Kamis, 25 Januari 2018

Penting Introspeksi ke Dalam Agar Tak Mudah Menyalahkan Pihak Luar

Jakarta, Haedar Nashir. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menegaskan untuk mengatasi kesenjangan sosial yang terjadi di sekitar kita harus dibarengi dengan tabayun ke arah internal, agar tidak mudah menyalahkan pihak-pihak di luar kita.

Hal tersebut disampaikan Mensos saat mengisi “Pelatihan Dai Daiyah Kader NU” di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Rabu (31/5) pagi.

Penting Introspeksi ke Dalam Agar Tak Mudah Menyalahkan Pihak Luar (Sumber Gambar : Nu Online)
Penting Introspeksi ke Dalam Agar Tak Mudah Menyalahkan Pihak Luar (Sumber Gambar : Nu Online)

Penting Introspeksi ke Dalam Agar Tak Mudah Menyalahkan Pihak Luar

Dirasakan Presiden, lanjut Khofifah, kesenjangan ekonomi masih lebar. Jadi kita harus senafas dan searah dengan kebijakan presiden dalam mengatasi kesenjangan. Dalam MoU PBNU dengan Kementerian Ekonomi, pemerintah menggulirkan 1,6 triliun untuk permodalan usaha.

“Kita harus lihat kemampuan kita dalam menyerap modal itu,” kata Mensos.

Haedar Nashir

Kemampuan menyerap sangat penting diperhatikan, karena dilakukan validasi oleh Kemenkeu. “Ketika dibuka peluang, perlu pertanyaan kembali baru bisa terserap berapa persen,” lanjut Khofifah.?

Khofifah mengaku sering menyampaikan hal tersebut di banyak kesempatan, termasuk peluang redistribusi aset yang dilakukan pemerintah. Hal itu memberi peluang bagi NU seberapa banyak ? memanfaatkannya.

Haedar Nashir

Khofifah mengibaratkan, peluang-peluang tesebut bagi NU ibarat hujan ekonomi, tinggal bagaimana dan dengan apa menampungnya.

“Kalau hanya punya mangkok, ya hanya mangkok itu yang bisa menampung hujan tadi. Mestinya tidak hanya mangkok, tapi bisa ember, danau, atau waduk,” ungkapnya.

Khofifah menyebut forum tersebut sangat penting untuk melakukan tabayun dan muhasabah bersama.“Mari tanya dan koreksi apa yang jadi penyebab kesenjangan kita,” tandas Khofifah. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah Haedar Nashir

Revolusi Mental Harus Dimulai dari Lingkungan Keluarga

Bogor, Haedar Nashir

Forum antar-Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (Fapsedu) kumpulkan ratusan tokoh lintas agama se Indonesia untuk membahas masalah revolusi mental melalui keluarga. Pembahasan itu di rangkai dalam seminar nasional yang digelar di Hotel Pangrango 2 Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/4).   

Revolusi Mental Harus Dimulai dari Lingkungan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Revolusi Mental Harus Dimulai dari Lingkungan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)

Revolusi Mental Harus Dimulai dari Lingkungan Keluarga

Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty dalam pembukaannya mengatakan, bahwa revolusi mental berarti siap menjadi orang yang berintegritas, etos kerja yang tinggi dan semangat gotong royong. Pembentukan karakter inilah menjadikan manusia jujur, cerdas dan mau bekerjasama, serta saling tolong menolong demi kemaslahatan umum. "Jadi, manusia yang dikatakan berhasil melakukan revolusi mental adalah manusia yang merdeka dan demokratis, tentu bebas dari sifat feodalistis," ujarnya dihadapan para peserta seminar.

Dikatakannya, saat bicara penduduk, tentu tidak lepas dari masalah kuantitas, kualitas dan mobilitas penduduk. Tiga masalah pokok inilah yang menjadi konsen dan tugas BKKBN dalam menggarap penduduk Indonesia sesuai dengan peraturan Undang-undang nomor 5 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga yakni KKBPK (Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga). "Ini berarti, soal kuantitas, soal kualitas kependudukan dan soal data kependudukan yang harus kita tingkatkan," ujar Surya.

Revolusi mental berbasis Pancasila ini, akan menghasilkan tri sakti Bung Karno yakni berdikari dalam ekonomi, keadilan dan kerakyatan yang sesuai dengan lima sila Pancasila. "Inilah yang menjadi semangat kami untuk menghadapi tantangan kependudukan dalam menghadap bonus demografi," ujarnya

Haedar Nashir

Untuk itulah, peran tokoh agama didalam melakukan revolusi mental masyarakat sangat penting, karena kualitas, kuantitas kependudukan menjadi berbeda menakala karakter masyarakat menjadi baik. Tanpa itu, tentu akan menjadi bencana yang sangat mengerikan. "Kerusuhan, pembegalan, dan kriminal di masyarakat akan menjadi bencana negara Indonesia, belum lagi menghadapi MEA, makanya tanpa revolusi mental penduduk kita tidak akan bisa bersaing dengan negara lain," terang Surya. 

Ia berharap, seminar tokoh lintas agama berhasil merumuskan dan menghasilkan pokok-pokok penting tentang  revolusi mental kependudukan yang digali dari berbagai sumber pedoman dan kitab lintas agama. "Kami meminta para tokoh agama yang tergabung dalam Fapsedu merumuskan revolusi mental dalam mendukung program nawa cita," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Fapsedu KH. Cholil Nafis mengatakan, pasca reformasi diantara institusi negara yang lemah adalah BKKBN dalam artian pegawai yang terbatas dan kewenangan yang berkurang. Karena bahasan kekeluargaan terbagi di banyak institusi lain, ada di Kemensos, Kemenag dan lain sebagainya. "Kami ingin saat bicara keluarga tidak perlu di pecah-pecah melainkan hanya ada di BKKBN, agar lebih fokus mengurusi keluarga Indonesia," ujar mantan pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) ini.

Oleh karena itu, lanjutnya, kekurangan ini, tentu butuh tokoh agama yang  lebih maksimal dalam berperan. Bahwa berdirinya republik ini  tidak lepas dari peran tokoh agama. Berani berjuang, berani mati juga karena peran tokoh agama. Meskipun agama tidak diformalkan menjadi sebuah negara agama namun dan memilih Pancasila sebagai dasar negara demi keutuhan NKRI. "Maka sangat tepat sekali para tokoh agama berkumpul untuk membicarakan peran tokoh agama didalam melakukan revolusi mental melalui jalur keluarga demi terciptanya karakter bangsa," ungkapnya.

Menurutnya, peran tokoh agama didalam keluarga, dan bahkan dalam menentukan arah tujuan bangsa adalah sangat sentral. Tidak mungkin perubahan hanya menyerahkan kepada sekolah, apalagi dengan masyarakat atau institusi lain. "Mari kita bersatu bersama-sama untuk merevolusi mental dengan spirit agama," ujar Cholil.

Haedar Nashir

Banyaknya kasus perceraian di  Indonesia, terjadinya pelecehan anak, kekerasan rumah tangga dan tindak kriminal didalam kelurga adalah bukti bahwa didalam keluarga butuh sentuhan tokoh agama untuk meluruskan dan menjadi keluarga yang baik dan kokoh. "Sekali lagi, peran tokoh agama di dalam keluarga sangat penting, karena tanpa revolusi mental selamanya tidak ada perubahan," pungkas Cholil. (Huda/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Hikmah Haedar Nashir

Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur

Jakarta, Haedar Nashir

Puncak peringatan Haul Ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jumat (23/12) menjadi ladang mencari rezeki bagi puluhan pedagang, tasbih, kaos, makanan cepat saji, minuman dan mainan anak, termasuk pedagang sayuran.

Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur

“Alhamdulillah laris,” ujar Indra Aldiansyah, di areal kediaman Gus Dur, Jalan Warung Silah Nomor 10, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Sembari tersenyum, warga Ciganjur itu mengaku baru pertama kali berdagang sayuran di Haul Gus Dur. “Biasanya berdagang di pasar. Di Haul Ini baru pertama kali berdagang, yang unik biasanya yang dicari,” kata dia menjelaskan alasan memilih tetap berdagang sayuran.

Di antara lalu-lalang jamaah, pedagang makanan, minuman hingga souvenir yang memasarkan dagangan di sebelah perusahaan taxi, Indra memasarkan dagangannya seperti caisim atau sawi hijau, kol, bawang merah, bawang putih, kentang, jagung, kacang panjang, sawi, wortel, tomat, daun bawang, jeruk nipis, ? pepaya, salak dan buah naga.

“Bawangnya Rp25 sekilo, cabai merah panjangnya Rp35 sekilo,” teriak Indra yang malam itu mengenakan celana jeans coklat dan kemeja hijau.

Haedar Nashir

Ia mengaku, bawang yang dijualnya sudah habis satu karung, jumlahnya kira-kira lebih dari 50 kilogram. “Sebagian sayuran dari Pasar Induk, sebagian lagi dari Pasar Kemang, Bogor, Jawa Barat,” katanya.

Sejumlah pejabat negara hadir pada Haul Gus Dur, seperti Presiden Joko Widodo, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Tito Karnavian, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Kepala BNP2TKI Nusron Wahid.

Terlihat pula sejumlah seniman seperti Joko Pinurbo, Asep Zamzam Noor, Sujiwo Tedjo dan Zastrouw Al-Ngatawi. Termasuk Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas, Kepala Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna H Alfa Isnaeni, sejumlah pengurus DPP K Sarbumusi NU dan para pemuka lintas agama.

Haedar Nashir

Puncak Haul diisi tausyiah oleh Habib Umar Muthohar dan ditutup doa oleh Habib Jafar Alkaff yang memimpin doa agar Indonesia aman dan ekonomi rakyat menjadi lancar. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku

Dalam shalat dikenal istilah takbir intiqâl, yakni kesunahan mengucapkan kalimat takbir ? ? setiap kali perpindahan gerak. Ada satu yang berbeda, yakni ketika bangun dari ruku’, bukanlah kalimat takbir yang sunah diucapkan, melainkan kalimat tasmi’  ? ? ? ?.

Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab I’anatut Thalibin (Beirut: Darul Fikr, 1997) meriwayatkan sebuah kisah yang menjadi penyebab perbedaan kesunahan ucapan ketika bangun dari ruku’ ini sebagai berikut.

Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? -? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ?: ? ?. ? ? - ? ? ? ? -. ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ?. … ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Sebab kesunahan ucapan ? ? ? ? ialah bahwasanya sahabat Abu Bakar As-Shiddiq RA tidak pernah sama sekali tertinggal shalat berjama’ah di belakang Rasulullah SAW. Hingga pada suatu ketika, saat shalat ashar, Sahabat Abu Bakar RA tertinggal shalat bersama Rasulullah SAW. Sahabat Abu Bakar sangat bersedih dan bergegas masuk masjid.

Haedar Nashir

Sampai di masjid, ia masih bisa menemui ruku‘ Rasulullah, maka ia berucap: “Alhamdulillah” sebagai bentuk pujian terhadap Allah, lantas takbiratul ihram dan shalat di belakang Rasulullah SAW.

Haedar Nashir

Jibril kemudian turun saat Nabi sedang ruku‘ sambil berkata: “Wahai Muhammad, ucapkan ? ? ? ? . ‘Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.’ …baca kalimat itu setiap shalat saat bangun dari ruku‘.

Sebelum kejadian ini setiap akan ruku‘ dan bangun dari ruku‘ yang dibaca adalah takbir. Berkah dari Sahabat Abu Bakar RA membuat tasmi’ jadi disunahkan.”

***

Dari kisah di atas bisa dipahami bahwa kesunahan tasmi’ saat bangun dari ruku‘ merupakan jawaban atas pujian yang disampaikan oleh Sahabat Abu Bakar RA karena ia masih tetap bisa menjaga keistiqamahan shalat berjama’ah bersama Rasulullah SAW. Wallahu a‘lam. (Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Jadwal Kajian, Kajian Haedar Nashir

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan

Lampung Selatan, Haedar Nashir. Peresmian pesantren tahfidz El-Karimi Syah ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Ketua PWNU Lampung KH RM Soleh Bajuri, Ahad (18/1). Pesantren yang berlokasi di desa Purwodadi Rulung Raya Natar, Lampung Selatan ini dimaksudkan menjadi sarana pembinaan agama bagi masyarakat setempat.

Dalam peresmian ini tampak hadir tokoh-tokoh NU Lampung Selatan, Camat, Lurah, dan masyarakat desa Purwodad.

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan

Pendiri pesantren Huffadz El-Karimi Syah KH Munirul Ikhwan mengatakan, “Pesantren yang baru saja diresmikan Kiai RM Soleh Bajuri bertujuan menciptakan generasi yang memahami ilmu agama yang mendalam demi kemajuan umat Islam khususnya di Lampung.”

Haedar Nashir

Sementara Kiai RM Soleh Bajuri menyatakan apresiasi terhadap upaya pendirian pesantren yang dilakukan oleh pimpinan pesantren Huffadz El-Karimi Syah. Menurutnya, pendirian pesantren ini menjadi angin segar yang menrupakan bentuk kepedulian NU terhadap kondisi masyarakat.

Sudah tidak diragukan lagi pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam tertua jauh sebelum Indonesia merdeka. Hingga kini pesantren masih berkontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan. (Rudi Santoso/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Rabu, 24 Januari 2018

Hasyim Muzadi Tokoh Paling Berpengaruh dari Indonesia

Jakarta, Haedar Nashir. Indonesia dianggap memiliki cukup banyak tokoh yang memiliki pengaruh penting di dunia Muslim. Dari 500 tokoh yang disebut dalam buku The 500 Most Influential Muslim 2009, terdapat 15 tokoh Indonesia, dengan KH Hasyim Muzadi sebagai tokoh terpenting yang menduduki urutan ke 18 tokoh dunia atau urutan pertama untuk Indonesia. Tokoh paling berpengaruh adalah Raja Abdullah dan dilanjutkan dengan Ayatullah Khamanei.

Buku yang baru diterbitkan untuk edisi pertama ini diterbitkan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Center (di Jordan) bekerjasama dengan Georgetown’s Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding.

Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital

Bandar Lampung, Haedar Nashir. Saat ini dunia maya khususnya Media Sosial menjadi medan pertarungan baru di era digital dengan konten-konten yang diproduksi untuk mempengaruhi siapa pun yang masuk di dalamnya. Berbagai informasi silih berganti tiada henti memenuhi dunia maya dan dengan tingkat keshahihan yang patut untuk diteliti lagi.

Hal ini dikatakan praktisi media yang juga Direktur Haedar Nashir Savic Ali di depan peserta Forum Dialog Literasi Media Sosial Berbasis Islam Wasathiyah yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI bekerja sama dengan MUI Provinsi Lampung di Hotel Novotel Bandar Lampung, Sabtu (14/10).

Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital

Ia mengingatkan bahwa saat ini sebuah tulisan dalam media sosial yang tidak jelas sumber dan penulisnya layak dan patut untuk tidak dipercaya. "Saat ini sebuah tulisan seperti hadits. Kalau sanad dan rowinya tidak jelas walaupun matannya bagus layak untuk tidak dipercaya," katanya.

Savic juga menambahkan bahwa konten-konten yang beredar di Media Sosial dari hari ke hari semakin beragam. "Jempol kita lebih cepat dari kepala kita dan saat ini yang dibaca di media online cenderung lebih gampang dipercayai," katanya.

Melihat manfaat media sosial untuk mempengaruhi masyarakat khususnya terkait pemahaman keagamaan, Savic menilai bahwa saat ini media sosial banyak didominasi oleh dai yang memahami ilmu agama secara tekstual.

Haedar Nashir

"Banyak Dai di dunia maya tekstualis. Tidak melihat dan merasakan kondisi sosiologis dan kultur masyarakat di Indonesia," katanya seraya mengingatkan jika kondisi ini dibiarkan maka dapat mengakibatkan perwajahan Indonesia berubah di masa depan.

Sehingga Ia mengajak kepada para kiai dan tokoh agama yang memiliki fikrah wasathiyah (moderat) untuk ikut mengisi dunia maya dengan konten-konten memyejukkan dalam bentuk tulisan, audio maupun video.

"Mari isi konten dunia maya dengan hal positif yang menerima keragaman di Indonesia. Kalau kita tidak aktif bisa jadi generasi kita akan dibentuk oleh orang yang tidak bertanggung jawab," ajaknya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan beberapa langkah dalam mengisi konten di antaranya menyiapkan konten yang akan dipublikasikan, menentukan platform yang akan digunakan sebagai media publikasi dan mengorganisir konten sehingga dapat maksimal diakses oleh warganet. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Meme Islam, Budaya Haedar Nashir