Jumat, 24 November 2017

IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan

Jakarta, Haedar Nashir. Pemuda merupakan elemen penting yang menentukan berkembangnya sebuah negara. Maka dari itu dibentuklah UU No 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan yang disahkan oleh DPR 15 September 2009.



IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan

Untuk membantu mensosialisasikan UU ini Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) mengadakan diskusi publik dengan tema “Diseminasi UU Kepemudaan” yang diselenggarakan di gedung PBNU Jakarta, Selasa (23/2).

Hadir dalam diskusi publik ini, ketua PBNU Andi Jamaro Dulung dan Panca Putra, Asisten Deputi Keserasian Kebijakan Pemuda Menegpora.

Haedar Nashir

Acara ini merupakan bagian dari 10 rangkaian acara besar yang diadakan oleh IPNU dalam rangka menyambut hari lahir PP IPNU ke-58 yang dimulai pada 23 Januari sampai 23 April mendatang.

Haedar Nashir

“IPNU sangat setuju dengan adanya UU ini, maka kami mengadakan sosialisasi yang  juga merupakan bagian dari 10 rangkaian besar acara dalam rangka menyambut hari lahir PP IPNU ke 58 tepatnya besok tanggal 24 Februari,” kata Fathoni selaku ketua panitia kepada Haedar Nashir.

Keberadaan UU ini penting karena jumlah penduduk Indonesia yang masuk kategori pemuda cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk usia 16-30 berjumlah 62.985.401. Selain itu jumlah ormas pemuda juga cukup besar, yaitu mencapai 279 ribu organisasi.

Sejumlah negara juga telah memiliki UU Kepemudaan ini, seperti di Thailand (Thailand National Youth Promotion and Coordination Act), Philipina (Youth and Nation Building Act), Belanda (Law of Youth Care) dan lainnya.

Pengesahan UU ini telah menimbulkan respon dari berbagai pihak yang berkepentingan, khususnya ormas kepemudaan yang diatur dalam UU ini. Menurut Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi ada beberapa point yang menjadi diskusi dan isu hangat di kalangan pemuda terkait dengan UU ini. Selain mengenai batasan umur, pembentukan komite dan pendanaan isu lain adalah semangat dan kontekstualisasi yang melandasi UU ini.

“Semangat dan kontekstualisasi yang melandasi UU ini hendaknya adalah semangat ideal guna membangun pemuda dan bangsa ini,” katanya. (len)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Olahraga Haedar Nashir

ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung

Sidoarjo, Haedar Nashir. Bencana puting beliung yang melanda Desa Terungkulon dan Keboharan Krian beberapa hari lalu, masih menyisahkan rasa trauma bagi warga terutama bagi anak-anak. Untuk mengobati rasa itu, Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Sidoarjo melakukan pemulihan psikis anak-anak korban puting beliung di Desa Terung Kulon dengan memberikan motivasi spiritual dan mengajak mereka bermain, Ahad (19/2).

ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung

Ketua PC ISNU Sidoarjo, Sholehuddin menyampaikan bahwa sedikit anak-anak yang tidak masuk sekolah karena masih trauma atas kejadian yang mencekam beberapa waktu yang lalu. Karena itu, PC ISNU Sidoarjo memutuskan program pemulihan kejiwaan para korban, mengingat hal ini belum ada yang menangani, padahal ini persoalan serius.

Ia menegaskan bahwa, setiap musibah itu datang dari Allah SWT. Sebagai hamba-Nya yang beriman, harus menerima ujian itu dengan penuh kesabaran, karena Allah bersama dan cinta orang-orang yang sabar.

"Yakinlah, ada hikmah di balik setiap musibah. Semoga dengan kesabaran kita, Allah SWT membalas dengan berlipat lipat pahala dan kebaikan," katanya.

Berdasarkan masukan dari berbagai pihak, selain logistik, kesehatan dan recovery bangunan yang rusak adalah pemulihan psikis korban yang alami trauma. Oleh sebab itu, kegiatan yang digagas oleh ISNU Sidoarjo ini mendapatkan respon positif dari anak-anak terutama Kepala Desa setempat.

Haedar Nashir

Kegiatan pemulihan psikis akibat trauma pasca bencana yang bertajuk Ceria Bersama ISNU itu diikuti sekitar 70 anak. Mereka benar-benar menikmati kegiatan dengan penuh keceriaan. Pasalnya, tim trauma center ISNU yang dikoordinir oleh M Nuh, bersama anggotanya, menyajikan berbagai permainan, dari tanpa alat sampai dengan permainan dengan menngunakan alat. Tepuk tanga dengan variasi, latihan konsentrasi, mencari kelompok, dan lain sebagainya.

Di akhir sesi, acara ditutup dengan istighfar dan doa sebagai refleksi. Dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan berupa alat-alat tulis dan snack, yang diserahkan oleh Ketua ISNU Sidoarjo, Sholehuddin dan diserahkan kepada tokoh pemuda Desa Terung Kulon, Dartok yang mewakili Kepala Desa setempat. Dengan diiringi Shalawat Badar, seluruh bingkisan diserahkan oleh PC ISNU Sidoarjo kepada perwakilan kades. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir

Bila Santri Menjadi Dokter Hewan

Jombang, Haedar Nashir. Terbayang bagaimana merawat anjing? Hewan yang divonis sebagai hewan najis ini juga makhluk Allah yang layak untuk disayangi. Kehadiran dokter hewan yang berlatarbelakang pesantren mampu menjawab kebutuhan ini.

Menemukan klinik hewan “Fauna” tidaklah sulit karena berada di tengah kota, tepatnya Jalan Delima D2 Perumahan Jombang Permai Jombang Jawa Timur. Lingkungan yang relatif tenang, menjadi nilai lebih bagi pet shop ini dalam melayani sejumlah hewan peliharaan yang ada.

Bila Santri Menjadi Dokter Hewan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bila Santri Menjadi Dokter Hewan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bila Santri Menjadi Dokter Hewan

Layanan Terpadu

Haedar Nashir

Di gerai ini ada banyak keunggulan yang dimiliki. Tidak semata jasa jual beli hewan peliharaan berbagai jenis. Ada jasa mengawinkan hewan, penitipan hewan peliharaan, titip opname, operasi, layanan kesehatan, pakan hewan, berbagai akeseoris hingga vaksinasi. “Semua bisa dilayani di tempat kami,” kata drh Wiwik Idayanti kepada beberapa waktu berselang.

Haedar Nashir

Dokter hewan kelahiran Jombang 17 Mei 1985 ini telah memiliki jam terbang serta pengalaman yang demikian tinggi serta luas. Sebelum berpraktik sendiri, alumnus Universitas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya ini telah “magang” lumayan lama di salah satu pet shop terkenal di kota santri.

“Sebelumnya saya juga melayani panggilan ke sejumlah kota yakni Jombang dan Mojokerto hingga Kertosono untuk mengasah pengetahuan, pengalaman dan keterampilan dalam dunia hewan,” kata ibu satu anak ini. Dengan bermodalkan motor dan alat kesehatan hewan, dokter Wiwik, sapaan akrabnya rela menaklukkan jalanan.

Hal itu dia lakukan bukan semata mencari materi, namun yang terpenting adalah memberikan wawasan dan gambaran yang benar dalam merawat hewan peliharaan. Karena istri dari Mohammad Sholihun ini sadar bahwa pemahaman orang terhadap hewan masih sangat minim. “Kalaupun sudah memiliki pengetahuan, bisa saling berbagi,” tandasnya.

Bagi alumnus Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat Walisongo Tebuireng ini, merawat hewan tidak ubahnya dengan memperlakukan diri sendiri. “Jadi harus dengan kasih sayang,” terangnya. Dan jiwa menyayangi hewan ini telah mendarah dan mendaging di dokter Wiwik. Tidak jarang ia meneteskan air mata dan merasa sangat sedih tak terkira bila mendapatkan hewan yang tidak terawat dengan baik.

“Hewan-hewan itu jangan hanya dipeluk atau digendong saat sehat,” ungkapnya. “Ketika sakit, juga butuh kasih sayang,” lanjutnya. Karena itu ia sangat menyayangkan bila ada perbedaan perlakukan dari pemilik hewan saat sakit dan ketika sehat.

Ada baiknya, warga Jombang dan sekitarnya bila ingin mendapatkan gambaran dan informasi mendalam perihal hewan kesayanangan, bisa singgah di pet shop ini. Apalagi cuaca di sekitar kita demikian tidak menentu. “Merawat hewan dengan cuaca yang terkadang cepat berubah seperti sekarang ini perlu pengetahuan khusus,” ungkapnya.

Bagaimana dengan hewan yang sudah diklam sebagai hewan najis seperti anjing peliharaan? Di klinik ini tetap menerima perawatan dan konsultasi seputar anjing. “Anjing juga hewan yang butuh kasih sayang seperti hewan lain,” terangnya. Namun ia juga menyadari bahwa ada perlakuan khusus saat menerima anjing. “Saya harus mengenakan pakaian tertutup demi menghindari sentuhan secara langsung dengan anjing,” katanya. Yang pasti, khsusus untuk anjing, apa perlakuan ekstra. “Lebih hati-hati saja,” sergahnya.

Sembari membelikan asupan makanan untuk hewan di gerai yang buka sejak jam 09.00 hingga 16.00 ini, dokter Wiwik sangat terbuka untuk menerima konsultasi bagi khalayak yang memiliki hewan apa saja. Ia juga dengan senang hati akan melakukan pemeriksaan terhadap hewan yang dibawa.

“Seperti temperatur, suhu tubuh, gerakan nafas, serta kondisi organ tubuh yang lain, termasuk perilaku hewan dapat diperiksakan di sini,” tandasnya. Bila kondisi hewan ada masalah, tidak selamanya harus opname. Dengan perawatan biasa dan sesuai arahan darinya, hewat dapat dibawa pulang.

“Namun bila terpaksa harus opname, maka pemilik dapat menitipkannya di tempat kami,” katanya. Dengan ruangan yang layak, luas dan asisten yang menempati pet shopnya, dapat diyakinkan hewan akan mendapat perawatan terbaik.

Setelah jam 4 sore, dokter Wiwik pulang ke rumahnya di daerah Segodorejo Sumobito Jombang. “Di rumah, saya juga menerima konsultasi dan perawatan hewan,” terangnya. Sehingga dengan demikian pebisnis ayam ini bisa merasakan totalitas di dunia hewan peliharaan. “Untuk berbagi ilmu dengan tetangga sekitar,” pungkasnya. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Humor Islam Haedar Nashir

Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah

Jember, Haedar Nashir. Jangan pernah berharap untuk menjadi pemenang bila hidup ini tak pernah dipertaruhkan. Kemenangan hanya milik orang yang bertarung (berjuang). Kalimat bijak tersebut muncul dari pidato Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch. Eksan saat memberikan pengarahan dalam acara pembukaan Porseni ke-XIV PAC IPNU-IPPNU Wuluhan, Ahad (18/12).

Menurut Eksan, berjuang adalah sebuah keniscayaan. Kemenangan sejatinya adalah anugerah dari Allah yang diberikan bersamaan dengan usaha yang dilakukan manusia sebagai tebusan terhadap jerih payah dan perjuangannya. “Karena itu jangan pernah menyerah untuk menjadi yang terbaik, termasuk dalam event Porseni ini ,” ucapnya.

Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah

Penulis buku “Kiai Muchit, Kiai Kelana” itu menambahkan, bahwa hidup ini esensinya adalah kompetisi tanpa akhir. Selama nyawa masih dikandung badan, selama? itu pula manusia harus berkompetisi untuk menjaga eksistensinya. Untuk meraih hidup yang mapan, bahkan untuk sekadar mempertahankan hidup saja, dibutuhkan usaha yang tidak ringan.

“Karena itu, bila kita ingin sukses, jangan pernah berhenti berjuang. Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Justru kegagalan adalah 50 persen kesuskesan. Dengan kata lain kegagalan adalah sukses yang tertunda,” urainya.

Dalam kesempatan tersebut, Eksan sedikit bernostalgia saat-saat? dirinya menjadi aktifis IPNU Jember sekian tahun yang lalu. Ia bercerita soal keikut-sertaan dirinya dalam Porseni IPNU-IPPNU tahun? 1994 di Yayaan Pendidikan? Ma’arif Wahid Hasyim, Balung. Ketika itu, Eksan berhasil meraih juara 2 dalam lomba pidato.

Haedar Nashir

“Saya waktu itu utusan Ancab IPNU Silo, dan alhamdulillah berhasil. Sampai sekarang piala lomba itu masih ada dan terawat di rumah saya,” ungkap politisi Partai Nasdem tersebut.

Semua kegiatan Porseni tersebut dihelat? di Yayasan Pondok Pesantren Bintang Sembilan (Yaspibis) Jl. Pahlawan 127, Desa Dukuhdempok, Wuluhan, dan akan berlangsung hingga empat hari ke depan.? (aryudi a. razaq/abdullah alawi) ?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir

Kamis, 23 November 2017

Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak

Para tokoh atau ilmuwan yang berhasil “mengubah dunia” tidak hanya terlahir dari negara-negara Barat, dan bukan hanya berasal dari orang-orang non-Muslim. Beberapa ilmuwan yang berhasil meninggalkan temuan-temuan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia juga berasal dari orang-orang Islam. Ketika kita membuka kembali lembaran sejarah tentang kemajuan umat Islam klasik, di sana kita akan menemukan bahwa Kota Baghdad merupakan pusat segala ilmu yang dinahkodai oleh orang-orang Islam, beberapa ilmuwan Muslim muncul dan meninggalkan beberapa karya. Akan tetapi, pada tahun 1258 Bangsa Mongol menyerang Baghdad, memporak-porandakan segala penjuru Kota Baghdad, perpustakaan dibakar, karya-karya ilmuwan Muslim yang dihasilkan bertahun-tahun pun lenyap seketika, sebagian mereka bawa ke negara-negara Eropa untuk dipelajari. Sebelum peristiwa itu, Eropa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemajuan di dunia Islam.

Beberapa ilmuwan Muslim berikut karya-karya sangat penting untuk kita ketahui, selain menambah wawasan, hal ini juga dapat memacu semangat belajar kita, terutama generasi muda. Ada beberapa penulis yang mengarsipkan beberapa hasil temuan para ilmuwan Muslim dalam sebuah buku, yang bisa dibaca dan dipelajari oleh beberapa kalangan, akan tetapi terkadang tidak dapat dipahami oleh anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Lain halnya dengan buku yang satu ini, buku ini memang didesain dan dirancang khusus untuk anak-anak Muslim. Di dalamnya disertakan aneka macam gambar dengan format full color, sehingga menambah gairah si kecil untuk segera membaca.

Buku ini berisi riwayat hidup 25 tokoh ilmuwan Muslim berikut juga penemuannya dalam berbagai bidang, salah satunya adalah Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Sina, yang dikenal dengan Ibnu Sina dan di Barat disebut Avicenna. Ibnu Sina disebut-sebut sebagai gurunya para dokter lewat karyanya yang berjudul al-Qanun fi ath-Thibb, kitab ini memuat beberapa hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan segala ilmu kedokteran, saking mujarabnya kitab ini dijadikan rujukan dan dipelajari oleh semua dokter dunia. Pada awalnya, Ibnu Sina ditugaskan untuk mengobati penyakit yang diderita oleh salah satu pejabat di wilayahnya, sang pejabat itu sudah putus asa sebab tidak ada dokter yang bisa mengobatinya, hingga akhirnya Ibnu Sina diberikan kesempatan untuk mencoba mengobati sang pejabat, dan dengan caranya sendiri, Ibnu Sina berhasil menyembuhkan penyakit pejabat itu. Dari peristiwa ini, keahlian Ibnu Sina dalam menyembuhkan penyakit menjadi terkenal, hingga suatu ketika beliau dipanggil untuk mengobati Gubernur Bukhara, Nuh bin Mansur yang sedang jatuh sakit, dan Ibnu Sina pun berhasil menyembuhkannya, atas jasanya beliau dilantik sebagai dokter istana dan diperkenankan untuk menggunakan perpustakaan kerajaan yang menyimpan berbagai karya, (halaman 72-74).

Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak

Tidak menutup kemungkinan, ilmu-ilmu kodekteran yang kita pelajari saat ini—salah satunya—merupakan warisan dari sang Guru Dokter, sehingga dengan hal ini kita akan tahu bahwa mayoritas dokter yang ada di dunia ini—secara tidak langsung—berguru kepada orang Islam. Dan sayang sekali ketika kita dan generasi kita tidak tahu tentang hal yang luar biasa ini.

Selain Ibnu Sina yang terkenal dalam ilmu kedokteran, ada juga ilmuwan Muslim yang berhasil meninggalkan temuan yang sangat bermanfaat bagi seluruh manusia, yaitu Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, beliau berhasil menemukan angka “nol”. Sepintas memang terlihat sepele, akan tetapi coba kita bayangkan bagaimana kita bisa membuat angka puluhan, ratusan, ribuan, atau jutaan, tanpa adanya angka nol. Lewat buku pertamanya al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan), al-Khawarizmi  memperkenalkan angka nol. Dengan diperkenalkannya angka nol, kesulitan bisa diatasi dan permasalahan pun berhasil dipecahkan, angka nol merupakan sumbangan tersebar dalam dunia “hitung-menghitung” (matematika). Dunia patut berterima kasih pada ilmuwan yang satu ini, karena dengan adanya angka nol, bilangan 217 dan 2017 berhasil dibedakan, (halaman 12-13).

Haedar Nashir

Generasi kita selayaknya tahu bahwa orang Islam itu tidak jumud, statis, dan apalagi bodoh, para ilmuwan yang berhasil mengubah dunia juga terlahir dari Islam, dan sebagian terkumpul dalam buku “Ilmuwan Muslim Pengubah Dunia” ini, dengan bahasa yang sangat sederhana, padat, dan ringkas, Norwita Ariany menghadirkan buku ini khusus dibaca oleh anak-anak Muslim.

DATA BUKU

Judul : Ilmuwan Muslim Pengubah Dunia

Penulis : Norwita Ariany

Penerbit : Mizan

Haedar Nashir

Cetakan : -

ISBN : 978-602-2421-505-2

Tebal : 116 halaman

Peresensi: Saiful Fawaitm,  mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Berita, Amalan Haedar Nashir

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Popularitas shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia lantas bersih dari para penolaknya? Ternyata tidak. Sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat lumrah dalam kehidupan beragama.

Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah alias bid’ah. Sebagian yang lain mengahakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah.

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. Yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian?

Kita simak dulu redaksi shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut:

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Perhatian para penuduh shalat Nariyah mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada empat kalimat berurutan di bawah ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kalimat-kalimat itu pun dirinci lalu diterjemahkan begini:

? ? ?

Artinya: "Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad."

Menurut para penuduh itu, empat kalimat tersebut sarat kesyirikan karena secara terjemahan mengandung pengakuan bahwa Nabi Muhammad memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Allah, seperti bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah.



Bantahan dari Ilmu Sharaf dan Nahwu Dasar


Shalawat Nariyah atau disebut juga shalawat Tâziyah atau shalawat Tafrîjiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Mufti Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko.

Jika shalawat Nariyah dianggap syirik, ada beberapa kemungkinan. Pertama, para ulama pengamal shalawat itu tak mengerti tentang prinsip-prinsip tauhid. Ini tentu mustahil karena mereka besar justru karena keteguhan dan keluasan ilmu mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam. Kedua, pengarang shalawat Nariyah, termasuk para pengikutnya, ceroboh dalam mencermati redaksi tersebut sehingga terjerumus kepada kesyirikan. Kemungkinan ini juga sangat kecil karena persoalan bahasa adalah perkara teknis yang tentu sudah dikuasai oleh mereka yang sudah menyandang reputasi kelilmuan dan karya yang tak biasa. Ketiga, para penuduhlah yang justru ceroboh dalam menghakimi, tanpa mencermati secara seksama dalil shalawat secara umum, termasuk juga aspek redaksional dari shalawat Nariyah.

Dilihat dari segi ilmu nahwu, empat kalimat di atas merupakan shilah dari kata sambung (isim maushul) ? yang berposisi sebagai na‘at atau menyifati kata ?.

Untuk menjernihkan persoalan, mari kita cermati satu per satu kalimat tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Pertama, ? ? ? .




Dalam kacamata ilmu sharaf, kata ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?. Bentuk ini mengikuti wazan ? yang memiliki fungsi/faedah ? ? (dampak dari ?). Demikian penjelasan yang kita dapatkan bila kita membuka kitab sharaf dasar, al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah, karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali.

Contoh:

? ? ?

“Saya memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu.” Dengan bahasa lain, kaca itu pecah (?) karena dampak dari tindakan subjek “saya” yang memecahkan.

Contoh lain:

? ? ? ?

“Allah telah melepas beberapa ikatan (kesulitan) maka lepaslah ikatan itu.” Dengan bahasa lain, ikatan-ikatan itu lepas karena Allahlah yang melepaskannya.

Di sini kita mencermati bahwa wazan ? mengandaikan adanya “pelaku tersembunyi” karena ia sekadar ekspresi dampak atau kibat dari pekerjaan sebelumnya.

Kalau ? ? ? dimaknai bahwa secara mutlak Nabi Muhammad melepas ikatan-ikatan itu tentu adalah kesimpulan yang keliru, karena tambahan bihi di sini menunjukkan pengertian perantara (wasilah). Pelaku tersembunyinya tetaplah Allah—sebagaimana faedah ? ?.

Hal ini mengingatkan kita pada kalimat doa:

? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ?

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah ikatan/kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Kedua, ? ? ?. Senada dengan penjelasan di atas, ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?, yang juga mengikuti wazan ?. Faedahnya pun sama ? ? (dampak dari ?).

Ketika dikatakan ? ? ? maka dapat diandaikan bahwa ? ? ? ?. Dengan demikian, Allah-lah yang membuka atau menyingkap bencana/kesusahan, bukan Nabi Muhammad.

Ketiga, ? ? ?. Kata ? adalah fi’il mudlari‘ dalam bentuk pasif (mabni majhûl). Dalam ilmu nahwu, fi’il mabni majhul tak menyebutkan fa’il karena dianggap sudah diketahui atau sengaja disembunyikan. Kata ? menjadi naibul fa’il (pengganti fa’il). Ini mirip ketika kita mengatakan “anjing dipukul” maka kita bisa mengandaikan adanya pelaku pemukulan yang sedang disamarkan.

Dengan demikian kita bisa mengandaikan kalimat lebih lengkap dari susunan tersebut.

? ? ?

“Allah akan mengabulkan kebutuhan-kebutuhan.”



Keempat, ? ? ?




Penjelasan ini juga nyaris sama dengan kasus ? ? ?. Singkatnya, Nabi Muhammad bukan secara mutlak memiliki kemampuan memberikan keinginan-keinginan karena Allah-lah yang melakukan hal itu yang dalam kalimat tersebut disembunyikan. Fa’il tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui.

Alhasil, dapat dipahami bahwa tuduhan syirik atas kalimat-kalimat itu sesungguhnya keliru. Sebab, kemampuan melepas kesulitan, menghilangkan bencana/kesusahan, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan-keinginan secara mutlak hanya dimiliki Allah. Dan ini pula yang dimaksudkan pengarang shalawat Nariyah, dengan susunan redaksi shalawat yang tidak sembrono. Hanya saja, dalam redaksi shalawat Nariyah tersebut diimbuhkan kata bihi yang berarti melalui perantara Rasulullah, sebagai bentuk tawassul.

Bahasa Arab dan bahasa Indonesia memang memiliki logika khas masing-masing. Karena itu analisa redaksi Arab tanpa meneliti struktur bakunya bisa menjerumuskan kepada pemahaman yang keliru. Lebih terjerumus lagi, bila seseorang membuat telaah, apalagi penilaian, hanya dengan modal teks terjemahan. Wallahu a’lam. (Mahbib Khoiron)

(Baca juga: Menjawab Penggugat Shalawat Nariyah)


Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Cerita Haedar Nashir

Silaturrahim Kiai dan Alumni Pesantren Krapyak Bahas Masa Depan NU

Bantul, Haedar Nashir. Pada acara Silaturrahim Kiai-Alumni Pesantren Krapyak dalam rangka Menyambut Haul ke-28 Al-Maghfurlah Kiai Ali Maksum, Ahad (5/2), mengemuka tentang rasa optimis terhadap NU di masa depan.?

Acara yang berlangsung di kompleks Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, DIY tersebut menghadirkan tiga pembicara yakni, KH As’ad Said Ali, KH Zaim Maksum, dan KH Masyhuri Malik.?

Silaturrahim Kiai dan Alumni Pesantren Krapyak Bahas Masa Depan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturrahim Kiai dan Alumni Pesantren Krapyak Bahas Masa Depan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturrahim Kiai dan Alumni Pesantren Krapyak Bahas Masa Depan NU

Mendapatkan kesempatan pertama untuk berbicara, Kiai As’ad Said Ali mengemukakan tentang fakta terkini organisasi NU.?

“Ini ada anak muda NU yang melakukan penelitian di Alvara menemukan fakta bahwa NU merupakan organisasi paling dikenal dan masyarakat Indonesia banyak yang berafiliasi kepada NU,” kata Kiai As’ad di hadapan ratusan peserta yang hadir.?

Ke depan, lanjut Kiai As’ad, saya tetap optimis, NU akan tetap ada di masa depan, meski kini selalu coba dihancurkan oleh kelompok-kelompok yang tidak suka terhadap NU. Utamanya yang ingin menguasai NKRI, karena NU adalah penjaga NKRI.?

Haedar Nashir

Senada dengan Kiai As’ad Said Ali, Kiai Zaim Maksum, cucu Kiai Maksum Lasem juga optimis NU bisa bertahan dan tetap istiqomah menjaga NKRI.

Haedar Nashir

“Saya optimis, NU akan selalu ada tetapi memang ada beberapa hal yang harus dibenahi, misalnya kemandirian organisasi,” tandas Kiai Zaim.?

Sementara itu, KH Masyhuri Malik (mantan Ketua LAZISNU Pusat) mengutip Kiai As’ad, mengemukakan gagasan tentang perlunya sebuah wadah yang bisa menampung orang-orang NU yang tidak masuk struktural.?

“Orang-orang NU yang menjadi tentara, kemudian pebisnis, dan anak-anak muda yang ahli IT kan tidak mungkin masuk kepengurusan. Nah makanya, perlu ada sebuah wadah yang bisa menampung mereka. Kita harus memaksimalkan semua potensi yang kita miliki,” tegasnya. (Nur Rokhim/Fathoni)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Kyai, Lomba Haedar Nashir