Rabu, 31 Mei 2017

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag

Probolinggo, Haedar Nashir. Terkait tragedi Mina, Mustasyar PCNU Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta keluarga jamaah haji untuk tidak memercayai informasi selain rilis resmi Kementerian Agama (Kemenag) dan sumber berita korban Mina. Pasalanya, Hasan menambahkan, validitas informasi yang beredar diragukan.

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag

Demikian disampaikan Hasan kepada sejumlah wartawan usai pulang dari melaksanakan ibadah haji, Selasa (29/9). “Saya saja yang ada di sana tidak tahu kronologis pasti kejadian itu. Karena itu, meskipun ada teman yang telepon, sms atau BBM tanya kondisi di sana tidak saya jawab. Karena saya tidak tahu persis, kalau tidak tahu persis kemudian bercerita maka khawatir keliru,” ujarnya.

Informasi terkait kejadian Mina itu baru dia dapatkan dari sumber berita korban Mina, Saiful Bahri. Di mana anggotanya banyak yang menjadi korban.

Haedar Nashir

“Di Bandara Jeddah saya bertemu dengan pimpinan Komisi VIII yang bertindak sebagai pengawas haji. Mereka menyampaikan akan segera menggelar RDP (Rapat Dengan Pendapat) begitu jamaah haji pulang ke Indonesia,” katanya.

Haedar Nashir

Tidak hanya itu, dalam RDP itu Hasan juga diminta untuk mengajak serta Saiful. Sebab, Komisi VIII ingin mengetahui kondisi yang ada di sana versi Saiful yang juga sebagai korban. Apalagi dirinya mengaku sudah berbicara dengan Saiful usai melaksanakan rukun haji dan mengetahui kondisi sebenarnya saat tragedi itu terjadi.

Menurut Hasan, saat itu seluruh jamaah di kloter 48 berangkat ke Mina melalui jalur yang semestinya. Tetapi sampai di pertigaan, askar meminta untuk berbelok. Pengalihan itulah yang membuat tragedi itu terjadi. Saiful mengaku sudah melayangkan protes pada askar, namun tidak dihiraukan.

Saat itulah tragedi terjadi. Mulanya, ada 3 kursi roda yang seharusnya memuat orang ternyata memuat barang. Kursi roda itu macet dan ada mobil berhenti. Sehingga, banyak jamaah yang terhalang untuk lewat.

Di tengah padatnya manusia dan cuaca yang cukup terik, banyak jamaah yang panik dan ingin segera sampai. “Saat itu gelombang manusia menurut Saiful seperti ombak. Semuanya histeris, apalagi banyak yang kehausan gara-gara cuaca yang terik. Semuanya berteriak dan minta tolong, kondisi saat itu sangat tidak menguntungkan,” jelasnya.

Di kanan dan kiri jalur tersebut terdapat maktab jamaah dari negara lain. Sebagian jamaah yang selamat karena memanjat pagar. Anehnya, tidak satupun orang yang membuka pintu pagar di kanan dan kiri.

“Seandainya pagar dibuka, munngkin bisa mengurai kepadatan jamaah. Hal itulah yang kini menjadi pertanyaan, apa alasan askar mengalihkan jalur jamaah,” terangnya.

Oleh karena itu, Hasan berharap pemimpin-pemimpin negara yang mengirimkan jamaah untuk mendesak Arab Saudi menjelaskan alasan askar tersebut. Sehingga ke depan manajemen tata kelola haji bisa dilakukan dengan baik. Dengan demikian, jamaah bisa beribadah dengan khusyuk. “Solusinya perlu keterlibatan dari Negara-negara Islam dalam rangka perbaikan pelayanan ibadah haji di Arab Saudi,” tegasnya.

Hasan juga meminta agar masyarakat tidak saling menyalahkan supaya bisa menyejukkan. “Sekali lagi, jangan percaya sms dari siapapun yang tidak tahu persoalannya. Saya berani bicara karena tahu dari sumber berita yang juga menjadi korban,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Tokoh, AlaNu Haedar Nashir

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak masyarakat untuk mewujudkan Pilkada serentak tanpa konflik. Pilkada telah terlaksana, selanjutnya bersama-sama menjaga kondusivitas pascapencoblosan.

"Ayo kita kawal bersama agar suasana rukun dan guyub ini terus terjaga," kata Kiai Said Aqil sesaat setelah keluar dari Tempat Pemungutan Suara di samping kediamannya di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (15/2).

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan

Kiai Said menuturkan, ketenangan masyarakat pascapencoblosan sangat ditentukan oleh statemen, sikap dan tindakan politisi. Karena itu semua pihak yang berkepentingan dengan pilkada harus mengendalikan diri.

"Yang kalah harus bersabar, yang menang tetaplah rendah hati," nasihat kiai pengasuh Pondok Pesantren al-Tsaqofah Ciganjur ini.

Jika masyarakat mampu mempertahankan kondusivitas ini, bagi Kiai Said Aqil, merupakan kemajuan luar biasa. "Demokrasi makin matang dan tentu manfaatnya kembali ke masyarakat," ujar Kiai Said Aqil.?

Haedar Nashir

Sebelumnya, ia mengeluarkan seruan agar warga bersikap bijak terhadap pilkada ini, termasuk dalam hal perbedaan pilihan politik. Menurutnya, perbedaan aspirasi harus disikapi secara wajar dan dianggap sebagai proses pendidikan politik warga.?

Haedar Nashir

“Perbedaan pendapat itu yang membuat kita cerdas, kritis. Tapi tidak boleh kemudian saling menjatuhkan, apalagi fitnah,” ujarnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, PonPes Haedar Nashir

KH Hasyim Muzadi: Aswaja Hadapi Perang Dua Ideologi Transnasional

Makassar, Haedar Nashir - Ketua Umum PBNU masa khidmah 1999-2010 KH Achmad Hasyim Muzadi mengatakan, saat ini kondisi umat Islam terbagi atas dua gerakan alur pemikiran, yakni Iran di satu sisi dan Saudi Arabia di sisi lain. Keduanya tidak hanya berperang melalui fisik, ideologi pun gencar mereka suarakan di seluruh dunia. Akhirnya, perpecahan ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, untuk menghancurkan Islam itu sendiri.

"Nah, posisi Indonesia sebagai umat Islam terbanyak yang berpaham Ahlusunnah wal Jamaah di dunia, harus ada perjuangan untuk men-counter gerakan ini. Dua kekuatan besar ini berperan menghancurkan ideologi dan mengamcam keutuhan NKRI," ujarnya saat memberikan kuliah umum di hadapan 2000 mahasiswa baru Universitas Islam Makassar (UIM) di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM, Makassar, Sabtu (8/10).

KH Hasyim Muzadi: Aswaja Hadapi Perang Dua Ideologi Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi: Aswaja Hadapi Perang Dua Ideologi Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi: Aswaja Hadapi Perang Dua Ideologi Transnasional

Menurutnya, Islam memang menjadi agama mayoritas di Indonesia, tetapi belum tentu mayoritas dalam hal peranan. Posisi NU dan Muhammadiyah sebagai ormas yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tentunya harus bertindak menyikapi ideologi transnasional ini.

Di sinilah, katanya, Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) berperan dalam membela negara dalam suasana ghazwatul fikr (peran ideologi/persepsi) yang terjadi dewasa ini. Menurut anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI ini, Aswajalah yang mampu meredam gerakan ini.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

“Islam adalah agama yang benar, tetapi cara untuk menyebarkan Islam harus juga benar. Dulu Wali Songo mengislamkan orang kafir, tetapi saat ini orang Islam yang dikafirkan. Ini kan kacau cara beragama kita? Kalau memang ia menujukkan sifat kekafiran, maka jangan dikafir-kafirkan, tetapi ajaklah mereka untuk kembali, itulah cara para ulama menyebarkan Islam Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdiah,” paparnya dalam acara bertema "Penguatan Nilai-nilai Islam Ahlusunnah wal Jamaah dalam Rangka Bela Negara" itu.

Ia juga menjelaskan, dari sisi budaya saat ini Indonesia digempur berbagai budaya yang tidak sesuai dengan kondisi Tanah Air. “Lihat saja kemajuan teknologi saat ini menghabisi moral pemuda kita. Tidak perlu menghabisi syariatnya, tetapi yang terjadi adalah seluruh sendi kehidupan kita diserang, sehingga dengan sendirinya syariat beragama kita habis dengan sendirinya,” tambahnya.

Rektor UIM Majdah Agus Arifin Numang mengungkapkan komitmennya untuk senantiasa berdiri di atas pondasi Nahdlatul Ulama. "UIM dalam mewujudukan cita-cita kelembagaan, tentunya memiliki tanggung jawab menyebarkan nilai-nilai Islam Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdliah yang merupakan aktualisasi dari nilai-nilai ajaran Islam Rahmatan lil alamin," katanya.

Tampak hadir Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregurutta KH M Sanusi Baco, anggota DPR RI Komisi VII Andi Jamaro Dulung, segenap pengurus NU tingkat cabang dan wilayah setempat, pengurus Yayasasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar, para wakil rektor UIM, para dekan fakultas/direktur pascasarjana UIM, serta para ketua badan otonom serta Lembaga NU Sulsel. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Kang Said: “Sang Kiai” Sarat Sejarah, Layak Tonton

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menyambut baik segera ditayangkannya film "Sang Kiai" garapan Rapi Films. Karya layar lebar yang mengisahkan perjalanan hidup dan perjuangan pendiri NU KH Hasyim Asyari, dinilai sarat catatan sejarah yang layak tonton.

"Saya secara pribadi dan atas nama NU mengimbau seluruh Nahdliyin untuk menyaksikan film ini. Ini film bagus," kata Kiai Said sesaat setelah menerima pimpinan Rapi Films Gope T. Samtani di PBNU, Jakarta, Rabu (15/5).

Kang Said: “Sang Kiai” Sarat Sejarah, Layak Tonton (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: “Sang Kiai” Sarat Sejarah, Layak Tonton (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: “Sang Kiai” Sarat Sejarah, Layak Tonton

Kiai Said mengisahkan, salah satu penggalan menarik dari film Sang Kiai adalah saat utusan Presiden Soekarno mendatangi KH Hasyim Asyari untuk menanyakan hukum ikut peperangan melawan penjajah Belanda. 

Haedar Nashir

"Saat itu Mbah Hasyim (sapaan KH Hasyim Asyari) menjawab hukumnya wajib. Jadi jihad dalam konteks bela negara memang wajib dilakukan oleh setiap warga negara, termasuk saat itu Nahdliyin," ungkap Kiai Said. 

Lebih lanjut Kiai bergelar Doktor lulusan Universitas Ummul Qura, Mekah, tersebut menambahkan, banyak catatan sejarah keikutsertaan NU dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan yang terangkum dalam film Sang Kiai. "Banyak sejarah NU yang di zaman Orde Baru disembunyikan, diungkapkan di film Sang Kiai," pungkasnya. 

Haedar Nashir

Pemutaran perdana film Sang Kiai dijadwalkan pada tanggal 20 Mei mendatang di Tethre XXI Epicentrum, Jl. Rasuna Said, Jakarta. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa KH Hasyim Asyari terhadap Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga dijadwalkan menghadiri pemutaran perdana film tersebut. Film akan diputar serentak di bioskop Indonesia mulai 30 Mei ini. 

Penulis: Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Senin, 29 Mei 2017

Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja?

Assalamu’alaikum. Pak Ustadz, saya bekerja di Jakarta sejak tahun 2005 lalu dan sekarang tinggal di Depok bersama keluarga. Setiap akhir Ramadhan saya rutin pulang ke kampung halaman saya di Probolinggo, Jawa Timur. Yang ingin saya tanyakan apakah zakat fitrah saya nanti lebih baik disalurkan di Depok (mengingat saya setiap hari tinggal di sana dan di sana juga banyak masyarakat yang berhak menjadi mustahiq zakat), atau lebih baik saya sampaikan zakat fitrah untuk saya dan anak istri saya di Probolinggo? Syukron atas jawabannya. (Sobirin M.)

Jawaban

Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja? (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja? (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja?

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa hukum zakat fitrah itu adalah wajib. Salah satu hadits yang menjadi dasarnya adalah hadits berikut ini:

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ?, ? ? ? ?: ? ? ?, ?, ?, ?, ?, ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Haedar Nashir

“Dari Ibnu ‘Umar ra ia berkata, Rasulullah saw mewajibkan zakat fithr satu sha` dari kurma atau satu sha` dari gandum baik kepada budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan orang muslim. Dan Rasulullah saw memerintah zakat tersebut ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk menunaikan sahalat ‘id." (Muttafaq ‘alaih)”.

Haedar Nashir

Kewajiban menunaikan zakat fitrah harus memenuhi tiga syarat. Yaitu, Islam, terbenamnya matahari pada akhir puasa Ramadlan (meskipun hukumnya boleh disalurkan di bulan Ramadhan), dan adanya kelebihan makanan pokok baginya dan keluarganya pada hari itu (malam idul fitri).

Sedang mengenai penyaluran zakat menurut mayoritas ulama berpendapat harus diberikan di tempat kita tinggal dan tempat mencari nafkah. Namun menurut madzhab Hanafi boleh zakat tersebut disalurkan ke daerah lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Jika didapati golongan penerima zakat atau sebagiannya di suatu wilayah maka wajib memberikan zakat kepada mereka baik wilayah itu luas maupun kecil, dan haram memindahkan zakat ke tempat lain dan tidak diperbolehkan kecuali oleh madzhab hanafi yang berpendapat atas kebolehannya. Pendapat madzhab Hanafi kemudian dipilih oleh banyak ulama (ashab) dari kita khususnya ketika penyalurannya diberikan kepada keluarga dekat, teman atau orang yang memiliki keutamaan. Dan mereka berkata, dengan model seperti itu gugurlah kewajiban zakatnya. Dengan demikian ketika zakat itu didistribusikan ke keluar daerah disertai mengikuti aturan yang terdapat dalam madzhab Hanafi itu diperbolehkan. Inilah yang menjadi dasar kami dan selain kami dalam mempraktikkannya. Karena terdapat beberapa alasan”. (Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, Bairut-Dar al-Fikr, tt, h. 217)

Pandangan madzhab Hanafi yang memperbolehkan pemindahan distribusi zakat ke daerah lain itu juga dikemukakan oleh Wahbah az-Zuhaili:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Madzhab Hanafi berpendapat, memindahkan distribusi zakat dari satu wilayah ke wilayah lain hukumnya makruh tahzih (boleh), kecuali pemindahan tersebut diberikan kepada keluarga dekatnya yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka, ke suatu kaum yang paling membutuhkannya, yang lebih baik, yang lebih wirai, yang lebih bermanfaat buat kalang muslim, atau dari dar al-harb (wilayah perang) ke dar al-islam, kalangan penuntut ilmu, orang-orang yang zuhud, atau zakat tersebut disegerakan penunaiannya sebelum masa haul tiba. Dalam konteks ini maka tidak makruh untuk memindahkan distribusi zakat ke wilayah lain. Dan seandainya pemindahan zakat tersebut bukan dalam konteks ini maka boleh karena penerima zakat adalah orang-orang faqir secara mutlak”. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-3, 1409 H/1989 M, juz, 2, h. 892)

Penjelasan singkat ini jika ditarik dalam konteks pertanyaan di atas maka dapat dipahami bahwa pada dasarnya pemindahan distribusi zakat fitrah dari tempat tinggal sekaligus tempat mencari nafkah tidak diperbolehkan. Jadi lebih baik disalurkan di tempat tinggal dan tempat bekerja, atau sebelum mudik atau pulang kampung.

Tetapi hal ini diperbolehkan dalam pandangan madzhab Hanafi dengan catatan zakat fitrah diberikan kepada orang-orang dengan kriteria yang telah dijelaskan dalam madzhab Hanafi, atau zakat fitrah itu diberikan sebelum jatuh temponya (haul). Dan jika demikian maka pemindahan distribusi zakat tersebut ke daerah lain dihukumi makruh tanzih atau boleh-boleh saja.

Namun pendapat madzhab Hanafi ini dapat diamalkan sepanjang kita mengikuti aturan main yang terdapat dalam madzhab Hanafi. Seperti misalnya zakat fitrah diberikan kepada kerabat kita di kampung yang membutuhkan atau orang-orang yang lebih membutuhkan. Jadi yang menjadi pertimbangan dalam hal kebolehan pemindahan distribusi zakat ke daerah lain adalah kemaslahatan atau kemanfaatan.

Demikian jawaban dapat kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat. Dan sebelum memutuskan untuk memindahkan zakat fitrah ke kampung halaman maka sebaiknya mempertimbangkan aspek kemaslahatannya. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Doa, Syariah Haedar Nashir

Minggu, 28 Mei 2017

32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal

Jakarta, Haedar Nashir. Sebanyak 32.379 dari 70.611 desa yang tersebar di Indonesia diidentifikasi masuk dalam kategori desa tertinggal, sembilan di antaranya adalah kelurahan yang ada di wilayah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.

"Ini baru hasil identifikasi kami, belum diverifikasi," kata Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertingal Safullah Yusuf di sela-sela seminar tentang strategi pembangunan desa yang digelar kementeriannya di Jakata, Selasa (12/5).

Dari sembilan kelurahan di DKI yang teridentifikasi tertinggal, enam di antaranya berada di Kabupaten Kepulauan Seribu dan dua lainnya adalah Kelurahan Manggarai dan Manggarai Selatan di Kodya Jakarta Selatan, serta Kelurahan  Cipayung di Kodya Jakarta Timur.

32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)
32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)

32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal

Dikatakan, data tersebut bisa saja berubah setelah dilakukan verifikasi. Saat ini baru desa-desa  di Kalteng, Sumut, Sumsel, Bengkulu, Kepri, DIY, Sulsel, Sultra, Gorontalo, Sulbar yang telah selesai diverifikasi, katanya.

Kementerian PDT kini mengubah sasaran pendataan kawasan tertinggal dari sebelumnya mengambil ukuran setingkat kabupaten menjadi tingkat desa karena faktanya ada juga desa atau kelurahan tertinggal di kabupaten atau kotamadya yang relatif maju.

Haedar Nashir

Pada pendataan kabupaten tertinggal, dari 400-an kabupaten/kota, tercatat 199 kabupaten di antaranya masuk kategori tertinggal, sedangkan kawasan kota dianggap sebagai daerah yang relatif maju karena, untuk memperoleh status kota, suatu daerah harus memenuhi persyaraan tertentu.

Untuk menentukan suatu desa dikategorikan tertinggal atau relatif maju, Kementerian PDT menggunakan sejumlah variabel, seperti kondisi jalan utama desa, lapangan usaha mayoritas penduduk, fasilitas pendidikan, kesehatan, tenaga kesehatan, sarana komunikasi, kepadatan penduduk perkilometer persegi, sumber air minum/masak penduduk, sumber bahan bakar penduduk, persentasi rumah tangga pengguna listrik dan persentase rumah tangga pertanian.

Haedar Nashir

Sementara untuk desa atau kelurahan yang ada di perkotaan,  varibel-variabl, seperti sanitasi dan pembuangan sampah juga dimasukkan. "Variabel-variabel itu diberi skor. Yang tidak mencapai skor minimum masuk kategori tertinggal," kata Saifullah Yusuf yang biasa dipanggil Gus Ipul.

Untuk menangani desa-desa tertinggal tersebut, Kementerian PDT memperkirakan kebutuhan dana sebesar Rp20 triliun per tahun. Namun dikatakan, anggaran yang dimiliki pemerintah sangat terbatas sehingga realisasinya belum tentu angkanya mencapai jumlah tersebut.

"Karena itu perlu disusun prioritas dan pemaduan program antara pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten/kota sehingga dana pemerintah yang terbatas itu bisa tepat sasaran," Gus Ipul.  (nam/ant)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Khutbah, Internasional Haedar Nashir

Sabtu, 27 Mei 2017

Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial

Ternate, Haedar Nashir?

Pimpinan Wilayah Muslimat NU Maluku Utara memperingati hari lahir yang ke-71 dengan berbagai kegiatan sosial mulai pemeriksaan kesehatan hingga bantuan bagi keluarga miskin tidak mampu .

Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial

Ketua PW Muslimat NU Maluku Utara Rosita Alting mengatakan, kegiatan-kegiatan tersebut adalah upaya ibu-ibu NU untuk menumbuhkan nilai solidaritas dan kepekaan terhadap masalah-masalah kemasyarakatan.

Menurut dia, kegiatan pemeriksaan kesehatan dini kanker payudara merupakan kerja sama NU dengan klinik Nur Armein Santiong. Kegiatan itu melibatkan ibu-ibu majelis taklim dan masyarakat kota Ternate.

“Ini upaya memberikan informasi terhadap pentingnya kesehatan,” katanya.?

Selain itu, lanjut dia, Muslimat Malut melakukan anjangsana ke panti jompo Himo-himo Ternate serta memberikan bantuan kepada keluarga miskin tidak mampu di Kelurahan Perumnas Jati. Juga menyalurkan bantuan sembako untuk korban kebakaran di Kelurahan Sulamadaha.

Haedar Nashir

Menurut Rosita Alting, kegiatan itu merupakan bagian dari penguatan kembali nilai-nilai sosial di masyarakat dalam membangun Indonesia.?

Haedar Nashir

“Dalam membangun Indonesia, maka kesehatan dan kesejahteraan harus menjadi tumpuan gerak sosial di masyarakat sesuai dengan tema secara nasional harlah Muslimat NU ‘Satu Langkah Membangun Negeri dan Menjaga NKRI’,” jelasnya.?

Kegiatan yang dimulai sejak 1 April 2017 itu merupakan rangkaian memeriahkan peringatan hari lahir Muslimat NU yang ke-71. Puncaknya akan dilaksanakan pada 9 April 2017 di Taman Nukila Ternate bersama dengan seluruh keluarga besar NU Maluku Utara.?

Muslimat NU adalah banom NU yang berdiri pada 29 Maret 1946. Muslimat didirikan bertujuan mengangkat harkat dan martabat perempuan Indonesia melalui bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, da’wah, dan sosial. (Abdu Haris Doa/Abdullah Alawi)

? ? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Quote, Khutbah Haedar Nashir