Jumat, 10 November 2017

Sebelum Wafat, Neng Oot Cuci Kain Kafan Pakai Zamzam

Sumenep, Haedar Nashir - Keluarga besar Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur berduka. Salah seorang putri pengasuh Annuqayah, Nyai Khotibatul Ummah binti KH A Warits Ilyas, wafat akibat pendarahan setelah melahirkan putri pertamanya, Sabtu (6/2).

Usai meninggal dunia, di kamar almarhumah ditemukan sebundel kain kafan lengkap dengan keterangan yang ia tulis-tangan sendiri; bahwa kain kafan itu telah dicuci dengan air Zamzam berikut kutipan ayat-ayat Al-Qur’an tentang kematian yang pasti akan datang.

Sebelum Wafat, Neng Oot Cuci Kain Kafan Pakai Zamzam (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Wafat, Neng Oot Cuci Kain Kafan Pakai Zamzam (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Wafat, Neng Oot Cuci Kain Kafan Pakai Zamzam

Salah seorang kiai muda Annuqayah, M Mushthafa menjelaskan, kepergiannya sungguh mengejutkan. Berita wafatnya Neng Oot, panggilan akrab Khathibatul Ummah, hingga saat ini masih terasa sulit dipercaya. Tapi begitulah ajal: ia bisa datang kapan saja, dengan atau tanpa alasan yang jelas.

Untuk Pesantren Annuqayah, terang Kiai Mushthafa, kepergian Neng Oot adalah juga satu kehilangan besar. Dalam sekitar 10 tahun terakhir, Neng Oot punya peran penting dalam pengembangan kesehatan swadaya di Annuqayah dengan berkiprah di unit pengembangan obat-obatan herbal. Unit tersebut merupakan salah satu bidang garapan Biro Pengabdian Masyarakat Pesantren Annuqayah yang dipimpin Kiai Muhammad Zamiel El-Muttaqien.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

"Beliau juga yang menghidupkan Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren) Annuqayah Putri yang memberi layanan kesehatan dan penyuluhan bagi para santri putri," ungkap Kiai Mushthafa.

Selain itu, tambah Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) ini, beberapa tahun terakhir Neng Oot juga aktif mengupayakan agar kantin-kantin di lingkungan Annuqayah bisa terjamin kesehatannya. Proyeknya dimulai di kantin MA 1 Annuqayah Putri.

"Sekitar sepekan yang lalu, beliau kabarnya masih rapat dengan Yayasan Annuqayah untuk pengelolaan kantin sehat di lingkungan MTs 1 Putri Annuqayah. Sejauh yang saya tahu, saya menyaksikan komitmennya pada pengabdian dan juga pada kebersahajaannya bergaul dengan santri, famili, dan masyarakat umum. Semoga Allah memberinya tempat terbaik di surga," kata Kiai Mushthafa.

Sementara itu, keponakan Neng Oot, Muhammad Al-Faiz mengingatkan muara hidup Neng Oot pada kisah sultan Dinasti Ayyubiah yang sangat fenomenal, Salahuddin al-Ayyubi. Dalam satu versi sejarah dikisahkan bahwa Salahuddin al-Ayyubi, selalu membawa peti-peti terkunci ke tengah medan perang.

Peti-peti itu dijaganya betul-betul, hingga orang-orang terdekatnya mengira bahwa di dalamnya terdapat harta dan permata berharga. Namun, setelah Salahuddin mengembuskan napas terakhirmya, peti-peti itu dibuka, dan ketika itulah orang-orang sadar bahwa dugaan mereka selama ini salah. Bukan harta dan permata yang mereka lihat, melainkan sepucuk wasiat, kain kafan dan setumpuk tanah.

Dalam surat wasiat itu tertulis: "Aku mau dikafani dengan kain kafan ini, yang telah harum oleh air Zamzam dan juga telah mengunjungi Kakbah serta pusara Rasulullah. Sedangkan tanah ini, berasal dari bekas perang. Buatlah batu bata darinya dan jadikan bantalku di dalam kuburanku."

Konon, sesuai wasiatnya, dari tanah itu dibuatlah 12 batu besar yang kini bersemayam di bawah kepala Salahuddin di dalam kuburannya, dan dengan itulah ia akan menemui Allah di hari kemudian.

"Demikianlah, kesadaran seseorang untuk mempersiapkan kematiannya, baik persiapan lahir maupun batin, tidak lain merupakan rahmat Tuhan yang amat besar. Sangat boleh jadi rahmat tersebut adalah rangkaian awal dari rahmat selanjutnya dalam dimensi yang lebih kekal. Kafa bil mauti waidhan. Cukuplah kematian memberi kita pelajaran, meniscayakan sebuah pertanyaan, ‘Apa yang sudah saya persiapkan?’” tukasnya. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso

Terletak di Cap Tanger, daerah terujung wilayah Maroko dan terdekat dengan kota pelabuhan Tarifa Spanyol, Pesantren Salaf Mnar (Mahad Mnar lit Talimil Athiq) kokoh berdiri. Meski di berada tempat terpencil, jumlah santri di pesantren ini tergolong banyak. Namanya cukup populer di kalangan masyarakat Maroko.

Didirikan pada tahun 1993 pesantren ini mendapat tempat khusus bagi para santri-santri Maroko. Dan bahkan beberapa mahasiswa nusantara kerap kali mengunjungi pesantren ini untuk sekedar tabarukan dan bernostalgia dengan suasana pesantren di Tanah Air.

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso

Secara bangunan fisik, pesantren ini mirip sekali dengan pesantren induk di Pondok Pesantren Ploso atau Lirboyo. Meski terlihat tidak seragam karena diarsiteki oleh para santri sendiri, tetapi pesantren ini nyaman dan suasananya asri. Khas kota santri. Ditambah lagi pemandangan laut biru Atlantik dan hawa sejuk Kota Tanger.

Syeikh al-‘Allamah Muhammad Marsho adalah pengasuh sekaligus pendiri pesantren Mnar ini. Kecuali materi umum, hampir semua mata pelajaran dibimbing langsung olehnya.

Haedar Nashir

Syeikh yang merupakan cicit dari Syeikh Abdus Salam Al Masyisy (Guru dari Syeikh Abul Hasan Assyadzili) ini merupakan salah satu ulama di Kerajaan Maroko yang terkenal hebat di bidang ilmu Alat alias gramatika Arab. Dalam mengajar sehari-hari ia sangat istiqomah dan khidmah terhadap ilmu. Sosok yang tawadlu dan santun, membuat setiap orang yang bertemu dengannya merasa nyaman.

Haedar Nashir

Kiai yang merupakan santri senior dari Keluarga Ghumari ini menjadi pengajar primer di pesantrennya sendiri. Beliau duduk bersila di aula pesantren dan mulai mengaji pada pagi buta hingga siang hari non stop. Dan rata-rata beliau hafal diluar kepala materi yang beliau ajarkan. Tak heran jika banyak dari pesantren ini para lulusan-lulusan yang menjadi ulama-ulama yang dalam ilmunya, diantaranya Syaikh Haskuri Tanjawi guru besar Hadits di Tanger, Syeikh Syallaf Awwamy , Syeikh Muhammad Syadzili Sastrawan asal Dukkala dll.

Di antara materi yang diajarkan beliau adalah Alfiyah ibnu Malik dan Jurumiyah dalam ilmu nahwu, Jauhar Maknun karya Abdurrahman Akhdlari dalam ilmu balaghah, Al-Mursyidul Muin karya Ibnu Asyir dan Tuhfah ibnu Ashim Al-Andalusy dalam fiqih Maliki, Risalatu Abi Zaid al Qirawani dalam fiqih, Nukhbatul al-Fikar karya ibnu Hajar dalam musthalah hadits, Nailul Awthar Karya Imam Syaukani dalam Hadits, A-Waraqat karya Imam al-Juwaini dan Jamul Jawami karya Imam Subki dalam ilmu ushul fiqih, Risalah Adudiyah karya Imam Adhuddin dalam ilmu wadh, dan lain- lain.

Sistem kepesantrenan di Maroko dinilai bagus. Beberapa kali kementrian waqaf sebagai pemangku kebijakan muqarrar (materi pelajaran) dalam Pendidikan Islam di Maroko mendapatkan penghargaan dari Negara-negara arab atas kurikulum yang diterapkan di Talimul Athiq (pesantren) di Maroko. Tidak hanya menyusun muqarrar, Kementerian Waqaf juga menyediakan kasur hingga urusan tepung terigu, minyak zaitun, teh dan kopi untuk para santri. Mereka bagikan kepada santri untuk menyamankan perjalanan mereka dalam rangka mencari ilmu. Barangkali berbeda dengan atensi pemerintah Indonesia terhadap Pondok pesantren saat ini. (M.Nurul Alim/Mahbib)

 

Foto: anggota PCINU Maroko bersama pengasuh pesantren dalam rangka mengikuti pengajian pasaran



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Habib Haedar Nashir

Kamis, 09 November 2017

Pergunu Berikan Beasiswa untuk Pelajar Thailand Selatan

Jakarta, Haedar Nashir?

Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta Aris Adi Leksono melepas pelajar muslim Thailand Selatan yang merupkan calon mahasiswa penerima beasiswa dari Pimpinan Pusat Pergunu (Senin, 03/10).?

Pergunu Berikan Beasiswa untuk Pelajar Thailand Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Berikan Beasiswa untuk Pelajar Thailand Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Berikan Beasiswa untuk Pelajar Thailand Selatan

Pelajar tersebut mendapatkan beasiswa untuk program perkuliahan tingkat S1 di Institut Agama Islam KH Abdul CHalim, Komplek Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.

"Alhamdulillah tahun ini, DKI diberikan kuota lebih banyak dari Pengurus Pusat Pergunu, tidak hanya untuk wilayah DKI Jakarta saja, tapi juga untuk pelajar luar negeri. Khusus untuk Thailand Selatan, tahun ini 10 pelajar akan belajar di Institut Agama Islam KH Abdul Chalim milik Kiai Asep Saifuddin Halim, Ketua Umum PP PERGUNU," terang Aris sesaat setelah serah terima calon mahasiswa, di Provinsi Yala, Thailand Selatan, melalui siaran pers.

Lebih lanjut Aris menjelaskan sudah dua tahun ini Pergunu aktif memberikan beasiswa jenjang sarjana kepada pelajar, baik dalam maupun luar negeri. Sampai saat ini pelajar Thailand Selatan sudah berjumlah 15 orang yang akan dan sedang mengikuti perkuliahan di Pacet Mojokerto.?

Haedar Nashir

Mereka, kata dia, setelah mengikuti tahap seleksi yang dilakukan PW Pergunu DKI Jakarta, diarahkan mengambil jurusan yang dibutuhkan ketika mereka kembali ke Thailand Selatan. Rata-rata memilih jurusan Pendidikan Agama Islam, Dakwah dan Komunikasi Islam.

Haedar Nashir

"Beasiswa ini semakin menunjukan peran strategis NU dalam memberikan manfaat kepada sesama, terutama di mancanegara. Pelajar Thailand Selatan ketika lulus, diharapkan kembali ke wilayah masing-masing untuk berperan dalam memberikan pencerahan di masyarakat, terutama dalam penguatan faham Ahlussunah wal-Jama’ah An-nahdliyah," Wakil Ketua STAINU Jakarta.

Pemberian beasiswa ini memiliki manafaat jangka panjang, terutama dalam konteks kaderisasi NU. Sebagai gambaran sampai saat ini, pelajar Thailand Selatan yang belajar di Indonesia melalui jalur beasiswa perguruan tinggi NU sudah berjumlah 350 orang.

Serah terima mahasiswa Thailand Selatan ini bersama dengan pelantikan PCINU Thailand Selatan. Hadir dalam acara ini, Katib Syuriah PBNU, KH Mujib Qulyubi, Wakil Sekretaris PBNU Masduki Baidowi, Ketua Persatuan Madrasah Swasta se-Thailad Selatan, Ketua Persatuan Imam Masjid se-Thailad Selatan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Cerita Haedar Nashir

Untuk Apa PMII Didirikan?

Oleh KH Nuril Huda (Pendiri PMII)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 2016 genap berusia 56 tahun. Sebagai warga pergerakan sekaligus pendiri PMII, penulis bangga sekaligus bersyukur ke hadirat Illahi Robbi yang telah memberikan karunia dan nikmat untuk terus mengabdi dan berjuang dalam mencari ridla-Nya.

Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Apa PMII Didirikan?

Bangga karena tidak terasa ternyata PMII sudah berusia 56 tahun, umur yang dalam hitungan usia sudah tidak muda lagi, tapi semangat dan jiwa sebagai warga pergerakan harus muda dan siap menjadi garda terdepan dalam mengawal tradisi dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Haedar Nashir

Semakin tua semakin menjadi. Artinya, dengan sikap kesatria, profesional dan mandiri, PMII harus lebih produktif memberikan sumbangsih dan kontribusi terhadap agama dan bangsa Indonesia. Meskipun acapkali PMII selalu menjadi momok dalam rumah sendiri, tapi itulah perjuangan, bahwa perjuangan hanya butuh pengorbanan bukan imbalan.

Meminjam istilah Bung Karno “berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”, begitu juga dengan PMII, sekali PMII selamanya berjuang bersama PMII. Di PMII hanya butuh pemuda yang idealis dan semangat berjuang mengawal tradisi Aswaja. Berorganisasi itu belajar menghargai orang lain, latihan mengenal orang, menghormati keyakinan orang lain. Orang yang tanpa latihan maka dia akan menjadi pemimpin yang wagu, yang tidak pernah menghargai orang lain, apalagi menghormati orang lain.

Haedar Nashir

Nah, pada harlah (hari lahir) PMII kali ini, terpenting dan yang paling penting adalah mengenang dan mendoakan (haul) jasa para pendiri PMII. Meneruskan perjuangan dan menjaga tradisi paham Aswaja. Tentu, melalui acara istighotsah, tahlil, dan doa bersama. Karena inilah etika dan kebudayaan model Aswaja. Harlah PMII dalam setiap tahun harus selalu diperingati agar para generasi PMII tahu, orang lain tahu, apa sih PMII dan mengapa didirikan. Ini penting!

Mengapa PMII berdiri? Pada saat itu, tahun 1960 partai-partai besar mempunyai angkatan muda khususnya di kalangan mahasiswa, seperti GMNI, HMI, Masyumi, dan lain sebagainya. Akan tetapi NU yang memiliki basis massa terbesar justru tidak memiliki. HMI yang dulunya menjadi garda NU akan tetapi lebih condong kepada Masyumi.

Akhirnya, munculah ide dan gagasan dari daerah-daerah untuk mendirikan pergerakan mahasiswa yang selanjutnya diberi nama PMII. Beridirnya PMII tidak mulus begitu saja, banyak ganjalan dan kendala untuk mendirikan sebuah pergerakan Islam. Namun, karena keukeuh dan tekad bulat dari para pendiri PMII, maka hingga saat ini PMII tetap kokoh berdiri dan eksis sepanjang masa.

Gagasan Mendirikan PMII

Gagasan untuk mendirikan PMII berawal muncul dari pojok Sekretariat IPNU di Yogyakarta, dan waktu itu yang menjadi koordinator sementara adalah Ismail Makki. Setelah semua ide dikumpulkan, maka sepakat untuk mendirikan PMII. Sebanyak 13 orang sowan (menghadap) kepada Pengurus Besar NU di Jakarta yang isinya niatan untuk mendirikan PMII. Akhirnya, setelah berbincang dan membahas panjang, maka PBNU setuju PMII didirikan yang tujuannya adalah untuk mengikat para mahasiswa NU agar tidak bisa dan memiliki rumah sendiri.

Pada tahun 1960-an tepatnya bulan Ramadhan, selama 3 hari di Kaliurang,Yogyakarta, berkumpulah para tokoh IPNU dan 13 pimpinan IPNU wilayah se-Indonesia. Ketika itu, saya merupakan ketua IPNU cabang Solo yang saat itu sedikitnya memiliki 7 perguruan tinggi. Karena memang syarat mendirikan PMII di daerah harus ada perguruan tingginya. Sedangkan utusan dari PBNU yang hadir adalah KH. Anwar Mussadad.

Nah, dalam kongres pertama inilah PMII resmi berdiri lalu melahirkan berbagai macam aturan dan okoh muda yang selanjutnya diberikan mandat untuk meneruskan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Nusantara. Karena esensi didirikannya PMII adalah pertama, untuk meneruskan estafet perjuangan NU. Kedua, untuk melatih diri bermasyarakat dan berorganisasi tanpat mengubah pendirian dalam mempertahankan Aswaja. Dan ketiga, untuk menyiapkan generasi yang mampu menangani pergolakan tanpa mengorbankan prinsip akidah.

Untuk mendirikan PMII di daerah, saya sowan ke KH Abdul Hadi Al Hafidz di Langitan, Tuban. Niatan itu mendapat restu dan pesan untuk menunaikan puasa. Saya puasa 7 hari, dan mendirikan PMII di Lamongan, kemudian harus kembali lagi ke Solo untuk melanjutkan kuliah. Jadi, tidak main-main untuk memperjuangkan PMII. Bahwa berjuang di NU itu tidak mengandalkan pemikiran saja tetapi juga mengorbankan harta dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Sekali lagi inilah perjuangan. Jadi, idealis itu butuh generasi, bahwa mendirikan PMII sampai merawat organisasi itu tidak gampang dan butuh perjuangan panjang. Untuk itulah, generasi saat ini hanya tinggal meneruskan dan merawat saja, tidak kurang, tidak lebih. Dan yang paling utama adalah tradisi Aswaja jangan sampai pudar dan musnah ditelah modernnya zaman.

Setelah PMII berdiri, maka para pengurus langsung eksen dan menyebarkan PMII di kampus-kampus. Berawal di kampus Yogyakarta, selama beberapa tahun anggotanya bisa dihitung jari, karena banyak mahasiswa yang tidak tertarik dengan PMII. Apa PMII itu? Mahluk apa itu? begitu kira-kira pertanyaannya.

Alhamdulillah, di Asia Tenggara, hanya PMII-lah yang sampai hari ini tetap eksis dan banyak anggotanya hampir mencapai satu juta dua ratus, tiap kota ada PMII. Dari 9 tokoh pendiri PMII, kini tinggal 3 orang yang masih hidup dan terus berjuang agar PMII tetap eksis dan menjadi penerus perjuangan ajaran Aswaja. Ketiga tokoh itu di antaranya, saya, KH Munsih Nahrawi dan KH Khalid Mawardi.

Sampai sekarang saya masih terus bergerilya ke daerah-daerah untuk menyuarakan panji-panji PMII. Pada tanggal 17 April 2016 saya menghadiri harlah PMII di Tuban, lanjut ke Lamongan pada tanggal 18, terus ke Bekasi, dan tanggal 19 saya menghadiri harlah PMII di Bondowoso, dan tanggal 20 saya menghadiri harlah PMII di Pamekasan, Madura. Kalau dituruti, hidup saya di jalanan, tapi enggak apa-apa, memang harus begini. Yang penting PMII tetap hidup dan terus berkembang.

Kalau saya tidak turun, saya khawatir, dalam ilmu sosiologi, suatu organisasi yang lama didirikan tanpa sentuhan pendiri maka lambat laun akan berubah. Makanya, saya khawatir PMII kalau tidak diurusi, akan berubah dan lama-lama tidak keruan. Saya sangat memperhatikan, terlebih kalau di luar daerah, apakah saya diundang MUI, NU, atau acara lainnya, saya selalu telepon temen-temen PMII untuk kumpul sama-sama bicara soal PMII dan masa depan PMII. Ini saya lakukan, mumpung saya masih hidup.

Tantangan hari ini, besok dan lusa PMII adalah budaya zaman. Tapi kalau idealisme PMII selamanya tidak bisa berubah yakni Aswaja, begitu juga soal akidah tidak bisa kompromi dan berubah, sekali NU selamanya tetap NU. Memang zaman sekarang berbeda jauh dengan zaman dulu, dari sisi budaya, karakter dan modelnya. Untuk itulah, generasai PMII saat ini harus bisa mengalahkan zaman atau paling tidak, jangan sampai kalah dengan budaya zaman saat ini. Boleh kita bicara budaya, boleh kita bergaya modern, boleh kita berdandan barat, boleh kita berpolitik, dan seterusnya. Tapi, jangan sekali-kali idealisme dan idiologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) berubah. Karakter NU harus tetap melekat walaupun penampilan bukan NU.

Salam pergerakan! Wallâahul muwaffiq ila aqwamith tharîq. Wassalam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Halaqoh Haedar Nashir

Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta’lim se-Jabotabek

Jakarta, Haedar Nashir

Nahdlatul Ulama (NU) merasa khawatir dengan nasib masjid-masjid milik warga nahdliyyin (sebutan untuk warga NU) diambilalih oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam. Oleh karenanya, Pengurus Pusat (PP) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) berinisiatif melakukan gerakan nyata untuk merebut kembali masjid-masjid milik warga nahdliyyin itu, dengan mengumpulkan para pemimpin majelis ta’lim se-Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi)

“Tanggal 30 (Agustus, red) nanti kita akan kumpulkan ketua-ketua majelis ta’lim se-Jabotabek. Kita harus rebut kembali masjid-masjid yang sudah dikuasai orang (kelompok, red) lain itu,” kata Ketua Umum PP LDNU KH Nuril Huda kepada Haedar Nashir di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (24/8).

Seperti diberitakan Haedar Nashir beberapa waktu lalu, Ketua PBNU KH Masdar F Mas’udi mengungkapkan, sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam telah serampangan mengambilalih masjid-masjid milik warga nahdliyyin dengan alasan syarat ajaran bid’ah dan beraliran sesat. Pengambilalihan yang dimaksud berbentuk penggantian para takmir masjid yang selama ini diisi oleh warga nahdliiyin. Demikian juga dengan tradisi-tradisi ritual keagamaan khas NU pun diganti.

Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta’lim se-Jabotabek (Sumber Gambar : Nu Online)
Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta’lim se-Jabotabek (Sumber Gambar : Nu Online)

Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta’lim se-Jabotabek

Kegiatan yang merupakan hasil kerja sama PP LDNU dengan PP Muslimat NU itu, kata Kiai Nuril—demikian panggilan akrabnya—, dilaksanakan setiap akhir bulan. Dalam pertemuan itu, para pemimpin majelis ta’lim tersebut diberikan pemahaman yang menyeluruh tentang paham Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Menurut Kiai Nuril, pemahaman tentang Aswaja yang benar dirasa sangat penting guna menghadapi gerakan-gerakan kelompok-kelompok yang telah mengambilalih masjid-masjid NU. Pasalnya, secara umum para pemimpin majelis ta’lim itu belum memahami sepenuhnya ajaran Aswaja tersebut.

Selain itu, Kiai Nuril menambahkan, tidak sedikit pula bermunculan ajaran yang mengatasnamakan Ahlussunnah, namun yang dimaksud bukanlah Aswaja. “Sekarang kan banyak sekali aliran yang mengaku Ahlussunnah, tapi sebetulnya bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ahlussunnah saja, beda dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Makanya, majelis ta’lim ini harus diberi pemahaman agar bisa membedakan antara Ahlussunnah saja, dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah,” terangnya.

Haedar Nashir

“Bedanya, kalau Ahlussunnah saja, itu hanya mengikuti ajaran dan perilaku Nabi Muhammad SAW. Tapi kalau Ahlussunnah Wal Jama’ah, mengikuti ajaran dan perilaku nabi sekaligus juga para Khulafaur Rosyidin (kholifah empat; Abu Bakar Assiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib, red),” imbuh Kiai Nuril.

Disadari Kiai Nuril, sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia yang berpaham Aswaja, NU merasa perlu untuk segera melakukan gerakan-gerakan nyata dalam rangka penyelamatan terhadap paham yang sudah diyakini kebenarannya selama ini. Jika tidak, katanya, tidak ada jaminan dalam waktu sepuluh tahun mendatang ajaran moderat yang terkandung dalam Aswaja akan hilang dan tergantikan oleh paham yang lain.

Diungkapkan Kiai Nuril, pada pertemuan pertama dan kedua yang diikuti 162 ketua majelis ta’lim se-Jabotabek itu, responnya cukup positif atas kegiatan tersebut. Dalam pertemuan tersebut, katanya, sekaligus terungkap bahwa sebagian besar pimpinan majelis ta’lim belum mengerti sepenuhnya paham Aswaja sebagaiamana diterapkan NU selama ini.

Haedar Nashir

“Ibaratnya, kita akan berikan pencerahan kepada para majelis ta’lim itu tentang ajaran Aswaja yang benar dan menyeluruh. Biar mereka juga bisa membedakan antara paham Ahlussunnah saja dengan Ahlussunnah yang ada Wal Jama’ah-nya,” tandas Kiai Nuril.

Kegiatan tersebut, kata Kiai Nuril merupakan awalan. Selanjutnya, pihaknya akan memperluas wilayah garapan dari kegiatan tersebut hingga ke daerah-daerah, terutama daerah di luar Jawa. Karena, ungkapnya, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di wilayah Jabotabek saja, melainkan seluruh Indonesia.

Untuk pertemuan mendatang (30 Agustus), tutur Kiai Nuril, pihaknya telah mengundang seorang tokoh muslimah asal Amerika Serikat untuk menjadi penceramah, yakni Mrs Tiye Mulazim. Menurutnya, Mrs Tiye Mulazim juga seorang muslimah yang berpaham Aswaja. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Hadits, Hikmah Haedar Nashir

PP Muslimat NU Resmikan Kantor Baru Hasil Infak di 3 Kali Kongres

Bogor, Haedar Nashir. Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) bakal menempati kantor baru di Pengadegan, Kalibata, Jakarta Selatan yang diresmikan, Senin (27/3). Kantor baru itu terletak di samping kantor lama sehingga saat ini markas Muslimat NU memadai.

Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa mengakui, kantor baru itu hasil infak dari para anggota Muslimat NU dari seluruh Indonesia yang berhasil ditabung selama 3 kali melewati perhelatan Kongres, yaitu di Lampung, Batam, dan Pondok Gede Jakarta.

PP Muslimat NU Resmikan Kantor Baru Hasil Infak di 3 Kali Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Resmikan Kantor Baru Hasil Infak di 3 Kali Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Resmikan Kantor Baru Hasil Infak di 3 Kali Kongres

“Itu hasil infak di kongres. Ibu-ibu mungkin tidak merasa, pada kongres di Lampung sebagian dari infaknya dikembalikan. Lalu saat kongres di Batam, sebagian infak juga dikembalikan untuk keperluan membangun kantor baru,” jelasnya dalam Rapimnas Muslimat NU, Ahad (26/3) di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Begitu juga dengan Kongres ke-17 Muslimat NU di Pondok Gede Jakarta, kata dia, 100 persen infak dari ibu-ibu Muslimat disatukan dengan infak dari kedua kongres di Lampung dan di Batam untuk membangun kantor baru.

“Yang ada di kantor itu, sebagian di antaranya adalah dana dari infak seluruh peserta Kongres ke-17 tahun 2016 lalu. Mudah-mudahan akan menjadi jariyah ibu-ibu semua,” ungkap Khofifah.

Haedar Nashir

Peresmian kantor baru tersebut merupakan bagian dari rangkaian Hari Lahir (Harlah) ke-17 yang dirangkai dengan pelantikan PP Muslimat NU yang digelar, Selasa (28/3) di Masjid Istiqlal Jakarta. Acara ini akan dihadiri sekitar 17.000 kader Muslimat dari sejumlah daerah.?

Haedar Nashir

Sebelum menggelar peringatan Harlah dan pelantikan pengurus, Muslimat NU terlebih dahulu menggelar Refleksi Kebangsaan 71 Tahun Muslimat NU bertajuk Pancasila, Agama, dan Negara sebagai penguatan ruh gerakan Muslimat NU.?

Diskusi dalam refleksi tersebut menghadirkan narasumber di antaranya Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, dan Direktur Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Yudi Latif. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Humor Islam, News Haedar Nashir

Rabu, 08 November 2017

KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya

Oleh Muhammadun

Rabu, 24 Mei 2017, KH Maruf Amin mendapatkan gelar profesor dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Magribi, Malang. Ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Menristek Dikti) Nomor 69195/A2.3/KP/2017, yang menegaskan bahwa KH Ma‘ruf Amin diangkat sebagai professor dengan status sebagai dosen tidak tetap dalam bidang Ilmu Ekonomi Syariah di UIN Malang.

Sidang senat terbuka itu dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menristek Diktri Muhammad Natsir, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan lain sebagainya.

KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya

Para kiai memang tidak lazim mendapatkan gelar professor, karena mereka memang tidak begitu memedulikan urusan teknis akademik. Kiai lebih sibuk dengan melayani umat. Walaupun kiai melakukan proses pengembaraan ilmu begitu panjang, tetapi itu dilakukan tanpa predikat dan ijazah formal. Mereka sibuk mengkhatamkan kitab, kalaupun mendapatkan ijazah itu ijazah sanad ilmu, bukan ijazah sebagaimana lazimnya dalam sekolah. Kalau soal ijazah sanad ilmu, itu menjadi perhatian sangat serius bagi kiai. Karena sanad ilmu yang mereka kaji harus sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Haedar Nashir

KH Ma’ruf Amin termasuk kiai dengan tradisi keilmuan klasik yang sangat mapan. Ia mewarisi etos generasi santri salaf (klasik) yang sibuk dengan mengkaji ilmu Islam yang termaktub dalam kitab kuning. Kajian dalam kitab kuningnya tidak berhenti dalam diskusi dan ngaji, tetapi diaktualisasikan (dan diamalkan) dalam membangun bangsa dan negara. Tak heran kemudian kalau KH Ma’ruf Amin sekarang menduduki posisi tertinggi dalam tradisi keulamaan, Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI Pusat. Dalam tradisi NU, kedudukan Rais Aam NU bukan amanah biasa, karena selain kedalaman ilmu pengetahuan, juga mempunyai posisi istimewa dalam spiritual.

Haedar Nashir

Gelar profesor, bagi seorang Rais Aam NU, hanyalah melengkapi kewibawaan semata. Karena posisi Rais Aam NU sama sekali tidak terkait dengan gelar akademik seorang kiai. Kalaupun perguruan tinggi memberikan gelar akademik, itu tugas perguruan tinggi untuk memberikan penghargaan sekaligus belajar dari tradisi keilmuan para Rais Aam NU. Tugas negara, melalui perguruan tingginya, untuk memberikan penghargaan itu, karena para kiai sudah menjalankan Tridarma perguruan tinggi dengan begitu tulus dan terbukti memberikan kontribusi besar dalam menjaga negara.

Gelar akademik yang disandang para kiai banyak didapatkan tanpa jenjang perkuliahan formal, karena kiai belajar dari pesantren ke pesantren. Pada masa orde lama, Bung Karno memberikan apresiasi tinggi kepada para kiai. Para kiai diminta mengajar di berbagai perguruan tinggi, walaupun mereka tidak mengenyam pendidikan formal. Di antara kiai yang mendapatkan gelar professor adalah KH Anwar Musaddad, KH Saifuddin Zuhri, KH R Moh Adnan, KH Ali Yafi. Gelar professor yang mereka dapatkan dikarenakan keahlian yang sangat mumpuni dan kiprahnya yang besar bagi bangsa dan negara. Masih banyak kiai dengan kapasitas keilmuan yang lebih tinggi, tetapi tidak mau mendapatkan gelar akademik tersebut.

Semasa Orde Baru, para kiai “tersingkir” dari dunia kampus. Karena tidak mempunyai ijazah formal, kiai dikembalikan ke pesantren masing-masing. Banyak kiai dengan kapasitas ilmu yang tinggi, santrinya juga ribuan, tetapi Orde Baru lebih memilih gelar akademik untuk mengajar di kampus. Setinggi apapun ilmu yang dicapai, karena tidak memenuhi syarat formal ijazah, kiai tidak bisa mengajar di kampus. Makanya, semasa Orde Baru tidak ada kiai yang mendapatkan gelar kehormatan dalam akademik. Para kiai akhirnya sibuk mendidik santri di pesantren dan melayani umat. Mahasiswa harus datang ke pesantren kalau mau mendapatkan ilmu para kiai. Masa Orde Baru, ilmunya kiai tidak diserap di kampus.

Kiai dan pesantren di masa Orde Baru menjadi kelompok yang termarginalkan, karena kiai dan pesantrennya tidak mau tunduk dalam politik Orde Baru. Orde Baru memangkas gerak langkah kiai dan pesantren, karena disinyalir sebagai bagian dari kekuasaan Orde Lama. Kiai NU dan pesantrennya memang mengalami masa “mesra” bersama Bung Karno, walaupun tetap kritis terhadap kepemimpinan negara. Banyak sekali contoh kritisnya para kiai dengan kebijakan Bung Karno, seperti pembentukan DPR-GR tanpa pemilu, kebijakan terkait PKI, dan kebijakan politik luar negerinya terkait dunia Islam. Tetapi bagaimanapun sikap kritis itu dilancarkan, para kiai selalu teguh menjaga NKRI dari ancaman apapun.

Pada masa Reformasi, ketika peta politik nasional mengalami pergeseran, posisi kiai dalam dunia akademik mendapatkan tempat baru. Tidak sedikit para kiai yang dikenal tinggi kapasitas keilmuannya kemudian mendapatkan gelar kehormatan doktor dan professor. Di antaranya KH MA Sahal Mahfudh, KH A Mustofa Bisri, KH Ahmad Hasyim Muzadi, KH Sholahuddin Wahid, dan KH Tholhah Hasan. Sedangkan yang mendapatkan gelar professor adalah KH Said Aqil Siroj dan KH Ma’ruf Amin.

Gelar yang diterima KH Ma’ruf Amin dan kiai lainnya adalah adalah bukti bahwa negara kembali hadir memberikan pengakuannya terhadap khazanah keilmuan yang berkembang di pesantren. Pengakuan negara ini sangat penting, bukan untuk kalangan pesantren, tetapi untuk masa depan negara itu sendiri. Karena pesantren sepanjang sejarah negeri ini terbukti memberikan kontribusinya dalam mencerdaskan anak bangsa.

Diakui atau tidak diakui negara, pesantren tetap menyelenggarakan pendidikan yang khas, sesuai dengan karakternya. Kalau negara tidak mengakui, yang rugi negara sendiri, karena telah mengabaikan proses belajar anak bangsa. Pesantren juga memberikan beasiswa tidak sedikit kepada santrinya yang tidak mampu, karena biaya sama sekali tidak menjadi acuan dalam belajar di pesantren. Banyak santri yang mengabdi di pesantren, tanpa bekal biaya sepeserpun, mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama dengan lainnya. Para kiai tidak memedulikan anggaran dan bantuan dari negara, karena para kiai hanya fokus mengajar santri atau umat, tanpa peduli dengan urusan gaji.

Dokter Sutomo, salah satu pengagas Budi Utomo, melihat pesantren sebagai perguruan asli milik Nusantara ini. Dalam hal ini, Dokter Sutomo mengatakan.

“Pada zaman nenek saya, yaitu kira-kira pertengahan abad ke-19, pesantrenlah tempat perguruan kita yang asli. Karena belum terdesak oleh sekolah Gubernemen, pesantren ribuan jumlahnya. Pengaruh perguruan itu terhadap masyarakat kita, peradaban rakyat, tidak dapat diabaikan. Hubungan antara santri-santri dewasa (istilah sekarang mahasiswa dari universitas; di dalam pondok-pondok yang besar juga diajarkan ilmu lahir dan batin, yang di waktu ini jarang didapati di tanah air kita) erat sekali. Umpamanya, di waktu menanam dan menuai padi, di waktu ada kematian, di waktu bulan Puasa, hubungan yang erat itu nyata benar.”

Sutomo bahkan mengusulkan pesantren sebagai model pendidikan untuk Indonesia yang akan dilahirkan, walaupun usulannya ditolak. Sutomo memilih pesantren dengan beberapa alasan, yakni dalam dunia pesantren ada hubungan akrab dan intens antara santri dan kiai; lulusannya ternyata mampu masuk dalam dunia lapangan pekerjaan secara merdeka; kehidupan kiai yang sederhana; dan? model pendidikannya berjalan duapuluh empat jam. Dokter Sutomo mengatakan.

“Pesantren dan pondoknya mempersatukan anak-anak muda kita dari segala lapisan masyarakat. Anak petani, anak saudagar, anak bangsawan berkumpul di dalam pondok itu. Keadaan lahir dan batinnya mendapat bimbingan yang sama dari guru sehingga pemuda-pemuda itu, yang di kemudian hari memegang pekerjaan yang beraneka warna di dalam masyarakat, merasa satu karena ikatan lahir dan batin yang telah diletakkan, ditanam di dalam pondok dan pesantren itu. Sikap hidup bangsa kita di waktu itu, dari lapisan mana pun, tidaklah terpecah belah, terpisah satu sama lain seperti sekarang.”

Gelar professor yang diterima KH Ma’ruf Amin memang patut diapresiasi. Tetapi, kalangan pesantren harus tetap mengalir sebagaimana aslinya. Jangan sampai gelar-gelar akademik yang didapatkan para kiainya justru menjadikan pesantren keluar dari naluri dan keasliannya. Kalau itu terjadi, gelar professor yang diterima KH Ma’ruf Amin dan para kiai lainnya justru merusak masa depan keilmuan di pesantren.

Gelar professor yang diterima KH Ma’ruf Amin dan kiai lainnya juga bukan untuk mematikan daya kritis pesantren. Kalau negara melenceng, para kiai harus kritis terhadap para penyelenggara negara. Justru, para kiai harus berada di atas birokrasi kenegaraan sehingga tetap jernih dalam melihat setiap problem yang terjadi dalam penyelenggaraan negara. Para kiai harus tetap pada khittahnya: melayani umat, menjaga negara, dan teguh mengangkat harkat? dan martabat bangsa.

*) Santri di Masjid Zahrotun Wonocatur Banguntapan BantulDari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Ulama, Syariah Haedar Nashir