Senin, 06 November 2017

32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh?

Subang, Haedar Nashir

Usai melaksanakan pengajian bahtsul masail di kantor MWCNU Dawuan, Subang, Jawa Barat yang digelar tiap Sabtu, Ketua MWCNU setempat, Ajengan Toto Ubaidillah Haz mengutip sebuah keterangan yang menyatakan bahwa di liang kubur jasad seorang hafidh (penghafal) Al-Quran akan tetap utuh.

Mengenai hal ini, pria yang akrab disapa Kang Toto itu mengisahkan pertemuannya dengan Bu Supaedah. Ia adalah anak seorang hafidh Al-Quran yang saat ini berprofesi menjadi bidan di sebuah klinik. Pertemuan itu terjadi beberapa waktu lalu saat Kang Toto mengantar anaknya berobat. Dalam pertemuan itu keduanya berdialog cukup serius.

32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh? (Sumber Gambar : Nu Online)
32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh? (Sumber Gambar : Nu Online)

32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh?

"Pak Ustadz, kira-kira kemana kalau mau mesantrenin anak ya?" tanya bidan Supaedah

Haedar Nashir

Pria yang akrab disapa Kang Toto itu menjawabnya dengan pertanyaan, "Memangnya ibu maunya di pesantren daerah mana?"

Haedar Nashir

Bidan Supaedah menjawab bahwa ia asli Cirebon dan menginginkan anak-anaknya bisa masuk pesantren yang ada di daerah Cirebon supaya bisa dekat dengan keluarga besarnya. Selain itu, ia pun menegaskan bahwa pesantren yang diinginkannya adalah pesantren tahfidh Al-Quran.

"Kalau pesantren Al-Quran ada di Kaliwadas Cirebon, Pesantrennya Uwa saya almarhum KH Nashir, nama pesantrennya An-Nashr. Ada juga di Ambit, Kecamatan Waled pesantrenya KH Abdul Basith, pesantren itu dikelola anak-anak dari Pesantren Rawamerta, Karawang," jawab Kang Toto yang saat ini menjabat Ketua Lembaga Dakwah NU Subang.

Namun benak Kang Toto sedikit termenung, karena biasanya para orang tua menginginkan anaknya mengikuti dan melanjutkan jejak orang tuanya, tapi bu bidan yang satu ini malah menginginkan anaknya masuk ke pesantren Al-Quran, bukan ke sekolah kesehatan.

"Kenapa ibu mau masukin anak ke pesantren? Enggak dimasukin ke kedokteran atau yang sesuai dengan profesi ibu?"

Bidan Supaedah kemudian menjawabnya dengan sebuah kisah nyata yang dialami keluarganya. Suatu hari, dengan alasan tertentu makam ayah Bidan Supaedah yang telah wafat 32 tahun yang lalu hendak dipindahkan, proses pemindahannya disaksikan oleh seluruh keluarga. Saat makam dibongkar, semua orang terkejut menyaksikan jasad penghuni makam itu masih utuh sempurna dan tidak hancur.

"Anak-anak saya bertanya, Mah, kenapa jasad kakek tidak hancur? Kok masih utuh? Kan kakek sudah meninggal puluhan tahun yang lalu?" ungkap Supaedah menirukan pertanyaan anak-anaknya.

Dengan berlinang air mata, Supaedah kemudian menjawabnya dengan sejarah sosok sang kakek yang belum diketahui oleh cucu-cucunya itu.

"Jasad kakek kalian tidak hancur dan masih utuh karena kakek kalian semasa hidupnya adalah seorang hafidh Al-Quran, kakek kalian kiai pengamal Al-Quran, Nak..."

Sejak saat itu, anak-anak Bidan Supaedah ingin menjadi penghafal Al-Quran dan minta dimasukan ke pesantren supaya bisa seperti kakeknya di kemudian hari. "Menurut informasi, sekarang anak-anaknya bu bidan itu sudah masuk pesantren Al-Quran"pungkas Kang Toto kepada Haedar Nashir, Sabtu (30/7). (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Fragmen, Sholawat Haedar Nashir

Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra

Jakarta, Haedar Nashir. Kementerian Agama RI dan University of Canberra menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dalam realisasi program 5000 Doktor yang tahun ini menjadi tahun kedua program ini berjalan. Penandantanganan dilakukan Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin dan pihak University of Canberra Australia Frances Shannon di Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat, Senin (23/5).

Kamaruddin mengungkapkan University of Canberra merupakan salah satu perguruan tinggi di Australia, sedangkan Australia sendiri adalah salah satu negara yang menjadi target untuk mengirim dosen-dosen ke luar negeri. "Seperti sering kami sampaikan di sejumlah kesempatan bahwa program 5000 doktor akan meng-cover 25 persen ke luar negeri di antaranya ke negara di Eropa, Mesir, Arab Saudi, Maroko, Turki, Jepang dan lainnya, dan 75 persen lainnya di universitas dalam negeri. Dan hari ini adalah MoU dengan University of Canberra di negara Australia," ujar Kamaruddin sebagaimana dilansir kemenag.go.id.

Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra (Sumber Gambar : Nu Online)
Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra (Sumber Gambar : Nu Online)

Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra

Menurut Kamaruddin, yang menarik dari MoU ini adalah mereka akan membantu pihaknya mempersiapkan caloh Doktor. "Misalnya, kita mengirim kandiat doktor yang IELTS baru enam, universitas ini menerima, meski standarnya 6.5," ujarnya .

“Mereka (University of Canberra) akan membantu mempersiapkan dan menggembleng lagi bahasa Inggerisnya (calon doktor) tersebut, dan itu sepenuhnya dibiayai oleh pihak universitas. Itu poin atau nilai tambah dari MoU ini,” terang Kamaruddin.

Kamaruddin menambahkan, terdapat beragam program studi yang ditawarkan melalui program 5000 doktor ini, dan tidak semata tentang studi agama, tapi juga studi non agama seperti arsitektur, kedokteran, teknologi informasi dan komunikasi yang bisa dipilih. Diharapkan mereka bisa menyelesaikan studinya sesai target tang ditentukan, 3-4 tahun.?

Haedar Nashir

“Tahun ini kami menyiapkan 250 orang untuk studi di perguruan tinggi luar negeri, dan 750 di perguruan tinggi dalam negeri,” kata Kamaruddin.

Penerima program 5000 Doktor ini adalah mereka yang telah lulus melalui sejumlah tahapan yang dilakukan oleh tim seleksi yang dibentuk Kemenag.? (Red-Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Budaya, Kiai, Pahlawan Haedar Nashir

Minggu, 05 November 2017

Kang Said: Pelanggar Hukum jadi Musuh Bersama

Jakarta, Haedar Nashir. “Para pelanggar hukum merupakan musuh bersama bagi semua rakyat Indonesia,” kata KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU kepada Haedar Nashir baru-baru ini.?

Perihal ini menjadi sikap dasar NU. Karena, NU berpedoman pada pernyataan Rasulullah, “Wa la ‘udwana illa ‘alaz zhalimin,” “Tiada permusuhan selain hanya kepada mereka yang berlaku zalim,” tambah Kang Said.

Kang Said: Pelanggar Hukum jadi Musuh Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Pelanggar Hukum jadi Musuh Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Pelanggar Hukum jadi Musuh Bersama

Mereka yang zalim merupakan musuh bersama. Karena, mereka telah menganiaya diri sendiri atau pun orang lain. Kang Said menyebut sejumlah pelanggar hukum yang antara lain adalah teroris, pengedar narkoba, pembunuh, koruptor, sejumlah importir nakal, dan penyalahgunaan wewenang.

Haedar Nashir

Sebelumnya dalam refleksi awal tahun 2013, Kang Said mengimbau pemerintah untuk lebih tegas menindak para pelanggar hukum di Indonesia. Penindakan tegas terhadap musuh bersama, merupakan harapan masyarakat umum.

Harapan masyarakat itu belum terwujud di tahun 2012 lalu. Kang Said yang didampingi sejumlah pengurus lembaga, lajnah, dan PBNU, menilai kinerja pemerintah dalam penegakkan hukum belum maksimal.

Haedar Nashir

Pemerintah masih tebang pilih dalam menindak mereka yang terbukti melanggar hukum. Padahal, hukum adalah perangkat mutlak yang dapat menjamin rasa aman masyarakat dari segala bentuk gangguan mulai dari keamanan, permainan harga pasar, hingga kepercayaan terhadap hukum itu sendiri, imbuh Kang Said.

Pemerintahan SBY jilid dua, menurut Kang Said, hanya mempunyai waktu satu setengah tahun terakhir untuk membenahi diri. Pemerintahan ini akan dinilai gagal oleh masyarakat saat mengabaikan PR yang menjadi keresahan masyarakat umum di tahun terakhir pemerintahannya.

? Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Lomba Haedar Nashir

IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Cetak Kader Jurnalis

Kudus, Haedar Nashir. Untuk menjawab tantangaan zaman, IPNU-IPPNU Kudus terus bertekad mencetak kader-kader jurnalis dari kalangan pelajar NU. Harapan ke depan, pelajar NU memiliki kemampuan menulis ide maupun gagasannya untuk kepentingan dakwah.?

Wakil Ketua bidang pengembangan santri, pelajar dan mahasiswa (PSPM) IPNU Kudus Ubaidillah Dwi Lazuardi menyampaikan hal itu kepada Haedar Nashir disela-sela acara Latihan Dasar Jurnalistik (LDJ) Forkapik IPNU-IPPNU di di Aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Prambatan, Kamis (9/5).

IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Cetak Kader Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Cetak Kader Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Cetak Kader Jurnalis

Ubadillah menekankan IPNU-IPPNU mempunyai tanggung jawab memberdayakan pelajar (NU) dalam berbagai bidang kemampuan dan ketrampilan. Jurnalistik, katanya, merupakan salah satu ketrampilan yang saat ini menjadi kebutuhan pelajar.

Haedar Nashir

“Meski di sekolah-sekolah sudah diajarkan ilmu jurnalistik, namun LDJ ini sebagai upaya memperdalam ilmu menjadi lebih matang sampai mampu mempraktekkan,” katanya.

Haedar Nashir

Upaya pengembangan keterampilan menulis, IPNU-IPPNU Kudus menerbitkan majalah Pilar yang terbit 3 bulan sekali dan bulletin Adz-Dzaka’ terbit sebulan sekali. Kedua media pelajar itu, imbuh ubaidillah, diharapkan menjadi ajang latihan menulis dalam menuangkan gagasan dan ide-ide bernas.

Terkait keberadaan Forkapik, ia menjelaskan ? organisasi forum pimpinan komisariat IPNU-IPPNU di lingkungan sekolah dan Madrasah di Kudus.?

“Forkapik dibawah pembinaan dan pendampingan IPNU-IPPNU, secara khusus keberadaannya berjalan eksis mengembangkan IPNU-IPPNU di sekolah dan madrasah,” imbuhnya.

Latihan dasar Jurnalistik ini berlangsung selama dua hari mulai Rabu–Kamis (8-9/5). Sedikitnya 80 pelajar ? yang berasal dari MA/SMA/SMK se Kudus mengikuti dengan seksama. Berbagai materi dasar jurnalistik mulai pengenalan jurnalistik, teknik menulis berita, artikel dan manajemen redaksi disampaikan pemateri yang berasal dari wartawan media lokal di Kudus.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul ? Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Saya hidup di lingkungan yang mayoritas non-Muslim. Belum lama ini salah satu tetangga saya yang non-Muslim mengalami musibah. Hubungan kami sebagai tetangga sangat baik meski berbeda keyakinan.

Yang ingin saya tanyakan adalah apa hukumnya memberi sedekah kepada yang non-Muslim yang sedang mengalami musibah, di mana tentunya dalam hal ini ia membutuhkannya? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Nama dirahasiakan/Jakarta).

Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Haedar Nashir

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Musibah memang tidak pandang bulu, siapa saja bisa terkena musibah. Ketika di antara kita ada yang tertimpa musibah, maka sudah sepatutnya kita memberikan bantuan, baik moral maupun material.

Haedar Nashir

Jika kita memberikan sesuatu atau bersedekah kepada saudara kita sesama Muslim, tentu tidak ada masalah. Namun pemberian atau sedekah kepada saudara kita yang non-Muslim acapkali menimbulkan kecurigaan dari kalangan tertentu.

Para ulama telah sepakat bahwa bersedekah kepada kerabat dekat (al-aqarib) itu lebih ditekankan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Muhyiddin Syarf An-Nawawi dalam kitab Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Umat Islam sepakat bahwa bersedekah kepada kerabat dekat lebih utama dibanding dengan orang lain,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz VI, halaman 235).

Sampai di sini sebenarnya tidak ada persoalan. Persoalan kemudian muncul ketika sedekah diberikan kepada orang non-Muslim. Mengenai status hukum pemberian atau sedekah kepada non-Muslim ternyata tidak luput dijelaskan oleh Muhyiddin Syarf An-Nawawi dalam kitab tersebut.

Dalam kitab tersebut, beliau menyatakan bahwa sebaiknya atau disunahkan sedekah itu diberikan kepada orang-orang saleh, orang-orang baik, orang-orang yang mampu menjaga kehormatannya, dan yang membutuhkankan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Disunahkan sedekah dikhususkan diberikan kepada orang yang saleh, yang baik, yang bermartabat, dan orang membutuhkan” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VI, halaman 237).

Lantas pertanyaan bagaimana jika sedekah diberikan kepada non-Muslim, apakah diperbolehkan? Dalam hal ini, Muhyiddin Syarf An-Nawawi menyatakan bahwa jika sedekah itu diberikan kepada non-Muslim seperti orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi maka boleh. Insya Allah ada pahalanya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jika seseorang memberikan sedekah kepada orang fasik atau kafir seperti orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi maka boleh, dan dalam hal ini ada pahalanya,” (Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VI, halaman 237).

Lebih lanjut Muhyiddin Syarf An-Nawawi mengutip pernyataan Yahya Al-Imrani— penulis kitab Al-Bayan—yang menyatakan bahwa menurut Ash-Shamiri, sedekah tersebut boleh juga diberikan kepada non-Muslim harbi. Dalil yang diajukan adalah firman Allah dalam surat Al-Insan ayat 8: ‘Dan mereka memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan’. Tawanan dalam konteks ini adalah non-Muslim harbi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Penulis kitab Al-Bayan mengatakan bahwa menurut Ash-Shamiri boleh juga sedekah diberikan kepada kafir harbi. Sedangkan dalil yang dijauhkan Ash-Shamiri untuk mendukung pendapatnya adalah firman Allah SWT: ‘Dan mereka memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan,’ (Surat Al-Insan [76]: 8). Sebagaimana diketahui bahwa tawanan adalah orang kafir harbi,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, Juz VI, halaman 237).

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas maka jawabannya adalah boleh memberikan sedekah kepada tetangga non-Muslim yang sedang tertimpa musibah.

Ulurkan bantuan kepada siapa saja yang memang membutuhkan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, PonPes Haedar Nashir

Sabtu, 04 November 2017

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus

Brebes, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Brebes kembali menggelar lomba baca puisi religi karya KH Mustofa Bisri (Gus Mus) tingkat Kabupaten Brebes. Acara yang berlangsung di aula Gedung NU Brebes pada Minggu (14/11) ini mendapat antusias yang tinggi, terutama dari kalangan pelajar dan pemuda di Kabupaten Brebes.

Lomba baca puisi religi yang diikuti sekitar 50 peserta ini bekerjasama dengan Dewan Kesenian Daerah Brebes dan Badan Narkotika Kabupaten Brebes. Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti, SE melalui Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Brebes Drs. Atmo Tan Sidik mengapresiasi ide cerdas dakwah lewat seni ini, terlebih dalam lomba yang diikuti pemuda dan pelajar ini disisipi sosialisasi bahaya narkoba.

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus

“Dakwah dengan berkesenian adalah langkah yang cerdas, terlebih tema lomba membangun generasi bangsa yang bebas narkoba sangat tepat dengan kondisi generasi muda saat ini,” kata Atmo.

Haedar Nashir

Menurutnya, kemampuan Wali Songo dalam membumikan ajaran Islam di Indonsia ini patut menjadi renungan kita, tidak hanya mengandalkan logika saja tidak cukup, maka melalui seni lah akhirnya agama Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Untuk itu, melalui lomba baca puisi religi ini, diharapkan para pemuda generasi penerus bangsa mampu mengaktualisasikan diri dengan baik dan memiliki jiwa seni yang tinggi sehingga terhindar dari bahaya narkoba.

Haedar Nashir

Melalui lomba baca puisi karya Gus Mus ini, peserta diharapkan tidak hanya dapat membacakan puisi karya-karyanya. Juga dapat mengartikulasikan setiap kata yang sehingga didapat nilai filosofi dan ruhiyah yang tinggi.

Sementara itu, Ketua Cabang IPNU-IPPNU Brebes Zaki Al Aman, SPd mengatakan bahwa dipilihnya puisi kaya Gus Mus adalah selain beliau tokoh NU, juga karyanya mempunyai nilai sastra dan religi yang tinggi dan tentunya sudah dikenal di seluruh Indonesia.

Pengurus BNK Brebes, Lukman Suyanto, SH memberikan sosialisasi bahaya narkoba bagi generasi muda, dan mengingatkan akan bahaya penjajahan dengan narkoba. Menurutnya dalam 30 tahun mendatang bukannya tidak mungkin bangsa Indonesia sudah terjajah oleh kekuatan asing. Untuk itu, narkoba yang dijadikan alat jajahan bangsa lain harus disadari oleh generasi muda.

Turut hadir Pengurus NU Cabang Brebes Imam Badjuri, MPd mewakili Ketua PC NU Brebes.

Setelah melalui penjurian yang ketat, akhirnya Rr Adinda Prameswari? dari Brebes menjadi Juara 1, juara 2 Siti Cahaya dari Kota Tegal, juara 3 Amalia Hardiyanti dari Brebes. Selain mendapatkan piala Ketua PC NU Brebes, Ketua BNK dan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Brebes, pemenang juga mendapatkan sejumlah uang pembinaan. (Wasdiun/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, AlaNu Haedar Nashir

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Sumedang, Haedar Nashir

Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah yang beralamat di Sukamantri, Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, pada Sabtu (23/7) mengadakan pembinaan terhadap guru-guru tahfidz Al-Quran. Salah satu pengisi materi dalam kegiatan tersebut adalah Ketua PCNU Kabupaten Sumedang H. Sadulloh.

H. Sadulloh mengatakan bahwa ilmu itu akan tetap ada dan berkembang jika sering dideres (dibaca ulang). Salah satu cara melakukan hal itu adalah dengan mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa menjadi guru itu bukan berarti ilmunya sudah cukup dan tidak perlu belajar lagi. Justru guru yang baik itu harus terus belajar. Guru harus mampu berinovasi dalam membuat strategi belajar mengajar.

Haedar Nashir

Zaman terus berkembang, kondisi dan karakter santri atau siswa yang akan belajar pun tiap tahunnya berubah-ubah. Seorang guru harus pandai mengajar dengan mengambil nilai-nilai baru yang baik tapi tetap mempertahankan nilai lama yang lebih baik.

Haedar Nashir

Menjadi guru, lanjutnya, juga harus berani dikritik oleh orang lain. Jangan keras kepala dan jangan merasa paling benar. Siapa tahu hafalan Al-Quran yang sering kita baca itu masih banyak yang salah. Solusinya seorang guru harus sering belajar untuk menambah wawasannya.

Sering mengeluh bukanlah karakter seorang guru yang baik. Guru itu jangan sering berkata “sibuk” dan jangan suka mengeluh. Syukuri saja kesibukan tersebut. Jangan menolak kepercayaan yang telah diberikan. Peganglah kepercayaan atau amanah itu semaksimal mungkin.

“Selain itu seorang guru harus bisa memberi hadiah kepada santri atau siswa yang berprestasi. Berikan juga sanksi atau teguran kepada santri atau siswa yang memang harus ditegur. Tapi sanksi atau tegurannya yang mendidik,” tutup H. Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Doa, Berita Haedar Nashir