Sabtu, 19 September 2015

Pergolakan Islam dalam Tradisi Jawa

Judul Buku: Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa

Penulis: Ahmad Khalil, MFilI

Penerbit: UIN-Malang Press

Cetakan I: Mei 2008

Pergolakan Islam dalam Tradisi Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergolakan Islam dalam Tradisi Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergolakan Islam dalam Tradisi Jawa

Tebal: xv + 344

Peresensi: Abdul Halim Fathani

Haedar Nashir



Salah satu ciri utama yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah keragaman budaya. Dari zaman kerajaan sampai dewasa ini, keragaman itu masih tetap “kokoh”, bahkan terus bertambah. Indonesia merupakan salah satu tempat bersinggungan berbagai macam budaya dan agama. Proses asimilasi atau akulturasi sering nampak dalam gerak-gerak praktis nuansa kehidupan yang ada di dalamnya, misal, budaya Islam Jawa.

Islam di Jawa terlalu banyak terkontaminasi unsur budaya. Bahkan, terlalu banyak yang mengamalkan budaya Jawa yang dianggapnya sebuah ajaran dalam Islam. Agama Islam yang disebarkan Nabi Muhammad adalah Islam sejati. Islam yang asli memancarkan budaya syari, yakni bentuk pemahaman dan pengamalan Nabi atas agama yang belum dipengaruhi unsur budaya lokal. Budaya Arab jahiliyah yang menyembah berhala itu oleh Muhammad dinamakan musyrik, sedangkan agama Islam memperkenalkan agama tauhid yang hanya menyembah Tuhan, Allah.

Haedar Nashir

Dalam pandangan Ahmad Noer (2008), Islam di Jawa memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan Islam lainnya di negeri ini, meski hal ini tidak mutlak dapat dijadikan pijakan, namun setidaknya Islam Jawa memiliki karakteristik tertentu dibanding yang lain. Bahkan, Gertz seorang antropolog terkenal dunia, sampai melakukan studi penelitian dalam waktu cukup lama untuk membaca wajah Islam di Jawa. Dengan sampling masyarakat Islam Mojokuto, Gertz berkesimpulan bahwa Islam Jawa memiliki tiga strata dalam praktiknya, santri, abangan, dan priyayi.

Keunikan Islam Jawa, merunut pada tesis Gertz (dalam Ahmad Noer, 2008) adalah terletak pada gerak spiritualitas yang dilakukan golongan Abangan. Di akar budaya yang dimiliki golongan ini, kekerasan budaya tidaklah nampak begitu menonjol. Bahkan, dalam pertemuan antara Islam dan budaya Jawa dalam diri mereka terlihat begitu mesra. Baik unsur Islam maupun Jawa, terlihat ada rasa saling mengerti.

Selain itu, pengaruh budaya Islam yang berasimilasi dengan budaya Jawa semakin mengukuhkan harmonitas sosial masyarakatnya. Karena Islam dengan pengayaan budayanya akan lebih diterima masyarakat, sehingga akan terbentuk suatu masyarakat yang memiliki jati diri muslim lewat lingkungan dan simbol-simbol edukatif-religius yang dimiliknya.

Adanya kemungkinan akulturasi timbal-balik antara Islam dengan budaya lokal Jawa, dalam hukum Islam secara metodologis sebagai sesuatu yang memungkinkan diakomodasi eksistensinya. Hal ini dapat kita lihat dalam kaidah fikih yang menyatakan “al-‘adah muhakkamah” (adat itu bisa menjadi hukum), atau kaidah “al-‘adah syariatun muhkamah” (adat adalah syariat yang dapat dijadikan hukum).

Hanya, tidak semua adat/tradisi bisa dijadikan pedoman hukum karena tidak semua unsur budaya pasti sesuai dengan ajaran Islam. Unsur budaya lokal yang tidak sesuai diganti atau disesuaikan sebagaimana misi Islam sebagai pembebas manusia dengan semangat tauhid. Dengan semangat tauhid ini, manusia dapat melepaskan diri dari belenggu tahayul, mitologi dan feodalisme, menuju pada peng-esaan terhadap Allah sebagai sang Pencipta. Pesan moral yang terkandung dalam kaidah fikih di atas adalah perlunya bersikap kritis terhadap sebuah tradisi, dan tidak asal mengadopsi. Sikap kritis inilah yang justru menjadi pemicu terjadinya transformasi sosial masyarakat yang mengalami persinggungan dengan Islam.

Dengan demikian, kedatangan Islam selalu mendatangkan perubahan masyarakat atau pengalihan bentuk (transformasi) sosial menuju ke arah yang lebih baik. Sunan Kalijaga, misalnya, dalam melakukan Islamisasi di Jawa, dia menggunakan pendekatan budaya, yaitu melalui seni pewayangan untuk menentang feodalisme kerajaan Majapahit. Melalui seni pewayangan, ia berusaha menggunakan unsur-unsur lokal sebagai media dakwahnya dengan mengadakan perubahan-perubahan lakon juga bentuk fisik dari alat-alatnya. (Madjid, 1992:550)

Proses dialektika Islam dengan budaya lokal Jawa yang menghasilkan produk budaya sintetis merupakan suatu keniscayaan sejarah sebagai hasil dialog Islam dengan sistem budaya Jawa. Lahirnya berbagai ekspresi-ekspresi ritual yang nilai instrumentalnya produk budaya lokal, sedangkan muatan materialnya bernuansa religius Islam adalah sesuatu yang wajar dan sah adanya dengan syarat akulturasi tersebut tidak menghilangkan nilai fundamental dari ajaran agama. Islam lahir memang tidak hanya dimaksudkan untuk mengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan keakhiratan, tapi mengatur secara menyeluruh semua aspek manusia. Karena itu, umat Islam dituntut untuk selalu berijtihad dan berinovasi demi kejayaan Islam di mana pun dan sampai kapan pun (hlm.11).

Buku ini mengupas-tuntas tentang etika, kebijaksanaan hidup, dan tradisi masyarakat Jawa dalam perspektif tasawuf. Dilengkapi contoh nyata dari budaya Jawa tentang agama dan ritual seblang, yang merupakan hasil penelitian penulis di komunitas Jawa Osing (Banyuwangi, Jawa Timur) membuat buku ini menarik untuk dikaji lebih lanjut. Hadirnya buku ini akan membuka “kran” pengetahuan pembaca untuk dapat menjalani hidup secara arif nan bijaksana.

Peresensi adalah Peneliti pada Lingkar Cendekia Kemasyarakatan (Lacak), Malang, Jawa TimurDari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Kamis, 17 September 2015

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf

Makassar, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah GP Ansor Makassar, pada hari Jumat (3/4) mendatangi kantor Redaksi Harian Amanah yang beralamat di jalan Kakatua Makassar.

Kehadiran mereka disambut baik Pimpinan Redaksi Harian Amanah, Firmansyah Lafiri, Koordinator Liputan Irfan Abdul Gani, dan Pimpinan Perusahaan Abdul Salim Camma.

Kedatangan GP Ansor ini guna meminta penjelasan terkait pemberitaan harian Amanah edisi Rabu, (30/3) terkait akar aliran sesat, di mana salah satunya yang disebutkan adalah paham Asy`ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hasan al- Asyari.

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf

Ketua GP Ansor Makassar, Agus Salim Said dalam pertemuan tersebut meminta kepada Pimred Harian Amanah, Firmansyah Lafiri segera menyelesaikan semua tuntutan yang ditujukan kepadanya.

"Saya meminta agar media Amanah ini meminta maaf secara langsung dan terbuka kepada masyarakat Nahdiyin dan kiai sepuh di Nahdatul Ulama (NU) dalam waktu 1×24 jam, dan jika hal itu tidak ditindak lanjuti, maka kami akan mengerahkan Banser untuk menyegel kantor Harian ? Amanah ini," tegas Agus.

Haedar Nashir

Menanggapi desakan tersebut, Firmansyah Lafiri mengaku kecolongan dan menyesal atas pemberitaan penyesatan paham Asyariyah itu. Pada waktu yang sama ia pun langsung menuliskan surat pernyataan permohonan maaf yang berisikan 4 poin, sebagai berikut :

1. Memohon maaf atas kelalaian kami kepada seluruh warga Nahdiyin.

Haedar Nashir

2. Berjanji tadak akan mengulangi hal tersebut.

3. Bersedia menjalin sinergi strategis dalam kerja ukwah.

4. Akan memohon maaf langsung kepada Kyai sepuh Nahdatul Ulama.

"Selain itu redaktur yang menangani rubrik yang memuat berita tersebut telah saya mutasi, bahkan jika teman-teman GP Ansor menginginkan saya untuk memecat dia saya akan lakukan." tegas Firmasyah. (Makmur Idrus/Zunus).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Lomba Haedar Nashir

Senin, 14 September 2015

Soal Ancaman Pribadi, Ketum PBNU: Lebih Baik Ahok Diproses Hukum

Jakarta, Haedar Nashir - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menyayangkan demonstrasi sejumlah ormas Islam yang bernada ancaman fisik terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Cahya Purnama (Ahok). Ancaman-ancaman fisik itu, menurutnya, merupakan bentuk pelanggaran dalam sebuah demonstrasi.

Demikian disampaikan Kang Said setelah acara Pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah yang dihadiri sedikitnya 40.000 massa di kompleks Pesantren Lirboyo, Jalan KH Abdul Karim, Lirboyo, Mojoroto, Kediri, Jumat (21/10) malam.

Soal Ancaman Pribadi, Ketum PBNU: Lebih Baik Ahok Diproses Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Ancaman Pribadi, Ketum PBNU: Lebih Baik Ahok Diproses Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Ancaman Pribadi, Ketum PBNU: Lebih Baik Ahok Diproses Hukum

“Kalau ada ormas Islam mengancam pribadi Ahok, itu tidak dewasa. Karena itu proses hukum lebih baik daripada main hakim sendiri,” kata Kang Said.

Haedar Nashir

Meskipun telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada umat Islam, proses hukum terhadap Ahok harus terus berjalan.

“Kalau minta maaf, kita maafkan. Tetapi proses hukum harus berjalan. Ahok harus diperiksa, salah atau tidak nanti ketahuan. Periksa dari awal, dari nol, praduga tak bersalah,” kata Kang Said.

Haedar Nashir

Menurutnya, Indonesia adalah negara hukum. Jadi segala bentuk perilaku yang diduga melanggar hukum terlebih lagi meresahkan banyak orang mesti dibuktikan di pengadilan.

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah ini mengimbau umat Islam untuk menghargai dan menerima apapun hasil putusan lembaga peradilan di Indonesia. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Nasional Haedar Nashir

Minggu, 13 September 2015

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Klaten,Haedar Nashir. Ribuan jamaah menghadiri peringatan haul ke-60 KH Muhammad Manshur di kompleks Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari, Klaten, Jawa Tengah.

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Salah satu panitia acara, Darmadji, Senin (22/12), menjelaskan haul diadakan bersamaan dengan putaran pertama kegiatan bersholawat 12 malam Jamaah Muji Rosul (Jamuro) Surakarta.

Acara diawali dengan pembacaan khatmil Qur’an dan tahlil yang dipimpin Mbah Kiai Djablawi dan KH Nasrun. Kemudian dilanjutkan pembacaan maulid kitab al-Barzanji, karya Sayyid Ja’far Al-Barzanji. Sebagai penutup, mauidlah hasanah oleh Habib Umar Muthahar dari Semarang.

Haedar Nashir

Dalam ceramahnya, Habib Umar menerangkan tentang generasi salafi yang sebenarnya. “Salafi itu generasi yang hidup setelah tabi’it tabi’in seperti Imam Syafi’i dan lainnya,” katanya.

Menurut dia, mereka itu juga melakukan maulidan, tahlilan. “Lha, zaman sekarang ada orang yang mengaku sebagai kaum salafi, tapi tidak mau mengikuti amalan ulama salaf. Lalu, mereka itu salaf ikut siapa?” tanya Habib Umar.

Haedar Nashir

Habib Umar juga mengajak kepada para jemaah untuk bersama ikut mencintai Nabi Muhammad SAW.

Turut hadir dalam acara tersebut KH A Djablawi, KH Nasrun Minallah dan sejumlah pengurus NU Klaten. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Ribuan Jemaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Tegal, PonPes Haedar Nashir

Sabtu, 05 September 2015

NU Ciamis Bikin Posko Mudik NU-NKRI

Ciamis, Haedar Nashir. Jalan Raya Ciamis - Banjar yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadi pilihan strategis bagi para pemudik yang akan pulang ke kampung halaman. Sebagai bentuk pelayanan kepada umat, PCNU Kabupaten Ciamis yang membentuk Posko Mudik.

Posko Mudik bernama NU-NKRI tersebut digagas Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama Kabupaten Ciamis serta Banom-banom NU lain. Di posko tersebut panitia menyediakan rest area dan takjil gratis. Selain itu, disediakan tim medis yang melakukan pemeriksaan ringan terhadap kondisi kesehatan para pemudik yang hendak melanjutkan perjalanan.

NU Ciamis Bikin Posko Mudik NU-NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Ciamis Bikin Posko Mudik NU-NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Ciamis Bikin Posko Mudik NU-NKRI

Koordinator Tim Operasional Posko Mudik Asep Irfan Mujahid mengatakan, pendirian posko tersebut sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat bahwa NU tetap konsisten mempertahankan NKRI.

Haedar Nashir

“Melalui posko mudik NU - NKRI ÏŠ?ÏŠ PCNU Ciamis secara tidak langsung ingin menyampaikan pesan pendidikan politik kebangsaan kepada para pemudik tentang komitmen kebangsaan dalam mempertahankan NKRI,” katanya kepada Haedar Nashir, melalui pers rilis yang dikirim Ahad (5/8).

Haedar Nashir

Apabila terus menerus disosialisasikan dalam berbagai bentuk, tambah dia, kami yakin ÏŠ?ÏŠ akan semakin tertanam dalam memori masyarakat sekaligus menggugah kesadaran pentingnya mempertahankan NKRI.

Aktivis IPNU ini juga mengatakan, Posko yang dibuka sejak Kamis (1/8) lalu tersebut sudah banyak dikunjungi para pemudik.

“Pemudik sangat apresiasi dengan Posko tersebut. Alhamdulillah Posko NU-NKRI Ciamis juga mendapat sambutan positif dari warga sekitar. Mereka menyambut baik kehadiran Posko, terbukti dengan bantuan tenaga dalam pendirian Posko oleh warga setempat dan partisipasi nyata lainnya,” pungkasnya.

Redaktur: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Nusantara Haedar Nashir

Jumat, 04 September 2015

Gubernur Lampung Terima Kartanu dari Ketua Umum PBNU

Lampung Tengah, Haedar Nashir



Gubernur Provinsi Lampung M. Ridho Ficardo menerima Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj di kompleks Pesantren Darussalamah Kampung Bandar Agung, Kecamatan Terusan Unyai, Kabupaten Lampung Tengah, Senin, (1/5).

Gubernur Lampung Terima Kartanu dari Ketua Umum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Lampung Terima Kartanu dari Ketua Umum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Lampung Terima Kartanu dari Ketua Umum PBNU

?

Kartanu tersebut diserahkan di sela-sela pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Lampung Tengah masa khidmah 2017-2022.

?

Haedar Nashir

"Mudah-mudahan Pak Ridho lebih memperhatikan kebutuhan warga Nahdliyyin yang ada di Provinsi Lampung wa bil-khusus di Kabupaten Lampung Tengah," harap Kiai Said selepas memberikan kartu itu.

?

Warga NU yang ada kabupaten Lampung Tengah, kata pengasuh Pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatanitu, seyogyanya lebih mengedepankan harmoni, jangan saling menjelek-jelekkan antarsuku, agama atau ras.?

Haedar Nashir

“Umat Islam, lebih-lebih warga NU mengutamakan sikap tasamuh, tepo seliro, toleran, tawassuth (moderat) dalam kehidupan bermasyarakat," katanya.

?

Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Lampung Tengah dihadiri tokoh-tokoh NU mulai dari pusat dan wilayah antara lain; Dr. H. A. Helmi Faisal Zaini (Sekretaris Jenderal PBNU), H. A. Muhaimin Iskandar (cucu KH Bisri Syansorri sekaligus Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa), H. M. Aqil Irham (Wasekjend PBNU), H. Umarsyah HS (Wakil Bendahara PBNU), Dr. H. Mustafa (Bupati Lampung Tengah/Ketua Syeikher Mania Propinsi Lampung),?

Juga Hj. Chusunia Chalim (Bupati Lampung Timur), Erlina, M.H (Wakil Bupati Pesisir Barat), jajaran pengurus PWNU Lampung, jajaran pengurus PCNU sebagian di propinsi Lampung, Badan Otonom dan Lembaga yang ada dilingkungan NU baik tingkat Wilayah maupun Cabang, dan 28 MWC NU se Kabupaten Lampung Tengah. (Akhmad Syarief Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Pemurnian Aqidah, Pertandingan Haedar Nashir

Selasa, 01 September 2015

PMII Solo Kritik Realisasi Program Nawacita Jokowi-JK

Solo, Haedar Nashir. Spanduk dan poster menjadi media untuk menyampaikan pesan, dalam aksi yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Solo, Jawa Tengah, di depan pintu masuk utama Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu (28/10).

PMII Solo Kritik Realisasi Program Nawacita Jokowi-JK (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Solo Kritik Realisasi Program Nawacita Jokowi-JK (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Solo Kritik Realisasi Program Nawacita Jokowi-JK

Tulisan pada spanduk dan poster tersebut, kebanyakan berisi tentang kritikan untuk pemerintahan Jokowi-JK dan berbagai fenomena sosial-politik yang terjadi belakangan ini, seperti Politik untuk kepentingan rakyat, aparat jangan bertindak keparat, apa kabar toleransi dan #kabut asap quota vadis Mr. President.

Dalam orasinya, Ketua PC PMII Solo, Ahmad Rodif Hafidz mengatakan pemerintah layak mendapat rapor merah. Ini berdasar karena selama satu tahun pemerintahannya, Jokowi-JK belum mampu merealisasikan program Nawacitanya.

Haedar Nashir

“Sungguh proyek Nawacita hanya isapan jempol belaka. Terbukti dengan korupsi yang kian merajalela, ekonomi yang tidak stabil, kesejahteraan hidup kecil yang masih jauh dari harapan, kegaduhan politik, kedaulatan pangan hanya dijadikan jargon, dan supremasi hukum yang masih disimpan di balik ketiak para penguasa dan mafia,” tegasnya.

Dalam aksi memperingati Sumpah Pemuda tersebut, para kader PMII juga melakukan teatrikal tarik menarik yang diperagakan oleh lima orang mahasiswa. Dua orang mahasiswa berperan sebagai Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sementara tiga orang mahasiswa lainnya berperan sebagai rakyat, Tiongkok dan Amerika Serikat. Mereka saling menginginkan kedua pemimpin negara itu.

Haedar Nashir

“Ini menggambarkan bahwa Jokowi-JK berada di genggaman asing. Bukannya peduli sama rakyatnya, justru mementingkan kepentingan asing seperti pergi ke Amerika,” kata Rodif. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Lomba, Amalan Haedar Nashir