Selasa, 21 April 2015

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis

Probolinggo, Haedar Nashir - Bulan suci Ramadhan membawa berkah bagi masyarakat yang berjualan makanan-minuman (mamin). Sudah menjadi fenomena selama bulan Ramadhan, masyarakat senantiasa menyerbu para pedagang mamin takjil mulai habis Ashar hingga menjelang adzan Maghrib tiba.

Saat Ramadhan, pedagang takjil berjualan dengan berkelompok dan sendirian.? Apapun bentuknya, menjelang bedug Maghrib, dagangan mereka laris diburu pembeli. Ramainya transaksi jual-beli mamin takjil itu terlihat di Alun-alun Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo.

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis

Pemandangan di bagian timur Alun-alun Kota Kraksaan kembali ramai dengan pedagang takjil seperti tahun sebelumnya. Puluhan stand takjil yang didirikan, mulai Sabtu (27/6) lalu itu seluruhnya terisi. Banyaknya pedagang yang berjualan masih kalah banyak dibandingkan dengan konsumen yang berbelanja.

Haedar Nashir

Ratusan pedagang musiman ini dikelola oleh persatuan PKL “Semarak” Kraksaan. Hanya dengan menyetor iuran sebesar Rp 75.000 mereka berhak menempati lapak yang sudah disediakan dengan fasilitas tenda sebagai pengaman saat hujan.

Lia, salah satu penjual kuliner musiman ini mengungkapkan, seperti tahun sebelumnya biasanya 10 hari pertama dan 10 hari terakhir adalah paling ramai dikunjungi pembeli. “Ayam krispi saya sehari bisa laku 5-6 kilogram, bahkan sebelum Maghrib sudah habis, kalau pas ramai pembeli,” katanya, Jum’at (2/6) sore.

Sementara Dita, seorang pengunjung mengaku lebih leluasa dan nyaman untuk berbelanja tahun ini karena lokasi penataannya lebih teratur dan rapi. “Kalau dulu penataannya semrawut dan harus berdesak-berdesakan kalau mau belanja,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Sedangkan Muhammad Anshori, salah satu pengurus persatuan PKL “Semarak” menyampaikan bahwa kehadiran para pedagang musiman ini tidak berdampak negatif pada penghasilan para PKL di Alun-alun Kota Kraksaan, bahkan sebaliknya dengan ramainya? pengunjung juga membawa berkah tersendiri bagi mereka.

“Mereka buka usahanya hanya sore hari, sedangkan kita para PKL bisa sampai waktu sahur jadi walaupun sama-sama jualan kuliner tidak berpengaruh kepada pendapatan kami,” ujarnya.

Untuk tahun ini jelas Muhammad Anshori, pihaknya mengatur ulang lokasi para pedagang takjil ini sehingga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kami atur memanjang supaya tidak menimbulkan macet dan pelanggan dari PKL ‘Semarak’ masih bisa masuk dan belanja seperti biasanya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Pondok Pesantren, Ulama Haedar Nashir

Jumat, 17 April 2015

LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas

Jakarta, Haedar Nashir. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dicanangkan Direktorat Promosi Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI, bekerja sama dengan sejumlah organisasi kemasyarakatan, salah satunya Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU). LK PBNU mewujudkannya dalam Germas di Pesantren. Sosialiasi Germas di Pesantren akan digelar pada awal Oktober 2016 untuk wilayah Jawa Barat, dan dijadwalkan pekan keempat Oktober di Jawa Timur.

Dian Dipo, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengatakan pada Kamis (29/9), Germas dilakukan oleh semua kelompok umur, baik di sekolah, pesantren, rumah, kantor, dan di mana pun. Sehingga apabila LK PBNU turut menyosialisasikan Germas, diharapkan akan ada sosialisasi yang menyeluruh karena jangkauan PBNU yang luas.

LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas (Sumber Gambar : Nu Online)
LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas (Sumber Gambar : Nu Online)

LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas

"Germas memiliki tiga fokus kegiatan, yaitu melakukan aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur yang tepat, dan pemeriksaan kesehatan secara dini. Dalam wujud yang real, dengan melakukan tiga hal ini, diharapkan jumlah kasus penyakit di lingkungan pesantren, akan berkurang, dan kesehatan akan lebih terjaga," jelas Dian.

Pelibatan ormas dalam Germas, menurut Dian karena dalam ormas ada yang memimpin, yang tahu kebudayaan atau kebiasaan masyarakat dalam kelompok itu. Sehingga pelibatan ormas memungkinkan apa yang tidak dapat dilakukan langsung dari pusat terhadap individu-individu, dapat ditularkan melalui kelompok ini.?

Haedar Nashir

Kelompok atau ormas itulah yang akan menterjemahkan ke dalam kebiasaan kehidupan mereka selama ini, sehingga lebih tepat sasaran. Misalnya kebiasaan olah raga yang dilakukan kelompok atau ormas, tidak menjadi masalah bagi individu-individu dalam kelompok tersebut, bahkan bisa menjadi contoh bagi yang belum melakukannya dengan baik.?

Keterlibatan ormas dapat bersinergi dengan Dinas Kesehatan atau Pemerintah. Pemerintah, kata Dian mendukung dalam arti misalnya penyediaan fasilitas. Sehingga pemerintah-lah yang menyiapkan fasilitas untuk melakukan tiga kegiatan dalam Germas. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Santri Haedar Nashir

Selasa, 14 April 2015

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo

Yogyakarta, Haedar Nashir. Wakil Ketua PWNU DIY Jadul Maula berpendapat, frame kebangkitan nasional harus dimaknai dari kerajaan di Nusantara. Karena nasionalisme secara kultural sudah dibangun oleh para Wali Songo.

“Akar nasionalisme kita itu terbukti dari kerajaan Demak mengusir penjajah. Nasionalisme bangsa kita itu lahir dari agama. Beda dengan Eropa yang terpisah dari agama,” katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi dengan tema, “Forum Mahasiswa, Santri & Warga: Refleksi Hari Kebangkitan Nasional” di Lantai 2 Kantor PWNU DIY, Jalan MT Haryono, Rabu (20/5) pagi.

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo

Jadul melanjutkan, Islam dan budaya itu diharmoniskan oleh para wali, sehingga melahirkan Islam yang khas Nusantara. Sebab itu, persatuan dan kesatuan sudah digalakkan para sultan dengan bahasa agama dan bahasa kebudayaan.

Haedar Nashir

“Frame kebagkitan itu tidak terpisah dan berdiri sendiri dari sejarah kerajaan masa lampau,” tutur pengasuh Pesantren Kaliopak Yogyakarta ini.

Akar budaya Nusantara kita, tambah Jadul, mengandung tiga unsur, yakni menyatunya Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Itu hasil dari dakwah para wali yang menyampaikan Islam ke Nusantara.

Haedar Nashir

Kehadiran penjajah tidak bisa dilawan dengan senjata dan perlawanan secara fisik dengan begitu saja. Benteng yang sangat kuat untuk menghalang itu adalah kebudayaan dan spiritualitas. Para wali mempersiapkan hal itu untuk melawan para penjajah.

Peserta yang hadir terdiri atas para santri dan mahasiswa generasi muda nahdliyyin. Acara yang dimoderatori Muhammadun ini juga menghadirkan Mukhtar Salim, Kandidat Doktor UII Yogyakarta. (Suhendra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Doa, Tegal Haedar Nashir

Minggu, 05 April 2015

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya

Dua rakaat sebelum shalat subuh sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Nilai dua rakaat (sebelum subuh) ini, sebagaimana pesan Rasulullah saw lebih baik dari pada jagad seisinya.

? ? ? ? ? ? ?

Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari dunia seisinya.

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya

Banyak sekali istilah yang digunakan untuk menunjukan dua rakaat sebelum shubuh. Dari redaksi hadits tersebut sebagian ulama mengatakannya shalat sunnah fajar. Adapula yang menamainya sebagai shalat sunnah subuh karena dilakukan sesebelum shalat subun. Ada pula yang mengatakan shalat sunnah barad mungkin karena dilaksanakan ketika hari masih dingin. Ada pula yang menamakan shalat sunnah ghadat yaitu shalat sunnah yang dilakukan pagi-pagi sekali.

Oleh karena itu dalam Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi memperbolehkan niat shalat dua rakaat subuh ini dengan berbagai macam istilah tersebut. Misalkan ushalli sunnatal fajri rok’ataini ada’an lillahi ta’ala. Atau boleh juga ushalli sunnatal barodi rok’ataini ada’an lillahi ta’ala  sunnatas  subhi, dan seterusnya. Atau boleh juga yang lebih lengkap adalah

 

Haedar Nashir

?? ? ? ? ? ? ? ? ?

Usholli sunnatas shubhi rokataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi taaala.                                                  

Di samping itu yang harus diperhatikan adalah anjuran untuk tidak berlama-lama dalam shalat, mengingat predikat shalat ini adalah shalat sunnah. Walaupun nilainya lebih berharga daripada dunia seisinya.

Selain itu alasan kebergegasan dua rakaat ini adalah mengikuti Rasulullah saw (liitba’I sunnatir rasul) yang cukup membaca surat al-Kafirun dalam rakaat pertama (setelah al-fatihah) dan al-Ikhlash (setelah al-fatihah)pada rakaat kedua. Atau membaca Alam Nasyrakh (surat al-Insyirakh) pada rakaat pertama dan Alam Taro (Surah al-Fiil) pada rakaat ke dua.

Haedar Nashir

Secara praktis, tersebut pula dalam Nihayatuz zain  anjuran untuk membaca wirid khusus setelah dua rakaat sambil menunggu shalat subuh. Bacaan itu adalah (1) Ya Hayyu Ya Qayyum La Ilaha Illa anta, 40 kali. (2) Surat Al-Ikhlas, 11 kali (3) Surat Al-Falaq, 1 kali (4) Surat An-Nas, 1 kali dan (5) Subhanallah wa Bihamdihi, Subhanallahil Adhim, Asytaghfirullah, 100 kali.  

 Demikianlah keterangan dua rakaat sebelum shalat subuh yang menurut sebagian ulama dikategorikan sebagai rawatib (sebagaimana shalat qabliyah lainnya) yang dilaksanakan sebelum shalat subuh.

 

Red. Ulil Hadrawy. Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Pahlawan Haedar Nashir

Sabtu, 04 April 2015

Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB

Tegal, Haedar Nashir 

Bupati Tegal yang juga Ketua Satkorcab Banser Kabupaten Tegal Ki Enthus Susmono melepas ribuan peserta jalan sehat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tegal di halaman kantor Kementrian Agama kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Ahad (12/1).

Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB

Peserta jalan sehat ini berasal dari kepercayaan berbeda. Mereka terdiri dari umat Islam, Kristen, Protestan, Konghucu, Hindu, dan Budha. Untuk umat Islam lebih dominan diikuti siswa  Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan guru-guru mereka.

“Kerukunan umat beragama tidak hanya ditunjukan dalam acara jalan sehat saja tetapi perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ki Enthus dalam sambutannya jelang melepas peserta jalan sehat.

Haedar Nashir

Dalam menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing, kita tidak boleh ikut campur karena agama memiliki rambu-rambu sendiri. Sedangkan kerukunan ini perlu dijaga supaya tidak terjadi gontok-gontokan antarpemeluk agama, tandas Ki Enthus singkat.

Salah satu guru MA Babakan, Masroni menyatakan rasa gembiranya dengan kegiatan jalan sehat antarumat beragama. “Selain menambah keakraban, Kita dapat membangun silaturahmi antarumat beragama,” terang Masroni usai jalan sehat. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Nahdlatul Ulama, Sunnah Haedar Nashir

Jumat, 03 April 2015

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya

Dhaka, Haedar Nashir



Koordinator Tim Delegasi Nahdhatul Ulama (NU) untuk Rohingya Muhammad Wahib menyebutkan, saat ini bantuan yang diberikan untuk pengungsi Rohingya di Bangladesh difokuskan pada makanan untuk ibu dan anak.

"Tahap pertama, kita fokus pada makanan ibu dan balita," kata Wahib di Dhaka, Ahad (24/9).

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya

Hal itu dikarenakan jumlah angka kelahiran di kamp pengungsian begitu tinggi. Menurut Wahib, setiap bulannya ibu yang melahirkan berjumlah sekitar 160 orang. 

Oleh karenanya, jenis bantuan makanan untuk mereka memiliki jatah yang paling banyak. Tidak sedikit dari pengungsi Rohingya yang hamil dan melahirkan di tempat-tempat kamp pengungsian. Diprediksi, dalam beberapa bulan ke depan angka kelahiran juga akan tetap tinggi.

Selain itu, lanjut Wahib, bantuan obat-obatan, tenda, dan air serta sanitasi juga akan diserahkan kepada pengungsi pada tahap pertama ini. Pengungsi Rohingya di Bangladesh semakin bertambah, sementara tenda, toilet, dan sumber air begitu terbatas.

Haedar Nashir

Rencananya, Ahad, 24 September Tim Delegasi NU untuk Rohingya dan tim lainnya yang tergabung dalam Indonesia Humanitarian Alliance (IHA) akan berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Bangladesh. Sedangkan, besok akan bertolak ke Coxs Bazar untuk mempersiapkan pendistribusian bantuan kemanusiaan. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Ulama Haedar Nashir

Minggu, 29 Maret 2015

NU, Imlek, dan Indonesia

Lebih dari 30-an tahun umat agama Kong Hu Cu mengalami diskriminasi. Hak mereka untuk bebas beragama dan berkeyakinan dilarang oleh pemerintah Orde Baru melalui Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Perayaan Imlek (Guo Xin Nian) selain juga Cap Go Meh, Ceng Beng, Sembahyang Rebut, dan lainnya dianggap sebagai sebuah afinitas budaya pada negeri leluhurnya, Tiongkok, yang akan mengancam budaya bangsa Indonesia.

Padahal jelas, pada pasal 29 ayat 2 UUD 1945 dinyatakan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk  agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Atas dasar itu, beruntunglah sosok presiden Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur dengan penuh keyakinan mencabut Inpres itu melalui Keppres RI Nomor 6 Tahun 2000.

Bukan tanpa alasan, Gus Dur paham betul bahwa masyarakat Indonesia di hadapan Negara adalah sama dan setara kedudukannya. Tak peduli ia beretnis dan beragama apa. Lebih daripada itu bahwa agama Islam dan lainnya adalah agama universal. Islam sendiri punya visi rahmatan lil’alamin, sebagai agama yang bercita-cita mewujudkan tatanan kehidupan berbangsa dan beragama yang penuh kasih sayang dan harmoni.

NU, Imlek, dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Imlek, dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Imlek, dan Indonesia

Harlah NU dan Imlek

31 Januari merupakan hari lahir (harlah) Nahdlatul Ulama (NU). Kini, usianya mencapai 88 tahun (1926-2014). Pada harlah NU tahun ini, juga bertepatan dengan tahun baru Imlek. Dua momen ini betapa penting. NU sebagai ormas terbesar di Indonesia, mengemban amanat dalam menjaga harmonisasi umat beragama. Komitmen itulah yang dipegang oleh Gus Dur, sebagai orang yang pernah menjadi pimpinan tertinggi NU dan presiden RI, untuk memenuhi hak beragama dan berkeyakinan bagi umat Kong Hu Cu dan umat-umat agama lain yang rentan mendapat perlakuan diskriminatif.

Sejak berdirinya NU meyakini bahwa bangsa ini merdeka berkat persatuan dan kesatuan seluruh komponen bangsa, bukan hanya hasil jerih payah umat agama tertentu saja. Karena itu NU berkomitmen dalam mengusung kerja-kerja kemanusiaan berdasarkan prinsip yang kukuh dipedomaninya; tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), tawassuth (moderat) dan ‘itidal (tegak lurus).

Haedar Nashir

Baik harlah NU maupun tahun baru imlek, paling tidak kita bisa memaknai bahwa keduanya merupakan pengingat untuk kita, masyarakat bangsa, untuk kembali pada khitthah ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dan kembali bangkit menjadi bangsa yang bersatu dan maju di bawah payung empat pilar kebangsaan; Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kasus-kasus kekerasan dan intoleransi atas nama apapun, apalagi atas nama agama, tak ada ampun dan sudah seharusnya dihentikan. Karena kalau tidak, ia akan semakin membahayakan dan berujung pada radikalisme dan terorisme. Kesadaran itu dapat bermuara pada titik temu yang satu mana kala kita menyadari bahwa Indonesia menjadi milik bersama, karena itu sesama masyarakat bangsa perlu menumbuhkan kesadaran moral untuk saling menghargai dan mengasihi.

Apalagi harlah NU dan Imlek tahun ini, dirayakan di saat bangsa tengah dikepung oleh berbagai tindak koruptif dan inkonstitusional. Sudah seharusnya umat beragama, para tokoh dan pemeluknya bersatu padu untuk membangun sebuah kesadaran moral dan solidaritas kebangsaan yang kuat, agar nasib dan masa depan bangsa tak tergadaikan. Jangan lagi kita habiskan energi untuk mengurusi hal-hal parsial tak ada guna, sementara praktik politik manipulatif dan korupsi lekang dari perhatian kita. Ditambah jelang hajat demokrasi akbar April 2014 mendatang, sederet problem sosial kemanusiaan yang lain juga tak berangsur membaik; kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, dan lainnya semakin mewabah secara endemik. Kenyataan ini yang juga semakin berpeluang untuk dijadikan ajang untuk menarik simpati rakyat.

Merayakan Indonesia

Sebagaimana perayaan tahun baru Islam (hijriyah) dan tahun baru masehi, tahun baru Imlek merupakan perayaan masyarakat bangsa. Merayakan Imlek berarti merayakan Indonesia. Sungguh tak berdasar jika turut bahagia atas kebahagiaan umat agama lain dianggap sebagai sebuah sikap merusak agama dan keyakinan. Karena justru, agama menjadi spirit dan perekat untuk membingkai persaudaraan.

Haedar Nashir

Spirit persaudaraan itu senada dengan spirit perdamaian dan kebangsaan. Spirit ini  dapat juga kita ilhami dalam lima ajaran Konfusius, yakni Jen (kebajikan dari segala kebajikan), Chun-tzu (hubungan ideal antara sesama manusia), Li (kesopanan), Te (kebajikan atau kekuatan untuk memerintah), dan Wen (seni perdamaian). Lima ajaran Confucius ini sejatinya adalah ajaran universal yang juga terdapat pada agama-agama lain, tak terkecuali Islam.

Mari bersaudara, merajut kembali bhinneka tunggal ika, setia menjaga NKRI, selamat harlah NU yang ke 88, selamat tahun baru Imlek, Gong Xi Fat Cai!

 

Mamang M. Haerudin, Khadimul-Ma’had di pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin dan Ketua LP3M STID Al-Biruni Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Hadits Haedar Nashir