Jumat, 08 Desember 2017

GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa

Asahan, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Utara (Sumut) Mulia Banurea meminta seluruh pimpinan cabang (PC) dan pimpinan anak cabang (PAC) se-Sumut agar menggiatkan kaderisasi. Sebagai realisasi program PW GP Ansor Sumut, ia mendorong kader organisasi pemuda NU ini ada di setiap desa.

GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa

"Ansor adalah elemen pemuda yang berada di garda terdepan dalam mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, kader Ansor harus ada di setiap desa guna menjaga keutuhan NKRI," kata Mulia saat menjadi narasumber pada Latihan Kader Dasar (PKD) yang digelar PC GP Ansor Kabupaten Asahan, di Pesantren Darul Hikmah Kisaran, Asahan, Sabtu (31/1).

Mulia menegaskan, untuk bisa berjuang, kader Ansor sebagai kader muda Nahdlatul Ulama (NU) harus mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental. Karena itu, seluruh kader Ansor harus mengikuti PKD agar mengetahui nilai-nilai dasar perjuangan organisasi ini.

Haedar Nashir

"Kader Ansor harus menjaga komitmen terhadap ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Prinsip Aswaja antara lain bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan, terutama dalam hal-hal yang bersifat furuiyah, sehingga tidak terjadi perasaan saling terganggu, saling memusuhi, dan sebaliknya akan tercipta persaudaraan yang islami (ukhuwwah islâmiyyah)," katanya.

Haedar Nashir

Hadir dalam acara itu, Rais Syuriah PCNU Asahan? H Ahmad Fadelah Pane, Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut Armansyah Harahap, Sekretaris Parulian Siregar, serta unsur pengurus PW GP Ansor Sumut di antaranya M Uliansyah, Jasmi Assayuti, Dedi Hermanto Sitorus, Ketua Caretaker PC Ansor Asahan Safrizal, dan Ketua Panitia Budi Suherman.

?

Sedangkan Rais Syuriah PC NU Asahan H Ahmad Fadelah Pane mengatakan, mazhab Ansor adalah Imam Syafii yang Aswaja, bukan Imam Samudra yang tidak mengakui NKRI.

Ketua Caretaker PC NU Asahan melaporkan, PKD yang digelar 30 Januari sampai 02 Februari itu dirangkai dengan pembentukan PAC di sejumlah kecamatan di Asahan, dan konferensi cabang (konfercab) GP Ansor Asahan. (Hamdani/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Tokoh Haedar Nashir

LDKM Unusida Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan

Mojokerto, Haedar Nashir

Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) angkatan ke II tahun akademik 2015-2016 digelar di Hotel New Star Trawas Mojokerto, Jawa Timur, mulai tanggal 15-17 Januari 2016.

LDKM Unusida Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
LDKM Unusida Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

LDKM Unusida Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan

LDKM Unusida bertajuk "Mengokohkan Pemikiran Aswaja Mencetak Pemimpin Masa Depan" itu diikuti sekitar 214 peserta dari semua fakultas.

Menurut Presiden Mahasiswa Unusida Sofyan Pandu, LDKM tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pasalnya, LDKM tahun ini semuanya ditangani Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unusida bekerja sama dengan IPNU-IPPNU serta PK PMII Unusida. Sedangkan tahun lalu, pemateri LDKM adalah trainer profesional Star Obi.

Haedar Nashir

"Apa yang sudah panitia dapatkan di LDKM tahun lalu sangat bermanfaat sehingga di tahun ke II tidak perlu mendatangkan trainer profesional lagi," kata Pandu, Sabtu (16/1).

Haedar Nashir

Pandu menjelaskan bahwa pengalaman mengikuti LDKM tahun pertama memberi manfaat di LDKM tahun ini. Karena, panitia yang dulu merupakan peserta, sekarang jadi panitia dan mempu mengonsep acara yang tidak kalah dengan trainer profesional.

BEM Unusida, lanjut dia, menyiapkan materi yang sebagian besar berisi tentang tantangan masa depan pemimpin dan pemecahan masalah.Panitia juga menyiapkan perlengkapan dan peralatan outbond. Seminggu sebelum acara, mereka sudah merancang dan membuat alat-alat untuk kebutuhan acara. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir

Kamis, 07 Desember 2017

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Jakarta, Haedar Nashir. Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menegaskan bahwa menjadi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang satu adalah takdir Tuhan yang tidak bisa diingkari, demikian pula keragaman suku, agama maupun bahasanya.?

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

"Kita bangsa yang satu, tidak boleh kita melawan takdir Tuhan itu. Ini bukanlah persoalan benar atau tidak benar, tetapi ini adalah masalah yang tertanam dalam jiwa kita masing-masing yang di dalam nadi mengalir darah Indonesia," jelas Gus Ishom lewat akun Facebook miliknya, Jumat (28/10).

Kesamaan dalam kebangsaan ini, lanjutnya, mengharuskan kita bertanggungjawab untuk dengan hati-hati merawatnya dan sabar menambal setiap keretakan karena perbedaan dan memerangi setiap apa yang berpotensi memecah belahnya.?

"Pengingkaran terhadap kehadiran bangsa ini adalah perbuatan dosa dan penyimpangan dari akal sehat dan kebenaran ajaran agama," tulisnya.

Haedar Nashir

Sejalan dengan tujuan agama yang ingin menciptakan keharmonisan menurutnya, maka bangsa yang berarti keinginan untuk hidup bersama pun diawali dengan keharmonisan setiap pribadi pemeluknya. Artinya, bangsa ini hanya bisa sehat dan harmonis apabila setiap elemennya berakal sehat, menjadi bangunan yang mengokohkan satu sama lain serta saling terkoneksi dengan baik dan tertib.?

Lebih-lebih agama sendiri lanjutnya, mengajarkan keragaman dan dengan tegas mengharamkan segala bentuk perpecahan. Lebih jauh lagi bahwa diciptakannya perbedaan itu bukanlah untuk dipertentangkan atau untuk saling menghinakan, melainkan bertujuan untuk saling melengkapi, memperindah dan membentuk keharmonisan.

"Keragaman agama yang dianut oleh bangsa kita pun tidak terlepas dari kehendak-Nya. Masing-masing penganut agama mengimani kebenaran agama yang dianutnya, sehingga tidak dibenarkan memaksakan kebenaran menurut "versinya" kepada orang lain yang berbeda agamanya. Inilah pangkal kerukunan untuk mewujudkan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ingatnya.

Tujuan bersama dari seluruh anak bangsa yang sangat banyak perbedaannya ini adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umum, yaitu kesejahteraan, kebaikan dan keadilan tanpa kecuali yang meliputi segenap bangsa Indonesia.?

Haedar Nashir

Untuk meraih tujuan ini menurutnya, diperlukan kematangan jiwa kebangsaan (nasionalisme) dari kita semua, selain tentu butuh pengelolaan yang super kuat. Karenanya, solidaritas kemanusiaan dan kemauan untuk belajar hidup bersama dengan menjunjung tinggi keadaban harus terus menerus diperjuangkan. Sehingga keragaman pun terus menerus dapat terlindungi. Penyeragaman terhadap apa yang sudah ditakdirkan berbeda adalah perbuatan sia-sia.?

"Kedangkalan dalam memahami maksud agama dalam konteks kehidupan berbangsa, seringkali menjadi penyebab sebagian orang beragama dengan klaim kebenarannya sendiri memaksakan kehendaknya kepada orang lain, sehingga menimbulkan kegaduhan sosial yang berpotensi mengancam keutuhan hidup harmonis bersama," tandasnya.

Ia mencontohkan sebagian muslim misalnya masih menganggap non muslim atau sebaliknya dari warga negara bangsa ini sebagai musuh yang wajib dibenci, dimusuhi atau halal dialirkan darahnya. Pandangan ini jelas keliru karena merusak keharmonisan dan menghalangi tercapainya tujuan hidup bernegara.?

Menurutnya yang patut menjadi musuh bersama warga negara ini, baik muslim atau non muslim setidaknya ada tiga. Pertama, orang yang dzalim atau siapa saja yang tidak bersikap adil. Seperti ketidakadilan rakyat terhadap pemerintahan dengan keengganan untuk menaatinya atau ketidakadilan pemerintah terhadap rakyatnya dengan tindakan yang tidak mengacu kepada kemaslahatan rakyat.?

Kedua, syetan dari jenis manusia maupun jin yang mengobarkan saling benci, permusuhan, berbuat kerusakan dan pertumpahan darah, dan ketiga, hawa nafsu yang bercokol pada jiwa manusia yang selalu memerintahkan kepada keburukan.?

"Agama apa pun yang kita anut, hendaknya kita tetap bersatu untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, kemanusiaan dan keberadaban. Hendaklah kita selalu bijak dalam menyelesaikan setiap persolan yang dihadapi oleh bangsa ini," pungkasnya.

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, PonPes, Makam Haedar Nashir

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia

Jakarta, Haedar Nashir. Grand Syekh Al-Azhar melalui delegasinya Prof DR Abdul Mun’im Fuad mengapresiasi gerakan Aswaja yang digelorakan Nahdlatul Ulama. Prinsip-prinsip beragama NU yang terus bersambung hingga Rasulullah SAW itu, menurutnya, sangat kontekstual dengan kondisi dunia kekinian.

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia

“Toleransi nilah yang dibutuhkan orang dunia sekarang ini. Inilah manhajul (jalan hidup) Islam sesungguhnya,” kata Mun’im Fuad menyampaikan salam Grand Syekh Al-Azhar dalam bahasa Arab di Jakarta, Rabu (27/5) siang.

Di hadapan pengurus lengkap harian Syuriyah danTanfidziyah PBNU, Mun’im Fuad yang memimpin rombongan Al-Azhar Mesir itu menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan tathorruf (ekstrem), irhab (teror), ifroth (berlebihan), tafrith (abai), dan tasyaddud (kekerasan).

Haedar Nashir

Qimatuna (nilai keberagamaan kita) itu terletak pada wasuthuna (kemoderatan kita) itu sendiri. Singkat kata, Al-Azhar sepakat dan mendukung gerakan tawasuth NU yang terus mengglobal,” kata Mun’im Fuad menutup sambutannya.

Sementara Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebutkan jumlah agama resmi, keragaman suku, dan sejumlah paham politik yang berkembang di Indonesia.

Haedar Nashir

“NU sebagai ormas muslim terbesar di Indonesia akan terus mengawal keragaman dalam bingkai asas Pancasila dan persatuan NKRI,” kata Kang Said yang juga menggunakan bahasa Arab. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Habib, Cerita Haedar Nashir

Rabu, 06 Desember 2017

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar

Jakarta, Haedar Nashir. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menggandeng Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) untuk memberikan pemahaman dan pencegahan paham ektremisme di kalangan pelajar Islam se-Jabodetabek.

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar

"Pelajar perlu pemahaman pencegahan paham ISIS (Negara Islam Suriah dan Irak) dan ideologi transnasional lainnya karena para teroris sudah melirik kalangan pelajar untuk dijadikan pengantin. Terutama kalangan Rohis dan LDK sekolah negeri," kata Ketua Umum PP IPNU Khairul Anam Harisah.

Ia mengatakan? hal itu saat memberikan kata sambutan pada “Workshop dan Komitmen Bersama Pencegahan Paham ISIS di kalangan pelajar Islam se-Jabodetabek antara PP IPNU dengan BNPT” di Jakarta Selatan, Rabu (12/8).

Haedar Nashir

Dalam acara bertema “Pelajar Damai Cinta Indonesia” itu, Anam mengatakan pelajar sebagai generasi penerus bangsa perlu menanamkan dalam dirinya cinta tanah air. Selain itu, lanjutnya, mengetahui sejarah kemerdekaan dan masuknya Islam ke Indonesia tidak kalah penting, agar tidak mudah terpengaruh dengan paham ISIS.

"Jangan lupa penyebaran Islam di Indonesia itu tanpa pertumpahan darah dan tanpa peperangan. Hari ini masak kita mau disuruh perang dengan saudara sesama muslim, untung saja yang jadi nabi bukan orang ISIS pasti kita masih dalam kegelapan," imbuh Anam semangat.

Haedar Nashir

Ia menambahkan agar pelajar bersyukur ada di Indonesia karena ulamanya moderat dan berhasil merumuskan hubungan negara dengan agama melalui ideologi bangsa yakni Pancasila. Sementara, lanjutnya, di Timur Tengah ada ribuan ulama, tiap bulan ratusan kitab diterbitkan, tapi karena tidak punya nasionalisme yang kuat, muncullah gerakan Negara Islam Suriah dan Irak seperti sekarang.

"Mari kita sebagai generasi penerus bangsa dan agama menjadikan Islam rahmatan lil alamin bukan Islam yang marah, apalagi Islam yang tidak toleran. Jika ada yang mengajak bergabung dengan ISIS tolak dan segera lapor ke pihak berwenang," tegasnya.

Dalam workshop ini hadir sebagai pembicara Deputi I BNPT Agus Surya Bakti, Perwakilan Kemenag Hilmi Muhammadiyah, KPAI Asrorun Niam dan Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Prof. Dr. Bambang Pranowo.

PP IPNU dengan BNPT rencananya akan melakukan roadshow pencegahan ISIS di 7 wilayah yang masih dianggap subur gerakan radikal seperti Cirebon, Solo, Lamongan, Mataram, Banjarmasin dan Makassar. PP IPNU dalam kesempatan yang sama akan mendeklarasikan gerakan Pelajar Islam Nusantara (Pintar) di 7 wilayah tersebut. (Red: Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Berita, Habib Haedar Nashir

Ini Cara Jadi Orangtua Pintar untuk Generasi Millenium

Semarang, Haedar Nashir - Mengasuh anak merupakan kewajiban orang tua. Khususnya untuk ibu menjadi madrasah (tempat belajar) pertama bagi anak-anaknya. Inilah yang menjadi konsen Pengurus Wilayah Fatayat Jateng dengan mengadakan seminar nasional Digital Parenting Peran Orang Tua dalam Menghadapi Era Digital di Hotel Semesta, Semarang, Ahad (26/3).

Internet telah mengubah pola mendidik anak. Mulai dari pendidikan formal, kebudayaan, sosial hingga bermain. Gawai tak bisa lepas dari anak-anak sehingga orang tua harus memerhatikan kekerasan, penipuan, pornografi, perjudian dan penculikan yang ada dalam dunia maya. Dalam digital parenting perlu kesadaran untuk mengerti dunia anak, dididik sesuai dunianya.

Ini Cara Jadi Orangtua Pintar untuk Generasi Millenium (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Jadi Orangtua Pintar untuk Generasi Millenium (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Jadi Orangtua Pintar untuk Generasi Millenium

"Konten yang bermanfaat dan mencerdaskan menjadi pilihan bagi orang tua," kata Pustekkom Kemendikbud H Hasan Habibie.

Haedar Nashir

Selain itu orang tua perlu memahami norma-norma yang ada, komunikasi, eksplorasi masalah, lingkungan pertemanan, memberi contoh kebaikan dan tahu kapan harus menghentikan kapan untuk berinternet. Di sisi yang lain, perhatian penuh pada anak menjadi faktor penting untuk mengikuti menyesuaikan kembang dan tumbuh anak.

"Kita harus memperlakukan anak sebagai subyek bukan obyek. Ketika anak tahu lebih dulu daripada orang tua untuk akses apapun, kita sebagai orang tua merendah sedikit, jangan merendah banget, tapi merendah sejajar," terang Dekan Psikologi Universitas Diponegoro Hastaning Sakti.

Haedar Nashir

Dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas fenomena kekerasan terhadap anak dan berbagai masalah sosial yang diakibatkan karena penyalahgunaan internet terutama media sosial, PW Fatayat NU Jateng menginisiasi Gerakan Smart Parents di Era Digital. Gerakan yang didukung oleh seluruh Pengurus Cabang Fatayat NU se-Jawa Tengah ini bertujuan untuk memberikan penyadaran terhadap kader Fatayat pada khususnya dan seluruh masyarakat pada umumnya untuk bersikap bijak dalam menghadapi media.

"Kami kader Fatayat berkomitmen untuk selalu cerdas dalam mengkonsumsi informasi di media, kritis dalam menyikapi informasi di media, menjaga anak dan keluarga dari penyalahgunaan media, berkontribusi positif di media, membangun keluarga cerdas di era digital," kata Ketua Fatayat NU Jateng Hj Tazkiyyatul Muthmainnah.

Gerakan ini diharapkan menjadi salah satu upaya nyata kontribusi Fatayat dalam merespon masalah sosial untuk menjadikan masyarakat Jawa Tengah lebih baik. (Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail Haedar Nashir

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin

Assalamu’alaikum wr. wb. Pak Ustad yang terhormat, saya pernah mendengar ada orang yang pernah menikah dengan jin. Bahkan ada juga dalam sinetron yang saya lihat di salah satu televisi swasta, terlepas apakah itu cerita fiktif atau bukan yang jelas ada cerita pernikahan dengan jin meskipun tidak dijelaskan bagaimana proses akadnya. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukum menikah dengan jin. Dan atas jawabannya, kami ucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb (Yunus/Jakarta)

***

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin

Assalamu’alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Mengenai pernikahan manusia dengan jin sebenarnya bukan soal baru. Kami juga pernah mendengar cerita pernikahan manusia dan jin, yang notabenenya adalah dua makhluk yang berlainan alam dan berbeda materi penciptaannya. Namun kami belum pernah menyaksikan bagaimana pernikahan manusia dengan jin bisa berlangsung. Hanya saja dalam benak kami, jin merubah dirinya menjadi wujud manusia seperti kita.

Para ulama juga sebenarnya juga jauh-jauh hari sudah membincang tentang pernikahan manusia dengan jin, bahkan sampai ada yang mempuyai anak dari hasil pernikahan tersebut. Dan mayoritas ulama memakruhkan pernikahan tersebut. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah.  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Haedar Nashir

“Bahwa merasukinya jin pada manusia bisa jadi karena dorongan syahwat, hawa nafsu, atau jatuh cinta sebagaimana yang terjadi antara manusia dengan manusia lainnya. Dan terkadang antara manusia dengan jin terjadi pernikahan sampai melahirkan anak. Hal ini banyak terjadi dan sudah diketahui secara umum. Sungguh, para ulama telah menyebutkan hal tersebut dan membicarakannya. Dan mayoritas ulama memakruhkan pernikahan (manusia) dengan jin” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatwa, Mesir-Dar al-Wafa`, cet ke-3, 1426 H/2005 M, juz, 19, h. 39)      

Di antara barisan para pakar hukum Islam yang memakruhkan pernikahan manusia dengan jin adalah imam Malik pendiri madzhab maliki.  Alasannya adalah adanya kekhawatiran nanti kalau ada perempuan hamil akibat melakukan zina bisa saja mengaku bahwa ia dihamili jin.  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

“Dan terdapat riwayat dari imam Malik ra bahwa beliau membolehkan pernikahan manusia dengan jin, akan tetapi beliau memakruhkannya karena (khawatir) perempuan-perempuan yang hamil sebab zina mengaku-aku bahwa kehamilannya itu dari jin” (Lihat Ibnu Hajar al-Haitsami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, Bairut-Dar al-Fikr, tt, h. 50)

Haedar Nashir

Di kalangan madzhab syafii sendiri juga terjadi perselisihan pendapat. Ada yang memperbolehkan, dan ada yang tidak. Di antara pendapat yang tidak memperbolehkan pernikahan manusia dengan jin adalah al-Bariji dan Ibnu Yunus. Alasan yang dikemukakan adalah adanya perbedaan jenis antara bangsa manusia dan jin. Ini artinya manusia hanya boleh menikah dengan manusia. Hal ini didasarkan atas firman Allah swt berikut ini;

? ? ? ? ? ?. “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri” (Q.S. An-Nahl [16]: 72)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ?. “Ibnu Yunus berpendapat bahwa di antara yang menjadi penghalang pernikahan adalah perbedaan jenis. Karenanya maka tidak boleh bangsa manusia menikah dengan bangsa jin. Dan pendapat inilah yang difatwakan al-Bariji karena didasarkan kepada firman Allah swt, ‘Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri’ (Q.S. An-Nahl [16]: 72]” (Lihat Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarhu Raudl ath-Thalib, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, 3, h. 162)

Dari penjelasan di atas setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam soal pernikahan manusia dengan jin ternyata terjadi perbedaan di antara para ulama. Dan kami lebih memilih pendapat yang tidak memperbolehkan pernikahan tersebut.

Pertimbangan kami memilih pendapat yang tidak memperbolehkan di samping alasan yang dikemukakan oleh ulama di atas adalah, ketiadaan aturan teknis yang memadai yang menjelaskan mengenai pernikahan manusia dengan jin.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca. 

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)      

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Anti Hoax, RMI NU Haedar Nashir