Selasa, 31 Oktober 2017

Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital

Jakarta, Haedar Nashir



Kementerian Agama resmi meluncurkan Aplikasi Al-Qur’an Digital Kementerian Agama.

Peluncuran dilakukan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersamaan dengan diselenggarakannya Seminar Internasional Al-Qur’an di Jakarta, Selasa (30/8), sebut keterangan tertulis Kemenag.

Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital

Peluncuran aplikasi Al-Qur’an ini ditandai dengan penekanan tombol Enter aplikasi oleh Menag disaksikan oleh Kabalitabangdiklat Abdurrahman Masud dan Dirjen BImas Islam Machasin.

Dikatakan Menag, aplikasi Al-Qur’an ini diharapkan dapat memberikan kemudahan umat Islam dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dalam bentuk bacaan maupun pemahaman.

Haedar Nashir

"Saya berharap langkah awal peluncuran aplikasi ini dapat terus dikembangkan dari segi teknis dan kontennya, sehingga membantu masyarakat luas untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an," ucap Menag.

Menag mengatakan, upaya memelihara kesahihan Al-Qur’an tidak hanya dilakukan dalam bentuk teks/tulisan mushaf, tetapi juga dari segi maknanya. Di era digital yang penuh keterbukaan, ujar Menag, informasi apa pun dengan mudah diterima oleh masyarakat, tak terkecuali pemahaman keagamaan.

Menurutnya, informasi itu tidak selalu bermuatan positif, tetapi juga bisa berupa propaganda kebencian dan kekerasan yang tersebar melalui media sosial, kenyataan ini sulit dibendung.

Oleh karena itu, ujar Menag, pemerintah terus berupaya mengimbangi derasnya arus pemahaman keagamaan yang ekstrem dengan menyediakan berbagai literatur berisi pemahaman dan penafsiran Al-Qur’an yang moderat, toleran dan menghargai keragaman, melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

"Atas kenyataan dimaksud, dengan penuh rasa bahagia, hari ini, bersamaan dengan seminar internasional Al-Qur’an dalam rangka memperingati 1.450 tahun turunnya Al-Qur’an, Kementerian Agama mempersembahkan kepada masyarakat aplikasi Al-Qur’an digital yang dilengkapi dengan terjemah dan tafsirnya," ujar Menag.

Haedar Nashir

Aplikasi Al-Qur’an Kemenag ini selanjutnya dapat didownload di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.quran.kemenag.

Sementara itu, Pjs. Ketua Lajnah Pentashian Mushaf Al-Quran Balitbang dan Diklat Kementerian Agama, Muchlis Hanafi menjelaskan, pengguna ponsel smartphone dapat mengunduhnya aplikasi Al-Qur’an di Google Play Store (smartphone berbasis Android) dan secepatnya nanti juga bisa di AppStore dan Windows Phone Store.

Dikatakan Muchlis, aplikasi generasi pertama ini menyajikan teks Al-Qur’an lengkap 30 juz, aplikasi ini juga dilengkapi dengan terjemahan. Selain itu, juga di lengkapi dengan tafsir dalam dua varian: Tahlili (30 juz) ataupun tafsir ringkas.

Fitur lainya yang tersedia di aplikasi ini, yaitu suara murattal Al-Quran dari Syekh Mahmud Khalil al-Hushary. Dan Tulisan Al-Quran yang digunakan dalam aplikasi ini, terang Muchlis, bersumber dari Mushaf Attin yang mengikuti Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia.

"Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia adalah Mushaf Al-Qur’an yang dibakukan cara penulisan teks, harakat, tanda baca, dan tanda waqafnya sesuai dengan hasil yang dicapai Musyawarah Kerja (Muker) Ulama Ahli Al-Qur’an yang berlangsung sebanyak 9 kali dari tahun 1974 s.d. 1983, dan dijadikan pedoman bagi mushaf Al-Quran yang dicetak dan diterbitkan di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Agama," jelas Muchlis.

Ada pun terjemahan Al-Qur’an yang terdapat dalam aplikasi ini berasal dari Al Qur’an dan Terjemahnya yang disusun oleh tim yang dibentuk oleh Kementerian Agama. Sedangkan Tafsir Tahlili yang terdapat dalam aplikasi ini bersumber dari Al Quran dan Tafsirnya yang diterbitkan Kementerian Agama.

Sementara itu, untuk fitur Tafsir Ringkas Al Qur’an Al-Karim adalah sebuah buku hasil kajian tafsir yang disusun oleh tim yang dibentuk Kementerian Agama bekerjasama dengan Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta. Saat ini, tafsir ini baru hadir satu jilid yang terdiri juz 1 - 15. Adapun jilid kedua yang berisi juz 16-30.

"Aplikasi ini akan terus dikembangkan dan ditambahkan nanti juga ada tafsir tematik, tafsir ilmi dan lain sebagainya. Juga akan ada fitur Asbabun Nuzul yang terdapat dalam aplikasi ini berasal dari buku Asbabun Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Quran yang diterbitkan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Kementerian Agama pada tahun 2015," ucap Muchlis yang berharap demi pengembangan aplikasi ini, saran dan masukan dari masyarakat melalui email lpmajkt@kemenag.go.id. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Lomba, News Haedar Nashir

Mencari Pemimpin yang Berani Berkorban

Jika ada masalah di suatu negara, organisasi atau lembaga, yang memiliki tanggung jawab paling besar atas kinerja adalah pemimpinnya. Kualitas seorang pemimpin menentukan capaian atas organisasi yang dipimpinnya. Karena itulah upaya merekrut pemimpn yang terbaik dalam setiap tingkatan menjadi tema besar yang dibahas oleh para ahli dari waktu ke waktu. Menemukan orang yang tepat untuk memimpin berarti sudah menyelesaikan setengah dari pekerjaan.

Secara teknis, banyak orang yang memiliki kemampuan manajerial, tetapi yang menjadi masalah saat ini adalah mencari orang yang amanah, yang dapat dipercaya untuk menjalankan visi dan misi lembga yang dipimpinnya. Keberhasilan seorang pemimpin adalah ketika ia menempatkan amanah yang dipercayakan kepadanya di atas kepentingan pribadinya, bukan sekedar soal keahlian teknis bagaimana mengelola orang lain. Lembaga pendidikan, banyak mengajarkan bagaimana teknik-teknik kepemimpinan. Nilai kepemimpinan, lebih banyak dilahirkan dalam ajaran agama dan moral.

Mencari Pemimpin yang Berani Berkorban (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencari Pemimpin yang Berani Berkorban (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencari Pemimpin yang Berani Berkorban

Momentun hari raya Idul Adha ini mengingatkan kembali tentang pentingnya kemauan pemimpin untuk bersedia berkorban atau menunda kepentingan pribadinya demi kepentingan yang lebih besar. Kebanyakan orang yang berebut untuk menjadi pemimpin dikarenakan motivasi untuk kaya, terkenal, berkuasa, atau motif-motif pribadi lainnya, sekalipun retorika yang diucapkan adalah demi kepentingan rakyat atau masyarakat. Perilaku yang ditampilkan ketika memimpin adalah membuat kebijakan yang menguntungkan dirinya atau dalam banyak kasus adalah melakukan tindakan korupsi.

Nabi Ibrahim dan Ismail telah memberi teladan kepada kita, bagaimana bapak dan anak atau pemimpin dan pengikut ini mematuhi ketetapan yang Maha Kuasa untuk mengorbankan apa yang paling mereka cintai, yaitu anak kesayangan bagi Ibrahim dan bahkan hidup itu sendiri bagi Ismail. Nabi Ismail bersedia menjalani perintah ayahnya karena adanya keyakinan penuh bahwa perintah yang dilakukan mengandung kebenaran, apa pun risikonya. Ujian akan? pengorbanan diri tersebut berakhir dengan kebahagiaan ketika malaikat datang menggantikan Ismail yang akan disembelih dengan kambing.

Haedar Nashir

Pesan inilah yang setiap tahun kita ulang-ulang melalui perayaan Idul Adha. Sayangnya, pesan paling inti tersebut tak banyak menginspirasi para pemimpin untuk meniru Nabi Ibrahim. Bukan berarti Idul Adha tidak memiliki makna, pembagian daging kurban bagi fakir miskin tetap memberi sesuatu yang berharga, sekalipun hanya bisa menikmati daging kurban selama beberapa dalam satu tahun. Jika pemimpin memiliki integritas sehingga pengikutnya percaya, maka orang-orang yang termarginalkan bukan hanya bisa makan daging satu-dua hari pada Idul Adha, tetapi mereka akan berdaya dan memiliki pilihan makan apa saja yang dikehendaki, kapan saja dia mau. Itulah yang terjadi pada negara-negara yang sudah sejahtera.

Haedar Nashir

Kini, yang banyak terjadi adalah, pemimpin yang tidak mau berkorban dan karena tingkat kepercayaan pengikut terhadap pemimpin yang rendah, mereka juga tidak mau berkoban. Akhirnya masing-masing pihak berusaha memanfaatkan segala kesempatan yang ada untuk kepentingan dirinya sendiri.

Dengan kasat mata, kita melihat para pemimpin yang hidup bermewah-mewahan berupa rumah besar, mobil mahal, makanan dan pakaian kelas satu sementara di sisi lainnya, rakyat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makanan, perumahan, pendidikan, dan kesehatan. Masyarakat merasa hidup dalam kondisi tidak aman, saling curiga satu sama lain karena masing-masing mencari kelengahan orang lain untuk keuntungan pribadi. Sesungguhnya, para pemimpin pun sekarang juga merasa hidup tidak aman karena perilaku penyalahgunaan wewenangnya kapan saja bisa terkuak. Sekarang atau ketika sudah selesai menjabat.

Dalam situasi saling menyendera ini, apa yang harus dilakukan. Pemimpin mementingkan diri sendiri dan rakyat berusaha berusaha mengambil segala kesempatan yang ada. Apakah kerusakan akan dibiarkan sampai taraf yang menghancurkan atau semua pihak bersedia berkorban untuk memperbaiki yang ada. Idealnya semua? pihak menyadari permasalahan yang ada, lalu bersama-sama memperbaiki keadaan. Tetapi kondisi ideal tersebut susah tercapai. Karena itu, pemimpin harus mulai membangun kepercayaan bahwa segala kebijakan dan tindakan yang dilakukan untuk kepentingan orang banyak. Dan itu membutuhkan waktu yang panjang karena rakyat sudah bosan dibohongi terus menerus oleh pemimpinnya. Jika modal dasar kepercayaan tersebut sudah diperoleh, maka pelan tapi pasti rakyat akan mengikuti pemimpin dan negeri ini akan bisa maju dengan cepat.

Tapi yang pasti pengorbanan itu harus kita mulai dari masing-masing kita sendiri, menyebarkannya kepada orang terdekat, dan dari waktu ke waktu meluas. Jangan sampai kita berteriak-teriak meminta perubahan sedangkan diri kita sendiri tidak mau berubah. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Tokoh, Sejarah Haedar Nashir

NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU

Banyuwangi, Haedar Nashir



Setelah beberapa hari lalu jajaran Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Banyuwangi meluncurkan program LAZISNU yang bertajuk "Koin Bakti NU". Kini perwakilan pengurus LAZISNU MWC NU Kecamatan Banyuwangi membagikan puluhan kaleng bersticker "Koin Bakti NU" atas bantuan IPNU-IPPNU tingkat kecamatan, di beberapa perwakilan pengurus inti MWC NU Kecamatan Banyuwangi, banom, lembaga dan puluhan Alumni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKP NU). Senin (17/4).

NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU

Pasalnya sebelum menggerakkan ? keterlibatan pengurus dan banom NU di ranah ranting, perlu jajaran pengurus di tingkat MWC untuk memberikan teladan melakukan ini.?

"Berawal dari pengurus sendiri, setelah itu baru pada ranah akar rumput yaitu pengurus dan anggota di tingkat ranting NU di Kecamatan Banyuwangi," terang Wakil Ketua Tanfidziyah Haikal Kafili.

Haikal menegaskan, program ini patut dilaksanakan sesegera mungkin supaya organisasi ini dapat lebih mandiri pada setiap pelaksanaan rencana kegiatan yang sedang dan akan dilakukan. "Hakikinya program ini dari umat untuk umat. Tak mungkin disalahgunakan untuk kepentingan yang bersifat pribadi," tegas Haikal.

Selain itu, berdasarkan pengalaman kendala-kendala tahun lalu, diantaranya adalah kurang istikomahnya pengurus LAZIS untuk turun ke bawah guna menariki kaleng yang telah disebar, sambung Haikal.

Haedar Nashir

"Karenanya butuh kerja sama antar banom khususnya IPNU dan IPPNU di tingkat kecamatan ? dalam hal penarikan. Selain, nanti juga akan dibantu oleh kader-kader alumni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKP NU). Ini antisipasi permasalahan kurangnya ke-istikomah-an pengurus untuk turun ke bawah (turba)," tutur Haikal.

Ditambah masih ada permasalahan, katanya, yaitu kurangnya profesionalitas dalam mengelola keuangan yang telah terkumpul. "Karenanya kita tunjuk salah satu pengurus NU yang berprofesi di salah satu bank konvensional untuk membantu mengelolanya. Selain itu, kita juga bisa gabungkan sarjana-sarjana IPNU-IPPNU lulusan manajemen dan akuntansi. Insyaallah dengan ini, semua akan jauh lebih baik," yakinnya.

Begitu juga kita akan anggarkan dana untuk pembuatan laporan keuangan setiap bulan. Di mana laporan tersebut dilaporkan saat malam lailatul ijtima satu bulan sekali, katanya.

"Ini menambahkan akuntabilitas kinerja pengurus kepada setiap anggota. Supaya kita semua terbuka untuk saling percaya," tegasnya.

Haedar Nashir

Nanti ketika dana awal ini sudah terkumpul, terkait penggunaannya ? terbagi dua kategori. Pertama digunakan untuk kepentingan perjalanan program organisasi, jelas Haikal.

"Artinya, ketika lembaga atau banom akan melaksanakan kegiatan akan mendapatkan kucuran dana bantuan dari LAZIS sesuai dengan kesepakatan pengurus LAZIS. Juga dapat digunakan sebagai bakti sosial, program beasiswa, dan pemberian dana untuk modal usaha bagi warga Nahdliyin yang kurang mampu," tuturnya.

Dan yang kedua, kata Haikal, dibutuhkan untuk kebutuhan administrasi antar lembaga dan banom, besarannya sesuai dengan kesepakatan pengurus LAZISNU.?

"Karena administrasi tak kalah penting sebagai dokumentasi perjuangan," tutup Haikal. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Ubudiyah, Sholawat Haedar Nashir

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris

Jakarta, Haedar Nashir



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta masyarakat bersabar agar densus bisa membuktikan bahwa Siyono memang benar-benar teroris.?

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris

“Terorisme adalah musuh negara, siapapun orangnya. Densus 88 perangkat negara. NU, Muhammadaiyah merupakan kekuatas sipil yang di luar wilayah negara. Oleh karena itu, dalam kasus Siyono, berikan kesempatan kepada Densus. Buktikan itu teroris. Kalau itu terbukti, maka NU berada di belakang negara,” katanya di gedung PBNU, Kamis.?

Kiai Said mengakui, idealnya siapapun yang melanggar hukum, ditangkap hidup-hidup dan kemudian diadili. Maka yang memutuskan kemudian adalah pengadilan.?

“Tapi kadang sering terjadi dalam keadaan darurat, Densus sendiri juga manusia biasa, maka terjadi seperti ini,” paparnya.?

Karo Penmas Polri Brigjen Agus Rianto membenarkan Siyono ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Polri pada Selasa (8/3) yang merupakan pengembangan dari tersangka T alias W.

Haedar Nashir

Ketika diminta menunjukkan senjata api yang sudah diserahkan kepada orang lain, ternyata Siyono tidak dapat menunjukkan rumah dan orang yang dimaksud.?

Haedar Nashir

Akhirnya, setelah pencarian gagal, mereka balik lagi dan di dalam mobil, terjadi perkelahian. Siyono akhirnya dapat dikendalikan disertai dengan kelelahan dan lemas.?

"Ternyata nyawa tersangka tidak dapat ditolong dan meninggal dunia di rumah sakit. Selanjutnya jenazah dibawa ke Rs Polri Kramatjati, Jakarta," ucap Agus seperti dikutip dari detik.com. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Nahdlatul Haedar Nashir

Ingin Konflik Myanmar Berakhir, Muslimat NU Depok Bacakan Qunut Nazilah

Depok, Haedar Nashir



Pengurus Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama Kota Depok menggelar doa Qunut Nazilah untuk Rohingnya di masjid Baitul Kamal, Kamis (7/9). Pada kesempatan tersebut pembacaan doa dipimpin Ustadzah Luluk Muflikhah dan dibimbing KH Fathuri. 

"Melalui pembacaan Qunut Nazilah pada pengajian bulanan ini, kita berharap agar agar tragedi ini segera berakhir dan saudara Muslim Rohingya bisa kembali hidup dalam keadaan aman," ujar Ketua PC Muslimat NU Depok Hj. Dewi Syarifah.

Ingin Konflik Myanmar Berakhir, Muslimat NU Depok Bacakan Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Konflik Myanmar Berakhir, Muslimat NU Depok Bacakan Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Konflik Myanmar Berakhir, Muslimat NU Depok Bacakan Qunut Nazilah

Menurutnya, krisis kemanusiaan yang menimpa saudara Muslim Rohingya tentu membuat dunia prihatin.  Bangsa Indonesia juga merasakan keprihatinannya dengan mengirimkan  Menteri Luar Negeri untuk menyampaikan pesan dan ikut memberi solusi. 

Muslimat NU menyambut bangga relawan yang dikirim PBNU untuk bertugas memberi bantuan kemanusiaan. 

Haedar Nashir

"Selanjutnya PCNU Depok berkiprah dalam penggalangan dana . Kami Muslimat NU adalah bagian dari PCNU, merasa sedih dan sangat prihatin. Yang bisa kami lakukan memohon kepada Allah SWT agar tragedi ini segera berakhir. Kita juga mengadakan pengumpulan dana spontanitas yang akan dititipkan ke PCNU Kota Depok. Kami juga mengajak anggota Muslimat NU di Anak Cabang dan Ranting untuk berempati setidaknya melakukan doa bersama di Majlis Talim masing-masing," terangnya.

Hal senada diutarakan Sekretaris PC Muslimat NU Depok Hj. Neni Argaeni menilai bahwa kasus Rohingnya adalah tragedi kemanusiaan yang akan mengusik perasaan siapa pun mengetahuinya. 

Haedar Nashir

Ia menambahkan, sebagai seorang ibu tentu tahu bagaimana beratnya menghadapi kekacauan ini. 

"Anggota keluarga yang berserakan, tempat tinggal tidak layak, terkatung-katung di perjalanan yang sangat melelahkan lapar dan dahaga yang mendera. Serta ketakutan akan ketidakpastian masa depan. Untuk itu, Muslimat NU Depok turut mendoakan agar semua penderitaan ini segera berakhir dan semua pihak bisa membantu mencari jalan keluar yang terbaik demi rasa kemanusiaan,"tandasnya. (Aan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

Senin, 30 Oktober 2017

Nazham Al-Ajrumiyyah Jawa dari Cirebon Ini Jadi Kurikulum Nahwu di Banyak Pesantren

Nazham Tarjamah Al-Ajrumiyyah adalah kitab mungil karangan Syekh Mahmud Mukhtar Al-Bode, ulama dari Cirebon. Kitab ini merupakan terjemah dari kitab Matan Al-Ajruymiyyah yang ditulis dalam bentuk syair berbahasa Jawa dengan menggunakan bahar Rajaz.

Kitab Matan Al-Ajrumiyyah sendiri adalah kitab ringkas yang memuat pokok-pokok ilmu Nahwu. Kitab untuk pemula ini telah tersebar di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Penulisnya adalah ulama besar Maroko pada zamannya, yaitu Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad Ibnu Ajrum As-Shanhaji (672 H-723 H).

Nazham Al-Ajrumiyyah Jawa dari Cirebon Ini Jadi Kurikulum Nahwu di Banyak Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Nazham Al-Ajrumiyyah Jawa dari Cirebon Ini Jadi Kurikulum Nahwu di Banyak Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Nazham Al-Ajrumiyyah Jawa dari Cirebon Ini Jadi Kurikulum Nahwu di Banyak Pesantren

Dalam kata pengantar kitab Nazham Tarjamah Al-Ajrumiyyah, Syekh Mahmud Mukhtar berkata,

Haedar Nashir

"Wa badu ikilah tarjamah Jurmiyyah ** kanggo pelajar madrasah ibtidaiyyah

Kang masih ora ngerti bahasa Arab ** jalaran ora kulino ngaji kitab

Haedar Nashir

Mulo podo ngajio kitab ulama ** luwih penting tinimbang ilmu dirgama

Akeh wong kang pinter ilmu dirgamane ** tapi bodoh ilmu syara agamane

Ing hale ilmu syara fardlu hukume **  ngaweruhi tinimbang ilmu umume

Zaman kewalik barang haq dadi batal ** salah dadi bener harom dadi halal

Wenang dadi ferdlu menang dadi kalah ** bidah dadi sunah koyo mutazilah

Akeh wong ahlis sunah pengakuane ** tetapi bidah amal perbuatane

Mugo-mugo Allah maringi hidayat ** lan maringi terjemah iki manfaat
"

Artinya, "Wa badu, ini adalah terjemah kitab Al-Ajrumiyyah yang diperuntukkan kepada pejalar madrasah ibtidaiyyah, pelajar yang masih belum paham bahasa Arab karena tidak terbiasa mengkaji kitab.

Maka, pelajarilah kitab para ulama. Hal ini lebih penting daripada (mempelajari) ilmu umum.

Banyak orang yang pintar dalam ilmu umum, akan tetapi dia bodoh dalam ilmu syariat agamanya. Padahal yang hukumnya wajib adalah mempelajari ilmu syariat, bukan ilmu umum.

(Sekarang) adalah zaman yang terbalik. Hal yang haq jadi bathil. Salah menjadi benar. Haram jadi halal. Jaiz menjadi wajib. Menang jadi kalah. Bidah menjadi sunah, seperti Mutazilah. Banyak orang yang mengaku Ahlussunah, tetapi yang diperbuat adalah hal-hal bidah.

Semoga Allah menganugerahi kita hidayah dan menjadikan terjemah ini bermanfaat."

Kitab yang diterbitkan Pondok Pesantren Darul Ulumisy Syariyyah Bode Plumbon Cirebon dalam 16 halaman ini terdiri atas 26 bab yang memuat 171 bait. Ke-26 bab itu adalah Muqaddimah (10 bait), Babul Kalam (8 bait), Al-Irab (5 bait), Marifatu Alamatil Irab (25 bait), Al-Afal (10 bait), Al-Fail (6 bait), Naibul Fail (4 bait), Al-Mubtada wal Khabar (8 bait), Kana wa Akhawatuha (3 bait), Inna wa Akhawatuha (2 bait), Zhanna wa Akhawatuha (3 bait), An-Natu (2 bait), Al-Marifah wan Nakirah (13 bait), Al-Athf (3 bait), At-Taukid (3 bait), Al-Badal (4 bait), Al-Maful Bihi (7 bait), Al-Mashdar (5 bait), Az-Zharaf (7 bait), Al-Hal (3 bait), At-Tamyiz (2 bait), Al-Istitsna (13 bait), La (7 bait), Al-Munada (7 bait), Al-Maful min Ajlih (2 bait), dan dipungkasi dengan Babul Maful Maah (9 bait).

Berikut adalah contoh untaian bait Nahwu dalam kitab,

"Huruf Khofadl Yoiku Min Fi An Ala *** kaya mengkono Rubba Ba Kaf Lam Ila"

Artinya, "Huruf Khofadl (Jar) adalah Min, Fi, An, dan Ala. Begitu juga Rubba, Ba, Kaf, Lam, dan Ila."

Kitab Nazham Tarjamah Al-Ajrumiyyah sudah menyebar di berbagai daerah. Tidak hanya itu, kitab ini juga dijadikan kurikulum wajib banyak pesantren di Jawa, di antaranya adalah Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Banyumas Jawa Tengah. Di pesantren asuhan Sidna KH Zuhrul Anam Hisyam ini kitab karya Syekh Mahmud Mukhtar ini menjadi kurikulum wajib yang harus dihafalkan setiap santri. Para santri Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 selalu melalar hafalannya secara berjamaah setiap hari sebelum memulai pelajaran.

Syekh Mahmud Mukhtar adalah ulama asal Desa Bode, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Kiai satu ini terbilang sangat produktif dalam menulis kitab. Selain Nazham Tarjamah Al-Ajrumiyyah, ia juga menulis puluhan kitab dalam berbagai fan ilmu lainnya. Kebanyakan kitab tersebut ditulis berupa nazham (puisi), baik dalam bahasa Arab maupun Jawa. Di antara kitab karangan Syekh Mahmud Mukhtar adalah Nafhat al-Ithr fi Qishshatil Khadlir, Qashidatul Awam fil Istighatsati bil Auliyail Alam yang mempunyai nama lain At-Tiryaqul Mujarrab bil Waliyyil Muqarrab, Syarhus Shadr fit Tawassuli bi Ahlil Badr, Ianatur Rafiq ala Nazhmi Sullamit Taufiq, Burdatul Mukhtar fi Nazhmi Tarikh Khairil Akhyar, Manzhumatud Durratis Saniyyah fi Ilmit Tafsir, Bidaul Masajid, Kifayatu Ghulam fi Ma Yajibu Alaihi minal Ahkam, Tarjamatul Mahmud linazhmil Maqshud, dan Ghayatuz Zain lil Muhtadin Nadzm Qurratul Ain bimuhimmatid Din.

Alfaqir (Penulis) meriwayatkan seluruh kitab-kitab Syekh Mahmud Mukhtar dengan ijazah dari Kiai Habib bin Makhmud Mukhtar, dari penulisnya. Ijazah ini alfaqir dapatkan sewaktu sowan ke kediaman Kiai Habib di Bode Plumbon Cirebon pada akhir Ramadlan 1438 H yang bertepatan pada bulan Juni 2017 M.

Syekh Mahmud Mukhtar wafat di Bode pada 2008 M. Ia dimakamkan di depan rumahnya, di samping masjid dan pesantren Darul Ulumisy Syariyyah, pesantren yang asuhannya semasa hidup. Rahimahullah Taala wa nafaana bi ulumihi. Amin. (Direktur Turats Ulama Nusantara Nanal Ainal Fauz)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan Haedar Nashir

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir

Tahun 2001 silam, angin kencang berhembus kepada Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sampai-sampai berbagai cara dilakukan oleh lawan politiknya untuk melengserkannya dari jabatan orang nomor satu di Indonesia, termasuk kriminalisasi.

Namun hingga sekarang, hukum tidak pernah bisa membuktikan bahwa Presiden Gus Dur bersalah dalam kasus yang dilemparkan oleh lawan politiknya di Parlemen. Sehingga kasus Gus Dur murni politisasi.

Baik secara hukum pidana maupun tata negara, Gus Dur tidak jatuh pada kasus Bulog dan Brunei seperti yang dituduhkan parlemen. Penjatuhan Gus Dur adalah persoalan pertarungan politik dimana yang satu kalah yang satu menang. Bukan soal hukum yang satu benar, yang satu kalah. Dan Gus Dur kalah dalam pertarungan politik itu, karena dikeroyok ramai-ramai.

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir

Gus Dur saat itu berpikir daripada perang saudara hanya gara-gara mempertahankan jabatan duniawi, lebih baik ia mundur dari jabatan Presiden RI. Mundur bukan karena mengalah, tetapi Gus Dur lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan keutuhan negara. Sebab, jutaan rakyat Indonesia kala itu akan membela mati-matian agar Gus Dur tetap pada tampuk pimpinan tertinggi negara.

Gus Dur sekuat tenaga menahan amarah rakyat yang mendukung penuh dirinya. Namun, Gus Dur masih belum menemukan alasan yang tepat untuk keluar dari Istana Negara kala itu. Karena yang dituduhkan parlemen jelas tidak bisa diterima, sebab inkonstitusional dan tidak rasional (irrasional).

Yang menarik dalam persitiwa itu adalah cara Gus Dur yang menolak untuk menjadikan pelengseran itu sebagai tragedi personal. Ia tak merengek atau curhat di depan publik terkait dengan serangan politik terhadapnya. Sikap Gus Dur masih nampak sama, dengan logika komunikasi publik yang gitu saja kok repot.?

Haedar Nashir

Dalam sebuah acara, Gus Dur pernah bercerita tentang perbincangannya dengan Luhut Pandjaitan. Saat itu Gus Dur bercerita pada Luhut tentang hukum Islam yang mengatur bahwa kalau orang diusir dari rumahnya dia harus melawan, kalau perlu dengan menggunakan kekerasan. Namun karena Gus Dur tak ingin mengambil jalan kekerasan, dia lalu meminta bantuan Luhut untuk menguruskan surat perintah pengosongan Istana Negara dari kantor Kelurahan Gambir karena Istana Negara berdomisili di Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat.

Karena pengosongan Istana adalah kehendak pemerintah setempat yang sah, maka Gus Dur tak perlu melawan sama sekali. Kewajiban mempertahankan “rumah” pun gugur. Urusan selesai, dan Gus Dur keluar dari Istana tanpa gejolak. Gus Dur tak menjadikan pelengseran dirinya sebagai beban personal.

Dalam perbincangan lain dengan KH Maman Imanulhaq, Gus Dur ditanya kenapa harus membuat surat perintah dari Lurah Gambir? "Supaya nanti ketika di hadapan Allah ditanya, kenapa kamu meninggalkan Istana Negara? Tinggal saya jawab: monggo (silakan) ditanya saja ke Lurah Gambir,” ujar Gus Dur.?

Itulah Gus Dur, sang Guru Bangsa. Bukannya susah payah mengumpulkan energi politik untuk melawan kekuatan para pengeroyok, Gus Dur justru menegaskan pada orang di sekitarnya bahwa “tak ada kekuasaan yang begitu berharga hingga harus dipertahankan dengan darah.” Bangsa Indonesia patut mencatat bahwa berbeda dengan kejatuhan Bung Karno dan Pak Harto yang diawali dan/atau disusul dengan konflik sosial yang berdarah-darah, pelengseran Gus Dur di tahun 2001 justru berjalan aman karena langkah brilian kemanusiaan (humanisme) yang ada pada diri Gus Dur.

Haedar Nashir

Inilah refleksi paling konkret dari visi kemanusiaan yang secara ajeg ditunjukkan oleh Gus Dur. Bagi putra sulung KH Abdul Wahid Hasyim da cucu Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini, kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Dalam hal ini, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat dan sama sekali tak berkehendak mengorbankan kemanusiaan itu demi kepentingan kekuasaan.

(Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Cerita, AlaNu Haedar Nashir