Rabu, 30 November 2016

Fiqih Jangan Hanya Teoritis, Harus Punya Agenda Praksis

Pati, Haedar Nashir. Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, Jawa Tengah menggelar peringatan 1000 hari wafatnya KH MA. Sahal Mahfudh, Jumat (30/9) dengan mengadakan Seminar Nasional bertajuk Fiqh Sosial dalam Konteks Kajian Islam Nusantara.?

Seminar ini menghadirkan Wakil Ketua LBM PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali, intelektual muda yang juga santri Mbah Sahal Ulil Abshar Abdalla dan Arief Subhan.

Fiqih Jangan Hanya Teoritis, Harus Punya Agenda Praksis (Sumber Gambar : Nu Online)
Fiqih Jangan Hanya Teoritis, Harus Punya Agenda Praksis (Sumber Gambar : Nu Online)

Fiqih Jangan Hanya Teoritis, Harus Punya Agenda Praksis

“3 tahun lalu KH MA Sahal Mahfudh wafat, meninggalkan keluarga, santri, warga NU. Namun, sehari penuh saya berada di Kajen, Kiai Sahal seperti masih hidup; orang-orang sowan dan mendiskusikan pemikirannya,” ungkap Kiai Moqsith.

Dia menegaskan, salah satu pemikiran keislaman Kiai Sahal yang masih relevan hingga sekarang adalah fiqih sosialnya. “Melalui fiqih sosial ini, Kiai Sahal hendak menegaskan bahwa fiqih tidak cukup hanya canggih secara teoritis. Fiqih pun harus memiliki agenda praksis,” ujar Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini.

Haedar Nashir

Kiai Moqsith juga tidak memungkiri bahwa kini murid-murid Kiai Sahal bertungkus lumus mensistematisasikan pemikiran-pemikiran Kiai Sahal melalui sejumlah riset, diskusi, dan workshop.?

“Di Kajen, ada sejumlah kiai dan nyai muda yang berjuang untuk itu. Di samping Gus Rozin, tentu ada Ning Tutik N. Jannah Bunda Ak-za,Jamal Pati, dan lain-lain,” ungkapnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaNu Haedar Nashir

Rabu, 23 November 2016

Jelang Konferensi, 100 Ansor-Banser Sidoarjo Ikuti PKD dan Diklatsar

Sidoarjo, Haedar Nashir ? . Sekitar 100 anggota Ansor dan Banser dari perwakilan kecamatan se-Kabupaten Sidoarjo mengikuti Pendidikan Kader Dasar (PKD) dan Diklatsar Ansor-Banser Sidoarjo, Jawa Timur. Acara tersebut digelar di daerah pesisir Sidoarjo, tepatnya di Desa Sawohan Kecamatan Buduran Sidoarjo.

Jelang Konferensi, 100 Ansor-Banser Sidoarjo Ikuti PKD dan Diklatsar (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Konferensi, 100 Ansor-Banser Sidoarjo Ikuti PKD dan Diklatsar (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Konferensi, 100 Ansor-Banser Sidoarjo Ikuti PKD dan Diklatsar

Pembukaan acara tersebut dilaksanakan pada Jumat (23/9) malam dan dihadiri perwakikan Forkopimka kecamatan Buduran. Perwakilan mereka sekaligus menjadi saksi "Deklarasi Mengawal Tradisi Menjaga NKRI" peserta dan seluruh Pengurus Cabang GP Ansor Sidoarjo.

Sekretaris Ansor Sidoarjo H Riza Ali Faizin mengatakan, PKD dan Diklatsar 2016 merupakan rangkaian acara pra-konfrensi Ansor yang akan digelar Desember mendatang. Para peserta diharapkan dapat menjadi kader yang mampu mengawal tradisi Indonesia yang penuh dengan keberagaman, toleransi antarbudaya dan agama.

Haedar Nashir

"Ini salah satu rangkaian acara pra-konfrensi Ansor Desember nanti. Saya berharap hasilnya nanti para peserta tangguh dalam menjaga tradisi Indonesia," harap Riza Ali Faizin, Jumat (23/9).

Haedar Nashir

Ia menambahkan, tokoh lintas kompetensi juga dilibatkan untuk memberi materi kegiatan tersebut. Selain itu, penguatan kemampuan beladiri peserta juga dioptimalkan dalam acara itu.

Kegiatan tersebut dilaksanakan selama tiga hari, berakhir pada Ahad (24/9). Beberapa fasilitas desa dijadikan tempat pengisian materi. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Selasa, 22 November 2016

Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua

Kudus, Haedar Nashir

Konferensi Pimpinan Cabang IX Fatayat NU Kabupaten Kudus IX memberikan amanah kepada Miftahurrohmah untuk memimpin PC Fatayat NU Kudus lima tahun ke depan. Konfercab yang berlangsung di SMU Islam Almaruf, Senin (24/4), itu bertepatan dengan hari lahir ke-64 Fatayat NU.

Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab Fatayat Kudus Amanahkan Miftahrrohmah sebagai Ketua

Ditemui terpisah setelah terpilih? Miftahurrohmah yang juga Dosen STAIN Kudus tersebut menyatakan, tantangan ke depan adalah bagaimana PC Fatayat NU Kabupaten Kudus mampu menyiapkan, mendidik, menata dan mendistribusikan kader perempuan NU. Menurutnya, usia yang ke-67 tahun adalah usia yang dewasa untuk sebuah organisasi kader perempuan NU.

"PC Fatayat NU Kudus sebagai salah satu basis terbesar kader NU Jawa Tengah punya peranan yang sangat strategis dalam rangka menyiapkan, mendidik, menata, dan mendistribusikan kader kader perempuan NU di tengah masyarakat," katanya.

Haedar Nashir

Miftahurrohmah menambahkan, ke depan Fatayat NU Kudus harus mampu melakukan konsolidasi sampai tingkat basis dalam rangka proses kaderisasi sehingga tercipta kader-kader perempuan yang militan, profesional, berwawasan luas, dan berakhlakul karimah. Fatayat NU Kudus juga mesti mampu mendistribusikan kader kadernya pada semua level tingkatan dalam rangka mengembangkan paham Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah yang toleran di tengah berkembangnya paradigma masyarakat yang semakin ekslusif dan diskriminatif.

Menyinggung soal isu nasionalisme, mantan pengurus PW IPPNU Jateng tersebut berkomentar bahwa Fatayat NU Kudus mesti mampu bersinergi dengan organisasi kepemudaan lainnya dalam rangka menjaga stabilitas, persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI.

Haedar Nashir

Forum tertinggi tingkat cabang Fatayat ini dibuka secara resmi oleh Agus Hari Ageng, Sekretaris PCNU Kudus. Turut hadir Hj. Tazkiyyatul Mutmainnah dari Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jawa Tengah, serta utusan sejumlah badan otonom NU dan organisasi kepemudaan di Kabupaten Kudus. Dalam amanahnya, PCNU menitikberatkan pada pentingnya kaderisasi dan pembinaan kader perempuan NU.

Pemilihan ketua Fatayat NU yang berlangsung dua kali putaran tersebut memilih Miftahurrohmah sebagai ketua PC Fatayat NU Kabupaten Kudus masa khidmah 2017-2022. Suara Miftahurrohmah unggul dari calon laonnya mengalahkan,? Siti Nafisatun, dengan selisih 20 suara. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam Haedar Nashir

Senin, 21 November 2016

Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani

Presiden, guru, tukang catut karcis di stasiun, penyair, sipir rumah tahanan, atau siapa saja pernah mengalami nyeri kepala dengan aneka penyebab. Begitu pun Ahmad Tohari.

Saat menuju Gedung PBNU untuk menerima penghargaan, ia meminta obat sakit kepala dengan merk tertentu untuk mengatasi nyeri kepalanya akibat tersiram air hujan di Bandara Sukarno-Hatta.

Ahmad Tohari yang kerap disapa Kang Tohari menerima penghargaan Hadiah Asrul Sani (HAS) di Gedung PBNU, Kamis (28/3) malam lalu. Penghargaan HAS diberikan dalam rangka peluncuran peringatan 10 tahun Haedar Nashir.

Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmad Tohari Terima Hadiah Asrul Sani

Kang Tohari menerima HAS atas kategori Penulis Serba Bisa. Selama usianya berkarya, pria yang berkemeja putih sederhana itu telah menghasilkan karya dengan aneka bentuk penulisan mulai dari novel, cerpen, puisi, esai, kritik sastra, karya jurnalistik, dan sejumlah bentuk penulisan lainnya.

Dalam sambutan penerimaan penghargaan, Kang Tohari di hadapan sedikitnya 200 orang yang menghadiri penganugerahan HAS mengajak masyarakat umum terutama anak muda untuk bersastra. “Dengan bersastra, tradisi keumatan yang kerap digaungkan NU akan terjaga.”

Kang Tohari yang sudah berusia 65 tahun kini tengah menggarap penerjemahan Alquran ke dalam bahasa ibunya, Bahasa Banyumas. “Niatnya sederhana; agar isi Alquran itu dibaca juga oleh penunggu warung nasi Tegal (warteg), orang pasar, orang-orang di terminal, dan lainnya,” tegas Kang Tohari dalam wawancara khusus dengan Haedar Nashir di Yayasan LKiS, Yogyakarta Rabu (27/2) lalu.

Haedar Nashir

Kang Tohari adalah novelis yang dibesarkan dalam keluarga pesantren. Berikut ini merupakan biografi lengkapnya yang ditulis oleh Hairus Salim dalam Ensiklopedi NU.

Haedar Nashir

Ahmad Tohari (1948-...): Novelis, cerpenis dan esais. Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Sebagaimana lazimnya anak dari keluarga santri, pendidikan informalnya dimulai dari langgar dan pesantren di desanya. Setelah menyelesaikan pendidikan formal tingkat dasar, menengah dan atas, ia sempat mengecap bangku kuliah Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976), tetapi tak ada satu pun yang dituntaskannya.?

Tohari adalah seorang pembelajar otodidak di dunia kepengarangan dengan bakat dan hasrat yang besar. Masa awal kepengarannya beririsan dengan pekerjaannya sebagai redaktur ? majalah terbitan BNI 46, Harian Merdeka, majalah Keluarga, dan Amanah di Jakarta. Tetapi kemudian ia memilih pulang dan hidup di desanya.

Karier sastranya diawali dengan keikutsertaan dalam sejumlah sayembara menulis. Namanya muncul sebagai pengarang pada pertengahan tahun 1970an ketika cerpennya “Jasa-Jasa Buat Sanwirya” masuk sebagai salah satu dari duabelas cerpen terpilih untuk diterbitkan bersama tiga cerpen pemenang lain hasil Sayembara Kincir Emas 1975 (Dari Jodoh Sampai Supiyah, Djembatan 1976). Dua novel awalnya yang diikutsertakan dalam sayembara DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) memperoleh rekomendasi untuk diterbitkan dan salah satunya bahkan memenangkan salah satu nomor dalam sayembara tersebut.

Namanya kian menjulang setelah ceritanya Di Kaki Bukit Cibalak dan Ronggeng Dukuh Paruk dimuat bersambung dalam harian Kompas dan kemudian dibukukan. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, yang boleh dikatakan merupakan adi karyanya, memperoleh perhatian serius para pengamat sastra dan menempatkannya sebagai salah seorang dalam jajaran novelis penting di Indonesia. Novel ini bercerita bagaimana huru-hara berlangsung pada peralihan politik tahun 1965 di sebuah pedukuhan kecil. Jelas dari novel tersebut bahwa perubahan di sebuah dukuh kecil itu persambungan dan pengaruh belaka dari perubahan yang terjadi di tingkat nasional. Srinthil, penari ronggeng yang jelita, dengan segala kultur dan pandangan dunia yang dipeluknya, yang menjadi tokoh utama novel itu, adalah personifikasi dari rakyat kecil yang menjadi korban utama dari perubahan berdarah tersebut. Novel ini merupakan salah satu novel yang berhasil mengangkat latar peralihan politik pada tahun 1965 dengan cara yang subtil, tetapi menohok.

Dari segi latar belakangnya sebagai santri, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu juga sangat unik, karena di sini Tohari menunjukkan perhatiannya yang sangat rinci dan lengkap mengenai kebudayaan dan pandangan dunia kelompok masyarakat yang dalam kategori sosial disebut sebagai ‘abangan’ plus simpatinya yang mendalam. Ia memang sangat mengakrabi lingkungannya dan seperti tak mengenal marka-marka sosial yang diciptakan oleh ideologi politik maupun agama di hadapannya. ? ?

Tohari menjadikan pedukuhan di desanya sebagai latar cerita-ceritanya. Lukisan-lukisannya yang terperinci dan dalam mengenai lingkungan desa, lengkap dengan dunia flora dan faunanya, adalah kekuatan dan kelebihan dari cerita-ceritanya. Gaya menulisnya lugas, jernih, sederhana, dan lancar mengalir. Terutama yang penting dan tak tergantikan juga adalah penghadirannya pada pandangan dunia para orang desa, yang lugu, polos, jujur, dan apa adanya itu, berhadapan dengan laju dan ganasnya perubahan politik, sosial, dan ekonomi. Dalam hal ini, tak salah jika dikatakan kalau Tohari adalah salah seorang juru bicara dan pembela utama orang-orang desa yang miskin, kumuh, dan nelangsa di dalam jagat kesusasteraan Indonesia. ?

Cerpennya “Pengemis dan Shalawat Badar” yang pernah dimuat dalam bulanan Warta NU Februari 1989, barangkali bisa memperlihatkan ilustrasi menarik bagaimana orang kecil dan pandangan dunianya itu dihadirkan. Cerpen ini berkisah tentang seorang pengemis yang mendendangkan shalawat badar di dalam bus yang penuh jejalan penumpang. Tak ada seorang pun yang memperhatikannya, dan sebagian besar bahkan, mengabaikan dan mencibirnya. Ketika kemudian bus itu mengalami kecelakaan, dan penumpang banyak yang terluka dan bahkan tewas, si pengemis itu dengan menakjubkan melenggang keluar dari bus tanpa sedikit pun terluka sembari melantunkan lagi shalawat badar. Alur cerita tampak sederhana, tetapi muatannya jelas sangat dalam. Antara kemiskinan, formalisme keagamaan, kepekaan sosial, dan lain-lain berjalin berkelindan dalam sepersekian menit kehidupan di dalam bus yang kencang melaju itu. ? ? ?

Tohari termasuk penulis yang cukup produktif. Boleh dikata sejak awal kepengarangannya rata-rata setahun sekali ia mengeluarkan karya baik berupa novel, antologi cerpen, maupun kumpulan esai. Beberapa dari karyanya terus mengalami penerbitan ulang. Berikut daftar karyanya dan tahun pertama kali terbitnya: Kubah ? (novel, 1980); Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982); Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985); Jantera Bianglala (novel, 1986); Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986); Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989); Bekisar Merah (novel, 1993); Mas Mantri Gugat (Kumpulan Esai, 1994); Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995); Mas Mantri Menjenguk Tuhan (Kumpulan Esai, 1997); Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000); Belantik (novel, 2001); Orang Orang Proyek (novel, 2002); dan Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004). Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Inggris, Jepang, Tionghoa, Belanda, dan Jerman. Karya-karyanya juga telah menjadi bahan kajian akademis baik di dalam maupun di luar negeri.

Sebagai sastrawan terkemuka telah banyak penghargaan yang telah ia terima. Dua kali ia memperoleh hadiah dari Yayasan Buku Utama dan sekali dari Pusat Pengembangan Bahasa Indonesia. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat (1990) dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1995). Novel Ronggeng Dukuh Paruk versi Banyumasan (2006), meraih Hadiah Sastera Rancagé tahun 2007.

Sejak pertengahan 1980an, Ahmad Tohari tinggal di desanya, meneruskan hobinya memancing dan terus mengakrabi lingkungan desanya. Seminggu sekali esainya yang kocak dan penuh sindiran muncul di Harian Suara Merdeka, Semarang. Sembari itu, ia juga menjadi aktivis sosial yang mendorong peningkatan ekonomi dan kehidupan harmoni masyarakat, serta memberikan banyak workshop menulis kepada kalangan anak muda dan prasaran seminar ke berbagai kota di Indonesia.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Lomba, Tegal Haedar Nashir

Sabtu, 19 November 2016

KH Said Aqil Siroj: Kita Bersyukur Sekaligus Berduka

Jakarta, Haedar Nashir. Peringatan Hari Lahir atau Harlah ke-88 Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta, Jum’at (31/1) malam, diliputi suasana duka menyusul wafatnya Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh pada Jum’at (24/1) lalu. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj memulai ceramahnya dengan berdoa dan mengenang pemimpin tertinggi NU itu.

KH Said Aqil Siroj: Kita Bersyukur Sekaligus Berduka (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Said Aqil Siroj: Kita Bersyukur Sekaligus Berduka (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Said Aqil Siroj: Kita Bersyukur Sekaligus Berduka

“Kita bersyukur sekaligus berduka. Bersyukur karena NU saat ini bertambah usia. NU sudah berusia 88 tahun. Kita berduka karena baru saja kita ditinggal ole Rais Aam Almukarram Syekh KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh,” kata Kiai Said.

KH Sahal Mahfudh adalah seorang yang alim, terutama di bidang fiqih dan ushul fiqih. Salah satu kitab monumental yang ditulis adalah Thariqatul Husul yang merupakan penjelasan dari kitab Ghayatul Wushul karya ulama Syafiiyah terkemuka, Syekh Zakariya Al-Anshari.

“Kitab? Ghayatul Wushul itu merupakan kitab ushul fiqh yang cukup sulit, namun Kiai Sahal melalui Thariqatul Husul membuat kitab Syekh Zakaria itu jadi mudah. Dan kitab itu ditulis Kiai Sahal pada saat berusia 24 tahun,” kata Kiai Said.

Haedar Nashir

“Kealiman Kiai Sahal tidak diragukan lagi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tambahnya sembari merinci tujuh kitab berbahasa Arab yang ditulis Kiai Sahal.

Kiai Said melanjutkan, Kiai Sahal merupakan sosok yang patut diteladani. “Beliau adalah sosok yang sangat kuat memegang prinsip. Bahasa kita, beliau itu sulit untuk dilobi,” kata Kiai Said di hadapan sekitar seribu warga Nahdliyin yang hadir yang memenuhi aula utama PBNU, termasuk sejumlah kader NU yang aktif di partai politik dan menduduki pos-pos penting di pemerintahan.

Haedar Nashir

Tasyakuran Peringatan Harlah ke-88 didahului dengan pembacaan tahlil dan doa bersama untuk para pendiri dan tokoh NU. Sejumlah keluarga pendiri dan tokoh NU hadir, antara lain, keluarga KH Hasyim As’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Ma’shum, KH Zainul Arifin, KH Djamaluddin Malik, H. Asrul Sani, H Mahbub Djunaidi, dan KH Idham Chalid. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Doa Haedar Nashir

Hiruk-Pikuk Menjelang Lebaran di Damaskus

Tidak jauh berbeda dari Indonesia, menjelang Idul Fitri di Damaskus, Suriah, pasar tradisional dan tempat perbelanjaan ramai dikunjungi warga. Uniknya, di Damaskus, tempat perbelanjaan dan mall baru buka setelah shalat tarawih dan ramai hingga menjelang sahur.

Pusat-pusat belanja di Damaskus, seperti Pasar Hamidiye, Jisr Abyad, Hamra, Sya’laan, Salihiye, dan mall-mall seperti Mall Town Center, Mall Qasiun, Cham City Center dan lainnya juga penuh sesak dengan para pengunjung yang berbelanja untuk kebutuhan menjelang lebaran. Bazar Idul Fitri juga banyak digelar, seperti di Orient Club, yang menjual banyak kebutuhan warga dengan harga yang “miring”. Hiruk pikuk menjelang lebaran seolah melupakan krisis yang masih terjadi, melupakan segala kesedihan.

Hiruk-Pikuk Menjelang Lebaran di Damaskus (Sumber Gambar : Nu Online)
Hiruk-Pikuk Menjelang Lebaran di Damaskus (Sumber Gambar : Nu Online)

Hiruk-Pikuk Menjelang Lebaran di Damaskus

Tua muda sibuk berbelanja pakaian untuk dipakai di hari lebaran, ibu-ibu rumah tangga sibuk berbelanja bahan makanan/kue atau membeli kue instan serta kebutuhan rumah tangga lainnya, sedangkan bapak-bapak sibuk mengantar keluarga membeli kebutuhan keluarga dan tidak lupa menyiapkan uang tukaran untuk dibagikan kepada anak-anak. Tidak ketinggalan arena bermain sementara juga sedang dipasang di lapangan atau taman-taman untuk kebutuhan main anak-anak. Kebiasaan yang tidak jauh berbeda dari yang kita dapati di Tanah Air.

Haedar Nashir

Dubes RI untuk Suriah, Djoko Harjanto, turut memantau fenomema unik ini dengan melihat ke lapangan secara langsung membaur dengan warga dan meliput keramaian aktivitas tengah malam menjelang akhir Ramadhan.

“Suatu pemandangan unik dan istimewa di negara yang masih dilanda krisis sejak lebih dari 5 tahun ini, tetapi kegembiraan menyambut lebaran mengalahkan suasana krisis,” ujar Dubes Djoko dalam siaran pers Ahad (3/7) malam.

Haedar Nashir

Tidak hanya di pusat perbelanjaan, kegiatan ibadah keagamaan di masjid-masjid Damaskus juga? tidak kalah semaraknya selama bulan suci Ramadhan, terutama pada malam 27 Ramadhan. Jemaah berbondong ke masjid menghidupkan malam lailatul qadar. Tua-muda, besar-kecil, laki-laki dan perempuan semua ke masjid beribadah bersama, berdoa bersama untuk keselamatan Suriah dan berakhirnya krisis sesegera mungkin. Saking banyaknya, jemaah masjid hingga membludak ke jalanan di luar masjid.

Begitulah kebiasaan dan suasana umum menjelang Lebaran di Damaskus yang tetap semarak di tengah situasi krisis yang belum usai. Rona bahagia, tertutama pada anak-anak, tetap terpancar meski ancaman konflik dan kekerasan masih menghantui. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Minggu, 13 November 2016

MTQ Nasional, Kebahagiaan Seluruh Umat Beragama

Mataram, Haedar Nashir - Perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional menjadi kesukacitaan dan kebahagiaan bagi seluruh warga Nusa Tenggara Barat. Gubernur NTB TGH Zainul Majdi mengatakan hal tersebut saat berpidato pada upacara pembukaan MTQN di gedung Islamic Centre NTB yang dihadiri Presiden Joko Widodo dan ibu negara Iriana Jokowi, Sabtu (30/7) malam.

“Jika Bapak Presiden perhatikan, ratusan lampion dari jalan sampai jalan Pejanggik, itu dipasang oleh saudara-saudara kita dari warga Tionghoa. Ini menjadi tradisi baru bagi kita sebab MTQ menjadi kebahagiaan seluruh umat beragama,” ujar Gubernur disambut aplaus ribuan hadirin.

MTQ Nasional, Kebahagiaan Seluruh Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
MTQ Nasional, Kebahagiaan Seluruh Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

MTQ Nasional, Kebahagiaan Seluruh Umat Beragama

Dua minggu lalu, lanjut Gubernur Majdi, dirinya menerima surat dari salah seorang pendeta yang menyatakan dukungan atas gelaran MTQ. Mereka berharap bisa membantu terselenggaranya hajatan nasional tersebut sembari menanyakan kepada siapa mereka musti koordinasi.

“Pendeta dan sekretarisnya menyampaikan bahwa kami mendukung penuh MTQ dan kami berharap apa yang bisa kami bantu dan kepada siapa kami harus berkoordinasi,” paparnya yang lagi-lagi disambut tepuk tangan membahana ribuan warga yang menyaksikan pidato tersebut melalui layar lebar.

Haedar Nashir

Menurut Tuan Guru Bajang, sapaan akrabnya, ini merupakan tradisi baru yang membahagiakan. Pasalnya, seluruh umat beragama di NTB dari Kristiani, Katolik, bahkan para pecalang Hindu turut serta mengamankan venue-venue dan lokasi-lokasi tempat perhelatan MTQ.

Haedar Nashir

“Hal ini menggambarkan Bapak Presiden, bahwa MTQ ini ada kesukacitaan, kesyukuran, dan kebahagiaan sekaligus kehormatan bagi kami semua,” tuturnya bangga.

Dalam kesempatan tersebut, atas nama seluruh masyarakat NTB gubernur lulusan Universitas Al-Azhar Kairo ini juga menyampaikan permohonan maaf bila dalam penyelenggaraan MTQ dan penerimaan warganya masih banyak kekurangan.

“Khususnya kepada Bapak Presiden, para duta besar, para ulama dari 13 negara Islam yang sedang ikut konferensi internasional bersamaan dengan MTQ ini,” katanya.

Gubernur juga meminta para tamu yang hadir pada acara pembukaan MTQ agar sering berkunjung ke NTB. “Sering-seringlah ke sini, pasti Bapak Ibu akan menemukan hal-hal bermanfaat, terima kasih,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Ahlussunnah, Doa Haedar Nashir

Jumat, 11 November 2016

PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu

Indragiri Hulu, Haedar Nashir?

Liga Santri Nusantara Region V Provinsi Riau secara resmi dibuka Bupati Indragiri Hulu H. Yopi Arianto di Stadion Nara Singa Rengat 27 Agustus lalu. Acara ini dimulai dari pukul 20.00 hingga pukul 23.30 dihadiri oleh sekira 10.000 orang. Kick off dimeriahkan drumb band dari pesantren setempat yang diikuti oleh defile dari kafilah-kafilah perwakilan 16 pesantren se-Provinsi Riau yang mengikuti Liga Santri.?

Di antara pesantren-pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Salafiyah Babussalam, Pondok Pesantren Syamsyudildin, Pondok Pesantren Nurul Huda, Pondok Pesantren Darul Huda, Pondok Pesantren Al Majdiyah, Pondok Pesantren Khairul Ummah, Pondok Pesantren Al Ihsan, Pondok Pesantren Al Munawwarah, Pondok Pesantren Al Hidayah, Pondok Pesantren Darun Nahda, Pondok Pesantren Nurul Hidayah, Pondok Pesantren Jabal Nur, Pondok Pesantren Al Kautsar, Pondok Pesantren Tebuireng 4, Pondok Pesantren Baqiyyatussyadiyyah, dan Pondok Pesantren Raudlatul Jannah.

PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu (Sumber Gambar : Nu Online)
PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu (Sumber Gambar : Nu Online)

PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu

Dalam sambutannya, Ketua PSSI Asprov Riau menyebut bahwa pembukaan LSN Region V Riau-Kepri ini meriah sekali dan sudah setara perhelatan SEA Games. "Bayangkan, Indragiri Hilir ini jauh dari ibukota provinsi, tetapi lihatlah ia berani menyelenggarakan event sepakbola di malam hari. Kalau bukan infrastruktur memadai, ini tidak akan terjadi. Inilah istimewanya Liga Santri," ujar Chaidir Ketua Pengprov PSSI Riau.

Sementara itu, Bupati Indragiri Hulu dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Kemenpora dan PBNU atas terselenggaranya Liga Santri. "Pembibitan sepakbola kita harus dimulai sejak dini. Liga Santri ini membantu PSSI untuk menyelenggarakan kompetisi sepakbola di Usia-16. Ini sangat strategis mengingat belum ada kompetisi yang masif dan teratruktur di usia ini," tutur Yopi.

Labih lanjut Yopi mengungkapkan kebanggaannya pada NU. "Sebagai kepala daerah saya sangat bangga kepada NU. Bukan saja karena saya seorang Nahdliyin, tetapi karena sejarah berdirinya negara ini tidak bisa dipisahkan dari keringat, darah dan airmata para kiai, santri dan pesantren yang merupakan basis gerakan dari jam’iyah Nahdlatul Ulama," kata Yopi berapi-api.

Haedar Nashir

Tampak hadir dalam acara tersebut adalah Kadispora Provinsi Riau Doni Aprialdi, perwakilan Kapolda Riau, Kapolres Inhu, Forkompuda Provinsi Riau, Jajaran PWNU Provinsi Riau, Jajaran PCNU Inhu dan pengurus MWC NU se-Kabuoten Inhu. Selain itu perhelatan ini juga diikuti oleh seluruh pesantren dan madrasah di Inhu.

Sementara itu dari Panitia Nasional LSN diwakili oleh jajaran direksi, antara lain Cornelius Ariyanto Wibisono, Ade Abdul Aziz, dan Irham Saifuddin. Acara tersebut langsung dikoordinasikan oleh Koordinator Region V Riau-Kepri Ribhan Dwi Jayana. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir IMNU, Nusantara Haedar Nashir

Kamis, 03 November 2016

Wakapolri Pimpin Upacara Hari Santri Nasional di Monas

Jakarta, Haedar Nashir. Wakapolri Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Syafruddin didaulat menjadi inspektur upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2016 di Monas Jakarta, Sabtu (22/10).?

Jenderal Bintang tiga ini mengingatkan kepada generasi muda pada umumnya agar bisa meneladani kaum santri. Sebab merekalah elemen generasi muda bangsa yang selalu membangun semngat cinta tanah air.

Wakapolri Pimpin Upacara Hari Santri Nasional di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakapolri Pimpin Upacara Hari Santri Nasional di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakapolri Pimpin Upacara Hari Santri Nasional di Monas

“Saat ini, santri juga menjadi pioner pengembangan Iptek dan Imtak sekaligus sebagai modal memajukan bangsa Indonesia,” ujar Komjen Syafruddin di hadapan sekiat 50.000 santri yang memadati halaman Monas bagian utara.

Syafruddin yang hadir didampingi Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M. Iriawan mengimbau kepada masyarakat Indonesia pada umumnya agar bahu-membahu mewujudkan negara yang aman, damai, ramah, dan toleran.

Haedar Nashir

Hal itu menyikapi sering terjadinya tindakan anarkis dari segilintir kelompok dengan mengindahkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang santun dan ramah. Menurutnya, santri harus terus ikut aktif menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.

Apel akbar dan upacara Hari Santri di Monas dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, para pimpinan Ormas Islam yang tergabung dalam LPOI, para menteri kabinet, jajaran kepolisian dan TNI, serta para pengurus lembaga dan banom NU. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Aswaja, Pertandingan Haedar Nashir

Haedar Nashir

Rabu, 02 November 2016

Universitas Al-Ahgaff Yaman Ingatkan Lulusan Bawa Islam Moderat

Tarim, Haedar Nashir

Universitas Al-Ahgaff Tarim, Yaman, kembali menggelar wisuda mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum di auditorium kampus setempat. Peserta wisuda yang memasuki angkatan ke-17 ini didominasi mahasiswa asal Indonesia.

Selain prosesi wisuda, acara ini juga menjadi malam penghargaan Dekan lama Fakultas Syariah dan Hukum DR. Muhammad Abdul Qadir Al-Aydrus yang dinilai telah banyak bersumbangsih untuk Universitas Al-Ahgaff.

Universitas Al-Ahgaff Yaman Ingatkan Lulusan Bawa Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas Al-Ahgaff Yaman Ingatkan Lulusan Bawa Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas Al-Ahgaff Yaman Ingatkan Lulusan Bawa Islam Moderat

“Bawalah Islam yang moderat, walaupun dengan sekte yang berbeda,” kata DR. Muhammad dalam sambutannya, Kamis (28/4) malam itu. “Yang menjadikan Al-Ahgaff masih konsisten menjadi universitas unggulan ini tidak lepas dari jasa besar qism at-tasjil, yang bersikukuh menjaga ketertiban kemahasiswaan dari dulu sampai sekarang,” tambahnya.

Haedar Nashir

Melalui rekaman singkat berdurasi sekitar 5 menit, Rektor Universitas Al-Ahgaff Prof DR Abdullah Muhammad Baharun yang berhalangan hadir mengatakan, ”Sungguh kalian (para wisudawan) telah ditakdirkan belajar di bumi Tarim yang berkah, untuk belajar adab, akhlak dan ilmu syariah.”

Haedar Nashir

Ia lalu memberikan tiga pesan, yakni agar mahasiswa senantiasa berterima kasih kepada sesama manusia, tak berhenti belajar dan membaca buku, serta menyambung silaturahim di kalangan mahasiswa.

Hadir pula dalam kesempatan ini Dekan Fakultas baru, Al-Ustadz Abdullah Awadh bin Smith, Syekh Muhammad Al-Khatib, DR Abdurrahman As-Seggaf Rais Qism Ushul dan Fiqih, DR Alawy Abdul Qadir Al-Aydrus Rais Qism Abhats wal Ifta, Al-Ustadz Abdullah Husain Al-Aydrus Rais Qism Al-Aalat, Al-Ustadz Arafat Al-Maqdi Rais Qism Qanun, sejumlah tamu undangan dan seluruh mahasiswa dari berbagai lintas negara.

Ada sekitar 69 mahasiswa di antaranya 50 mahasiswa berasal dari Indonesia, 1 mahasiswa Malaysia, 1 mahasiswa Thailand, dan sisanya adalah 8 mahasiswa? Yaman dan 9 Somalia.

Sebelum sambutan Dekan baru, secara simbolis mahasiswa angkatan 17 juga memberikan kenang-kenangan berupa podium berlambang Al-Ahgaff yang merupakan sebuah kejutan hadirin malam itu. “Masa depan di pundak kalian, setelah keluar dari sini, peranan apa yang kalian bawa untuk perubahan ummat? Selalu tebarkanlah rasa kasih sayang di antara sesame,” tegas Dekan Fakultas Ustadz Abdullah Awadh. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Makam, Santri Haedar Nashir