Rabu, 06 Mei 2015

Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota

Surabaya, Haedar Nashir. Jumat (29/5) malam, sebanyak 69 santri peserta Pesantren Kilat (Sanlat) Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Surabaya, tampak bahagia. Bertempat di pesantren An-Nur jalan Karah Agung 9 Surabaya, mereka saling bertegur sapa melalui Video Conference dengan para santri lain di 11 kota di Indonesia.

Video Conference itu digelar di Kantor PP GP Ansor di Jakarta. Hadir dalam acara tersebut Menristek Dikti M Nasir, Mendikbud Anies Baswedan, dan Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid.

Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota

Peserta Sanlat yang aktif melakukan video conference itu berasal dari Surabaya, Jombang, Malang, Ngawi, Kudus, Semarang, Karanganyar, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Serang, dan Pontianak.

Haedar Nashir

Para santri itu saling berkenalan setelah menyimak arahan dan motivasi dari M Nasir, Anies Baswedan, dan Nusron Wahid.

Koordinator Sanlat BPUN Surabaya Abdus Salam mengatakan, para peserta Sanlat BPUN Surabaya ini telah mengikuti bimbingan intensif dalam rangka persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri, sejak Senin (11/5) lalu, dan berlangsung selama satu bulan.

Haedar Nashir

Program Sanlat BPUN adalah hasil kerja sama GP Ansor dan Yayasan Mata Air. Program ini, menurut Salam, bertujuan mengantarkan sebanyak mungkin kader muda NU bisa kuliah di PTN favorit di Indonesia.

Didampingi para pembina Arif, Syafril, dan Anas, Salam menegaskan, para peserta tidak hanya diberikan bimbingan selam sebulan, mereka juga akan terus dipantau hingga sukses masuk PTN.

"Setelah sukses masuk PTN, nanti kita juga kawal. Sehingga mereka diharapkan menjadi bibit-bibit kader NU di kampus," tegas Wakil Ketua GP Ansor Jawa Timur ini.?

Salam menambahkan, selama sebulan selain dibekali sejumlah materi oleh para tutor, para peserta juga mengikuti pengajian kitab, berjamaah, dan aktivitas keagamaan lainnya seperti para santri di pesantren pada umumnya.

"Ya, mereka jadi santri sementara selama sebulan. Maka itu namanya santri kilat, jadi pengasuhnya juga kiai kilat," ujarnya berkelakar.

"Jadi, saya ini juga kiai, tapi kiai kilat," selorohnya seraya tersenyum. (Abdul Hady JM/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Sabtu, 02 Mei 2015

Di Macau, Kultur NU Tak Ditinggalkan

Macau, Haedar Nashir?

Walau pun hujan turun, saya tetap teruskan langkah. Payung bercorak loreng ala TNI Angkatan Darat saya pergunakan untuk melindungi tubuh ini dari tempaan hujan.

Ahad (18/6) adalah pagelaran Pondok Ramadhan Ahad terakhir, karena Ahad depan diperkirakan sudah memasuki Syawal. Pukul 14:15 saya dan Ustad Muhandis tiba di masjid. Suasana begitu syahdu oleh guyuran hujan di tengah Macau kala itu.?

Di Macau, Kultur NU Tak Ditinggalkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Macau, Kultur NU Tak Ditinggalkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Macau, Kultur NU Tak Ditinggalkan

Terdengar suara lantunan ayat suci Al-Qur’an. Jamaah waktu itu sudah hampir penuh. Bacaan Al-Qur’an dilanjutkan lantunan shalawat yang dibawakan Muslimat NU. Begitu acara dimulai, saya yang pertama diberi kesempatan untuk mengisi pengajian mulai pukul 14:30-15:30.?

Jamaah terlihat bersemangat dan khusuk. Ada beberapa yang merekam melalui video ponsel, ada yang mencatat, ada dang hanya jiping (ngaji kuping). Sebagaimana kultur NU, hambar rasanya jika tak ada gelak tawa yang mewarnai pengajian dengan tema "Ihsan kepada Makhluk Allah".?

Namun demikian, esensi dakwah tetap yang utama, jangan sampai tergantikan oleh syahwat sekadar ingin membuat orang tertawa. Di sinilah saya menerapkan kehati-hatian.

Saya sampaikan, sikap ihsan bisa terhadap Allah, juga berlaku pada makhluk-makluk-Nya. Ihsan kepada manusia misalnya bila melihat orang lain sebagai diri kita sendiri.?

Haedar Nashir

“Kita berupaya untuk bersimpati dan berempati terhadap orang lain. Dari sini akan lahir darinya sikap yang penuh cinta, kasih sayang dan kebijaksanaan,” saya menjelaskan.

Haedar Nashir

Dalam Al-Shahihain, Nabi SAW bersabda, "Imanmu belum sempurna sampai engkau mencintai saudaramu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri." Juga sebagaimana ia mencintai kebaikan dan membenci keburukan buat dirinya, demikian juga terhadap saudaranya. Senang melihat saudaranya senang, dan ikut merasakan kesusahan ketika saudaranya mengalami kesusahan, bukan sebaliknya.

Orang yang paling utama untuk kita perlakukan dengan ihsan ialah orang tua. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Israa ayat 23-24, “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik (ihsan) kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah,” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil."

Selain kepada orangtua, kita juga diperintahkan berbuat baik (ihsan) kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki seperti tersebut dalam Surat Annisa ayat 36.

Ihsan juga berlaku pada hewan. Nabi bersabda, "Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya" (HR. Muslim).

Ihsan memang berlaku pada segala sesuatu, termasuk ihsan kepada lingkungan, alam raya, dan tanah air. Ketiganya perlu kita jaga, lestarikan, dan tidak merusaknya bahkan kita perlu mengembangkannya sebagai khalifah di muka bumi.

Ihsan menurut ulama lebih luas maknanya dari adil. Jika adil sekedar menggugurkan kewajiban, maka ihsan bekerja lebih dari yang dituntut. Jika adil menunaikan sekedar haknya seseorang, ihsan lebih dari itu sehingga rasa cinta, kasih sayang serta saling tolong menolong bisa tumbuh sebabnya.

Jika adil ialah apabila ia dipukul, ia membalas pukulan sesuai kadar pukulan tersebut, maka ihsan ialah memaafkannya. Berbuat baik pada yang berbuat baik pada kita itu adil, namun berbuat baik walau orang lain mendzalimi itulah ihsan.

Singkatnya Ihsan yang tertanam dalam dirinya akan mudah memaafkan orang yang menyakiti, menyambung (shilah) persaudaraan bagi yang memutusnya. Dan memberi seseorang yang tidak pernah memberinya.?

"Betapa indahnya ajaran Islam," tutup saya.?

Usai pengajian, kami berdua rupanya ditunggu oleh wartawan asal Portugal, Claudia Aranda yang kemudian banyak bertanya tentang kegiatan keislaman di sini, motivasi datang ke Macau. Claudia juga bertanya tentang Islam Sunni Syiah, tak ketinggalan isu hangat di Jakarta seputar toleransi beragama, dan isu politik yang saat ini sudah mulai mencair.?

"Obrigado," ucap saya pada Claudia dalam bahasa Portugal yang berarti terima kasih. (Saepuloh, anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerjasama dengan LAZISNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Kiai Haedar Nashir

Selasa, 28 April 2015

Di Lereng Lawu, PMII Solo Kader Anggota Baru

Karanganyar, Haedar Nashir. Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UNS kota Solo menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba). Kaderisasi berlangsung selama 3 hari di lereng Gunung Lawu, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat-Ahad (22-24/11).

Di Lereng Lawu, PMII Solo Kader Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Lereng Lawu, PMII Solo Kader Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Lereng Lawu, PMII Solo Kader Anggota Baru

Pengurus Cabang PMII Solo Bidang Pengaderan Zaenul Muttaqien mengatakan, dari Mapaba ini diharapkan PMII Solo memiliki kader berideologi ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang kuat.

“Ke depan bisa menjadi kader sebagai pejuang ideologis,” terangnya, Ahad (24/11) pagi.

Haedar Nashir

Puluhan anggota yang berasal dari berbagai kampus digembleng dengan berbagai materi seperti Aswaja, Islam Indonesia, ke-PMIIan dan Antropologi Kampus.

Haedar Nashir

“Target kami untuk mengembangkan nilai aswaja di kampus,” kata Ketua PMII UNS Ahmad Rodif Hafidz.

Rodif menambahkan, saat ini kondisi gerakan mahasiswa NU di kampus Solo dinilai masih kurang berkembang. Sedangkan mereka yang sebetulnya Nahdliyyin terkadang masih belum berani untuk menunjukkan identitasnya.

Padahal mahasiswa NU di sini banyak. Tetapi karena takut disudutkan, mereka tidak berani menunjukkan Ke-NUannya, tutup Rodif. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, PonPes, Daerah Haedar Nashir

Selasa, 21 April 2015

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis

Probolinggo, Haedar Nashir - Bulan suci Ramadhan membawa berkah bagi masyarakat yang berjualan makanan-minuman (mamin). Sudah menjadi fenomena selama bulan Ramadhan, masyarakat senantiasa menyerbu para pedagang mamin takjil mulai habis Ashar hingga menjelang adzan Maghrib tiba.

Saat Ramadhan, pedagang takjil berjualan dengan berkelompok dan sendirian.? Apapun bentuknya, menjelang bedug Maghrib, dagangan mereka laris diburu pembeli. Ramainya transaksi jual-beli mamin takjil itu terlihat di Alun-alun Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo.

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis

Pemandangan di bagian timur Alun-alun Kota Kraksaan kembali ramai dengan pedagang takjil seperti tahun sebelumnya. Puluhan stand takjil yang didirikan, mulai Sabtu (27/6) lalu itu seluruhnya terisi. Banyaknya pedagang yang berjualan masih kalah banyak dibandingkan dengan konsumen yang berbelanja.

Haedar Nashir

Ratusan pedagang musiman ini dikelola oleh persatuan PKL “Semarak” Kraksaan. Hanya dengan menyetor iuran sebesar Rp 75.000 mereka berhak menempati lapak yang sudah disediakan dengan fasilitas tenda sebagai pengaman saat hujan.

Lia, salah satu penjual kuliner musiman ini mengungkapkan, seperti tahun sebelumnya biasanya 10 hari pertama dan 10 hari terakhir adalah paling ramai dikunjungi pembeli. “Ayam krispi saya sehari bisa laku 5-6 kilogram, bahkan sebelum Maghrib sudah habis, kalau pas ramai pembeli,” katanya, Jum’at (2/6) sore.

Sementara Dita, seorang pengunjung mengaku lebih leluasa dan nyaman untuk berbelanja tahun ini karena lokasi penataannya lebih teratur dan rapi. “Kalau dulu penataannya semrawut dan harus berdesak-berdesakan kalau mau belanja,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Sedangkan Muhammad Anshori, salah satu pengurus persatuan PKL “Semarak” menyampaikan bahwa kehadiran para pedagang musiman ini tidak berdampak negatif pada penghasilan para PKL di Alun-alun Kota Kraksaan, bahkan sebaliknya dengan ramainya? pengunjung juga membawa berkah tersendiri bagi mereka.

“Mereka buka usahanya hanya sore hari, sedangkan kita para PKL bisa sampai waktu sahur jadi walaupun sama-sama jualan kuliner tidak berpengaruh kepada pendapatan kami,” ujarnya.

Untuk tahun ini jelas Muhammad Anshori, pihaknya mengatur ulang lokasi para pedagang takjil ini sehingga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kami atur memanjang supaya tidak menimbulkan macet dan pelanggan dari PKL ‘Semarak’ masih bisa masuk dan belanja seperti biasanya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Pondok Pesantren, Ulama Haedar Nashir

Jumat, 17 April 2015

LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas

Jakarta, Haedar Nashir. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dicanangkan Direktorat Promosi Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI, bekerja sama dengan sejumlah organisasi kemasyarakatan, salah satunya Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU). LK PBNU mewujudkannya dalam Germas di Pesantren. Sosialiasi Germas di Pesantren akan digelar pada awal Oktober 2016 untuk wilayah Jawa Barat, dan dijadwalkan pekan keempat Oktober di Jawa Timur.

Dian Dipo, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengatakan pada Kamis (29/9), Germas dilakukan oleh semua kelompok umur, baik di sekolah, pesantren, rumah, kantor, dan di mana pun. Sehingga apabila LK PBNU turut menyosialisasikan Germas, diharapkan akan ada sosialisasi yang menyeluruh karena jangkauan PBNU yang luas.

LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas (Sumber Gambar : Nu Online)
LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas (Sumber Gambar : Nu Online)

LK PBNU dan Kemenkes Mulai Sosialisasi Germas

"Germas memiliki tiga fokus kegiatan, yaitu melakukan aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur yang tepat, dan pemeriksaan kesehatan secara dini. Dalam wujud yang real, dengan melakukan tiga hal ini, diharapkan jumlah kasus penyakit di lingkungan pesantren, akan berkurang, dan kesehatan akan lebih terjaga," jelas Dian.

Pelibatan ormas dalam Germas, menurut Dian karena dalam ormas ada yang memimpin, yang tahu kebudayaan atau kebiasaan masyarakat dalam kelompok itu. Sehingga pelibatan ormas memungkinkan apa yang tidak dapat dilakukan langsung dari pusat terhadap individu-individu, dapat ditularkan melalui kelompok ini.?

Haedar Nashir

Kelompok atau ormas itulah yang akan menterjemahkan ke dalam kebiasaan kehidupan mereka selama ini, sehingga lebih tepat sasaran. Misalnya kebiasaan olah raga yang dilakukan kelompok atau ormas, tidak menjadi masalah bagi individu-individu dalam kelompok tersebut, bahkan bisa menjadi contoh bagi yang belum melakukannya dengan baik.?

Keterlibatan ormas dapat bersinergi dengan Dinas Kesehatan atau Pemerintah. Pemerintah, kata Dian mendukung dalam arti misalnya penyediaan fasilitas. Sehingga pemerintah-lah yang menyiapkan fasilitas untuk melakukan tiga kegiatan dalam Germas. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Santri Haedar Nashir

Selasa, 14 April 2015

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo

Yogyakarta, Haedar Nashir. Wakil Ketua PWNU DIY Jadul Maula berpendapat, frame kebangkitan nasional harus dimaknai dari kerajaan di Nusantara. Karena nasionalisme secara kultural sudah dibangun oleh para Wali Songo.

“Akar nasionalisme kita itu terbukti dari kerajaan Demak mengusir penjajah. Nasionalisme bangsa kita itu lahir dari agama. Beda dengan Eropa yang terpisah dari agama,” katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi dengan tema, “Forum Mahasiswa, Santri & Warga: Refleksi Hari Kebangkitan Nasional” di Lantai 2 Kantor PWNU DIY, Jalan MT Haryono, Rabu (20/5) pagi.

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Berakar Sejak Era Wali Songo

Jadul melanjutkan, Islam dan budaya itu diharmoniskan oleh para wali, sehingga melahirkan Islam yang khas Nusantara. Sebab itu, persatuan dan kesatuan sudah digalakkan para sultan dengan bahasa agama dan bahasa kebudayaan.

Haedar Nashir

“Frame kebagkitan itu tidak terpisah dan berdiri sendiri dari sejarah kerajaan masa lampau,” tutur pengasuh Pesantren Kaliopak Yogyakarta ini.

Akar budaya Nusantara kita, tambah Jadul, mengandung tiga unsur, yakni menyatunya Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Itu hasil dari dakwah para wali yang menyampaikan Islam ke Nusantara.

Haedar Nashir

Kehadiran penjajah tidak bisa dilawan dengan senjata dan perlawanan secara fisik dengan begitu saja. Benteng yang sangat kuat untuk menghalang itu adalah kebudayaan dan spiritualitas. Para wali mempersiapkan hal itu untuk melawan para penjajah.

Peserta yang hadir terdiri atas para santri dan mahasiswa generasi muda nahdliyyin. Acara yang dimoderatori Muhammadun ini juga menghadirkan Mukhtar Salim, Kandidat Doktor UII Yogyakarta. (Suhendra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Doa, Tegal Haedar Nashir

Minggu, 05 April 2015

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya

Dua rakaat sebelum shalat subuh sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Nilai dua rakaat (sebelum subuh) ini, sebagaimana pesan Rasulullah saw lebih baik dari pada jagad seisinya.

? ? ? ? ? ? ?

Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari dunia seisinya.

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Rakaat Sebelum Subuh Mengalahkan Dunia Seisinya

Banyak sekali istilah yang digunakan untuk menunjukan dua rakaat sebelum shubuh. Dari redaksi hadits tersebut sebagian ulama mengatakannya shalat sunnah fajar. Adapula yang menamainya sebagai shalat sunnah subuh karena dilakukan sesebelum shalat subun. Ada pula yang mengatakan shalat sunnah barad mungkin karena dilaksanakan ketika hari masih dingin. Ada pula yang menamakan shalat sunnah ghadat yaitu shalat sunnah yang dilakukan pagi-pagi sekali.

Oleh karena itu dalam Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi memperbolehkan niat shalat dua rakaat subuh ini dengan berbagai macam istilah tersebut. Misalkan ushalli sunnatal fajri rok’ataini ada’an lillahi ta’ala. Atau boleh juga ushalli sunnatal barodi rok’ataini ada’an lillahi ta’ala  sunnatas  subhi, dan seterusnya. Atau boleh juga yang lebih lengkap adalah

 

Haedar Nashir

?? ? ? ? ? ? ? ? ?

Usholli sunnatas shubhi rokataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi taaala.                                                  

Di samping itu yang harus diperhatikan adalah anjuran untuk tidak berlama-lama dalam shalat, mengingat predikat shalat ini adalah shalat sunnah. Walaupun nilainya lebih berharga daripada dunia seisinya.

Selain itu alasan kebergegasan dua rakaat ini adalah mengikuti Rasulullah saw (liitba’I sunnatir rasul) yang cukup membaca surat al-Kafirun dalam rakaat pertama (setelah al-fatihah) dan al-Ikhlash (setelah al-fatihah)pada rakaat kedua. Atau membaca Alam Nasyrakh (surat al-Insyirakh) pada rakaat pertama dan Alam Taro (Surah al-Fiil) pada rakaat ke dua.

Haedar Nashir

Secara praktis, tersebut pula dalam Nihayatuz zain  anjuran untuk membaca wirid khusus setelah dua rakaat sambil menunggu shalat subuh. Bacaan itu adalah (1) Ya Hayyu Ya Qayyum La Ilaha Illa anta, 40 kali. (2) Surat Al-Ikhlas, 11 kali (3) Surat Al-Falaq, 1 kali (4) Surat An-Nas, 1 kali dan (5) Subhanallah wa Bihamdihi, Subhanallahil Adhim, Asytaghfirullah, 100 kali.  

 Demikianlah keterangan dua rakaat sebelum shalat subuh yang menurut sebagian ulama dikategorikan sebagai rawatib (sebagaimana shalat qabliyah lainnya) yang dilaksanakan sebelum shalat subuh.

 

Red. Ulil Hadrawy. Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Pahlawan Haedar Nashir