Selasa, 28 April 2015

Di Lereng Lawu, PMII Solo Kader Anggota Baru

Karanganyar, Haedar Nashir. Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UNS kota Solo menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba). Kaderisasi berlangsung selama 3 hari di lereng Gunung Lawu, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat-Ahad (22-24/11).

Di Lereng Lawu, PMII Solo Kader Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Lereng Lawu, PMII Solo Kader Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Lereng Lawu, PMII Solo Kader Anggota Baru

Pengurus Cabang PMII Solo Bidang Pengaderan Zaenul Muttaqien mengatakan, dari Mapaba ini diharapkan PMII Solo memiliki kader berideologi ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang kuat.

“Ke depan bisa menjadi kader sebagai pejuang ideologis,” terangnya, Ahad (24/11) pagi.

Haedar Nashir

Puluhan anggota yang berasal dari berbagai kampus digembleng dengan berbagai materi seperti Aswaja, Islam Indonesia, ke-PMIIan dan Antropologi Kampus.

Haedar Nashir

“Target kami untuk mengembangkan nilai aswaja di kampus,” kata Ketua PMII UNS Ahmad Rodif Hafidz.

Rodif menambahkan, saat ini kondisi gerakan mahasiswa NU di kampus Solo dinilai masih kurang berkembang. Sedangkan mereka yang sebetulnya Nahdliyyin terkadang masih belum berani untuk menunjukkan identitasnya.

Padahal mahasiswa NU di sini banyak. Tetapi karena takut disudutkan, mereka tidak berani menunjukkan Ke-NUannya, tutup Rodif. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, PonPes, Daerah Haedar Nashir

Selasa, 21 April 2015

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis

Probolinggo, Haedar Nashir - Bulan suci Ramadhan membawa berkah bagi masyarakat yang berjualan makanan-minuman (mamin). Sudah menjadi fenomena selama bulan Ramadhan, masyarakat senantiasa menyerbu para pedagang mamin takjil mulai habis Ashar hingga menjelang adzan Maghrib tiba.

Saat Ramadhan, pedagang takjil berjualan dengan berkelompok dan sendirian.? Apapun bentuknya, menjelang bedug Maghrib, dagangan mereka laris diburu pembeli. Ramainya transaksi jual-beli mamin takjil itu terlihat di Alun-alun Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo.

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis

Pemandangan di bagian timur Alun-alun Kota Kraksaan kembali ramai dengan pedagang takjil seperti tahun sebelumnya. Puluhan stand takjil yang didirikan, mulai Sabtu (27/6) lalu itu seluruhnya terisi. Banyaknya pedagang yang berjualan masih kalah banyak dibandingkan dengan konsumen yang berbelanja.

Haedar Nashir

Ratusan pedagang musiman ini dikelola oleh persatuan PKL “Semarak” Kraksaan. Hanya dengan menyetor iuran sebesar Rp 75.000 mereka berhak menempati lapak yang sudah disediakan dengan fasilitas tenda sebagai pengaman saat hujan.

Lia, salah satu penjual kuliner musiman ini mengungkapkan, seperti tahun sebelumnya biasanya 10 hari pertama dan 10 hari terakhir adalah paling ramai dikunjungi pembeli. “Ayam krispi saya sehari bisa laku 5-6 kilogram, bahkan sebelum Maghrib sudah habis, kalau pas ramai pembeli,” katanya, Jum’at (2/6) sore.

Sementara Dita, seorang pengunjung mengaku lebih leluasa dan nyaman untuk berbelanja tahun ini karena lokasi penataannya lebih teratur dan rapi. “Kalau dulu penataannya semrawut dan harus berdesak-berdesakan kalau mau belanja,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Sedangkan Muhammad Anshori, salah satu pengurus persatuan PKL “Semarak” menyampaikan bahwa kehadiran para pedagang musiman ini tidak berdampak negatif pada penghasilan para PKL di Alun-alun Kota Kraksaan, bahkan sebaliknya dengan ramainya? pengunjung juga membawa berkah tersendiri bagi mereka.

“Mereka buka usahanya hanya sore hari, sedangkan kita para PKL bisa sampai waktu sahur jadi walaupun sama-sama jualan kuliner tidak berpengaruh kepada pendapatan kami,” ujarnya.

Untuk tahun ini jelas Muhammad Anshori, pihaknya mengatur ulang lokasi para pedagang takjil ini sehingga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kami atur memanjang supaya tidak menimbulkan macet dan pelanggan dari PKL ‘Semarak’ masih bisa masuk dan belanja seperti biasanya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Pondok Pesantren, Ulama Haedar Nashir

Jumat, 17 April 2015

LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas

Jakarta, Haedar Nashir. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dicanangkan Direktorat Promosi Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI, bekerja sama dengan sejumlah organisasi kemasyarakatan, salah satunya Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU). LK PBNU mewujudkannya dalam Germas di Pesantren. Sosialiasi Germas di Pesantren akan digelar pada awal Oktober 2016 untuk wilayah Jawa Barat, dan dijadwalkan pekan keempat Oktober di Jawa Timur.

Dian Dipo, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengatakan pada Kamis (29/9), Germas dilakukan oleh semua kelompok umur, baik di sekolah, pesantren, rumah, kantor, dan di mana pun. Sehingga apabila LK PBNU turut menyosialisasikan Germas, diharapkan akan ada sosialisasi yang menyeluruh karena jangkauan PBNU yang luas.

LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas (Sumber Gambar : Nu Online)
LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas (Sumber Gambar : Nu Online)

LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas

"Germas memiliki tiga fokus kegiatan, yaitu melakukan aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur yang tepat, dan pemeriksaan kesehatan secara dini. Dalam wujud yang real, dengan melakukan tiga hal ini, diharapkan jumlah kasus penyakit di lingkungan pesantren, akan berkurang, dan kesehatan akan lebih terjaga," jelas Dian.

Pelibatan ormas dalam Germas, menurut Dian karena dalam ormas ada yang memimpin, yang tahu kebudayaan atau kebiasaan masyarakat dalam kelompok itu. Sehingga pelibatan ormas memungkinkan apa yang tidak dapat dilakukan langsung dari pusat terhadap individu-individu, dapat ditularkan melalui kelompok ini.?

Haedar Nashir

Kelompok atau ormas itulah yang akan menterjemahkan ke dalam kebiasaan kehidupan mereka selama ini, sehingga lebih tepat sasaran. Misalnya kebiasaan olah raga yang dilakukan kelompok atau ormas, tidak menjadi masalah bagi individu-individu dalam kelompok tersebut, bahkan bisa menjadi contoh bagi yang belum melakukannya dengan baik.?

Keterlibatan ormas dapat bersinergi dengan Dinas Kesehatan atau Pemerintah. Pemerintah, kata Dian mendukung dalam arti misalnya penyediaan fasilitas. Sehingga pemerintah-lah yang menyiapkan fasilitas untuk melakukan tiga kegiatan dalam Germas. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Santri Haedar Nashir

Selasa, 14 April 2015

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo

Yogyakarta, Haedar Nashir. Wakil Ketua PWNU DIY Jadul Maula berpendapat, frame kebangkitan nasional harus dimaknai dari kerajaan di Nusantara. Karena nasionalisme secara kultural sudah dibangun oleh para Wali Songo.

“Akar nasionalisme kita itu terbukti dari kerajaan Demak mengusir penjajah. Nasionalisme bangsa kita itu lahir dari agama. Beda dengan Eropa yang terpisah dari agama,” katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi dengan tema, “Forum Mahasiswa, Santri & Warga: Refleksi Hari Kebangkitan Nasional” di Lantai 2 Kantor PWNU DIY, Jalan MT Haryono, Rabu (20/5) pagi.

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo

Jadul melanjutkan, Islam dan budaya itu diharmoniskan oleh para wali, sehingga melahirkan Islam yang khas Nusantara. Sebab itu, persatuan dan kesatuan sudah digalakkan para sultan dengan bahasa agama dan bahasa kebudayaan.

Haedar Nashir

“Frame kebagkitan itu tidak terpisah dan berdiri sendiri dari sejarah kerajaan masa lampau,” tutur pengasuh Pesantren Kaliopak Yogyakarta ini.

Akar budaya Nusantara kita, tambah Jadul, mengandung tiga unsur, yakni menyatunya Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Itu hasil dari dakwah para wali yang menyampaikan Islam ke Nusantara.

Haedar Nashir

Kehadiran penjajah tidak bisa dilawan dengan senjata dan perlawanan secara fisik dengan begitu saja. Benteng yang sangat kuat untuk menghalang itu adalah kebudayaan dan spiritualitas. Para wali mempersiapkan hal itu untuk melawan para penjajah.

Peserta yang hadir terdiri atas para santri dan mahasiswa generasi muda nahdliyyin. Acara yang dimoderatori Muhammadun ini juga menghadirkan Mukhtar Salim, Kandidat Doktor UII Yogyakarta. (Suhendra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Doa, Tegal Haedar Nashir

Minggu, 05 April 2015

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya

Dua rakaat sebelum shalat subuh sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Nilai dua rakaat (sebelum subuh) ini, sebagaimana pesan Rasulullah saw lebih baik dari pada jagad seisinya.

? ? ? ? ? ? ?

Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari dunia seisinya.

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya

Banyak sekali istilah yang digunakan untuk menunjukan dua rakaat sebelum shubuh. Dari redaksi hadits tersebut sebagian ulama mengatakannya shalat sunnah fajar. Adapula yang menamainya sebagai shalat sunnah subuh karena dilakukan sesebelum shalat subun. Ada pula yang mengatakan shalat sunnah barad mungkin karena dilaksanakan ketika hari masih dingin. Ada pula yang menamakan shalat sunnah ghadat yaitu shalat sunnah yang dilakukan pagi-pagi sekali.

Oleh karena itu dalam Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi memperbolehkan niat shalat dua rakaat subuh ini dengan berbagai macam istilah tersebut. Misalkan ushalli sunnatal fajri rok’ataini ada’an lillahi ta’ala. Atau boleh juga ushalli sunnatal barodi rok’ataini ada’an lillahi ta’ala  sunnatas  subhi, dan seterusnya. Atau boleh juga yang lebih lengkap adalah

 

Haedar Nashir

?? ? ? ? ? ? ? ? ?

Usholli sunnatas shubhi rokataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi taaala.                                                  

Di samping itu yang harus diperhatikan adalah anjuran untuk tidak berlama-lama dalam shalat, mengingat predikat shalat ini adalah shalat sunnah. Walaupun nilainya lebih berharga daripada dunia seisinya.

Selain itu alasan kebergegasan dua rakaat ini adalah mengikuti Rasulullah saw (liitba’I sunnatir rasul) yang cukup membaca surat al-Kafirun dalam rakaat pertama (setelah al-fatihah) dan al-Ikhlash (setelah al-fatihah)pada rakaat kedua. Atau membaca Alam Nasyrakh (surat al-Insyirakh) pada rakaat pertama dan Alam Taro (Surah al-Fiil) pada rakaat ke dua.

Haedar Nashir

Secara praktis, tersebut pula dalam Nihayatuz zain  anjuran untuk membaca wirid khusus setelah dua rakaat sambil menunggu shalat subuh. Bacaan itu adalah (1) Ya Hayyu Ya Qayyum La Ilaha Illa anta, 40 kali. (2) Surat Al-Ikhlas, 11 kali (3) Surat Al-Falaq, 1 kali (4) Surat An-Nas, 1 kali dan (5) Subhanallah wa Bihamdihi, Subhanallahil Adhim, Asytaghfirullah, 100 kali.  

 Demikianlah keterangan dua rakaat sebelum shalat subuh yang menurut sebagian ulama dikategorikan sebagai rawatib (sebagaimana shalat qabliyah lainnya) yang dilaksanakan sebelum shalat subuh.

 

Red. Ulil Hadrawy. Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Pahlawan Haedar Nashir

Sabtu, 04 April 2015

Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB

Tegal, Haedar Nashir 

Bupati Tegal yang juga Ketua Satkorcab Banser Kabupaten Tegal Ki Enthus Susmono melepas ribuan peserta jalan sehat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tegal di halaman kantor Kementrian Agama kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Ahad (12/1).

Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Kerukunan, Bupati Banser Lepas Jalan Sehat FKUB

Peserta jalan sehat ini berasal dari kepercayaan berbeda. Mereka terdiri dari umat Islam, Kristen, Protestan, Konghucu, Hindu, dan Budha. Untuk umat Islam lebih dominan diikuti siswa  Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan guru-guru mereka.

“Kerukunan umat beragama tidak hanya ditunjukan dalam acara jalan sehat saja tetapi perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ki Enthus dalam sambutannya jelang melepas peserta jalan sehat.

Haedar Nashir

Dalam menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing, kita tidak boleh ikut campur karena agama memiliki rambu-rambu sendiri. Sedangkan kerukunan ini perlu dijaga supaya tidak terjadi gontok-gontokan antarpemeluk agama, tandas Ki Enthus singkat.

Salah satu guru MA Babakan, Masroni menyatakan rasa gembiranya dengan kegiatan jalan sehat antarumat beragama. “Selain menambah keakraban, Kita dapat membangun silaturahmi antarumat beragama,” terang Masroni usai jalan sehat. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Nahdlatul Ulama, Sunnah Haedar Nashir

Jumat, 03 April 2015

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya

Dhaka, Haedar Nashir



Koordinator Tim Delegasi Nahdhatul Ulama (NU) untuk Rohingya Muhammad Wahib menyebutkan, saat ini bantuan yang diberikan untuk pengungsi Rohingya di Bangladesh difokuskan pada makanan untuk ibu dan anak.

"Tahap pertama, kita fokus pada makanan ibu dan balita," kata Wahib di Dhaka, Ahad (24/9).

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Delegasi NU Prioritaskan Makanan untuk Ibu dan Anak Rohingya

Hal itu dikarenakan jumlah angka kelahiran di kamp pengungsian begitu tinggi. Menurut Wahib, setiap bulannya ibu yang melahirkan berjumlah sekitar 160 orang. 

Oleh karenanya, jenis bantuan makanan untuk mereka memiliki jatah yang paling banyak. Tidak sedikit dari pengungsi Rohingya yang hamil dan melahirkan di tempat-tempat kamp pengungsian. Diprediksi, dalam beberapa bulan ke depan angka kelahiran juga akan tetap tinggi.

Selain itu, lanjut Wahib, bantuan obat-obatan, tenda, dan air serta sanitasi juga akan diserahkan kepada pengungsi pada tahap pertama ini. Pengungsi Rohingya di Bangladesh semakin bertambah, sementara tenda, toilet, dan sumber air begitu terbatas.

Haedar Nashir

Rencananya, Ahad, 24 September Tim Delegasi NU untuk Rohingya dan tim lainnya yang tergabung dalam Indonesia Humanitarian Alliance (IHA) akan berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Bangladesh. Sedangkan, besok akan bertolak ke Coxs Bazar untuk mempersiapkan pendistribusian bantuan kemanusiaan. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Ulama Haedar Nashir