Kamis, 29 Juni 2017

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Jepara, Haedar Nashir. Santri dulu dan sekarang jelas berbeda. Karena zamannya sudah berbeda maka kiai selaku pengasuh di pesantren harus memiliki cara jitu untuk mendidik santri di zaman modern seperti saat ini. 

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Dalam hal ini, Hisyam Zamroni mengapresiasi apa yang dilakukan oleh H Taufiqul Hakim selaku pengasuh pesantren Darul Falah Bangsri Jepara, Jawa Tengah.

Apresiasi itu sampaikan usai menyimak 4 santri Darul Falah yang mempraktikkan kitab Bid’ah Hasanah dan Syiaful Ummah karya Kiai Taufiq.  M Najib Syamsuddin santri yang masih duduk di kelas 3 MI ditanyai oleh Kang Maman perihal sumber hukum Islam. “Agama atau syariat Islam mempunyai empat sumber hukum. Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas,” jawab santri asal Bandung ini. 

Ketika dia diminta untuk menjelaskan dengan bahasa Jawa. “Sumbere syariat Islam-ono papat. Al-Quran lan – sunnahe Na- Bi Muhammad. Nomer telu – ijma lan papate qiyas – cekelono – kuat-kuat – kanti ikhlas,” lanjut Najib. 

Santri lain yang turut mempraktikkan ada Najwa (Garut), Syiaful (Semarang) dan Ivan (Madura). Santri-santri yang mempraktikkan kitab karya Kiai Taufiq merupakan garapan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) yang bernaung di pesantren Darul Falah Bangsri Jepara. 

Haedar Nashir

Pembinaan santri-santri itu merupakan salah satu pembinaan bidang pendidikan yang dilakukan Ikdamuba. Dalam kegiatan Seminar Penanggulan Kenakalan Remaja yang digelar PC Lazisnu Jepara dan Ikdamuba berlangsung di Gedung NU Jepara, Kamis (21/4) ini, menurut Hisyam, Kiai Taufiq telah mereproduksi karya ulama masa silam. 

Karena objek santri saat ini berbeda sehingga kitab disertai dengan hadits atau ada dalilnya juga disertai dengan nadzam (syair). “Dengan secara tidak sadar siswa akan terbiasa jika sudah membacanya berkali-kali,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara ini. 

Haedar Nashir

Inilah yang kata Hisyam sebagai model taklim dan tikrar yang menjadikan santri akan mudah menghafalnya. Ia yang menjabat sebagai Kepala KUA Keling itu menambahkan buku bidah hasanah dan syifaul ummah yang dibagikan gratis untuk peserta seminar adalah buku saku. Buku itu, lanjutnya, bisa dengan mudah dibawa  dan dipelajari di mana saja. Ikut andilnya Kiai Taufiq dalam mengarang banyak kitab merupakan wahana untuk mengurangi dampak radikalisme dan kenakalan remaja. 

Apalagi pihaknya sudah bekerja sama dengan LP Ma’arif NU Jepara untuk membagikan buku tentang bahaya radikalisme secara cuma-cuma. Lewat karya-karya seperti itu merupakan sebuah ciri khas dari kiai pesantren. Ia juga mendorong agar para orang tua mau memondokkan anaknya dan kiai juga harus produktif berkarya apalagi karya yang tematik sebagaimana yang dilakukan Kiai Taufiq. 

Orang tua yang mau memondokkan anaknya tegasnya bisa mengurangi dampak kenakalan remaja. Di samping itu kiai produktif menunjukkan identitasnya sebagai fail (produsen) bukan maful (konsumen). (Syaiful Mustaqim/Fathoni)   

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Quote, PonPes Haedar Nashir

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam

Sleman, Haedar Nashir. Keberadaan pondok pesantren dalam rentang sejarahnya perlu selalu dibaca sebagai warisan dan juga kekayaan budaya-intelektual Nusantara. Oleh karena peran sejarah yang dimainkannya, dalam sejumlah aspek tertentu, pesantren perlu dipandang sebagai benteng pertahanan kebudayaan itu sendiri.

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam

Demikian KH Jazilus Sakhok Ph.D yang akrab disapa Gus Sakhok membuka diskusi bersama tamu kunjungan dari APTEP (Asia Pasific Theologi Encounter  Programe) di STAI Sunan Pandanaran, Yogyakarta, Jumat (8/05), pagi.

"Pesantren merupakan institusi pendidikan tertua di Indonesia yang bertujuan untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral dan nilai Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari" terang Gus Sakhok.

Haedar Nashir

Ia menjelaskan, pesantren merupakan hasil pergulatan dan dialektika kebudayaan yang kreatif, antara tradisi, masyarakat, dan pola interaksi kiai-santri-kitab kuning. Karenanya keunikan pesantren juga terlihat pada sifat akulturatif yang menghargai kultur dan tradisi lokal secara halus dan kreatif, sehingga terhindar dari konflik.

"Salah satu unsur dari pesantren yang berperan penting dalam membentuk karakter Islam yang jauh dari karakteristik ekstrem dan radikal adalah kitab kuning. Kitab kuning adalah tradisi klasik warisan Wali Songo dan para ulama Nusantara. Kitab kuning itu mencermikan kelembutan Islam, sebab terdapat akulturasi budaya di dalamnya," imbuhnya.

Haedar Nashir

Gus Sakhok mengatakan, kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai rujukan dan paduan nilai-nilai universal dalam menyikapi perubahan zaman. Aspek dinamis yang diperlihatkan kitab kuning adalah adanya transfer pembentukan tradisi keilmuan tauhid-fiqih-sufisme yang didukung penguasaan ilmu-ilmu instrumental, seperti nahwu dan sharaf (adab).

"Karenanya, tanpa kitab kuning dalam pengertian yang lebih luas, tradisi intelektual di Indonesia agaknya sulit untuk keluar dari kecenderungan ekstremitas pemahaman keagamaan," pungkasnya. (Anwar Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Berita, Nahdlatul Haedar Nashir

Minggu, 25 Juni 2017

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia kini telah berusia 57 tahun. Organisasi yang didirikan di Surabaya tersebut, telah memiliki kader dari Sabang sampai Merauke. Para alumnusnya telah memasuki beragam bidang, baik di kemayarakatan maupun di pemerintahan.?

Meski demikian, organisasi yang baik adalah organisasi yang melihat masa lalu, potensi saat ini dan terutama tantangan masa depan. Agar PMII bisa terus eksis menjadi organisasi di kalangan mahasiswa.?

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal

Sebagai salah satu upaya menjawab atau saran untuk PMII, Abdullah Alawi dari Haedar Nashir mewawancarai salah seorang alumnusnya, Juri Ardiantoro, yang saat ini menjadi salah seorang Ketua PBNU dan pernah menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat. Berikut petikannya: ? ?





Bagaimana melihat kaderisasi PMII hari ini?

Haedar Nashir

Kaderisasi harus diperluas orientasinya tidak hanya sekadar menambah jumlah kader. Tapi menambah bobot kader. Bobot kader juga harus diperluas tidak hanya sekadar menghiasi dunia politik, tapi dunia profesional. Dan mulai menyiapkan kader-kader untuk mengambil peran di wilayah itu.

Caranya agar PMII bisa seperti itu bagaimana?

Harus ada pemetaan potensi kader dan pemetaan berdasar keunikan kader di tiap-tiap daerah. Jadi, kaderisasi tak harus mesti sama seluruh daerah, seluruh Indonesia. Pada hal-hal yang sangat prinsip tata, nilai, ideologi harus sama. Tapi pada konteks pengembangan kader dan penyiapan kepemimpinan, ya harus memperhatikan karakater atau keunikan daerah. Sehingga kader PMII tidak setiap kader PMII harus ke Jakarta. Caranya harus pemetaan kader dulu yang membangun satu strategi penguatan kelembagaan dan kader serta bisa memanfaatkan sumber daya di lokal. Jadi, tidak harus ke Jakarta.

Haedar Nashir

Kenapa politik masih pusat perhatian PMII?

Makanya harus diperluas framenya, PMII tidak melulu urusan politik. Dunia profesional harus digeluti. Kalaupun politik, adalah politik dalam upaya penyiapan kader kepemimpinan bangsa, yang lebih luas, bukan sekadar anggota DPR.

Hubungan dengan alumni untuk membangun upaya PMII seperti itu?





Alumni harus menjadi inspiratif, bukan sekadar membangun patronase. Kelemahan organisasi mahasiswa itu kan alumninya membangun patronase sehingga membangun blok-blok. Nah, itu yang tidak bagus. Alumni harus bisa mengemong semua. Ini kader siapa, itu kader siapa. Nah, ini mestinya tidak begitu.?

Selain itu, tantangan PMII ke depan itu apa?

Salah satu tantangan organisasi Islam itu sekarang adalah memoderasi menguatnya kelompok garis keras di kalangan anak muda. Bagaimaana memoderasi radikalisme di kalangan anak muda ini yang harus digarap PMII. Jagan asyik di dunianya, lupa urusan gerakan keislaman di kalangan muda yang sudah mulai menguat unsur-unsur Islam garis kerasnya. Bukan hanya membaca buku, tapi memperkuat gerakan praksis untuk memoderasi gerakan Islam garis keras itu.?

PMII mampu melakukan hal itu? ?

Ya mampu karena PMII itu kan sudah menjadi organisasi besar ya, hampir di seluruh daerah mempunyai basis. Cuma ya itu tadi, orientasinya harus diubah tidak hanya urusan politik. Tapi kalaupun politik harus politik tingkat tinggi, jangan melupakan urusan lokal, mushala, kampus.?

Sebagai alumnus PMII, bagi Anda, apa manfaat berorganisasi di PMII itu?

Pada zaman saya itu kan di PMII menjadi tempat, menjadi media dimana kita diperkenalkan dengan bagaimana cara mengkonkretkan semangat kepemudaan yang berbasis agama. Itulah manfaatnya. Kemudian dengan ber-PMII, kita punya pandangan lebih luas, tidak sempit karena bertemu dengan banyak orang dan bertemu banyak perspektif pemikiran, banyak orang; dan kita juga bertemu dengan banyak potensi di tempat lain yang mungkin tidak kita temukan kalau tidak ikut organisasi. ?

Apa pesan pribadi kepada kader-kader PMII di seluruh Indonesia?

Mumpung masih muda dan PMII, berorganisasi tidak sekadar ingin bergaul atau memperoleh status di organisasi, tapi berorganisasi harus memiliki makna untuk dirinya sendiri dan bagi organisasi sendiri, dan bagi masyarakat pada umumnya. Jadi, organisasi menjadi alat untuk memberdayakan dirinya sebelum juga memberdayakan lingkungannya.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Nahdlatul Ulama, Humor Islam Haedar Nashir

Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain

Jakarta, Haedar Nashir?

Alasan membela ulama, membela agama, dan membela Allah tidak boleh digunakan untuk merusak pihak lain. Hal tersebut diungkapkan oleh Rais Syuriah PBNU Kiai Ahamd Ishomudin pada “Silaturahim Ustadzah Majelis Taklim An Nisaa NU se-DKI Jakarta” di Gedung Langen Palikrama Pegadaian, Jakarta Pusat, Kamis (13/4) sore.

“Orang teriak Allahu akbar lalu lemparkan batu. Apa jadinya Islam kalau modelnya begitu,” kata kiai yang disapa Gus Ishom pada kegiatan yang dihadiri sedikitnya 250 ustadzah.

Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain

Ia menegaskan semestinya seorang ustad/ustadzah mengajarkan kepada umat dengan pandangan kasih sayang, bukan dengan kebencian. Kasih sayang dan juga kelembutan telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Gus Ishom juga mengingatkan hadirin agar setiap akan menulis di akun media sosial dipikirkan apakah tulisan tersebut akan menyinggung pihak lain atau tidak, walaupun pihak lain tersebut adalah non-muslim.

“Non-muslim adalah saudara yang harus dihormati hak-haknya. Sehingga walaupun berbeda keyakinan, mereka memiliki hak seperti kita. Jangan menganggap non-muslim sebagai musuh,” kata Gus Ishom.

Haedar Nashir

Ketua Panitia Ita Rahmawati mengungkapkan, silaturahim bertema “Satukan Langkah Membangun Negeri, Menjaga NKRI” diadakan untuk memberi pemahaman kepada para ustadzah agar menyampaikan informasi yang benar saat melakukan dakwah kepada jamaah, termasuk kaitannya dengan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang akan dihelat tidak lama lagi.

“Para ustadzah harus membantu menciptakan suasana yang kondusif, jangan saling menjelekkan. Mayoritas masyarakat Jakarta adalah kaum muslim, kalau sesama umat muslim ada perpecahan tentu akan merugikan umat muslim sendiri,” kata Ita.

Ia juga mengatakan dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua nanti, masyarakat harus memilih sesuai dengan hati nurani.

“Pilihlah calon gubernur dan wakil gubernur sesuai hati nurani. Tidak usah takut dengan anggapan bahwa memilih gubernur non muslim akan masuk neraka. Karena urusan masuk syurga atau neraka adalah urusan manusia dengan Allah SWT,” pungkasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Pesantren, Warta Haedar Nashir

Sabtu, 24 Juni 2017

IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ahmad Syauqi menilai, pendidikan di Indonesia masih jauh dari ideal. Kondisi ini, antara lain, diindikasikan oleh kualitas sumber daya manusia yang belum memuaskan.

IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan

“Kualitas pendidikan nasional belum bisa dibanggakan. SDM (sumber daya manusia) yang menjadi standar pengukuran kualitas pendidikan nasional justru menjadi persoalan,” katanya di Jakarta, Rabu (21/11).

Menurut dia, persoalan tersebut tak hanya terjadi di jenjang pendidikan dasar dan menengah, tapi juga pendidikan tinggi. “Dari 160.000 dosen yang ada di Indonesia, hampir 54% masih belum bergelar S2 dan S3. Sementara guru, dari 2,7 juta guru, 1,5 juta di antaranya belum bergelar S1,” tuturnya.

Haedar Nashir

Hal ini diperunyam lagi oleh SDM hasil pendidikan nasional yang secara umum tetap rendah. Laporan United Nation Development Program (UNDP) menyatakan, indeks pembangunan manusia Indonesia tahun 2011 berada di peringkat 124 dari 187 negara.

Haedar Nashir

“Posisi ini merosot dari posisi sebelumnya di peringkat 108 pada tahun 2010. Di bandingkan beberapa negara ASEAN, Indonesia masih jauh ketinggalan,” imbuhnya.

Syauqi berharap, permasalahan ini dapat segera ditangani, termasuk sejumlah faktor yang melatarbelakanganinya, seperti ketidakmerataan akses pendidikan, desentralisasi pedidikan yang kurang terarah, dan porsi anggaran yang belum jujur.

Pihaknya sepakat menjadikan persoalan ini sebagai fokus pembicaraan pada Kongres XVII IPNU di Palembang, Sumatera Selatan, akhir November nanti. Dengan mendatangkan sejumlah pakar, 3000 pelajar Nahdliyin dari berbagai daerah di Indonesia akan menyoroti pendidikan nasional bertema “Pendidikan Untuk Semua, Menuju Kemandirian Bangsa”. 

Redaktur : A. Khoiriul Anam

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir

Senin, 19 Juni 2017

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin

Brebes, Haedar Nashir. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak masyarakatnya untuk menunaikan shalat di awal waktu. Dengan Shalat di awal waktu mampu membentuk budaya hidup disiplin di berbagai segi kehidupan.

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin

Bupati menyampaikan pesan tersebut saat kembali dari menunaikan ibadah umroh Senin malam, (11/1).

Menurutnya, kedisiplinan amat penting untuk mencapai kesuksesan.Terbukti negara-negara yang menerapkan budaya disiplin telah maju dan rakyatnya sejahtera.

Haedar Nashir

Dirinya juga akan membuat surat edaran terkait imbauan kepada PNS, atau pekerja pabrik ketika datang waktu shalat untuk menghentikan sementara pekerjaannya guna menunaikan shalat fardlu ain di awal waktu.

“Saya akan membuat surat imbauan terkait, shalat di awal waktu,” ucapnya.

Haedar Nashir

Dia yakin, dengan shalat diawal akan mendatangkan keberkahan. Bila kita mengutamakan shalat, shalat pula yang menjadikan amalan mendapat penilaian pertama kali ketika dihisab. “Jangan khawatir akan keduniaan karena Allah SWT menjamin apa pun bila warganya beriman dan bertakwa. Insya Allah barokah,” tuturnya.

Saat turun dari bis yang mengangkut rombongan umroh bersama 38 warga masyarakat Brebes, bupati disambut hangat oleh keluarga, dan beberapa pejabat pemerintah kabupaten Brebes.

Dia menambahkan, umroh bukan perjalanan wisata. Namun perjalanan religi dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Haji kecil ini diperlukan disamping ziarah ke raudlah juga melakukan aktivitas peribadatan lainnya.

“Saya sangat bangga dengan banyaknya warga Brebes yang melakukan perjalanan umroh, hampir setiap minggu ada yang berangkat ke tanah suci,” ungkapnya.

Ini menandakan, sambungnya, masyarakat Brebes sudah tambah sejahtera dan keimanannya makin meningkat. “Mudah-mudahan Brebes makin aman, nyaman, sejahtera di bawah perlindungan Allah SWT, baldatun toyibatun warobun ghofur,” pungkasnya.

Perjalanan Umrah Bupati Brebes yang didampingi suami Drs Kompol H Warsidin MH dipandu Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah I KH Labib Sodiq Suhaemi. Bupati melakukan perjalanan Umrah sejak 3 hingga 11 Januari. Tugas pokok dan fungsi selama itu dipegang Wakil Bupati Narjo SH. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam Haedar Nashir

FKB Ancam Duduki Istana

Jakarta, Haedar Nashir. Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI mulai geram atas penganan kasus luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, yang hingga kini belum tuntas. FKB memberikan batas waktu dua minggu kepada pemerintah untuk menetapkan sebagai bencana nasional. Jika tidak, mereka mengancam akan menduduki Istana Negara.

"Jika dalam dua minggu pemerintah tidak mengambil langkah-langkah tersebut, kami dari FKB akan memimpin langsung demo ke Istana bersama korban Lapindo," ujar Wakil Ketua FKB Marwan Jafar di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (6/3).

Ketua FKB Ida Fauziah menegaskan, penetapan kasus semburan lumpur Lapindo sebagai bencana nasional tidak akan menghilangkan tanggung jawab Lapindo untuk membayar ganti rugi kepada warga.

FKB Ancam Duduki Istana (Sumber Gambar : Nu Online)
FKB Ancam Duduki Istana (Sumber Gambar : Nu Online)

FKB Ancam Duduki Istana

Penetapan semata-mata dimaksudkan agar penyelesaian kasus lumpur itu lebih cepat dan efektif. "Usulan agar bencana Lapindo menjadi bencana nasional tidak akan sedikit pun memberikan ruang kepada Lapindo lari dari tanggung jawab tapi kita lihat Timnas tidak efektif karena itu pemerintah harus ambil alih," urainya.

Sementara itu, Sekreteris FKB Helmy Faisal Zaini meminta agar kasus ini juga ditangani secara hukum. Jika kasus tersebut terus dibiarkan, Lapindo tidak akan bertanggung jawab atas kelalaiannya dalam pengeboran.

Haedar Nashir

"Maling ayam di kampung saja dihukum, masa ada orang yang nyata-nyata telah melanggar prosedur pengeboran tapi dibiarkan saja," kata Helmy.

Sekretaris Tim Pemantau Lumpur Lapindo FKB Aryo Widjanarko meminta pemerintah merelokasi korban lumpur ke tempat yang layak. Selain itu juga merelokasi infrastruktur yang rusak akibat luapan lumpur Lapindo. "Pemerintah harus melihat sisi sosial masyarakat Lapindo. Jangan dibiarkan terbengkalai," tandasnya.

Di tempat terpisah, Khofifah Indar Parawansa menyatakan siap mendukung upaya yang ditempuh warga untuk menuntut ganti rugi yang dibayarkan secara cash and carry.

Haedar Nashir

"Saya rasa masyarakat inilah yang lebih tahu di mana mencari tempat yang lebih nyaman bagi kehidupan mereka. Resettlement (pemukiman kembali) bukan solusi yang solutif," ujar Khofifah yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama.

Menurut Khofifah, masyarakat lebih baik diberi keleluasaan di mana mereka akan berdomisili sesuai dengan sumber nafkah mereka selama ini. "Saya rasa itu akan lebih wise, karena ada tradisi masyarakat kita berpola rumah terbuka. Petani, misalnya, butuh rumah yang dekat dengan lahan pertanian. Petambak juga butuh yang dekat tambak," urainya.

Mengenai persyaratan sertifikat tanah yang diperlukan untuk memperoleh ganti rugi, Khofifah menganggap perlu diberikan kebijakan khusus yakni tidak harus mempunyai sertifikat. Sebab, katanya, banyak masyarakat Indonesia yang belum akrab dengan sertifikat tanah.

"Solusinya boleh petok D (surat tanah warga yang diarsip di kantor desa), boleh juga kesaksian. Mungkin bisa dilokalisir oleh Bupati dengan melibatkan RT/RW setempat bahwa ini milik si A, luas sekian, sehingga kalau dikompensasikan ganti ruginya sekian," terang Khofifah. (dtc/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir