaupun ia sedang dalam proses hafalan Al-Qur’an ia berkomitmen agar organisasi tetap mendapat prioritas. “Organisasi jalan, hafalan Al-Qur’an tetap di hati,”? ujar remaja yang duduk di kelas VII A ini.

Sejak berdiri tahun 2012 kemarin, SMP-MMA mempunyai target keunggulan hafalan Al-Qur’an. Tidak heran, banyak siswanya yang berprestasi di bidang itu. Awal tahun 2016 ini, Ali Rifki, santri kelas VIII B SMP-MMA, menjadi pemenang II Musbaqah Hifdzil Qur`an atau lomba hafaan Al-Qur’an tingkat Kabupaten Cirebon. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Pertandingan Haedar Nashir

Rabu, 16 Juli 2014

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran

Subang, Haedar Nashir. Setiap daerah memiliki keunikan sendiri dalam menyambut lebaran, seperti di wilayah pantura kabupaten Subang terdapat tradisi tukar rantang atau biasa disebut dengan udun-udunan.

Menurut Reti salah satu warga desa Cilamayagirang tukar rantang adalah saling tukar makanan atau masakan yang disimpan di dalam rantang susun, “Tradisi tersebut sudah turun temurun dari nenek moyang daerah sini” jelasnya.

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran

”Dalam tukar tantang ada perbedaan antara kerabat dan tetangga. Jika kerabat yang nasabnya lebih tua, tukar rantang berisi lengkap, seperti nasi, bakakak (ayam panggang), gula, kopi, udud (rokok) aneka macam buah-buahan,” ujar Siti Aisyah.  

Haedar Nashir

Kalau untuk kerabat yang nasabnya lebih muda dan tetangga, tukar tantang isinya sederhana, yaitu nasi lengkap lauk pauknya, seperti telur atau ayam opor. 

Haedar Nashir

“Kebiasaan orang yang diberi hantaran rantang akan membalas hantaran pada hari yang sama atau hari berikutnya. Tentu saja isinya sama, nasi lengkap dengan lauk-pauk,” jelas Aisyah pada Haedar Nashir, Selasa (6/8/2013).

Menurut Ustadz Sobri, Tradisi tukar rantang harus dilestarikan karena selain bersedekah makanan, tradisi tersebut untuk memperetat tali silaturrahim antar kerabat dan tentangga.

Uniknya, dalam tradisi tukar rantang ada juga angpau atau amplop yang berisi uang yang disisipkan. Uang tersebut diperuntukkan kepada si anak pengirim rantang. 

Untuk isi amplop beragam, mulai dari Rp5.000 sampai dengan  Rp50.000 atau pun Rp100.000, tergantung pada kemampuan si pemberi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Rosyidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara Haedar Nashir

Senin, 14 Juli 2014

Menag Tunda Paling Cepat 10 Tahun Registrasi Mereka yang Pernah Haji

Jakarta, Haedar Nashir. Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin pada Jumat (29/5), mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) nomor 29 Tahun 2015 yang mengatur pendaftaran calon jamaah haji yang pernah menunaikan haji wajib. Setelah Permen ini keluar, mereka yang pernah berhaji tetapi ingin kembali berhaji bisa melakukan registrasi ulang setelah 10 tahun dari keberangkatan haji sebelumnya.

Menag Tunda Paling Cepat 10 Tahun Registrasi Mereka yang Pernah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Tunda Paling Cepat 10 Tahun Registrasi Mereka yang Pernah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Tunda Paling Cepat 10 Tahun Registrasi Mereka yang Pernah Haji

“Mulai sekarang diberlakukan bagi setiap calon jamaah yang mendaftar tahun ini dan sudah berhaji, maka paling cepat bisa berhaji lagi sepuluh tahun kemudian. Ini darurat di tengah keterbatasan bahkan pengurangan kuota,” kata Lukman.

Menurut putra KH Saifuddin Zuhri ini, pemerintah sejatinya tidak menutup sama sekali kesempatan berhaji merekayang pernah menunaikannya. Keluarnya kebijakan ini lebih dikarenakan pada pemberian prioritas bagi calon haji yang belum pernah berhaji.

Haedar Nashir

“Karena mereka itu tetap diberi peluang setelah sepuluh tahun,” kata Lukman.

Haedar Nashir

Ketentuan dalam Permen ini, tambah Lukman, tidak berlaku bagi pembimbing ibadah. Untuk para pembimbing, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag akan membuat aturan tersendiri.

Pasal 3 ayat (4) Permen ini berbunyi bahwa jamaah haji yang pernah menunaikan ibadah haji dapat melakukan pendaftaran haji setelah 10 (sepuluh) tahun sejak menunaikan ibadah haji yang terakhir. Sementara Ayat (5)-nya menyebutkan bahwa ketentuan pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak berlaku bagi pembimbing.

Adapun ayat (6) mencatat bahwa ketentuan lebih lanjut pendaftaran bagi pembimbing sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

Sebagaimana diketahui, isu penundaan keberangkatan haji mereka yang pernah menunaikannya ini pernah diangkat pada bahtsul masail pra muktamar ke-33 NU di pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta pada 28-29 Maret 2015.

Pada forum ini, para kiai akhirnya memutuskan agar pemerintah membuat kebijakan soal pelaksanaan haji mereka yang sudah menunaikan haji wajib. Para kiai juga menyebutkan banyak dalil dalam hasil akhir forum ini. Mereka yang pasti menuntut keseriusan pemerintah dalam menangani isu ini dengan memperbaiki database orang-orang yang pernah berhaji. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Nahdlatul Ulama, Khutbah Haedar Nashir

Minggu, 06 Juli 2014

Isomil Perlu Gandeng Para Pemimpin Muslim di Negara Barat

Jakarta, Haedar Nashir. Selain merngkul para pemimpin Islam di negara-negara bermayoritas muslim, International Summit of The Moderate Isalmic Leaders (Isomil) yang digelar Nahdlatul Ulama juga perlu menggandeng para pemimpin Islam di negara-negara Eropa dan Amerika. Hal ini mengingat terorisme dan radikalisme tak hanya menjadi problem negara muslim, tetapi juga menjadi persoalan dunia global.

Isomil Perlu Gandeng Para Pemimpin Muslim di Negara Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Isomil Perlu Gandeng Para Pemimpin Muslim di Negara Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Isomil Perlu Gandeng Para Pemimpin Muslim di Negara Barat

Demikian disampaikan oleh intelektual muda NU Syafiq Hasyim kepada Haedar Nashir sesaat setelah acara pembukaan Isomil, Senin (9/5) di Gedung Jakarta Conventiona Center (JCC) Senayan, Jakarta. Kegiatan bertajuk Islam Nusantara: Inspirasi Peradaban Dunia ini akan berlangsung hingga Rabu (11/5).

Syafiq Hasyim yang merupakan Doktor lulusan Freie Universitat (FU) Berlin Jerman ini menjelaskan bahwa pemimpin Islam di negara Eropa dan Amerika bukan berarti pemimpin dalam artian politik tetapi mereka yang menjadi pemimpin kultural di tengah masyarakat muslim di sana. 

“Saya kira ke depan kegiatan seperti ini perlu mengundang para pemimpin muslim di negara Eropa dan Amerika. Bukan hanya pemimpin dari kawasan negara bermayoritas muslim, tetapi negara-negara di mana muslim hidup di sana, seperti Perancis, Jerman, Amerika, dan negara-negara Barat lain,” jelas Syafiq.

Persoalan Islamic radicalism di Barat, lanjut kiai muda yang masih aktif mengajar kitab kuning ini, menjadi semacam buah simalakama. Sebab itu hal ini juga perlu mendapat perhatian karena tidak jarang muslim yang minoritas menjadi sorotan setiap terjadi tindakan terorisme.

Haedar Nashir

“Dalam konteks Barat, Islamic radicalism itu buah simalakama bagi para pemimpin muslim di Barat, karena jika mengkritik, mereka dianggap membenci Islam, tetapi jika tidak meng-counter radikalisme, mereka akan dianggap pro kepada terorisme oleh pemerintah setempat,” ungkapnya.

Terkait dengan tema besar Islam Nusantara sebagai inspirasi peradaban dunia, Syafiq menilai hal ini merupakan langkah nyata dari Islam Indonesia dalam hal ini NU yang berupaya menunjukkan kehidupan yang harmonis antara Islam dengan politik, demokrasi, hak asasi manusia, dan lain-lain.

“Kondisi harmonis ini yang mungkin sulit ditemukan di negara-negara lain sehingga inspirasi ini menjadi semcam tawaran kepada dunia bahwa Islam di Indonesia bisa menjadi model bagi mereka,” tandas Syafiq. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Santri, Habib Haedar Nashir

Senin, 30 Juni 2014

Peringati Resolusi Jihad, 3000 Orang "Ngontel" Surabaya-Jombang

Jombang, Haedar Nashir. Peristiwa Resolusi Jihad NU dan perjuangan 10 November 1945 akan diperingati oleh warga NU  dengan mengendari sepeda ontel dari Jombang ke Surabaya, Ahad (24/11) besok. Kegiatan ini akan diikuti oleh 3000 peserta.

Peringati Resolusi Jihad, 3000 Orang Ngontel Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Resolusi Jihad, 3000 Orang Ngontel Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Resolusi Jihad, 3000 Orang "Ngontel" Surabaya-Jombang

Kegiatan bertajuk “Napak Tilas Resolusi Jihad NU dalam Pertempuran Bersejarah 10 November 1945” ini diselenggarakan oleh Museum NU bersama Harian Umum Duta Masyarakat dan TV9, serta didukung oleh Pemprov Jawa Timur.

Ngonthel bareng mengambil start di Pesantren Tebuireng Jombang pada pukul 08.00 WIB dan finish di Kantor PCNU Surabaya di Jalan Bubutan. 

Haedar Nashir

Di kantor PCNU ini, pada 22 Oktober 1945 silam para kiai NU berkumpul untuk membahas kedatangan kembali tentara Sekutu yang diboncengi Belanda yang ingin kembali Indonesia pasca diproklamirkannya kemerdekaan. Puncaknya dikeluarkanlah Resolusi Jihad oleh Hadratus Syekh KH Hasyim As’ari yang mengawali rangkaian peristiwa heroik November 1945 di Surabaya.

Haedar Nashir

Ahad (24/11) siang di kantor bersejarah ini diadakan permbacaan teks Resolusi Jihad dan seruan Bung Tomo dalam menghadapi tentara Sekutu.

Sementara itu dalam rapat panitia lokal Jombang, Rabu (20/11) malam, dilaporkan, sebanyak 300 anggota Banser Jombang telah siap untuk mengamankan napak tilas. Mereka akan ditempatkan di titik-titik rute Ngonthel Bareng Napak Tilas Resolusi Jihad NU antara Jombang hingga Trowulan, Mojokerto. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Tegal Haedar Nashir