Minggu, 19 November 2017

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Kiai Abbas Buntet, selain menjadi salah seorang tokoh sentral NU, juga pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Pesantren tersebut, hingga saat ini terus tumbuh dan berkembang. Di sana, bukan saja menggelar kitab kuning, tapi mengobarkan semangat juang.

Kualitas pengajian dan kharisma seorang kiai merupakan daya tarik utama dalam sistem pendidikan pesantren Salaf. Dan ini tetap dipertahankan dalam sistem pendidikan pesantren Buntet sebabagi sosok pesantren salaf yang tidak pernah kehilangan pesona dan peran dalam dunia modern.

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Tersebutlah saat ini peran sosial politik yang diambil kiai Abdullah Abbas, selalu menjadi rujukan para pemimpin nasional. Tidak hanya karena pengikutnya banyak, tetapi memang nasehat dan pandangannya sangat berisi. Semuanya itu tidak diperoleh begitu saja, melainkan hasil pergumulan panjang, yang penuh pengalaman dan pelajaran, sehingga membuat para tokoh matang dalam kanacah perjuangan. 

Kiai Abdullah ukan sekadar tokoh yang berperan karena mengandalkan popularitas keluarga atau keturunannya. Semuanya itu tidak terlepas dari peran para pendahulu pesantren Buntet, ayah Kiai Abdullah sendiri yaitu Kiai Abbas, seorang ulama besar yang mampu memadukan kitab kuning dan ilmu kanuragan sekaligus, sebagai sarana perjuangan membela umat.

Haedar Nashir

Kiai Abas adalah putra sulung KH Abdul Jamil yang dilahirkan pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 25 Oktober 1800 M di desa Pekalangan, Cirebon. Sedangkan KH Abdul Jamil adalah putra dari KH. Muta’ad yang tak lain adalah menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon. 

Ia menjadi Mufti pada masa pemerintahan Sultan Khairuddin I, Sultan Kanoman yang mempunyai anak Sultan Khairuddin II yang lahir pada tahun 1777. Tetapi Jabatan terhormat itu kemudian ditinggalkan semata-mata karena dorongan dan rasa tanggungjawab terhadap agama dan bangsa. 

Haedar Nashir

Selain itu juga karena sikap dasar politik Mbah Muqayyim yang non-cooperative terhadap penjajah belanda – karena penjajah secara politik saat itu sudah “menguasai” kesultanan Cirebon. 

Setelah  meninggalkan Kesultanan Cirebon, maka didirikanlah lembaga pendidikan pesantren tahun 1750 di Dusun Kedung Malang, desa Buntet, Cirebon yang petilasannya dapat dilihat sampai sekarang berupa pemakaman para santrinya. Untuk menmghindari desakan penjajah Belanda, ia selalu berpindah-pindah. Sebelum berada di Blok Buntet, (desa Martapada Kulon) seperti sekarang ini, ia berada di sebuah daerah yang disebut Gajah Ngambung. Disebut begitu, konon, karena Mbah Muqayyim dikhabarkan mempunyai gajah putih.

Setelah itu juga masih terus berpindah tempat ke Persawahan Lemah Agung (masih daerah Cirebon), lantas ke daerah yang diebut Tuk Karangsuwung. Bahkan, lantara begitu gencarnya desakan penjajah Belanda (karena sikap politik yang non-cooperative), Mbah Muqayyim sampai “hijrah” ke daerah Beji, Pemalang, Jawa Tengah, sebelum kembali ke daerah Buntet, Cirebon. Hal itu dilakukan karena hampir tiap hari tentara penjajah Belanda melakukan patroli ke daerah pesantren. Sehingga suasana pesantren, mencekam, tapi para santri tetap giat belajar sambil terus  begerilya, bila malam hari tiba.

Semuanya itu dijalani dengan tabah dan penuh harapan, sebab Mbah Qoyyim selalu mendampingi mereka. Sementara bimbingan Mhah Qoyyim selalu meraka harapkan sebab kiai itu  dikenal sebagai tokoh yang ahli tirakat (riyadlah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Ia  pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. Mbah Muqayyim niat puasanya yang dua belas tahun itu dalam empat bagian. 

Tiga tahun pertama, ditunjukkan untuk keselamatan Buntet Pesantren. Tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucuknya. Tiga tahun yang ketiga untuk para santri dan pengikutnya yang setia. Sedang tiga tahun yang keempat untuk keselamatan dirinya. Saat itu Mbah Muqayyimlah peletak awal Pesantren Buntet, sudah berpikir besar untuk keselamatan umat Islam dan bangsa. Karena itu pesantren rintisannya hingga saat ini masih mewarisi semangat tersebut. Sejak zaman pergerakan kemerdekaan, dan ketika para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama, pesantren ini  menjadi salah satu basis kekuatan NU di Jawa Barat.

Dengan demikian, pada dasarnya Kiai Abbas adalah dari keluarga alim karena itu pertama ia belajar pada ayahnya sendiri, KH Abdul Jamil. Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama, baru pindah ke pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon di bawah pimpinan Kiai Nasuha. Setelah itu, masih didaerah Jawa Barat, ia pindah lagi ke sebuah pesantren salaf bdi daerah Jatisari di bawah pimpinan Kiai Hasan. Baru setelah itu keluar daerah, yakni ke sebuah pesantren di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah. 

Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, selanjutnya ia pindah ke pesantren yang sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari, tokoh kharismatik yang kemudian menjadi pendiri NU. 

Pesantren Tebuireng itu menambah kematangan kepribadian Kiai Abbas, sebab di pesantren itu ia bertemu dengan para santri lain dan kiai yang terpandang seperti KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh dan sekaligus arsitek berdirinya NU) dan KH Abdul Manaf yang turut mendirikan pesantren Lirboyo, kediri Jawa Timur.

Walaupun keilmuannya sudah cukup tinggi, namun ia seorang santri yang gigih, karena itu tetap berniat memperdalam keilmuannya dengan belajar ke Mekkah Al-Mukarramah. Beruntunglah ia belajar ke sana, sebab saat itu masih ada ulama Jawa terkenal tempat berguru, yaitu Syekh Machfudz Termas (asal Pacitan, Jatim) yang karya-karyanya masyhur itu. 

Di Mekkah, ia kembali bersama-sama dengan KH. Bakir Yogyakarta, KH. Abdillah Surabaya dan KH. Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang Kiai Abbas ditugasi untuk mengajar pada  para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Mekkah). Santrinya antara, KH Cholil Balerante- Palimanan, KH Sulaiman Babakan, Ciwaringin dan santri-santri lainnya. 

Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta upayanya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet, warisan dari nenek moyangnya itu dengan penuh kesungguhan. Dengan modal keilmuan yang memadai itu membuat daya tarik pesantren Buntet semakin tinggi.

Sebagai seorang kiai muda yang energik ia mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab-karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fiqih mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fiqih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju. Sebagaimana umumnya pesantren fiqih memang merupakan kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Dengan sikapnya itu, nama Kiai Abbas dikenal keseluruh Jawa, sebagai seurang ulama yang alim dan berpemikiran progresif. Namun demikian ia tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuai yang tidak menguasasi, atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.

Walaupun namanya sudah terkenal diseantero Jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah kiai Abbas  menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat Duhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. 

Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.

Walaupun saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60 tahun, tetapi tubuhnya tetap gagah dan perkasa. Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih, selalu di tutupi peci putih yang dilengkapi serban – seperti lazimnya para kiai. 

Dalam tradisi pesantren, selain dikenal dengan tradisi ilmu kitab kuning, juga dikenal dengan tradisi ilmu kanuragan atau ilmu bela diri, yang keduanya wajib dipelajari. Apalagi dalam menjalankan misi dakwah dan berjuang melawan penjahat dan penjajah. Kehadiran ilmu kanuragan menjadi sebuah keharusan.

Oleh karena itu ketika usianya mulai senja, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, maka pengajaran ilmu kanuragan dirasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan. Maka dengan berat hati terpaksa ia tinggalkan kegiatannya  mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan santrinya. Sebab yang menangani soal itu sudah diserahkan sepenuhnya pada kedua adik kandungnya, KH Anas dan KH Akyas. 

Ketika memasuki masa senjanya, Kiai Abbas lebih banyak memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di Masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kesaktian atau ilmu beladiri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan penjajah. Tampaknya ia mewarisi darah perjuangan dari kakeknya yaitu Mbah Qoyyim, yang rela meninggalkan istana Cirebon karena menolak kehadiran Belanda. Dan kini darah perjuangan tersebut sudah merasuk ke cucunya. Karena itu, Kiai Abbas mulai merintas perlawanan, dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian padsa masyarakat.

Tentu saja yang berguru pada Kiai Abbas bukan orang sembarangan, atau pesilat pemula, melainkan para pendekar yang ingin meningkatkan ilmunya dan memperkaya jiwanya. Maka begitu kedatangan tamu ia sudah bisa mengukur seberapa tinggi kesaktian mereka, karena itu  Kiai Abbas menerima tamu tertentu langsung dibawa masuk ke kamar pribadinya. 

Dalam kamar mereka langsung dicoba kemampuannya dengan melakukan duel, sehingga membuat suasana gaduh. Baru setelah diuji kemampuannya sang kiai mengijazahi berbagai amalan yang diperlukan, sehingga kesaktian dan kekebalan mereka bertambah.   

Dengan gerakan itu maka pesantren Buntet dijadikan sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai saat itu Pesantren Buntet menjadi basis perjuanagan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah.  

Sebagaimana Sabilillah, Hizbullah juga merupakan kekuatan yang tangguh dan disegani musuh, kekuatan itu diperoleh berkat latihan-latihan berat yang diperoleh dalam pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Cibarusa semasa penjajahan Jepang. Organisasi perjuangan umat Islam ini didirikan untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Anggotanya terdiri atas kaum tua militan. Organisasi ini di Pesantren Buntet, diketuai Abbas dan adiknya KH Anas, serta dibantu oleh ulama lain seperti KH Murtadlo, KH Soleh dan KH Mujahid. 

Karena itu muncul tokoh Hizbullah di zaman pergerakan Nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH Hasyim Anwar dan KH Abdullah Abbas, putera Kiai Abbas. Ketika melakukan perang gerilya, tentara Hizbullah memusatkan pertahahannya di daerah Legok, kecamatan Cidahu, kabupaten Kuningan, dengan front di perbukitan Cimaneungteung yang terletak di dareah Waled Selatan membentang ke Bukit Cihirup Kecapantan Cipancur, Kuningan. Daerah tersebut terus dipertahankan sampai terjadinya Perundingan Renville yang kemudian Pemerintah RI beserta semua tentaranya hizrah ke Yogyakarta.

Selain mendirikan Hisbullah, pada saat itu  di Buntet Pesantren juga dikenal adanya organisasi yang bernama Asybal. Inilah organisasi anak-anak yang berusia di bwah 17 tahun. Organisasi ini sengaja dibentuk oleh para sesepuh Buntet Pesantren sebagai pasukan pengintai atau mata-mata guna mengetahui gerakan musuh sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai ke daerah front terdepan. Semasa perang kemerdekaan itu, banyak warga Buntet Pesantren yang gugur dalam pertempuran. Di antaranya adalah KH Mujahid, kiai Akib, Mawardi, Abdul Jalil, Nawawi dan lain-lain.

Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh Kiai Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di surabaya tahun 1946. Peristiwa itu terbukti setelah Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1946, Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris. 

Tetapi kiai Hasyim menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu, sebelum Kiai Abbas, sebagai Laskar andalannya, datang ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pesantren Buntet, di bawah pimpinan KH. Abbas beserta adiknya KH. Anas, mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 november 1945 itu. 

Atas restu Hadratus Syaikh, ia terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya tersebut. Selanjutnya kiai Abbas juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan untuk melawan penjajah yang hendak menguasai kembali republik ini, seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan lain-lain.

Dialah santri yang mempunyai beberapa kelebihan, baik dalam bidang ilmu bela diri maupun ilmu kedigdayaan. Dan tidak jarang, Kiai Abbas diminta bantuan khusus yang berkaitan dengan keahliannya itu. Hubungan Kiai Hasyim dengan Kiai Abbas memang sudah lama terjalin, terlihat ketika pertama kali Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantrean Tebuireng, Kiai sakti dari Cirebon itu banyak memberikan perlindungan, terutama saat diganggu oleh para penjahat setempat, yang merasa terusik oleh kehadiran pesantren Tebuireng. 

Sekitar tahun 1900, Kiai Abbas datang dari Buntet bersama kakak kandungnya, Kiai Soleh Zamzam Benda Kerep, Kiai Abdullah Pengurangan dan Kiai Syamsuri Wanatar. Berkat kehadiran mereka itu para penjahat yang dibeking oleh Belanda, penguasa pabrik gula Cukir itu tidak lagi ang mengganggu pesantren tebuireng kapok tidak berani mengganggu lagi. 

Tradisi pesantren antara kanuragan, moralitas dan kitab kuning saling menopang, tanpa salah satunya yantg lain tidak berjalan, karena itu semua merupakan tradisi dalam totalitasnya. Walaupun revolusi November dimenangkan oleh laskar pesantren dengan penuh gemilang, tetapi hal itu tidak membuat mereka terlena, sebab Belanda dengan kelicikannya akan selalu mencari celah menikam Republik ini. Karena itu Kiai Abbas selalu mengikuti perkembangan politik, baik di lapanagan maupun di meja perundingan. Sementara laskar masih terus disiagakan. Berbagai latihan terus digelar, terutama bagi kalangan muda yang baru masuk kelaskaran. Berbagai daerah juga dibuka simpul kelaskaran yang siap menghadapi kembalinya penjajahan.

Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap penjajah, misi diplomasi juga dijalankan, semuanya itu tidak terlepas dari perhatian para ulama. Karena itu betapa kecewanya para pejuang, termasuk para ulama yang memimpin perang itu, ketika sikap para diplomat kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan Belanda dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946  itu. 

Mendengar hasil perjanjian itu Kiai Abbas sangat terpukul, merasa perjuangannya dikhianati, akhirnya jatuh sakit. Kemudian mengakibatkan Kiai yang sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat pada hari Jumat pada waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, kemudian dikuburkan di pemakaman Buntet Pesantren.  

Hingga saat ini karakter perjuangan masih terus ditradisikan di Pesantren Buntet, pada masa represi Orde Baru pesantren ini dengan gigihnya mempertahankan independensinya dari tekanan rezim itu. Tetapi semuanya dijalankan dengan penuh keluwesan, sehingga orde baru juga tidak menghadapinya dengan frontal. Dan karena itu pula, ketika masa ramainya gerakan reformasi, pikiran dan pandangan Kiai Abdullah Abbas sangat diperhatikan oleh semua para penggerak reformasi, baik dari kalanagan NU maupun komunitas lainnya. 

Itulah Peran sosial keagamaan pesantren Buntet yang dirintis Mbah Qoyyim dilanjutkan oleh Kiai Abbas, kemudian diteruskan lagi oleh Kiai Abdullah Abbas menjadikan Buntet sebagai Pesantren perjuangan. (Abdul Munim DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Olahraga Haedar Nashir

Kiai Masdar: Dua Hal yang Membuat Organisasi Dijunjung Tinggi

Jakarta, Haedar Nashir. Rais Syuriyah KH Masdar Farid Mas‘udi mengungkap, ada makna mendalam dalam surat al-Quraisy, terutama dua penggal ayat terakhir. Di situ masyarakat Quraisy diperintahkan untuk menyembah Tuhan Pemilik Ka‘bah (Allah), kemudian diikuti dengan dua sifat yang menjadi ayat berikutnya.

Pertama, “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar”; dan kedua, “Yang mengamankan mereka dari ketakutan.” Menurut Kiai Masdar, hal ini menunjukkan betapa memenuhi kebutuhan ekonomi dan memberi jaminan rasa aman menjadi hal utama.

Kiai Masdar: Dua Hal yang Membuat Organisasi Dijunjung Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar: Dua Hal yang Membuat Organisasi Dijunjung Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar: Dua Hal yang Membuat Organisasi Dijunjung Tinggi

“Karena dua alasan itulah (dalam ayat itu) Allah disembah,” katanya pada forum peluncuran buku berjudul "Ansor dan Tantangan Kebangsaan: Sebuah Refleksi Demografi Politik Dari Social Capital? Menuju Human Capital" karya Wasekjen Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat? Gerakan Pemuda Ansor? Rizqon Halal Syah, Kamis (29/10) siang, di hall room hotel Acacia, Jakarta.

Haedar Nashir

Di hadapan para kader GP Ansor, Kiai Masdar menegaskan bahwa ayat tersebut juga menjadi inspirasi bahwa organisasi ketika mempunyai perhatian pada pemenuhan kebutuhan dasar rakyat dan sikap mengayomi akan dihormati dan dijunjung tinggi.

Haedar Nashir

Dalam pandangannya, dua tugas tersebut juga menjadi jawaban bagi munculnya bonus demografi di Indonesia ke depan. Bonus demografi, katanya, harus diiringi dengan peningkatan kualitas.

Kiai asal Purwokerto ini mengatakan, Indonesia terdiri dari agama yang sangat beragam. Bahkan agama-agama yang tidak ada di belahan dunia lain, ada di Indonesia. Dalam pluralitas semacam ini dibutuhkan organisasi seperti GP Ansor yang mampu memberi jaminan rasa aman bagi masyarakat luas. Apalagi, jumlah kelompok intoleran semakin lama kian bertambah di Tanah Air.

Hadir pula dalam kesempatan itu Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf, Prof Dr Ahmad Mubarok? dari Mubarok Center, Prof. Dr Prijono Tjiptoherijanto (guru besar ekonomi UI), Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti, mantan kepala umum staf TNI Letjen (Purn) Johanes Suryo Prabowo, para akademisi, dan ratusan kader Ansor. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Nahdlatul, AlaNu Haedar Nashir

Innalillah, Hj Tutty Alawiyah Wafat

Jakarta, Haedar Nashir

Innallillahi wainna ilaihi raajiuun, Muslim Indonesia kembali berduka dengan meninggalnya salah satu ulama perempuan Hj Tutty Alawiyah, yang juga ketua Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), pada Rabu, 4 Mei pukul 07.15 di Rumah Sakit MMC Jakarta. ?

Dalam informasi yang beredar di sosial media, keluarga Tutty, H Dailami Firdaus menyampaikan berita duka tersebut dan menyampaikan rumah duka berada di jl Jatiwaringian No 51 Pondok Gede Bekasi, depan bank BNI.? Syifa Fauziyah, salah satu putri almarhum yang dihubungi Haedar Nashir menjelaskan, almarhum ibunya meninggal salah satunya karena infeksi paru. Ia menambahkan, jenazah akan dimakamkan di kompleks Pesantren Yatim Assafiiyah di Jatiwaringin ba’da Ashar.?

Innalillah, Hj Tutty Alawiyah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillah, Hj Tutty Alawiyah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillah, Hj Tutty Alawiyah Wafat

Beberapa hari sebelumnya, beredar berita hoax bahwa Hj Tuty Alawiyah meninggal yang kemudian diklarifikasi oleh pihak keluarga bahwa berita tersebut tidak benar. Karena itu, info yang kembali beredar kali ini mendapat pertanyaan dari berbagai anggota berbagai grup WA.?

Tutty yang juga menjabat sebagai Ketua MUI Bidang Pemberdayaan Perempuan ini dilahirkan pada 30 Maret 1942 di Jakarta dari pasangan KH Abdullah Syafiie dan Hajjah Rogayah. Ayahnya merupakan ulama terkenal asal Betawi sehingga dari kecil ia sudah dididik ilmu agama dengan baik.?

Haedar Nashir

Ia melanjutkan lembaga pendidikan yang didirikan oleh ayahnya dibawah naungan Yayasan Perguruan As-Syafiiyah yang didirikan tahun 1933. Di bawah pengelolaannya, lembaga pendidikan tersebut semakin besar dengan memiliki unit Pesantren Putra-Putri dan Yatim, Pesantren Tinggi Darul Agama, Sekolah Tinggi Wiraswasta, serta Universitas Islam Syafiiyah.?

Selain aktif dalam mengembangkan dakwah, Tutty juga aktif dalam dunia politik. Ia pernah menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada tahun 1998 hingga tahun 1999 pada Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan. Ia juga pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari tahun 1992 hingga 2004 dari Utusan Golongan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, Doa, Tokoh Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sabtu, 18 November 2017

GP Ansor Gemakan "Kecamatan Bershalawat"

Subang, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Subang menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk “Kecamatan Bershalawat”. Kegiatan yang didukung oleh PT Jarum ini merupakan salah satu program dari Pimpinan Pusat GP Ansor yang terbagi dalam beberapa zona dan wilayah di Jawa Barat.

Kegiatan diadakan di halaman Masjid Jami’ Al-Mukhlishin, Pamanukan, Subang, Ahad (22/4) lalu, yang dihadiri oleh ribuan ja’maah. Selain menggemakan Shalawat, kegiatan ini diisi oleh beberapa bakti sosial diantaranya pengobatan gratis, pemberian santunan kepada puluhan anak yatim dan penanaman 1000 pohon.

GP Ansor Gemakan Kecamatan Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Gemakan Kecamatan Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Gemakan "Kecamatan Bershalawat"

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Subang, Ojang Sohandi, Ketua Tanfidziyah PCNU Subang, KH. Musyfiq Amrullah, Anggota DPRD Subang, Mimin Hermawan dari Fraksi Golkar dan Satibi dari Fraksi Demokrat, dan tampil sebagai penceramah Ketua Majelis Dzikir Pimpinan Pusat GP Ansor, KH. M. Faris Fuad Hasyim yang juga sebagai Pengasuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon. 

Haedar Nashir

Menurut Ketua PC GP Ansor Subang, Asep Alamsyah Heridinata, kegiatan Kecamatan Bershalawat ini merupakan sebagai langkah dan upaya penyadaran kepada masyarakat bahwa dengan barokah bershalawat segala bentuk permasalahan akan terpecahkan, termasuk permasalahan yang menyangkut hubungan kerukunan ummat beragama. 

“Shalawat adalah do’a. mudah-mudahan dengan kita bershalawat kita semua bisa terhindar dari apa yang tidak kita inginkan. Selain itu juga, shalawatan adalah ciri khas dari Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu, sebagai organisasi yang lahir dari rahim NU, sudah menjadi kewajiban GP Ansor harus mempertahankan dan mengembangkan tradisi tersebut,” papar Asep. 

Haedar Nashir

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PC NU Subang, KH. Musyfiq Amrullah, bahawa Shalawat merupakan sebuah kewajiban yang sudah ditetapkan dalam Al-Qur’an. 

"Allah sudah mewajibkan kepada Ummat Islam untuk memberikan shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, NU akan tetap melestarikan tradisi Shalawatan walaupun banyak faham-faham yang menentang tradisi tersebut,” ungkapnya. 

Sementara Bupati Subang, Ojang Sohandi mengatakan kegiatan sholawat akbar ini merupakan cara yang digunakan orang terdahulu untuk menyebarkan agama Islam juga mengajarkan toleransi dan gotong royong dalam umat beragama.

"Seperti yang dilakukan oleh para Wali Songo, mereka bisa berhasil menyebarkan Agama Islam tanpa harus perang maupun perpecahan, namun justru toleransi dan rasa gotong royong yang terbangun dalam perbedaan,” ujarnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nasihul Umam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail Haedar Nashir

Gedung Baru PCNU Subang Siap Difungsikan

Subang, Haedar Nashir. Pembangunan lantai dua gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kabupaten Subang, hampir rampung. Kendati demikian, pengurus NU dan Nahdliyin sudah bisa menggunakan gedung baru ini untuk pelbagai macam kegiatan organisasi.

Gedung Baru PCNU Subang Siap Difungsikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Baru PCNU Subang Siap Difungsikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Baru PCNU Subang Siap Difungsikan

"Tinggal sedikit lagi pembangunannya. Mudah-mudahan cepat selesai. Kita pengennya nanti bulan Muharom sudah bisa diresmikan," kata Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah kepada Haedar Nashir usai rapat Reboan di kantor PCNU setempat, Rabu (24/9).

Gedung PCNU Subang ini, Kiai Musyfiq melanjutkan, akan difungsikan untuk rapat dan aneka kegiatan-kegiatan organisasi yang ada di bawah naungan PCNU Subang. "Nanti gedung ini untuk kegiatan-kegiatan lembaga, lajnah, banom, giliran nantinya hari ini yang pakai siapa, besok siapa, jadi setiap hari ada kegiatan terus," terang Kiai Musyfiq.

Haedar Nashir

Ia berharap, fasilitas gedung baru ini dapat menambah semangat dan motivasi bagi para pengurus untuk lebih aktif lagi dalam menjalankan roda organisasi PCNU Subang.

Haedar Nashir

Dari pantauan Haedar Nashir, penyelesaian renovasi gedung ini hanya butuh memasang plafon dan kaca jendela. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Amalan, Pertandingan Haedar Nashir

Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI

Damaskus, Haedar Nashir. Pada Senin (25/4) waktu setempat, KBRI Damaskus kembali melakukan repatriasi WNI gelombang ke-274. Sebanyak 41 WNI dipulang ke Indonesia lewat Bandara Internasional Damaskus setelah diselesaikan segala permasalahannya. 

Para WNI yang direpatriasi tersebut sebagian besar berasal dari Jawa Barat, sisanya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan NTB. Jumlah repatriasi gelombang 274 ini merupakan yang terbanyak sejak tahun lalu. Repatriasi kali ini didampingi oleh staf KBRI Damaskus, Mohammad Zubair Moehdir.

Berikut daftar nama repatrian:

Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI

1. Aisah Bt Oman Arobah, Purwakarta;

2. Anisah Emus Sumardi, Cimahi;

3. Artati Bt Ibrahim Mansirad, Pandeglang;

Haedar Nashir

4. Asmawati Bt, Masiyung Wanto, Sumbawa NTB;

Haedar Nashir

5. Casih Bt Waan Mali, Subang;

6. Dede Rosita Enen, Cianjur;

7. Een Kirman Jai, Purwakarta; 

8. Itoh Masitoh Bt Sari Aleh, Bandung;

9. Juwita Bt Ali Arsad, Bima NTB;

10. Karsinah Binti Kardimah, Karawang;

11. Kartika Bt Jumantre Kasre, Lombok Tengah;

12. Krisnayanti Bt Cardiyah Kasmit, Indramayu; 

13. Kurnia Sari Kali Kajam, Indramayu;

14. Lena Maryana Asep Miftah, Sukabumi; 

15. Lia Bt Dulhawa Sangad, Tangerang Banten;

16. Meli Yulianti Bt Ikib Amat, Bandung;

17. Muhaenah Bt Ramin Sabit, Lampung Selatan;

18. Napisah Binti Saman, Carenang;

19. Nikmatur Rohmah Besuni, Malang;

20. Nunung Kurniawati Misar, Tambelang;

21. Nurhasiah Bt Ahmad Muhammad, Sumbawa;

22. Nurhayati Bt Badru Samsu, Sukabumi; 

23. Patimah Subki Sarhi, Sukabumi;

24. Rahmatia Bt Ibrahim Dede, Sumbawa NTB;

25. Rosita Binti Ramin, Tangerang, Banten;

26. Sari Bt Samid Samin, Tangerang, Banten;

27. Siti Asiyah Bt Muhammad Ali, Sumbawa NTB;

28. Siti Julaeha Bt Yayan Sarhindi, Cianjur;

29. Siti Patimah Bt Irah Suut, Bima Ntb;

30. Siti Rohmi Zuhdi Suyuti, Boyolali, Jateng;

31. Sumiyati Bt Rasma Daim, Indramayu;

32. Suniri Bt Rastal Amar, Cirebon;

33. Supriatin Bt Laksono Satram, Lumajang;

34. Tami Jumanah, Cirebon;

35. Tarwi Bt Cakra Kedung, Indramayu;

36. Tin Tin Bt Tarmedi Pepe, Cianjur;

37. Wenah Bt Rustam Taali, Subang;

38. Yanti Sinah Bt Amsir Ahim, Karawang;

39. Yatin Miyarso, Banjar Negara;

40. Yayah Bt Dudin Uu, Sukabumi;

41. Yuli Laelasari Bt Danu Sukar, Sumedang.

Saat ini shelter KBRI Damaskus masih terdapat sekitar 20 WNI korban perdagangan manusia yang sedang diperjuangkan hak dan kepulangannya. 

Duta Besar RI di Damaskus, Djoko Harjanto, yang turut melepas mereka di Bandara Internasional Damaskus menegaskan bahwa repatriasi TKW ini merupakan program yang telah berlangsung sejak tahun 2011 karena situasi keamanan di Suriah yang masih sangat mengkhawatirkan dan tidak mungkin kontrak kerjanya diperpanjang lagi. Karena kebijakan pemerintah RI untuk menghentikan secara permanen pengiriman tenaga kerja untuk sektor perorangan ke selururh negara di Timur Tengah. (Red-Zunus) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Kiai Haedar Nashir

Jumat, 17 November 2017

5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand

Jombang, Haedar Nashir. Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng Jombang kembali akan melaksanakan pengabdian atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Thailand. Sebanyak lima mahasiswa UNHASY akan berbagi ilmu dengan para santri yang ada di negara gajah putih tersebut.

Sebagaimana KKN Internasional gelombang pertama, pada gelombang kedua ini tim seleksi UNHASY juga melakukan serangkaian test untuk menentukan mahasiswa yang akan diterjunkan langsung ke dunia pendidikan di Thailand.?

“Kami ingin menerjunkan mahasiswa UNHASY yang terbaik, sehingga bisa mengabdikan diri dan memberikan kontribusinya di Thailand. Karena membawa nama baik UNHASY juga,” ungkap Kepala ? Biro Administrasi Akademis Kemahasiswaaan UNHASY, Muhammad, Rabu (13/4).

5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand

Tim penguji terdiri dari Ahmad Faruq (Kepala LPPM UNHASY), Elisa Nurul Laili (Kepala Lembaga Bahasa UNHASY) dan Rusli Ilham Fadli (Dosen PBSI UNHASY). Selain itu, dua mahasiswa yang pernah mengikuti KKN Internasional Thailand gelombang pertama, Nuriyah Laili (Fakultas Tarbiyah) dan Hurun ‘Aiin KA (Fakultas Dakwah) juga turut menjadi tim penyeleksi.

Ada 11 mahasiswa yang mengikuti seleksi pada Selasa (12/4) kemarin. Seleksi wawancara meliputi motivasi diri, pengetahuan agama, kemampuan berbahasa Inggris, dan kemampuan mengajar (peer teaching).

Haedar Nashir

Dari 11 mahasiswa yang lulus mengikuti seleksi KKN Internasional di Thailand adalah Alif Zakiyatul Fikriyah (Fak. Ilmu Pendidikan), Ani L. Arias Sholehah (Fak. Tarbiyah), Fina Fastaqima (Fak. Ilmu Pendidikan), Ririn Cahyani dan Siti Fatimatuz Zahro (Fak. Tarbiyah)

Kelima mahasiswa ini akan menjalani KKN Internasional selama 5 bulan. Program KKN tersebut merupakan hasil kerjasama UNHASY dengan Abroad Alumni Association of Sourthern Border Provinces, yaitu sebuah persatuan alumni luar negeri di Thailand Selatan yang fokus kegiatannya dalam hal pendidikan dan dakwah. (Machtumah Malayati/Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir